Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

ILMU KESEHATAN THT

OTITIS EKSTERNA

Disusun oleh :
Rizsa Aulia Danesty,S.Ked 092011101061

Dokter Pembimbing :
dr. Bambang Indra, Sp.THT
dr. Maria Kwarditawati, Sp.THT
dr.Djoko Kuntoro, Sp.THT

Disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya


Lab/SMF Ilmu Kesehatan THT - RSD dr.Soebandi Jember
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER

1
2013

OTITIS EKSTERNA
Definisi
Otitis eksterna adalah inflamasi atau radang pada telinga luar atau canalis
auditori eksterna. Otitis eksterna dapat bersifat akut dan kronis.1,5
Faktor Predisposisi
Faktor-faktor predisposisi tertentu sebagai berikut:6
a. Faktor endogen : keadaaan umum yang memburuk akibat anemia,
hipoavitaminosis, diabetes melitus, atau dermatitis seboroik.
b. Faktor eksogen :
Terlalu sering membersihkan telinga, mengakibatkan serumen yang
berfungsi sebagai pertahanan kulit MAE hilang. Mengorek telinga
dapat menyebabkan hilangnya protective lipid layer dan acid mantle.
Hal ini menyebabkan kelembaban dan suhu di MAE meningkat. MAE
yang lembab, hangat, dan kotor merupakan media pertumbuhan
kuman yang baik.
Trauma karena tindakan mengorek telinga.
Suasana yang lembab, panas, atau alkalis di MAE menyebabkan
pertumbuhan kuman dan jamur meningkat.
Bentuk MAE yang tidak lurus menyulitkan penguapan dan
mengakibatkan kulit MAE lebih sering dalam keadaan lembab.
Keadaan tersebut menimbulkan edema di kulit MAE yang dirasa gatal
sehingga mendorong penderita mengorek telinga, trauma yang timbul
akan memperberat infeksi.
Kasifikasi
Otitis eksterna dibagi menjadi tipe:1
1. Tipe infeksi:
a. Bakteri:
Otitis eksterna akut (otitis eksterna sirkumsripta dan otitis
eksterna difus)
Erysipelas

2
b. Jamur :
Otomikosis
c. Virus :
Herpes simplex
Herpes zoster
Miringitis bulosa
2. Tipe lain:
a. Otitis eksterna ekzematosa
b. Otitis eksterna seboroik
c. Myringitis
d. Otitis eksterna maligna
Otitis Eksterna Sirkumskripta
Merupakan radang pada 1/3 lateral canalis auditori eksterna yang
terinfeksi pada pilosebaseus sehingga membentuk furunkel. Disebabkan oleh
bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus.5
Gejala rasa nyeri yang hebat, nyeri saat aurikula digerakkan, nyeri saat
membuka mulut dan tidak sesuai dengan besar bisul/furunkel, karena kulit liang
telinga tidak mengandung jaringan longgar di bawahnya sehingga rasa nyeri
timbul pada penekanan perikondrium. Dapat terjadi penurunan pendengaran,
kalau furunkel yang besar menyumbat telinga.5
Terapi tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah abses, diaspirasi
secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotik dalam
bentuk salep seperti polymixin B atau bacitracin atau antiseptik (asam asetat 2-5%
dalam alkohol 2%). Bila terdapat furunkel dilakukan insisi kemudian dipasang
drain untuk mengalirkan nanah. Diberikan obat simtomatik seperti analgesik dan
penenang.5
Otitis Eksterna Difus
Merupakan radang canalis auditori eksterna 2/3 medial. Tampak kulit liang
telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batasnya. Disebabkan oleh
golongan Pseudomonas dan dapat juga terjadi sekunder pada otitis media
supuratif kronis.5

3
Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang
kelenjar getah bening regional membesar dan nyeri tekan, terdapat sekret yang
berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir seperti sekret yang keluar dari kavum
timpani pada otitis media.5
Terapi dengan membersihkan liang telinga, memasukkan tampon yang
mengandung antibiotik ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara
obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan antibiotik sistemik.5
Erysipelas
Merupakan limfangitis akut streptokokus dan dermatitis yang menyebar
dengan cepat.1 Merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh
Streptococcus, biasanya oleh Streptococcus B Hemolyticus.2
Gejala utamanya adalah eritema berwarna merah cerah dan berbatas tegas
serta disertai gejala konstitusi demam dan malaise. Kelainan kulit berupa eritema
yang berwarna merah cerah, berbatas tegas, tepi meninggi dengan tanda-tanda
radang akut. Dapat disertai edema, vesikel, dan bula.2
Terapi erysipelas berespon dengan pemberian antibiotik dan 10% ichthammol
dalam gliserin aplikasi.1
Otomikosis
Infeksi jamur di liang telinga yang tersering disebabkan oleh
Pityrosporum, Aspergilus, dapat ditemukan juga candida albicans. Pityrosporum
menyebabkan terbentuknya sisik yang menyerupai ketombe dan merupakan
predisposisi otitis eksterna bakterialis.5
Gejala biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di telinga tengah tetapi
sering pula tanpa keluhan.5
Terapi dengan membersihkan telinga dengan larutan asam asetat 2%
dalam alkohol, larutan iodium povidon 5% diteteskan ke liang telinga. Kadang-
kadang diperlukan obat anti jamur yang diberikan secara topikal yang
mengandung nistatin, klotrimazol.5
Herpes Simplex
Merupakan infeksi yang lesinya mirip dengan lesi ditempat lain yang
terjadi ditubuh.1 Disebabkan oleh virus Herpes simpleks.3

4
Gejala berupa vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan
erimatosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dapat menjadi
krusta dan mengalami ulserasi yang dangkal.3
Terapi dengan pemberian asiklovir yang dipakai secara topikal.3
Herpes Zoster
Merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster.
Virus ini menyerang satu atau lebih dermatom saraf kranial. Dapat mengenai saraf
trigeminus, ganglion genikulatum, dan radiks sevikalis. Keadaan ini disebut juga
sindroma Ramsay Hunt.5
Gejalanya tampak lesi kulit yang vesikuler pada kulit di daerah muka
sekitar liang telinga, otalgia, dan terkadang disertai paralisis otot wajah. Pada
keadaan yang berat ditemukan gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural.5
Terapi sesuai dengan tatalaksana herpes zoster. Pengobatan sistemik
umumnya bersifat simtomatik, untuk nyeri diberikan analgesik. Jika disertai
infeksi sekunder diberikan antibiotik, diberikan antiviral bila ada indikasi.5
Miringitis Bulosa
Miringitis bulosa ditandai oleh vesikel haemorrarhagic pada permukaan
eksternal dari gendang telinga, rasa nyeri, tuli konduktif dan otore yang berdarah.
Biasanya disertai dengan otitis media akut.1
Terapi dengan pemberian 10% ichthammol dalam gliserin, antibiotik tetes
telinga, dan analgesik.1
Otitis Eksterna Ekzematosa
Merupakan dermatitis alergi yang terjadi pada canalis auditori eksterna.
Gejalanya berupa iritasi dan edema pada liang telinga, dapat dijumpai krusta pada
kasus kronis, dapat terjadi stenosis secara bertahap karena edema dan fibrosis.
Fisura pada liang telinga luar pada alergi yang bersifat kronis.1
Terapi pada stadium akut diberikan steroid lokal, antibiotik lokal maupun
sistemik. Pada stadium kronik diberikan steroid dengan antibiotik salep, bisa
dilakukan pembedahan pada stenosis yang terjadi.1

Otitis Eksterna Seboroik

5
Merupakan bagian dari dermatitis seboroik. Penyebabnya tidak diketahui,
penyakit ini bersifat herediter. Kelainan berupa sisik atau lapisan tebal berminyak
dapat ditemukan di meatus akustikus eksternus. Sekunder infeksi dapat terjadi
pada penyakit ini.6
Terapi dapat diberikan steroid dengan antibiotik salep atau obat tetes.6
Myringitis
Myringitis merupakan infeksi pada permukaan eksternal dari gendang
telinga. Granulasi dapat terjadi pada permukaan gendang telinga. Nyeri, tuli, dan
tinitus merupakan gejala dari myringitis.1
Terapi dengan pemberian antibiotik dan analgesik. Dilakukan eksisi bila
terjadi granulasi.1
Otitis Eksterna Maligna
Merupakan infeksi difus di liang telinga luar dan struktur lain yang ada
disekitarnya. Sering terjadi pada orangtua dengan penyakit diabetes melitus. Pada
otitis eksterna maligna peradangan dapat meluas secara progresif ke lapisan
subkutis dan organ sekitarnya sehingga dapat menimbulkan kelainan berupa
kondritis, osteitis dan osteomielitis yang mengakibatkan kehancuran temporal.5
Gejalanya rasa gatal kemudian disertai dengan cepat rasa nyeri dengan
sekret yang banyak dan pembengkakan liang telinga. Kemudian rasa nyeri
tersebut akan semakin hebat, liang telinga tertutup oleh jaringan granulasi. Saraf
fasial dapat terkena sehingga dapat terjadi parese atau paralisis fasial. Kelainan
patologik terpenting adalah adanya osteomielitis yang disebabkan kuman
Pseudomonas aeroginosa.5
Terapi harus cepat diberikan sesuai hasil kultur dan resistensi. Diperlukan
dosis tinggi antibiotik terhadap Pseudomonas aeroginosa. Sementara menunggu
hasil kultur dan resistensi diberikan golongan fluoroquinolone (ciprofloxasin)
dengan dosis tinggi. Pada keadaan yang lebih berat diberikan antibiotik golongan
aminoglikosida yang diberikan selama 6-8 minggu. Antibiotik yang sering
digunakan ciprofloxasin, ticarcillin-clavulanat, piperacilin dikombinasi dengan
aminoglikosida, ceftriaxone, ceftazidime, cefepime, tobramicin dikombinasi

6
dengan aminoglikosida, gentamicin dikombinasikan dengan penicilin. Di samping
obat-obatan, diperlukan tindakan pembersihan luka secara radikal.5
Obat-obat Topikal Untuk Terapi Otitis Eksterna4

Nama Obat Spektrum Organisme


Kolistin Pseudomonas aeruginosa
Golongan Klebsiella-Enterobacter
Escherichia coli
Polimiksin B Pseudomonas aeruginosa
Golongan Klebsiella-Enterobacter
Escherichia coli
Neomisin Staphylococcus aureus
Staphylococcus albus
Escherichia coli
Golongan Proteus
Kloramfenikol Staphylococcus aureus
Staphylococcus albus
Golongan Klebsiella-Enterobacter
Escherichia coli
Golongan Proteus
Nistatin Organisme jamur
Klotrimazol Organisme jamur
Mikonazol Organisme jamur
Tolnaftat Organisme jamur
Karbol-fuhsin Organisme jamur

DAFTAR PUSTAKA

7
1. Bhargava, K.B., Bhargava, S.K., dan Shah, T.M. 2002. Disease of the
External Ear in: A Short Textbook of E.N.T. Diseases Sixth Edition. Mumbai:
Usha Publications: 16-45.
2. Djuanda Adhi. 2009. Pioderma dalam: Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin
Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Hal 60-61.
3. Handoko Ronny. 2009. Pioderma dalam: Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin
Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Hal 381-383.
4. Lawrence, R., Boies. 1997. Penyakit Telinga Luar dalam: Buku Ajar Penyakit
THT Edisi ke enam. Adams G., Boies L., Higler P (Ed). Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Hal 78-80.
5. Sosialisman, Alfian, Helmi. 2007. Kelainan Telinga Luar dalam: Buku Ajar
Ilmu Kesehatan; Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi Keenam.
Soepardi, E.A., Iskandar, N., dan Restuti, R.D (Ed). Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 58-62.
6. Sri Rukmini, Soepriyadi, Sri Harmadji. 2005. Otitis Eksterna dalam:
Pedoman Diagnostik Dan Terapi Ilmu Penyakit Telinga Hidung Dan
Tenggorok Edisi Ketiga. Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo. Hal
1-3.