Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

STASE ILMU KESEHATAN JIWA

GANGGUAN DEPRESI

Dosen Pembimbing:
dr. Basiran, Sp.KJ

Kelompok D8:

Maya Alvionita G4A015106


Hardina Bawatri G4A015107
M. Rifqie Nugraha Kamal G4A015108
Aditya Utomo G4A015109

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
PROGRAM PROFESI DOKTER

2016
LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT

GANGGUAN DEPRESI

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik


Di bagian SMF Ilmu Kesehatan Jiwa
RSUD Banyumas

Kelompok D8:

Maya Alvionita G4A015106


Hardina Bawatri G4A015107
M. Rifqie Nugraha Kamal G4A015108
Aditya Utomo G4A015109

Telah disetujui,
Pada tanggal: Maret 2016

Pembimbing,

dr. Basiran, Sp.KJ

2
I. PENDAHULUAN

Depresi merupakan masalah kesehatan yang serius. World Health Organization (WHO)
pada tahun 2001 menyatakan bahwa depresi berada pada urutan keempat penyakit yang paling
sering di dunia. Menurut Riskesdas 2013, gangguan emosional seperti cemas dan depresi di
Indonesia yaitu sekitar 6% atau 16 juta orang dari seluruh penduduk Indonesia. Prevalensi pada
wanita diperkirakan 10-25%, dan laki-laki 5-12% (Riskesdas, 2013; Nurmiati, 2005).
Manifestasi gejala depresi muncul dalam keluhan yang berkaitan dengan mood, seperti
sedih, murung, putus asa memudahkan penegakan diagnosis depresi. Namun, keluhan
psikomotor dan somatik, seperti malas bekerja, lamban, lesu, nyeri ulu hati, sakit kepala terus-
menerus terkadang menyulitkan penegakan diagnosis (Nurmiati, 2005).
Depresi dapat menyebabkan penurunan status kesehatan, motivasi, kemampuan
kognitif, dan emosi seseorang. Hal ini menyebabkan seseorang dengan depresi tidak dapat
berfungsi secara efektif sehingga terdapat ketergantungan, kehilangan percaya diri, termasuk
penurunan kemampuan berkomunikasi hingga terjadi gangguan sosial yang dapat
memperburuk kondisi kesehatannya serta kualitas hidup dan produktivitas kerja penderita. Hal
yang paling berbahaya adalah meningkatnya angka kejadian bunuh diri. Menurut data WHO
tahun 2006, angka kejadian kasus bunuh diri yang ditemukan adalah sebesar 15-20%. Sebagian
besar kasus merupakan kasus bunuh diri yang terjadi tidak direncanakan sebelumnya (WHO,
2006).
Hal-hal di atas menunjukkan bahwa gangguan depresi cukup umum dan perlu untuk
ditanggulangi dan dicegah sedini mungkin. Oleh karena itu, sebagai dokter layanan primer
penting untuk mendiagnosis dan memberikan terapi yang tepat pada pasien dengan gangguan
depresi.

3
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Depresi adalah gangguan jiwa umum dengan manifestasi klinis berupa mood depresif,
penurunan minat atau kesenangan, penurunan energi, merasa bersalah atau kurang percaya
diri, gangguan tidur atau nafsu makan, dan penurunan konsentrasi. Biasanya, depresi
muncul bersamaan dengan gejala kecemasan. Efek paling buruk dari depresi adalah ide
bunuh diri (Marcus et al., 2012). Penurunan kognitif, afek, dan psikomotor pada depresi
dapat mempengaruhi pemikiran, perilaku, perasaan, dan fungsi sosial seseorang (Ashwani
& Verma, 2012).
Pada depresi terdapat gejala psikologik dan gejala somatik. Gejala psikologik antara
lain menjadi pendiam, rasa sedih, pesimistik, putus asa, nafsu bekerja dan kurang bergaul,
tidak dapat mengambil keputusan, mudah lupa dan timbul pikiran-pikiran bunuh diri.
Gejala somatik antara lain penderita kelihatan tidak senang, lelah, tidak bersemangat,
apatis, bicara dan gerak geriknya pelan, terdapat anoreksia, insomnia, dan konstipasi
(Blazer, 2003).
Istilah depresi digunakan untuk mendeskripsikan kumpulan gejala dan perilaku
yang dominan muncul. Istilah depresi mencakup ganggan depresif mayor, gangguan
bipolar, gangguan afektif diinduksi zat, dan gangguan afektif akibat keadaan medis umum.
Identifikasi lebih lanjut diperlukan untuk menegakkan diagnosis depresi sesuai dengan
kriteria diagnosis masing-masing, adanya penyalahgunaan zat tertentu, atau adanya kondisi
medis yang menyebabkan gangguan afektif (Tesar, 2010).
B. Epidemiologi
Depresi merupakan diagnosis pasien rawat jalan ketujuh tertinggi di dunia dan nomor
empat penyebab disabilitas. Prevalensi depresi di seluruh dunia berkisar antara 2,2%
sampai 10,4%. Menurut Riskesdas tahun 2013, prevalensi orang di atas 15 tahun dengan
gangguan jiwa ringan atau gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan
depresi yaitu sebesar 6% atau sekitar 16 juta orang dari seluruh penduduk di Indonesia.
(Riskesdas, 2013; Kessler, 2013). Berdasarkan jenis kelamin, wanita lebih banyak
menderita depresi mayor dibandingkan laki-laki dengan perbandingan 2:1. Rata-rata
depresi terjadi pada dekade kedua kehidupan, namun tidak menutup kemungkinan untuk
terjadi pada kelompok umur lain (Kessler, 2013).
Depresi dapat diklasifikasikan menjadi depresi ringan, sedang, dan berat. Gangguan
depresi berat lazim ditemukan dengan prevalensi seumur hidup sebesar 15%. Gangguan

4
depresi berat lebih banyak pada perempuan dengan presentase mencapai 25%. Insiden
gangguan depresi berat yaitu 10% pada pasien yang berobat di fasilitas kesehatan primer
dan 15% di fasilitas rawat inap (Sadock & Virginia, 2004).
C. Etiologi
Gangguan depresi disebabkan oleh banyak faktor, seperti halnya gangguan jiwa lain.
Beberapa etiologi yang memungkinkan terjadinya depresi adalah sebagai berikut:
1. Faktor Organobiologi
Dilaporkan terdapat kelainan atau disregulasi metabolit amin biogenik seperti
5-hydroxyindoleatic (5-HLAA), asam homovanilic (HVA), dan 3-methoxy-4-
hydroxyphenyl-glycol (MHPG) di dalam darah, urin, dan cairan serebropinal pada
pasien gangguan afektif (Ismail & Siste, 2014).
a. Amin Biogenik
Norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmiter yang paling
berperan dalam pasien gangguan afektif.
b. Norepinefrin
Penurunan regulasi reseptor beta adrenergik dan respon klinis antidepresi
mungkin merupakan peran langsung sistem adrenergik pada gangguan depresi.
Sebagai contoh aktifnya reseptor tersebut mengakibatkan penurunan jumlah
pelepasan norepinefrin dan reseptor ini pula terletak pada neuron serotonergik yang
mengatur pelepasan jumlah serotonin.
c. Dopamin
Terdapat dua teori terbaru yaitu jalur dopamin mesolimbik yang mengalami
disfungsi atau reseptor dopamin D1 yang hipoaktif menimbulkan gejala depresi.
d. Serotonin
Aktivitas serotonin bertanggung jawab untuk kontrol afek, agresi, tidur, dan
nafsu makan.
2. Faktor Genetik
Faktor ini merupakan faktor yang berperan dalam perkembangan, namun jalur
penurunan sangat kompleks. Penelitian dalam keluarga didapatkan hasil bahwa
generasi pertama memiliki kemungkinan 2 sampai 10 kali lebih sering mengalami
depresi berat. Pada penelitian lain didapatkan 2 dari 3 studi gangguan depresi berat
diturunkan secara biologis meskipun anak tersebut diadopsi keluarga lain. Penelitian
pada anak kembar monozigot didapatkan 53-69% sedangkan anak kembar dizigot
didapatkan 13-28% mengalami depresi berat (Ismail & Siste, 2014).

5
3. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan yang membuat seseorang tertekan akan menyebabkan
terjadinya stres. Teori mengemukakan bahwa bila seseorang mengalami stres sebelum
timbul episode pertama maka terjadi perubahan neurotransmiter, sistem sinyal
intraneuron seperti penurunan kontak sinaps dan hilangnya beberapa neuron sehingga
mengakibatkan gangguan episode berulang. Faktor lain yang berkaitan dengan stresor
lingkungan adalah kehilangan orangtua sebelum usia 11 tahun, pasangan, dan pekerjaan
dapat mengakibatkan seseorang memiliki risiko depresi 2 sampai 3 kali lebih besar
(Ismail & Siste, 2014).
4. Faktor Kepribadian
Semua tipe kepribadian dapat mengalami depresi sesuai dengan situasinya.
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, histrionik, dan ambang berisiko tinggi
dibandingkan kepribadian paranoid, dan antisosial. Riset menunjukkan pasien yang
mengalami stresor dengan kepribadian tidak percaya diri lebih sering mengalami
depresi (Ismail & Siste, 2014).
5. Faktor Psikodinamik
Terdapat beberapa teori yang telah dikemukakan antara lain;
a. Sigmund Freud dan Karl Abraham
Terdapat 4 hal utama yaitu: (1) gangguan hubungan ibu-anak fase oral (10-18
bulan) menjadi faktor predisposisi episode depresi berulang; (2) depresi dapat
dihubungkan dengan cinta yang nyata maupun fantasi kehilangan objek; (3)
intropeksi merupakan mekanisme pertahanan atas kehilangan objek yang dicintai;
(4) Kehilangan cinta dapat diekspresikan campuran antara benci dan cinta, serta
perasaan marah pada diri sendiri.
b. Heinz Kohut
Depresi dikonseptualisasikan bermula dari teori self-phychology bahwa
perkembangan jiwa anak harus dipenuhi kedua orang tua dengan memberikan rasa
percaya diri, rasa positif, dan self-cohesion.
c. John Bowlby
Rusaknya keeratan hubungan awal dan trauma akibat perpisahan pada anak
merupakan faktor predisposisi depresi sedangkan kehilangan pada dewasa
memudahkan seseorang terkena depresi pada masa dewasa.

6
6. Lain
Terdapat beberapa jenis obat yang dapat memicu terjadi gangguan depresi yaitu
(Muchid dkk, 2007):
a. Obat kardiovaskular : -blocker, klonidin, metildopa
b. Obat sistem saraf pusat : barbiturat, benzodiazepin, fenitoin
c. Obat hormonal : estrogen, progestin, tamoxifen
d. Lain : indometasin, narkotika
D. Gambaran Klinis
Menurut National Institute of Mental Health (2015), terdapat beberapa gejala yang
terjadi pada pasien depresi. Gejala klinis depresi terjadi selama minimal dua minggu
dengan gejala seperti berikut:
a. Rasa sedih yang persisten, gelisah, atau pikiran kosong
b. Merasa putus asa
c. Perasaan bersalah, merasa diri tidak berguna
d. Iritabilitas, cepat marah, gelisah
e. Hilang minat beraktifitas, termasuk aktivitas seksual
f. Lelah dan penat
g. Masalah konsentrasi, mengingat sesuatu dan membuat keputusan
h. Insomnia atau tidur berlebihan
i. Ide atau pernah mencoba bunuh diri
j. Sakit kepala, kejang, atau masalah pencernaan yang persisten dan tidak sembuh
dengan pengobatan
E. Penegakan Diagnosis
Menurut PPDGJ-III, depresi dimasukan ke dalam gangguan suasana perasaan
(mood/afektif) yang diberi kode diagnosis F32. Depresi dapat diklasifikasikan menjadi
depresi ringan, sedang, dan berat dengan atau tanpa ciri psikotik. Kriteria diagnosis depresi
mengacu pada gejala utama dan gejala tambahan, serta berdasarkan onset penyakit.
Kriteria diagnosis depresi adalah sebagai berikut (Maslim, 2003):
1. Gejala utama
a. Afek depresif
b. Kehilangan minat dan kegembiraan
c. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah
yang nyata sesudah bekerja meskipun bekerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas.

7
2. Gejala tambahan
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
e. Gagasan atau perbuatan yang membahayakan diri sendiri atau bunuh diri
f. Tidur terganggu
g. Nafsu makan berkurang
3. Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan diperlukan masa sekurang-
kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek
dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
4. Kategori diagnosis depresi ringan (F.32.0), sedang (F.32.1), dan berat (F.32.2) hanya
digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif berikutnya
harus diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis gangguan depresi berulang
(F.33.-).

Selain itu, pedoman diagnostik untuk masing-masing kategori depresi adalah


sebagai berikut:

1. Episode depresi ringan (F.32.0)


a. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti tersebut di
atas
b. Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala tambahan
c. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya
d. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
e. Hanya sedikit kesulitan dari pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukan.
2. Episode depresi sedang (F.33.1)
a. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti tersebut di
atas
b. Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala tambahan
c. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya
d. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
e. Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan
urusan rumah tangga.

8
3. Episode depresi berat tanpa gejala psikotik (F.32.2)
a. Tiga gejala utama depresi harus ada
b. Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala tambahan, dan beberapa diantaranya
harus berintensitas berat.
c. Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan
banyak gejalanya secara rinci.
d. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu,
akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih
dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2
minggu.
e. Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
4. Episode depresi berat dengan gejala psikotik (F.32.3)
a. Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut F.32.2 tersebut di atas
b. Disertai waham, halusinasi, atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide
tentang dosa, kemiskinan, atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa
bertanggung jawab akan hal itu. Halusinasi auditorik biasanya berupa suara yang
menghina atau menuduh. Halusinasi olfaktorik biasanya berupa bau kotoran atau
daging membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
c. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi afek atau
tidak serasi afek (mood congruent).
Kriteria lain untuk menentukan diagnosis depresi berat yaitu berdasarkan kriteria
DSM-IV-TR, yaitu sebagai berikut (Sadock & Virginia, 2004):
1. Lima atau lebih gejala di bawah telah ada selama periode waktu 2 minggu dan
menunjukkan perubahan fungsi sebelumnya serta setidaknya satu gejalanya diantara
mood menurun atau kehilangan minat atau kesenangan.
a. Mood menurun hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti yang
ditunjukkan baik melalui laporan subjektif (contohnya perasaan sedih atau
kosong) atau pengamatan orang lain (contohnya tampak bersedih)
b. Menurunnya minat atau kesenangan yang nyata pada semua, atau hampir semua
aktivitas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari (seperti yang ditunjukkan
laporan subjektif atau pengamatan orang lain).

9
c. Penurunan berat badan yang bermakna walaupun tidak diet atau berat badan
bertambah (contohnya perubahan lebih dari 5% berat badan dalam sebulan), atau
menurun mauun meningkatnya nafsu makan hampir setiap hari.
d. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari.
e. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati orang lain,
tidak hanya perasaan subjektif adanya kegelisahan atau menjadi lebih lamban).
f. Lelah atau hilang energi hampir setiap hari
g. Perasaan tidak berarti atau bersalah yang tidak sesuai atau berlebihan (yang dapat
menyerupai waham) hampir setiap hari (tidak hanya menyalahkan diri atau rasa
bersalah karena sakit)
h. Menurunnya kemampuan berpikir atau berkonsentrasi, atau keragu-raguan
hampir setiap hari (baik laporan subjektif atau diamati orang lain)
i. Pikiran berulang mengenai kematian (bukan hanya rasa takut mati), gagasan
bunuh diri berulang tanpa suatu rencana yang spesifik, atau upaya bunuh diri atau
suatu rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri.
2. Gejala tidak memenuhi kriteria episode campuran
3. Gejala menyebabkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau hendaya dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi yang lain.
4. Gejala tidak disebabkan pengaruh fisiologis langsung zat (misalnya penyalahgunaan
obat atau dalam proses pengobatan) atau kondisi medis umum (misalnya
hipotiroidisme).
5. Gejala sebaiknya tidak disebabkan karena berkabung, setelah kehilangan orang yang
dicintai, gejala bertahan hingga lebih lama 2 bulan, atau ditandai hendaya fungsi yang
nyata, preokupasi patologis mengenai ketidakberartian, gagasan bunuh diri, gejala
psikotik, atau retardasi psikomotor.
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan tambahan dalam penegakkan diagnosis depresi dapat menggunakan
algoritma MINI (Mini International Neuropsychiatric Interview). Alat ini merupakan
rangkaian pertanyaan yang harus dijawab pasien dengan jawaban ya tau tidak. MINI untuk
gangguan depresi dibuat oleh Lecrubier dan Sheehan pada tahun 1998 dan dialihkan
bahasakan oleh Yayasan Depresi Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik (Muchid dkk, 2007).

10
G. Diferensial Diagnosis
1. Distimia
Gangguan distimik merupakan gangguan jiwa dengan ciri khas perasaan yang
tidak adekuat, bersalah, iritabilitas, kemarahan, penarikan diri dari masyarakat, hilang
minat, serta inaktivitas dan tidak produktif. Menurut DSM-IV-TR, adanya gejala-
gejala tersebut minimal dua tahun (satu tahun untuk anak dan remaja) serta tidak
pernah memiliki episode depresif berat, manik, atau hipomanik. Gambaran distimik
sering bertumpang tindih dengan depresi berat. Pada gangguan distimik, gejala
subjektif lebih dominan daripada gejala objektif. Gejala seperti inersia, letargi, dan
anhedonia sering terlihat pada pagi hari, dan sebaliknya, gejala seperti agitasi,
ganggan nafsu makan dan libido, serta retardasi psikomotor kurang nampak pada
gangguan distimik (Sadock & Virginia, 2004).
2. Gangguan Campuran Cemas dan Depresi
Gangguan ini menggambarkan pasien dengan gejala ansietas dan depresi yang
tidak memenuhi kriteria diagnosis gangguan ansietas atau gangguan afektif.
Kombinasi gejala depresi dan ansietas, terutama gejala somatik, seperti tremor,
palpitasi, mulut kering, dan rasa perut yang bergejolak sering tidak didiagnosis dengan
gangguan ini. Gangguan ini dapat menimbulkan hendaya fungsional yang bermakna,
sehingga gangguan ini lazim ditemukan di pelayanan primer dan klinik kesehatan jiwa
rawat jalan (Sadock & Virginia, 2004).
H. Penatalaksanaan
1. Terapi Farmakologi
a. Golongan trisiklik (Maramis, 2009)
Golongan trisiklik bekerja dengan cara memblok reuptake serotonin dan
norepinefrin, sehingga kadar serotonin dan norepinefrin di dalam otak meningkat.
Contoh obat dari golongan ini adalah amitriptilin, imipramin, klomipramin,
maprotlin dan amoksapin.
b. Golongan inhibitor monoaminoksidase (MAOI)
Golongan MAOI bekerja dengan cara mencegah oksidase monoamin yang
berperan dalam oksidasi norepinefrin. Contoh obat dari golongan ini adalah
moklobemid.
c. Golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)
Golongan SSRI bekerja dengan menghambat reuptake serotonin sehingga
jumlah serotonin dalam otak meningkat. SSRI merupakan golongan obat yang

11
paling sering digunakan dalam terapi karena efek samping yang lebih ringan
daripada golongan MAOI atau Trisiklik. Contoh obat dari golongan ini adalah
flouxetin, setralin, paroxetine, dan sitalopram.

Dalam penggunaan obat antidepresan, perlu diketahui efek samping obat yang
mempengaruhi beberapa sistem organ, yaitu (Maramis, 2009):

a. Efek kolinergik, seperi mulut kering, mata kabur angguan akomodasi,


meningkatnya tekanan intraokuler, konstipasi, hipotensi postural, retensi urin,
berkeringat, dan ileus
b. Efek susunan saraf pusat, seperti pusing, lelah, bingung, tremor, disartria,
insomnia, kejang, mendadak jatuh, dan eksaserbasi gejala psikotik
c. Kardiovaskuler, seperti hipotensi, sinus takikardi, aritmia, dan konduksi
atrioventrikuler terganggu
d. Hematologis, seperti depresi sumsum tulang, leukopenia, agranulositosis,
purpura, trombositopenia, anemina hemolitik, dan hiponatremia
e. Lain-lain, seperti hipotermia, hipertermia, gangguan pernapasan, gangguan
libido, exantema, tinitus,keluhan gastrointestinal, gangguan hepar, dan berat
badan bertambah.
2. Perawatan di rumah sakit, bila (Tomb, 2004):
a. Terapat disabilitas dalam melakukan kegiatan akibat depresi
b. Lingkungan keluarga kurang mendukung dalam roses penembuhan pasien
c. Mempunyai risiko bunuh diri
d. Mempunyai riwayat penyakit lain yang perlu ditangani oleh tenaga kesehatan
3. Terapi psikologis (Tomb, 2004)
a. Terapi suportif
Pada terapi suportif, pasien diberikan kehangatan, empati, perhatian, dan
optimistik. Selain itu, pasien dibantu dalam mencari masalah yang membuat
pasien merasa depresi, kemudian dibantu dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Identifikasi faktor pencetus dan bantu pasien dalam mengkoreksinya. Jika
terdapat masalah eksternal seperti pekerjaan, bantu dalam menyelesaikan
masalahnya.
b. Terapi kognitif perilaku
Terapi kognitif perilaku diberikan pada pasien depresi ringan ataupun sedang.
Terapi ini memberikan pasien latihan keterampilan dan berbagi pengalaman-

12
pengalaman sukses. Pasien juga dilatih untuk mengenal dan menghilangkan
pikiran negatif, sehingga mencegah kambuhnya kembali depresi tersebut.
4. Terapi kejang listrik
Terapi kejang listrik diberikan sebagai terapi pasien depresi jika (Tomb, 2004):
a. Pasien masih belum sembuh setelah pengobatan selama 6 minggu atau lebih
b. Kondisi pasien menuntut untuk remisi segera, seperti adanya keinginan untuk
bunuh diri
c. Depresi dengan gejala psikotik
d. Pasien yang tidak toleransi terhadap obat, seperti pasien dengan usia tua yang
mempunya penyakit jantung.
I. Pencegahan
Menurut Mrazek dan Haggerty dalam penelitian Barrera et al (2010) pencegahan
terbagi atas 3 sublevel yaitu:
1. Pencegahan universal ditargetkan kepada seluruh komunitas, seperti edukasi dengan
kampanye kesehatan tanpa melihat faktor risiko seseorang.
2. Pencegahan selektif ditargetkan kepada komunitas yang memiliki faktor risiko
berdasarkan karakteristik demografi.
3. Pencegahan sesuai indikasi ditargetkan kepada seseorang yang memiliki tanda atau
gejala klinis awal (subsindromal).
Menurut Bennet et al (2014) bentuk pencegahan dapat dikategorikan menjadi 3
bagian; (1) primer yaitu mencegah kejadian gangguan jiwa pada suasana yang sebenarnya
tidak memiliki risiko terjadinya depresi; (2) sekunder yaitu deteksi dengan menggunakan
instrumen sesusai usia dan pengobatan dini pada pasien depresi; (3) tersier yaitu
meminimalisir disabilitas akibat gangguan depresi.
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah teknik pengobatan dan pencegahan
terhadap beberapa gangguan jiwa seperti depresi (Ambarwati, 2009). Banyak penelitian
dengan metode CBT yang berbeda dalam mencegah gangguan depresi pada remaja akan
tetapi penelitian Clarke et al dalam Barrera et al (2010) menunjukkan hasil penelitian yang
terbaik dengan metode 15 kali sesi CBT dengan pertemuan keluarga sebanyak 3 kali
dibandingkan pengobatan biasa. Pencegahan gangguan depresi pada dewasa yang
dilakukan Munoz dan Ying dalam Barrera et al (2010) dengan metode CBT sebanyak 8
kali dalam grup kecil untuk melihat faktor risiko berupa onset, jenis kelamin, perceraian,
sosioekonomi rendah, dan etnis. Pencegahan gangguan depresi pasca persalinan
menggunakan skoring Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dengan beberapa

13
variasi frekuensi masih belum ditemukan berapa kali pertemuan dan kapan waktu
intervensi yang terbaik (Barrera et al., 2010).
Penelitian Paykel dalam Barrera et al (2010) menunjukkan pasien akut (episode
pertama) yang menerima cognitive therapy (CT) sebanyak 16 sesi dengan 6 dan 14 minggu
setelah pertemuan terakhir sebagai tambahan memiliki angka kejadian (29%) relaps setelah
48 minggu terapi terakhir dilakukan dibandingkan pasien yang menerima pengobatan saja.
J. Prognosis
Pada pemberian terapi yang sesuai, gejala depresi pada pasien dapat menurun 70-80%,
meskipun sekitar 50% penderita tidak memberikan respon dalam permulaan terapi. Dua
puluh persen pasien depresi yang tidak diobati selama setahun akan memiliki gejala yang
dapat menjadi dasar penegakan diagnosis depresi atau empat puluh persen diantaranya
mengalami remisi parsial. Remisi parsial atau riwayat depresi sebelumnya meningkatkan
risiko adanya gangguan depresi berulang dan resistensi pengobatan (Halverson, 2016).

14
III. KESIMPULAN

1. Depresi adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan penurunan kognitif, afek, dan
psikomotor yang mempengaruhi fungsi sosialnya. Depresi dapat dibagi menjadi depresi
ringan, sedang, dan berat dengan pemenuhan masing-masing kriteria diagnosis.
2. Depresi banyak terjadi di dunia dengan prevalensi wanita dan usia dua puluh-an akibat
etiologi multifaktorial yang mendasarinya.
3. Terapi yang digunakan adalah obat antidepresan, perawatan rumah sakit bila perlu,
terapi suportif, terapi kognitif perilaku, dan terapi kejang listrik bila perli.
4. Gangguan depresi lebih baik dicegah dengan skrining gangguan depresi menggunakan
berbagai jenis kuesioner karena pasien dengan depresi gejalanya tidak akan
menghilang.

15
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, WN. 2009. Keefektivan Cognitive Behaviour Therapy (CBT) Sebagai Terapi
Tambahan Pasien Skizofrenia Kronis di Panti Rehabilitasi Budi Makati Boyolali.
Surakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Ashwani, Arya & Verma Preeti. 2012. A Review on Pathophysiology, Classification, and Long
Term Course of Depression. International Jurnal of Pharmacy 3(3): 90-96

Barrera, AZ., Torres, LD., Munoz, RF. 2007. Prevention of Depression: The State of The
Science at The Beginning of The 21th Century. Inter Review of Psyc, 19(6): 655670.
Maramis, Willy Ffaf. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2. Jakarta:EGC

Bennet, C., Jones, RB., Smith, D. 2014. Prevention Strategies For Adolescent Depression. Adv
in Pysc Treatment 20:116-124.

Blazer, D.G. 2003. Depression in Late Life: Review and commentary. J Gerontology Med Sci
58A(3): 249-265

Halverson, Jerry L. 2016. Depression. Available at:


http://emedicine.medscape.com/article/286759-overview#a6 (diakses pada 13 Maret
2016)

Ismal, RI & Siste, K. 2014. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.

Kessler, RC. 2013. The Epidemiology of Depression Across Cultures. Journal of National
Institute of Health 34: 119-138

Marcus, Marina, M. Taghi Yasamy, Mark van Ommeren, Dan Chisholm, Shekhar Saxena.
2012. Depression: A Global Public Health Concern. Available at:
http://www.who.int/mental_health/management/depression/who_paper_depression_wf
mh_2012.pdf (diakses pada 12 Maret 2016)

Maslim, R. 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.
Jakarta : Bagian Ilmu Jiwa FK Unika AtmaJaya.

Muchid, A., Chusun, Wurjati, R., Komar, Z., Istiqomah, SN., Purnama, NR., Rostilawati., dkk.
2007. Pharmaceutical Care Unit Penderita Gangguan Depresi. Jakarta : Direktorat
Bina Farmasi Komunitas dan Klinis.

National Institute of Mental Health. 2015. Depression: What You Need To Know. Available
at: http://www.nimh.nih.gov/health/publications/depression-what-you-need-to-know-
12-2015/index.shtml (diakses pada 13 Maret 2016)

16
Nurmiati, A. 2005. Depresi : Aspek Neurobiologi, Diagnosis, dan Tatalaksana. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.

Riskesdas. 2013. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.

Sadock, Benjamin J. & Virginia A. Sadock. 2004. Kaplan dan Sadock Buku Ajar Psikiatri
Klinis. Jakarta : EGC

Tesar, George E. 2010. Recognition and Treatment of Depression. Available at:


http://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/psychiatry-
psychology/recognition-treatment-of-depression/#bib3 (diakses pada 12 Maret 2016)

17