Anda di halaman 1dari 14

AKUNTANSI MULTINASIONAL : TRANSAKSI MATA UANG ASING DAN

INSTRUMEN KEUANGAN

PERTANYAAN, KASUS DAN LATIHAN

OLEH KELOMPOK 2 :

AZIZAH DEFI INDRIANI (14080697017)


ELISA DWI LESTARI (14080694037)
LAILA GITA AFARA (14080694073)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
PRODI S1 AKUNTANSI
2017
P11-1

Kurs langsung (direct exchange rate DER) adalah banyaknya unit mata uang lokal (Local
Currency Units LCU) yang diperlukan untuk memperoleh satu unit mata uang asing (foreign
currency unit FCU). Dari sudut pandang entitas di Indonesia kurs langsung dapat dipandang
sebagai besarnya rupiah untuk memperoleh satu unit mata uang asing. Kurs langsung paling
sering digunakan dalam akuntansi untuk operasi dan transaksi asing sebab akun-akun dalam
mata uang asing harus ditranslasikan dalam nilai setara rupiah. Rasio dari kurs langsung
dinyatakan sebagai berikut:

/
DER = 1

Kurs tidak langsung (indirect exchange rate IER) adalah kebalikan dari kurs langsung dari
sudut pandang entitas di Indonesia dimana jumlah unit mata uang asing yang dapat diperoleh
untuk satu unit mata uang lokal. Kurs tidak langsung dapat dinyatakan sebagai berikut:

1
IER = /

P11-2

Kurs langsung:

1
DER = $0,0001075 = Rp 9,302

Jadi, kurs langsung yang diperoleh dari hasil penerimaan $0,0001075 perusahaan
Indonesia sebagai pertukaran Rp1 adalah Rp 9,032.

P11-3

Ketika rupiah menguat terhadap euro Eropa, impor dari Eropa ke Indonesia akan lebih murah
dalam rupiah. Nilai tukar langusng menurun, menunjukkan bahwa dibutuhkan rupiah lebih
sedikit untuk memperoleh euro Eropa.

P11-4
Transaksi asing adalah suatu transaksi bisnis yang melibatkan negara lain dengan kegiatan
produksi dan pemasarannya dilakukan di negara tersebut sehingga tidak terjadi kegiatan ekspor
dan impor. Contoh: Franchising (Pewaralabaan) dimana perikatan salah satu pihak diberikan hak
untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau
ciri khas usaha yag dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang
ditetapkan dalam rangka penyediaan dana tau penjualan barang atau jasa.

Transaksi mata uang asing adalah suatu transaksi yang didenominasi atau membutuhkan
penyelesaian dalam suatu mata uang asing, termasuk transaksi yang timbul ketika suatu
perusahaan:

1. Membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasi dalam suatu mata uang
asing
2. Meminjam (hutang) atau meminjamkan (piutang) dana yang didenominasi dalam suatu mata
uang asing
3. Menjadi suatu pihak untuk suatu perjanjian dalam valuta asing yang belum terlaksana
4. Memperoleh atau melepaskan aktiva, menimbulkan atau melunasi kewajiban, yang
didenominasi dalam suatu mata uang asing.

Contohnya, perusahaan di Indonesia membeli barang dari perusahaan milik orang meksiko
dengan harga 300.000 peso, dibayar dalam waktu 10 hari. Transaksi diukur dalam peso.
Perusahaan Indonesia harus mengukur pembelian dalam rupiah terlebih dahulu sebelum bisa
dicatat.

P11-5

Beberapa faktor ekonomi yang memengaruhi kurs/ nilai mata uang yaitu tingkat inflasi, neraca
pembayaran, perubahan suku bunga, tingkat investasi, dan pendapatan nasional. Sebagai contoh,
tingkat inflasi. Inflasi merupakan kenaikan harga barang didalam negeri yang menandakan
penurunan nilai mata uang. Tingginya tingkat inflasi menyebabkan harga barang domestik relatif
lebih mahal dibandingkan dengan harga barang impor. Hal inilah yang mendorong masyarakat
untuk membeli barang impor yang akhirnya berdampak pada penurunan nilai ekspor atau
permintaan akan rupiah menurun.
P11-6

Aset dan liabilitas yang didenominasi dalam mata uang asing diukur dan dinyatakan
menggunakan mata uang fungsional. Kurs yang relevan bagi penyelesaian transaksi mata uang
asing adalah kurs spot pada tanggal penyelesaian. Pada saat transaksi diselesaikan, aset dan
liabilitas dalam mata uang asing harus disesuaikan dengan nilai setara rupiah saat itu. jika
laporan keuangan disusun sebelum aset dan liabilitas dalam mata uang asing tersebut dilunasi,
maka saldo akun aset dan liabilitas tersebut harus disesuaikan pada tanggal laporan posisi
keuangan dalam setara rupiah menggunakan kurs kini pada tanggal laporan keuangan.

P11-7

Keuntungan atau kerugian transaksi mata uang asing terjadi pada saat perubahan kurs antara
tanggal transaksi dengan tanggal pelaporan keuangan. Dimana selisih kurs yang menjadi
keuntungan atau kerugian transaksi mata uang tersebut diakui pada saat periode berjalan dalam
laporan laba rugi.

P11-8

Apabila kurs mengalami kenaikan, maka perusahaan PT Sumatera akan mengalami kerugian
transaksi mata uang asing pada perusahaan pada akun utang sebesar Rp 200.000.000 yang harus
dibayar dalam mata uang dollar AS. Kenaikan nilai tukar langsung menunjukkan bahwa Rupiah
telah melemah terhadap dollar AS, dimana nantinya akan membutuhkan lebih banyak unit
Rupiah yang akan digunakan untuk membayar utang perusahaan tersebut.

K11-2

a. Melaporkan kerugian selisih kurs pada laporan laba rugi pada tahun 20X5nya. Kerugian
dihitung dengan mengambil jumlah poundsterling yang jatuh tempo dalam 20X6 dan
mengalikannya dengan perubahan nilai tukar langsung dari tanggal transaksi dengan tanggal
neraca. Ketika rupiah melemah, kurs langsung pada tanggal 31 Desember 20X5, akan lebih
tinggi dari nilai tukar langsung pada November 30, 20X5. Kenaikan nilai tukar langsung
berarti bahwa lebih banyak rupiah yang akan diperlukan untuk membeli poundsterling pada
tanggal 31 Desember 20X5, dari pada 30 November 20X5. Oleh karena itu, kerugian
transaksi mata uang asing harus dilaporkan dalam 20X5 karena kurs berubah selama 20X5.
Selain itu, hutang piutang dalam mata uang poundsterling harus dilaporkan dengan
menggunakan kurs pada tanggal 31 Desember, 20X5. Ini berarti bahwa hutang yang tercatat
pada 30 November, 20X5, harus ditingkatkan untuk mencerminkan melemahnya rupiah.
b. Melaporkan kerugian valuta asing pada tahun 20X5 dikatakan tepat karena, sesuai dengan
akuntansi berbasis akrual, nilai tukar pada tanggal 31 Desember 20X5, harus digunakan
untuk menghargai hutang dalam mata uang asing poundsterling sebagai pergerakan nilai
tukar masa depan dari laporan keuangan.

K11-1 Pengaruh Perubahan Kasus

Analisis: Sejak awal tahun 1970-an nilai rupiah mengalami peningkatan dan penurunan terhadap
mata uang lain seperti yen Jepang, franc Swiss, dan poundsterling Inggris. Nilai rupiah,
seperti juga nilai mata uang lain, ditentukan oleh keseimbangan antara permintaan dan
penawaran mata uang di pasar valuta asing. Penurunan nilai rupiah mempunyai dampak
luas, bukan hanya pada konsumen dan bisnis yang melakukan transaksi dengan pihak
lain di luar negeri,tetapi juga pada konsumen dan bisnis yang hanya beroperasi di
Indonesia.

a. Faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran rupiah di pasar asing


Inflasi
Meningkatnya transaksi impor oleh suatu Negara, menyebabkan meningkatnya
permintaan valuta asing dalam suatu Negara tersebut yang digunakan sebagai alat
pembayaran transaksi impor. Hal ini akan menyebabkan meningkatnya permintaan
valuta asing di pasar valuta asing. Menurut teori (purchasing power parity theory
/ PPP, tingkat inflasi domestik yang melebihi tingkat inflasi di luar negeri akan
mengakibatkan meningkatnya kurs mata uang domestik. Dengan kata lain
menurunkan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing akan
turun.(Atmadja, 2002:71).
Suku Bunga
Perubahan tingkat suku bunga akan berdampak pada perubahan jumlah
investasi di suatu Negara. Perubahan tingkat suku bunga ini akan berpengaruh
pada perubahan jumlah permintaan dan penawaran di pasar uang domestik.
Dan, apabila suatu Negara menganut rezim devisa bebas, maka hal tersebut juga
memungkinkan terjadinya peningkatan aliran modal masuk (capital inflow) dari
luar negeri. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan nilai tukar mata
uang negara tersebut terhadap mata uang asing di pasar valuta asing (Muchlas
dan Alamsyah, 2015).
Jumlah Uang Beredar
Jika Jumlah uang beredar terlalu banyak, maka akan memberikan tekanan pada
nilai tukar suatu Negara (Atmadja, 2002:71).
Apabila jumlah uang beredar terlalu banyak, maka neraca pembayaran akan
deficit. Sebaliknya apabila terdapat kelebihan permintaan uang, neraca
pembayaran akan surplus. Kelebihan jumlah uang beredar akan mengakibatkan
masyarakat membelanjakan kelebihan ini, misalnya untuk impor atau membeli
surat-surat berharga luar negeri sehingga terjadi aliran modal keluar, yang
berarti permintaan akan valas naik sedangkan permintaan mata uang sendiri
turun (Muchlas dan Alamsyah, 2015).
Balance Of Payment (BOP)
BOP yang surplus mencerminkan adanya aliran valuta asing yang masuk netto
di dalam perekonomian negara tersebut, baik melalui transaksi barang maupun
aset, sehingga menyebabkan bertambahnya penawaran valuta asing (increase in
supply) di Negara tersebut. dan mengakibatkan terjadinya apresiasi mata uang
domestik terhadap mata uang asing (Muchlas dan Alamsyah, 2015).
Sedangkan BOP yang defisit menandakan telah terjadi aliran dana keluar netto
ke luar negeri, sehingga dapat mengakibatkan terjadi excess demand terhadap
valuta asing dalam perekonomian nasional. Hal ini yang menyebabkan nilai
tukar mata uang domestic melemah terhadap nilai mata uang asing (Atmadja,
2002:71).
b. Jelaskan pengaruh penurunan nilai rupiah terhadap mata uang lain dipasar valuta
asing pada:
1) Penjualan perusahaan bisnis Indonesia yang mengekspor sebagian ouput-nya ke
luar negeri?
dengan menurunya nilai rupiah terhadap mata uang asing, akan berdampak positif
pada penjualan Perusahaan bisnis Indonesia yang mengekspor sebagian output-nya ke
luar negeri. Hal ini disebabkan karena dengan menurunnya nilai rupiah terhadap mata
uang asing, maka konsumen luar negeri akan membuthkan lebih sedikit mata uang
asing untuk mendapatkan fjnf
rupiah, yang selanjutnya akan berdampak menurunya harga komoditi ekspor sehingga
akan lebih banyak komoditi ekspor yang terjual.
2) Biaya perusahaan bisnis Indonesia yang mengimpor sebagian input dariluar
negeri yang akan digunakan dalam pembuatan produksi?
Penurunan nilai rupiah menyebabkan meningkatnya kurs langsung atau jumlah rupiah
yang dibutuhkan untuk mendapatkan mata uang asing akan meningkat. Hal ini akan
menyebabkan harga komoditi impor yang lebih mahal.
Dampak bagi perusahaan bisnis Indonesia yang mengimpor sebagian input dari luar
negeri yang akan digunakan dalam pembuatan produksi, adalah akan meningkatkan
biaya produksi akibat dari peningkatan harga komoditi input yang diimpor dari luar
negeri.

c. Jelaskan mengapa dan bagaimana konsumen dan perusahaan bisnis yang


beroperasi hanya di Indonesia dipengaruhi oleh penurunan nilai rupiah yang
berkaitan dengan mata uang lain di pasar valuta asing!
Indonesia sampai saat ini dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya maupun kebutuhan
produksi sangat bergantung pada komoditi impor. Hal ini menyebabkan perekonomian
Indonesia akan sangat terpengaruh dari kenaikan harga komoditi impor. kondisi ini juga
akan menyebabkan meningkatnya harga kebutuhan pokok di Indonesia, yang selanjutnya
akan memicu timbulnay inflasi. Secara tidak langsung, hal ini akan mempengaruhi
konsumen dan perusahaan bisnis yang beroperasi hanya di Indonesia. Karena akan
meningkatkan biaya produksi serta menyebabkan menurunya daya beli masyarakat.
Dampak penurunan permintaan ini akan mendorong menurunnya produksi barang dan
jasa, atau meningktkan harga output prduksi (barang dan jasa). Apabila daya beli
menurun serta harga barang dan jasa meningkat, maka perusahaan kemungkinan akan
memotong jumlah produksi yang dapat berdampak pada PHK tenaga kerja.

K11-2 Pelaporan Transaksi Mata Uang Asing pada Laporan Keuangan

Pertimbangan : Pada tanggal 30 November 20X5 PT. Bintan menerima barang yang
didenominasi dalam poundsterling. Selama Desember 20X5, nilai rupiah relatif
menurun terhadap poundsterling. PT. Bintan yakin bahwa kurs awal akan pulih
kembali pada masa jatuh tempo pembayarandi tahun 20X6.

a. Jelaskan bagaimana PT. Bintan harus melaporkan pengaruh dari perubahan kurs
rupiah dan poundsterling, jika ada, dalam laporan keuangan tahun 20X5!
Pada dasarnya setiap entitas harus mencatat transaksi keuangan dalam pembukuan entitas
dengan menggunakan metode pengukuran yang dinyatakan dalam mata uang fungsionalnya
sesuai dengan PSAK 10 dan PSAK 11. Oleh karenaitu, setiap entitas harus mengevaluasi
dan menentukan apa mata uang fungsionalnya. Transaksi yang dilakukan dalam valuta asing
harus dijabarkan kedalam mata uang fungsional dengan menggunakan kurs spot pada
tanggal transaksi atau disebut translasi.
Pada akhir periode pelaporan, saldo-saldo pos moneter dalam valuta asing dinilai ulang
kedalam mata uang fungsional dengan menggunakan kurs penutup pada tanggal pelaporan.
Sedangkan pos non moneter dalam valuta asing dijabarkan dengan menggunakan kurs pada
tanggal transaksi (saldo tercatat). Selisih kurs terjadi diakui dalam laporan laba rugi.
b. Jelaskan mengapa pelaporan seperti itu merupakan hal yang tepat!
Karena para pembaca laporan keuangan baik domestic maupun luar negeri akan dapat
memahami catatan hasil operasi perusahaan secara keseluruhan melalui translasi. Selain itu,
dengan melakukan translasi kita juga dapat mengukur risiko suatu perusahaan terhadap
pengaruh mata uang apakah perubahan kurs nilai tukar menyebabkan mata uang pelaporan
juga berubah. Perbedaan perlakuan keuntungan dan kerugian hasil translasi membuat
perbandingan hasil keuangan satu perusahaan dengan perusahaan lain atau perbandingan
hasil suatu perusahaan satu periode dengan periode yang yang lain sulit dilakukan. Antar
perusahaan ataupun antar periode inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan
multinasional dalam menyediakan informasi hasil operasi dan posisi keuangan.

K11-4 Akuntansi untuk utang usaha yang didenominasi dalam mata uang asing

Akuntansi untuk utang usaha yang didenominasi dalam mata uang asing dijelaskan dalam
PSAK 10 dan PSAK 50 terkait penyajian dan pengungkapan. Maka sebagai seorang auditor
harus mampu untuk mencari bukti dan membuktikan apakah perusahaan tersebut telah
melakukan pencatatan transaksi utang usaha yang didenominasikan dalam mata uang asing
sesuai dengan peraturan PSAK 10 dan PSAK 50 dengan menelusuri melalui jurnal perusahaan.
Apakah dalam jurnal perusahaan sudah melakukan pencatatan sebagai berikut :

1. Pada tanggal transasksi mencatat transaksi utang usaha yang didenominasikan dalam
mata uang asing akibat pembelian secara kredit

persediaan Rp XXX

Utang usaha (E) Rp XXX

(sebesar harga dalam dolar dikalikan nilai kurs langsung pada saat barang diterima)

Alasan penggunaan kurs langsung kareana berdasarkan PSAK 10 menyatakan bahwa


piutang usaha atau utang usaha yang didonominasikan dalam mata uang asing dinilai
dengan menggunakan kurs langsung tunai pada tanggal penilaian.

2. Pada tanggal neraca melakukan penyesuaian perubahan kurs, jika utang usaha masih
belum dilunasi sepenuhnya dan PT Amanda sudah masuk kedalam pembuatan neraca,
misal 31 desember maka perubahan kurs harus dilakukan harus disesuaikan untuk
mengetahui apakah mengalami kerugian atau keuntungan transaksi mata uang asing, dan
berdasarkan PSAK menyatakan bahwa keuntungan atau kerugian harus dilaporkan dalam
laporan laba rugi tahun berjalan dan dalam bagian keuntungan dan kerugian lain-lain. kita
harus menyesuaikan utang usaha (E) yang dinyatakan dengan mata uang asing.
Penentuan keuntungan dan kerugian tergantung dari selisih perubahan kurs langsung
pada saat tanggal transasksi dan tanggal neraca dikalikan harga pembelian awal dalam
mata uang dolar.

Keugian transaksi mata uang asing Rp XXX

Utang usaha (E) Rp XXX

Jika mengalami keuntungan maka utang usaha (E) didebit dan keuntungan transaksi mata
uang asing dikredit.

3. Pada saat tanggal pelunasan maka PT Amanda harus menyesuaikan perubahan kurs lagi,
membeli mata uang asing dollar (karena tidak melakukan kontrak masa depan) dan
melakukan pelunasan.

Pertama untuk melakukan penyesuaian utang usaha (E) yang dinyatakan dalam mata
uang asing dimana keuntungan dan kerugian tergantung dari selisih perubahan kurs
langsung pada saat tanggal neraca dan tanggal pelunasan dikalikan harga pembelian awal
dalam mata uang dolar.

Keugian transaksi mata uang asing Rp XXX

Utang usaha (E) Rp XXX

Jika mengalami keuntungan maka utang usaha (E) didebit dan keuntungan transaksi mata
uang asing dikredit.

Kedua untuk melunasi utang usaha ynag didenominasikan dalam mata uang asing maka
PT Medan Jaya membutuhkan mata uang asing dollar dan membelinya ke broker, dengan
jurnal sebagai berikut :

Unit mata uang asing (E) Rp XXX

kas Rp XXX

(sebesar harga pembelian awal dalam dollar dikalikan kurs tunai saat tanggal pelunasan)

Ketiga melakukan pelunasan atas pembelian barang

Utang usaha (E) Rp XXX


Unit mata uang asing (E) Rp XXX

(sebesar harga pembelian awal dalam dollar dikalikan kurs tunai pada saat tanggal
pelunasan)

K11-5 Akuntansi Untuk Kontrak Forward Mata Uang Asing

Pada dasarnya PSAK yang mengatur mengenai kontrak pertukaran mata uang asing dan
sesuai dengan kasus PT Amanda ada tiga, yaitu PSAK 10, 50 dan 55. PSAK 10 mengatur
mengenai bagaimana perilaku akuntansi untuk transaksi pembelian atau penjualan atau terkait
utang dan piutang yang pelunasannya menggunakan mata uang asing. PSAK 50 membahas
mengenai penyajian dan pengungkapan, sedangkan PSAK 55 membahas mengenai perilaku
akuntansi untuk instrumen keuangan derifatif yang bertujuan untuk lindung nilai. tata cara
pencatatan transaksi pembelian barang dengan melibatkan kontrak mata uang asing untuk
lindung nilai :

1. pada tanggal transasksi mencatat transaksi pembelian dan pembuatan kontrak mata uang
asing

peralatan Rp XXX

Utang usaha (E) Rp XXX

(sebesar 4,5 juta euro dikalikan nilai kurs langsung pada saat barang diterima)

Alasan penggunaan kurs langsung kareana berdasarkan PSAK 10 menyatakan bahwa


piutang usaha atau utang usaha yang didonominasikan dalam mata uang asing dinilai
dengan menggunakan kurs langsung tunai pada tanggal penilaian.

piutang mata uang asing dari broker (E) Rp XXX

Utang rupiah kepada broker Rp XXX


(sebesar 4,5 juta euro dikalikan kurs masa depan pada tanggal pembuatan kontrak masa
depan yang jangka waktunya 60 hari)

Alasan menggunakan kurs masa depan karena berdasarkan PSAK 55 menyatakan bahwa
kurs yang relevan untuk menilai kontrak pertukaran mata uang asing adalah kurs masa
depan tiap tanggal transaksi

2. pada tanggal neraca melakukan penyesuaian perubahan kurs, jika utang masih belum
dilunasi sepenuhnya dan PT Amanda sudah masuk kedalam pembuatan neraca, maka
perubahan kurs harus dilakukan harus disesuaikan untuk mengetahui apakah mengalami
kerugian atau keuntungan transaksi mata uang asing, dan berdasarkan PSAK menyatakan
bahwa keuntungan atau kerugian harus dilaporkan dalam laporan laba rugi tahun berjalan
dan dalam bagian keuntungan dan kerugian lain-lain.
Menyesuaikan utang usaha (E) yang dinyatakan dengan mata uang asing.
Penentuan keuntungan dan kerugian tergantung dari selisih perubahan kurs
langsung pada saat tanggal transasksi dan tanggal neraca dikalikan 4,5 juta euro.

Keugian transaksi mata uang asing Rp XXX

Utang usaha (E) Rp XXX

Jika mengalami keuntungan maka utang usaha (E) didebit dan keuntungan
transaksi mata uang asing dikredit.

Menyesuaikan piutang mata uang asing dari broker (E)yang dinyatakan dengan
mata uang asing. Penentuan keuntungan dan kerugian tergantung dari selisih
perubahan kurs masa depan pada saat tanggal transasksi dan tanggal neraca
dikalikan 4,5 juta euro.

piutang mata uang asing dari broker (E) Rp XXX

Keuntungan transaksi mata uang asing Rp XXX

Jika mengalami kerugian maka kerugian transaksi mata uang asing didebit dan
piutang mata uang asing dari broker (E) dikredit.
3. Pada saat tanggal pelunasan maka PT Amanda harus menyesuaikan perubahan kurs lagi,
proses penyelesaian kontrak masa depan, dan melakukan pelunasan.
penyesuaian utang usaha (E) yang dinyatakan dalam mata uang asing dimana
keuntungan dan kerugian tergantung dari selisih perubahan kurs langsung pada
saat tanggal neraca dan tanggal pelunasan dikalikan 4,5 juta euro. Sedangkan
untuk menyesuaikan piutang mata uang asing dari broker (E) yang dinyatakan
dengan mata uang asing penentuan keuntungan dan kerugian tergantung dari
selisih perubahan kurs masa depan pada saat tanggal neraca dan kurs langsung
pada tanggal pelunasan dikalikan 4,5 juta euro. Untuk penjurnalannya sama
seperti penyesuaian pada tanggal neraca.

Kedua melakukan pelunasan kontrak berikut jurnalnya

Utang rupiah kepada broker Rp XXX

Kas Rp XXX

( membayar utang rupiah kepada broker sebesar nilai dalam kontrak diawal)

Unit mata uang asing (E) Rp XXX

piutang mata uang asing dari broker (E) Rp XXX

(sebesar 4,5 juta euro dikalikan kurs tunai saat tanggal pelunasan)

Ketiga melakukan pelunasan atas pembelian barang

Utang usaha (E) Rp XXX

Unit mata uang asing (E) Rp XXX

(sebesar 4,5 juta dolar dikalikan kurs langsung pada saat tanggal pelunasan)

Atmadja, Adwin Surja. 2002. Analisa Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar
Amerika Setelah Diterapkannya Kebijakan Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas
di Indonesia. Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra. Jurusan
Akuntansi. Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol 4. No. 1. Mei 2002. Hal 69-78.

Muchlas, Zainul, dan Agus Rahman Alamsyah. 2015. Faktor-Faktor Yang


Mempengaruhi Kurs Rupiah Terhadap Dolar Amerika Pasca Krisis (2000-2010).
Jurnal JIBEKA Volume 9 Nomor 1 Februari 2015: 76 - 86