Anda di halaman 1dari 8

A.

JANTUNG

Penyakit jantung pada anak dapat dibagi menjadi 2 yaitu penyakit jantung bawaan dan
penyakit jantung didapat. Penyakit jantung didapat yang paling sering di jumpai di Indonesia
adalah penyakit jantung reumatik, selebihnya adalah penyakit jantung didapat akibat infeksi
(miokarditis, difteri, endokarditis infektif), penyakit ginjal, penyakit paru, gangguan gizi dan
gangguan metabolisme. Penyakit jantung bawaan pada bayi dan anak cukup banyak ditemukan
di Indonesia. Secara garis besar penyakit jantung bawaan dibagi 2 kelompok yaitu penyakit
jantung bawaan sianotik dan penyakit jantung bawaan non sianotik. Penyakit jantung bawaan
sianotik ditandai adanya sianosis sentral akibat adanya pirau kanan ke kiri. Diantaranya tetralogy
Fallot, transposisi arteri besar, atresia trikuspid dan lain lain. Yang termasuk penyakit jantung
bawaan non sianotik adalah penyakit jantung bawaan dengan kebocoran sekat jantung yang
disertai pirau kiri ke kanan diantaranya defek septum ventrikel, defek septum atrium dan duktus
arteriosus persisten, atau adanya kelainan jantung kiri diantaranya adalah stenosis aorta dan
koartasio aorta.

Endokarditis Infektif (EI) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroba
pada lapisan endotel jantung dan pembuluh darah besar. Penyakit ini ditandai dengan
terbentuknya vegetasi yang dapat terjadi pada katup jantung, endokardium dan benda asing
intravaskular seperti benda penutup defek atau membuat pirau intrakardial untuk memperbaiki
kelainan jantung bawaan. Tindakan perawatan gigi dapat menimbulkan bakteriemi yang pada
akhirnya dapat menimbulkan endokarditis infektif. Timbulnya bakteriemi dapat berasal dari
perawatan yang dilakukan di ruang praktek dokter gigi atau sebagai akibat dari aktifitas sehari-
hari seperti mengunyah, menyikat gigi atau flossing pada mulut yang tidak sehat. Higiene mulut
yang rendah dan gigi yang tidak terawat mengakibatkan pembusukan gigi yang parah dan
jaringan periodontium yang tidak sehat, yang keduanya akan meningkatkan kemungkinan
berkembangnya bakteriemi yang menyertai kegiatan sehari-hari seperti makan, menyikat gigi
dan flossing.

Pada umumnya organisme yang menyebabkan EI pada anak adalah kokus gram positif,
terutama kelompok Streptococcus viridans (seperti S. sanguis, S. mitis, S. 5 mutans),
Stafilokokus dan Enterokokus. Endokarditis Infektif yang disebabkan kelompok Streptococcus
viridans sering terjadi setelah tindakan gigi dan mulut.

Tindakan perawatan gigi yang memerlukan pencegahan antibiotik adalah tindakan yang
mengakibatkan perdarahan gusi. Tindakan tersebut adalah pembersihan gigi, scaling, root
planning, ektraksi, restorasi dibawah garis gusi, insisi, dan drainase serta injeksi intraligamen
pada anastesi lokal. Untuk pasien dengan kebersihan mulut yang baik, jaringan gusi dan
periodontium sehat, antibiotika pencegahan tidak diperlukan untuk pemeriksaan awal atau
pemeriksaan rutin, aplikasi fluor topical, radiograph gigi, impresi untuk model gigi, penutupan
lubang gigi, restorasi di bawah garis gusi, orthodontik atau blok anestesi. Antibiotik profilaksis
juga tidak diperlukan pada pencabutan gigi susu pada mulut yang sehat.
Mulut yang tidak sehat ditandai oleh gusi yang merah, bengkak, mengalami inflamasi
serta hyperemi yang mudah berdarah walaupun selama tindakan noninfasif. Mulut dengan
kondisi yang tidak sehat memerlukan antibiotika pencegahan walaupun tindakan yang dilakukan
merupakan tindakan noninvasif seperti orhodontik, impressi atau penambalan.1,2 Ketika kondisi
gigi diketahui membutuhkan perawatan, untuk menurunkan sumber infeksi, perawatan harus
dirancang sebagai perawatan berisiko tinggi dengan tujuan untuk mengurangi sumber infeksi.
Pada beberapa anak, ekstraksi gigi susu yang rusak ringan lebih baik dilakukan untuk menjaga
keutuhan gigi secara keseluruhan.

B. ALERGI
Pada perawatan gigi anak perlu dilakukan anamnesa mengenai catatan medis salah satunya
apabila meiliki riwayat alergi. Hubungan alergi dengan perawatan gigi anak yaitu apabila anak
memiliki riwayat alergi pada makanan yang biasanya terdapat manifestasi di rongga mulut. Perlu
dipertimbangkan terlbih dahulu peraawatan intra oral sebelum dilakukan perawatan gigi anak
lebih lanjut. Kemudian apabila anak memiliki riwayat alergi terhadap obat. Hal ini berhubungan
dengan penggunaan obat anastesi local maupun topical pada kasusu pencabutan gigi sulung
maupun permanen. Bahan yang sering digunakan sebagai aastetikum adalah lidocaine dan
ephinephrine (adrenaline). Lidocaine 2% dan epinephrine 1:80.000 merupakan pilihan utama.

C. MEASLES
Campak adalah penyakit infeksi yang sangat menular yang disebabkan oleh virus, dengan
gejala-gejala eksantem akut, demam, kadang kataral selaput lendir dan saluran pernapasan,
gejala-gejala mata, kemudian diikuti erupsi makulopapula yang berwarna merah dan diakhiri
dengan deskuamasi dari kulit. Agent campak adalah measles virus yang termasuk dalam famili
paramyxoviridae anggota genus morbilivirus.
Campak adalah penyakit yang sangat menular yang dapat menginfeksi anakanak pada usia
dibawah 15 bulan, anak usia sekolah atau remaja dan kadang kala orang dewasa. Campak
endemis di masyarakat metropolitan dan mencapai proporsi untuk menjadi epidemi setiap 2-4
tahun ketika terdapat 30-40% anak yang rentan atau belum mendapat vaksinasi.
Penyakit campak terdiri dari 3 stadium, yaitu: 2.3.1. Stadium kataral (prodormal) Biasanya
stadium ini berlangsung selama 4-5 hari dengan gejala demam, malaise, batuk, fotofobia,
konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul
eksantema, timbul bercak Koplik. Bercak Koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum
timbul pertama kali pada mukosa bukal yang menghadap gigi molar dan menjelang kira-kira hari
ke 3 atau 4 dari masa prodormal dapat meluas sampai seluruh mukosa mulut. Secara klinis,
gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering didiagnosis sebagai influenza. 2.3.2.
Stadium erupsi Stadium ini berlangsung selama 4-7 hari. Gejala yang biasanya terjadi adalah
koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul eksantema di palatum durum dan palatum mole.
Kadang terlihat pula bercak Koplik. Terjadinya ruam atau eritema yang berbentuk makula-
papula disertai naiknya suhu badan. Mula-mula eritema timbul di belakang telinga, di bagian atas
tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan
ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Ruam kemudian akan menyebar ke dada dan
abdomen dan akhirnya mencapai anggota bagian bawah pada hari ketiga dan akan menghilang
dengan urutan seperti terjadinya yang berakhir dalam 2-3 hari.
2.3.3. Stadium konvalesensi Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang lama-kelamaan akan menghilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada
anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Selanjutnya suhu menurun sampai
menjadi normal kecuali bila ada komplikasi. Gejala prodromal inilah yang dapat mempengaruhi
proses pembentukan gigi anak dalam rentang waktu usia anak kurang dari 15 bulan. Dalam
rentang waktu inilah rata-rata gigi insisif sulung dalam masa pembentukan sehingga dapat
mengganggu proses pembentukan gigi-gigi tersebut.

D. DIARE
Diare didefinisikan sebagai inflamasi pada membrane mukosa lambung dan usus halus
yang ditandai dengan diare, muntah-muntah yang berakibat kehilangan cairan dan elektrolit yang
menimbulkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit. Proses terjadinya diare dapat
disebabkan oleh faktor diantaranya faktor infeksi, proses ini dapat diawali adanya
mikroorganisme yang masuk kedalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam
usus dan merusak sel mukosa usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya
mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbs cairan dan elektrolit. Kapasitas elektrolit
terhadap tumbuh kembang anak sangat berpengaruh salah satunya dalam tahap oral dan proses
pembentukan gigi anak. Kalsium merupakan salah satu komposisi dalam kadar elektrolit dalam
plasma. Kalsium membentuk garam bersama fosfat, karbonat, fluoride di dalam tulang dan gigi
untuk membuatnya keras dan kuat. Apabila kadar elektrolit berkurang, pertumbuhan gigi pada
anak dapat terganggu.

E. KELAINAN DARAH
Gangguan perdarahan merupakan keadaan perdarahan yang disebabkan oleh kemampuan
pembuluh darah, platelet, dan faktor koagulasi pada sistem hemostatis. Gangguan perdarahan
dapat bersifat genetik maupun dapatan. Pada kelainan dapatan terjadi oleh karena adanya
penyakit-penyakit yang mengganggu integritas dinding pembuluh darah, platelet, faktor
koagulasi, obat-obatan, radiasi, atau kemoterapi saat perawatan kanker. Beberapa prosedur di
dalam perawatan gigi dan mulut dapat menyebabkan perdarahan. Dalam keadaan normal
tindakan ini tidak menyebabkan gangguan, namun pada pasien dengan gangguan pembekuan
darah tindakan perawatan gigi dan mulut dapat menyebabkan keadaan pasien menjadi lebih
parah. Pemeriksaan awal yang meliputi pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan fisik,
skrining laboratoris, dan melakukan observasi setelah dilakukan tindakan bedah merupakan hal-
hal yang harus diperhatikan saat melakukan perawatan gigi.
Klasifikasi gangguan perdarahan dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah platelet
normal (nontrombositopeni purpura), penurunan jumlah platelet (trombositopeni purpura), dan
gangguan koagulasi. Nontrombositopeni purpura dapat disebabkan oleh perubahan pada dinding
pembuluh darah akibat sumbatan, infeksi, kimiawi, dan alergi. Penyebab lain adalah gangguan
fungsi platelet akibat defek genetik (Bernard-Soulier disease), obat-obatan (aspirin, NSAIDs,
alkohol, antibiotik beta laktam, penisilin, dan cephalosporin), alergi, penyakit autoimun, von
Willebrands disease, dan uremia. Trombositopeni purpura terbagi menjadi primer/idiopatik dan
sekunder. Penyebab sekunder akibat faktor kimia, fisik (radiasi), penyakit-penyakit sistemik,
metastase kanker pada tulang, splenomegali, obat-obatan (alkohol, obat diuretika, estrogen, dan
gold salts), vaskulitis, alat pacu jantung, infeksi virus dan bakteri. Gangguan koagulasi dapat
bersifat diturunkan seperti hemofili A, hemofili B dan dapatan (penderita penyakit liver,
defisiensi vitamin, obat-obat antikoagulasi, disseminated intravascular coagulation, dan
fibrinogenolisis primer).
Beberapa kelainan darah perlu diperhatikan dalam hal perawatan preventif maupun
kuratif pada gigi anak. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan bagi pasien kelainan
perdarahan pada prinsipnya sama dengan pasien normal, yaitu menyikat gigi sehari dua kali
dengan menggunakan pasta gigi dengan kandungan fluor 1 ppm untuk anak di bawah usia tujuh
tahun dan 1,4 ppm untuk anak di atas usia tujuh tahun, sikat gigi yang digunakan sebaiknya
memiliki texture medium, menggunakan alat-alat interdental seperti dental floss, tape, dan sikat
inter dental, pemberian tambahan fluor melalui cairan, tablet, aplikasi topikal, obat kumur yang
mengandung fluor, memakan makanan yang sehat untuk gigi, mengkonsumsi pemanis buatan,
dan mengunjungi dokter gigi setiap tiga hingga enam bulan sekali.
Salah satu kelianan darah yaitu hemophilia merupakan kelainan darah yang diturunkan
secara X-linked recessive. Penyebabnya adalah defisiensi faktor VIII pada hemophilia A dan
defisiensi faktor IX pada hemophilia B. Kelainan ini ditandai dengan perdarahan yang sulit
berhenti karena kurangnya faktor pembekuan darah yaitu faktor VIII dan faktor IX, dengan
demikian kondisi yang dapat menimbulkan perdarahan harus dihindari, salah satunya tindakan
pencabutan gigi. Prosedur bedah yang meliputi anestesi harus dihindari karena dapat menjadi
pencetus pendarahan. Bila hal ini diperlukan sebaiknya dikonsulkan ke hematologist dan
tindakan dilakukan di rumah sakit. Setelah mendapat persetujuan, penderit diberi premedikasi
antibiotika untuk menghindari infeksi pasca tindakan dan trauma diupayakan seminimal
mungkin.

F. EPILEPSY
Epilepsi merupakan kelainan yang bersifat kronis dibidang neurologi dan etiologi
biasanya berupa dampak saat lahir atau congenital abnormalities. Adapun epilepsy primer
dan sekunder , epilepsy primer yaitu idiopatik epilepsy dan epilepsy sekunder timbul
disebabkan oleh trauma pada daerah kepala, meningitis, atau birth asphyxia. Epilepsi
kemudian dibagi menjadi 3 berdasarkan klasifikasi internasional: generalized epilepsy
yaitu yang melibatkan semua bagian otak, partial epilepsy yang hanya sebagian dari otak.
Epilepsi memiliki dampak negative pada kondisi kesehatan mulut anak secara umum
seperti gigi yang hilang, karies, atau kelainan periodontal. Ketika melakukan perawatan
pada penderita epilepsy, kesulitan yang terjadi adalah resiko yang terjadi apabila epilepsy
itu terjadi atau kambuh. Untuk mencegah hal tersebut, dokter gigi harus menganamnesa
secara lengkap pengobatan dan gejala epilepsy yang diderita pasien sebelumnya,
mengetahui kondisi apa yang dapat menyebabkan epilepsy ini kambuh, dan dokter gigi
harus megetahui gejala awal epilpesi dan mengetahui precaution sebelum hal ini terjadi.
Anti-epileptic drug (AEDs) memiliki efek samping langsung terhadap perawatan gigi dan
mulut anak sebagai contoh yaitu obat phenytoin dan phenobarbital yang dapat
menyebabkan gingival hyperplasia. Selain itu, apabila obat-obat epilepsy seperti
(Carbamazepine, AEDs) dapat menyebakan xerostomia, ulcer, glositis, dan stomatitis
apabila dikonsumsi selama kurang lebih tiga bulan. Selain itu pasien yang memiliki
gejala epilepsy yang tidak terkontrol dan sering mengalami tonic-clonic kejang memiliki
oral hygine yang buruk karena melibatkan masticatory apparatus.

G. HORMONAL
Sistem endokrin berperan penting dalam sekresi hormone yang berhubungan langsung
dengan sistem saraf. Maka dari itu, hal ini sangat berpengaruh pada fungsi hipotalamus
dan pituitary. Endokrin dapat proses fisiologis dan mengatur homeostasis. Sistem
neuroendokrin berperan dalam hal adaptasi perubahan lingkungan.
Kelenjar tiroid mengsekresi tiga hormone yaitu thyroxine(T4), triiodothyronine(T3) dan
calcitonin. T3 dan T4 merupakan hormone yang membantu sistem mtabolisme melalui
tubuh dan penggunaan oksigen. TSH atau thyrotropin diproduksi oleh kelenjar pituitary,
meregulasi sekresi hormone tiroid (T4 dan T3). Calcitonin berperan untuk paratiroid
hormone dan vitamin D dalam regulasi srum kalsium dan kadar fosfat dan remodeling
tulang. Apabila hal ini mengalami kelainan pada anak, biasanya dampak yang terjadi
adalah kelainan pada pembentukan gigi atau jumlah gigi Karena pengaruh dari kalsium
fosfat yang terdapat pada kelenjar calcitonin.
Manifestasi oral yang terjadi pada pasien dengan gangguan hormone:
- Hipertiroid: Menurunnya produksi hormone tiroid dan fungsi kelenjar tiroid.
Manfiestasi oral antara lain terhambatnya erupsi gigi pada anak, osteoporosis pada
maksila dan mandibula, membesarnya kelenjar ekstra tiroid danmeningkatnya karies
dan kelainan periodontal karena pasien memiliki kebutuhan tinggi akan gula, burning
mouth sensation, dan sistemik lupus eritematous. Perawatanyang dilakukan yaitu
apapbila dengan pasien hipertiroid terkontrol, hindari stress berlebih. Apabila dengan
pasien hipertiroid tidak terkontrol, hindari penggunaan epinefrin atau adrenalin
lainnya pada local anastesi karena myocardium pada pasien ini sangat sensitive
terhadap adrenaline sehingga nantinya dapat terjadi aritmia, palpitasi dan nyeri dada.
HIndari tindakan operasi karena dapat menyebabkan infeksi oral dan stress yang
parah(tiroid crisis). Perawatan gigi dan mulut harus ditunda dan sebaiknya konsul
dengan endocrinologist. Selain itu, pasien dengan hipertiroid yang mengkonsumsi
propylthiouracil harus dimonitor agranulositosis, hipoproteinemia dan
pendarahannya sebeleum dilakukan perawatan.
-

H. NEFRITIS
Apabila aspek fungsional ginjal terganggu, maka fungsi ginjal hamper tidak ada sehingga
glomerulus filtration rate terus menurun dan retensi dari berbagai buangan produk akan
memberikan gabaran penyakit ginjal kronis pada rongga. Manfestasi oral yaitu:
- Xerostemia: Pada penderita yang menjalani hemodialis akibat inflamasi kimia,
dehidrasi, dan pernafasan melalui mulut dan keterlibatan langsung kelenjar salivarius
dan juga efek samping dari obat.
- Plak, Kalkulus, dan karies: Pembentukan kalkulus pada gigi berkaitan erat dengan
gangguan homeostasis kalsium fosfor. Prepitasi kalsium dan fosfor didorong oleh pH
yang buruk pada penderita ginjal kronis karena hidrolisis urea saliva menjadi
ammonia, dimana ammonia berperan dalam menyebabkan pH menjadi basa.
- Hiperplasi gingiva: Diakibatkan oleh cyclosporine atau calcium channel blocker
yang mempengaruhi papula interdental.
- Infeksi rongga mulut, Kelainan gigi( Kelainan struktur gigi), Lesi tulang alveolar,
dan keganasan rongga mulut.
I. Diabetes Melitus
Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia (kadar gula darah yang tinggi) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau keduanya. Diabetes tipe 1, disebut juga insulin dependent diabetes
mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel beta pulau Langerhans akibat penyakit
autoimun menyebabkan defisiensi jumlah produksi insulin.6 Penderita diabetes tipe ini
cenderung mengalami ketoasidosis dan fluktuasi kadar glukosa plasma. Jika tidak segera
ditangani maka akan muncul gejala diabetes seperti polyuria, polydipsia, polyphagia,
lemas dan kelelahan. Diabetes melitus gestasional yaitu keadaan intoleran terhadap
glukosa sehingga menimbulkan hiperglikemi yang terjadi selama masa kehamilan. Anak
dari ibu yang mengalami diabetes gestasional memiliki risiko lebih besar untuk
mengalami obesitas dan diabetes ketika dewasa muda. Seperti diabetes tipe 2,
patofisiologi diabetes gestasional cenderung terjadi karena peningkatan resistensi insulin.
Pasien diabetes gestasional akan memiliki kadar gula darah yang normal setelah
melahirkan, namun lebih beresiko menderita diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Meningkatnya kadar gula darah pada penderita diabetes dapat merubah lingkungan
mikroflora dalam mulut menjadi lingkungan yang sesuai untuk tumbuhnya bakteri
tertentu dalam jumlah yang melebihi kondisi yang normal. Kadar gula yang tinggi
tersebut akan menjadi sumber bahan makanan yang baik untuk pertumbuhan dan
perkembangan bakteri tersebut.
Periodontitis didefenisikan sebagai suatu infeksi mikrobial yang merangsang respon
inflamasi pada jaringan periodonsium dan mengakibatkan kerusakan jaringan pendukung
gigi. Proses ini dikarakteristikkan dengan adanya destruksi perlekatan Universitas
Sumatera Utara jaringan gingiva, kehilangan tulang alveolar, migrasi epitel penyatu
kearah apikal dan pembentukan saku periodontal. Pasien diabetes membutuhkan evaluasi
periodontal dan rencana perawatan khusus karena diabetes secara signifikan sangat
berpengaruh terhadap tulang dan penyakit periodontal. Ketika diagnosis penyakit
periodontal telah ditegakkan, penderita disarankan untuk segera dirawat secara aktif dan
cepat. Perlu diperhatikan bahwa penyakit periodontal harus segera dilakukan perawatan
karena periodontitis yang tidak dirawat dapat mempengaruhi keadaan diabetes.

J. ATSHMA(ASMA)
Asma merupakan kelainan radang kronis pada saluran nafas. Sumber infeksi di rongga
mulut yang dapat menjadi faktor pencetus asma yaitu infeksi local yang terdapat di gigi
dan mulut seperti sisa akar, pulpitis kronis, periodontal poket, kalkulus, gigi nonvital
yang tidak dirawat.
Asma atopic: Bakteri dari infeksi local ini dapat menghasilkan toksin yang dapat
dijumpai dalam darah. Toksin bakteri merangsang pembentukan igE oleh sel plasma
dalam selaput lender saluran pernafasan.
Asma non-atopik: Asma ini berhubungan dengan infeksi traktur respiratorius bagian atas
berulang tidak diperantai secara imunologik. Seperti alergi makanan atau alergi debu.
Anamnesa mengenai penderita asma perlu untuk mengetahui anatomi. Obat inhlasi
berpengaruh pada palatum anak sehingga bisa lebih dalam anatominya.