Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KELAS RANGKAP

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah

Dosen Pengampu:

Drs. Noto Suharto,M.Pd

Disusun oleh:

Muzoda Azizi (1401415091)

Laelatul Khusniati (1401415128)

Novi Istiqomah (1401415290)

Kurniasih (1401415313)

Afiyah Khofifah (1401415433)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia mempunyai wilayah yang luas dan terdiri dari ribuan pulau tak
dapat di hindari adanya permasalahan penyebaran dan permasalahan perbedaan.
Salah satu permasalahan di indonesia yaitu mengenai permasalahan pendidikan, di
indonesia belum mampu menyebarkan guru secara menrata keseluruh pelosok
negeri. Akibatnya masih terjadi kekurangan tenaga pendidik di mana mana.
termasuk di Papua masih mengalami masalah kekurangan guru SD sekitar 4000
orang. Dalam masalah perbedaan kualitas hasil belajar, pada umumnya murid
SD di kota-kota besar jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang
berada di daerah, terutama di daerah yang terpencil. Akibat kekurangan guru
mungkin saja akan menambah adanya perbedaan ini. Namun demikian,
mengajar dengan merangkap kelas bukan berarti merupakan penyebab
terjadinya kurang baiknya kualitas hasil belajar. Mungkin hal ini dikarenakan
kita belum menemukan teknik yang tepat untuk melakukan Pembelajaran Kelas
Rangkap(PKR). Jangan mempunyai anggapan bahwa PKR merupakan suatu
masalah yang sulit untuk diatasi. Namun, kita harus menanamkan pemahaman
bahwa PKR adalah suatu tantangan dan kenyataan yang harus kitahadapai
sebagai tugas guru SD.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Pendidikan Kelas Rangkap?
2. Bagaimana Prinsip Dasar Pendidikan Kelas Rangkap?
3. Bagaimana Pola Dasar Pendidikan Kelas Rangkap?
4. Apa saja model pembelajaran Pendidikan Kelas Rangkap?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian Pendidikan Kelas Rangkap
2. Mengetahui Prinsip Dasar Pendidikan Kelas Rangkap
3. Mengetahui Pola Dasar Pendidikan Kelas Rangkap
4. Mengetahui model pembelajaran Pendidikan Kelas Rangkap
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN KELAS RANGKAP (PKR)


PKR adalah suatu bentuk pembelajaran yang mempersyaratkan
seorang guru mengajar dalam satu ruang kelas atau lebih, dalam waktu yang
sama, dan menghadapi dua atau lebih tingkat kelas yang berbeda. PKR juga
mengandung arti bahwa, seorang guru mengajar dalam satu ruang kelas atau
lebih dan menghadapi murid-murid dengan kemampuan belajar yang berbeda.
Alasan Pembelajaran Kelas Rangkap
1. Alasan Geografis
Lokasi pembelajaran yang sulit dijangkau, terbatasnya sarana
transportasi, dan pemukiman penduduk yang jaraknya berjauhan, serta
adanya ragam mata pencaharian penduduk misalnya berladang, mencari
ikan bahkan menebang kayu atau mencari sesuatu di hutan, maka hal ini
dapat mendorong penggunaan PKR.
2. Alasan Demografis
Mengajar murid dengan jumlah yang kecil, atau murid yang tinggal
di pemukiman yang jarang penduduknya, maka PKR merupakan
pendekatan yang tepat dan praktis. Agar tidak ada pemborosan dalam
tenaga guru, maka PKR merupakan cara pembelajaran yang dapat dibilang
praktis dan ekonomis.
3. Kekurangan Guru
Meskipun jumlah guru secara keseluruhan bisa dikatakan cukup,
namun pada kenyataannya masih ada keluhan kekurangan guru, terutama
di daerah-daerah terpencil. Apalagi bila secara geografis daerah tersebut
sulit dijangkau, maka akan membuat guru takut ditugaskan di daerah itu.
Rendahnya minat guru untuk mengadu nasib di daerah terpencil, juga
disebabkan beberapa faktor. Misalnya mahalnya harga keperluan sehari-
hari, sulitnya alat transportasi, gaji yang terlambat, bahkan terbatas
peluang untuk mendapatkan pengembangan karirnya. Oleh karena itu
untuk menjadi guru di daerah seperti itu perlu adanya keeklasan dan penuh
sukacita, dan kesiapan mental dari guru tersebut.
4. Keterbatasan Ruang Kelas
Di daerah yang jumlah muridnya sangat sedikit, tidak memerlukan
ruang kelas lebih banyak. Tetapi, di daerah lain meskipun sudah
mempunyai ruang kelas sesuai dengan jumlah tingkatan kelas, masih
belum cukup karena jumlah rombongan belajar lebih besar.
Nah untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu
menggabungkan dua atau lebih klas yang diasuh atau dibimbing oleh
seorang guru. Dengan demikian PKR diperlukan.
5. Kehadiran guru
Ketidak hadiran guru , bukan saja dialami oleh sekolah di daerah
terpencil, di kota besar pun juga mengalaminya. Seperti di Jakarta,
musibah banjir dapat menghambat kehadiran guru untuk melaksanakan
tugasnya. Guru yang tidak kena musibah harus mengajar kelas yang
tidak ada gurunya. Belum lagi alasan lain misalnya sakit, cuti, atau ada
kegiatan berberkaitan meningkatkan professional dan kualifikasi guru

B. Prinsip Dasar Pendidikan Kelas Rangkap


Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR), merupakan salah satu bentuk
pembelajaran yang perlu dikuasai oleh guru SD. Pembelajaran mengandung
makna yang berbeda dari kegiatan belajar- mengajar. Pada kegiatan belajar-
mengajar, mengandung makna ada guru yang memungkinkan terjadinya
belajar. Sedangkan pada pembelajaran, kegiatan belajar dapat terjadi
dengan atau tanpa guru. Artinya, murid dapat belajar dalam berbagai situasi
tanpa tergantung pada guru.
Prinsip-prinsip khusus Pendidikan Kelas Rangkap sebagai berikut :
1. Keserempakan Kegiatan Pembelajaran
Dalam PKR guru menghadapi dua kelas atau lebih pada waktu
yang bersamaan. Oleh karena itu, prinsip utama PKR adalah kegiatan
belajar mengajar terjadi secara bersamaan atau serempak.
2. Kadar Waktu Keaktifan Akademik (WKA) tinggi.
Selama PKR berlangsung, murid aktif menghayati pengalaman
belajar yang bermakna. PKR tidak memberi toleransi pada banyaknya
WKA yang hilang karena guru tidak terampil mengelola kelas. Misalnya,
waktu tunggu yang lama, pembentukan kelompok yang lamban, atau
pindah kelas yang memakan waktu. Kualitas dan lamanya kegiatan
berlangsung menentukan tinggi rendahnya kadar WKA.
3. Kontak Psikologis guru dan murid yang berkelanjutan
Guru harus mampu melakukan tindakan instruksional dan tindakan
pengelolaan yang tepat. Tindakan instruksional adalah tindakan yang
langsung berkaitan dengan penyampaian isi kurikulum, seperti
menjelaskan, memberi tugas, atau mengajukan pertanyaan. Tindakan
pengelolaan adalah tindakan yang berkaitan dengan penciptaan dan
pengembalian kondisi kelas yang optimal. Misalnya, menunjukkan sikap
tanggap dan peka, mengatur tempat duduk, memberi petunjuk yang jelas
atau menegur murid.
4. Pemanfaatan Sumber Secara Efisien
Sumber dapat berupa peralatan/sarana, orang dan waktu. Agar
terjadi WKA yang tinggi, semua jenis sumber harus dimanfaatkan
secara efisien. Lingkungan, barang bekas, dan segala peralatan
yang ada di sekolah dapat dimanfaatkan oleh guru PKR. Demikian
dengan orang dan waktu. . Kemampuan murid untuk belajar mandiri
akan memungkinkan guru PKR mengelola pembelajaran secara lebih
baik sehingga kadar WKA menjadi semakin tinggi.

C. Pola Dasar Pendidikan Kelas Rangkap


Dilihat dari pengorganisasian mata pelajaran, kelas atau rombongan
belajar dan ruangan terdapat beberapa pola dasar pkr sebagai berikut.
Model PKR 211 : Dua kelas, satu mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 221 : Dua kelas,dua mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 311 : Tiga kelas, satu mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 321 : Tiga kelas, dua mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 322 : Tiga kelas, dua mata pelajaran, dua ruangan
Model PKR 333 : Tiga kelas, tiga mata pelajaran, tiga ruangan
Model PKR 222 : Dua kelas, dua mata pelajaran, dua ruangan
Model PKR 111 : Satu kelas, satu mata pelajaran dengan dua atau tiga topik
berjenjang, satu ruangan.
Sebagai contoh singkat dapat dikemukakan sebagai berikut.
Model PKR 211 : Kelas I dan II belajar menyanyi dalam satu ruangan
Model PKR 221 : Kelas III belajar IPA dan kelas IV belajar IPS dalam satu
ruangan
Model PKR 222 : Kelas III belajar IPA di ruangan 1 dan kelas IV belajar
IPS di ruangan 2 yang terhubung dengan ruang 1
Model PKR 311 : Kelas IV, V, dan VI belajar menyanyi dalam satu ruangan
Model PKR 321 : Kelas I dan II belajar menulis, dan kelas III belajar
Matematika dalam satu ruangan
Model PKR 322 : Kelas III dan VI belajar IPS di ruangan 1 dan kelas V
belajar IPA di ruangan 2 yang terhubung ke tuangan 1
Model PKR 333 : Kelas IIIbelajar IPA, kelas IV belajar IPS dan kelas V
belajar Matematika di tiga ruangan yang satu sama lain
terhubung dengan pintu.

Dilihat dari sudut pengelolaan kelas khususnya dalam penanganan


disiplin siswa, model PKR 211, 221, 311, dan 321 lebih terkendali dari pada
model PKR 222, 322, dan 333. Dapat kita pahami bahwa mengelola satu
ruangan lebih terkonsentrasi daripada lebih dari satu ruangan. Malah sangat
dianjurkan untuk lebih banyak menggunakan model 211, 221, 311, dan 321
bila jumlah gabungan siswa kedua atau ketiga kelas itu paling banyak 30
orang. Bila lebih dari 30 orang dianjurkan menggunakan model PKR 222,
322, atau 333.
Khusus untuk model PKR 111 yakni satu kelas belajar satu mata
pelajaran dengan beberapa topik yang berbeda dalam satu ruangan merupakan
model PKR neka aras atau multi-level teaching. Model ini memerlukan
pengorganisasian siswa dengan menerapkan prinsip perbedaan individual dan
belajar tuntas. Model ini akan berjalan dengan baik bila didukung oleh
sumber belajar yang diindividualisasikan dan bersifat modular misalnya
menggunakan modul atau kit.
Di dalam menerapkan pola dasar PKR selain model PKR III ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti berikut:
a) Kelas yang dapat dirangkap dalam satu ruangan adalah kelas I, II, III atau
kelas IV, V, VI atau kelas I, II atau III, IV. Kelas I, II sebaiknya tidak
dirangkap dalam satu ruangan dengan kelas IV, V, VI karena alasan
perbedaan usia dan perbedaan lama belajar. Bila terpaksa, dalam ruangan
itu dibuat dua begian dengan memakai partisi/penyekat tidak permanen
setinggi bahan guru.
b) Mata pelajaran yang menekankan pada keterampilan malafalkan atau
bersuara seperti membaca, menyanyi atau bergerak seperti praktek olah
raga tidak boleh dirangkap dengan mata pelajaran yang menekankan
pada proses kognitif seperti matematika, IPA, IPS, PKn, atau Bahasa
indonesia. Alasannya adalah dalam pembelajaran aspek kognitif siswa
memerlukan konsentrasi dalam berfikir yang apabila dirangkap engan
pembelajaran keterampilan gerak atau verbal satu sama lain akan merasa
saling terganggu
c) Perangkapan kelas dalam ruangan leih dari tiga tidak dianjurkan karena
sukar untuk dikelola antara lain guru akan sangat repot mengesak dari
kelas ke kelas.

D. Model Pembelajaran Pendidikan Kelas Rangkap


Sesuai dengan prinsip khusus PKR seperti dibahas pada bagian A bab
ini, pelaksanaan PKR memerlukan penerapan berbagai model pembelajaran
yang berpotensi mengaktifkan siswa. Mengenai model tersebut, Winataputra
(1997) mengadaptasi beberapa model yang tercakup dalam dua kelompok,
yaitu:
1. Proses Belajar Arahan Sendiri (PBAS)
Model PBAS merupakan suatu kerangka kegiatan belajar atas
prakarsa siswa atau secara mandiri dengan mendapat bimbingan
seperlunya dari guru. Dalam model ini guru berparan sebagai pemberi
kemudahan belajar atau facilitator of learning , misalnya menyediakan
sumber belajar, memberi petunjuk, memberi dorongan, mengecek
kemajuan belajar, memberi balikan dan mengecek hasil belajar siswa.
Langkah-langkah :

Kegiatan Guru Kegiatan Siswa


1. Menyediakan sumber 1.Penyeleksian
belajar -menemukan informasikan
esensial/inti
-membuat catatan tentang butir-butir
yang penting
-mengeksplorasi ide pokok

2. Memberikan penugasan 2. pemahaman


belajar (1) -melihat bahan lebih awal
-menggunakan isarat kontekstual
-mencari sumber bahan
3. Mengecek kemajuan 3. penguatan ingatan
belajar (2) -mengkaji ulang bahan
-mengingat butir penting
-mengetes sendiri
-merancang cara belajar sendiri
4. Memberikan penugasan 4.penjabaran lanjutan
belajar lanjut (2) -bertanya pada diri sendiri
-membentuk citra sendiri
-menarik analogi dan metapora
5. Mengecek kemajuan 5.pengintegrasian
belajar (2) -mengungkapkan sendiri
-membuat ilustrasi atau diagram
-menggunakan banyak sumber
-mengaitkan dengan pengetahuan
yang telah dimiliki
-menjawab permasalahan sendiri
6. Mengevaluasi hasil belajar 6.pengecekan
siswa -mengecek apa yang telah dikuasai
-menyadari kekuatan dan kelemahan
diri sendiri
Belajar mandiri dapat dilakukan secara mandiri ataupun
kelompok. Inti dari belajar mandiri adalah mencari dan mengolah
informasi atas dasar dorongan belajar dari dalam diri. Walaupun model ini
akan diterapkan di SD, arahan guru masih tetap diperlukan dalam kadar
yang tidak terlalu besar. Berilah petunjuk yang sesingkat, sejelas, setegas
mungkin. Model ini harus menjadi intinya PKR. Guru berperan dalam
memelihara kelangsungan kegiatan tersebut.
2. Proses Belajar Melalui Kerja Sama (PBMKS) terdiri atas model-model
sebagai berikut :
a. Model Olah Pikir Sejoli (MOPS)
MOPS merupakan kerangka kegiatan belajar secara
berpasangan. Setiap pasang siswa ditugasi untuk melakukan suatu
kegiatan secara bersama-sama di bawah kontrol guru.
Langkah-langkah MOPS:
Tahap 1 : siswa menyimak pertanyaan atau tugas yang diberikan guru.
Tahap 2: Semua murid diberi kesempatan untuk memikirkan jawaban
atas pertanyaan tersebut.
Tahap 3: Guru memberi isyarat agar siswa secara berpasangan dengan
siswa lain yang duduk di sampingnya untuk mendiskusikan
jawaban atau mengerjakan tugas yang telah dipikirkan
sendiri. Setiap pasangan diminta untuk merumuskan jawaban
yang disepakati berdua.
Waktu untuk mengerjakan setiap tahap diatur oleh guru secara
kondisional.
Model OPS diadaptasi dari Model Think, Pair, Share .
Model ini menitikberatkan pada komunikasi banyak arah secara
bertahap. Tahap pertama dan kedua mewadahi komunikasi satu arah
(guru-murid) dengan respon dalam bentuk komunikasi dalam diri.
Tahap ketiga mewadahi komunikasi timbale balik dalam kelompok
kecil dua orang sebagai persiapan komunikasi banyak arah dalam
diskusi kelas pada tahap keempat. Pada dasarnya model ini memiliki
tujuan pembinaan kerja sama dan komunikasi sosial. Model ini dapat
digunakan dalam kelas PKR khususnya dalam satu atau lebih dari satu
mata pelajaran yang menampilkan satu topik umum yang ditata
menurut sistematikanya.Dalam suasana PKR dengan satu ruangan
(PKR 211) pasangan diskusi dapat terdiri dari dua murid berbeda kelas.
Dalam penggunaan model ini guru berperan sebagai penanya ,
moderator atau pengatur, dan pengelola kelas.
b. Model Olah Pikir Berebut (MOPB)
MOPB merupakan kerangka kegiatan belajar yang menekankan
pada proses berpikir menyebar atau divergent thinking secara
dialogis.
Model OPB memiliki langkah-langkah sebagai berikut:
Tahap 1: Guru mengajukan pertanyaan yang meminta banyak jawaban
Tahap 2: Siswa seacara perorangan berpikir dan selanjutnya member
jawaban secara lisan.
Model OPB ini diadaptasi dari model Roundrobin dari Kagan
(1989) dalam Miler (1989). Model ini termasuk dalam ke dalam proses
curah pendapat atau yang dirangsang dengan pertanyaan menyebar
yakni pertanyaan yang menuntut banyak jawaban yang bervariasi. Pola
PKR yuang cocok sebagai arena penerapan ini adalah pola satu atau
lebih dari satu kelas dalam satui ruangan untuk membahasa satu atau
lebih dari satu mata pelajaran yang mempunyai topik umum yang ditata
dengan penggugusan topik dan subtopik. Tujuan model ini bukanlah
untuk mendapatkan suatu kesimpulan tetapi untuk melibatkan
sebanyak-banyaknya murid dalam menggali sebanyak-banyuaknya
pendapat. Peran guru yang utama adalah sebagai penanya sesuai tujuan
pembelajaran, moderator, dan manajer kelas.
c. Model konsultasi Intra Kelompok (MKIK)
MKIK merupakan kerangka kegiatan belajar kelompok dalam
memecahkan masalah dengan menggunakan sumber belajar yang
tersedia.
MKIK memiliki langkah-langkah sebagai berikut:
Tahap 1: Siswa diminta menyiapkan alat tulis. Semua pena disimpan
ditengah mneja setiap kelompok
Tahap 2: Seorang siswa opada setiap kelompok diminta membacakan
pertanyaan pertama dari beberapa pertanyaan yang telah
disiapkan guru.
Tahap 3: Semua siswa mencari jawaban dari buku yang tersedia atau
dari hasil diskusi kelompok.
Tahap 4: Siswa yang duduk sebelah kiri pembaca pertanyaan pada
setiap kelompok, ditugaskan untuk mengecek apakah setiap
murid dalam kelompok mengerti maksud pertanyaan dan
menyepakati jawabannya.
Tahap 5: Bila telah dicapai kesepakatan mengenai jawaban atas
pertanyaan itu, semua murid mengambil pena masing-masing
dan menuliskan jawaban dengan kata-kata sendiri pada buku
catatan masing-masing.
Tahap 6:Selanjutnya dengan mengikuti urutan satu sampai lima
meneruskan kegiatan untuk pertanyaan kedua dan seterusnya
sampai setiap murid dalam kelompok mendapat giliran
membacakan pertanyaan dan memelihara disiplin kelas.
Saran Penggunaan
Model KIK ini diadaptasi dari model Team-mate Consult dari
Kagan (1989) dan Miler (1989). Tujuan model ini adalah untuk
mengembangkan kemapuan dan kebiasaan saling berbagai ide dan
membuat kesepakatan bersdama mengenai sesuatu hal serta
menuangkan hasil kesepakatan itu dengan bahsa sendiri. Model ini
dapat diterapkan dalam kelas PKR baik yang dilakukan dalam satu atau
lebih dari satu ruangan. Pokok yang dipelajari dapat berupa topic dalam
satu atau lebih dari satu mata pelajaran. Yang perlu dicatat ialah
pengelompokkan murid sebaiknya menurut kelas mungkin akan lebih
cocok digunakan dikelas IV keatas dimana murid sudah bisa
mneuliskan buah pikirannya
d. Model Tutorial Teman Sebaya (MTTS)
Model Tutorial Teman Sebaya (MTTS) merupakan kegiatan
belajar siswa dengan memanfaatkan teman sekelasnya yang memiliki
kemampuan lebih untuk membantu temannya dalam melakukan sesuatu
kegiatan atau memahami suatu konsep.
Model TTS memiliki langkah-langkah sebagai berikut:
Tahap 1 : Pilihlah siswa yang memiliki kemamppuan di atas rata-rata.
Tahap 2: Berikan tugas khusus untuk membantu temannya dalam
bidang tertentu.
Tahap 3: Guru selalu memantau proses saling memebantu tersebut.
Tahap 4: Berikan penguatan kepada kedua belah pihak agar baik anak
yang membantu maupun yang dibantu merasa senang.
Saran Penggunaan
Model TTS dirancang untuk mengembangkan sikap dan
kebiasaan saling membantu antar teman sebaya. Miller (1989)
memberikan beberapa saran untuk dapat berhasilnya program tutorial
sebagai berikut:
1. Mulailah dengan tujuan yang jelas dan mudah dicapai
2. Jelaskan tujuan itu kepada seluruh kelas
3. Siapkan bahan dan sumber belajar yang memadai
4. Gunakanlah cara yang praktis
5. Hindari kegiatan pengulangan yang telah dilakukan guru
6. Pusatkan kegiatan tutorial pada keterampilan pikiran yang diminta
di kelas
7. Berikan latihan singkat mengenai yang akan dilakukan tutor
8. Lakukanlah pemantauan terhadap proses belajar yang terjadi
melalui tutorial dalam memanfaatkan tutor sebaya guru berperan
sebagi manusia yang akan dimintakan keterangan,petunjuk, dan
sarannya oleh murid yang ditugasi sebagai tutor sebaya. Jagalah
agar murid yang menjadi tutor tidak bersikap sombong.
e. Model Tutirial Lintas Kelas (MTLK)
Model Tutorial Lintas Kelas atau MTLK merupakan kerangka
kegiatan belajar siswa dengan memanfaatkan siswa lain kelas yang
lebih tinggi untuk membantu siswa kelasnya dalam memahami atau
mengerjakan sesuatu.
Model MTLK memiliki langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pilih siswa yang memiliki kemampuan di atas- rata-rata di kelas di
atasnya
2. Berikan tugas khusus untuk membantu siswa adik kelasnya
3. Guru selalu memantau proses saling membantu tersebut
4. Berikan penguatan kepada kedua belah pihak agar siswa yang
membantu maupun yang dibantu agar mereka merasa senang
Saran Penggunaan
Model TLK digunakan secara lintas kelas. Murid kelas yang
lebih tinggi, misalnya murid kelas VI yang pandai ditugasi untuk
membantu kelompok kelas dibawahnya. Semua saran Miller (1989)
untuk model TTS berlaku untuk model ini.
f. Model Diskusi Meja Bundar (MDMB)
Model Diskusi Meja Bundara tau MDMB merupakan kerangka
kegiatan belajar sisa yang bersifat mengundang pendapat siswa secara
tertulis dalam suasana terstruktur.
Model DMB memiliki langkah-langkah sebagai berikut:
Tahap 1: Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil berjumlah 3-4 orang
Tahap 2: Guru mengajukkan pertanyaan secara tertulis atau lisan yang
menuntut banyak jawaban
Tahap 3 : Selembar kertas diedarkan dalam setiap kelompok. Secara
bergilir setiap murid dalam kelompok itu, menuliskan
jawaban terhadap pertanyaan menurut pendapatnya sendiri.
Saran Penggunaan
Model DMB ini diadaptasi dari model Roundtable dari Kagan
tahun 1989 dalam Miller (1989). Tujuan model ini ialah
mengembangkan keterampilan mengemukakan ide secara tertulis
melalui situasi kerja kelompok. Model ini mirip dengan model OPB,
hanya dalam model OPB jawaban murid disampaikan secar lisan.
Penggunaan model ini akan lebih tepat di kleas IV ke atas.
g. Model Tugas Diskusi Resitasi (MTDR)
Model Tugas Diskusi Resitasi (MTDR) merupakan kerangka
kegiatan belajar siswa dalam rangkaian kegiatan melaksanakan tugas,
mendiskusikan tugas, dan melaporkan hasil pengerjaan tugas tersebut.
Langkah-langkah
Tahap 1 : Pemberian tugas dari guru
Tahap 2 : Pelaksanaan diskusi kelompok siswa
Tahap 3 : Pelaporan hasil diskusi siswa
Selama proses berlangsung guru memantau, member balikan,
dan memelihara disiplin kelas.
Saran Penggunaan
Model MTDR merupakan kombinasi dari metode pemberian
tugas dan diskusi. Model ini cocok digunakan di kelas IV ke atas.
Tujuan model ini tertuju pada pengembangan keterampilan akademis
yang dicapai melalui situasi kerjasama. Dalam model ini guru berperan
sebagai manager kelas, narasumber, dan penilai/pemonitor.
h. Model Aktivitas Tertutup (MATTU) dan Aktivitas Tugas Terbuka
(MATTA)
Kedua model tersebut (MATTA dan MATTU) merupakan
kerangka kegiatan belajar melalui pemberian tugas kepada siswa secara
terarah pada satujawaban atau banyak jawaban.
Langkah-langkah
Model ATTA dan ATTU merupakan model pemberian tugas.
Tidak memiliki langkah khusus, karena itu berlaku prosedur pemberian
tugas biasa. Yang khas dari kedua model ini salah satunya ialah dalam
sifat isi tugasnya. Tugas tertutup berbentuk tugas yang hanya
memerlukan satu jawaban yang benar. Sedangkan tugas terbuka
berbentuk tugas yang menuntut hasil yang beraneka ragam misalnya
tugas membuat karangan.
Cara memelihara suasana belajar
Dari pengalaman kita ketahui bahwa situasi ruangan tempat
pembelajaran kelas rangkap berlangsung akan berbeda dengan situasi dari
pembelajaran kelas tunggal. Yang membedakan kelas PKR dari kelas lain.
antara lain dalam hal keragaman dalam kelas PKR. Yang dimaksudkan
dengan keragaman di sini adalah:
1. kelompok siswa dari dua kelas atau lebih,
2. satu atau lebih dari satu mata pelajaran yang diajarkan,
3. satu atau lebih dari satu topik yang dibahas,
4. satu atau lebih dari satu model belajar yang digunakan,
5. satu atau lebih dari satu ruang belajar yang dipakai, waktu yang
bersamaan dihadapi serta dikelola hanya satu orang guru.
Dengan kata lain seorang guru harus mampu menangani
keragaman tersebut secara terencana.
Menghadapi seperti itu Anda sebagai calon guru dituntut untuk dapat:
1. memelihara disiplin kelas untuk memungkinkan setiap siswa selalu
berada dalam tugas belajarnya dan tidak mengganggu siswa lainnya;
2. menciptakan dan memelihara suasana kelas yang menarik, artinya
siswa dan guru merasa betah dan senang, artinya siswa dan guru tidak
merasa bosan melakukan kegiatan belajar-mengajar di sekolahnya;
dan
3. selalu sadar merasa terikat oleh tujuan belajar yang telah dirumuskan
dengan tepat berani mengambil keputusan transaksional yakni
mengambil keputusan yang diambil pada saat berlangsungnya
pembelajaran demi mencapai hasil belajar murid yang setinggi-
tingginya
BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
PKR adalah suatu bentuk pembelajaran yang mempersyaratkan seorang
guru mengajar dalam satu ruang kelas atau lebih, dalam waktu yang sama, dan
menghadapi dua atau lebih tingkat kelas yang berbeda. Pembelajaran kelas
rangkap tidak hanya di lakukan di negara yang masih berkembang, namun
pembelajaran kelas rangkap juga telah di lakukan di negara-negara maju seperti
contoh di california,cina dan yang lainnya dan terbukti berhasil.
Prinsip-prinsip khusus Pendidikan Kelas Rangkap sebagai berikut :
1. Keserempakan Kegiatan Pembelajaran
2. Kadar Waktu Keaktifan Akademik (WKA) tinggi.
3. Kontak Psikologis guru dan murid yang berkelanjutan
4. Pemanfaatan Sumber Secara Efisien
Model pembelajaran kelas rangkap :
Model PKR 211 : Dua kelas, satu mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 221 : Dua kelas,dua mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 311 : Tiga kelas, satu mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 321 : Tiga kelas, dua mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 322 : Tiga kelas, dua mata pelajaran, dua ruangan
Model PKR 333 : Tiga kelas, tiga mata pelajaran, tiga ruangan
Model PKR 222 : Dua kelas, dua mata pelajaran, dua ruangan
Model PKR 111 : Satu kelas, satu mata pelajaran dengan dua atau tiga topik
berjenjang, satu ruangan.
DAFTAR PUSTAKA
Djalil, A., 2004. Pembelajaran Kelas Rangkap, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. Jakarta : Universitas Terbuka

Joni, R., 1996. Pembelajaran Merangkap Kelas (Naskah disiapkan untuk


Pelatihan Guru Pamong). Jakarta : BP3GSD.

Degeng, I.N.S, 1997. Strategi Pembealjaran Mengorganisasi Isi dengan Model


Elaborasi. Malang: Universitas Negeri Malang bekerjasama dengan Biro
Penerbit IPTPI Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai