Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH GIZI PANGAN

GANGGUAN KESEHATAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM


DALAM TUBUH

Nama Kelompok:

Patricia Pramesyari (6103015085)

Klemens Iwan (6103015086)

Erica Giovani (6103015087)

KELAS F

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA
SURABAYA
2017
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada tahun 2003 terdapat lebih dari 1,9 miliar penduduk dunia termasuk juga diantaranya
285 juta anak mempunyai asupan yodium yang kurang. WHO memperkirakan pada tahun
2007 jumlah penduduk dunia yang masih menderita kekurangan yodium adalah 2 miliar jiwa
dan 30% diantaranya merupakan anak-anak yang masih sekolah. Sejak tahun 2003 WHO dan
beberapa organisasi dunia melakukan intervensi program dan hasilnya berefek pada banyak
negara yang berhasil mengoptimalkan asupan yodium. Risiko kekurangan yodium pada anak
sekolah juga berkurang sebanyak 5% dan terus berkurang sampai tahun 2011.
Yodium merupakan zat mineral mikro yang harus tersedia didalam tubuh yang berfungsi
untuk pembentukan hormon tiroid dan berguna untuk proses metabolisme di dalam tubuh.
Gangguan akibat kurang yodium (GAKY) secara langsung ataupun tidak langsung pada
kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia (Almatsier, 2004 dalam Ananda
2015). Apabila kebutuhan yodium tidak terpenuhi secara kontinyu dan berlangsung lama
maka akan menimbulkan berbagai penyakit antara lain adalah gondok, dan hipertiroid. Pada
ibu hamil juga akan menyebabkan kelainan pada janin yang dikandungnya (Rachmawanti,
2010). Kekurangan yodium pada ibu hamil dapat menyebabkan abortus, bayi lahir mati,
melahirkan bayi yang kretin dengan retardasi mental, pendek, muka dan tangan sembab serta
terjadi kelemahan otot (Supariasa, 2001 dalam Ananda, 2015).
GAKY masih merupakan masalah gizi di Indonesia. Penyebab utama timbulnya masalah
GAKY adalah kekurangan yodium. Secara epidemiologi kebutuhan yodium per orang per hari
hanya 1-2 ug per kilogram berat badan. Di Indonesia sendiri sesuai survei yang
dipublikasikan WHO tahun 2001 prevalensi Total Goiter Rate (TGR) nasional mencapai
9,8% dan sebanyak 17 peduduk juta tinggal di area dengan angka TGR melebihi 20 persen.
Tahun 2003 dilakukan lagi survei nasional yang dibiayai melalui Proyek IP-GAKY untuk
mengetahui dampak dari intervensi program penanggulangan GAKY. Dari hasil survei ini
diketahui secara umum bahwa TGR pada anak sekolah masih berkisar 11,1%. Survei nasional
evaluasi IP GAKY ini menunjukkan bahwa 35,8% kabupaten adalah endemik ringan, 13,1%
kabupaten endemik sedang, dan 8,2% kabupaten endemik berat.
1.2. Rumusan Masalah
a. Apakah dampak dari kekurangan yodium?
b. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi yodium?
c. Bagaimanakah solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut?

1.3. Tujuan
a. Mengetahui dampak dari kekurangan yodium
b. Mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi yodium
c. Mengetahui solusi untuk mengatasi permasalah tersebut
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Dampak Kekurangan Yodium


Yodium merupakan zat mineral mikro yang harus tersedia didalam tubuh yang berfungsi
untuk pembentukan hormon tiroid dan berguna untuk proses metabolisme di dalam tubuh.
Yodium dibutuhkan tubuh untuk mensinstesis hormon tiroid thyroxine (T4) dan
triiodothyronine (T3). Hormon tiroid berperan penting dalam beberapa proses fisiologis tubuh
seperti regulasi Basal Metabolic Rate (BMR); metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak;
efek simpatomimetik; serta pertumbuhan melalui Growth Hormone (GH) dan Insuline
Growth Factor I (IGF-I). Ketika asupan yodium dibawah normal, kelenjar tiroid tidak bisa
memproduksi hormon tiroid yang cukup sehingga akan mengakibatkan rendahnya kadar
hormon tiroid dalam darah dan bermanifestasi sebagai GAKY.
Tabel 2.1. Rekomendasi asupan yodium harian oleh UNICEF, ICCIDD dan WHO
Kelompok Umur Rekomendasi Asupan Yodium Harian
Anak anak pra sekolah (0-59 bulan) 90 g
Anak usia sekolah (6-12) 120 g
Usia remaja (>12 tahun) dan dewasa 150 g
Wanita hamil dan menyusui 250 g

Masalah GAKY memiliki spektrum gangguan yang luas dan mengenai semua tingkatan
umur dari fetus (kandungan) sampai dewasa. Akibat yang ditimbulkan dalam jangka waktu
yang lama antara lain menurunnya kapasitas intelektual dan fisik, serta dapat bermanifestasi
sebagai gondok, retardasi mental, defek mental secara fisik dan kretin endemik. GAKY
merupakan fenomena gunung es (iceberg phenomenon). Efek dari kekurangan yodium yang
serius yaitu kerusakan otak (brain damage) merupakan bagian yang tidak terekspos dengan
salah satu menifestasinya yaitu kesulitan belajar di mana dapat mengakibatkan penurunan
proses dan prestasi belajar, serta lambatnya perkembangan otak (IQ 20). Kerusakan otak ini
terjadi dengan dasar bahwa hormon tiroid mempunyai peran penting pada perkembangan otak
meliputi percepatan myelinisasi, peningkatan migrasi, diferensiasi dan maturasi sel. Hormon
tiroid juga mengatur ekspresi gen seperti neurogranin / RC3, calcium-calmodulin kinase- II
(CaMK-II) dan neuromodulin / GAP-43 yang berperan dalam plastisitas sinap dan memori
pada otak. Reseptor hormon tiroid di nukleus sel otak fetus terbentuk pada minggu ke-9
kehamilan yang berarti bahwa fetus sudah sensitif terhadap hormon tiroid pada trimester
pertama kehamilan. Kemudian janin akan menghasilkan hormon tiroid sendiri pada minggu
18-22 kehamilan. Di daerah endemis GAKY, kadar hormon tiroid baik dari ibu hamil maupun
dari fetus sangat rentan di bawah normal sehingga terjadi kerusakan otak.

Tabel 2.2. Ringkasan dampak GAKY pada Berbagai Tingkatan Umur

Sumber : Ananda, A. 2015

Penyakit Gondok / goiter adalah istilah umum untuk pembesaran kelenjar tiroid pada
tenggorokan. Kelenjar tiroid yang membesar bisa berupa benjolan biasa yang bersifat
setempat hingga terjadi pembengkakan pada kedua sisi kelenjar tiroid. Berat kelenjar
tiroid adalah sekitar 30 gram, berbentuk dasi kupu-kupu. mekanisme terjadinya goiter
disebabkan oleh adanya defisiensi intake iodin oleh tubuh. Selain itu, goiter juga dapat
disebabkan oleh kelainan sintesis hormon tiroid kongenital ataupun goitrogen (agen penyebab
goiter seperti intake kalsium berlebihan maupun sayuran famili Brassica). Kurangnya iodin
menyebabkan kurangnya hormon tiroid yang dapat disintesis. Hal ini akan memicu
peningkatan pelepasan TSH (thyroid-stimulating hormone) ke dalam darah sebagai efek
kompensatoriknya. Efek tersebut menyebabkan terjadinya hipertrofi dan hiperplasi dari sel
folikuler tiroid, sehingga terjadi pembesaran tiroid secara makroskopik. Pembesaran ini dapat
menormalkan kerja tubuh, oleh karena pada efek kompensatorik tersebut kebutuhan hormon
tiroid terpenuhi. Akan tetapi, pada beberapa kasus, seperti defisiensi iodin endemik,
pembesaran ini tidak akan dapat mengompensasi penyakit yang ada. Kondisi itulah yang
dikenal dengan goiter hipotiroid. Derajat pembesaran tiroid mengikuti level dan durasi
defisiensi hormon tiroid yang terjadi pada seseorang.
Hipotiroidisme adalah istilah yang mengacu pada simtoma menurunnya sintesis dan
sekresi hormon tiroid dari kelenjar tiroid. Pada umumnya, penyebab hipotiroidisme adalah
kurangnya asupan gizi berupa iodina atau yodium Hipotiroidisme transien, dapat terjadi
setelah konsumsi iodina dalam jumlah banyak yang menginduksi kelainan enzimatik ringan
yang menyebabkan terhambatnya sintesis hormon pada kelenjar tiroid. Radang pada kelenjar
tiroid juga dapat menyebabkan hipotiroidisme, seperti pada penyakit Hashimoto tiroiditis.
Beberapa gejala umum dari hipertiroidisme adalah kelelahan, kram otot, depresi, kepucatan,
gondok, osteoporosis, dan kurang keringat. Hipotiroidisme dapat menyebabkan komplikasi
dengan hipogonadisme, chronic progressive external ophthalmoplegia (CPEO), lemah otot,
atrofi, laktikasidemia dan piruvikasidemia, yang diduga disebabkan oleh disfungsi sitokrom.
Dari data hasil biopsi pada sel otot, diketahui terjadi 50% defisiensi COX dengan 58%
penurunan cyt.aa3 dan 41% penurunan cyt.b. Pada jantung, penderita hipotiroidisme
mengalami penurunan denyut jantung, penurunan daya kontraksi dan fungsi diastolik,
penurunan output kardiak dan peningkatan resistansi vaskular sistemik; yang menyebabkan
peningkatan tekanan diastolik dan penurunan tekanan sistolik oleh karena terjadi peningkatan
serum kolesterol, penderita menjadi lebih rentan terhadap aterosklerosis dan penyakit jantung
koroner.

2.2. Faktor yang Mempengaruhi Kekurangan Yodium


Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian GAKY adalah asupan yodium, tingkat
pendidikan, pengetahuan, cara perlakuan garam yodium seperti penyimpanan dan pengolahan
serta faktor lingkungan yaitu daerah dataran tinggi. Pengetahuan dan tingkat pendidikan
merupakan faktor yang sangat penting dalam terbentuknya suatu tindakan seseorang.
Pengetahuan tentang gizi dapat menentukan dalam pemilihan makanan, apabila pengetahuan
seseorang rendah maka akan menyebabkan pemilihan makanan yang salah. Bertambahnya
pengetahuan mengenai gizi, maka seseorang akan berkemampuan untuk menerapkan
informasi yang telah didapatkannya dalam kehidupan sehari-hari (Wardani, 2009).
Pengetahuan merupakan tahapan awal untuk mengambil suatu keputusan, dimana pada
akhirnya seseorang akan melakukan atau tidak seperti pengetahuan yang telah dimilkinya.
Bila seseorang mengetahui akan pentingnya keseimbangan gizi salah satunya adalah
kebutuhan yodium, maka orang tersebut akan dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan
tersebut, tetapi bila tidak mengetahui hal tersebut, maka orang tersebut tidak akan berusaha
untuk memenuhinya karena tidak mengerti.
Cara pengolahan makanan menentukan kandungan yodium. KIO3 yang ditambahakan
pada garam (iodnya tidak tahan panas). Pada pemasakan sup yang ditambahkan garam di awal
pemasakan akan memiliki kadar iod yang lebih rendah dari pada penambahan garam saat
diakhir akhir pemasakan. Sehingga tingkat konsumsi iod juga akan berkurang jika pada saat
pemanasan, iod kontak dengan panas terlalu lama.
Faktor lingkungan juga berpengaruh, menurut Djokomoelyanto (1998) kekurangan
Yodium sering terjadi atau diketemukan di daerah pegunungan di mana makanan yang
dikonsumsi sangat tergantung pada produksi pangan setempat pada kondisi tanah yang miskin
yodium, daripada di tanah yang memiliki kandungan yodium. Kandungan yodium dalam
tanah dapat diserap oleh tumbuhan, sehingga yodium terebut dapat bermanfaat bagi orang
yang mengonsumsinya.
2.3. Upaya Mengatasi Permasalahan GAKY
Mengingat masalah GAKY terutama disebabkan karena lingkungan yang miskin sumber
yodium, maka upaya penanggulangan ditekankan pada suplementasi yodium baik secara oral,
melalui garam beryodium maupun secara parentral melalui preparat yodium dosis tinggi
(Kresnawan, 1993). Kegiatan Gaky yang dilaksanakan antara lain meliputi :
a. Upaya Jangka Pendek
Pemberian kapsul minyak beryodium kepada penduduk wanita umur 0-35 tahun, pria
0-20 tahun sesuai dengan dosis yang telah ditentukan, pemberian ini terutama kepada
penduduk di daerah endemik berat dan sedang.
b. Upaya Jangka Panjang
Iodisasi garam merupakan kegiatan penanggulangan Gaky jangka panjang. Program
untuk meyodisasi garam konsumsi dimulai tahun 1975, dan pelaksanaan program mulai tahun
1980 dikelola oleh perindustrian. Tujuan dari program ini adalah semua garam yang
dikonsumsi oleh masyarakat baik yang menderita maupun yang tidak dan garam beryodium
tersedia diseluruh wilayah Indonesia. (Departemen Perindustrian, 1983 dalam Sukati, 2009).
Upaya untuk menanggulangi kebutuhan yodium di daerah dataran tinggi, pemerintah
mengikuti program fortifikasi yodium pada garam seperti yang dianjurkan oleh WHO
(BPOM, 2006). Garam sangat stabil pada kondisi kering sehingga bisa bertahan lebih dari
lima puluh tahun tanpa mengalami kerusakan. Hal itulah yang menyebabkan Kalium peryodat
(KIO) dipakai sebagai suplemen untuk program yodisasi garam (atau garam beryodium).
Garam beryodium mengandung 0,0025% berat KIO yang berarti 100 gram total berat garam
mengandung 2,5mg KIO (Hadi dan Nurahman, 2003 dalam Sukati, 2009)
Kestabilan kandungan yodat pada fortifikasi garam dapur dapat dipengaruhi oleh
beberapa hal yaitu kadar air, tingkat kemurnian garam, jenis pengemas, proses pengolahan,
kelembaban, suhu, adanya zat-zat pereduksi, pH dan lama penyimpanan (BPOM, 2006).
Kerusakan pada garam beryodium dapat terjadi selama penyimpanan, salah satunya karena
garam yang tidak tertutup sehingga terkena paparan sinar matahari dan terkontaminasi dengan
zat pereduksi lainnya. Berdasarkan penelitian BPOM, 2006 menunjukkan bahwa penurunan
iodat pada garam beryodium yang disimpan selama satu bulan pada suhu ruang sebesar
46,51%. Garam beryodium yang digunakan sebagai garam konsumsi harus memenuhi Standar
Nasional Indonesia (SNI) antara lain mengandung KIO3 sebesar 30 80 ppm.
Konsumsi garam yang dianjurkan untuk setiap orang sekitar 6 gram atau satu sendok
teh setiap hari. Dalam kondisi tertentu, dimana keringat keluar berlebihan dianjurkan untuk
mengkonsumsi garam beryodium dua sendok teh sehari. Cara mengkonsumi garam biasanya
digunakan sebagai garam meja dan penambahan dalam pemasakan. Pengaruh pemasakan
terhadap penurunan KIO3 membuktikan bahwa sayuran yang dimasak dengan cara dikukus,
pembubuhan garam dilakukan saat sayuran matang dan wadah ditutup setelah diberi garam,
maka kehilangan iod dengan cara tersebut disebabkan oleh panas mengingat salah satu sifat
iod mudah rusak oleh panas (Irawati, 1993 dalam Sukati, 2009).
BAB 3

KESIMPULAN DAN DAFTAR PUSTAKA

3.1. Kesimpulan

- Kekuranangan iodium dapat berdampak pada gangguan kesehatan seperti timbulnya


penyakit gondok, hipotiroidisme dan masalah perkembangan otak.
- Faktor yang mempengaruhi asupan yodium adalah tingkat pendidikan, pengetahuan,
cara perlakuan garam yodium seperti penyimpanan dan pengolahan serta faktor
lingkungan yaitu daerah dataran tinggi.
- Pencegahan GAKY dapat dilakukan dengan fortifikasi iodium pada garam dapur.

3.2. Daftar Pustaka

- Ananda, A. 2015. Gangguan akibat kekurangan yodium di Indonesia.


http://eprints.undip.ac.id/46194/3/Alfa_Ajinata_Afiv_Ananda_220101111200
16_Lap.KTI_Bab2.pdf, diunduh 18 mei 2017
- Djokomoelyanto, S. 1998. Kekurangan Yodium di Daerah Pegunungan.
- Sukati,S. 2009. Hubungan antara pengetahuan dan pengelolaan garam dengan ekskresi
yodium urin ibu hamil di wilayah puskesmas musuk I kabupaten Boyolali
(GAKY). Media Litbang Kesehatan Volume XIX Nomor 2 Tahun 2009
- Wardani,S. 2015. hubungan antara pengetahuan dan pengelolaan garam dengan
Ekskresi Yodium Urin Ibu hamil di wilayah Puskesmas Musuk I Kabupaten
Boyolali. http://eprints.ums.ac.id/39807/4/BAB%20I.pdf, diunduh 18 mei
2017)
- https://id.wikipedia.org/wiki/Hipotiroidisme, diunduh 20 mei 2017
- http://www.indonesian-publichealth.com/dampak-kekurangan-yodium/, diunduh 18
Mei 2017