Anda di halaman 1dari 12

KAJIAN FILSAFAT ILMU

PERBANDINGAN PERILAKU DAN KINERJA STRUKTUR RANGKA


BRESING KONSENTRIK PADA STRUKTUR BAJA BERATURAN
DAN TIDAK BERATURAN

TUGAS

Oleh :

I Gede Agus Krisnhawa Putra


1681511035

MAGISTER TEKNIK SIPIL


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

1
1. Aspek Ontologi
Perkembangan teknologi di bidang konstruksi serta kurangnya lahan yang ada
mengakibatkan perubahan bentuk gedung yang semakin tinggi. Banyak gedung yang
direncanakan dengan menggunakan material baja, dikarenakan struktur baja mempunyai
kekuatan yang tinggi serta dapat mengurangi ukuran struktur dan berat sendiri struktur,
mempunyai keawetan dan keseragaman yang tinggi dibandingkan dengan beton, mempunyai
sifat elastis, mempunyai daktilitas yang cukup tinggi karena suatu batang baja menerima
tegangan tarik yang tinggi yang akan mengalami regangan tarik cukup besar sebelum terjadi
keruntuhan. Keunggulan yang lain yaitu kemudahan penyambung antar elemen yang satu
dengan yang lainnya menggunakan alat sambung las atau baut, dan kecepatan pelaksanaan
konstruksi yang mengakibatkan sifat mekanis baja lebih unggul dari material beton
(Setiawan, 2008).
Terdapat beberapa macam struktur rangka baja yang digunakan sebagai struktur baja
tahan gempa menurut SNI Baja 2002 diantaranya adalah Struktur Rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK), Struktur Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB), Struktur Rangka
Bresing Konsentrik Biasa (SRBKB), Struktur Rangka Bresing Konsentrik Khusus (SRBKK)
dan Struktur Rangka Bresing Eksentrik (SRBE). Konsep dari desain struktur baja tahan
gempa ialah kinerja struktur tahan gempa berupa penyerapan energi gempa secara efektif
melalui terbentuknya sendi plastis pada bagian struktur tertentu, dengan kriteria sebagai
berikut: kekuatan, kekauan, daktilitas, dan disipasi energi (Moestopo, 2005). Perencanaan
struktur tahan gempa berbasis kinerja (performance-based seismic design) merupakan
proses yang dapat digunakan untuk perencanaan bangunan baru maupun perkuatan
(upgrade) bangunan yang sudah ada, dengan pemahaman terhadap resiko keselamatan (life),
kesiapan pakai (occupancy) dan kerugian harta benda (economic loss) (Dewobroto, 2005).
Denah gedung yang sering ditemui di lapangan bisa saja berbentuk beraturan
aataupun tidak beraturam. Berdasarkan SNI gempa 03-1726-2012 menyatakan bahwa
struktur tidak beraturan dikategorikan menjadi ketidakberaturan horizontal dan
ketidakberaturan vertikal. Ketidakberaturan horizontal diklasifikan lagi menjadi
ketidakberaturan torsi, ketidakberaturan torsi berlebih, ketidakberaturan sudut dalam,
ketidakberaturan diskontinuitas diafragma, ketidakberaturan pergeseran melintang terhadap
bidang, ketidakberaturan sistem non pararel. Ketidakberaturan vertikal diklasifikan menjadi
ketidakberaturan kekakuan tingkat lunak, kekauan tingkat lunak berlebih, ketidakberaturan
berat (massa), ketidakberaturan geometri vertikal, diskontinuitas arah bidang dalam
ketidakberaturan elemen penahan gaya lateral, diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat
lateral tingkat, dan diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat lateral tingkat berlebih.
Aspek-aspek yang disebutkan diatas merupakan syarat suatu struktur yang dinamakan
struktur tidak beraturan.
Dalam penelitian ini akan dimodelkan struktur baja yang didesain dengan Sistem
Rangka Bresing Konsentrik (SRBK), hal yang akan dibandingkan adalah perilaku kinerja
dari struktur tersebut. Sebagai pembanding akan dimodelkan juga Sistem Rangka Pemikul
Momen Khusus (SRPMK). Bresing konsentrik X-2 lantai merupakan salah satu pilihan
menjadi pilihan yang lebih baik bila dibandingkan dengan rangka bresing tipe v atau v-
terbalik. Hal ini dikarenakan pada rangka bresing v atau v-terbalik, bila terjadi tekuk pada
pada batang tekan bresing, balok akan mengalami defleksi ke bawah sebagai akibat dari
adanya gaya-gaya yang tidak seimbang pada balok (Utomo, 2011). Tapi bagaimanakah jika
struktur yang dimodel memiliki ketidakberaturan struktur horizontal ataupun vertikal, tentu
hal itu perlu dilakukakan analisis terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, penelitian yang berjudul
tentang Perbandingan Perilaku dan Kinerja Struktur Rangka Bresing Konsentrik pada

2
Struktur Baja Beraturan dan Tidak Beraturan akan dilakukan. Perbandingan perilaku yang
dimaksud adalah dimensi struktur, simpangan horizontal struktur, dan berat struktur,
sedangkan kinerja yang dimaksud adalah bagaimanakah perilaku inelastik suatu struktur
sampai pada kondisi kritis melalui analisis statik non linier atau analisis pushover.
Analisis statik nonlinier pushover merupakan perencanaan yang berbasis
performance based design yang artinya memanfaatkan teknik analisis non linier berbasis
komputer untuk mengetahui perilaku inelastik suatu struktur dari berbagai macam intensitas
gempa sehingga dapat diketahui kinerjanya sampai dengan kondisi kritis. Analisis kinerja
dilakukan dengan bantuan SAP2000. Analisis statik nonlinier pushover merupakan
perencanaan yang berbasis performance based design yang artinya memanfaatkan teknik
analisis non linier berbasis komputer untuk mengetahui perilaku inelastik suatu struktur dari
berbagai macam intensitas gempa sehingga dapat diketahui kinerjanya sampai dengan
kondisi kritis. Analisis kinerja dilakukan dengan bantuan SAP2000.

2. Aspek Epistemologi
2.1. Struktur Rangka Pemikul Momen
Struktur Rangka Pemikul Momen adalah struktur rangka yang hubungan balok
dengan kolomnya didesain dengan sambungan momen. Pada SRPM, elemen balok
terhubung kaku pada kolom dan tahanan terhadap gaya lateral diberikan terutama oleh
momen lentur dan gaya geser pada elemen portal dan joint. SRPM memiliki kemampuan
menyerap energi yang besar tetapi memiliki kekakuan yang rendah (SNI Baja 03-1729-
2002).
Rangka baja SRPM merupakan jenis rangka baja yang sering digunakan dalam
aplikasi struktur baja di dunia konstruksi. Menurut SNI Baja 03-1729-2002, rangka baja
SRPM dapat diklasifikasikan menjadi, Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK),
Struktur Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) dan Struktur Rangka Pemikul
Momen Biasa (SRPMB). Struktur Rangka Pemikul Khusus (SRPMK) didesain untuk
memiliki daktilitas yang lebih tinggi dan dapat berdeformasi inelastik pada saat gaya gempa
terjadi. Deformasi inelastik akan meningkatkan redaman dan mengurangi kekakuan dari
struktur, hal ini terjadi pada saat gempa ringan bekerja pada struktur. Dengan demikian,
SRPMK dianjurkan untuk didesain pada gaya gempa yang lebih ringan dibandingkan dengan
gaya gempa yang bekerja pada SRPMM dan SRPMB. Pada SRPMB, struktur diharapkan
dapat mengalami deformasi inelastik secara terbatas pada komponen struktur dan
sambungan-sambungannya akibat gaya gempa rencana. Dengan demikian, pada SRPMB
kekakuan yang ada lebih besar dibandingkan dengan kekakuan pada SRPMK. Secara umum,
SRPMB memiliki kekakuan yang lebih besar dan kekuatan yang lebih besar dibandingkan
dengan SRPMK. Tetapi, SRPMB memiliki daktilitas yang lebih kecil dibandingkan dengan
SRPMK untuk beban gempa yang sama.

2.2. Struktur Rangka Bresing

Struktur rangka bresing merupakan sistem struktur yang didesain untuk menahan
beban lateral berupa gempa. Elemen bresing berperilaku sebagai rangka batang yaitu hanya
menerima gaya tarik atau tekan. Rangka bresing dikategorikan menjadi rangka bresing
konsentrik dan rangka bresing eksentrik. Rangka bresing konsentrik ialah rangka bresing
yang bagiannya difungsikan untuk menahan gaya aksial, selain dapat juga difungsikan
sebagai sistem penahan gaya lateral yang diakibatkan gempa. Rangka bresing eksentrik ialah
rangka bresing diagonal yang ujung bresingnya dengan jarak tertentu dari sambungan balok-

3
kolom, atau terhubung dengan bresing diagonal yang lain (Tata Cara Perencanaan Gempa
Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung SNI 03-1726-2012).

SRBK dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu struktur rangka bresing konsentrik
biasa (SRBKB) dan struktur rangka bresing konsentrik khusus (SRBKK). Adanya batang
tekan (-) dan tarik (+) pada rangka dengan bresing, menunjukkan bahwa sistem braced-
frame lebih optimal terhadap beban lateral daripada sistem rigid-frame yang mengandalkan
penghubung balok horisontal saja.

Bresing Konsentrik X-2 Lantai


Rangka bresing konsentrik tipe x-2 lantai merupakan rangka bresing x yang dipasang
untuk ketinggian dua lantai. Rangka bresing ini dapat menjadi pilihan yang lebih baik bila
dibandingkan dengan rangka bresing tipe v atau v-terbalik. Hal ini dikarenakan pada rangka
bresing v atau v-terbalik, bila terjadi tekuk pada pada batang tekan bresing, balok akan
mengalami defleksi ke bawah sebagai akibat dari adanya gaya-gaya yang tidak seimbang
pada balok. Defleksi ini dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem pelat lantai di atas
sambungan tersebut. Sehingga untuk mengantisipasi terjadinya defleksi ke bawah pada
balok maka diperlukan konfigurasi bresing yang mencegah terbentuknya gaya-gaya yang
tidak seimbang tersebut dan mendistribusikannya menuju kepada lantai lain yang tidak
mengalami perilaku sebesar lantai yang mengalami defleksi tersebut (Utomo, 2011).
Perbandingan mengenai perilaku antara rangka bresing konsentrik tipe x-2 lantai
dengan tipe v-terbalik ditunjukkan oleh (Hewitt, et al, 2009) melalui sebuah skema yang
ditunjukkan pada Gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1 Perbandingan perilaku rangka bresing konsentrik


Sumber: Hewitt, et al, 2009

Dapat dilihat pada Gambar 2.1 bahwa pada struktur rangka bresing tipe x-2 lantai,
gaya-gaya tidak seimbang pada balok didistribusikan melalui batang tarik bresing yang
berada di lantai atasnya. Struktur Rangka Bresing Konsentrik (SRBK) tipe x-2 lantai dengan
sambungan sendi memiliki berat yang lebih ringan dibandingkan dengan Struktur Rangka
Pemikul Momen (SRPM) dan Struktur Rangka Bresing Konsentrik (SRBK) dengan
sambungan kaku (Putra, 2015).

2.3 Metode Penelitian


Pada penelitian ini akan dimodel 4 struktur yaitu Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK) dengan sambungan momen atau kaku (rigid) dan Sistem Rangka Bresing
Konsentrik (SRBK) dengan sambungan sederhana atau sendi (flexible), masing-masing
untuk gedung struktur beraturan dan tidak beraturan. Struktur gedung yang dimodel
4
memiliki jumlah 10 tingkat termasuk atap, dengan tinggi antar lantai yaitu 3 m sehingga
tinggi total gedung ialah 30 m. Data-data perencanaan dan model struktur yang digunakan
disesuaikan dengan peraturan pembebanan dan perencanaan yang berlaku dimana bangunan
yang ditinjau bersifat fiktif terletak di daerah Denpasar dengan jenis tanah sedang (kelas
situs D). Material yang digunakan dalam pemodelan struktur gedung ini adalah baja profil
HP untuk kolom dan bresing, dan balok menggunakan profil S, sedangkan pelat dimodel
menggunakan elemen Shell dengan material dari beton bertulang dengan ketebalan pelat
lantai 12 cm dan pelat atap 10 cm. Untuk dimensi kolom, balok, dan bresing menggunakan
metode Trial and Error dengan menggunakan bantuan Auto Select List yang sudah ada pada
SAP2000v15. Tipe bresing yang digunakan untuk bresing konsentrik menggunakan tipe x-
2 lantai masing-masing menggunakan sambungan sendi (flexible). Adapun mutu bahan yang
digunakan pada pemodelan struktur gedung ini adalah sebagai berikut:
Mutu baja: Massa jenis, = 7850 kg/m3
Tegangan leleh, = 250 MPa
Tegangan putus, = 410 MPa
Modulus elastisitas, = 200.000 MPa
Modulus geser, = 80.000 Mpa
Mutu beton: Massa jenis, = 2400 kg/m3
Kuat tekan, = 25 MPa
Modulus elastisitas, = 23500 MPa
Mutu tulangan: Massa jenis, = 7850 kg/m3
Tegangan leleh, = 240 MPa
Tegangan putus, = 370 MPa
Modulus elastisitas, = 200.000 MPa
Pembebanan: Beban mati () = Berat sendiri struktur
Beban mati tambahan ( +) = 121 kg/m2 (pelat atap)
145 kg/m2 (pelat lantai)
Beban hidup atap ( ) = 100 kg/m2
Beban hidup lantai () = 250 kg/m2
Beban gempa () = Auto Load IBC 2009

5
2400
700 500 500 700

500

500
2400
700 500 500 700
500

500 500

4000

500 500

2500 500 500

500 500

500 500

Gambar 2.2 Denah Struktur Beraturan dan Struktur Tidak Beraturan


Adapun langkah-langkah dalam penelitian ini dapat disajikan dalam bentuk diagram alir
penelitian seperti pada Gambar 2.3.
a. Pemasukan data material dan dimensi struktur
Tahap awal dalam proses penelitian ini ialah pemasukan data material struktur,
setelah itu dilanjutkan dengan input dimensi struktur pada program.
b. Pemodelan dan analisis statik linier
Pemodelan struktur dengan SRPMK dengan sambungan kaku, dan SRBK dengan
sambungan sendi. Selanjutnya dilakukan pengerjaan beban pada struktur akibat
beban mati, beban mati tambahan (akibat plafon, penggantung, spesi, tegel, dan lain-
lain), beban hidup, dan beban gempa. Beban mati struktur dihitung sesuai dengan
dimensi struktur pada program (self weight multiplier). Beban gempa menggunakan
AutoLoad IBC 2009 yang disesuaikan dengan SNI gempa 03-1726-2012 dan
definisikan kombinasi pembebanan sesuai dengan SNI 03-1729-2012, kemudian
dilakukan analisis statik linier. Setelah itu dilanjutkan dengan desain struktur baja
menurut AISC yang disesuaikan dengan SNI 03-1729-2002.
c. Kontrol rasio tegangan
Setelah melakukan desain maka harus dikontrol rasio tegangan hingga memenuhi
batasan yang telah ditentukan yaitu 1,00, jika tidak memenuhi maka kembali ke
tahap dimensi struktur.
d. Perbandingan perilaku struktur
Dari hasil analisis akan didapatkan hasil yaitu perilaku struktur dari masing-masing
model. Perilaku struktur yang dimaksud ialah simpangan struktur, dan berat struktur.
Untuk simpangan harus dikontrol juga sesuai dengan SNI 03-1726-2012.
e. Analisis Pushover
Setelah dilakukan kontrol rasio tegangan dan simpangan, selanjutnya struktur dapat
dilakukan analisis pushover untuk mendapatkan kinerja struktur berupa rekaman
6
besarnya perpindahan titik kontrol dan gaya geser dasar yang digunakan untuk
menyusun kurva kapasitas.

Mulai

Pemasukan Data Material dan Pemasukan Data Material dan


Denah Struktur Beraturan Denah Struktur Tidak Beraturan

Dimensi SRPMK Dimensi SRBK Dimensi SRPMK Dimensi SRBK


Sambungan Kaku Sambungan Sendi Sambungan Kaku Sambungan Sendi

Pemodelan SRPMK Pemodelan SRBK Pemodelan SRPMK Pemodelan SRBK


sambungan momen, sambungan sendi, sambungan momen, sambungan sendi,
Analisis Statik Analisis Statik Analisis Statik Analisis Statik
Linier dan Desain Linier dan Desain Linier dan Desain Linier dan Desain
Struktur Baja Struktur Baja Struktur Baja Struktur Baja

Tidak Tidak Tidak


Tidak
Kontrol Kontrol Kontrol Kontrol
Rasio Rasio Rasio Rasio
Tegangan Tegangan Tegangan Tegangan

Ya Ya Ya Ya
Analisis Pushover Analisis Pushover Analisis Pushover Analisis Pushover
SRPMK SRBK SRPMK SRBK

Perilaku dan Perilaku dan Perilaku dan Perilaku dan


Kinerja SRPMK Kinerja SRBK Kinerja SRPMK Kinerja SRBK

Perbandingan Perilaku dan Kinerja


Struktur

Selesai

Gambar 2.3 Diagram Alir Penelitian

7
3. Aspek Aksiologi
Penelitian ini diharapkan memberi manfaat dalam dunia konstruksi baja, dikarenakan
sistem rangka bresing merupakan suatu konsep perencanaan tahan gempa, apalagi di
Indonesia sendiri merupakan daerah rawan gempa. Kebanyakan di lapangan, bentuk-bentuk
gedung mulai beragam tidak seperti dahulu denah struktur gedung masih banyak yang
simetris, sedangkan sekarang denah struktur gedung sudah banyak yang tidak beraturan.
Perilaku dari struktur yang dimodel yang dimaksudkan ialah simpangan struktur, dimensi,
dan berat struktur tersebut. Nantinya akan diperoleh hasil mengenai dimensi struktur yang
efisien, yang akan berpengaruh terhadap efisiensi berat struktur tersebut. Oleh karena itu
diharapkan dengan adanya penelitian ini bisa memberikan referensi untuk suatu perencanaan
struktur gedung khususnya untuk struktur baja.
Dalam penelitian ini juga akan membandingkan hasil dari kinerja suatu struktur,
sejauh mana struktur tersebut mencapai kondisi kritis. Pada umumnya konsep struktur tahan
gempa ialah kolom kuat, dan balok lemah, artinya dimensi kolom diharuskan lebih besar
dibandingkan dengan dimensi balok, agar memenuhi syarat suatu struktur tahan gempa.
Dengan adanya penelitian ini, setidaknya bisa mengetahui kinerja dari struktur gedung
beraturan dan tidak beraturan, walaupun nanti dalam dunia nyatanya denah struktur gedung
bisa berbeda dari denah struktur yang digunakan dalam penelitian ini.

8
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung
(SNI 03-1726-2002). Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.
Anonim. 2002. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-
1729-2002). Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.
Anonim. 2012. Tata Cara Perencanaan Gempa Untuk Struktur Gedung dan Non Gedung
(SNI 03-1726-2012). Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

Setiawan, A. 2008. Perencanaan Struktur Baja Dengan Metode LRFD (berdasarkan SNI 03-
1726-2002). Semarang: PT. Erlangga.

9
10
11
12