Anda di halaman 1dari 23

PRAKTIKUM STRATIGRAFI

LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Stratigrafi adalah cabang ilmu geologi yang membahas mengenai distribusi,


bentuk, komposisi, dan hubungan antar tubuh batuan, untuk menginterpretasi waktu
dan sejarah pembentukannya. Istilah stratigrafi yang tersusun dari 2 suku kata yaitu
strati ( stratus) yang artinya perlapisan dan kata grafi (graphic/ graphos) yang artinya
gambar atau lukisan, yang awalnya hanya didefinisikan sebagai ilmu pemerian
lapisan-lapisan batuan, khususnya pada batuan sedimen. Selanjutnya pengertian
stratigrafi bertambah luas hingga melingkupi ketiga jenis batuan penyusun kerak
bumi.
Ilmu stratigrafi muncul untuk pertama kalinya di Britania Raya pada abad ke-
19. Perintisnya adalah William Smith. Ketika itu dia mengamati beberapa perlapisan
batuan yang tersingkap yang memiliki urutan perlapisan yang sama (superposisi).
Dari hasil pengamatannya, kemudian ditarik kesimpulan bahwa lapisan batuan yang
terbawah merupakan lapisan yang tertua, dengan beberapa pengecualian. Karena
banyak lapisan batuan merupakan kesinambungan yang utuh ke tempat yang
berbeda-beda maka dapat dibuat perbandingan antara satu tempat ke tempat lainnya
pada suatu wilayah yang sangat luas. Berdasarkan hasil pengamatan ini maka
kemudian Willian Smith membuat suatu sistem yang berlaku umum untuk periode-
periode geologi tertentu walaupun pada waktu itu belum ada penamaan waktunya.
Berawal dari hasil pengamatan William Smith dan kemudian berkembang menjadi
pengetahuan tentang susunan, hubungan dan genesa batuan yang kemudian dikenal
dengan stratigrafi.
Kolom stratigrafi pada hakekatnya adalah kolom yang menggambarkan
susunan berbagai jenis batuan serta hubungan antar batuan atau satuan batuan mulai
dari yang tertua hingga termuda menurut umur geologi, ketebalan setiap satuan
batuan, serta genesa pembentukan batuannya. Pada umumnya banyak cara untuk
menyajikan suatu kolom stratigrafi, namun demikian ada suatu standar umum yang
menjadi acuan bagi kalangan ahli geologi didalam menyajikan kolom stratigrafi.
Penampang kolom stratigrafi biasanya tersusun dari kolom-kolom dengan atribut-

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

atribut sebagai berikut: Umur, Formasi, Satuan Batuan, Ketebalan, Besar-Butir,


Simbol Litologi, Deskripsi/Pemerian, Fosil Dianostik, dan Linkungan Pengendapan.
Dalam penelitian geologi, pengamatan stratigrafi disepanjang lintasan yang
dilalui perlu dibuat, baik dengan cara menggambarnya dalam bentuk sketsa profil
lintasan ataupun melalui pengukuran stratigrafi. Adapun tujuan dari pembuatan profil
lintasan adalah untuk mengetahui dengan cepat hubungan antar batuan / satuan
batuan secara vertikal.

I.2 Maksud dan Tujuan

1.2.1 Maksud

Maksud dilaksanakannya praktikum ini adalah agar praktikan mengetahui apa


yang dimaksud dengan kolom stratigrafi yang berhubungan dengan penampang
stratigrafi terukur untuk penentuan batuan berdasarkan unsure-unsur kolom
stratigrafi.

1.2.2 Tujuan

1. Praktikan dapat mengetahui maksud dari kolom stratigrafi dan menentukan kolom
stratigrafi dari penampang stratigrafi.

2. Praktikan dapat mengetahui unsur-unsur kolom stratigrafi.

I.3 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1.3.1 Alat
1. ATM
2. Mistar 30 cm
3. Pensil Warna
4. Kalkulator
1.3.2 Bahan
1. Kertas A4
2. Penampang stratigrafi terukur

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Konsep-Konsep / Prinsip Dasar Stratigrafi

Dalam pembelajaran stratigrafi permulaannya adalah pada prinsip-prinsip


dasar yang sangat penting aplikasinya sekarang ini.Sebagai dasar dari studi ini
Nicolas Steno membuat empat prinsip tentang konsep dasar perlapisan yamg
sekarang dikenal dengan Stenos Law.

Empat prinsip steno tersebut adalah :

2.1.1 The Principles of Superpositin (Prinsip Superposisi)

Dalam suatu uruan perlapisan, lapisan yang lebih muda adalah lapisan yang
berada diatas lapisan yang lebih tua. pada waktu suatu lapisan terbentuk (saat
terjadinya pengendapan), semua massa yang berada diatasnya adalah fluida, maka
pada saat suatu lapisan yang lebih dulu terbentuk, tidak ada keterdapatan lapisan
diatasnya. Steno, 1669

2.1.2 Principle of Initial Horizontality

Jika lapisan terendapkan secara horizintal dan kemudian terdeformasi


menjadi beragam posisi.Lapisan baik yang berposisi tegak lurus maupun miring
terhadap horizon, pada awalnya paralel terhadap horizon. Steno, 1669

2.1.3 Lateral Continuity

Dimana suatu lapisan dapat diasumsikan terendapkan secara lateral dan


berkelanjutan jauh sebelum akhirnya terbentuk sekarang. Material yang membentuk
suatu perlapisan terbentuk secara menerus pada permukaan bumi walaupun beberapa
material yang padat langsung berhenti pada saat mengalami transportasi. Steno,
1669

2.1.4 Principle of Cross Cutting Relationship

Suatu struktur geologi seperti sesar atau tubuh intruksi yang memotong
perlapisan selalu berumur lebih muda dari batuan yang diterobosnya. Jika suatu
RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN
09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

tubuh atau diskontinuitas memotong perlapisan, tubuh tersebut pasti terbentuk


setelah perlapisan tersebut terbentuk. Steno, 1669

William Smith (1769-1839) seorang peneliti dari inggris. Smith adalah


seorang insinyur yang bekerja disebuah bendungan, ia mengemukakan teori
biostratigrafi dan korelasi stratigrafi. Smith mengungkapkan dengan menganalisa
keterdapatan fosil dalam suatu batuan, maka suatu lapisan yang satu dapat
dikorelasikan dengan lapisan yang lain, yang merupakan satu perlapisan. Dengan
korelasi stratigrafi maka dapat mengetahui sejarah geologinya pula.
Dalam studi hubungan fosil antar perlapisan batuan, ia pun menyimpulkan
suatu hukum yaitu Law of Faunal Succession, pernyataan umum yang
menerangkan bahwa fosil suatu organisme terdapat dalam data rekaman stratigrafi
dan dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui sejarah geologi yang pernah
dilaluinya. Jasanya sebagai pencetus biostratigrafi membuat ia dikenal dengan
sebutan Bapak Stratigrafi.
Ahli stratigrafi lainn seperti DOrbigny dan Albert Oppel juga berperan besar
dalam perkembangan ilmu stratigrafi. DOrbigny mengemukakan suatu perlapisan
secara sistematis mengikuti yang lainnyayang memiliki karakteristik fosil yang sama.
Sedangkan Oppel berjasa dalam mencetuskan konsep Biozone. Biozone adalah
satu unit skala kecil yang mengandung semua lapisan yang diendapkan selama
eksistensi/keberadaan fosil organisme tertentu. Kedua orang nilah yang juga
mencetuskan pembuatan standar kolom stratigrafi.

II.2 Unsur-Unsur Stratigrafi

Didalam penyelidikan stritigrafi ada dua unsur penting pembentuk stratigrafi


yang perlu di ketahui, yaitu:

2.2.1 Unsur batuan

Suatu hal yang penting didalam unsur batuan adalah pengenalan dan pemerian
litologi. Seperti diketahui bahwa volume bumi diisi oleh batuan sedimen 5% dan
batuan non-sedimen 95%. Tetapi dalam penyebaran batuan, batuan sedimen
mencapai 75% dan batuan non-sedimen 25%. Unsur batuan terpenting pembentuk
stratigrafi yaitu sedimen dimana sifat batuan sedimen yang berlapis-lapis memberi

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

arti kronologis dari lapisan yang ada tentang urut-urutan perlapisan ditinjau dari
kejadian dan waktu pengendapannya maupun umur setiap lapisan. Dengan adanya
ciri batuan yang menyusun lapisan batuan sedimen, maka dapat dipermudah
pemeriannya, pengaturannya, hubungan lapisan batuan yang satu dengan yang
lainnya, yang dibatasi oleh penyebaran ciri satuan stratigrafi yang saling berhimpit,
bahkan dapat berpotongan dengan yang lainnya.

2.2.2 Unsur perlapisan

Unsur perlapisan merupakan sifat utama dari batuan sedimen yang


memperlihatkan bidang-bidang sejajar yang diakibatkan oleh proses-proses
sedimetasi. Mengingat bahwa perlapisan batuan sedimen dibentuk oleh suatu proses
pengendapan pada suatu lingkungan pengendapan tertentu, maka Weimer
berpendapat bahwa prinsip penyebaran batuan sedimen tergantung pada proses
pertumbuhaan lateral yang didasarkan pada kenyataan, yaitu bahwa:
1. Akumulasi batuan pada umumnya searah dengan aliran media transport, sehingga
kemiringan endapan mengakibatkan terjadinya perlapisan selang tindih (overlap)
yang dibentuk karena tidak seragamnya massa yang diendapkannya.
2. Endapan di atas suatu sedimen pada umumnya cenderung membentuk sudut
terhadap lapisan sedimentasi di bawahnya.

II.3 Arti Dan Makna Kolom Stratigrafi

Kolom stratigrafi pada hakekatnya adalah kolom yang menggambarkan


susunan berbagai jenis batuan serta hubungan antar batuan atau satuan batuan mulai
dari yang tertua hingga termuda menurut umur geologi, ketebalan setiap satuan
batuan, serta genesa pembentukan batuannya. Pada umumnya banyak cara untuk
menyajikan suatu kolom stratigrafi, namun demikian ada suatu standar umum yang
menjadi acuan bagi kalangan ahli geologi didalam menyajikan kolom stratigrafi.
Penampang kolom stratigrafi biasanya tersusun dari kolom-kolom dengan atribut-
atribut sebagai berikut: Umur, Formasi, Satuan Batuan, Ketebalan, Besar-Butir,
Simbol Litologi, Deskripsi/Pemerian, Fosil Dianostik, dan Linkungan Pengendapan.
Kolom stratigrafi yang diperoleh dari jalur yang diukur siap dijadikan dasar untuk :
2.3.1 Penentuan batas secara tepat dari satuan-satuan stratigrafi formal maupun
informal, yang dalam peta dasar yang dipakai terpetakan atau tidak, sehingga

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

akan meningkatkan ketepatan dari pemetaan geologi yang dilakukan di


tempat dimana dilakukan pengukuran tadi.
2.3.2 Penafsiran lingkungan pengendapan satuan-satuan yang ada di kolom tersebut
serta sejarah geologi sepanjang waktu pembentukan kolom tersebut.
2.3.3 Sarana korelasi dengan kolom-kolom yang diukur di jalur yang lain.
2.3.4 Pembuatan penampang atau profil stratigrafi (stratigraphic section) untuk
wilayah tersebut.
2.3.5 Evaluasi lateral (spatial = ruang) dan vertikal (temporal = waktu) dari seluruh
satuan yang ada ataupun sebagian dari satuan yang terpilih, misalnya saja:
a. lapisan batupasir yang potensial sebagai reservoir.
b. lapisan batubara.
c. lapisan yang kaya akan fosil tertentu.
d. Lapisan bentonit dan lain-lain.
Ada dua metoda yang biasa dilakukan dalam usaha pengukuran jalur
stratigrafi. Metoda tersebut adalah :
1. Metoda rentang tali.
2. Metoda tongkat Jacob (Jacobs staff method).
Metoda rentang tali atau yang dikenal juga sebagai metoda Brunton and tape
(Compton, 1985; Fritz & Moore, 1988):
Dilakukan dengan dasar perentangan tali atau meteran panjang. Semua jarak dan
ketebalan diperoleh berdasar rentangan terbut. Pengukuran dengan metoda ini akan
langsung menghasilkan ketebalan sesungguhnya hanya apabila dipenuhi syarat
sebagai berikut:
1. Arah rentangan tali tegak lurus pada jalur perlapisan.
2. Arah kelerengan dari tebing atau rentangan tali tegak lurus pada arah kemiringan.

II.4 Kondasi Dan Waktu Geologi

Terdapat dua penjelasan yang berbeda tentang stratigrafi, antara lain :


Waktu geologi, dimana meliputi jutaan tahun yang lampau sejak keterbentukan bumi.
Bukti material batuan, mineral dan fosil, untuk kejadian-kejaidan dalam sejarah
bumi. Kejadian-kejadian tersebut digambarkan dalam terminologi waktu dan
penentuan waktu yang berjalan pada setiap material geologi, sehingga kedua

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

penjelasan diatas saling berhubungan. Namun dari pandangan keilmuan yang


objektif kedua konsep tersebut tetap terpisah dan sangat penting keberadaannya.
Waktu Geologi
Alur waktu sejak terbentuknya bumi terbagi menjadi satuan-satuan
geokronologi, yang merupakan pembagian waktu dalam taun atau dalam penamaan
tertentu yang mempresentasikan waktu tertentu.
Hirarki dari waktu geologi telah diterapkan, berikut dari periode terpanjang
sampai terpendek :
Eon, merupakan periode waktu terpanjang, terbagi menjadi 3 eon, yakni
arkeozoikum, proterozoikum, dan fanerozoikum. Era, eon terbagi lagi menjadi
beberapa era, fanerozoikum terbagi menjadi paleozoikum, mesozoikum, dan
kenozoikum. Period, merupakan bagian dari era, contohnya mesozoikum terbagi
menjadi triastik, jura, dan kapur. Epoch, pembagian selanjutnya dari periode,
contohnya yaitu awal kapur, perengahan kapur, dan akhir kapur. Age, merupakan
pembagian akhir yang hanya terdiri dari rentang beberapa juta tahun.

2.4.1 Material Satuan Stratigrafi

Kontras dengan waktu geologi, satuan stratigrafi didasarkan pada kesatuan


materialnya. Ada dua tipe dasar material stratigrafi yang dapat dikenali, antara lain :
(1) lithostratigraphy
Melengkapi pembahasan tentang litostratigrafi sebelumnya, bahwa satuan
litostratigrafi dapat didefinisikan sebagai suatu tubuh batuan yang dapat dibedakan
berdasarkan karakteristik litologi dan posisi stratigrafi relatif terhadap tubuh batuan
lainnya.
(2) Chronostratigraphy
Merupakan suatu tubuh batuan yang batas atas dan bawahnya memiliki
permukaan yang isokron (memiliki kesamaan waktu). Suatu permukaan yang isokron
terbentuk pada waktu yang sama dimanapun.
Satuan kronostratigrafi dibedakan dengan menentukan umur-umur dari
batuan-batuan yang ada baik langsung melalui perhitungan isotop atau dengan
kalibrasi informasi biostratigrafi. Satuan kronostratigrafi merupakan kesatuan fisik
bSukanlah konsep abstrak, yang memiliki persamaan langsung dengan satuan waktu
geologi.

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

II.5 Hubungan Strata

Hubungan Stratum adalah suatu layer batuan yang dibedakan dari strata lain
yang terletak di atas atau dibawahnya. William Smith, Bapak stratigrafi, adalah
orang yang pertama-tama menyadari kebenaan fosil yang terkandung dalam sedimen.
Sejak masa Smith, stratigrafi terutama membahas tentang penggolongan strata
berdasarkan fosil yang ada didalamnya. Penekanan penelitian stratigrafi waktu itu
diletakkan pada konsep waktu sehingga pemelajaran litologi pada waktu itu
dipandang hanya sebagai ilmu pelengkap dalam rangka mencapai suatu tujuan yang
dipandang lebih penting, yakni untuk menggolongan dan menentukan umur batuan.
Pada tahun-tahun berikutnya, pemelajaran minyakbumi secara khusus telah
memberikan konsep yang sedikit berbeda terhadap istilah stratigrafi. Konsep yang
baru itu tidak hanya menekankan masalah penggolongan dan umur, namun juga
litologi. Berikut akan disajikan beberapa contoh yang menggambarkan konsep-
konsep tersebut di atas.
Moore (1941, h. 179) menyatakan bahwa stratigrafi adalah cabang ilmu
geologi yang membahas tentang definisi dan pemerian kelompok-kelompok batuan,
terutama batuan sedimen, serta penafsiran kebenaannya dalam sejarah geologi.
Menurut Schindewolf (1954, h. 24), stratigrafi bukan Schichtbeschreibung,
melainkan sebuah cabang geologi sejarah yang membahas tentang susunan batuan
menurut umurnya serta tentang skala waktu dari berbagai peristiwa geologi
(Schindewolf, 1960, h. 8). Teichert (1958, h. 99) menyajikan sebuah ungkapan yang
lebih kurang sama dalam mendefinisikan stratigrafi sebagai cabang ilmu geologi
yang membahas tentang strata batuan untuk menetapkan urut-urutan kronologinya
serta penyebaran geografisnya. Sebagian besar ahli stratigrafi Perancis juga tidak
terlalu menekankan komposisi batuan sebagai sebuah domain dari stratigrafi (Sigal,
1961, h. 3).
Definisi istilah stratigrafi telah dibahas pada pertemuan International
Geological Congress di Copenhagen pada 1960. Salah satu kelompok, yang sebagian
besar merupakan ahli-ahli geologi perminyakan, tidak menyetujui adanya
pembatasan pengertian dan tujuan stratigrafi seperti yang telah dicontohkan di atas.
Bagi para ahli geologi itu, stratigrafi adalah ilmu yang mempelajari strata dan
berbagai hubungan strata (bukan hanya hubungan umur) serta tujuannya adalah

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan mengenai sejarah geologi yang


terkandung didalamnya, melainkan juga untuk memperoleh jenis-jenis pengetahuan
lain, termasuk didalamnya pengetahuan mengenai nilai ekonomisnya (International
Subcommission on Stratigraphy and Terminology, 1961, h. 9). Konsep stratigrafi
yang luas itu dipertahankan oleh subkomisi tersebut yang, sewaktu memberikan
komentar terhadap berbagai definisi stratigrafi yang ada saat itu, menyatakan bahwa
stratigrafi mencakup asal-usul, komposisi, umur, sejarah, hubungannya dengan
evolusi organik, dan fenomena strata batuan lainnya (International Subcommission
on Stratigraphy and Terminology, 1961, h. 18).
Karena berbagai metoda petrologi, fisika, dan kimia makin lama makin
banyak digunakan untuk mempelajari strata dan makin lama makin menjadi bagian
integral dari penelitian stratigrafi, maka kelihatannya cukup beralasan bagi kita untuk
mengadopsi konsep stratigrafi yang luas sebagaimana yang diyakini oleh subkomisi
tersebut.

II.6 Fasies Sedimenter

Fasies merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi karakteristik


yang khas dilihat dari litologi, struktur sedimen dan struktur biologi memperlihatkan
aspek fasies yang berbeda dari tubuh batuan yang yang ada di bawah, atas dan di
sekelilingnya.
Fasies umumnya dikelompokkan ke dalam facies association dimana fasies-
fasies tersebut berhubungan secara genetis sehingga asosiasi fasies ini memiliki arti
lingkungan. Dalam skala lebih luas asosiasi fasies bisa disebut atau dipandang
sebagai basic architectural element dari suatu lingkungan pengendapan yang khas
sehingga akan memberikan makna bentuk tiga dimensi tubuhnya (Walker dan James,
1992).
Menurut Slley (1985), fasies sedimen adalah suatu satuan batuan yang dapat
dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan yang lain atas dasar geometri, litologi,
struktur sedimen, fosil, dan pola arus purbanya. Fasies sedimen merupakan produk
dari proses pengendapan batuan sedimen di dalam suatu jenis lingkungan
pengendapannya.

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

II.7 Unsur-unsur Kolom Stratigrafi

Kolom stratigrafi, terdiri dari beberapa lajur dan umumnya meliputi kolom
berikut ini yaitu :

2.7.1 Kolom Umur

Kolom ini dimaksudkan untuk memberikan keterangan umur batuan, untuk mengisi
kolom ini biasanya harus dilakukan analisis umur batuan baik berdasarkan fosil maupun
radiometri. Untuk keperluan tersebut, yang standar biasanya dilakukan analisis Paleontologi
untuk itu harus dipilih conto batuan yang mengandung fosil. Sebaiknya penentuan umur
paling tidak dilakukan pada tiga level (bawah, tengah dan atas) dari satuan.

2.7.2 Kolom Satuan Batuan

Kolom ini diisi dengan penamaan resmi (Kelompok, Formasi, Anggota, dll)
ataupun tidak resmi (berdasarkan ciri umumnya) dari satuan yang ada.

2.7.3 Kolom Ketebalan

Diisi berdasarkan data hasil perhitungan ketebalan, untuk menghindari


kekeliruan ploting yang berulang, disarankan untuk mengeplot secara komulatif dari
suatu datum tertentu.

2.7.4 Kolom Besar Butir dan Struktur Sedimen

Diisi berdasarkan hasil deskripsi lapangan mengenai besar butir dan struktur
sedimen, perlu diperhatikan pula letak dan perubahan besar butir dan struktur
sedimen. Gunakan simbol struktur sedimen yang sudah baku.

2.7.5 Simbol Litologi

Simbol litologi digambarkan berdasarkan data litologi yang diamati di


lapangan. Ikutilah simbol-simbol yang sudah baku kalau ada simbol-simbol yang
perlu ditambahkan, misalnya adanya fosil Foram, sisa tumbuhan dan sebagainya
diletakkan pada bagian ini.

2.7.6 Ekspresi Topografi

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

Ide pencantuman ekspresi topografi untuk memberikan gambaran yang


identik antara besar butir yang simetris terhadap ekspresi topografi mirip dengan
bentuk log SP yang biasanya simetris terhadap log Resistivity. Hal ini biasanya
digunakan dalam industri minyak bumi untuk mengetahui geometri batuan reservoir.

2.7.7 Kolom Deskripsi

Kolom deskripsi seyogyanya diberikan sesuai kebutuhan. Hal ini bisa sangat
detail pada masing-masing lapisan yang dianggap penting, namun dapat juga
deskripsi bersifat agak umum yang mewakili ciri satuan batuan (hal ini biasanya
digunakan untuk keperluan pemetaan).

2.7.8 Kandungan Fosil

Kandungan fosil yang dicantumkan pada kolom ini sebaiknya hanya fosil-
fosil yang diagnostik (untuk umur dan lingkungan pengendapan), hal tersebut untuk
memperkuat penafsiran umur dan lingkungan pengendapan.

2.7.9 Lingkungan Pengendapan

Lingkungan pengendapan dapat ditentukan setelah melalui analisis baik yang


berdasarkan urutan vertikal (analisis stratigrafi) atau analisis fosil bentos.

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

Stasiun Slope ( ) Jarak (m) Dip CP


Dari Ke
39 40 35 4
35 39 32 3.9
25 35 32 3.5
20 30 30 3
4 5
18 15 27 1.5
8 70 25 7
3 97 25 9.7
-1 60 25 6
BAB III
PROBLEM SET

III.1 Problem Set

Stasiun
Slope ( ) Jarak (m) Dip CP
Dari Ke
20 50 70 5
12 45 71 4.5
15 60 68 6
1 2
23 60 68 6
30 52 72 5.2
28 62 64 6.2
15 32 60 3.2
37 68 60 6.8
32 80 59 8
2 3 27 56 54 5.6
34 72 55 7.2
5 72 53 7.2
22 61 51 6.1
18 70 50 7
24 56 45 5.6
27 67 45 6.7
34 62 43 6.2
3 4
40 48 40 4.8
40 72 34 7.2
45 64 37 6.4
42 60 37 6

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

Stasiun 1-2
1. t = sin ( + ) x Jl
= sin (70+20) x 50
= 1 x 50
= 50m
= 5cm
2. t = sin ( + ) x Jl
= sin (71+12) x 50

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

= sin (83) x 45
= 44,55m
= 4,45cm
3. t = sin ( + ) x Jl
= sin (68+15) x 60
= sin (83) x 60
= 59,4m
= 5,94cm
4. t = sin (180-( + )) x Jl
= sin (180-(68+23)) x 60
= sin (89) x 60
= 59,99m
= 5,99cm
5. t = sin (180-( + )) x Jl
= sin (180-(72+30)) x 52
= sin (78) x 52
= 50,86m
= 5,08cm
6. t = sin (180-( + )) x Jl
= sin (180-(64+28) x 62
= sin (88) x 62
= 61,96m
= 6,19cm
Stasiun 2-3
1. t = sin ( + ) x Jl
= sin (60+15) x 32
= sin (75) x 32
= 30,90m
= 3,09cm
2. t = sin (180-( + )) x Jl
= sin (180-(60+37) x 68
= sin (83) x 68
= 67,49m
RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN
09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

= 6,74cm
3. t = sin (180-( + )) x Jl
= sin (180-(59+32) x 80
= sin (89) x 80
= 79,98m
= 7,99cm
4. t = sin ( + ) x Jl
= sin (54+27) x 56
= sin (81) x 56
= 55,31m
= 55,31cm
5. t = sin ( + ) x Jl
= sin (55+34) x 72
= sin (89) x 72
= 71,98m
= 7,19cm
6. t = sin ( + ) x Jl
= sin (53+5) x 72
= sin (58) x 72
= 61,05m
= 6,10cm
7. t = sin ( + ) x Jl
= sin (51+22) x 61
= sin (73) x 61
= 58,33m
= 5,83cm
Stasiun 3-4
1. t = sin ( + ) x Jl
= sin (50+18) x 61
= sin (73) x 61
= 64,90m
= 6,49cm
2. t = sin ( + ) x Jl
RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN
09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

= sin (45+24) x 70
= sin (68) x 70
= 52,28m
= 5,22cm
3. t = sin ( + ) x Jl
= sin (45+27) x 67
= sin (72) x 67
= 63,74m
= 6,37cm
4. t = sin ( + ) x Jl
= sin (43+34) x 62
= sin (77) x 62
= 60,41m
= 6,04m
5. t = sin ( + ) x Jl
= sin (40+40) x 48
= sin (80) x 48
= 47,27m
= 4,72cm
6. t = sin ( + ) x Jl
= sin (34+40) x 72
= sin (74) x 72
= 69,21m
= 6,92cm
7. t = sin ( + ) x Jl
= sin (37+45) x 64
= sin (82) x 64
= 63,37m
= 6,33cm
8. t = sin ( + ) x Jl
= sin (37+42) x 60
= sin (79) x 60
= 58,89m
RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN
09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

= 5,88cm
Stasiun 4-5
1. t = sin ( + ) x Jl
= sin (35+39) x 40
= sin (74) x 60
= 38,45m
= 3,84cm
2. t = sin ( + ) x Jl
= sin (32+35) x 39
= sin (67) x 39
= 35,89m
= 3,58cm
3. t = sin ( + ) x Jl
= sin (32+25) x 35
= sin (57) x 35
= 29,35m
= 2,93cm
4. t = sin ( + ) x Jl
= sin (30+20) x 30
= sin (50) x 30
= 22,98m
= 2,29cm
5. t = sin ( + ) x Jl
= sin (27+18) x 15
= sin (45) x 15
= 10,60m
= 1,06cm
6. t = sin ( + ) x Jl
= sin (25+8) x 70
= sin (33) x 70
= 38,12m
= 3,81cm
7. t = sin ( + ) x Jl
RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN
09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

= sin (25+3) x 97
= sin (28) x 97
= 45,53m
= 4,55cm
8. t = sin ( + ) x Jl
= sin (25+(-1)) x 60
= sin (24) x 60
= 24,40m
= 2,44cm

IV.2 Pembahasan

Dari stasiun 1-2 mempunyai 6 titik dimana dari masing-masing titik tersebut
mempunyai kemiringan lereng (), kemiringan perlapisan batuan (), dan jarak
lapangan (Jl) yang berbeda-beda. Dari titik pertama yang mempunyai =70, =20,
dan Jl=50m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
tmenggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 50m dengan
litoligi batuan yaitu Batupasir. Titik kedua yang mempunyai =71, =12, dan
Jl=45m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 44,55m
dengan litologi batuan yaitu Batulanau. Titik ketiga yang mempunyai =68, =15,
dan Jl=60m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 59,4m dengan

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

litoligi batuan yaitu Batugamping. Titik keempat yang mempunyai =68, =23, dan
Jl=60m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 59,99m
dengan litoligi batuan yaitu Konglomerat. Titik kelima yang mempunyai =72,
=30, dan Jl=52m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 50,86m
dengan litoligi batuan yaitu Batubara. Titik keenam yang mempunyai =64, =28,
dan Jl=62m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 61,96m
dengan litoligi batuan yaitu Batuserpih.
Dari stasiun 2-3 mempunyai 7 titik dimana dari masing-masing titik tersebut
mempunyai kemiringan lereng (), kemiringan perlapisan batuan (), dan jarak
lapangan (Jl) yang berbeda-beda. Dari titik pertama yang mempunyai =60, =15,
dan Jl=32m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 30,90m
dengan litoligi batuan yaitu Tuff. Titik kedua yang mempunyai =60, =37, dan
Jl=68m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 67,49m
dengan litoligi batuan yaitu Batupasir. Titik ketiga yang mempunyai =59, =32,
dan Jl=80m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 79,98m
dengan litoligi batuan yaitu Batugamping. Titik keempat yang mempunyai =54,
=27, dan Jl=56m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 55,31m
dengan litoligi batuan yaitu Konglomerat. Titik kelima yang mempunyai =55,
=34, dan Jl=72m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 61,05m
dengan litoligi batuan yaitu Tuff. Titik keenam yang mempunyai =51, =22, dan
Jl=61m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 58,33m
dengan litoligi batuan yaitu Batuserpih. Titik ketujuh yang mempunyai =51, =22,
dan Jl=61m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 58,33m


dengan litoligi batuan yaitu Batulanau.
Dari stasiun 3-4 mempunyai 8 titik dimana dari masing-masing titik tersebut
mempunyai kemiringan lereng (), kemiringan perlapisan batuan (), dan jarak
lapangan (Jl) yang berbeda-beda. Dari titik pertama yang mempunyai =50, =18,
dan Jl=70m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 64,90m
dengan litoligi batuan yaitu Batubara. Titik kedua yang mempunyai =45, =24,
dan Jl=56m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 52,28m
dengan litoligi batuan yaitu Batupasir. Titik ketiga yang mempunyai =45, =27,
dan Jl=67m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 63,72m
dengan litoligi batuan yaitu Konglomerat. Titik keempat yang mempunyai =43,
=34, dan Jl=62m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 60,41m
dengan litoligi batuan yaitu Batugamping. Titik kelima yang mempunyai =40,
=40, dan Jl=48m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 47,27m
dengan litoligi batuan yaitu Tuff. Titik keenam yang mempunyai =34, =40, dan
Jl=72m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 69,21m
dengan litoligi batuan yaitu Batuserpih. Titik ketujuh yang mempunyai =37, =45,
dan Jl=64m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 63,37m
dengan litoligi batuan yaitu Batulanau. Titik kedelapan yang mempunyai =37,
=42, dan Jl=60m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 63,37m
dengan litoligi batuan yaitu Batupasir.
Dari stasiun 4-5 mempunyai 8 titik dimana dari masing-masing titik tersebut
mempunyai kemiringan lereng (), kemiringan perlapisan batuan (), dan jarak
lapangan (Jl) yang berbeda-beda. Dari titik pertama yang mempunyai =35, =39,
dan Jl=40m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN
09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 38,45m


dengan litoligi batuan yaitu Batubara. Titik kedua yang mempunyai =32, =35,
dan Jl=39m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 35,89m
dengan litoligi batuan yaitu Konglomerat. Titik ketiga yang mempunyai =32,
=25, dan Jl=35m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 29,35m
dengan litoligi batuan yaitu Tuff. Titik keempat yang mempunyai =30, =20, dan
Jl=30m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 22,98m
dengan litoligi batuan yaitu Batugamping. Titik kelima yang mempunyai =27,
=18, dan Jl=15m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 10,60m
dengan litoligi batuan yaitu Batuserpih. Titik keenam yang mempunyai =25, =8,
dan Jl=70m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 38,12m
dengan litoligi batuan yaitu Batulanau. Titik ketujuh yang mempunyai =25, =3,
dan Jl=97m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 45,53m
dengan litoligi batuan yaitu Batubara. Titik kedelapan yang mempunyai =25, =-
1, dan Jl=60m. Berdasarkan dari data yang diketahui dan hasil perhitungan yang
menggunakan rumus diperoleh hasil ketebalan perlapisan batuan yaitu 24,40m
dengan litoligi batuan yaitu Batupasir.

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Kolom stratigrafi adalah kolom yang menggambarkan susunan berbagai jenis


batuan serta hubungan antar batuan atau satuan batuan mulai dari yang tertua hingga
termuda menurut umur geologi, ketebalan setiap satuan batuan, serta genesa
pembentukan batuannya. Penampang kolom stratigrafi biasanya tersusun dari kolom-
kolom dengan atribut-atribut sebagai berikut: Umur, Formasi, Satuan Batuan,
Ketebalan, Besar-Butir, Simbol Litologi, Deskripsi/Pemerian, Fosil Dianostik, dan
Linkungan Pengendapan.

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120
PRAKTIKUM STRATIGRAFI
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOLOM STRATIGRAFI

Kolom stratigrafi, terdiri dari beberapa lajur dan umumnya meliputi kolom
berikut ini yaitu kolom umur, kolom satuan batuan, kolom ketebalan, kolom besar
butir dan struktur sedimen, simbol litologi, ekspresi topografi, kolom deskripsi,
kandungan fosil, dan lingkungan pengendapan.

V.2 Saran

Adapun saran yang dapat kami berikan yaitu, apabila dalam memberikan
materi kepada kami saat praktikum berlangsung ada baiknya jika menggunakan LCD
sebagai alat bantu penyajian materi. Agar materi yang disampaikan lebih sistematis
serta lebih mudah dipahami.

DAFTAR PUSTAKA

Harsono Adi.1997. Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log. Jakarta.


Tim Asisten. 2016. Buku penuntun Stratigrafi, Jurusan Teknik Pertambangan,
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Muslim Indonesia, Makassar.
http://download.documents.tips/getdownload/document

RIZKY NURUL AULIA M. REZKY AGUNG SETIAWAN


09320140064
09320130120