Anda di halaman 1dari 23

Tehnik berkomunikasi terapeutik untuk mengatasi klien marah

Ruang konsultasi bisa jadi selalu penuh dengan emosi, khususnya dari
pasien. Ketika pasien tidak bisa mengontrol emosi, dokter dan perawat
terkadang perlu mengatasinya dengan komunikasi terapeutik. Berikut
beberapa tips bagaimana Anda bisa menangani pasien atau anggota keluarga
pasien yang marah:

1. Siaplah untuk menghadapi emosi yang beragam

Ketika menghadapi orang sakit, Anda mungkin akan menemukan


berbagai reaksi emosi. Sesaat setelah mulai bekerja, Anda perlu
mempersiapkan diri untuk menghadapi ketidaknyamanan yang mungkin
muncul. Anda juga perlu mengidentifikasi kapan sesuatu akan berubah
menjadi buruk, berdasarkan bahasa tubuh pasien.

2. Tunjukkan empati

Ketika ada pasien marah, cara terbaik menghadapinya adalah


mendengarkan dan menunjukkan empati daripada ikut berdebat dan
berargumen. Sulit mengetahui akar penyebab kemarahan, bisa jadi
karena mereka sedang kesakitan, ketakutan, atau hal lain. Dokter perlu
tetap sabar dan mendengarkan keluhan pasien mereka, meskipun kadang
tidak masuk akal. Agar bisa melakukannya, cobalah posisikan diri Anda
di posisi mereka dan rasakan sakit yang mereka rasakan. Anda mungkin
tidak perlu menghiraukan ketika mereka mengeluarkan kata-kata kasar
ke diri Anda.

3. Hati-hati dalam berbicara

Kata-kata dokter bisa dijadikan alat oleh pasien. Dalam situasi


marah, dokter perlu berhati-hati saat berbicara, sehingga tidak
memperparah situasi. Kata-kata memiliki kekuatan, jadi daripada
memperpanas kemarahan, Anda mungkin bisa membiarkan pasien Anda
mencurahkan dan menyampaikan perasaan mereka. Dengan cara bicara
yang benar, Anda mungkin bisa menemukan alasan frustasi dan
kemarahan mereka, darimana itu berasal dan menyelesaikan akar
permasalahannya.

4. Jangan menghiraukan perasaan mereka

Tidak ada pasien marah yang suka dihiraukan oleh dokter atau
perawat. Tenaga kesehatan justru perlu memberi perhatian khusus ke
pasien ini. Cara Anda menunjukkan respek akan menunjukkan
kepedulian Anda terhadap situasi yang sedang mereka hadapi. Ini juga
bisa dianggap sebagai perlindungan diri, untuk mencegah keluhan atau
komentar negatif di media sosial.

5. Hiburlah mereka

Jika Anda telah berusaha meredakan amarah pasien dan tidak


berhasil, biarkan saja pasien marah. Tidak ada orang yang sempurna, dan
jika pasien ingin marah, biarkan mereka sedikit marah, karena Anda tahu
Anda telah memberi yang terbaik dan Anda tahu tidak Ada lagi yang bisa
Anda lakukan. Ingatlah untuk tetap tenang dan berusaha menghibur
mereka, dan sampaikan bahwa Anda memahami perasaan mereka.
Biarkan keberuntungan, pelampiasan, dan waktu - akan
menyelesaikannya.
TEKNIK PENGEMBANGAN KOMUNIKASI PADA PASIEN DENGAN
KEMARAHAN
Oleh: Kelompok 3 (Ib)
A. Pengertian
Charles rycroft (1979) memberikan definisi marah sebagai suatu reaksi
emosional kuat yang didatangkan oleh ancaman, campur tangan, serangan kata-
kata, penyerangan jelas, atau frustasi dan dicirikan dengan reaksi gawat dari sistem
syaraf yang bebas dengan balasa-balasan serangan atau tersembunyi.
Davidoff (1991) mendefinisikan marah sebagai suatu emosi yang
mempunyai ciri aktivitas sistem sistem syaraf simpatik yang tinggi dan adanya
perasaan tidak suka yang sangat kuat disebabkan adanya kesalahan. Stuart dan
sundeen (1987) memberikan pengertianmengenai marah adalah perasaan jengkel
yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.
Jadi, kemarahan adalah suatu perasaan atau emosi yang timbul sebagai
reaksi terhadap kecemasan yang meningkat dan dirasakan sebagai ancaman.
Pengungkapan marah yang kontruktif dapat membuat perasaan lega.

B. Rentang Respon Marah

Perilaku asertif merupakan perilaku individu yang mampu menyatakan atau


mengungkapkan rasa marah atau tidak setuju tanpa menyakiti atau menyalahkan
orang lain. Dengan perilaku ini dapat melegakan perasaan pada individu. Frustasi
merupakan respons yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan. Perilaku Pasif
merupakan perilaku individu yang tidak mampu untuk mengungkapkan perasaan
marah yang sedang dialami, dilakukan dengan tujuan menghindari suatu tuntutan
nyata. Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah, merupakan dorongan
mental untuk bertindak dan masih terkontrol. Individu agresif tidak mempedulikan
hak orang lain. Bagi individu ini hidup adalah medan peperangan. Biasanya
individu kurang percaya diri. Harga dirinya ditingkatkan dengan cara menguasai
orang lain untuk membuktikan kemampuan yang dimilikinya. Stres, cemas , harga
diri rendah dan rasa bersalah dapat menimbulkan kemarahan yang dapat mengarah
kepada perilaku kekerasan.
C. Ciri-ciri Marah

1. Aspek biologi,respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem syaraf


otonam bereaksi terhadap sekresi epinerpin sehingga tekanan darah
meningkat, takidarki ( frekuensi denyut jantung meningkat ) wajah
memerah, pupil membengkak, frekuensi pembuangan urin meningkat.
2. Aspek emosional, merasa tidak berdaya, putus asa, frustasi, ngamuk, ingin
berkelahi, dendam, bermusuhan, sakit hati, menyalahkan dan menuntut.
Prilakunya selalu ingin menarik perhatian orang lain, membuat kegaduhan,
kebakaran,melarikan diri, mencuri dan penyimpangan seksual.
3. Aspek intelektual, akan terus mencair penyebab kemarahannya
4. Aspek sosial, meliputi inter aksi sosial, budaya, konsep percaya dan
ketergantungan, emosi marah akan menimbulkan kemarahan orang lain
serta penolakan dari orang lain.
5. Aspek spiritual, keyakinan, nilai dan moral mempengaruhi terhadap
ungkapan lingkungan dengan tidak mempedulikan moral. Hamzah
(2001) juga menjabarkan terhadap ciri-ciri orang yang sedang marah, yaitu:
a) Ciri pada wajah, berupa perubahan pada kulit menjadi warna kuning pucat, tubuh
bergetar keras, timbul buih pada sudut mulut, bola mata mmerah, hidung kembung
kempis gerakan tidak terkendali.
b) Ciri pada lidah, meluncurnya makian, celaan, kata-kata yang menyakitakan, dn
ucapan-ucapan yang keji yang membuat orang yang berakal sehat merasa risih
untuk mendengarkanya.
c) Ciri pada anggota tubuh. Timbulnya keinginan untuk memeukul, melukai,
merobek, bahkan membunuh.
d) Ciri pada hati, didalam hati akan timbul rasa kebencian, dendam, dan dengki,
menyembunyikan keburukan, merasa gembiradalam dukanya. Dan merasa sedih
atas gembiranya, memutuskan hubungan dan menjelek-jelekanya.
Nuh ( 1993 ) menjelaskan secara gamblang beberapa ciri-ciri yang dapat dilihat
apabila seseorang marah, diantaranya:
1) Membesarnya pembuluh darah urat leher serta memerahnya wajah .
2) Merengut dan mengerutkan wajah
3) Permusuhan kepihak lain
4) Membalas permusuhan orang lain

D. Penyebab Marah
Ada beberapa penyebab dari kemarahan yaitu :
1. Faktor Fisik
a) Kelelahan yang berlebihan
b) Adanya zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan marah, seperti kurangnya zat
asamdi otak.
c) Hormon kelamin, seperti pada waktu menstruasi pada wanita

2. Faktor psikis
a) Rendah hati, menilai dirinya selalu merasa dirinya rendah dari yang sebenarnya.
b) Sombong, menilai dirinya melebihi dari yang sebenarnya
c) Egoistis, akan selalu mementingkan diri sendiri

Menurut Nuh, Hamzah, Hawwa ( 1993) berpendapat bahwa ada beberapa faktor
yang menyebabkan kemarahan yaitu :
1) Lingkungan,
2) Pertengkaran dan perdebatan
3) Senda gurau dengan cara yang batil
4) Memusuhi orang lain dengan segala cara
5) Congkak dan sombong di muka bumi yanpa hak
6) Lupa mengendalikan diri
7) Orang lain tidak melaksanakan kewajibannya kepada sipemarah
8) Penjelasan orang lain terhadap aibnya
9) Mengingat permusuhan dan dendam lama
10) Lalai terhadap akibat ditimbulkan oleh marah.

E. Akibat yang Timbulkan


1. Pendekatan Psikologi
Gie ( 1999 ) mengatakan bahwa amarah merupakan suatu reaksi emosional yang
terbiasakan dalam kehidupan sehari-hari seseorang. Sesungguhnya ragam emosi
yang kasar dapat di singkirkan dan sekurang-kurangnya dapat dikendalikan.
Sehingga tidak dapat menimbulkan bahaya yang lebih parah yang ditimbulkan dari
amarah tersebut.
a) Bahaya fisiologi
Amarah dan kekecewaa yang terjadi akan mempengaruhi kesehatan seseorang. Hal
tersebut akan menimbulkan hipertensi, stres, depresi, maag, gangguan pungsi
jantung, insomnia kelelahan, bahkan serangan jantung. Bahkan amarah seorang ibu
yang sedang menyusui dapat mengakibatkan peracunan yang berbahaya didalam
air susunya.
Mardin ( 1990 ) mereka yang memiliki mental lemah harus menyadari bahwa
beberpa kekecewaan dapat mengorbankan hidupnya. Mereka mungkin tidak
mengetahui, ternyata banyak manusia akibat dari marah yang berlebihan sehingga
ia mati karena serangan jantung. Amarah juga bisa menyababkan berkurangnya
nafsu makan, serta terganggunya otot dan saraf selam berjam-jam bahkan berhari-
hari.
b) Bahaya psikologi
Secara psikologis amarah dapat membahayakan terhadap manusia kareana akan
berimfikasi negatif, amarah juga bisa merusak pola pemikiran menjadi lebih
pendek, bahkan dengan marah bisa memutuskan cinta kasih seseorang.
c) Bahaya sosial
Watak pemarah akan mengakibatkan terjadinya disharmonis, seperti putusnya
jalinan cinta kasih, putusnya persahabatan, kehilangan pekerjaan, terkena hukuman
pedana, bahkan dengan permusuhan bisa menimbulkan penganiayaan dan
pembunuhan.

F. Terapi Marah
Beberapa ahli mengemukakan pendapat yang berbeda tentang respon marah.
Spielberger (Yulianti, 2007 : 29) menyatakan bahwa secara instinktif, cara alami
untuk mengekspresikan kemarahan adalah merespon secara agresif. Spielberger
mengemukakan tiga pendekatan utama yang dilakukan orang untuk menangani
perasaan marahnya baik secara sadar ataupun tidak sadar yaitu :
a. Kemarahan diekspresikan, secara asertif bukan agresif, cara yang paling sehat
dalam mengekspresikan kemarahan.
b. Kemarahan dapat ditekan, kemudian diganti atau dialihkan. Hal ini terjadi
ketika kemarahan ditahan, berhenti memikirkannya, dan fokus pada sesuatu yang
positif. Tujuannya adalah untuk menghalangi atau menekan kemarahan dan diganti
dengan perilaku yang lebih konstruktif. Bahaya dari jenis ekspresi kemarahan ini
adalah jika kemarahan tidak diekspresikan keluar, maka kemarahan akan berbalik
ke dalam diri sendiri. Kemarahan yang berbalik pada diri sendiri akan
mengakibatkan hipertensi, tekanan darah tinggi atau depresi. Kemarahan yang tidak
dikeluarkan dapat menciptakan masalah lain yaitu mengarah pada ekspresi marah
yang patologi, seperti perilaku pasif-agresif (melawan orang secara tidak langsung
dibandingkan secara langsung, tanpa memberitahu alasannya) atau suatu
kepribadian yang nampak terus menerus bermusuhan atau sinis.
c. Kemarahan dapat diredakan di dalam, artinya tidak hanya mengontrol perilaku
luar tetapi juga mengontrol respon internal, mengambil langkah untuk
memperlambat detak jantung, menenangkan diri, dan membiarkan perasaan itu
surut.

Banyak terapi yang disuguhkan oleh para ahli psikologi yang berkenaan untuk
menanggulangi kemarahan yang diantaranya dikemukakan oleh ahli
psikosibernetika Maxwell maltz ( 1980 ) menyarankan tiga langkah untuk menceah
kemarahan
1) Pandanglah cermin lihat wajah sendiri yang sedang marah dan eksperikan bagai
mana kelihatanya.
2) Hilangkan energi yang meledak itu dalam suatu aktifitas
3) Menulisnya surat yang keji denga kata-kata kasar sebagaimana layaknya kita
marah.
Wayne Dyer ( 1977 ) mengemukakan sejumlah strategi untuk mengatasi kemarahan
pada berbagai situasi yang mencakup 18 cara, yaitu;
1. Selalu mengingatkan diri bahwa tidak perlu marah.
2. Berusaha menunda kemarahan selama 15 detik 30 detik dan seterusnya
3. Apabila sedang mengajari anak diperlukan kemarahan yang berpura-pura
4. Tidak perlu marah terhadap yang tidak disukai
5. Kita harus sadar bahwa orang lain berhak apa yang disukainya, dan kita tak perlu
memarahinya
6. Selalu meminta orang lain untuk selalu menasihati kita.
7. Mempunyai buku catatan kemarahan.
8. Mau mengumumkan bahwa anda telah marah.
9. Untuk menetrralisir dekatkanlah diri anda dengan yang dicintai
10. Apabila setelah tenang bicarakan dengan orang yang anda marahi
11. Gemboskan kemarahan anda pada detik pertama kemarahaan anda.
12. Anda perlu ingat bahwa 50% orang tidak akan suka terhadap keputusan anda, jadi
anda tidak perlu marah
13. Mau menceritakan kemarahanya kepada orang lain
14. Singkirkan pengharapan-pengaharapan kepada orang lain yang anda miliki
15. Ingatkanlah diri anda bahwa anak-anak akan selalu aktif dan berisik jadi tidak
perlu marah karena itu.
16. Cintilah diri anda sendiri
17. Dalam kemacetan lalulintas anda selalu mengecek seberapa lama anda tiidak
marah.
18. Daripada anda menjadi budak emosional lebih baik anda berpikir untuk
membuatnya sebagai suatu tantangan untuk merubahnya.

Terafi relaksasi
Burn dalam Utami :2002 mengatakan beberapa hasil dari reelaksasi diantaranya:
1. Dengan relaksasi anda akan terhindar dari reaksi yang berlebihan karena adanya
stress.
2. Masalah-masalah yang berkaitan dengan stress seperti, hipertensi, sakit kepala,
imsomnia, dapat dikurangi dengan cara rileksasi.
3. Dapat mengurangi tingkat kecemasan.
4. Mengurangi gangguan yang bergubungan dengan stress
5. Penelitian menunjukan bahwa perilaku tertentu dapat lebih sering selama periode
stress.
Macam-macam relaksasi
a) Relaksasi otot
Relaxation via tension- relakation
Relaxation via letting go
Differential relaxation
b) Relaksasi kesadaran indra
c) Relaksasi melalui hipnose, yoga dan meditasi
Mengendorkan urat leher
Mengendorkan urat lengan
Memejamkan mata
Menyibukan diri
Memeriksa kepalan tangan
Melatih pernafasan
Berbicaa dengan tenang
Berusaha terbuka dengan teman yang amanah

G. Tindakan Keperawatan
Tabel 2-17 Rencana pendidikan kesehatan untuk mengekspresikan marah secara
tepat

Isi Kegiatan Evaluasi


Bantu Klien Fokuskan pada perilaku non Klien
mengindetifikasi verbal mendemostrasikan
marahnya Mengekspresikan marah sikap tubuh dan
secara non verbal melalui role ekspresi wajah pada
play saat marah.
Berikan Gambarkan situasi yang Klien dapat
kesempatan biasanya dapat menimbulkan menggambarkan situasi
mengekspresikan rasa marah yang tepat marah dengan respon
marah yang sesuai.
Latihan ekspresi Bermain peran dengan Klien ikut serta dalam
marah membayangkan respon yang bermain peran dan
sesuai terhadap marah. mengidentifikasi
perilaku yang sesuai
untuk ekspresi marah.
Terapkan Bantu klien mengidentifikasi Klien mengidentifikasi
ekspresi marah situasi nyata yang membuat ia situasi nyata yang telah
pada situasi marah. Bermain peran dengan membuat ia marah
nyata menghadapi objek yang Klien mampu
menimbulkan marah. mengekspresikan
marahnya melalui
bermain peran
Berikan umpan balik
apabila klien dapat
mengekspresikan
perasaanya.
Identifikasi Buat daftar beberapa ekspresi Klien ikut serta
alternatif yang marah tanpa konfrontasi mengidentifikasi
digunakan untuk langsung. alternatif-alternatif
mengekspresikan Diskusikan alternatif situasi yang akan digunakan.
marah yang akan digunkan
Hadapi klien Berikan dukungan selama Klien
dengan berperan konfrontasi bila diperlukan. mengindentifikasi
sebagai orang Diskusikanlah pengalaman perasaan marahnya dan
yang menjadi yang dirasakan dapat menghadapi
sumber marah objek yang
membuatnya marah
dengan cara yang
positif atau sesuai.

Tabel 2-18 Tindakan keperawatan pada klien yang mengalami kesulitan untuk
mengekpresikan rasa marah
Tindakan
Prinsip Umum Rasional
Keperawatan
Mengekspresikan Bina hubungan saling Perilaku pasif akan
marah secara asertif percaya memperkuat harga diri
rendah
Bantu klien mengenali
perasaan dna batasan
marahnya
Mengekspresikan Komunikasikan bahwa Kemarahan yang
perasaan secara asertif marah itu normal ditetapkan dapat
Meningkatkan perhatian Identifikasi mekanisme menyebabkan depresi.
pada perilaku yang koping yang biasanya Perilaku agresif juga
positif dilakukan menyebabkan rasa
Lindungi dari usaha Berikan dukungan pada tidak aman dan harga
melukai diri sendiri mekanisme koping yang diri rendah.
maupun orang lain. kontruksif. Perilaku asertif akan
Eksplorasikan alternatif menghasilkan harga
perilaku diri tinggi dan dapat
Bantu klien untuk menghindarkan diri
berlatih melakukan tindakan
mengekspresikan kekerasan kepada
perasaanya secara orang lain.
asertif. Memberikan batasan
Berikan umpan balik. perilaku yang dapat
Informasikan batasan diterima dan tidak
perilaku yang dapat dapat diterima akan
diterima berikut meningkatkan
alasannya. sosialisasinya.
Klasifikasikan kembali Ekspresikan perasaan
tanggungjawab klien adalah suatu proses
terhadap prilakunya. yang membantu klien
Berikan batasan untuk saling
konsekuensi untuk menghargai orang lain
pelanggaran peraturan dengan perilaku positif.
yang telah disepakati. Menetapkan batasan
marah.
Tingkatan kesepakatan Marah dapat dipelajari
staf terhadap batas- klien dan lebih efektif
batasan yang sesuai. daripada mekanisme
Konsistensi terhadap koping.
batasan-batasan yang Perilaku kekerasann
telah ditetapkan mempunyai resiko
bersama. tinggi untuk
Berikan umpan balik mencederai diri sendiri
positif apabila berhasil. dan orang lain.
Hindari pertentangan Perasaan bersalah akan
dengan klien yang dapat menimbulkan tekanan
merendahkan dirinya. npsikologis apabila
Pertahankan sikap tidak dapat
maupun lingkungan mengontrolnya,
dengan tenang. individu dapat melukai
Kontrol emosi dan orang lain.
tanda-tanda ketegangan. Ciptakan rasa aman.

Tabel 2-19 Respons maladatif terhadap ekperesi marah


Respon Ciri Utama
Bertahan Kemarahan klien diinterprestasikan
Membalas dendam sebagai penyerangan dengan
Merendahkan menjelaskan bahwa situasi
Menghindari menyerang itu tidak adil atau
pengecut.
Menempatkan diri pada status yang
tinggi dengan harapan depat
menghukum orang lain den
mengekspresikan kemarahan.
Menduga bahwa dengan bersikap
sombong atau menempatkan diri pada
posisi yang lebih tinggi dapat
menurunkan emosi klien.
Tidak mengakui atau mengabaikan
perasaan klien

H. Fase-Fase Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat-Klien


Proses berhubungan perawat klien dapat dibagi dalam 4 fase: Fae prainteraksi, fase
perkenalan (Orientasi), Fase kerja dan fase terminasi..
1. Fase Prainteraksi
Pra interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan
berkomunikasi dengan klien. Seorang perawat perlu mengevaluasi dirinya tentang
kemampuan yang dimilikinya. Jika merasa ada ketidaksiapan maka perlu membaca
kembali, diskusi dengan teman. Jika sudah siap perlu membuat rencana interaksi
dengan klien.
a. Evaluasi diri
Coba jawab pertanyaan berikut :
1) Apa pengetahuan yang saya miliki tentang teknik komunikasi pada klien dengan
kemarahan?
2) Apa yang akan saya ucapkan saat bertemu dengan klien?
3) Bagaimana saya bersikap jika klien diam, menolak,dan marah?
4) Adakah pengalaman interaksi dengan klien yang negative/tidak menyenangkan?
5) Bagaimana tingkat kecemasan saya?

b. Penetapan tahapan hubungan


Yang perlu ditetapkan tahapan hubungan perawat klien :
1) Apakah kontrak pertama?
2) Apakah kontrak lanjutan?
3) Apa tujuan pertemuan?
4) Apa tindakan yang akan saya lakukan?
5) Bagaimana cara melakukan?
c. Rencana interaksi
Siapkan secara tertulis rencana percakapan yang akan dilakukan!
1) Tentukan tehnik komunikasi sesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai!
2) Tentukan tehnik observasiyang akan dilakukan!
3) Buat langkah-langkah prosedur yang akan dilakukan!

2. Fase Perkenalan (Orientasi)


Fase ini dimulai dengan pertemuan dengan klien. Hal utama yang perlu
dikaji adalah alasan klien minta pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya
hubungan perawat-klien.Dalam membina hubungan, tugas utama adalah membina
rasa saling percaya, penerimaan dan pengertian, komunikasi yang terbuka dan
perumusan kontak dengan klien.
Elemen-elemen kontrak perlu diuraikan dengan jelas pada klien sehingga
kerjasama perawat klien dapat optimal. Diharapkan klien berperan serta secara
penuh dalam kontrak, namun pada kondisi tertentu, misalnya klien dengan
gangguan realita, maka kontrak dilakukan sepihak dan perawat perlu mengulang
kontrak jika kontrak realitas klien meningkat.
Perawat dan klien mungkin kan mengalami perasaan tak nyaman, bimbang
karena memulai hubungan baru. Klien yang mempunyai pengalaman hubungan
interpersonal yang menyakitkan adan sukar menerima dan terbuka pada orang
asing. Klien anak memerlukan rasa aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa
dikritik atau dihukum.
Tugas perawat adalah mengeksplorasi pikiran, perasaan, perbuatan klien
dan mengidentifikasi masalah, serta merumuskan tujuan bersama klien.
Elemen kontrak perawat-klien :
a) Nama individu (perawat dan lien)
b) Peran perawat dan klien
c) Tanggung jawab perawat dan klien
d) Harapan perawat dan klien
e) Tujuan hubungan
f) Tempat pertemuan
g) Waktu pertemuan
h) Situasi terminasi
i) Kerahasiaan

Hal-hal yang perlu dilakukan pada fase perkenalan :


Perkenalan dilakukan pada pertemuan pertama
1) Memberi salam
Selamat pagi / siang / sore / malam atau sesuai latar belakang sosial budaya yang
disertai dengan mengulurkan tangan untuk jabat tangan.
2) Memperkenalkan diri perawat
Nama saya Wahyu Purwaningsih, saya senang dipanggil Wahyu.
3) Menanyakan nama pasien
Nama bapak/ibu/saudara siapa, apa panggilan kesayangannya?
4) Menyepakati pertemuan/kontrak
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap.
Dimana kita duduk
Bagaimana kalau kita duduk disana (sebutkan tempatnya)
Jika dirumah sakit langsung katakana silahkan duduk
Jika dikamar pasien, langsung duduk disamping pasien.
5) Menhadapi kontrak
saya perawat yang bekerja di, saya akan merawat anda (sebutkan nama
pasien) selama 8 hari.
dimuai saai ini S/D, saya datang jam 07.00 dan pulang jam 14.00.
Saya akan membantu anda (sebutkan nama pasien) untuk menyelesaikan masalah
yang anda (sebutkan nama pasien) hadapi.
kita bersama-sama menghadapi masalah yang anda (sebutkan nama pasien)
6) Memulai percakapan awal
Fokus percakapan adalah pengkajian keluhan utama atau alasan masuk rumah sakit.
Kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan keluhan utama. Jika
mungkin melengkapi format pengkajian proses keperawatan.
Contoh komunikasi menkaji keluhan utama
Apa yang terjadi dirumah sehingga anda (sebutkan nama pasien) dibawa kemari?
Apa yang anda (sebutkan nama pasien) sampai datang kemari?
Apa masalah yang anda rasakan (sebutkan nama pasien) rasakan?
Jika klien menjawab lanjutkan eksplorasi sesuai dengan format pengkajian terutama
terkait dengan keluhan utama.
Jika tidak menjawab Saya tidak dapat membantu anda (sebutkan nama pasien) jika
anda (sebutkan nama pasien) tidak mau menceritakan masalah yang anda (sebutkan
nama pasien) hadapi.
Tampaknya anda (sebutkan nama pasien) belum mau cerita kita duduk bersama saja
ya. (10 menit).
7) Menyepakati masalah klien
Setelah pengkajian jika mungkin pada akhir wawancara sepakati masalah :
Dari percakapan kita tadi tampaknya anda (sebutkan nama pasien) .,
(sesuaikan dengan kesimpulan masalah), Misal : Tampaknya anda (sebutkan nama
pasien) sungkan berhubungan dengan orang lain, sering marah tak terkendali
dirumah.
8) Mengakhiri perkenalan
Terminasi sementara (lihat pada fase terminasi sementara)
Hal-hal yang dilakukan pada fase orientasi :
Orientasi dilakukan pada pertemuan kedua dan seterusnya.
a) Memberi salam
Sama pada perkenalan
b) Memvalidasi keadaan klien
Bagaimana perasaan anda (sebutkan nama pasien) hari ini?
Coba ceritakan perasaannya hari ini?

c) Mengingatkan kontrak
Sesuai dengan janji kita kemarin kita akan bertemu lagi jam (sebutkan sesuai
janji).
Jika klien ingat janjinya berikan pujian.
Baiklah sekarang kita akan bicara tentang sesuai dengan hal telah disepakati.
Masalah klien (cara berkenalan dengan orang lain, mengungkapkan marah,
kebersihan diri, dll)
3. Fase Kerja
Pada fase kerja, perwat dan klien mengeksplorasi stressor yang tepat dan
mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi,
pikiran, perasaan dan perbuatan klien. Perawat membantu klien mengatasi
kecemasan, meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab diri sendiri dan
mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif. Perubahan perilaku
maladaftif menjadi adaftif merupakan fokus fase ini.
Contoh :
Apa yang menyebabkan ibu marah?
Bagaimana ibu mengatasi perasaan tersebut?
Saya bantu ibu untuk mengatasi marah.

4. Fase Terminasi
Terminasi adalah fase yang amat sulit dan penting dari hubungan terapeutik.
Rasa percaya dan hubungan akrab sudah terbina dan berada pada tingkat oprimal.
Keduanya, perawat dan klien akan merasakan kehilangan. Terminasi dapat
terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau klien pulang.
Apapun alasan terminasi, tugas perawat pada fase ini adalah menghadapi
realitas perpisahan yang dapat diingkari. Klien dan perawat bersama-sama
meninjau kembali proses perawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan.
Perasaan marah, sedih dan penolakan perlu dieksplorasidan diekspresikan.
Fase terminasi harus diatasi dengan memakai konsep proses kehilangan.
Proses terminasi yang sehat akan memberikan pengalaman positif dalam membantu
klien mengembangkan koping untuk perpisahan. Reaksi klien dalam menhadapi
terminasi dapat bermacam cara. Klien mungkin mengingkari manfaat hubungan.
Klien dapat mengekspresikan perasaan marah dan permusuhannya dengan tidak
menghadiri pertemuan atau bicara dangkal.
Terminasi yang mendadak dan tanpa persiapan mungkin dipersepsikan
klien sebagai penolakan. Atau perilaku klien kembali pada perilaku sebelumnya,
dengan harapan perawat tidak akan mengakhiri hubungan karena klien masih
memerlukan bantuan.
a. Terminasi sementara
Terminasi sementara adalah setiap akhir dari pertemuan perawat klien. Sehingga
perawat masih akan bertemu lagi dengan klien.
Isi percakapan :
1) Evaluasi
Coba ibu sebutkan hal-hal yang sudah kita bicarakan.
2) Tindak lanjut
Bagaimana kalau ibu lakukan diruangan?
3) Kontrak yang akan datang
Kapan kita bertemu lagi?
Apa yang akan kita bicarakan?
b. Terminasi akhir
Evaluaasi akhir terjadi jika pasien akan pulang atau mahasiswa yang selesai praktek
dirumah sakit.
Isi percakapan :
1) Evaluasi
Coba ibu sebutkan kemampuan yang sudah didapat selama dirawat disini?
2) Tindak lanjut
Apa rencana yang akan ibu lakukan dirumah?
3) Kontrak yang akan dating
Bagaimana perasaan ibu berpisah dengan saya / meninggalkan rumah sakit?
4) Hal yang sama dengan 1,2,3 dilakukan pada keluarga.
KOMUNIKASI PADA SITUASI KHUSUS Sangat sering terjadi tenaga
kesehatan harus menghadapi pasien yang marah atau menjengkelkan, sebagian
merendahkan diri atau sarkastik, sedangkan lainnya bersikap menuntut, agresif,
dan terang-terangan memperlihatkan sikap bermusuhan. Terkadang pasien
mengucapkan teguran yang tidak pantas yang bersifat merendahkan pemula atau
bahkan dokter yang sudah berpengalaman. Tenaga kesehatan mungkin merasa
sebal, marah, kewibawaannya terganggu, tidak sabar, atau frustasi. Tenaga
kesehatan harus menyadari bahwa reaksi ini adalah respons pasien terhadap
penyakitnya, dan belum tentu menunjukkan respons terhadap pewawancara. Tiap
pewawancara harus menyadari bahwa emosi yang sama seperti marah, iri, atau
takut ada pada kedua belah pihak, pasien dan tenaga kesehatan yang
menanganinya. Seorang pasien dapat mengungkapkan perasaannya kepada tenaga
kesehatan, yang harus bertindak secara professional dan obyektif, dan tidak
merasa diserang atau menjadi defensif.
1.

Pasien dalam Keadaan Marah


Terkadang kita segera merasa benci kepada pasien yang marah-marah. Tetapi
membenci pasien berlawanan dengan segala sesuatu yang telah diajarkan kepada
kita. Karena penyakitnya, pasien mempunyai perasaan hilang kendali,
kewibawaan terganggu, dan takut. Kemarahannya adalah mekanisme untuk
mengatasi perasaan takutnya. Konfrontasi dapat menjadi teknik yang berguna
untuk berbicara atau mewawancarai pasien
seperti itu. Dengan mengatakan Anda kelihatan sangat marah , Anda membuat
pasien dapat
melepaskan sebagian
ketakutannya. Cara konfrontasi lainnya adalah dengan mengatakan, Anda
jelas merasa marah mengenai sesuatu hal. Beritahukanlah kepada saya hal yang
salah menurut
Anda. Anda harus mempertahankan ketenangan hati Anda dan jangan menjadi
defens
if. Jika pada awal wawancara Anda mengetahui bahwa pasien sedang marah,
berusahalah untuk menghilangkan perasaan tersebut. Ajukanlah pertanyaan-
pertanyaan Anda dengan perlahan-lahan

Pasien marah karena berbagai alasan, tapi terutama karena kebutuhan, gagasan,
dan pengharapan mereka tidak terpenuhi. Karena itu kunci utama meredam
kemarahan pasien adalah dengan berusaha memenuhi kebutuhan, gagasan dan
pengharapan mereka.
1.1 Sikap dan Cara Menghadapi Pasien yang Marah
Pasien yang marah ingin: 1.

Didengarkan 2.

Dimengerti. 3.

Dihormati 4.

Diberi permintaan maaf 5.

Diberi penjelasan 6.

Ada tindakan perbaikan dalam waktu yang tepat Berikut ini sikap dan cara
meredam kemarahan pasien. 1.

Dengarkan.

Biarkan pasien melepas kemarahannya. Cari fakta inti permasalahannya, jangan


lupa bahwa pada tahap ini kita berurusan dengan perasaan dan emosi, bukan
sesuatu yang rasional. Emosi selalu menutupi maksud pasien yang sesungguhnya.
Dengarkan dengan empati, bayangkan kita berada dalam posisi pasien yang lelah,
gelisah, sakit, khawatir akan vonis dokter, dll.

Fokus. Jauhkan semua hal yang merintangi konsentrasi kita pada pasien (telepon,
tamu lain, dll).

Ulangi setiap fakta yang dikemukakan pasien, sebagai tanda kita benar-benar
mendengarkan mereka. 2.

Berusaha sependapat dengan pasien.

Bukan berarti kita selalu membenarkan pasien, namun sebagai salah satu taktik
meredakan marahnya pasien, kita mencari point-point dalam pernyataan pasien
yang
bisa kita setujui. Misalnya, Ya Pak, saya sependapat bahwa tidak seharusnya
pasien
menunggu lama untuk bisa mendapatkan kamar. Tapi saat ini kamar perawatan
kami memang sedang penuh, kami berjanji akan mencari jalan keluarnya dan
melaporkannya pada Bapak sesegera mungk
in.

3.

Tetap tenang dan kuasai diri.

Ingatlah karakteristik pasien di rumah sakit adalah mereka yang sedang cemas,
gelisah dan khawatir akan kondisi diri atau keluarganya, sehingga sangat bisa
dimengerti bahwa dalam kondisi seperti itu seseorang cenderung bertindak
emosional.

Berhati-hati dengan nada suara, harus tetap rendah, positif dan menenangkan.
Jangan terbawa oleh nada suara pasien yang cenderung tinggi dan cepat.

Sampaikan informasi dengan sopan dan pelan-pelan.

Tetap gunakan kata-kata hormat seperti silakan, terimakasih atas masukannya, dan
sebut pasien dengan namanya.

Depresi