Anda di halaman 1dari 17

JURNAL PROYEK ANATOMI DAN FISIOLOGI HEWAN (BI-2103)

ANATOMI HEWAN INVERTEBRATA PADA JANGKRIK


(Gryllus sp.), CACING (Lumbricus sp.), UDANG (Litopenaeus
vannamei) DAN CUMI-CUMI (Loligo sp.)

Tanggal praktikum: 30 Agustus 2017


Tanggal pengumpulan: 6 September 2017

Disusun oleh:
Dimas Krisyanto Wibisono
10616046
Kelompok 6

Asisten:
Sri Utami Ayuningrum
10615053

PROGRAM STUDI BIOLOGI

SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

BANDUNG

2017
I. Pendahuluan
Mempelajari suatu makhluk hidup tentunya berkaitan erat dengan ilmu
anatomi dan fisiologi. Anatomi adalah ilmu yang memelajari struktur tubuh
baik luar maupun dalam serta hubungan fisik antar bagian tubuh. Hal tersebut
menjadi penting karena diperlukan pembakuan nama terhadap bagian bagian
tubuh yang memiliki struktur dan posisi tertentu.sedangkan fisiologi berarti
ilmu yang memelajari cara makhluk hidup melakukan fungsi vitalnya. Secara
garis besar anatomi adalah struktur dan fisiologi adalah fungsi(Martini, 2015).
Hewan secara umum dikelompokkan menjadi dua, yaitu invertebrata
dan vertebrata. invertebrata adalah kelompok hewan yang tidak memiliki atau
yang tidak pernah mengembangkan tulang belakang(Reece, 2014). Hewan
yang tergolong invertebrata antara lain seperti insekta, maluska, dan krustasea.
Jangkrik (Gryllus sp.) merupakan salah satu jenis serangga. Hewan ini
berkerabat dekat dengan belalang. Persebaran hewan ini cukup luas, dari mulai
hutan sampai pemukiman. Manfaat jangkrik dapat dirasakan bagi manusia. Di
Indonesia, jangkrik dimanfaatkan sebagai pakan hewan (Widyaningrum, 2000).
Salah satu kelompok hewan yang tergabung dalam invertebrata adalah
udang (Caridea). Udang tergolong pemakan segala macam makanan (Sabar,
1979). Beberapa spesies hewan ini juga lazim digunakan sebagai sumber
pangan.
Cacing tanah (Lumbricus sp.) mempunyai habitat di tempat-tempat
dengan kondisi air tanah yang lembab dan kadar air yang tinggi. Cacing tanah
memiliki banyak kegunaan, selain dapat digunakan sebagai indikator sehatnya
tanah juga dapat digunakan sebagai bahan kosmetik. Cacing tanah juga
berpotensi sebagai bahan obat-obatan(Firmansyah, 2014).
Cumi-cumi (Loligo sp.) merukapan salah satu hewan invertebrata yang
tergabung dalam kelompok moluska. Cumi-cumi merupakan salah satu hasil
perikanan penting didunia. Di Indonesia kelompok hewan cumi ini mempunyai
urutan ketiga produksi di dalam dunia perikanan (Rudian, 2004).
II. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Menentukan morfologi hewan invertebrata jangkrik (Gryllus sp.), cacing
(Lumbricus sp.), udang (Litopenaeus vannamei) dan Cumi-cumi (Loligo
sp.)
2. Menentukan organ penyusun hewan invertebrata jangkrik (Gryllus sp.),
cacing (Lumbricus sp.), udang (Litopenaeus vannamei) dan cumi-cumi
(Loligo sp.)

III. Hipotesis
1. Morfologi Invertebrata; Jangkrik memiliki mata majemuk, antenna,
ocellus, labium,mandibula, sayap, spirakel, kaki tengah, kaki depan, spirakel,
kaki belakang, epiproct, paraproct, dan ovipositor; Cumi-cumi memiliki
tentakel, paruh, mata, dan sirip; Cacing memiliki mulut, segmen, clitellum, dan
anus; Udang memiliki mata majemuk, rostrum, antenna, karapas, pleomer,
telson, uropod, dan kaki renang.
2. Organ Invertebrata; Jangkrik memiliki otak, jantung, saluran malphigia,
dan organ pencernaan; Cumi-cumi memiliki gladius, usus, lambung, sekum,
jantung, gonad, rectum, otak, kelenjar pencernaan, dan radula; Cacing memiliki
otak, pharynx, esophagus, crop, gizzard, pembuluh darah, dan otot; Udang
memiliki lambung, kelenjar antenna, ganglion supraesophageal, jantung,
gonad, usus, dan kelenjar pencernaan.
IV. Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini terdapat dalam
tabel 4.1
Tabel 4.1 Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini
Alat Bahan

Scalpel Styrofoam

Gunting Bedah Jangkrik

Jarum Pentul Cacing

Pinset Cumi-cumi

Baki Udang

Sarung tangan

V. Metodologi

Metodologi dapat dilihat pada tabel 5.1

Tabel 5.1 Prosedur praktikum


5. Cara Kerja

5.1 Prosedur Pembedahan Jangkrik


Jangkrik
o Anatomi eksternal diamati
o Ditempatkan dengan bagian dorsal menghadap atas
o Kaki diputuskan semua dengan cara diputar menggunakan
gunting
o Gunting bedah disisipkan pada segmen terakhir abdomen
o Dari segmen terakhir abdomen hingga kepala sepanjang sisi
dorsal, eksoskeleton dipotong
o Potongan tersebut dibuka dan tahan menggunakan jarum
pentuk hingga anatomi internal terlihat
o Anatomi internal diamati
o Selesai damati
5.2 Prosedur Pembedahan Udang
Udang
o Anatomi eksternal diamati
o Ditempatkan dengan bagian dorsal menghadap atas
o Gunting bedah disisipkan pada segmen terakhir abdomen
o Dari segmen terakhir abdomen hingga kepala sepanjang sisi
dorsal, eksoskeleton dipotong
o Potongan tersebut dibuka dan tahan menggunakan jarum
pentuk hingga anatomi internal terlihat
o Anatomi internal diamati
o Selesai diamati
5.3 Prosedur Pembedahan Cumi-cumi
Cumi-cumi
o Anatomi eksternal diamati
o Ditempatkan di atas stereofoam dengan ventral menghadap
atas
o Anterior mantel yang lebih ventrak dari sifon dipotong
hingga bagian paling anterior secara lurus
o Mantel yang telah dipotong, ditahan dengan jarum pentul
hingga anatomi internal terlihat
o Anatomi internal diamati
o Selesai diamati
5.4 Prosedur Pembedahan Cacing Tanah
Cacing tanah
o Anatomi eksternal diamati
o Ditempatkan di atas stereofoam dengan ventral menghadap
atas
o Potongan kecil dibuat pada klitelum sekitar segmen ke-33
o Bagian dorsal cacing tanah dipotong dari potongan kecil
sebelumnya hingga segmen ke-1
o potongan tersebut ditahan dengan jarum pentul hingga
anatomi internal terlihat
o Anatomi internal diamati
o Selesai diamati
VI. Hasil pengamatan

Hasil Pengamatan Literatur

Anatomi
luar
jangkrik

Gambar 6. 2 Anatomi luar jangkrik

Gambar 6. 1 Anatomi luar jangkrik (Cricketcare, 2017)

(Dokumen pribadi, 2017)


Anatomi
internal
jangkrik

Gambar 6. 4 Anatomi internal jangkrik

(Fox, 2001)
Gambar 6. 3 Anatomi internal jangkrik

(Dokumen pribadi, 2017)

Anatomi
luar
cacing

Gambar 6. 5 Anatomi luar cacing Gambar 6. 6 Anatomi luar cacing

(Dokumen pribadi, 2017) (Crow, 2012)


Anatomi
internal
cacing

Gambar 6. 8 Anatomi internal cacing

Gambar 6. 7 Anatomi internal cacing (San Diego Mirmar College, 2017)

(Dokumen pribadi, 2017)

Anatomi
luar cumi-
cumi

Gambar 6. 9 Anatomi luar cumi-cumi Gambar 6. 10 Anatomi luar cumi-cumi

(Dokumen pribadi, 2017) (Sodano, 2017)


Anatomi
internal
cumi-
cumi

Gambar 6. 11 Anatomi internal cumi-cumi


Gambar 6. 12 anatomi internal cumi-cumi
(Dokumen pribadi, 2017)
(Sodano, 2017)

Anatomi
luar
udang

Gambar 6. 13 Anatomi luar udang Gambar 6. 14 Anatomi luar udang

(Dokumen pribadi, 2017) (Fox, 2001)


Anatomi
internal
udang

Gambar 6. 16 Anatomi internal udang

(Great barrier reef invertebratas, 2017)


Gambar 6. 15 Anatomi internal udang

(Dokumen pribadi, 2017)

Epitel
pipih

Gambar 6. 18 Epitel pipih


Gambar 6. 17 Epitel pipih pembesaran 400 (Georgia highlands, 2017)
kali

(Dokumen pribadi, 2017)


Epitel
Kubus

Gambar 6. 19 Epitel kubus pembesaran 100


kali
Gambar 6. 20 Epitel kubus
(Dokumen pribadi, 2017)
(Georgia highlands, 2017)

Epitel
Silindris

Gambar 6. 22 Epitel silindris


Gambar 6. 21 Epitel silindris perbesaran 400
kali (Georgia highlands, 2017)

(Dokumen pribadi, 2017)

VII. Pembahasan
Pada praktikum invertebrata kali ini digunakan cumi-cumi,
udang, cacing tanah dan jangkrik sebagai hewan percobaan. Hewan-
hewan tersebut dipilih karena mudah didapat. Selain itu hewan tersebut
juga dapat memodelkan beberapa kelompok hewan invertebrata.
Dengan memilih model percobaan, maka proses pembelajaran terhadap
invertebrata akan lebih mudah.
Bagian tubuh jangkrik terdiri dari tiga bagian. Pada bagian
kepala tedapat sepasang mata majemuk, tiga mata tunggal yang disebut
ocelli, mulut, palpi, dan sepasang antenna. Terhubung dengan kepala
terdapat thoraks. Dibagian thoraks terdapat dua pasang kaki ambulatory
dan sepasang kaki lompat atau saltatori, dan dua pasang sayap. Pada
bagian abdomen terdapat sistem pernapasan trakea, pada ujung
abdomen terdapat organ khas pada jangkrik yaitu sepasang cerci sebagai
alat pengindra dan pada jangkrik betina terdapa ovipositor untuk
meletakan telur (Cricketcare, 2017).
Cacing tanah merupakan hewan invertebrata yang tergolong
pada kelompok anellida. Pada bagian ujung tubuhnya, dekat dengan
mulut, terdapat prostonium yang berfungsi sebagai organ pengindra.
Selain prostonium, cacing tanah juga memiliki seta di sepanjang
tubuhnya yang berfungsi juga sebagai alat pengindra. Tubuh cacing
tersusun atas segmen-segmen, namun terdapat ruas tanpa segmen yang
disebut clitellum. Clitellum menjadi salah satu pembeda cacing dengan
invertebrate lain. Fungsi utama clitellum sebagai penyimpan telur. Pada
segmen terakhir yang disebut periproct terdapat anus (Crow, 2012).
Udang merupakan anggota crustacea berkaki sepuluh. Udang
memiliki dua bagian tubuh utama yaitu chepalothoraks dan ambdomen.
Pada bagian chepalothoraks yang dilindungi carapace terdapat sepasang
mata majemuk, sepasang antennule, sepasang antenna, maxilla,
mandibula, lima pasang pereopod. Di antara kedua mata udang terdapat
tonjolan tajam dari karapas bernama rostrum yang berfungsi sebagai
alat bertahanan. Pada percobaan kali ini, anatomi internal udang tidak
dapat terlihat secara jelas. Hal tersebut diakibatkan rapuhnya daerah
kepala udang, khususnya pada bagian sekita organ pencernaan. Didalam
cheplaothoraks terdapat organ-organ seperti organ pencernaan,
pernapasan dan sistem saraf termasuk ganglion supraesophageal (Fox,
2001). Chephalothoraks udang terhubung dengan abdomennya.
Abdomen tersusun atas tujuh buah segmen, enam segmen ber-pleomere
dan segmen terakhir berupa telson. Pada bagian segmen terakhir terdapt
dua pasang uropod. Pada bagian abdomen juga terdapat lima pasang
kaki renang atau pleopod. Di dalam abdomen, selain terdapat otot, juga
terdapat usus dan pada ujung segmen terdapat anus.
Cumi-cumi bersamaan dengan gurita merupakan moluska yang
tergabung dalam kelompok chepalopoda. Cumi-cumi memiliki 10 kaki
yang tersambung dengan kepalanya. Pada cumi-cumi 10 kaki tersebut
terdiri dari empat pasang lengan dan sepasang tentakel. Pada kaki-kaki
cumi-cumi terdapat cawan penghisap yang berfungsi untuk menangkap
mangsa. Mulut cumi-cumi dilengkapi dengan paruh. Lalu tersambung
dengan bagian kepala terdapat bagian mantel. Mantel cumi-cumi
berfungsi sebagai pelindung organ internal. Di dalam mantel tersebut
terdapat organ pencernaan seperti sekum, hati, dan ginjal. Selain organ
pencernaan juga terdapat jantung, kantung tinta, gonad, sepasang insang
berbentuk bulu, dan insang (Sodano, 2017).
Pembedahan secara umum dilakukan untuk mengetahui anatomi
dari suatu makhluk secara lebih detail. Dalam pengaplikasiannya,
dengan mengetahui anatomi invertebrata secara mendetail akan
menunjang beberapa bidang lainnya seperti bidang perikanan. Salah
satu invertebrata yang penting dalam bidang perikanan adalah cumi-
cumi. Cumi-Cumi merupakan hasil kelautan di Indonesia yang
tergolong penting(Rudian, 2004). Bila terjadi suatu wabah yang
menyerang cumi-cumi, maka wabah tersebut akan dapat segera
dipelajari.

VIII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dan tinjauan pustaka, maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1. Morfologi Invertebrata; Jangkrik memiliki mata majemuk,
antenna, ocellus, labium,mandibula, sayap, spirakel, kaki tengah, kaki
depan, kaki belakang, epiproct, paraproct, sayap depan, sayap belakang
dan ovipositor; Cumi-cumi memiliki empat pasang lengan, dua pasang
tentakel, paruh, mata, dan sepasang sirip; Cacing memiliki prostonium,
peristomium, mulut, segmen, clitellum, periproct dan anus; Udang
memiliki mata majemuk, rostrum, antenna, karapas, pleomer, telson,
uropod, perepod, dan kaki renang(pleopod).
2. Organ Invertebrata; Jangkrik memiliki otak, jantung, tubulus
malphigi, sekum, usus besar, gonad, tubular hearth, crop dan gizzard;
Cumi-cumi memiliki gladius, usus, lambung, sekum, jantung, gonad,
rectum, otak, kelenjar pencernaan, dan radula; cacing memiliki otak,
pharynx, esophagus, crop, gizzard, pembuluh darah, pseudohearth dan
otot; udang memiliki lambung, kelenjar antenna, ganglion
supraesophageal, jantung, gonad, usus, dan kelenjar pencernaan.
DAFTAR PUSTAKA

Cricketcare.2017.Cricket Anatomy.Available at:


http://cricketcare.org/anatomy/[Accessed 1 September 2017]
Crow, William T. 2012. Earthworm - Crassiclitellata
terrimegadrili.Available at:
http://entnemdept.ufl.edu/creatures/MISC/MISC/Earthworm.htm[
Accessed 1 September 2017]
Cunningham, Paul F.1998. Animal Dissection in the College
Classroom.Available at:
http://www.rivier.edu/faculty/pcunningham/Research/Student_Choice_
in_the_Biology_Classr[Accessed 2 September 2017]
Firmansyah, M. A., et al. (2014). Karakterisasi Populasi dan Potensi Cacing
Tanah Untuk Pakan Ternak Dari Tepi Sungai Kahayan dan
Barito.Berita Biologi.13(3)333-334
Fox, Richard.2001.European House Cricket. Available at:
http://lanwebs.lander.edu/faculty/rsfox/invertebratas/acheta.html[Acce
ssed 1 September 2017]
Fox, Richard.2001.Farfanteoenaeus aztecus.Available at:
http://lanwebs.lander.edu/faculty/rsfox/invertebratas/farfantepenaeus.h
tml[Accessed 1 september 2017]
Georgia highlands. 2017.Epiclass.Available at:
http://www2.highlands.edu/academics/divisions/scipe/biology/faculty/
harnden/2121/images/epiclass.jpg[Accessed 2 september 2017]
Great Barier Reef Invertebrata.2017.Shrimp.Available at:
https://www.gbri.org.au/Portals/0/Images/s4217070/Shrimp1[1].gif[Ac
cessed 1 September]
Martini, F., Nath, J. L., & Bartholomew, E. F. (2015). Fundamentals of anatomy
& Physiology. Harlow, Essex: Pearson.9:4-5
Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L. 1., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V.,
Jackson, R., & Campbell, N. A. (2014). Campbell biology Tenth edition.
Boston: Pearson.10:1431.
Rudiana, E. (2004). Morfologi dan Anatomi Cumi-Cumi (Loligo duvauceli)
yang Memancarkan Cahaya. Ilmu Kelautan.9(2):96-100
Sadano, Meg.2017.Anatomy of a Squid.Available at:
http://portfolios.risd.edu/gallery/4362165/Anatomy-of-a-
Squid[Accessed 2 September 2017]
Sabar, F. (1979). Kehidupan Udang Regang, Macrobrachium sintangese.
Berita Biologi.2(3):43-45
San Diego Mirmar College.2017.Earthworm Dissection.Available at:
http://faculty.sdmiramar.edu/dtrubovitz/biol/earthworm/[Accessed 2
September 2017]
Widyaningrum, P., et al. (2000). Produktivitas Dua Jenis Jangkrik Lokal
Gryillus testaceus dan Gryllus mitratus yang Dibudidayakan. Berita
Biologi.5(2):169-170