Anda di halaman 1dari 2

Uji Faal Paru

Penderita Tuberkulosis Paru


yang Berobat Jalan di Poliklinik Paru
URJ RSAL Dr. Ramelan, Surabaya
Didik Supardi*, Caecllia L**, Soemarno***
* Bagian Uji Coba Lakesla Ditkes TNI-AL,Surabaya
** Sub. Dept. Paru RSAL Ramelan, Surabaya
*** Kepala Bagian Paru RSAL Dr Ramelan Surabaya

PENDAHULUAN faal paru penderita dilaksanakan oleh petugas perawat di bagian


Tuberkulosis Paru (TB-Paru) telah dikenal hampir di seluruh faal paru yang telah menekuni bidangnya cukup lama, yakni
dunia, sebagai penyakit kronis yang dapat menurunkan daya lebih kurang 20 tahun.
tahan fisik penderitanya secara serius; hal ini disebabkan oleh Yang dimaksudkan dengan penderita TB-Paru di sini adalah
terjadinya kerusakan jaringan paru yang bersifat permanen. Di para penderita TB-Paru yang telah terbukti/terdiagnosis secara
samping proses destruksi terjadi pula secara simultan proses klinis, rontgenologis dan laboratoris, maupun para penderita
restorasi atau penyembuhan jaringan paru sehingga terjadi per- TB-Paru tersangka, secara klinis dan rontgenologis. Dari data
ubahan struktural yang bersifat menetap serta bervariasi yang yang terkumpul dilakukan interpretasi kelainan faal parunya
menyebabkan berbagai macam kelainan faal paru. Hutchinson (Tabel 1).
pada tahun 1846, untuk pertama kalinya mengadakan penelitian Tabel 1. Parameter Kelainan Faal Paru
faal paru atas sejumlah pasien TB-Paru yang dirawatnya. Restriktif Obstruktif
Secara umum TB-Paru akan menyebabkan radang paru Kelas Derajat Kerusakan
VC FEV1 VC FEV1
kronis yang di kemudian hari akan memberikan perubahan-per-
0 Normal > 80 > 75 > 80 > 75
ubahan jaringan yang berupa emfisema sehingga mengakibat- I Ringan 6080 > 75 > 80 6075
kan kelainan faal paru restriktif, campuran maupun obstruktif II Sedang 5060 > 75 > 80 4060
pada penderita. III Berat 3550 > 75 < 40
Berikut ini disampaikan hasil pemeriksaan faal paru para IV Sangat berat < 35 N/ < 40
penderita TB-Paru yang berobat jalan di poll Paru URJ - RSAL
Dr Ramelan Surabaya, bekerja sama dengan bagian Faal Paru HASIL PEMERIKSAAN
Lakesla Ditkesal Surabaya. Selama kurun waktu penelitian, telah diperoleh hasil uji faal
paru 111 orang penderita dan hanya 1 orang saja yang normal faal
BAHAN DAN CARA parunya.
Data diperoleh secara prospektip dengan mencatat hasil Tabel 2. Pembagian menurut Umur dan Sex Penderita TB-paru yang
pengukuran Mal paru penderita TB-Paru yang berobat jalan di diperiksa taal parunya di Lakesla Ditkesal Surabaya
poli Paru URJ RSAL Dr Ramelan Surabaya antara kurun waktu
Umur Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase
21 Desember 1992 s/d akhir April 1993. Pada masing-masing
penderita dilakukan pengukuran VC, FVC FeV-1, MBC dan 1019 5 4 9 8,1
2029 12 8 20 18,1
MEFR dengan mempergunakan alat Spirometer Collins dengan 3039 2 6 8 7,9
kapasitas 7 liter. Pemeriksaan dikerjakan dengan posisi penderita 4049 11 13 24 21,6
berdiri; hidung penderita dijepit dengan nose-clip. Pengukuran 5059 20 10 30 27,0
6069 12 1 13 11,7
70 7 0 7 6,3
Dibacakan pada Konas VI PDPI 1993 di Surakarta 4 Juli 1993. Jumlah 69 42 111 100,0
Usia termuda pasien kami adalah 13 tahun sedangkan yang orang penderita TB-Paru mendapatkan hasil sebagai berikut :
paling tua berusia 74 tahun. 24,4% restriktif, 23,2% obstruktif, 18,6% campuran antara
Tabel 3. Pembagian menurut Jenis kelamin 110 penderita TB-Paru yang
restriktif dan obstruktif, akhirnya normal 37,7%(7). Tanuwiharja
Mengalami Kelalnan Faal Paru dick pada penelitiannya di RS Persahabatan Jakarta mendapat-
kan hasil 40,2% restriktif, 6,5% obstruktif, kemudian 43,9%
Jenis Kelamin Jumlah Persentase
campuran dan 9,4% tanpa kelainan faal paru(8). Peneliti yang lain
Laki-laki 68 61,3 memperoleh hasil yang hampir serupa, terbanyak adalah tipe
Perempuan 42 37,8
campuran kemudian restriktif selanjutnya terakhir tipe obstruk-
Tabel 4. Kelainan Faal Paru 110 penderita TB-Paru yang Diperiksa di tif(6).
Lakesla Ditkesal Surabaya Pada tabel 5 dapat dilihat derajat berat ringannya faal paru
Jumlah yang diketemukan; terbanyak adalah restriksi berat (56,8%),
Laki-Iaki Perempuan
Kelainan restriksi sedang 20,7% dan restriksi ringan sebesar 18,9%. Ke-
n % n % n % lainan obstruktif terbagi menjadi : 9% obstruksi berat, 10,8%
Restriksi 32 28.8 26 23,4 58 52,3 obstruksi sedang dan 27% obstruksi ringan. Secara umum
Obstruksi 2 1,8 1 0,9 3 2,7 ditemukan pada penelitian kami 96,4% kelainan restnktif dan
Campuran 34 30,6 15 13,5 49 44,1 46,8% kelainan obstruktif.
Normal 1 0,9 0 0,0 1 0,9

Tabel 5. Derajat Kelainan Faal Paru pada 110 Penderita TB-Paru yang KESIMPULAN
Diperiksa Faal Parunya di Lakesla Ditkesal Surabaya Telah dilakukan penelitian faal paru path 111 orang pen-
derita TB-Paru yang berobat jalan di Poll Paru URJ RS AL Dr.
Ringan Sedang Berat Jumlah
Kelainan Ramelan Surabaya dengan hasil 99,1% penderita mengalami
n % n % n % n %
kelainan faal paru, yang secara umum terdiri atas 96,4% restriktif
Restriksi 21 18,9 23 20,7 63 56,8 107 96,4
Obstruksi 30 27,0 12 10,8 10 9,0 52 46,8 dan 46,8% obstruktif. Ditinjau dari macam kelainan faal paru-
nya, 52,3% restriktif, 44,1% tipe campuran dan 2,7% obstruktif.
Tabel 5 menggambarkan distribusi kelainan faal paru 110 Kemudian dari derajatnya diketemukan kelainan restriksi berat
penderita TB-Paru yang diperiksa; apabila seorang penderita sebesar 56,8% sedang obstruksi ringan 27%.
mengalami gangguan faal paru campuran antara restriktif dan Tuberkulosis pant akan mengakibatkan terjadinya keru-
obstruktif, maka dicatat secara terpisah dalam kolom restriksi sakan parenkhim paru yang sangat bervariasi dan tidak spesifik;
ataupun obstruksi; itulah sebabnya mengapa dalam tabel 4 hanya pada tahap awal penyakit TB-Paru memberikan kelainan faal
diketemukan kelainan faal paru obstruktif murni sebesar 2,7% paru restriktif, selanjutnya pada keadaan yang lanjut berakhir
kasus saja, sedang dalam tabe15 terdapat lebih banyak tercatat dengan obstruktif.
kelainan faal paru obstruktifnya; hal tersebut berasal dari kasus
yang mempunyai kelainan faal paru campuran yang jumlahnya
cukup banyak, yakni sebesar 44,1% kasus.

DISKUSI
Umur penderita TB-Paru yang berhasil diperiksa faal parunya KEPUSTAKAAN
berkisar antara 13 74 tahun dengan golongan usia terbanyak
adalah sekitar usia 50 59 tahun. Perbandingan antara penderita 1. Caensler EA, Lindgren I. Chronic bronchitis as an etiological factor in
obstructive emphysema. Am Rev Respir Dis 1989; 80: 185.
priadan wanita yakni 61,3% penderita pria dan 37,8% penderita 2. Hood Alsegaff dkk. Penelitian faal pare pada penderita TB-Paru di RSUD
wanita. Dr Soetomo Surabaya. Laporan Pendahuluan. Part 1983; 3: 1638.
Dari 111 orang penderita TB-Paru yang berhasil diperiksa 3. Leulallen EC, Fowler WS. Maximal mid expiratory flow rate. Am Rev
faal parunya ternyata 99,1% mengalami kelainan faal paru dan Tuberc 1955; 72: 78399.
4. Malik SK, Martin Cl. Tuberculosis corticosteroid therapy and pulmonary
0,9% normal (1 orang penderita). Pada tabel 4 tampak jenis function. Am Rev Respir Dis 1969; 100: 138.
kelainan faal paru yang didapat, yakni kelainan restriktif sebesar 5. Martin CJ, Hawlett WY. The diffuse obstructive pulmonary syndrome in a
52,3% kemudian disusul kelainan campuran antara restriktif dan tuberculosis sanatorium. II. Incidence and Symptoms. Ann Intern Med
obstruktif sebesar 44,1% dan selanjutnya kelainan obstruktif 1961; 54: 115664.
6. Pasiyan R, Prihadi M. Uj faal part penderita TB-Pam di RS Karyadi
sebesar 2,7%. Semarang. Medika 1986; 9: 8248.
Angka-angka tersebut tampaknya sesuai dengan hasil pene- 7. Snider GL, Doctor L, Demas TA, Shaw AR Obstructive airway disease in
litian terdahulu yang melaporkan bahwa proses radang TB-Paru patient treated for puhnonary tuberculosis. Am Rev Respir Dis 1971; 103:
akan banyak memberikan kelainan faal paru restriktif pada tahap 62540.
8. Tanuwiharja BY. Pemeriksaan spirometrik pads penderita TB-Para lanjut di
awal perjalanan penyakitnya, selanjutnya berakhir dengan ke- RS Persahabatan Jakarta. Skripsi bagian Pulmonologi FKUI Jakarta. 1979.
lainan yang obstruktif pada akhir perjalanan penyakitnya(4). 9. Tjandra YA, Husaeri F. Uji faal pans penderita TB-Pam di Laboratorium
Snider dick pada penelitiannya yang meliputi sejumlah 1403 Spirometri Unit Paru RS Persahabatan Jakarta. Medika 1984; 3: 83941.