Anda di halaman 1dari 13

Aisyatur Robia/150341600791/PBIO/Offering A

Resume Ke-2 Bioteknologi


Perkembangan Bioteknologi dari Jaman Sebelum Masehi sampai dengan Jaman
Modern

1. Sejarah Perkembangan Bioteknologi


Istilah bioteknologi pertama kali dikemukakan oleh Karl Ereky, seorang insinyur Hongaria
pada tahun 1917 yang mendeskripsikan produksi babi dalam skala besar dengan menggunakan
bit gula sebagai sumber pakannya (Suwanto, 1998). Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu
'bio' yang berarti makhuk hidup dan 'teknologi' yang berarti cara untuk memproduksi
barang atau jasa. Dari paduan dua kata tersebut European Federation of Biotechnology
(1989) mendefinisikan bioteknologi sebagai perpaduan dari ilmu pengetahuan alam dan ilmu
rekayasa yang bertujuan meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme
hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan produk dan jasa (Primose, 2003).
Pemanfaatan mikroba untuk kepentingan manusia telah ada sejak zaman sebelum masehi.
Hingga sekarang manusia telah mengalami tiga periode perkembangan bioteknologi, yaitu
sebagai berikut.
a. Periode bioteknologi tradisional (sebelum abad ke-15 M)
Pada periode ini telah ada teknologi peternakan sapi perah dikembangkan di daerah Timur
Tengah, Bangsa Mesir menggunakan yeast untuk membuat roti dan wine, ketika itu dengan
aplikasi proses fermentasi, dihasilkan lebih dari 50 macam roti, masyarakat Cina membuat
keju dan yoghurt dengan bakteri penghasil asam laktat (2500 SM). Pada 2000 SM masyarakat
Mesir mempraktikkan pemuliaan hewan ternak, pada sapi dan angsa, untuk kebutuhan pangan
bangsa Mesir, Bangsa Sumerian dan Babilonia membuat minuman bir dan keju hasil
fermentasi menggunakan yeast. Pada 500 SM masyarakat Cina menggunakan bubur ekstrak
kedelai yang sudah berjamur sebagai antibiotik untuk menyembuhkan borok. Pada 250 SM
masyarakat Yunani mempraktikkan cara bercocok tanam dengan sistem rotasi untuk
meningkatkan kesuburan tanah. Pada 100 SM masyarakat Cina menggunakan tepung tanaman
bunga krisan sebagai insektisida. Pemanfaatan ganggang sebagai sumber makanan yang
dilakukan oleh bangsa Aztek (1500 SM ).

b. Periode bioteknologi ilmiah (abad ke-15 sampai ke-20 M)


Periode ini ditandai dengan adanya beberapa peristiwa.
Tahun 1670 : usaha penambangan biji tembaga dengan bantuan mikroba di Rio Tinto,
Spanyol.
Tahun 1686 : Penemuan mikrosop oleh Antony van Leeuwenhoek yang juga menjadi
manusia pertama yang dapat melihat mikrob.
Tahun 1870 : Louis pasteur menemukan adanya mikrob dalam makanan dan minuman.
Tahun 1890 : alkohol dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar motor.
Tahun 1897 : penemuan enzim dari ekstrak ragi yang dapat mengubah gula menjadi
alkohol oleh Eduard Buchner.
Tahun 1912 : pengelolahan limbah dengan menggunakan mikrob.
Tahun 1915 : produksi aseton, butanol, dan gliserol dengan menggunakan bakteri.
Tahun 1917 : Karl Ereky memperkenalkan istilah Bioteknologi
Tahun 1928 : penemuan zat antibiotik penisilin oleh Alexander Fleming
Tahun 1943 : Penisilin diproduksi dalam skala industri
Tahun 1944 : Avery, MacLeod, McCarty mendemonstrasikan bahwa DNA adalah bahan
genetik
Tahun 1955 : Watson & Crick menentukan struktur DNA
Tahun 1961 : Jurnal Biotechnology and Bioengineeringditetapkan
Tahun 1961-1966 : Seluruh sandi genetik terungkapkan
Tahun 1970 : Enzim restriksi endonuklease pertama kali diisolasi
Tahun 1972 : Khorana dan kawan-kawan berhasil mensintesa secara kimiawi seluruh
gen tRNA
Tahun 1953 : penemuan struktur asam deoksiribo nukleat ( ADN ) oleh Crick dan Watson
Tahun 1973 : Boyer dan Cohen memaparkan teknologi DNA rekombinan
Tahun 1975 : Kohler dan Milstein menjabarkan produksi antibodi monoklonal
Tahun 1976 : Perkembangan teknik-teknik untuk menentukan urutan DNA
Tahun 1978 : Genetech menghasilkan insulin manusia dalam E.coli
Tahun1980: US Supreme Court: Mikroba hasil manipulasi dapat dipatenkan
Tahun 1981 : Untuk pertama kalinya automated DNA synthesizersdijual secara
komersial
Tahun 1981 : Untuk pertama kalinya kit diagnostik berdasar antibodi disetujui untuk
dipakai di Amerika Serikat
Tahun 1982 : Untuk pertama kalinya vaksin hewan hasil teknologi DNA rekombinan
disetujui pemakaiannya di Eropa
Tahun 1983 : Plasmid Ti hasil rekayasa genetik dipakai untuk transformasi tanaman
Tahun 1988 : US Patent diberikan untuk mencit hasil rekayasa genetik sehingga rentan
terhadap kanker (untuk penelitian tumor)
Tahun 1988 : Metode Polymerase Chain Reaction dipubliikasi
Tahun 1990 : USA: Telah disetujui percobaan Terapi gen sel somatik pada manusia
Tahun 1994 : Produksi besar-besaran penisilin
Tahun 1997 : Kloning hewan (domba Dolly) dari sel dewasa (sel kambing)
.
c. Periode bioteknologi modern (abad ke-20 M sampai sekarang)
Periode ini diawali dengan penemuan teknik rekayasa genetik pada tahun 1970-an. Era
rekayasa genetik dimulai dengan penemuan enzim endonuklease restiksi oleh Dussoix dan
Boyer. Dengan adanya enzim tersebut memungkinkan kita dapat memotong DNA pada posisi
tertentu, mengisolasi gen dari kromosom suatu organisme, dan menyisipkan potongan DNA
lain (teknik DNA rekombinan). Setelah penemuan enzim endonuklease restriksi, dilanjutkan
dengan program bahan bakar alkohol dari brazil, teknologi hibridoma yang menghasilkan
antibodi monoklonal (1976), serta diberikannya izin untuk memasarkan produk jamur yang
dapat dikonsumsi manusia kepada Rank Hovis Mc. Dougall (1980).
Peran teknologi rekayasa genetik pada era ini semakin terasa dengan diizinkannya
penggunaan insulin hasil percobaan rekayasa genetik untuk pengobatan penyakit diabetes di
Amerika Serikat pada tahun 1982. Insulin buatan tersebut diproduksi oleh perusahaan Eli Lilly
dan Company. Hingga saat ini penelitian dan penemuan yang berhubungan dengan rekayasa
genetik terus dilakukan. Misalnya dihasilkan organisme transgenik penelitian genom makhluk
hidup (Takayama, 2000).

Gambar 1. Gradien Bioteknologi (dimodifikasi dari Doyle dan Presley, 1996).

Bioteknologi memiliki gradien perkembangan teknologi dimulai dari penerapan


bioteknologi tradisional yang telah lama dan secara luas dimanfaatkan hingga teknik-teknik
bioteknologi baru dan secara terus menerus berevolusi. Sebagai contoh, pemanfaatan
biodecomposer. Biodecomposer dapat mempercepat proses pengomposan menjadi 2-3 minggu.
Selain itu, sebagian mikroba bahan aktif biodecomposer yang masih tertinggal di dalam
kompos juga berperan sebagai musuh alami penyakit jamur akar atau busuk pangkal batang.
Aplikasi biofertilizer ke dalam tanah dapat meningkatkan aktivitas mikroba di dalam tanah,
sehingga ketersediaan hara berlangsung optimum dan dosis pupuk konvensional dapat
dikurangi tanmpa menimbulkan penurunan produksi tanaman dan tanah. Mikroba juga telah
dimanfaatkan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Aplikasi mikroba untuk
biokontrol hama dan penyakit tanaman meliputi mikroba liar yang telah diseleksi maupun
mikroba yang telah mengalami rekayasa genetika. Upaya untuk memperbaiki kondisi
lingkungan yang terkena polusi herbisida tersebut telah dilakukan. Salah satu teknologi
alternatif untuk tujuan tersebut adalah melalui bioremediasi. Bioremediasi didefinisikan
sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi
terkendali (Heru N, 2002).
Berdasarkan hasil dari tiap penemuannya, biotegnologi dibedakan berdasarkan jenis
warna.
a. Bioteknologi merah (red biotechnology) adalah bioteknologi yang mempelajari aplikasi
bioeknologi di bidang medis. Contoh penerapannya adalah pemanfaatan organisme untuk
menghasilkan obat dan vaksin.
b. Bioteknologi putih/abu-abu (white/gray biotechnology) adalah bioteknologi yang
diaplikasikan dalam industri seperti pengembangan dan produksi senyawa baru serta
pembuatan sumber energi terbarukan dengan memanipulasi mikroorganisme seperti
bakteri dan khamir/ragi.
c. Bioteknologi hijau (green biotechnology) mempelajari aplikasi bioteknologi di bidang
pertanian dan peternakan. Sementara itu, di bidang peternakan, binatang-binatang telah
digunakan sebagai bioreaktor untuk menghasilkan produk penting seperti ayam telah
digunakan sebagai penghasil antibodi-protein protektif yang membantu sel tubuh
mengenali dan melawan senyawa asing (antigen).

2. Macam produk dari perkembangan Bioteknologi


Bioteknologi dapat digolongkan menjadi bioteknologi konvensional/tradisional dan
modern.
a. Bioteknologi konvensional
Ciri-ciri bioteknologi konvensional; kurang steril, jumlah sedikit (terbatas), kualitas
belum terjamin. Bioteknologi konvensional merupakan bioteknologi yang memanfaatkan
mikroorganisme untuk memproduksi alkohol, asam asetat, gula, atau bahan makanan,
seperti tempe, tape, oncom, dan kecap. Mikroorganism dapat mengubah bahan pangan.
proses yang dibantu mikroorganisme, misalnya dengan fermentasi, hasilnya antara lain
tempe, tape, kecap, dan sebagainya termasuk keju dan yoghurt. proses tersebut dianggap
sebagai bioteknologi masalalu. ciri khas yang tampak pada bioteknologi konvensional,
yaitu adanya penggunaan makhluk hidup secara langsung dan belum tahu adanya
penggunaan enzim. Contoh: industri tempe, tape, anggur, yoghurt, dsb.
b. Bioteknologi modern
Ciri-ciri bioteknologi modern; steril, produksi dalam jumlah banyak (massal), kualitas
standar dan terjamin. Selain itu, bioteknologi modern tidak terlepas dengan aplikasi
metode-metode mutakhir bioteknologi (current methods of biotecnology) seperti:
1) Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk memperbanyak jaringan/sel yang
berasal atau yang didapat dari jaringan orisinal tumbuhan atau hewan setelah terlebih
dahulu mengalami pemisahan (disagregasi) secara mekanis, atau kimiawi (enzimatis)
secara in vitro (dalam tabung kaca).
2) Teknologi DNA rekombinan (recombinant DNA technology) adalah suatu metode
untuk merekayasa genetik dengan cara menyisipkan (insert) gen yang dikehendaki ke
dalam suatu organisme. Transgenik adalah suatu metode untuk. Rekayasa protein
(protein engineering).
3) Hibridoma adalah suatu metode untuk menggabungkan dua macam sel eukariot dengan
tujuan mendapatkan sel hibrid yang memiliki kemampuan kedua sel induknya.
4) Kloning adalah suatu metode untuk menghasilkan keturunan yang dikehendaki sama
persis dengan induknya.
5) Polymerase chains reaction (PCR) merupakan metode yang sangat sensitif untuk
mendeteksi dan menganalisis sekuen asam nukleat. RT-PCR untuk memperbanyak
(amplifikasi) rantai RNA menjadi DNA; tissue/cells extracted RNA/mRNA
rT-PCR copy DNA (cDNA).
6) Hibridisasi DNA adalah metode untuk menyeleksi sekuen DNA dengan menggunakan
probes DNA untuk hibridisasi (pencangkokan) rantai DNA

3. Jenis Produk yang Dihasilkan dari Aplikasi Bioteknologi


a. Aplikasi pada Bidang Pangan
Bioteknologi memainkan peranan penting dalam bidang pangan yaitu dengan
memproduksi makanan dengan bantuan mikroba (tempe,roti,keju,yoghurt,kecap,dll) ,
vitamin, dan enzim.

b. Aplikasi pada bidang pertanian


Adanya perbaikan sifat tanaman dapat dilakukan dengan teknik modifikasi genetik
dengan bioteknologi melalui rekayasa genetika untuk memperoleh varietas unggul,
produksi tinggi, tahan hama, patogen, dan herbisida. Dalam bidang pertanian telah dapat
dibentuk tanaman dengan memanfaatkan mikroorganisme dalam fiksasi nitogen yang dapat
membuat pupuknya sendiri sehingga dapat menguntungkan pada petani. Demikian pula
terciptanya tanaman yang tahan terhadap tanah gersang. Mikroba yang direkayasa secara
genetik dapat meningkatkan hasil panen pertanian. Demikian juga dalam cara lain, seperti
meningkatkan kapasitas mengikat nitrogen dari bakteri Rhizobium. Keturunan bakteri yang
telah disempurnakan atau diperbaiki dapat meningkatkan hasil panen kacang kedelai sampai
50%. Rekayasa genetik lain mencoba mengembangkan turunan dari bacteri Azetobacter
yang melekat pada akar tumbuh bukan tumbuhan kacang-kacangan (seperti jagung) dan
mengembangbiakan, membebaskan tumbuhan jagung dari ketergantungan pada kebutuhan
pupuk amonia (pupuk buatan).
Hama tanaman merupakan salah satu kendala besar dalam budidaya tanaman pertanian.
Untuk mengatasinya, selama ini digunakan pestisida. Namun ternyata pestisida banyak
menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain matinya organisme nontarget, keracunan
bagi hewan dan manusia, serta pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, perlu dicari
terobosan untuk mengatasi masalah, tersebut dengan cara yang lebih aman. Kita mengetahui
bahwa mikroorganisme yang terdapat di alam sangat banyak, dan setiap jenis
mikroorganisme tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda. Dari sekian banyak jenis
mikroorganisme, ada suatu kelompok yang bersifat patogenik (dapat menyebabkan
penyakit) pada hama tertentu, namun tidak menimbulkan penyakit bagi makhluk hidup lain.
Contoh mikroorganisme tersebut adalah bakteri Bacillus thuringiensis. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Bacillus thuringiensis mampu menghasilkan suatu protein yang
bersifat toksik bagi serangga, terutama seranggga dari ordo Lepidoptera. Protein ini bersifat
mudah larut dan aktif menjadi menjadi toksik, terutama setelah masuk ke dalam saluran
pencemaan serangga. Bacillus thuringiensis mudah dikembangbiakkan dan dapat
dimanfaatkan sebagai biopestisida pembasmi hama tanaman. Pemakaian biopestisida ini
diharapkan dapat mengurangi dampak negatif yang timbul dari pemakaian pestisida kimia.
Aplikasi bioteknologi untuk pertanian menawarkan berbagai keuntungan. Perbaikan sifat
tanaman dapat dilakukan dengan teknik modifikasi genetik dengan bioteknologi melalui
rekayasa genetika. Keuntungan potensial bioteknologi pertanian antara lain:
1. potensi hasil panen yang lebih tinggi,
2. mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida,
3. toleran terhadap cekaman lingkungan,
4. pemanfaatan lahan marjinal,
5. identifikasi dan eliminasi penyakit di dalam makanan ternak,
6. kualitas makanan dan gizi yang lebih baik, dan perbaikan defisiensi mikronutrien,
7. peningkatan kualitas bahan tanam melalui bioteknologi berdasarkan pada empat
kategori peningkatan: peningkatan kualitas pangan, resistensi terhadap hama atau
penyakit, toleransi terhadap stress lingkungan, dan manajemen budidaya.

c. Aplikasi pada bidang peternakan dan perikanan


Penerapan bioteknologi pada peternakan contohnya adalah hewan transgenik dan
hormon bovin somatotropin. Hewan transgenik merupakan hewan yang diberi perlakuan
rekayasa genetika. Pada hewan-hewan tersebut disisipkan gen-gen tertentu yang dibutuhkan
manusia. Sebagai contoh adalah domba transgenik. DNA domba tersebut telah disisipi
dengan gen manusia yang disebut dengan faktor VII (merupakan protein pembeku darah).
Dengan adanya penyisipan tersebut domba mneghasilkan susu yang mengandung faktor
VIII yang dapat dimurnikan untuk menolong penderita hemofilia. Rekayasa genetika pada
hewan juga dapat membantu melestarikan spesies langka. Sebagai contoh sel telur zebra
yang sudah dibuahi lalu ditanam pada kuda spesies lain. Spesies lain yang dipinjam
rahimnya disebut Surrogate. Anak zebra akan lahir dari kuda Surrogate.
Aplikasi bioteknologi dalam bidang peternakan menawarkan berbagai keuntungan
antara lain:
1. Meningkatkan produksi peternakan.
2. Meningkatkan efisiensi dan kualitas pakan seperti manipulasi mikroba rumen.
3. Menghasilkan embrio yang banyak dalam satu kali siklus reproduksi.
4. Menciptakan jenis ternak unggul.
Dalam bidang perikanan, kebutuhan adanya penerapan teknologi sangat dinantikan,
mengingat adanya penangkapan ikan yang melebihi potensi lestari (over fishing),
banyaknya terumbu karang yang rusak dan dengan adanya peningkatan konsumsi ikan.
Penelitian bioteknologi dalam bidang perikanan, diutamakan pada tiga kelompok, yaitu
akuakultur, pemanfaatan produksi alam, dan prosesing bahan makanan yang bernilai
ekonomi tinggi. Pengembangan bioteknologi dibidang akuakultur meliputi seleksi,
hibridasi, rekayasa kromosom, dan pendekatan biologi molekuler seperti transgenik sangat
dibutuhkan untuk menyediakan benih dan induk ikan.
Pada akuakultur, program peningkatan sistem kekebalan ikan telah dilakukan dengan
menggunakan vaksin, imunostimulan, probiotik, dan bioremediasi. Vaksin dapat memacu
produksi antibiotik spesifik dan hanya efektif untuk mencegah satu patogen tertentu.
Imunostimulan merupakan teknik meningkatkan kekebalan yang non spesifik, misalnya
lipopolysaccharide dan Bglucan yang telah diterapkan untuk ikan dan udang di Indonesia.
Sedangkan probiotik diaplikasikan pada pakan atau dalam lingkungan perairan budidaya
sebagai penyeimbang mikroba dalam pencernaan dan lingkungan perairan.
Pada tahun 1980 penelitian transgenik pada ikan telah dimulai dengan mengintroduksi
gen tertentu kepada organisme hidup lainnya serta mengamati fungsinya secara in vitro.
Dalam teknik ini, gen asing hasil isolasi diinjeksi secara makro ke dalam telur untuk
memproduksi galur ikan yang mengandung gen asing tersebut. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan ikan transgenik, yaitu: 1) isolasi gen (clone DNA) yang akan
diinjeksi pada telur, 2) identifikasi gen pada anak ikan yang telah mendapatkan injeksi gen
asing tadi, dan 3) keragaman dari turunan ikan yang diinjeksi gen asing tersebut.

d. Aplikasi pada bidang kesehatan dan pengobatan


Aplikasi bioteknologi dalam bidang kesehatan dan pengobatan telah mandatangkan
manfaat antara lain:
1) Para ilmuwan mengatakan mereka menemukan gen yang dapat digunakan untuk
mengembangkan pil kontrasepsi baru bagi pria. Mereka mengubah kode genetika pada
tikus untuk melihat apakah binatang ini menjadi mandul. Mereka kemudian meneliti
mutasi yang menyebabkan kemandulan, yang membuka jalan ditemukannya Katnal1.
(PLoS Genetics, 2012; 8)
2) Menurut para ilmuwan University of California Irvine, persilangan antar nyamuk
akan menghalangi terjadinya infeksi parasit malaria pada manusia. Penemuan ini
merupakan pendekatan yang menarik untuk membantu mengatasi salah satu masalah
yang paling mendesak di dunia kesehatan masyarakat yaitu penyakit malaria.
3) Memproduksi obat-obatan terhadap penyakit infeksi (antibiotik) seperti penisilin,
streptomysin. Obat-obatan yang berbasis molekul biologis besar atau biasa disebut obat
biologis, telah diproduksi di dalam sel binatang, yeast (ragi) dan bakteri melalui
rekayasa genetika selama lebih dari dua dekade. Insulin merupakan salah satu produk
obat biologis yang dibuat melalui bakteri Escherichia coli yang dimodifikasi secara
genetik.

Teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan biotek Protalix Biotherapeutics telah


memungkinkan untuk memproduksi obat di dalam sel tanaman
(Credit: PROTALIX BIOTHERAPEUTICS)

Selain itu juga para ilmuwan melaporkan adanya cara baru yang lebih baik untuk
mengobati penyakit, yaitu dengan menggunakan minute capsules atau kapsul menit.
Kapsul menit tidak mengandung obat-obatan, tetapi berisi DNA dan mesin biologi lainnya
yang akan membuat obat di dalam tubuh.
4) Memproduksi vaksin untuk pencegahan jenis penyakit tertentu sesuai dengan jenis
vaksinnya seperti polio, cacar, hepatitis-B, TBC dsb. Selain pada manusia, vaksin juga
digunakan untuk melindungi ternak (ayam, sapi, dsb) dari serangan berbagai penyakit
menular.
5) Memproduksi zat kebal antibodi untuk diagnosis penyakit, penelitian dan terapi antibodi
monoklonal.
6) Untuk terapi gen misalnya untuk terapi penyakit genetis (bawaan).
7) Untuk memproduksi hormone insulin untuk terapi penderita kencing manis.
8) Untuk terapi gen; Sel somatis (somatic gene therapy); sel darah atau otot, terapi penyakit
genetis (bawaan). Sel embrional (Germ line gene therapy).
9) Untuk menumbuhkan cangkok tulang. Peneliti dari laboratorium The New York Stem Cell
Foundation (NYSCF) menunjukkan bahwa sel punca (stem cell) embrio manusia dapat
digunakan untuk menumbuhkan cangkok jaringan tulang.

Sebuah langkah signifikan dalam menggunakan sel induk pluripoten untuk


memperbaiki dan mengganti jaringan tulang pada pasien
(Foto: Marco Desscouleurs / Fotolia)

e. Aplikasi pada bidang lingkungan


Aplikasi bioteknologi dalam bidang lingkungan antara lain:
1. Untuk pengolahan limbah. Pengolahan air limbah dengan bioteknologi pengolahan
limbah menjadi lebih terkontrol dan efektif. Pemrosesan air limbah oleh pabrik
bertujuan untuk menghilangkan zat pencemar, baik pencemar biologis maupun kimiawi
yang mungkin membahayakan manusia atau lingkungan.
2. Pelestarian plasma nutfah. Contohnya nanoflowers lebih efektif digunakan untuk
mendeteksi polutan beracun dalam aliran limbah pabrik daripada teknik yang
digunakan saat ini. Kelopak tersebut melakukan dua fungsi penting. Pertama, berfungsi
menstabilkan protein sehingga terhindar dari kerusakan. Kedua, jika protein tersebut
memiliki sifat katalitik (mempercepat suatu reaksi kimia), lalu nanoflower
membungkus protein tersebut, hal ini akan meningkatkan efektifitas katalis protein
tersebut.

Nanoflowers (Jen Gu et al., 2012/Nature Nanotechnology)

f. Aplikasi Pada Bidang Hukum


Teknologi DNA menawarkan aplikasi bagi kepentingan forensik. Pada kriminalitas
dengan kekerasan, darah atau jaringan lain dalam jumlah kecil dapat tertinggal di tempat
kejadian perkara. Jika ada perkosaan, air mani dalam jumlah kecil dapat ditemukan dalam
tubuh korban. Melalui pengujian sidik jari DNA (DNA finngerprint) dapat diidentifikasi
pelaku dengan derajat kepastian yang tinggi karena urutan DNA setiap orang itu unik
(kecuali untuk kembar identik). Sampel darah atau jaringan lain yang dibutuhkan dalam tes
DNA sangat sedikit (kira-kira 1000 sel). DNA fingerprint merupakan satu langkah lebih
maju dalam proses pengungkapan kejahatan di Indonesia. Keakuaratan hasil yang hampir
mencapai 100% menjadikan metode DNA fingerprint selangkah lebih maju dibandingkan
dengan proses biometri yang telah lama digunakan kepolisian untuk identifikasi.

3. Dampak perkembangan bioteknologi


a. Dampak Positif Bioteknologi
1) Keanekaragaman hayati merupakan modal utama sumber gen untuk keperluan rekayasa
genetik dalam perkembangan dan perkembangan industri bioteknologi. Baik donor
maupun penerima (resipien) gen dapat terdiri atas virus, bakteri, jamur, lumut,
tumbuhan, hewan, juga manusia. Pemilihan donor/resipien gen bergantung pada jenis
produk yang dikehendaki dan nilai ekonomis suatu produk yang dapat dikembangkan
menjadi komoditis bisnis (Yalow, 2000).
2) Meningkatnya sifat resistensi tanaman terhadap hama dan penyakit tanaman, misalnya
tanaman transgenik kebal hama.
3) Meningkatnya produk-produk (baik kualitas maupun kuantitas) pertanian, perkebunan,
peternakan maupun perikanan. Dengan temuan bibit unggul. Contohnya domba
transgenik pertama di dunia diproduksi dengan teknik sederhana dengan menggunakan
kloning buatan tangan, domba tersebut berhasil lahir di Xinjiang daerah Otonomi
Uygur, Cina.
Domba Peng Peng yang dikloning dengan teknik Handmade Cloning (HMC) (Foto :
Image courtesy of BGI Shenzhen)

4) Meningkatnya nilai tambah bahan makanan. Pengolahan bahan makanan tertentu,


seperti air susu menjadi yoghurt, mentega, keju. Contohnya Ilmuwan
menciptakan genetically modified (GM) atau rekayasa genetika pada sapi untuk
menghasilkan susu berkualitas tinggi. Para peneliti juga meyakini bahwa susu yang
dihasilkan sapi GM mengandung konsentrasi kalsium tingkat tinggi ketimbang susu
sapi biasa.

5) Membantu proses pemurnian logam dari bijinya pada pertambangan logam


(biohidrometalurgi). Contohnya seorang profesor di bidang seni elektronik dan
intermedia, menemukan sebuah bakteri bernama Cupriavidus metallidurans yang
bersifat toleran terhadap logam dan dapat tumbuh pada konsentrasi gold
chloride/klorida emas (emas cair, suatu senyawa kimia beracun yang ditemukan di
alam) yang tinggi. Kemampuan ini merupakan kunci untuk menciptakan 24 karat emas
(Science Daily).

Sebuah bioreaktor yang menggunakan bakteri


untuk mengubah emas cair menjadi emas 24
karat. (Credit: Photo by G.L. Kohuth)

Contoh lain, para peneliti di University of Leeds telah


menggunakan jenis bakteri yang memakan besi
untuk membuat medan magnet. Bakteri tersebut mencerna besi kemudian menciptakan
menciptakan medan magnet kecil dalam dirinya sendiri.
Bakteri penghasil magnet dapat
digunakan untuk membuat komputer
di masa depan dengan kapasitas hard
drive yang lebih besar dan koneksi
yang lebih cepat cepat.
(Foto: phys.org)

6) Membantu manusia mengatasi masalah-masalah pencemaran lingkungan. Seperti:


bakteri pemakan plastik dan parafin, bakteri penghasil bahan plastik biodegradable.
7) Membantu manusia mengatasi masalah sumber daya energi. Misalnya: bioethanol,
biogas.
8) Membantu dunia kedokteran dan medis mengatasi penyakit-penyakit tertentu.
9) Mengatasi masalah pelestarian species langka dan hampir punah. Dengan teknologi
transplantasi nukleus, hewan / tumbuhan langka bisa dilestarikan.

b. Dampak Negatif Bioteknologi


Bioteknologi mengandung resiko akan dampak negatif. Timbulnya dampak yang
merugikan terhadap keanekaragaman hayati disebabkan oleh potensi terjadinya aliran gen
ketanaman sekarabat atau kerabat dekat. Di bidang kesehatan manusia terdapat
kemungkinan produk gen asing, seperti gen cry dari Bacillus thuringiensis maupun Bacillus
sphaeericus dapat menimbulkan reaksi alergi pada tubuh manusia. Perlu dicermati pula
bahwa insersi (penyisipan) gen asing ke genom inang dapat menimbulkan interaksi antar
gen asing dan inang produk bahan pertanian dan kimia yang menggunakan bioteknologi
(Shupnik, 2000).
1) Di bidang etika/ moral. Ada masyarakat yang menganggap bahwa menyisipkan gen
suatu mahluk hidup ke mahluk hidup lain bertentangan dengan nilai budaya dan
melanggar hukum alam. Misalnya kerusakan tatanan sosial masyarakat, ketika cloning
pada manusia tidak terkendali. menimbulkan pertentangan berkepanjangan antara
tokoh ilmuwan bioteknologi dengan tokoh-tokoh kemanusiaan dan agama.
2) Di bidang sosial ekonomi, menimbulkan kesenjangan antara negara/ perusahaan yang
memanfaatkan bioteknologi dengan yang belum memanfaatkan bioteknologi.
Persaingan internasional dalam perdagangan dan pemasaran produk bioteknologi.
Persaingan tersebut dapat menimbulkan ketidakadilan bagi negara berkembang karena
belum memiliki teknologi yang maju. Misalnya, sangat terasa dalam produk pertanian
transgenik yang sangat merugikan bagi agraris berkembang. Hak paten yang dimiliki
produsen organisme transgenik juga semakin menambah dominasi negara maju
(tersingkirnya berbagai plasma nutfah alami/lokal. Flora dan fauna lokal "terdesak"
oleh kehadiran flora dan fauna transgenik).
3) Di bidang kesehatan manusia terdapat kemungkinan produk gen asing seperti gen cry
dari Bacillus thuringiensis maupun Bacillus sphaeericus, dapat menimbulkan reaksi
alergi pada tubuh manusia, perlu di cermati pula bahwa insersi (penyisipan) gen asing
ke genom inang dapat menimbulkan interaksi antar gen asing dan inang produk bahan
pertanian dan kimia yang menggunakan bioteknologi serta munculnya penyakit-
penyakit baru dan kerentanan terhadap penyakit akibat pemanfaatan tanaman / hewan
transgenik.
Dampak terhadap kesehatan Produk-produk hasil rekayasa genetika memiliki resiko
potensial sebagai berikut:
Gen sintetik dan produk gen baru yang berevolusi dapat menjadi racun dan atau
imunogenik untuk manusia dan hewan.
Rekayasa genetik tidak terkontrol dan tidak pasti, genom bermutasi dan bergabung,
adanya kelainan bentuk generasi karena racun atau imunogenik, yang disebabkan tidak
stabilnya DNA rekayasa genetik.
Virus di dalam sekumpulan genom yang menyebabkan penyakit mungkin diaktifkan
oleh rekayasa genetik.
Penyebaran gen tahan antibiotik pada patogen oleh transfer gen horizontal, membuat
tidak menghilangkan infeksi.
Meningkatkan transfer gen horizontal dan rekombinasi, jalur utama penyebab penyakit.
DNA rekayasa genetik dibentuk untuk menyerang genom dan kekuatan sebagai
promoter sintetik yang dapat mengakibatkan kanker dengan pengaktifan oncogen
(materi dasar sel-sel kanker).
Tanaman rekayasa genetik tahan herbisida mengakumulasikan herbisida dan
meningkatkan residu herbisida sehingga meracuni manusia dan binatang seperti pada
tanaman.

Pertanyaan
1. Mengapa Bioteknologi dalam bidak pertanian itu penting?
Jawab: Bioteknologi penting dalam bidang pertanian karena dapat meningkatkan
produksi pangan misalnya dengan menciptakan kultivar unggul seperti tanaman padi dan
tanaman semusim sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat,
meningkatkan produksi dan kualitas melalui transgenik antara lain kapas, jagung, dll.,
mempercepat swasembada jagung. Jagung yang dihasilkan mempunyai kualitas yang
lebih baik dan kebal terhadap hama.
2. Jika dilihat dari gradien bioteknologi semakin maju zaman teknik bioteknologi yang
digunakan semakin bervariasi, mengapa semakin efisien bioteknologi biaya yang
digunakan semakin tinggi?
Jawab: Hal tersebut dikarenakan pada bioteknologi konvensional masih menggunakan
teknik yang sederhana menggunakan mikroba secara langsung dan pruduksinya masih
dalam sekala kecil. Sedangkan bioteknologi modern banyak menggunkan alat-alat yang
canggih danmahal serta teknik yang digunakan sangat rumit, dan produksi sudah dalam
sekala besar.
Daftar Pustaka

Nurcahyo, Heru. 2002. Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Berorientasi pada
Penguasaan Bioteknologi. Cakrawala Pendidikan. Edisi Khusus Dies Mei , 2002.
Primrose, S.B. 2003. Modern Biotechnology. Oxford: Blackwell Scientific Publications.
Shupnik, M.A. 2000. Introduction to Molecular Biology. In: Fauser, B.C.J.M., Rutherford,
A.J., Strauss, III., J.F., and Van Steirteghem, A. (eds.) Molecular Biology in
Reproductive Medicine. The Parthenon Publishing Group.
Suwanto, A. 1998. Bioteknologi Molekuler: Mengoptimalkan Manfaat Keanekaan Hayati
Melalui Teknologi DNA Rekombinan. Jurnal Hayati. 5 (1): 25-28.
Takayama, K., Fukaya, T., Sasano, H., Funayama, Y., Suzuki, T., Takaya, R., Wada, Y., and
Yajima, A. 2000. Immunohistochemical Study of Steroidogenesis and Cell
Proliferation in Polycystic Ovarian Syndrome. Hum. Reprod. Vol. 11, No.7. pp.:
1387-92.
Yalow, R.S. 2000. Radioimmunoassay of Hormones. In: Wilson, J.D., & Foster, D.W. (eds.)
Williams Textbook of Endocrinology. 8th.ed. W.B. Saunders Company.