Anda di halaman 1dari 43

http://ariputuamijaya.wordpress.

com/2011/12/10/nama-
obat-golongan-indikasi-aplikasi-keterangan/
DIETILCARBAMAZIN CITRAT (DEC)
NAMA GENERIK
Dietilcarbamazin citrat (DEC)

NAMA KIMIA
Dietilcarbamazin citrat

STRUKTUR KIMIA
C10H21N3OC6H8O7

GB STRUKTUR KIMIA
242

SIFAT FISIKOKIMIA
Serbuk berwarna putih, kristal, yang sedikit higroskopis, tidak berbau atau berbau sedikit
sekali. Mudah larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol, praktis tidak larut dalam aseton,
dalam kloroform, dan eter. Simpan dalam wadah yang tertutup.

SUB KELAS TERAPI


antelmintik

KELAS TERAPI
Antiinfeksi

DOSIS PEMBERIAN OBAT


Pengobatan filariasis : dosis DEC yang direkomendasikan adalah 6mg/kg perhari yang
terbagi menjadi 3 dosis selama 3 minggu, dosis inisial yang diberikan adalah 1 mg/kg perhari,
yang menaik secara bertahap hingga 6mg/kg perhari selama 3 hari yang dipertahankan
selama 3 minggu untuk mengurangi reaksi hipersensitivitas yang terjadi karena destruksi dari
mikrofilaria. Dosis DEC yang disarankan oleh WHO untuk filariasis yang disebabkan oleh
Wuchereria bancrofti adalah 6mg/kg perhari dalam dosis terbagi selama 12 hari, untuk filaria
yang disebabkan oleh Brugia malayi, atau Brugia timori adalah 3-6 mg/kg perhari dalam
dosis terbagi selama 6 hingga 12 hari. ;Pada pengobatan loiasis WHO menyarankan
pemberian DEC dengan dosis 1 mg/kg sebagai dosis tunggal inisial, dinaikkan menjadi dua
kali lipatnya pada dua hari suksesif dan diatur menjadi 2-3 mg/kg tiga kali sehari selama 18
hari. Dosis yang sama digunakan untuk pengobatan toxocariasis yang diberikan selama 3
minggu. untuk profilaksis loiasis, WHO menganjurkan DEC dengan dosis 300 mg
perminggu.

FARMAKOLOGI
DEC diabsorbsi melalui jalur sistem pencernaan dan juga melalui kulit dan konjungtiva.
Kadar puncak pada plasma terjadi dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian oral dosis tunggal,
dan waktu paruh terjadi dari 2-10 jam tergantung pada urin pH. DEC terdistribusi secara luas
dan diekskresikan di urin dalam bentuk tak berubah dan juga dalam bentuk metabolit N-
oksid. ;PH urin berpengaruh terhadap ekskresi DEC dalam urin dan juga dalam waktu paruh
DEC dalam plasma. sekitar 5% dari dosis yang digunakan akan tereliminasi pada feses.

KONTRA INDIKASI
Hipersensitivitas terhadap DEC. Penggunaan DEC pada populasi kemoterapi harus dihindari
di area dimana terjadi endemik onchocerciasis atau loiasis, meskipun obat ini dapat
digunakan untuk melindungi wisatawan asing.1,4

EFEK SAMPING
Efek samping yang umum terjadi setelah penggunaan DEC adalah mual dan muntah. Sakit
kepala, pusing dan rasa mengantuk juga dapat terjadi. Reaksi hipersensitivitas terjadi
dikarenakan kematian dari mikrofilaria dalam tubuh, ini dapat menjadi fatal terutama pada
onchocerciasis dimana dapat terjadi pula toksisitas okular. Reaksi yang terjadi dalam
penggunaan DEC untuk pengobatan filariasis limfatik dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu
respons farmakologi yang tergantung dosis (reaksi yang terjadi adalah lesu, pusing,
anoreksia, dan mual, ini berlangsung sekitar 1-2 jam setelah pemakaian DEC dan terjadi
selama beberapa jam), dan respons dari tubuh inang terhadap penghancuran dan kematian
parasit (reaksi ini jarang terjadi, dan untuk tipe brugian filariasis umumnya terjadi lebih parah
dibanding tipe bancroftian, reaksi yang terjadi dapat sistemik, atau lokal, dengan atau tanpa
demam). ;Reaksi sistemik dapat terjadi beberapa jam setelah penggunaan oral dosis pertama
dan umumnya terjadi tidak lebih dari 3 hari. Reaksi yang terjadi termasuk sakit kepala, nyeri
di beberapa bagian tubuh, nyeri sendi, pusing, anoreksia, malaise, hematuria ringan, reaksi
alergi, muntah, dan terkadang serangan asma pada pasien yang mengidap asma. reaksi
sistemik dan demam yang terjadi dikarenakan oleh mikrofilaria. Reaksi sistemik akan
berkurang jika dosis DEC yang digunakan dikurangi. Reaksi lokal terjadi setelah penggunaan
DEC yang cukup lama dan dapat menghilang tiba-tiba. Reaksi yang terjadi adalah
limfadenitis, abses, nyeri ulcer, limfoedema ringan dan funiculitis dan epididimitis juga dapat
terjadi dalam filariasis bancroftian.

INTERAKSI MAKANAN
tidak ada data

INTERAKSI OBAT
Senyawa atau obat yang dapat membasakan urin dapat menyebabkan jumlah DEC yang
dieksresikan dalam urin berkurang. Sementara senyawa yang mengasamkan urin
menyebabkan bertambahnya DEC yang diekskresikan dalam urin.

PENGARUH ANAK
Tidak ada data

PENGARUH HASIL LAB


Tidak ada data

PENGARUH KEHAMILAN
Wanita hamil umumnya tidak dianjurkan menggunakan obat ini.

PENGARUH MENYUSUI
Tidak ada data
PARAMETER MONITORING
Reaksi hipersensitivitas terutama pada pasien onchocerciasis atau loiasis dan perubahan mata
bagi pasien onchocerciasis.

BENTUK SEDIAAN
Tablet 100 mg.

PERINGATAN
Pasien dengan infeksi loiasis yang parah memiliki resiko terjadinya ensefalopati, jika telah
terdapat sinyal terjadinya keterkaitan cerebral maka penggunaan DEC harus dihentikan.
Wanita hamil, bayi, orang tua, dan pasien yang memiliki kelainan jantung atau ginjal
biasanya tidak diperbolehkan untuk menggunakan DEC dalam pengobatan yang terjadwal
dalam jangka waktu tertentu.penggunaan glukokortikoid dan antihistamin sebelum
pengobatan dapat dilakukan untuk meminimalisir reaksi langsung pada DEC yang
disebabkan oleh mikrofilaria yang mati. Dosis perlu dikurangi untuk pasien dengan gangguan
fungsi ginjal atau pasien dengan urin yang bersifat basa.4

MEKANISME AKSI
Mekanisme pasti dari DEC ini belum dapat diketahui dengan pasti, namun obat ini dapat
berefek langsung pada mikrofilaria W.bancrofti menyebabkan kerusakan organel dan
apoptosis. Mekanisme aksi dari DEC terhadap cacing dewasa pun belum dapat dipahami,
namun beberapa studi menyatakan bahwa DEC mengganggu pross intraselular dan transport
molekul-molekul tertentu menuju plasma membran. DEC juga dapat mempengaruhi respon
imun spesifik dan respon inflamasi dari sistem inang dengan mekanisme yang belum
diketahui. 4

Albendazole
Rating: . Direkomendasikan oleh 14 pembaca. Beri rekomendasi:

Indikasi:
Albendazol berkhasiat membasmi cacing di usus yang hidup sebagai parasit tunggal atau
majemuk.
Albendazol efektif untuk pengobatan cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk
(Trichuris trichiura), cacing kremi (Enterobius vermicularis), cacing tambang (Ancylostoma
duodenale dan Necator americanus), cacing pita (Taenia sp.) dan Strongyloides stercoralis.

Kontra Indikasi:
Albendazol menunjukkan sifat teratogenik embriotoksis pada percobaan dengan hewan.
Karena itu obat ini tidak boleh diberikan pada wanita yang sedang mengandung. Pada wanita
dengan usia kehamilan masih dapat terjadi (15 40 tahun), albendazol dapat diberikan hanya
dalam waktu 7 hari dihitung mulai dari hari pertama haid.
Komposisi:
Tiap tablet kunyah mengandung albendazol 400 mg.

Cara Kerja:
Hasil percobaan preklinis dan klinis menunjukkan bahwa albendazol mempunyai khasiat
membunuh cacing, menghancurkan telur dan larva cacing. Efek antelmintik albendazol
dengan jalan menghambat pengambilan glukosa oleh cacing sehingga produksi ATP sebagai
sumber energi untuk mempertahankan hidup cacing berkurang, hal ini mengakibatkan
kematian cacing karena kurangnya energi untuk mempertahankan hidup.

Dosis:
Dosis umum untuk dewasa dan anak di atas 2 tahun :
400 mg sehari, diberikan sekaligus sebagai dosis tunggal. Tablet dapat dikunyah, ditelan atau
digerus lalu dicampur dengan makanan.

Pada kasus dimana diduga atau terbukti adanya penyakit cacing pita atau Strongyloides
stercoralis, dosis 400 mg albendazol setiap hari diberikan selama tiga hari berturut-turut.

Efek samping:
Perasaan kurang nyaman pada saluran pencernaan dan sakit kepala pernah terjadi pada
sejumlah kecil penderita, tetapi tidak dapat dibuktikan bahwa efek samping ini ada
hubungannya dengan pengobatan.

Juga dapat terjadi gatal-gatal dan mulut kering.

Perhatian:
Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan hati.
Jangan diberikan pada ibu menyusui.
Sebaiknya tidak diberikan pada anak-anak di bawah umur 2 tahun.

Cara Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering.

Kemasan:
Albendazole 400 mg, kotak 5 blister @ 6 tablet kunyah

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Jenis: Tablet
Antelmintika atau obat cacing (Yunani anti = lawan, helmintes = cacing) adalah obat

yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Dalam istilah ini

termasuk semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun obat-

obat sistemik yang membasmi cacing serta larvanya, yang menghinggapi organ dan

jaringan tubuh (Tjay, 2007)

Kebanyakan antelmintik efektif terhadap satu macam cacing, sehingga diperlukan

diagnosis tepat sebelum menggunakan obat tertentu. Kebanyakan antelmintik diberikan

secara oral, pada saat makan atau sesudah makan. Beberapa senyawa antelmintik yang

lama, sudah tergeser oleh obat baru seperti Mebendazole, Piperazin, Levamisol,

Albendazole, Tiabendazole, dan sebagainya. Karena obat tersebut kurang dimanfaatkan.

(Gunawan, 2009)

Infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang paling umum tersebar dan

menjangkiti lebih dari 2 miliar manusia diseluruh dunia. Walaupun tersedia obat-obat baru

yang lebih spesifik dangan kerja lebih efektif, pembasmian penyakit ini masih tetap

merupakan salah satu masalah antara lain disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi di

beberapa bagian dunia. Jumlah manusia yang dihinggapinya juga semakin bertambah

akibat migrasi, lalu-lintas dan kepariwisataan udara dapat menyebabkan perluasan

kemungkinan infeksi. (Tjay, 2007)

Terdapat tiga golongan cacing yang menyerang manusia yaitu matoda, trematoda,

dan cestoda. Sebagaimana penggunaan antibiotika, antelmintik ditujukan pada target

metabolic yang terdapat dalam parasite tetapi tidak mempengaruhi atau berfungsi lain untuk

pejamu. (Mycek,2001)

A. Obat-Obat Untuk Pengobatan Nematoda


1. Mebendazol

Mebendazol merupakan obat cacing yang paling luas spektrumnya. Obat ini tidak larut

dalam air, tidak bersifat higroskopis sehingga stabil dalam keadaan terbuka (Ganirwarna,

1995). Mebendazol adalah obat cacing yang efektif terhadap cacing Toxocara canis,

Toxocara cati, Toxascaris leonina. Trichuris vulpis, Uncinaria stenocephala, Ancylostoma

caninum, Taenia pisiformis, Taenia hydatigena, Echinococcus granulosus dan aeniaformis

hydatigena (Tennant, 2002). Senyawa ini merupakan turunan benzimidazol, obat ini berefek

pada hambatan pemasukan glukosa ke dalam cacing secara ireversibel sehingga terjadi

pengosongan glikogen dalam cacing. Mebendazol juga dapat menyebabkan kerusakan

struktur subseluler dan menghambat sekresi asetilkolinesterase cacing (Ganirwarna, 1995).

Nama kimia mebendazole yaitu methyl [(5-benzoyl-3H-benzoimidazol-2-yl)amino]formate.

Rumus kimia : C16H13N3O3

- farmakokinetika

Mebendazol tidak larut dalam iar dan rasanya enak. Pada pemberian oral absorbsinya

buruk. Obat ini memiliki bioavailabilitas sistemik yang rendah yang disebabkan oleh

absorbsinya yang rendah dan mengalami first pass hepatic metabolisme yang cepat.

Diekskresikan lewat urin dalam bentuk yang utuh dan metabolit sebagai hasil dekarboksilasi

dalam waktu 48 jam. Absorbsi mebendazol akan lebih cepat jika diberikan bersama lemak

(Ganirwarna, 1995).

- Efek Nonterapi dan Kontraindikasi

Mebendazol tidak menyebabkan efek toksik sistemik mungkin karena absorbsinya yang

buruk sehingga aman diberikan pada penderita dengan anemia maupun malnutrisi. Efek

samping yang kadang-kadang timbul berupa diare dan sakit perut ringan yang bersifat

sementara. Dari studi toksikologi obat ini memiliki batas keamanan yang lebar. Tetapi
pemberian dosis tunggal sebesar 10 mg/kg BB pada tikus hamil memperlihatkan efek

embriotoksik dan teratogenik (Ganirwarna, 1995).

2. Pirantel Pamoat

Pirantel pamoat adalah obat cacing yang banyak digunakan

saat ini. Mungkin karena cara penggunaannya yang praktis, yaitu

dosis tunggal, sehingga disukai banyak orang. Selain itu khasiatnya

pun cukup baik.Pirantel pamoat dapat membasmi berbagai jenis

cacing di usus. Beberapa diantaranya adalah cacing tambang

(Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), cacing gelang

(Ascaris lumbrocoides), dan cacing kremi (Enterobius vermicularis)

(MIMS,1998).

Cara kerja pirantel pamoat adalah dengan melumpuhkan cacing. Cacing yang

lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan

segera mati.Pirantel pamoat dapat diminum dengan keadaan perut kosong, atau diminum

bersama makanan, susu atau jus. (Drugs.Com, 2007).

Pemakaiannya berupa dosis tunggal, yaitu hanya satu kali diminum.Dosis biasanya

dihitung per berat badan (BB), yaitu 10 mg / kgBB. Walaupun demikian, dosis tidak boleh

melebihi 1 gr. Sediaan biasanya berupa sirup (250 mg/ml) atau tablet (125 mg /tablet). Bagi

orang yang mempunyai berat badan 50 kg misalnya, membutuhkan 500 mg pirantel. Jadi

jangan heran jika orang tersebut diresepkan 4 tablet pirantel (125 mg) sekali minum.Nama

dagang pirantel pamoat yang beredar di Indonesia bermacam-macam, ada Combantrin,

Pantrin, Omegpantrin, dan lain-lain (MIMS,1998) .

3. Tiabendazol

Tiabendazol adalah suatu benzimidazol sintetik yang berbeda, efektif terhadap

strongilodiasis yang disebabkan Strongyloides stercoralis (cacing benang), larva migrans

pada kuliat (atau erupsi menjalar) dan tahap awal trikinosis (disebabkan Trichinella spinalis).
Obat juga menganggu agregasi mikrotubular. Meskipun hamper tidak larut dalam air, obat

mudah diabsorbsi pada pemberian per oral. Obar dihidroksilasi dalam hati dan dikeluarkan

dalam urine. Efek samping yang dijum[pai ialah pusing, tidak mau makan, mual dan muntah.

Terrdapat beberapa laporan tentang gejala SSP. Diantara kasus eritema multiforme dan

sindrom Stevens Johnson yang dilaporkan akibat tiabendazol, terdapat beberapa kematian.

(Mycek, 2001)

4. Invermektin

Invermektin adalah obat pilihan untuk pengobatan onkoserkiasis (buta sungai) disebabkan

Onchocerca volvulus dan terbukti pula efektif untuk scabies. Ivermektin bekerja pada

reseptor GABA (asam -amionobutirat) parasite. Aliran klorida dipacu keluar dan terjadi

hiperpolarisasi, menyebabkan paralisis cacing. Obat diberikan oral. Tidak menembus sawar

darah otak dan tidak memberikan efek farmakologik. Namun, tidak boleh diberikan pada

pasien meningitis karena sawar tak darah lebih permiabel dan terjadi pengaruh SSP.

Ivermektin juga tidak boleh untuk orang hamil. Tidak boleh untuk pasien yangmenggunakan

benzodiasepin atau barbiturate obat bekerja pada reseptor GABA. Pembunuhan mikrofilia

dapat menyebabkan reaksi seperti Mozatti (demam, sakit kepala, pusing, somnolen,

hipotensi dan sebagainya) (Mycek, 2001)

B. Obat Untuk Pengobatan Trematoda

Trematoda merupakan cacing pipih berdaun, digolongkan sesuai jaringan yang diinfeksi.

Misalnya sebagai cacing isap hati, paru, usus atau darah.

1. Prazikuantel

Infeksi trematoda umumnya diobati dengan prazikuantel. Obat ini merupakan obat pilihan

untuk pengobatan semua bentuk skistosomiasis dan infeksi cestoda seperti sistisercosis.

Permeabilitas membrane sel terhadap kalsium meningkat menyebabkan parasite mengalami


kontraktur dan paralisis. Prazikuantel mudah diabsorbsi pada pemberian oral dan tersebar

sampai ke cairan serebrospinal. Kadar yang tinggi dapat dijumpai dalam empedu. Obat

dimetabolisme secara oksidatif dengan sempurna, meyebabkan waktu paruh menjadi

pendek. Metabolit tidak aktif dan dikeluarkan melalui urin dan empedu (Mycek, 2001)

Efek samping yang biasa termasuk mengantuk, pusing, lesu, tidak mau makan dan

gangguan pencernaan. Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil atau menyusui.

Interaksi obat yangterjadi akibat peningkatan metabolisme telah dilaporkan jika diberikan

bersamaan deksametason, fenitoin, dan karbamazepin, simetidin yang dikenal menghambat

isozim sitokrom P-450, menyebabkan peningkatan kadar prazikuantel. Prazikuantel tidak

boleh diberikan untuk mengobati sistiserkosis mata karena penghancuran organisme dalam

mata dapat merusak mata (Mycek, 2001).

C. Obat Untuk Pengobatan Cestoda

Cestoda atau cacing pita, bertubuh pipih, bersegmen dan melekat pada usus pejamu. Sama

dengan trematoda, cacing pita tidak mempunyai mulut dan usus selama siklusnya.

1. Niklosamid

Niklosamid adalah obat pilihan untuk infeksi cestoda (cacing pita) pada umumnya. Kerjanya

menghambat fosforilasi anaerob mitokondria parasite terhadap ADP yang menghasilkan

energy untuk pembentukan ATP. Obat membunuh skoleks dan segmen cestoda tetapi tidak

telur-telurnya. Laksan diberikan sebelum pemberian niklosamid oral. Ini berguna untuk

membersihkan usus dari segmen-segmen cacing yang mati agar tidak terjadi digesti dan

pelepasan telur yang dapat menjadi sistiserkosisi. Alcohol harus dilarang selama satu hari

ketika niklosamid diberikan (Mycek, 2001)

DAFTAR PUSTAKA
Ganiswara, S.G., Setiabudi, R., Suyatna, F.D., Purwantyastuti, Nafrialdi (Editor).1995.

Farmakologi dan Terapi. Edisi 4.. Bagian Farmakologi FK UI: Jakarta

Hoan Tan Tjay,drs & Kirana Rahardja. 2003. Obat-obat penting, Khasiat,

penggunaan dan efek sampingnya : Elexmedia Computindo

Katzung.1989.Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 3.EGC: Jakarta

Mycek.2001.Farmakologi Ulasan Bergambar.Widya Medika : Jakarta

MIMS Annual (1998) : Combantrin. Edisi 8. Singapore.

Drugs.Com (2007). Pyrantel Pamoate. Dikutip 25 Nop 2007.

Combantrin Product Inf

http://biologi-news.blogspot.com/2011/02/mebendazole-hexamine-adidryl.html

liat contoh ppt http://www.slideshare.net/pangestucs/farmakologi-


20924140

Filariasis
FILARIASIS

I. PENDAHULUAN

Filariasis adalah penyakit yang mengenai kelenjar dan saluran limfe yang disebabkan oleh parasit
golongan nematoda yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori yang ditularkan
melalui nyamuk.1-5 Filariasis penting dalam dermatologi karena kulit merupakan salah satu organ
yang sering terkena. Filariasis menyebabkan kulit menjadi sangat gatal, timbul papul dan scratch
marks , hingga menyebabkan seluruh kulit menjadi kering dan tebal. Dapat timbul nodus dan
hiperpigmentasi atau hipopigmentasi. Filariasis menyebabkan limfedema ekstremitas, vulva,
skrotum, lengan dan payudara. Pada ekstremitas bawah biasanya tampak gambaran verukosa
dengan lipatan dan kulit yang pecah-pecah.5

Diperkirakan 120 juta penduduk dunia terinfeksi filariasis.1,3-7 Lebih dari 90% kasus filariasis
disebabkan oleh Wuchereria bancrofti 1,3,7-8 dan penderita terbanyak terdapat di Sub Saharan
Africa, Southeast Asia, dan Western Pacific.1,5,9 Program pencegahan sudah dilakukan di India,
Indonesia, Filipina, Papua Nugini, dan beberapa negara pasifik seperti Fiji dan Tahiti.1,9-10

Filariasis tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan di beberapa daerah tingkat endemisitas
cukup tinggi. Daerah endemis filariasis pada umumnya adalah daerah dataran rendah, terutama
pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan, rawa-rawa, dan hutan. Secara umum filariasis bancrofti
tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Daerah
endemis Wuchereria bancrofti dibedakan menjadi tipe pedesaan dan tipe perkotaan berdasarkan
vektor yang menularkan. Wuchereria tipe pedesaan ditemukan terutama di Papua dan Nusa
Tenggara dengan vektor Anopheles,Culex dan Aides sedangkan tipe perkotaan ditemukan di Jakarta,
Bekasi, Tangerang, Semarang, Pekalongan dan Lebak pada daerah yang kumuh, padat penduduknya
dan banyak genangan air kotor dengan vektor Culex quinquefasciatus. Brugia malayi tersebar di
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan beberapa pulau di Maluku, sedangkan Brugia timore tersebar di
kepulauan Flores, Alor, Rote, Timor dan Sumba. Berdasarkan hasil survey cepat tahun 2000, jumlah
penderita kronis yang dilaporkan sebanyak 6233 orang tersebar di 1553 desa, di 231 kabupaten, 26
propinsi. Berdasarkan survey jari tahun 1999, tingkat endemisitas filariasis di Indonesia masih tinggi
dengan microfilarial rate 3.1%.6 Daerah endemis filariasis adalah daerah dengan microfilarial rate
1%.11

Data statistik divisi Dermatologi umum Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM
terdapat 1 pasien limfedema akibat filariasis sepanjang tahun 2003-2005.

Filariasis selain menyebabkan dampak sosial dan psikologik, juga ditetapkan oleh WHO sebagai
penyebab kecacatan permanen nomor dua.3 Pada makalah ini akan dibahas mengenai
etiopatogenesis, manifestasi klinis, diagnosis serta penatalaksanaan filariasis.

II. ETIOPATOGENESIS

Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori.6 Filaria mempunyai siklus hidup bifasik dimana perkembangan larva terjadi
pada nyamuk (intermediate host) dan perkembangan larva dan cacing dewasa pada manusia
(definive host). 1,2,10

Pada tubuh penderita


Infeksi diawali pada saat nyamuk infektif menggigit manusia, maka larva L3 akan keluar dari
probosisnya kemudian masuk melalui bekas luka gigitan nyamuk menembus dermis dan bergerak
menuju sistem limfe.1,2,6,10,12 Larva L3 akan berubah menjadi larva L4 pada hari 9-14 setelah
infeksi dan akan mengalami perkembangan menjadi cacing dewasa dalam 6-12 bulan, setelah
inseminasi, zigot berkembang menjadi mikrofilaria.2 Cacing betina dewasa akan melepaskan ribuan
mikrofilaria yang yang mempunyai selubung ke dalam sirkulasi limfe lalu masuk ke sirkulasi darah
perifer. Cacing betina dewasa aktif bereproduksi selama lebih kurang 5 tahun. Cacing dewasa
berdiam di pembuluh limfe dan menyebabkan pembuluh berdilatasi, sehingga memperlambat aliran
cairan limfe. Sejumlah besar cacing dewasa ditemukan pada saluran limfe ekstremitas bawah,
ekstremitas atas dan genitalia pria..1,2

Pada nyamuk
Nyamuk menghisap mikrofilaria bersamaan saat menghisap darah.1,2,4,10 Dalam beberapa jam
mikrofilaria menembus dinding lambung, melepaskan selubung/sarungnya dan bersarang diantara
otot-otot toraks.1,6,10 Mula mula parasit ini memendek menyerupai sosis dan disebut larva
stadium 1 (L1). Dalam kurang dari 1 minggu berubah menjadi larva stadium 2 (L2), dan antara hari
ke-11 dan 13 L2 berubah menjadi L3 atau larva infektif.1,2,10 Bentuk ini sangat aktif, awalnya
bermigrasi ke rongga abdomen kemudian ke kepala dan alat tusuk nyamuk.1,2,6,12

Hingga saat ini telah teridentifikasi 23 spesies nyamuk dari 5 genus di Indonesia yaitu Mansonia,
Anopheles, Culex, Aedes dan Armigeres yang menjadi vektor filariasis.6

Gambar 1. Siklus hidup Wuchereria bancrofti *

Patogenesis filariasis sudah diperdebatkan sejak lama, terdapat beberapa hal yang menyebabkan
penelitian terhadap terjadinya penyakit ini terhambat. 1,3,13-15 Diduga 4 faktor berperan pada
patogenesis filariasis: cacing dewasa hidup, respon inflamasi akibat matinya cacing dewasa, infeksi
sekunder akibat bakteri, dan mikrofilaria.15 Cacing dewasa hidup akan menyebabkan
limfangiektasia.13-15 Karena pelebaran saluran limfe yang difus dan tidak terbatas pada tempat
dimana cacing dewasa hidup ada, diduga cacing dewasa tersebut mengeluarkan substansi yang
secara langsung atau tidak menyebabkan limfangiektasia. Pelebaran tersebut juga menyebabkan
terjadinya disfungsi limfatik dan terjadinya manifestasi klinis termasuk limfedema dan hidrokel.
Pecahnya saluran limfe yang melebar menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih
sehingga terjadi kiluria dan kilokel. Matinya cacing dewasa menyebabkan respon inflamasi akut yang
akan memberikan gambaran klinis adenitis dan limfangitis.13,15

*dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 10

Gambar 2. Patogenesis filariasis*

III. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis filariasis dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia, jenis kelamin, lokasi
anatomis cacing dewasa filaria, respon imun, riwayat pajanan sebelumnya, dan infeksi
sekunder.15,16 Berdasarkan pemeriksaan fisik dan parasitologi, manifestasi klinis filariasis dibagi
dalam 4 stadium yaitu:4,8
1.Asimptomatik atau subklinis filariasis
a. Individu asimptomatik dengan mikrofilaremia
Pada daerah endemik dapat ditemukan penduduk dengan mikrofilaria positif tetapi tidak
menunjukkan gejala klinis. Angka kejadian stadium ini meningkat sesuai umur dan biasanya
mencapai puncaknya pada usia 20-30 tahun, dan lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan
wanita.1,3,4,8,7 Banyak bukti menunjukan bahwa walaupun secara klinis asimptomatik tetapi semua
individu yang terinfeksi W. bancrofti dan B.malayi mempunyai gejala subklinis.1,3,8. Hal tersebut
terlihat pada 40% individu mikrofilaremia ini menderita hematuri dan / proteinuria yg menunjukkan
kerusakan ginjal minimal.3,7.8, Kelainan ginjal ini berhubungan dengan adanya mikrofilaria
dibandingkan dengan adanya cacing dewasa, karena hilangnya mikrofilaria dalam darah akan
mengembalikan fungsi ginjal menjadi normal.3,8. Dengan lymphoscintigraphy tampak pelebaran dan
terbelitnya limfatik disertai tidak normalnya aliran limfe. Dengan USG juga terlihat adanya
limfangiektasia.3

*Dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 13

Keadaan ini dapat bertahan selama bertahun-tahun yang kemudian secara perlahan berlanjut ke
stadium akut atau kronik.8

b. Individu asimptomatik dan amikrofilaremia dengan antigen filarial (+)


Pada daerah endemik terdapat populasi yang terpajan dengan larva infektif (L3) yang tidak
menunjukkan adanya gejala klinis atau adanya infeksi, tetapi mempunyai antibodi-antifilaria dalam
tubuhnya. 3,5,7,8

2. Stadium akut
Manifestasi klinis akut dari filariasis ditandai dengan serangan demam berulang yang disertai
pembesaran kelenjar (adenitis) dan saluran limfe (lymphangitis) disebut adenolimfangitis
(ADL).1,8,16 Etiologi serangan akut masih diperdebatkan, apakah akibat adanya infeksi sekunder,
respon imun terhadap antigen filarial, dan dilepaskannya zat-zat dari cacing yang mati atau hidup.15
Terdapat dua mekanisme berbeda dalam terjadinya serangan akut pada daerah endemik:
a) Dermatolimfangioadenitis akut (DLAA), proses di awali di kulit yang kemudian menyebar ke
saluran limfe dan kelenjar limfe. DLAA ditandai dengan adanya plak kutan atau subkutan yang
disertai dengan limfangitis dengan gambaran retikular dan adenitis regional.3,7,15,17 Terdapat pula
gejala konstitusional sistemik maupun lokal yang berat berupa demam, menggigil dan edema pada
tungkai yang terkena.15,17 Terdapat riwayat trauma, gigitan serangga, luka mekanik sebagai porte
d entre. DLAA adalah ADL sekunder yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur.3 DLA secara
klinis menyerupai selulitis atau erisipelas.17

b) Limfangitis filarial akut (LFA), merupakan reaksi imunologik dengan matinya cacing dewasa akibat
sistim imun penderita atau terapi.3,8,15 Kelainan ini ditandai dengan adanya Nodus atau cord yang
disertai limfadenitis atau limfangitis retrograde pada ekstremitas bawah atau atas, yang menyebar
secara sentrifugal.3,8,15,17 Keadaan ini dapat terjadi secara berulang pada lokasi yang sama.3,8

Filariasis bancrofti sering hanya mengenai sistem limfatik genitalia pria sehingga mengakibatkan
terjadinya funikulitis, epididimitis atau orkitis, sedangkan pada filariasis brugia, kelenjar limfe yang
terkena biasanya daerah inguinal atau aksila yang nantinya berkembang menjadi abses yang pecah
meninggalkan jaringan parut.8,12,16 Keluhan biasanya timbul setelah bekerja berat. Pada filariasis
brugia, sistem limfe alat kelamin tidak pernah terkena.8,16 Pada masa resolusi fase akut, kulit pada
ekstremitas yang terlibat akan mengalami eksfoliatif yang luas. Keadaan akut dapat berulang 6-10
episode per tahun dengan lama setiap episode 3-7 hari.9 Serangan berulang adenolimfangitis (ADL)
merupakan faktor penting dalam perkembangan penyakit. Pani dkk membuktikan bahwa terdapat
hubungan langsung antara jumlah serangan akut dan beratnya limfedema.3,8.17 Makin lama gejala
akut semakin ringan, yang akhirnya menuju pada stadium kronik. DLAA lebih sering ditemukan
dibandingkan LFA.15,17

3. Stadium kronik
Manisfestasi kronis filariasis jarang terlihat sebelum usia lebih dari 15 tahun dan hanya sebagian
kecil dari populasi yang terinfeksi mengalami stadium ini.15 Hidrokel, limfedema, elephantiasis
tungkai bawah, lengan atau skrotum, kiluria adalah manifestasi utama dari filariasis kronik.1,4,5,7,8

Hidrokel merupakan pembesaran testis akibat terkumpulnya cairan limfe dalam tunika vaginalis
testis.8,16,17 Kelainan ini disebabkan oleh W. bancrofti dan merupakan manifestasi kronis yang
paling sering ditemukan pada infeksi filariasis.8 Pada daerah endemik, 40-60% laki-laki dewasa
memiliki hidrokel 7,8 Cairan yang terkumpul biasanya bening. Uji transluminasi dapat membantu
menegakkan diagnosis.8

Limfedema pada ekstremitas atas jarang terjadi dibandingkan dengan limfedema pada ekstremitas
bawah. Pada filariasis bancrofti seluruh tungkai dapat terkena, berbeda dengan filariasis brugia yang
hanya mengenai kaki dibawah lutut dan kadang-kadang lengan dibawah siku.1,8,16,18 Gerusa dkk
(2000) menetapkan 7 stadium limfedema.19 Stadium 1 menggambarkan limfedema yang ringan
atau sedang sedangkan stadium 7 menggambarkan keadaan yang paling berat. Pembagian ini
berkaitan dengan beratnya limfedema, resiko terkenanya serangan akut dan dalam
penatalaksanaan.15 Limfedema pada filariasis biasanya terjadi setelah serangan akut berulang kali.
Kelainan pada kulit dapat terlihat sebagai kulit yang menebal, hiperkeratosis, hipotrikosis atau
hipertrikosis, pigmentasi, ulkus kronik, nodus dermal dan subepidermal.8
Tabel 1. Gambaran stadium Limfedema*
*dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 19

Limfedema pada genitalia melibatkan pembengkakan pada skrotum dan / penebalan kulit skrotum
atau kulit penis yang akan memberikan gambaran peau d orange yang nantinya berkembang
menjadi lesi verukosa.1,8

Kiluria terjadi akibat bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh cacing dewasa yang menyebabkan
masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih.1,8,12,16 Kelainan ini disebabkan oleh W.
bancrofti.16 Pasien dengan kiluria mengeluhkan adanya urine yang berwarna putih seperti susu
(milky urine).1,7,8,16 Diagnosis kiluria ditetapkan dengan ditemukannya limfosit pada urine.8

Limforea sering terjadi pada dinding skrotum dimana cairan limfe meleleh keluar dari saluran limfe
yang pecah.1,8,19
Pada daerah endemik, payudara dapat terkena, baik unilateral ataupun bilateral. Hal ini harus dapat
dibedakan dengan mastitis kronik dan limfedema pasca mastektom.1

4.Occult filariasis

Occult filariasis merupakan infeksi filariasis yang tidak memperlihatkan gejala klasik filariasis serta
tidak ditemukannya mikrofilaria dalam darah, tetapi ditemukan dalam organ dalam.1,4,8 Occult
filariasis terjadi akibat reaksi hipersensitivitas tubuh penderita terhadap antigen mikrofilaria.4,12
Contoh yang paling jelas adalah Tropical Pulmonary Eosinophilia (TPE). TPE sering ditemukan di
Southeast Asia, India, dan beberapa daerah di Cina dan Afrika 1,3 TPE adalah suatu sindrom yang
terdiri dari gangguan fungsi paru, hipereosinofilia (>3000mm3), peningkatan antibodi antifilaria,
peningkatan IgE antifilaria dan respon terhadap terapi DEC. Manifestasi klinis TPE berupa gejala yang
menyerupai asma bronkhial ( batuk, sesak nafas, dan wheezing),penurunan berat badan, demam,
limfadenopati lokal, hepatosplenomegali.1,3,4,7-9,12 Pada foto torak tampak peningkatan corakan
bronkovaskular terutama didasar paru, dan pemeriksaan fungsi paru tampak defek obstruktif.Jika
pasien dengan TPE tidak diobati, maka penyakit akan berkembang menjadi penyakit paru restriktif
kronik dengan fibrosis interstisial.4,7,8

Pada daerah endemis, perjalanan penyakit filariasis berbeda antara penduduk asli dengan penduduk
yang berasal dari daerah non-endemis dimana gejala dan tanda lebih cepat terjadi berupa
limfadenitis, hepatomegali dan splenomegali,1,7,8 Llimfedema dapat terjadi dalam waktu 6 bulan
dan dapat berlanjut menjadi elefantiasis dalam kurun waktu 1 tahun.20 Hal ini diakibatkan karena
pendatang tidak mempunyai toleransi imunologik terhadap antigen filaria yang biasanya terlihat
pada pajanan lama.1 Resiko terjadinya manifestasi akut dan kronik pada seseorangan yang
berkunjung ke daerah endemis sangat kecil, hal tersebut menunjukkan diperlukannya
kontak/pajanan berulang dengan nyamuk yang terinfeksi.1 Riwayat sensitisasi prenatal dan toleransi
imunologik terhadap antigen filarial mempengaruhi respon patologi infeksi dan tendensi terjadinya
manifestasi subklinis pada masa kanak-kanak.1,3

IV. DIAGNOSIS BANDING

Pembesaran ekstremitas
Limfangitis bakterial akut, limfadenitis kronik,LImfogranuloma inguinale dan limfadenitis
tuberkulosis dapat menyebabkan limfedema ekstremitas bawah.5 Trauma pada saluran limfe akibat
operasi juga dapat menyebabkan limfedema. Pasien dengan limfedema tanpa adanya riwayat
serangat akut berulang dikenal sebagai cold lymphedema merupakan kelainan bawaan.8 Tumor dan
pembentukkan jaringan fibrotik juga dapat menyebabkan tekanan pada saluran limfe dan
menurunkan aliran limfe sehingga terjadi limfedema secara perlahan. Mastektomi dengan
limfedenektomi merupakan salah satu hal penyebab terjadinya limfedema pada ekstremitas atas.19

Lipedema
Pembesaran kronik akibat jaringan lemak yang berlebihan, biasanya pada tungkai atas dan pinggul.
Kelainan simetris, telapak kaki normal. Kelainan ini terjadi pada saat pubertas atau 1-2 tahun
sesudahnya.19

Hernia inguinalis
Kelainan ini dapat menyerupai hidrokel. Pada hernia batas atas masuk kedalam perut,testis teraba,
isi dapat keluar masuk dan pada auskultasi bising usus (+). Pada saat pasien berdiri terlihat dasar
hidrokel menyempit berbeda dengan hernia yang dasarnya melebar.16,19

Knobs
Knobs/lump dengan pertumbuhan cepat dengan atau tanpa perdarahan dapat disebabkan oleh
kanker kulit. Misetoma dan kromoblastosis juga dapat memberikan gambaran benjolan/nodus.
Misetoma merupakan infeksi kronik yang disebabkan oleh jamur yang ditemukan pada tanah dan
tumbuhan. Jamur masuk melalui luka kemudian terbentuk abses, sinus dan fistel yang multiple.
Didalam sinus terdapat butir-butir (granules) yang merupakan kumpulan dari jamur tersebut.
Kromoblastosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur berpigmen yang ditemukan pada
kayu, tumbuhan dan tanah. Perlu dibedakan kromoblastomikosis dengan limfedema stadium 6 yang
memberikan gambaran mossy foot.19

Kiluria
Keadaan ini dapat juga disebabkan oleh trauma, kehamilan, tumor atau diabetes mellitus. Pada
diabetes mellitus, kiluria terjadi akibat pus. Untuk membedakan ke dua keadaan ini, pasien diminta
menampung urin dalam wadah transparan dan membiarkan urin selama 30-40 menit. Jika terjadi
pemisahan antara sedimen dan urin, maka pasien tidak menderita kiluria.15,19

V. PENATALA KSANAAN

A. Diagnosis
Diagnosis yang efisien dan efektif sangatlah penting dan menjadi faktor penentu dalam
penatalaksanaan penyakit. Terdapat beberapa cara :

1. Pemeriksaan klinis : tidak sensitif dan tidak spesifik untuk menentukan adanya infeksi aktif.4

2. Pemeriksaan parasitologi dengan menemukan mikrofilaria dalam sediaan darah, cairan hidrokel
atau cairan kiluria pada pemeriksaan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa, tehnik Knott,
membrane filtrasi dan tes provokasi DEC.12,21,22 Sensitivitas bergantung pada volume darah yang
diperiksa, waktu pengambilan dan keahlian teknisi yang memeriksanya. Pemeriksaan ini tidak
nyaman, karena pengambilan darah harus dilakukan pada malam hari antara pukul 22.00-02.00
mengingat periodisitas mikrofilaria umumnya nokturna.12,21 Spesimen yang diperlukan 50l
darah dan untuk menegakan diagnosis diperlukan 20 mikrofilaria/ml (Mf/ml).21

3. Deteksi antibodi: Peranan antibodi antifilaria subklas IgG4 pada infeksi aktif filarial membantu
dikembangkannya serodiagnostik berdasarkan antibodi kelas ini. Pemeriksaan ini digunakan untuk
pendatang yang tinggal didaerah endemik atau pengunjung yang pulang dari daerah endemik.3,21
Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan infeksi parasit sebelumnya dan kini, selain itu titer
antibodi tidak menunjukkan korelasi dengan jumlah cacing dalam tubuh penderita.4,12

4. Deteksi antigen yang beredar dalam sirkulasi.3,21,23 Pemeriksaan ini memberikan hasil yang
sensitif dan spesies spesifik dibandingkan dengan pemeriksaan makroskopis. Terdapat dua cara yaitu
dengan ELISA (enzyme-linked immunosorbent) dan ICT card test
(immunochromatographic).3,4,21,22 Hasil tes positif menunjukkan adanya infeksi aktif dalam tubuh
penderita, selain itu, tes ini dapat digunakan juga untuk monitoring hasil pengobatan.3 Kekurangan
pemeriksaan ini adalah tidak sensitif untuk konfirmasi pasien yang diduga secara klinis menderita
filariasis. Tehnik ini juga hanya dapat digunakan untuk infeksi filariasis bancrofti. Diperlukan keahlian
dan laboratorium khusus untuk tes ELISA sehingga sulit untuk di aplikasikan di lapangan.4 ICT adalah
tehnik imunokromatografik yang menggunakan antibodi monoklonal dan poliklonal. Keuntungan
dari ICT adalah invasif minimal (100 l), mudah digunakan, tidak memerlukan teknisi khusus, hasil
dapat langsung dibaca dan murah. Sensitivitas ICT dibandingkan dengan pemeriksaan sediaan hapus
darah tebal adalah 100% dengan spesifisitas 96.3%. 3

5. Deteksi parasit dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Tehnik ini digunakan untuk mendeteksi
DNA W. bancrofti dan B. malayi.1,3,21 PCR mempunyai sensitivitas yang tinggi yang dapat
mendeteksi infeksi paten pada semua individu yang terinfeksi, termasuk individu dengan infeksi
tersembunyi (amikrofilaremia atau individu dengan antigen +).21 Kekurangannya adalah diperlukan
penanganan yang sangat hati-hati untuk mencegah kontaminasi spesimen dan hasil positif palsu.
Diperlukan juga tenaga dan laboratorium khusus selain biaya yang mahal.4

6. Radiodiagnostik 1,3,4,21
Menggunakan USG pada skrotum dan kelenjar inguinal pasien, dan akan tampak gambaran cacing
yang bergerak-gerak (filarial dancing worm). Pemeriksaan ini berguna terutama untuk evaluasi hasil
pengobatan.
Limfosintigrafi menggunakan dextran atau albumin yang ditandai dengan zat radioaktif yang
menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada pasien dengan asimptomatik
milrofilaremia

B. Terapi

Obat anti-filaria yang digunakan


Diethylcarbamazine citrate (DEC)
Diethylcarbamazine citrate (DEC) telah digunakan sejak 40 tahun lamanya dan masih merupakan
terapi anti-filarial yang digunakan secara luas. 3,12,15,24 WHO merekomendasikan pemberian DEC
dengan dosis 6 mg/kgBB untuk 12 hari berturut-turut.3,7,15,20,24 Cara pemberian tersebut tidak
praktis digunakan untuk community-based control programme karena mahal.3,15 Andrade dkk
(1995) membandingkan pemberian dosis tunggal DEC 6 mg/kgBB dan pemberian DEC dosis yang
sama selama 12 hari, didapatkan kadar mikrofilaria yang sama pada ke-2 grup setelah terapi 12
bulan, meskipun pada bulan 1, 3 dan 6 kadar mikrofilaremia tinggi pada grup dosis tunggal.15
Dosis yang disarankan WHO digunakan untuk terapi selektif/perorangan, dimana orang tersebut
yang mencari pertolongan, sedangkan untuk terapi massal digunakan dosis tunggal 6mg/kgBB yang
diberikan setiap tahun selama 4-6 tahun berturut-turut.20Terapi massal adalah terapi yang
diberikan kepada seluruh penduduk di daerah endemis filariasis.11,20 Di Indonesia, dosis 6 mg/kg
BB memberikan efek samping yang berat, sehingga pemberian DEC di lakukan berdasarkan usia dan
dikombinasi dengan albendazol.11

Ivermectin
Ivermectin terbukti sangat efektif dalam menurunkan mikrofilaremia pada filariasis bancrofti di
sejumlah negara.3 Obat ini membunuh 96% mikrofilaremia dan menurunkan produksi
mikrofilaremia sebesar 82%.25.Obat ini merupakan antibiotik semisintetik golongan makrolid yang
berfungsi sebagai agent mikrofilarisidal poten.12,15 Dosis tunggal 200-400g/kg dapat menurunkan
mikrofilaria dalam darah tepi untuk waktu 6-24 bulan. Dengan dosis tunggal 200 atau 400l/kg dapat
langsung membunuh mikrofilaremia dan menurunkan produksi mikrofilaremia.25 Obat belum
digunakan di Indonesia.

Albendazol
Obat ini digunakan untuk pengobatan cacing intestine selama bertahun-tahun dan baru baru ini di
coba digunakan sebagai anti-filaria.3 Dosis tunggal albendazol tidak mempunyai efek terhadap
mikrofilaremia.15 Albendazole hanya mempunya sedikit efek untuk mikrofilaremia dan
antigenaemia jika digunakan sendiri.3 ADosis tunggal 400 mg di kombinasi dengan DEC atau
ivermectin efektif menghancurkan mikrofilaria.26

Penatalaksanaan filariasis bergantung kepada keadaan klinis dan beratnya penyakit.8,16,26

Asimptomatik atau subklinis


Pengobatan awal dengan anti-filaria pada pasien asimptomatik sangat disarankan untuk mencegah
kerusakan limfatik lebih lanjut. Efektifitas terapi dapat di evaluasi dengan melakukan tes mikrofilaria
6-12 bulan setelah terapi.1

Stadium akut
Selama serangan akut pemberian DEC tidak di anjurkan, karena diduga akan memperberat keaadaan
akibat matinya cacing dewasa.15 Terapi supportif harus dilakukan termasuk istirahat, kompres,
elevasi ekstremitas yang terkena dan pemberian analgetik dan antipiretik.15,17,19 Pada serangan
akut ADLA pemberian antibiotik oral dapat dilakukan sewaktu menunggu hasil kultur.15

Stadium kronik
Obat anti-filaria jarang digunakan untuk keadaan kronik tetapi diberikan jika pasien terbukti
menderita infeksi aktif, misalnya dengan ditemukannya mikrofilaria, antigen mikrofilaria atau filarial
dancing sign. Kerusakan limfatik akibat filariasis bersifat permanen dan obat anti-filaria tidak
menyembuhkan keadaan limfedema, tetapi limfedema dapat di tatalaksana dengan cara
menghentikan serangan akut dan mencegah keadaan menjadi berat/buruk.19 Terdapat 5 komponen
dasar dalam penatalaksanaan limfedema yang dapat dilakukan oleh pasien yaitu kebersihan,
pencegahan dan perawatan luka/entry lesion, latihan, elevasi dan penggunaan sepatu yang
sesuai.15,19 Komponen tambahan dalam penatalaksanaan limfedema adalah penggunaan emolien,
verban, stocking, pijat, antibiotik pofilaksis dan tindakan bedah.15,19,27

Pemberian benzopyrenes, termasuk flavonoids dan coumarin dapat menjadi terapi tambahan. Obat
ini mengikat protein yang telah terakumulasi sehingga menginduksi fagositosis makrofag
menyebabkan terpecahnya protein yang kemudian keluar kedalam vena dan dibuang oleh sistem
vascular.15,27

Tabel 2. Penatalaksanaan limfedema sesuai stadium-petunjuk umum*


Tindakan bedah pada limfedema bersifat paliatif, indikasi tindakan bedah adalah jika tidak terdapat
perbaikan dengan terapi konservatif, limfedema sangat besar sehingga mengganggu aktivitas dan
pekerjaan dan menyebabkan tidak berhasilnya terapi konsevatif.27 Berbagai prosedur operasi
digunakan tetapi secara umum tidak memberikan hasil yang memuaskan.15 Yang termasuk dalam
prosedur ini adalah lymphangioplasty, lympho-venous anastomosis dan eksisi (de-bulking) dari
jaringan subkutan yang fibrotik.15,27 Peranan tindakan pembedahan limfedema ekstremitas akibat
filariasis sangat terbatas.15

Penatalaksanaan hidrokel adalah dengan pemberian obat anti-filaria, perawatan dasar seperti
kebersihan, dan tindakan bedah.16 Indikasi operasi pada pasien dengan hidrokel adalah jika
mengganggu pekerjaan, mengganggu aktivitas seksual, mengganggu berkemih, dan memberi efek
sosial terhadap keluarga.Prosedur yang digunakan adalah dengan melakukan eksisi tunika vaginalis
sebanyak mungkin dan membalikkannya (Bergmann Wingklemann) untuk hidrokel besar dan
prosedur Lord untuk hidrokel kecil dimana dilakukan pengecilan tunika vaginalis dengan
merempel.16

*dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 19

Penatalaksanaan kiluria adalah istirahat, diet tinggi protein rendah lemak, minum banyak (paling
sedikit 2 gelas/jam selama BAK masih seperti susu). Tindakan bedah masih kontroversi tetapi di
anjurkan untuk kasus yang berat.15,16,28 Prosedure yang digunakan adalah lympho-venous
disconnection, lymphangio-venous anastomosis, lymphnode-saphenous vein anastomosis.28

Tropical Pulmonary Eosinophil


DEC adalah obat pilihan untuk TPE. Gejala pernapasan membaik secara cepat setelah pemberian
DEC. Pemberian DEC 21-28 hari menyebabkan hilangnya microfilaria secara cepat dibandingkan
dengan dosis tunggal 6 mg/kgBB, sehingga pemberian terapi lebih lama lebih disarankan.15

Pencegahan dan kontrol filariasis


Tahun 1997, the World Health Assembly (WHA) mengajak anggota WHO untuk mendukung program
The Global Elimination of Lymphatic Filariasis (GPELF) sebagai masalah kesehatan masyarakat.Tahun
2000 WHO mulai menetapkan GPELF dan merekomendasikan semua penduduk yang tinggal
didaerah beresiko untuk di obati satu kali dalam satu tahun dengan dua kombinasi obat dan
diberikan dalam 4-6 tahun berturut-turut.Tiga obat anti-parasit yang di sarankan adalah DEC,
albendazol, ivermectin.20
Pencegahan melawan infeksi filariasis juga dapat dilakukan secara individu dengan cara menghindari
terkenanya gigitan nyamuk. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memakai kelambu dan
menggunakan repellent, tetapi hal ini tidak bisa diterapkan disemua wilayah.1

VI. PENUTUP

Filariasis merupakan penyakit yang menyebabkan penderitaan baik fisik maupun psikologis.
Walaupun insiden penyakit ini jarang tetapi kita tetap perlu memikirkan filariasis sebagai salah satu
penyebab bila menemukan kasus limfedema. Ketelitian diagnostik diperlukan untuk mencegah
berkembangnya penyakit ini ke stadium yang lebih lanjut. Oleh karena itu diperlukan kerjasama
multi disiplin untuk melakukan pendekatan diagnostik dan penanganan penyakit.

Lampiran
Ekstremitas bengkak

Unilateral Bilateral

Asimetris Simetris,pitting
Perubahan tekstur kulit
Kulit mengeras/fibrotik penyakit sistemik
Vena Limfatik

-Nyeri, tu setelah berdiri lama -tidak nyeri


atau setelah berjalan - perubahan kulit: penebalan kulit, kulit mjd keras
-Varises

-USG dupleks Primer sekunder


- venogram (tidak diketahui etiologi)
Mastektomi dgn limfedenektomi
-Onset tiba-tiba
-Perjalanan peny cepat
-Riw tinggal di daerah endemis
-Riw memp tetangga/kel dg kaki gajah/hidrokel
-ADL berulang
Filariasis keganasan operasi

-Deteksi mf , tes serologi

DAFTAR PUSTAKA

1. Nutmat TB, James W kazura . Filariasis.Dalam: Guerrant RL, walker DH, Weller PF,
penyunting.,Tropical Infectious Disease. Edisi ke-2. Philadelphia: Elsevier;2006:1152-9
2. Scott AL. Lymphatic-dwelling filariasis. Dalam: Thomas B. Nutman, penyunting. Lymphatic
filariasis. Imperial college press; 2002:5-7
3. Melrose WD. Lymphatic filariasis: new insight into an old disease. Int J parasitol 2002;32:947-955
4. Atmadja AK. Diagnosis dan penanggulangan filariasis masa kini. Dalam seminar parasitologi klinik
29 Januari 2000
5. Kalungi S, Tumwine LK. Nematodal helminthes. Dalam: Tyring SK, Lupi O, Hengge UR, penyunting.
Tropical dermatology. Edisi ke-1. Philadelphia: Elsevier;2006:57-61
6. Epidemiologi filariasis. Departemen kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal PP&PL
Jakarta 2006.
7. Filariasis. Tersedia dari www.filariasis.org
8. Kusmaraswami V. The clinical manifestation of lymphatic filariasis. Dalam : Nutman TB
penyunting. Limphatic filariasis. Imperial college press;2002:103-122
9. Lucchina LC, Wilson M.E. Cysticercosis and other helminthic infection. Dalam : Freedberg IM,Eisen
AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, penyunting. Fitzpatricks Dermatology in generak
medicine. Edisi ke-6. New York: Mc Graw-Hill, 2003;2240-3
10. http://www.cdc.gov/ncidod/dpd/parasites/lymphaticfilariasis/
11. Pedoman penatalaksanaan reaksi simpang pengobatan filariasis. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Direktorat Jenderal PP&PL, Jakarta 2007
12. Partono F, Kurniawan A, Oemijati S. Nematoda jaringan. Dalam: Gandahusada S, Illahude H,
Pribadi W, penyunting. Parasitologi kedokteran. Edisi ke-3Jakarta:Balai penerbit FKUI;2003:35-44
13. Dreyer G, Nores J, Fifueredo-Silva J, Piessens WF. Pathogenesis of lymphatic disease in
bancroftian filariasis: a clinical perspective. Parasitol Today 2000;16(12):544-8
14. Freedman DO. Immune dynamic in the pathogenesis of human lymphatic filariasis.
Parasitol.Today 1998;14(6):229-233
15. Addis DG, Dreyer G. Treatment of lymphatic filariassis. Dalam Thomas B. Nutman, penyunting.
Lymphatic filariasis. Imperial college press;2002:151-180
16. Pedoman penatalaksanaan kasus klinis filariasis. Departemen kesehatan Republik Indonesia.
Direktorat jenderal PP&PL. Jakarta 2006
17. Addis DG, Brady MA. Morbidity management in the global programme to eliminate lymphatic
filariasis: a review of the scientific literature. Filarial journal 2007;6(2):1-19
18. Baird JB, Charles JL, Streit TG, Robert JM, Addis DG, Lammie PJ. Reactivity to bacterial, fungal,
and parasite antigens in patients with lymphedema and elephantiasis. Am J Trop Med Hyg
2002;66(2): 163-9
19. Dreyer G, Addis D, Dreyer P, Nores J. Basic lymphoedema management. Holis, NH: Holis
Publishing Company 2002
20. http://www.who.int/
21. McCarthy J. Diagnostic of lymphatic filarial infections. Dalam Thomas B Nutman penyunting.
Lymphatic filariasis. Imperial college press Londn 2002:127-150
22. Weil. G.J, Ramzy RM. Diagnostic tools for filariasis elimination programs. Trends
Parasitol.2007;23(2):78-82. Review
23. W. Melrose, N. Rahmah. Use of brugia rapid dipstick and ICT test to map distribution of
lymphatic filariasis in the Democratic Republic of Timor-Leste. Southeast Asian J Trop Med Public
Health 2006;37(4):22-25
24. Siraut C, Bhumiratana A, Koyadun S, Anurat K, Satitivipawee K. Short term effects of treatment
with 300 mg oral-dose diethylcarbamazine on nocturnally periodic wuchereria bancrofti
microfilaremia and antigenemia. Southeast Asian J Trop Med Public Health 2005;36(4):832-840
25. Stolk WA, Gerrit J. Van Oortmarssen, S. P. Pani, Sake J, De Vlas, S. Subramanian, P.K. Das Effects
of ivermectin and diethylcarbamazine on microfilaria and overall microflaria production in
bancroftian filariasis. Am. J. Trop. Med. Hyg.2005;73(5): 881887
26. Anitha K, Shenoy RK. Treatment of lymphatics: current trends.Indian J of Derm, ven and lepr
2001;67(2):60-65
27. Lymphedema tersedia pada http://www.emedicine.com/med/topic794.htm
28. Viswaroop B, Gopalakrishnan G. Open surgery for chyluria. Indian J Urol 2005;21:31-4
.
Kepada Yth:

TINJAUAN PUSTAKA

Moderator : dr. Erdina H D Poesponegoro, SpKK (K)


Komentator : dr. Srie Prihianti, SpKK .PhD
Narasumber : - Departemen Kulit dan Kelamin divisi dermatologi umum FKUI/RSCM
-Departemen Parasitologi FKUI/RSCM
-Departemen Bedah divisi bedah vaskuler FKUI/RSCM
Dibacakan : Rabu, 9 Januari 2008

FILARIASIS

Susanthy Ulyana
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta

I. PENDAHULUAN

Filariasis adalah penyakit yang mengenai kelenjar dan saluran limfe yang disebabkan oleh parasit
golongan nematoda yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori yang ditularkan
melalui nyamuk.1-5 Filariasis penting dalam dermatologi karena kulit merupakan salah satu organ
yang sering terkena. Filariasis menyebabkan kulit menjadi sangat gatal, timbul papul dan scratch
marks , hingga menyebabkan seluruh kulit menjadi kering dan tebal. Dapat timbul nodus dan
hiperpigmentasi atau hipopigmentasi. Filariasis menyebabkan limfedema ekstremitas, vulva,
skrotum, lengan dan payudara. Pada ekstremitas bawah biasanya tampak gambaran verukosa
dengan lipatan dan kulit yang pecah-pecah.5

Diperkirakan 120 juta penduduk dunia terinfeksi filariasis.1,3-7 Lebih dari 90% kasus filariasis
disebabkan oleh Wuchereria bancrofti 1,3,7-8 dan penderita terbanyak terdapat di Sub Saharan
Africa, Southeast Asia, dan Western Pacific.1,5,9 Program pencegahan sudah dilakukan di India,
Indonesia, Filipina, Papua Nugini, dan beberapa negara pasifik seperti Fiji dan Tahiti.1,9-10

Filariasis tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan di beberapa daerah tingkat endemisitas
cukup tinggi. Daerah endemis filariasis pada umumnya adalah daerah dataran rendah, terutama
pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan, rawa-rawa, dan hutan. Secara umum filariasis bancrofti
tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Daerah
endemis Wuchereria bancrofti dibedakan menjadi tipe pedesaan dan tipe perkotaan berdasarkan
vektor yang menularkan. Wuchereria tipe pedesaan ditemukan terutama di Papua dan Nusa
Tenggara dengan vektor Anopheles,Culex dan Aides sedangkan tipe perkotaan ditemukan di Jakarta,
Bekasi, Tangerang, Semarang, Pekalongan dan Lebak pada daerah yang kumuh, padat penduduknya
dan banyak genangan air kotor dengan vektor Culex quinquefasciatus. Brugia malayi tersebar di
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan beberapa pulau di Maluku, sedangkan Brugia timore tersebar di
kepulauan Flores, Alor, Rote, Timor dan Sumba. Berdasarkan hasil survey cepat tahun 2000, jumlah
penderita kronis yang dilaporkan sebanyak 6233 orang tersebar di 1553 desa, di 231 kabupaten, 26
propinsi. Berdasarkan survey jari tahun 1999, tingkat endemisitas filariasis di Indonesia masih tinggi
dengan microfilarial rate 3.1%.6 Daerah endemis filariasis adalah daerah dengan microfilarial rate
1%.11

Data statistik divisi Dermatologi umum Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM
terdapat 1 pasien limfedema akibat filariasis sepanjang tahun 2003-2005.

Filariasis selain menyebabkan dampak sosial dan psikologik, juga ditetapkan oleh WHO sebagai
penyebab kecacatan permanen nomor dua.3 Pada makalah ini akan dibahas mengenai
etiopatogenesis, manifestasi klinis, diagnosis serta penatalaksanaan filariasis.

II. ETIOPATOGENESIS

Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori.6 Filaria mempunyai siklus hidup bifasik dimana perkembangan larva terjadi
pada nyamuk (intermediate host) dan perkembangan larva dan cacing dewasa pada manusia
(definive host). 1,2,10

Pada tubuh penderita


Infeksi diawali pada saat nyamuk infektif menggigit manusia, maka larva L3 akan keluar dari
probosisnya kemudian masuk melalui bekas luka gigitan nyamuk menembus dermis dan bergerak
menuju sistem limfe.1,2,6,10,12 Larva L3 akan berubah menjadi larva L4 pada hari 9-14 setelah
infeksi dan akan mengalami perkembangan menjadi cacing dewasa dalam 6-12 bulan, setelah
inseminasi, zigot berkembang menjadi mikrofilaria.2 Cacing betina dewasa akan melepaskan ribuan
mikrofilaria yang yang mempunyai selubung ke dalam sirkulasi limfe lalu masuk ke sirkulasi darah
perifer. Cacing betina dewasa aktif bereproduksi selama lebih kurang 5 tahun. Cacing dewasa
berdiam di pembuluh limfe dan menyebabkan pembuluh berdilatasi, sehingga memperlambat aliran
cairan limfe. Sejumlah besar cacing dewasa ditemukan pada saluran limfe ekstremitas bawah,
ekstremitas atas dan genitalia pria..1,2

Pada nyamuk
Nyamuk menghisap mikrofilaria bersamaan saat menghisap darah.1,2,4,10 Dalam beberapa jam
mikrofilaria menembus dinding lambung, melepaskan selubung/sarungnya dan bersarang diantara
otot-otot toraks.1,6,10 Mula mula parasit ini memendek menyerupai sosis dan disebut larva
stadium 1 (L1). Dalam kurang dari 1 minggu berubah menjadi larva stadium 2 (L2), dan antara hari
ke-11 dan 13 L2 berubah menjadi L3 atau larva infektif.1,2,10 Bentuk ini sangat aktif, awalnya
bermigrasi ke rongga abdomen kemudian ke kepala dan alat tusuk nyamuk.1,2,6,12

Hingga saat ini telah teridentifikasi 23 spesies nyamuk dari 5 genus di Indonesia yaitu Mansonia,
Anopheles, Culex, Aedes dan Armigeres yang menjadi vektor filariasis.6

Gambar 1. Siklus hidup Wuchereria bancrofti *

Patogenesis filariasis sudah diperdebatkan sejak lama, terdapat beberapa hal yang menyebabkan
penelitian terhadap terjadinya penyakit ini terhambat. 1,3,13-15 Diduga 4 faktor berperan pada
patogenesis filariasis: cacing dewasa hidup, respon inflamasi akibat matinya cacing dewasa, infeksi
sekunder akibat bakteri, dan mikrofilaria.15 Cacing dewasa hidup akan menyebabkan
limfangiektasia.13-15 Karena pelebaran saluran limfe yang difus dan tidak terbatas pada tempat
dimana cacing dewasa hidup ada, diduga cacing dewasa tersebut mengeluarkan substansi yang
secara langsung atau tidak menyebabkan limfangiektasia. Pelebaran tersebut juga menyebabkan
terjadinya disfungsi limfatik dan terjadinya manifestasi klinis termasuk limfedema dan hidrokel.
Pecahnya saluran limfe yang melebar menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih
sehingga terjadi kiluria dan kilokel. Matinya cacing dewasa menyebabkan respon inflamasi akut yang
akan memberikan gambaran klinis adenitis dan limfangitis.13,15
*dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 10

Gambar 2. Patogenesis filariasis*

III. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis filariasis dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia, jenis kelamin, lokasi
anatomis cacing dewasa filaria, respon imun, riwayat pajanan sebelumnya, dan infeksi
sekunder.15,16 Berdasarkan pemeriksaan fisik dan parasitologi, manifestasi klinis filariasis dibagi
dalam 4 stadium yaitu:4,8

1.Asimptomatik atau subklinis filariasis


a. Individu asimptomatik dengan mikrofilaremia
Pada daerah endemik dapat ditemukan penduduk dengan mikrofilaria positif tetapi tidak
menunjukkan gejala klinis. Angka kejadian stadium ini meningkat sesuai umur dan biasanya
mencapai puncaknya pada usia 20-30 tahun, dan lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan
wanita.1,3,4,8,7 Banyak bukti menunjukan bahwa walaupun secara klinis asimptomatik tetapi semua
individu yang terinfeksi W. bancrofti dan B.malayi mempunyai gejala subklinis.1,3,8. Hal tersebut
terlihat pada 40% individu mikrofilaremia ini menderita hematuri dan / proteinuria yg menunjukkan
kerusakan ginjal minimal.3,7.8, Kelainan ginjal ini berhubungan dengan adanya mikrofilaria
dibandingkan dengan adanya cacing dewasa, karena hilangnya mikrofilaria dalam darah akan
mengembalikan fungsi ginjal menjadi normal.3,8. Dengan lymphoscintigraphy tampak pelebaran dan
terbelitnya limfatik disertai tidak normalnya aliran limfe. Dengan USG juga terlihat adanya
limfangiektasia.3

*Dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 13

Keadaan ini dapat bertahan selama bertahun-tahun yang kemudian secara perlahan berlanjut ke
stadium akut atau kronik.8

b. Individu asimptomatik dan amikrofilaremia dengan antigen filarial (+)


Pada daerah endemik terdapat populasi yang terpajan dengan larva infektif (L3) yang tidak
menunjukkan adanya gejala klinis atau adanya infeksi, tetapi mempunyai antibodi-antifilaria dalam
tubuhnya. 3,5,7,8

2. Stadium akut
Manifestasi klinis akut dari filariasis ditandai dengan serangan demam berulang yang disertai
pembesaran kelenjar (adenitis) dan saluran limfe (lymphangitis) disebut adenolimfangitis
(ADL).1,8,16 Etiologi serangan akut masih diperdebatkan, apakah akibat adanya infeksi sekunder,
respon imun terhadap antigen filarial, dan dilepaskannya zat-zat dari cacing yang mati atau hidup.15
Terdapat dua mekanisme berbeda dalam terjadinya serangan akut pada daerah endemik:
a) Dermatolimfangioadenitis akut (DLAA), proses di awali di kulit yang kemudian menyebar ke
saluran limfe dan kelenjar limfe. DLAA ditandai dengan adanya plak kutan atau subkutan yang
disertai dengan limfangitis dengan gambaran retikular dan adenitis regional.3,7,15,17 Terdapat pula
gejala konstitusional sistemik maupun lokal yang berat berupa demam, menggigil dan edema pada
tungkai yang terkena.15,17 Terdapat riwayat trauma, gigitan serangga, luka mekanik sebagai porte
d entre. DLAA adalah ADL sekunder yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur.3 DLA secara
klinis menyerupai selulitis atau erisipelas.17

b) Limfangitis filarial akut (LFA), merupakan reaksi imunologik dengan matinya cacing dewasa akibat
sistim imun penderita atau terapi.3,8,15 Kelainan ini ditandai dengan adanya Nodus atau cord yang
disertai limfadenitis atau limfangitis retrograde pada ekstremitas bawah atau atas, yang menyebar
secara sentrifugal.3,8,15,17 Keadaan ini dapat terjadi secara berulang pada lokasi yang sama.3,8

Filariasis bancrofti sering hanya mengenai sistem limfatik genitalia pria sehingga mengakibatkan
terjadinya funikulitis, epididimitis atau orkitis, sedangkan pada filariasis brugia, kelenjar limfe yang
terkena biasanya daerah inguinal atau aksila yang nantinya berkembang menjadi abses yang pecah
meninggalkan jaringan parut.8,12,16 Keluhan biasanya timbul setelah bekerja berat. Pada filariasis
brugia, sistem limfe alat kelamin tidak pernah terkena.8,16 Pada masa resolusi fase akut, kulit pada
ekstremitas yang terlibat akan mengalami eksfoliatif yang luas. Keadaan akut dapat berulang 6-10
episode per tahun dengan lama setiap episode 3-7 hari.9 Serangan berulang adenolimfangitis (ADL)
merupakan faktor penting dalam perkembangan penyakit. Pani dkk membuktikan bahwa terdapat
hubungan langsung antara jumlah serangan akut dan beratnya limfedema.3,8.17 Makin lama gejala
akut semakin ringan, yang akhirnya menuju pada stadium kronik. DLAA lebih sering ditemukan
dibandingkan LFA.15,17

3. Stadium kronik
Manisfestasi kronis filariasis jarang terlihat sebelum usia lebih dari 15 tahun dan hanya sebagian
kecil dari populasi yang terinfeksi mengalami stadium ini.15 Hidrokel, limfedema, elephantiasis
tungkai bawah, lengan atau skrotum, kiluria adalah manifestasi utama dari filariasis kronik.1,4,5,7,8

Hidrokel merupakan pembesaran testis akibat terkumpulnya cairan limfe dalam tunika vaginalis
testis.8,16,17 Kelainan ini disebabkan oleh W. bancrofti dan merupakan manifestasi kronis yang
paling sering ditemukan pada infeksi filariasis.8 Pada daerah endemik, 40-60% laki-laki dewasa
memiliki hidrokel 7,8 Cairan yang terkumpul biasanya bening. Uji transluminasi dapat membantu
menegakkan diagnosis.8

Limfedema pada ekstremitas atas jarang terjadi dibandingkan dengan limfedema pada ekstremitas
bawah. Pada filariasis bancrofti seluruh tungkai dapat terkena, berbeda dengan filariasis brugia yang
hanya mengenai kaki dibawah lutut dan kadang-kadang lengan dibawah siku.1,8,16,18 Gerusa dkk
(2000) menetapkan 7 stadium limfedema.19 Stadium 1 menggambarkan limfedema yang ringan
atau sedang sedangkan stadium 7 menggambarkan keadaan yang paling berat. Pembagian ini
berkaitan dengan beratnya limfedema, resiko terkenanya serangan akut dan dalam
penatalaksanaan.15 Limfedema pada filariasis biasanya terjadi setelah serangan akut berulang kali.
Kelainan pada kulit dapat terlihat sebagai kulit yang menebal, hiperkeratosis, hipotrikosis atau
hipertrikosis, pigmentasi, ulkus kronik, nodus dermal dan subepidermal.8
Tabel 1. Gambaran stadium Limfedema*
*dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 19
Limfedema pada genitalia melibatkan pembengkakan pada skrotum dan / penebalan kulit skrotum
atau kulit penis yang akan memberikan gambaran peau d orange yang nantinya berkembang
menjadi lesi verukosa.1,8

Kiluria terjadi akibat bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh cacing dewasa yang menyebabkan
masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih.1,8,12,16 Kelainan ini disebabkan oleh W.
bancrofti.16 Pasien dengan kiluria mengeluhkan adanya urine yang berwarna putih seperti susu
(milky urine).1,7,8,16 Diagnosis kiluria ditetapkan dengan ditemukannya limfosit pada urine.8

Limforea sering terjadi pada dinding skrotum dimana cairan limfe meleleh keluar dari saluran limfe
yang pecah.1,8,19

Pada daerah endemik, payudara dapat terkena, baik unilateral ataupun bilateral. Hal ini harus dapat
dibedakan dengan mastitis kronik dan limfedema pasca mastektom.1

4.Occult filariasis

Occult filariasis merupakan infeksi filariasis yang tidak memperlihatkan gejala klasik filariasis serta
tidak ditemukannya mikrofilaria dalam darah, tetapi ditemukan dalam organ dalam.1,4,8 Occult
filariasis terjadi akibat reaksi hipersensitivitas tubuh penderita terhadap antigen mikrofilaria.4,12
Contoh yang paling jelas adalah Tropical Pulmonary Eosinophilia (TPE). TPE sering ditemukan di
Southeast Asia, India, dan beberapa daerah di Cina dan Afrika 1,3 TPE adalah suatu sindrom yang
terdiri dari gangguan fungsi paru, hipereosinofilia (>3000mm3), peningkatan antibodi antifilaria,
peningkatan IgE antifilaria dan respon terhadap terapi DEC. Manifestasi klinis TPE berupa gejala yang
menyerupai asma bronkhial ( batuk, sesak nafas, dan wheezing),penurunan berat badan, demam,
limfadenopati lokal, hepatosplenomegali.1,3,4,7-9,12 Pada foto torak tampak peningkatan corakan
bronkovaskular terutama didasar paru, dan pemeriksaan fungsi paru tampak defek obstruktif.Jika
pasien dengan TPE tidak diobati, maka penyakit akan berkembang menjadi penyakit paru restriktif
kronik dengan fibrosis interstisial.4,7,8

Pada daerah endemis, perjalanan penyakit filariasis berbeda antara penduduk asli dengan penduduk
yang berasal dari daerah non-endemis dimana gejala dan tanda lebih cepat terjadi berupa
limfadenitis, hepatomegali dan splenomegali,1,7,8 Llimfedema dapat terjadi dalam waktu 6 bulan
dan dapat berlanjut menjadi elefantiasis dalam kurun waktu 1 tahun.20 Hal ini diakibatkan karena
pendatang tidak mempunyai toleransi imunologik terhadap antigen filaria yang biasanya terlihat
pada pajanan lama.1 Resiko terjadinya manifestasi akut dan kronik pada seseorangan yang
berkunjung ke daerah endemis sangat kecil, hal tersebut menunjukkan diperlukannya
kontak/pajanan berulang dengan nyamuk yang terinfeksi.1 Riwayat sensitisasi prenatal dan toleransi
imunologik terhadap antigen filarial mempengaruhi respon patologi infeksi dan tendensi terjadinya
manifestasi subklinis pada masa kanak-kanak.1,3

IV. DIAGNOSIS BANDING


Pembesaran ekstremitas
Limfangitis bakterial akut, limfadenitis kronik,LImfogranuloma inguinale dan limfadenitis
tuberkulosis dapat menyebabkan limfedema ekstremitas bawah.5 Trauma pada saluran limfe akibat
operasi juga dapat menyebabkan limfedema. Pasien dengan limfedema tanpa adanya riwayat
serangat akut berulang dikenal sebagai cold lymphedema merupakan kelainan bawaan.8 Tumor dan
pembentukkan jaringan fibrotik juga dapat menyebabkan tekanan pada saluran limfe dan
menurunkan aliran limfe sehingga terjadi limfedema secara perlahan. Mastektomi dengan
limfedenektomi merupakan salah satu hal penyebab terjadinya limfedema pada ekstremitas atas.19

Lipedema
Pembesaran kronik akibat jaringan lemak yang berlebihan, biasanya pada tungkai atas dan pinggul.
Kelainan simetris, telapak kaki normal. Kelainan ini terjadi pada saat pubertas atau 1-2 tahun
sesudahnya.19

Hernia inguinalis
Kelainan ini dapat menyerupai hidrokel. Pada hernia batas atas masuk kedalam perut,testis teraba,
isi dapat keluar masuk dan pada auskultasi bising usus (+). Pada saat pasien berdiri terlihat dasar
hidrokel menyempit berbeda dengan hernia yang dasarnya melebar.16,19

Knobs
Knobs/lump dengan pertumbuhan cepat dengan atau tanpa perdarahan dapat disebabkan oleh
kanker kulit. Misetoma dan kromoblastosis juga dapat memberikan gambaran benjolan/nodus.
Misetoma merupakan infeksi kronik yang disebabkan oleh jamur yang ditemukan pada tanah dan
tumbuhan. Jamur masuk melalui luka kemudian terbentuk abses, sinus dan fistel yang multiple.
Didalam sinus terdapat butir-butir (granules) yang merupakan kumpulan dari jamur tersebut.
Kromoblastosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur berpigmen yang ditemukan pada
kayu, tumbuhan dan tanah. Perlu dibedakan kromoblastomikosis dengan limfedema stadium 6 yang
memberikan gambaran mossy foot.19

Kiluria
Keadaan ini dapat juga disebabkan oleh trauma, kehamilan, tumor atau diabetes mellitus. Pada
diabetes mellitus, kiluria terjadi akibat pus. Untuk membedakan ke dua keadaan ini, pasien diminta
menampung urin dalam wadah transparan dan membiarkan urin selama 30-40 menit. Jika terjadi
pemisahan antara sedimen dan urin, maka pasien tidak menderita kiluria.15,19

V. PENATALA KSANAAN

A. Diagnosis
Diagnosis yang efisien dan efektif sangatlah penting dan menjadi faktor penentu dalam
penatalaksanaan penyakit. Terdapat beberapa cara :
1. Pemeriksaan klinis : tidak sensitif dan tidak spesifik untuk menentukan adanya infeksi aktif.4

2. Pemeriksaan parasitologi dengan menemukan mikrofilaria dalam sediaan darah, cairan hidrokel
atau cairan kiluria pada pemeriksaan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa, tehnik Knott,
membrane filtrasi dan tes provokasi DEC.12,21,22 Sensitivitas bergantung pada volume darah yang
diperiksa, waktu pengambilan dan keahlian teknisi yang memeriksanya. Pemeriksaan ini tidak
nyaman, karena pengambilan darah harus dilakukan pada malam hari antara pukul 22.00-02.00
mengingat periodisitas mikrofilaria umumnya nokturna.12,21 Spesimen yang diperlukan 50l
darah dan untuk menegakan diagnosis diperlukan 20 mikrofilaria/ml (Mf/ml).21

3. Deteksi antibodi: Peranan antibodi antifilaria subklas IgG4 pada infeksi aktif filarial membantu
dikembangkannya serodiagnostik berdasarkan antibodi kelas ini. Pemeriksaan ini digunakan untuk
pendatang yang tinggal didaerah endemik atau pengunjung yang pulang dari daerah endemik.3,21
Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan infeksi parasit sebelumnya dan kini, selain itu titer
antibodi tidak menunjukkan korelasi dengan jumlah cacing dalam tubuh penderita.4,12

4. Deteksi antigen yang beredar dalam sirkulasi.3,21,23 Pemeriksaan ini memberikan hasil yang
sensitif dan spesies spesifik dibandingkan dengan pemeriksaan makroskopis. Terdapat dua cara yaitu
dengan ELISA (enzyme-linked immunosorbent) dan ICT card test
(immunochromatographic).3,4,21,22 Hasil tes positif menunjukkan adanya infeksi aktif dalam tubuh
penderita, selain itu, tes ini dapat digunakan juga untuk monitoring hasil pengobatan.3 Kekurangan
pemeriksaan ini adalah tidak sensitif untuk konfirmasi pasien yang diduga secara klinis menderita
filariasis. Tehnik ini juga hanya dapat digunakan untuk infeksi filariasis bancrofti. Diperlukan keahlian
dan laboratorium khusus untuk tes ELISA sehingga sulit untuk di aplikasikan di lapangan.4 ICT adalah
tehnik imunokromatografik yang menggunakan antibodi monoklonal dan poliklonal. Keuntungan
dari ICT adalah invasif minimal (100 l), mudah digunakan, tidak memerlukan teknisi khusus, hasil
dapat langsung dibaca dan murah. Sensitivitas ICT dibandingkan dengan pemeriksaan sediaan hapus
darah tebal adalah 100% dengan spesifisitas 96.3%. 3

5. Deteksi parasit dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Tehnik ini digunakan untuk mendeteksi
DNA W. bancrofti dan B. malayi.1,3,21 PCR mempunyai sensitivitas yang tinggi yang dapat
mendeteksi infeksi paten pada semua individu yang terinfeksi, termasuk individu dengan infeksi
tersembunyi (amikrofilaremia atau individu dengan antigen +).21 Kekurangannya adalah diperlukan
penanganan yang sangat hati-hati untuk mencegah kontaminasi spesimen dan hasil positif palsu.
Diperlukan juga tenaga dan laboratorium khusus selain biaya yang mahal.4

6. Radiodiagnostik 1,3,4,21
Menggunakan USG pada skrotum dan kelenjar inguinal pasien, dan akan tampak gambaran cacing
yang bergerak-gerak (filarial dancing worm). Pemeriksaan ini berguna terutama untuk evaluasi hasil
pengobatan.
Limfosintigrafi menggunakan dextran atau albumin yang ditandai dengan zat radioaktif yang
menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada pasien dengan asimptomatik
milrofilaremia
B. Terapi

Obat anti-filaria yang digunakan


Diethylcarbamazine citrate (DEC)
Diethylcarbamazine citrate (DEC) telah digunakan sejak 40 tahun lamanya dan masih merupakan
terapi anti-filarial yang digunakan secara luas. 3,12,15,24 WHO merekomendasikan pemberian DEC
dengan dosis 6 mg/kgBB untuk 12 hari berturut-turut.3,7,15,20,24 Cara pemberian tersebut tidak
praktis digunakan untuk community-based control programme karena mahal.3,15 Andrade dkk
(1995) membandingkan pemberian dosis tunggal DEC 6 mg/kgBB dan pemberian DEC dosis yang
sama selama 12 hari, didapatkan kadar mikrofilaria yang sama pada ke-2 grup setelah terapi 12
bulan, meskipun pada bulan 1, 3 dan 6 kadar mikrofilaremia tinggi pada grup dosis tunggal.15
Dosis yang disarankan WHO digunakan untuk terapi selektif/perorangan, dimana orang tersebut
yang mencari pertolongan, sedangkan untuk terapi massal digunakan dosis tunggal 6mg/kgBB yang
diberikan setiap tahun selama 4-6 tahun berturut-turut.20Terapi massal adalah terapi yang
diberikan kepada seluruh penduduk di daerah endemis filariasis.11,20 Di Indonesia, dosis 6 mg/kg
BB memberikan efek samping yang berat, sehingga pemberian DEC di lakukan berdasarkan usia dan
dikombinasi dengan albendazol.11

Ivermectin
Ivermectin terbukti sangat efektif dalam menurunkan mikrofilaremia pada filariasis bancrofti di
sejumlah negara.3 Obat ini membunuh 96% mikrofilaremia dan menurunkan produksi
mikrofilaremia sebesar 82%.25.Obat ini merupakan antibiotik semisintetik golongan makrolid yang
berfungsi sebagai agent mikrofilarisidal poten.12,15 Dosis tunggal 200-400g/kg dapat menurunkan
mikrofilaria dalam darah tepi untuk waktu 6-24 bulan. Dengan dosis tunggal 200 atau 400l/kg dapat
langsung membunuh mikrofilaremia dan menurunkan produksi mikrofilaremia.25 Obat belum
digunakan di Indonesia.

Albendazol
Obat ini digunakan untuk pengobatan cacing intestine selama bertahun-tahun dan baru baru ini di
coba digunakan sebagai anti-filaria.3 Dosis tunggal albendazol tidak mempunyai efek terhadap
mikrofilaremia.15 Albendazole hanya mempunya sedikit efek untuk mikrofilaremia dan
antigenaemia jika digunakan sendiri.3 ADosis tunggal 400 mg di kombinasi dengan DEC atau
ivermectin efektif menghancurkan mikrofilaria.26

Penatalaksanaan filariasis bergantung kepada keadaan klinis dan beratnya penyakit.8,16,26

Asimptomatik atau subklinis


Pengobatan awal dengan anti-filaria pada pasien asimptomatik sangat disarankan untuk mencegah
kerusakan limfatik lebih lanjut. Efektifitas terapi dapat di evaluasi dengan melakukan tes mikrofilaria
6-12 bulan setelah terapi.1

Stadium akut
Selama serangan akut pemberian DEC tidak di anjurkan, karena diduga akan memperberat keaadaan
akibat matinya cacing dewasa.15 Terapi supportif harus dilakukan termasuk istirahat, kompres,
elevasi ekstremitas yang terkena dan pemberian analgetik dan antipiretik.15,17,19 Pada serangan
akut ADLA pemberian antibiotik oral dapat dilakukan sewaktu menunggu hasil kultur.15

Stadium kronik
Obat anti-filaria jarang digunakan untuk keadaan kronik tetapi diberikan jika pasien terbukti
menderita infeksi aktif, misalnya dengan ditemukannya mikrofilaria, antigen mikrofilaria atau filarial
dancing sign. Kerusakan limfatik akibat filariasis bersifat permanen dan obat anti-filaria tidak
menyembuhkan keadaan limfedema, tetapi limfedema dapat di tatalaksana dengan cara
menghentikan serangan akut dan mencegah keadaan menjadi berat/buruk.19 Terdapat 5 komponen
dasar dalam penatalaksanaan limfedema yang dapat dilakukan oleh pasien yaitu kebersihan,
pencegahan dan perawatan luka/entry lesion, latihan, elevasi dan penggunaan sepatu yang
sesuai.15,19 Komponen tambahan dalam penatalaksanaan limfedema adalah penggunaan emolien,
verban, stocking, pijat, antibiotik pofilaksis dan tindakan bedah.15,19,27

Pemberian benzopyrenes, termasuk flavonoids dan coumarin dapat menjadi terapi tambahan. Obat
ini mengikat protein yang telah terakumulasi sehingga menginduksi fagositosis makrofag
menyebabkan terpecahnya protein yang kemudian keluar kedalam vena dan dibuang oleh sistem
vascular.15,27

Tabel 2. Penatalaksanaan limfedema sesuai stadium-petunjuk umum*


Tindakan bedah pada limfedema bersifat paliatif, indikasi tindakan bedah adalah jika tidak terdapat
perbaikan dengan terapi konservatif, limfedema sangat besar sehingga mengganggu aktivitas dan
pekerjaan dan menyebabkan tidak berhasilnya terapi konsevatif.27 Berbagai prosedur operasi
digunakan tetapi secara umum tidak memberikan hasil yang memuaskan.15 Yang termasuk dalam
prosedur ini adalah lymphangioplasty, lympho-venous anastomosis dan eksisi (de-bulking) dari
jaringan subkutan yang fibrotik.15,27 Peranan tindakan pembedahan limfedema ekstremitas akibat
filariasis sangat terbatas.15

Penatalaksanaan hidrokel adalah dengan pemberian obat anti-filaria, perawatan dasar seperti
kebersihan, dan tindakan bedah.16 Indikasi operasi pada pasien dengan hidrokel adalah jika
mengganggu pekerjaan, mengganggu aktivitas seksual, mengganggu berkemih, dan memberi efek
sosial terhadap keluarga.Prosedur yang digunakan adalah dengan melakukan eksisi tunika vaginalis
sebanyak mungkin dan membalikkannya (Bergmann Wingklemann) untuk hidrokel besar dan
prosedur Lord untuk hidrokel kecil dimana dilakukan pengecilan tunika vaginalis dengan
merempel.16

*dikutip sesuai aslinya dari kepustakaan no 19

Penatalaksanaan kiluria adalah istirahat, diet tinggi protein rendah lemak, minum banyak (paling
sedikit 2 gelas/jam selama BAK masih seperti susu). Tindakan bedah masih kontroversi tetapi di
anjurkan untuk kasus yang berat.15,16,28 Prosedure yang digunakan adalah lympho-venous
disconnection, lymphangio-venous anastomosis, lymphnode-saphenous vein anastomosis.28

Tropical Pulmonary Eosinophil


DEC adalah obat pilihan untuk TPE. Gejala pernapasan membaik secara cepat setelah pemberian
DEC. Pemberian DEC 21-28 hari menyebabkan hilangnya microfilaria secara cepat dibandingkan
dengan dosis tunggal 6 mg/kgBB, sehingga pemberian terapi lebih lama lebih disarankan.15

Pencegahan dan kontrol filariasis


Tahun 1997, the World Health Assembly (WHA) mengajak anggota WHO untuk mendukung program
The Global Elimination of Lymphatic Filariasis (GPELF) sebagai masalah kesehatan masyarakat.Tahun
2000 WHO mulai menetapkan GPELF dan merekomendasikan semua penduduk yang tinggal
didaerah beresiko untuk di obati satu kali dalam satu tahun dengan dua kombinasi obat dan
diberikan dalam 4-6 tahun berturut-turut.Tiga obat anti-parasit yang di sarankan adalah DEC,
albendazol, ivermectin.20
Pencegahan melawan infeksi filariasis juga dapat dilakukan secara individu dengan cara menghindari
terkenanya gigitan nyamuk. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memakai kelambu dan
menggunakan repellent, tetapi hal ini tidak bisa diterapkan disemua wilayah.1

VI. PENUTUP

Filariasis merupakan penyakit yang menyebabkan penderitaan baik fisik maupun psikologis.
Walaupun insiden penyakit ini jarang tetapi kita tetap perlu memikirkan filariasis sebagai salah satu
penyebab bila menemukan kasus limfedema. Ketelitian diagnostik diperlukan untuk mencegah
berkembangnya penyakit ini ke stadium yang lebih lanjut. Oleh karena itu diperlukan kerjasama
multi disiplin untuk melakukan pendekatan diagnostik dan penanganan penyakit.

Lampiran
Ekstremitas bengkak

Unilateral Bilateral
Asimetris Simetris,pitting
Perubahan tekstur kulit
Kulit mengeras/fibrotik penyakit sistemik
Vena Limfatik

-Nyeri, tu setelah berdiri lama -tidak nyeri


atau setelah berjalan - perubahan kulit: penebalan kulit, kulit mjd keras
-Varises

-USG dupleks Primer sekunder


- venogram (tidak diketahui etiologi)

Mastektomi dgn limfedenektomi


-Onset tiba-tiba
-Perjalanan peny cepat
-Riw tinggal di daerah endemis
-Riw memp tetangga/kel dg kaki gajah/hidrokel
-ADL berulang
Filariasis keganasan operasi

-Deteksi mf , tes serologi

DAFTAR PUSTAKA

1. Nutmat TB, James W kazura . Filariasis.Dalam: Guerrant RL, walker DH, Weller PF,
penyunting.,Tropical Infectious Disease. Edisi ke-2. Philadelphia: Elsevier;2006:1152-9
2. Scott AL. Lymphatic-dwelling filariasis. Dalam: Thomas B. Nutman, penyunting. Lymphatic
filariasis. Imperial college press; 2002:5-7
3. Melrose WD. Lymphatic filariasis: new insight into an old disease. Int J parasitol 2002;32:947-955
4. Atmadja AK. Diagnosis dan penanggulangan filariasis masa kini. Dalam seminar parasitologi klinik
29 Januari 2000
5. Kalungi S, Tumwine LK. Nematodal helminthes. Dalam: Tyring SK, Lupi O, Hengge UR, penyunting.
Tropical dermatology. Edisi ke-1. Philadelphia: Elsevier;2006:57-61
6. Epidemiologi filariasis. Departemen kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal PP&PL
Jakarta 2006.
7. Filariasis. Tersedia dari www.filariasis.org
8. Kusmaraswami V. The clinical manifestation of lymphatic filariasis. Dalam : Nutman TB
penyunting. Limphatic filariasis. Imperial college press;2002:103-122
9. Lucchina LC, Wilson M.E. Cysticercosis and other helminthic infection. Dalam : Freedberg IM,Eisen
AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, penyunting. Fitzpatricks Dermatology in generak
medicine. Edisi ke-6. New York: Mc Graw-Hill, 2003;2240-3
10. http://www.cdc.gov/ncidod/dpd/parasites/lymphaticfilariasis/
11. Pedoman penatalaksanaan reaksi simpang pengobatan filariasis. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Direktorat Jenderal PP&PL, Jakarta 2007
12. Partono F, Kurniawan A, Oemijati S. Nematoda jaringan. Dalam: Gandahusada S, Illahude H,
Pribadi W, penyunting. Parasitologi kedokteran. Edisi ke-3Jakarta:Balai penerbit FKUI;2003:35-44
13. Dreyer G, Nores J, Fifueredo-Silva J, Piessens WF. Pathogenesis of lymphatic disease in
bancroftian filariasis: a clinical perspective. Parasitol Today 2000;16(12):544-8
14. Freedman DO. Immune dynamic in the pathogenesis of human lymphatic filariasis.
Parasitol.Today 1998;14(6):229-233
15. Addis DG, Dreyer G. Treatment of lymphatic filariassis. Dalam Thomas B. Nutman, penyunting.
Lymphatic filariasis. Imperial college press;2002:151-180
16. Pedoman penatalaksanaan kasus klinis filariasis. Departemen kesehatan Republik Indonesia.
Direktorat jenderal PP&PL. Jakarta 2006
17. Addis DG, Brady MA. Morbidity management in the global programme to eliminate lymphatic
filariasis: a review of the scientific literature. Filarial journal 2007;6(2):1-19
18. Baird JB, Charles JL, Streit TG, Robert JM, Addis DG, Lammie PJ. Reactivity to bacterial, fungal,
and parasite antigens in patients with lymphedema and elephantiasis. Am J Trop Med Hyg
2002;66(2): 163-9
19. Dreyer G, Addis D, Dreyer P, Nores J. Basic lymphoedema management. Holis, NH: Holis
Publishing Company 2002
20. http://www.who.int/
21. McCarthy J. Diagnostic of lymphatic filarial infections. Dalam Thomas B Nutman penyunting.
Lymphatic filariasis. Imperial college press Londn 2002:127-150
22. Weil. G.J, Ramzy RM. Diagnostic tools for filariasis elimination programs. Trends
Parasitol.2007;23(2):78-82. Review
23. W. Melrose, N. Rahmah. Use of brugia rapid dipstick and ICT test to map distribution of
lymphatic filariasis in the Democratic Republic of Timor-Leste. Southeast Asian J Trop Med Public
Health 2006;37(4):22-25
24. Siraut C, Bhumiratana A, Koyadun S, Anurat K, Satitivipawee K. Short term effects of treatment
with 300 mg oral-dose diethylcarbamazine on nocturnally periodic wuchereria bancrofti
microfilaremia and antigenemia. Southeast Asian J Trop Med Public Health 2005;36(4):832-840
25. Stolk WA, Gerrit J. Van Oortmarssen, S. P. Pani, Sake J, De Vlas, S. Subramanian, P.K. Das Effects
of ivermectin and diethylcarbamazine on microfilaria and overall microflaria production in
bancroftian filariasis. Am. J. Trop. Med. Hyg.2005;73(5): 881887
26. Anitha K, Shenoy RK. Treatment of lymphatics: current trends.Indian J of Derm, ven and lepr
2001;67(2):60-65
27. Lymphedema tersedia pada http://www.emedicine.com/med/topic794.htm
28. Viswaroop B, Gopalakrishnan G. Open surgery for chyluria. Indian J Urol 2005;21:31-4
Definisi
Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular kronik yang disebabkan sumbatan cacing
filaria di kelenjar / saluran getah bening, menimbulkan gejala klinis akut berupa demam berulang,
radang kelenjar / saluran getah bening, edema dan gejala kronik berupa elefantiasis.

Penyebab
Di Indonesia ditemukan 3 spesies cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia
timori yang masing-masing sebagai penyebab filariasis bancrofti, filariasis malayi dan filariasis timori.
Beragam spesies nyamuk dapat berperan sebagai penular (vektor) penyakit tersebut.

Cara Penularan
Seseorang tertular filariasis bila digigit nyamuk yang mengandung larva infektif cacing filaria.
Nyamuk yang menularkan filariasis adalah Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres.
Nyamuk tersebut tersebar luas di seluruh Indonesia sesuai dengan keadaan lingkungan habitatnya
(got/saluran air, sawah, rawa, hutan).

Gambaran klinik

Filariasis tanpa Gejala

Umumnya di daerah endemik


Pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan pembesaran kelenjar limfe terutama di daerah
inguinal.
Pada pemeriksaan darah ditemukan mikrofilaria dalam jumlah besar dan eosinofilia.
Filariasis dengan Peradangan

Demam, menggigil, sakit kepala, muntah dan lemah yang dapat berlangsung beberapa hari
sampai beberapa minggu.
Organ yang terkena terutama saluran limfe tungkai dan alat kelamin.
Pada laki-laki umumnya terdapat funikulitis disertai penebalan dan rasa nyeri, epididimitis,
orkitis dan pembengkakan skrotum.
Serangan akut dapat berlangsung satu bulan atau lebih.
Bila keadaannya berat dapat menyebabkan abses ginjal, pembengkakan epididimis, jaringan
retroperitoneal, kelenjar inguinal dan otot ileopsoas.

Filariasis dengan Penyumbatan

Pada stadium menahun terjadi jaringan granulasi yang proliferatif serta pelebaran saluran
limfe yang luas lalu timbul elefantiasis.
Penyumbatan duktus torasikus atau saluran limfe perut bagian tengah mempengaruhi
skrotum dan penis pada laki-laki dan bagian luar alat kelamin pada perempuan.
Infeksi kelenjar inguinal dapat mempengaruhi tungkai dan bagian luar alat kelamin.
Elefantiasis umumnya mengenai tungkai serta alat kelamin dan menyebabkan perubahan
yang luas.
Bila saluran limfe kandung kencing dan ginjal pecah akan timbul kiluria (keluarnya cairan
limfe dalam urin)
Sedangkan bila yang pecah tunika vaginalis akan terjadi hidrokel atau kilokel, dan bila yang
pecah saluran limfe peritoneum terjadi asites yang mengandung kilus.
Gambaran yang sering tampak ialah hidrokel dan limfangitis alat kelamin.
Limfangitis dan elefantiasis dapat diperberat oleh infeksi sekunder Streptococcus.

Diagnosis

Diagnosis filariasis dapat ditegakkan secara klinis.


Diagnosis dipastikan dengan menemukan mikrofilaria dalam darah tepi yang diambil malam
hari (pukul 22.00 02.00 dinihari) dan dipulas dengan pewarnaan Giemsa.
Pada keadaan kronik pemeriksaan ini sering negatif.

Penatalaksanaan

Perawatan Umum

Istirahat di tempat tidur


Antibiotik untuk infeksi sekunder dan abses
Perawatan elefantiasis dengan mencuci kaki dan merawat luka.

Pengobatan Spesifik
Untuk pengobatan individual diberikan Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) 6 mg/kgBB 3 x sehari
selama 12 hari.

Efek samping : pusing, mual dan demam selama menggunakan obat ini.
Pengobatan masal (rekomendasi WHO) adalah DEC 6 mg/kgBB dan albendazol 400mg (+
parasetamol) dosis tunggal, sekali setahun selama 5 tahun.
Implementation unit (IU) adalah kecamatan / wilayah kerja puskesmas (jumlah penduduk
8.000 10.000 orang).

Tabel 1. Dosis DEC untuk filariasis berdasarkan umur


Umur DEC (100mg) Albendazol (400mg)
2 6 tahun 1 tablet 1 tablet
7 12 tahun 2 tablet 1 tablet
> 13 tahun 3 tablet 1 tablet

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang
ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak
mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan
alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki (Infeksi.com, diakes tanggal 7 Mei 2010).
Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari
hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di
231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang.
Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %,
berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai
resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas (Infeksi.com, diakes tanggal 7
Mei 2010).
Seseorang yang terinfeksi penyakit kaki gajah umumnya terjadi pada usia kanak-kanak, dimana
dalam waktu yang cukup lama (bertahun-tahun) mulai dirasakan perkembangannya dan menjadi
gejala yang menetap dan meimbulkan kecacatan. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara
optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga menjadi beban keluarga,
masyarakat dan Negara. Maka dari peran perawat sangat penting untuk masa pemulihan dan juga
pecegahan terhadap paparan penyakit (Nasution, 2006).
Sebagai profesional dalam perawatan harus diperhatikan bahwa dalam sebuah unit baik itu keluarga
maupun komunitas disfungsi dan gangguan apapun seperti penyakit, cedera, perpisahan akan
mempengaruhi satu atau lebih anggota yang lain dan dalam hal tertentu sering mempengaruhi
sebagai unit secara keseluruhan. Hal ini dimungkinkan karena adanya semacam hubungan yang kuat
antara keluarga masyarakat dan status kesehatan anggotanya. Melalui perawatan kesehatan yang
berfokus pada tindakan promotif, peningkatan self care, pendidikan kesehatan, dan konseling serta
upaya-upaya yang berarti dapat mengurangi resiko yang diciptakan oleh pola hidup dan bahaya dari
lingkungan. Dengan latar belakang masalah di atas penulis merasa tertarik untuk membahas tentang
masalah filariasis serta implikasinya pada praktek keperawatan.

B. Tujuan Penulisan
Mampu mengidentifikasi masalah filariasis serta implikasinya pada praktek keperawatan.
C. Manfaat Penulisan
Memberikan gambaran mengenai masalah filariasis sehingga dapat menjadi langkah awal bagi
perawat untuk merencanakan pemberian pendidikan dan pelayanan lebih lanjut, juga sebagai
tindakan preventif dan promotif untuk mencegah dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya
penyakit filariasis.

D. Sistematika Penulisan
Bab I : pendahuluan
Bab II : Tinjauan Teori
Bab III : Implikasi pada Praktek Keperawatan
Bab IV : Kesimpulan

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. PENGERTIAN
Filariasis atau penyakit kaki gajah adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing
filaria (Depkes, 2006)

B. PENYEBAB FILARIASIS
Secara epidemiologi cacing filarial dibagi menjadi 6 tipe, yaitu: (Depkes,2006)
1. Wucheria Bancrofti tipe perkotaan (urban)
Ditemukan di daerah perkotaan seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Semarang, Pekalongan dan
sekitarnya memiliki periodisitas nokturna. Ditularkan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus yang
berkembang biak di air limbah rumah tangga.
2. Wucheria bancrofti tipe pedesaan (rural)
Ditemukan di daerah pedesaan di luar jawa, terutama tersebar luas di Papua dan Nusa Tenggara
Timur, mempunyai peridisitas nokturna yang ditularkan melalui berbagai species nyamuk Anopheles,
Culex dan Aedes.
3. Brugia Malayi tipe periodic noturna
Microfilaria ditemukan di darah tepi pada malam hari. Nyamuk penularnya adalah Anopheles
barbirostis yang ditemukan di daerah persawahan.
4. Brugia Malayi tipe subperiodik nokturna
Microfilaria ditemukan di daerah tepi pada siang dan malam hari, tetapi lebih banyak ditemukan
pada malam hari. Nyamuk penularnya adalah Mansonia spp yang ditemukan di daerah rawa.
5. Brugia Malayi tipe non periodic
Microfilaria ditemukan didaerah tepi baik malam maupun siang hari. Nyamuk penurnya adalah
Mansonnia bonnae dan Mansonia Uniformis yang ditemukan di hutan rimba.

6. Brugia Timori tipe periodic nokturna


Microfilaria ditemukan di daerah tepi pada malam hari. Nyamuk penularnya adalah Anopheles
barbirostis yang ditemukan di daerah persawahan di Nusa Tenggara Timur, Maluku Tenggara.

C. GEJALA KLINIK
Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3 samapai dengan 5 hari,
Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar
getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak
kemerahan, panas dan sakit ; radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang
menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis) ; filarial abses
akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan
nanah serta darah ; pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak
kemerahan dan terasa panas (early lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang
menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti) (Depkes,
2006)

D. HOSPES
1. Manusia
Pada dasarnya setiap orang dapat tertular filariasis apaabila digigit oleh nyamuk infektif
(mengandung larva stadium 3). Nyamuk infektif mendapat milrofilaria dapat pengidap, baik
pengidap dengan gejala klinis maupun pengidap yang tidak menunjukkan gejala klinis. Pada daerah
endemis filariasis, tidak semua orang terinfeksi filariasis dan tidak semua orang yang terinfeksi
menunjukkan gejala klinis. Seseorang yang terinfeksi filariasis tetapi belum menunjukkan gejala klinis
biasanya sudah terjadi perubahan-perubahan patologis di dalam tubuhnya.
Penduduk pendatang pada suatu daerah endemis filariasis mempunyai resiko terinfeksi filariasis
lebih besar disbanding penduduk asli. Penduduk pendatang dari daerah non endemis ke daeh
endemis, misalnya transmigran, walaupun pada pemeriksaan darah jari belum atau sedikit
mengandung microfilaria akan tetapi sudah menunjukkan gejala klinis yang lebih berat.
2. Hewan
Beberapa jenis hewan dapat berperan sebagai sumber penularan filariasis (hewan reservoir). Dari
semua species cacing filarial yang menginfeksi manusia di Indonesia, hanya Brugia malayi tipe sub
periodic nokturna dan non periodic yang dutemukan pada lutung (Presbytis cristatus). Kera (Macaca
fascicularis) dan kucing (Felis catus). Pengendalian filariasis pada hewan reservoir ini tidak mudah,
olleh karena itu juga akan menyulitkan upaya pemeberantasan filariasis pada manusia.
Sumber : (Depkes, 2006)
E. LINGKUNGAN
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap distribusi kasus filariais dan mata rantai penularannya.
Secara umum lingkungan dapat dibedakan menjadi lingkungan fisik, lingkungan biologic dan
lingkungan social, ekonomi dan budaya.
1. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik mencakup antara lain keadaan iklim, keadaan geografis, struktur geologi dan
sebagainya. Lingkungan fisik erat kaitannya dengan kehidupan vector, sehingga berpengaruh
terhadap munculnya sumber-sumber penularan filariasis. Lingkungan fisik dapat menciptakan
tempat-tempat perindukan dan beristirahatnya nyamuk. Suhu dan kelembaban berpengaruh
terhadap pertumbuhan, masa hidup serta keberadaan nyamuk. Lingkungan dengan tumbuhan air di
rawa-rawa dan adanya hospes reservoir (kera, lutung dan kucing) berpengaruh terhadap
penyebaran Brugia Malayi sub periodic nokturna dan non periodic.
2. Llingkungan Biologik
Lingkungan biologic dapat menjadi rantai penularan fiilariasis. Contoh lingkungan biologic adalah
adanya tanaman air sebagai tempat pertumbuhan nyamuk mansonia spp.

3. Lingkungan Sosial, Ekonomi dan Budaya


Lingkungan social, ekonomi dan budaya adalah lingkungan yang timbul sebagai akibat adanya
interaksi antar manusia, termasuk perilaku, adat istiadat, budaya, kebiasaan dan tradisi penduduk.
Kebiasaan bekerja di kebun pada malam hari atau kebiasaan keluar pada malam hari, atau kebiasaan
tidur perlu diperhatikan karena berkaitan dengan intensitas konttak dengan vector. Insiden filariasis
pada laki-laki lebih tinggi daripada insidens filariasis perempuan karena umumnya laki-laki lebih
sering kontak dengan vector karena pekerjaanya.
Sumber : (Depkes, 2006).

F. RANTAI PENULARAN FILARIASIS


Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk
yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat
cacing filarial kecil (mikrofilaria) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau
binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui
dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk (vector) dan tahap kedua perkembangan
dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.
.
G. PEDOMAN PENGOBATAN FILARIASIS
1. Tujuan Penggobatan
Dalam rangka Eliminasi Filariais tujuan pengobatan massal adalah untuk memutus transmisi
filariasis:
a. Menurunkan microfilaria rate menjadi <1%
b. Menurunkan kepadatan rata-rata mikrofilaria
2. Sasaran Pengobatan Massal
a. Anak berusia kurang dari 2 tahun
b. Ibu hamil
c. Orang yang sedang sakit berat
d. Penderita kasus kronis filariasis sedang dalam serangan akut
e. Anak berusia kurang dari 5 tahun dengan marasmus atau kwarsiokor

3. Jenis Obat
a. Diethyl Carbamazine Citrate (DEC)
1) Sifat Kimia dan Fisika
Tidak berwarna
Tidak berbau
Larut dalam air
Rasa sedikit pahit
Komposisi stabil dalam suhu 15-30C
Sediaan obat berupa tablet @100 mg
2) Absorbsi dan Ekskresi
Cepat di absorpsi oleh usus dan masuk dalam pereedaran darah
Didietribusikan hampir sama ke semua organ
Tidak masuk air susu ibu
Cepat disekresi oleh tubuh melaui air kencing
3) Cara Kerja Obat
Obat mempunyai pengaruh yang cepat terhadap microfilaria, dalam beberapa jam microfilaria di
peredaran darah mati. Cara kerja DEC adalah melumpuhkan otot microfilaria sehingga tidak dapat
bertahan di tempat hidupnya dan mengubah komposisi dinding microfilaria menjadi lebih mudah
dihancurkan oleh sistem pertahanan tubuh. DEC juga dapat menyebabkan matinya sebagian cacing
dewasa yang masih hidup dapat dihambat perkembangbiakannya selamam 9-12 bulan. Setelah
diminum DEC dengan cepat diserap oleh saluran cerna dan mencapai kadar maksimal dalam plasma
darah setelah 4 jam dan akan dikeluarkan seluruhnya dari tumbuh bersama air kencing dalam waktu
48 jam.
b. Albendazole
Albendazole dikenal sebagai obat yang digunakan dalam pengobatan cacing usus (cacing gelang,
cacing kremi, cacing cambuk dan cacing tambang). Albendazol juga dapat meningkatkan efek DEC
dalam mematikan cacing filarial dewasa dan microfilaria tanpa menambah reaksi yang tidak
dikehendaki. Di daerah endemis filariasis seringkali prevalensi cacing usus cukup tinggi sehingga
penggunaan albendazole dalam pengobatan massal filariasis juga akan efektif mengendalikan
prevalensi cacing usus.
c. Obat Reaksi Pengobatan
Untuk mengatasi adanya reaksi pengobatan digunakan:
1) Paracetamol
2) CTM
3) Antasida doen
4) Salep antibiotic
5) Antibiotika oral
6) Vitamin B6
7) Kortikosteroid Injeksi
8) Adrenalin Injeksi
9) Infus set
10) Cairan Infus Ringer laktat
4. Cara Pemberian Obat
Pengobatan massal menggunakan obat DEC, Albendazole dan Paracetamol yang diberikan sekali
setahun selama minimal 5 tahun. DEC diberikan 6 mg/KgBB, albendazole 400 mg untuk semua
golongan umur dan paracetamaol 10 mg/KgBB sekali pemberian. Sebaiknya obat diminum sesudah
makan dan di depan petugas. Dosis obat ditemukan berdasarkan berat badan atau umur sesuai tabel
di bawah ini
Tabel 1. Dosis Obat Berdasarkan Berat Badan

Berat Badan DEC (100 mg)


Tablet Albendazole (400 mg) Tablet Paracetamol (500 mg) Tablet
10-16 1 1 0,5
17-25 1,5 1 0,5
26-33 2 1 1
34-40 2,5 1 1
41-50 3 1 1
51-58 3,5 1 1
59-67 4 1 1
68-75 4,5 1 1
76-83 5 1 1
>84 5,5 1 1

Tabel 2. Dosis Obat Berdarkan Umur


Umur (Tahun) DEC (100 mg)
Tablet Albedazole (400 mg) Tablet Paracetamol
(500 mg) Tablet
2-5 1 1 0,25
6-14 2 1 0,5
14 3 1 1

5. Reaksi Pengobatan
a. Macam-macam Reaksi Pengobatan
1) Reaksi Umum
Reaksi umum terjadi karena akibat respon imunitas individu terhadap matinya microfilaria, makin
banyak microfilariang mati makin besar reaksi yang dapat terjadi pada 3 hari pertama setelah
pengobatan massal. Reaksi yang ringan biasaya dapat sembuh sendiri tanpa harus diobati. Reaksi
umum terdiri dari sakit kepala, pusing, demam, mual, menurunnya nafsu makan, muntah, sakit otot,
sakit sendi, lesu, gatal-gatal, keluar cacing usus, dan asma bronchial.
2) Reaksi Lokal
Reaksi local disebabkan oleh matinya caacing dewasa yang dapat timbul sampai 3 minggu setelah
pengobatan massal
a) Reaksi local pada infeksi W. bancrofti
- Nodul di kuli skrotum adalah reaksi local yang paling sering terjadi sebagai akibat matinya cacing
dewasa
- Limfadenitis
- Limfangits
- Adenolimfangitis
- Funikulitis
- Epididimitis
- Orkitis
- Orkalgia
- Abses
- Ulkus
- Limfedema

b) Reaksi local pada infeksi Brugia malayi dan Brugia timori


- Limfadenitis
- Limfangitis
- Adenomalimfangitis
- Abses
- Ulkus
- limfedema