Anda di halaman 1dari 9

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Proses Anaerob


Proses anaerob merupakan proses pengolahan air limbah yang memanfaatkan aktivitas
pertumbuhan mikroorganisme yang berkontak dengan air buangan, sehingga mikroorganisme
tersebut dapat menggunakan pencemar-pencemar yang ada sebagai bahan makanan dalam kondisi
lingkungan tanpa keberadaan oksigen (Qasim,1985, dari Madyanova, 2005). Jika terdapat oksigen
bebas dalam sistem pengolahannya, maka mikroorganisme anaerob akan terganggu
pertumbuhannya atau bahkan akan mati. Penguraian senyawa organik seperti karbohidrat, lemak
dan protein yang terdapat dalam limbah cair dengan proses anaerob dapat menghasilkan biogas
yang mengandung metana (50-70%), CO2 (25-45%) dan sejumlah kecil nitrogen, hidrogen dan
hidrogen sulfida. Berdasarkan jumlah tahapan reaksi, dalam pengolahan air limbah seara anaerob
ini dapat dibagi menjadi dua macam sistem pengolahan, yaitu pengolahan satu tahap dan
pengolahan dua tahap. Reaksi sederhana degradasi senyawa organic secara anaerob:

Senyawa organik + mikroorganisme anaerob CH4 + CO2 + H2 + N2 + H2O

Tabel berikut ini menunjukkan klasifikasi mikroba berdasarkan sumber energi dan karbonnya :

Klasifikasi Sumber Energi Sumber Karbon


Autotrofik Cahaya CO2
Fotoautotrofik Reaksi redoks anorganik CO2
Kemoautotrofik
Heterotrofik Reaksi redoks organik Karbon Organik
Kemoheterotrofik Cahaya Karbon Organik
Fotoheterotrofik

Dari tabel dapat diketahui bahwa mikroba yang berperan paling besar pada penyisihan
materi organik (oksidasi) adalah kemoheterotrof, karena mikroorganisme tersebut menggunakan
materiorganik sebagai sumber energi dan karbonnya. Yang termasuk kelompok mikroorganisme
kemoheterotrof adalah protozoa, jamur dan kebanyakan bakteri (Metcalf dan Eddy, 1991).

2.2 Tahapan Proses Pengolahan Biologi secara Anaerob


Pada dasarnya ada dua tingkat temperatur pengoperasian untuk proses anaerob secara
konvensional, yaitu :
Mesophilic yang memiliki suhu optimum sekitar 37-41C atau pada temperatur ambien
antara 20-45C dengan memanfaatkan bakteri mesophilic.
Thermophilic yang memiliki suhu optimum sekitar 50-52C atau pada temperatur tinggi di
atas 70C dengan memanfaatkan bakteri thermophilic.

Waktu tinggal (detensi) dalam reaktor anaerob bervariasi, tergantung jumlah substrat, jenis
substrat, dan temperatur dalam reaktor. Pengolahan secara mesophilic memiliki waktu detensi
antara 15 sampai 30 hari. Sedangkan untuk tahap thermophilic, proses bisa berlangsung kebih
cepat, yaitu hanya sekitar 2 minggu. Proses thermophilic lebih mahal dibandingkan mesophilic,
selain itu juga memerlukan energi yang lebih besar, dan kurang stabil. Oleh karena itulah, proses
pengolahan secara anaerob pada umumnya terjadi pada tingkat mesophilic. Proses pengolahan
materi organik secara biologi anaerob sampain menghasilkan senyawa-senyawa kimia sederhana,
melibatkan sejumlah bakteri yang dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :

1. Kelompok pertama terdiri dari bakteri fermentasi

Bakteri ini berperan dalam proses hidrolisis dan asidogenesis. Proses ini melibatkan peran
ekso-enzim untuk menghidrolisis materi-materi polimer, seperti protein, lemak, dan karbohidrat
menjadi senyawa-senyawa organik yang lebih sederhana. Bentuk yang lebih sederhana ini
memungkinkan senyawa senyawa tersebut masuk ke dalam sel dan melakukan proses oksidasi-
reduksi sehingga menghasilkan asam-asam volatil, karbondioksida, dan hidrogen.

2. Kelompok kedua terdiri dari bakteri asetogenik

Bakteri asetogenik bertugas memecah produk yang dihasilkan pada tahap asidifikasi untuk
membentuk asetat, hidrogen, dan karbondioksida.
3. Kelompok ketiga terdiri dari bakteri metanogenik

Bakteri ini berperan dalam konversi asetat atau karbondioksida dan hidrogen menjadi gas
metan. Dalam proses pengolahan secara anaerob, substrat metanogenik lain seperti methanol,
karbonmonoksida, dan metilamine tidak banyak diperlukan.
Tahapan-tahapan proses anaerob oleh ketiga kelompok bakteri tersebut dapat dilihat pada gambar
berikut (Shuler dan Kargi, 1992)

Toerien et al. (1970), dari Madyanova, 2005, membagi proses biokimia anaerobik menjadi empat
fase yang terdiri dari hidrolisa, asidogenesa, asetogenesa, dan metanogenesa.
a. Hidrolisa
Merupakan tahap pemutusan rantai atau pemecahan molekul bahan organik kompleks yang
panjang menjadi lebih pendek sehingga terbentuk bahan organik yang lebih sederhana. Bahan
organik sebagai sumber nutrien diserap dari substrat atau dalam hal ini adalah limbah cair.
Pemutusan rantai bertujuan agar bahan organik tersebut lebih mudah diserap dan dicerna oleh
bakteri dalam metabolismenya. Menurut Gaudy dan Lim (1980) serta Horan (1990), senyawa
organik yang akan dikonsumsi mengalami pelarutan dan reduksi ukuran molekul untuk
memudahkan transpor melalui membran sel. Proses ini didukung oleh enzim-enzim ekstraseluler
yang dihasilkan mikroorganisme sebagai katalisator. Contohnya adalah pemecahan karbohidrat,
lemak dan protein menjadi molekul-mulekul gula, peptida dan asam amino. Molekul hasil
hidrolisa akan dimanfaatkan mikroorganisme sebagai sumber karbon dan energi.
b. Asidogenesa
Pada tahapan ini terjadi penguraian lebih lanjut dari sebagian materi-materi organik hasil
proses hidrolisa menjadi senyawa-senyawa alkohol dan asam-asam volatil seperti metanol, etanol,
asam butirat, formiat, propionat dan lain-lain. Proses ini dilakukan oleh bakteri-bakteri pembentuk
asam yang bersifat fakultatif. Asam-asam yang terbentuk akan menurunkan pH sehingga
diperlukan kontrol pH agar tidak menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk metan yang
membutuhkan pH optimal 6,5-8.
c. Asetogenesa
Asam-asam volatil, alkohol dan sebagian materi-materi organik hasil proses hidrolisa
diubah menjadi asam asetat, asam formiat, H2 dan CO2. Tahapan ini penting untuk
menghindarkan akumulasi asam lemak volatil yang menghambat terjadinya tahapan
metanogenesa. Gas H2 dihasilkan oleh bakteri penghasil hidrogen melalui proses hidrogenesa.
Bakteri jenis ini dapat menghasilkan asam tetapi tidak semua bakteri penghasil asam dapat
menghasilkan gas H2. Oleh karena itu bakteri jenis ini dimasukkan kedalam jenis bakteri penghasil
asam. Bila gas H2 tidak terbentuk maka fase nonmetanogen menghasilkan sedikit penurunan COD
karena tidak semua elektron yang lepas dalam oksidasi senyawaorganik diterima akseptor organik
dalam media. Sedangkan bila gas H2 terbentuk penurunan COD akan lebih signifikan.
d. Metanogenesa
Merupakan tahap terakhir proses anaerob dimana terbentuk metan (CH4) dan CO2 sebagai
produk akhir. Asam asetat diubah menjadi CH4 dan CO2 dan kemudian CO2 direduksi menjadi
CH4. Keberadaan asam asetat merupakan prekursor dari terbentuknya gas metan (CH4) di dalam
reaktor. Persamaan umum reaksi yang terjadi menurut Droste (1997), adalah sebagai berikut :
CH3COOH CH4+ CO2
Bakteri yang bekerja pada tahap ini adalah bakteri pembentuk metan. Metcalf dan Eddy (1991)
menyatakan bahwa bakteri ini hanya dapat menggunakan substrat yang terbatas dalam
pembentukan metan. Substrat-substrat tersebut adalah CO2 + H2, asam format, asam asetat,
metanol, metilamina dan CO2. Sedangkan reaksi lengkapnya menurutMetcalf dan Eddy (1991),
adalah sebagai berikut :
4H2 + CO2 CH4+2H2O
4HCOOH CH4+ 3CO2 + 2H2O
CH3COOH CH4+ CO2
4CH3OH 3CH4 + CO2+ 2H2O
4(CH3)3N + H2O 9CH4+ 3CO2+ 6H2O + 4NH3
Kecepatan metabolisme bakteri pembentuk metan lebih kecil daripada bakteri pembentuk asam,
sehingga produksi metan merupakan tahap rate- limiting (reaksi pembatas) dalam penguraian
anaerob. Bakteri pembentuk metan juga lebih sensitif terhadap lingkungan dibandingkan bakteri
pembentuk asam sehingga kondisi lingkungan perlu terus dikontrol.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Anaerobik


1. Temperatur
Gas metana (CH4) dapat dihasilkan jika suhu dijaga konstan pada rentang suhu 30-
40oC, tetapi dapat juga terjadi pada temperatur rendah, yaitu pada 4oC. Laju produksi gas
akan naik 100-400% untuk setiap kenaikan temperatur 12C pada rentang temperatur 4-
65C. Bakteri akan menghasilkan enzim yang lebih banyak pada temperatur optimum.
Semakin tinggi temperatur, reaksi akan semakin cepat berlangsung tetapi bakteri akan
semakin cepat mati atau berkurang. (Manurung, 2004).
2. pH (Derajat Keasaman)
Bakteri penghasil metana sangat sensitif terhadap perubahan pH. Rentang pH
optimum untuk jenis bakteri penghasil metana antara 6,4 - 7,4. Bakteri yang tidak
menghasilkan metana tidak begitu sensitif terhadap perubahan pH, dan dapat bekerja
pada pH antara 5 hingga 8,5.
Oleh karena salah satu proses anaerob terdiri dari dua tahap, yaitu tahap
pambentukan asam dan tahap pembentukan metana, maka pengaturan pH awal proses
sangat penting. Tahap pembentukan asam akan menurunkan pH awal. Jika penurunan ini
cukup besar akan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana. Untuk
meningkatkan pH dapat dilakukan dengan penambahan kapur. (Manurung, 2004).
3. Konsentrasi Substrat
Sel mikroorganisme mengandung Carbon, Nitrogen, Posfor dan Sulfur dengan
perbandingan 100 : 10 : 1 : 1. Kondisi yang optimum dicapai jika jumlah mikroorganisme
sebanding dengan konsentrasi substrat yang diberikan. (Manurung, 2004).
4. Zat Beracun
Zat organik maupun anorganik, baik yang terlarut maupun tersuspensi dapat
menjadi penghambat ataupun racun bagi pertumbuhan mikroorganisme jika terdapat
pada konsentrasi yang tinggi. Bakteri penghasil metana lebih sensitif terhadap racun
daripada bakteri penghasil asam. (Manurung, 2004).
2.4 Perbandingan Proses Pengolahan secara Anaerob dengan Aerob

Proses pengolahan buangan secara anaerob mempunyai beberapa keuntungan penting


dibandingkan dengan proses pengolahan biologi secara aerob. Keuntungan-keuntungan
tersebutantara lain (letingga dkk, 1979, dari Madyanova, 2005):
1. Mampu mengolah buangan dengan beban organik yang tinggi, karena proses tidak dibatasi
oleh kemampuan transfer oksigen pada tingkat konsumsi oksigen yang tinggi.
2. Produksi kelebihan lumpur (biomassa) yang terstabilisasi rendah, sehingga kebutuhan
lahan untuk pembuangan lumpur juga menurun. Lumpur yang dihasilkan dari proses
pengolahan secara anaerob hanya sekitar 20% dari pengolahan secara aerob.
3. Lumpur mempunyai karakteristik yang baik, sehingga memiliki nilai fungsional sebagai
pupuk yang nilai per unit berat kira kira sama dengan lumpur yang diproduksi oleh proses
aerobik.
4. Kebutuhan akan nutrien sedikit, berarti juga kebutuhan akan nitrogen dan fosfor berkurang.
5. Tidak diperlukan aerasi, sehingga biaya dan energi yang diperlukan untuk aerasi dapat
dihindari. Dalam prosespengolahan secara aerob, untuk setiap 1 kg penyisihan COD
diperlukan energi sebesar 0,5 0,75 kwh.
6. Terbentuknya produk akhir yang berguna yaitu metan. Untuk produksi gas, Droste, 1997
menyatakan bahwa komposisi normal biogas hasil proses anaerobik terdiri dari 60 -70%
gas metan dan 30-40% gas karbondioksida. Terdapat juga gas hidrogen, hidrogen sulfida,
uap air, amonia dan gas lain dalam jumlah yang relatif kecil.
7. Tidak sensitif terhadap senyawa beracun.

Adapun kelemahan proses pengolahan secara anaerob adalah :


1. Diperlukan waktu 8-12 minggu untuk memulai proses ini (Lettinga et al., 1979, dari
Madyanova, 2005).
2. Temperatur cukup tinggi dibutuhkan untuk mepertahankan aktivitas mikroba pada tingkat
yang layak.
3. Stabilisasi organik tidak selesai (dibandingkan dengan aerobik) pada waktu pengolahan
yang ekonomis.
Agar proses pengolahan secara anaerob lebih efisien, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
antara lain :
1. Tersedia cukup nutrien, seperti N dan P,dan mikronutrien terutama Fe, Co, Ni, dan lain-
lain.
2. Hindari terdapatnya udara atau oksigen yang berlebih dalam reaktor.
3. Pada influen harus dijaga agar tidak terdapat zat toksik atau zat-zat lain yang bersifat
sebagai inhibitor.
4. Kondisi pH sekitar 6,8 7,2.
5. Adanya alkalinitas yang cukup
6. Kandungan asam-asam volatil dalam reaktor tidak boleh terlalu tinggi.
7. Temperatur sekitar 30-38C (pada range mesophilic).

Pengolahan limbah dengan menggunakan proses biologi secara anaerob ini sesuai untuk
melakukan pengolahan limbah industri dengan karakteristik dan jenis tertentu yang berasal dari
industri-industri sebagai berikut :
1. Limbah dari proses produksi alkohol
2. Pabrik bir dan anggur
3. Pabrik gula
4. Limbah dari industri yang banyak mengandung kanji dan zat tepung, (seperti jagung,
kentang, tapioka, gandum, dan proses pemberian kanji pada industri tekstil)
5. Pabrik makanan
6. Industri Pulp and Paper
7. Rumah Pemotongan Hewan
8. Industri Petrokimia

2.5 Penetapan COD (Chemical Oxygent Demand)

COD atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi zat-zat organik secara kimiawi. Oksigen yang dikonsumsi setara dengan
jumlah dikromat yang diperlukan untuk mengoksidasi air sampel. Perhitungan nilai COD
menggunakan rumus :
() 1000
COD (mg O2/L) =

dimana : a = ml FAS untuk blanko,

b = ml FAS untuk sampel,

c = normalitas FAS,

d = berat equivalen Oksigen, dan

p = pengenceran.

2.6 Penetapan MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid)

Konsentrasi mikroorganisme dalam air limbah dinyatakan dalam mg/L MLVSS (Mixed
Liquor Volatile Suspended Solid). Nilai MLVSS atau VSS yang baik, yaitu antara 1500 4500
mg/L. Pengukuran MLVSS dilakukan berdasarkan prinsip gravimetri.
()
TSS (mg/L) = 106

()
MLVSS = VSS (mg/L) = 106

FSS (mg/L) = TSS -VSS

Keterangan :

TSS = Total padatan tersuspensi (Total Suspended Solid)

MLVSS = VSS = Padatan tersuspensi yang mudah menguap (Volatile Suspended Solid)

FSS= Padatan tersuspensi yang tidak menguap (Fixed Suspended Solid)

2.7 Perhitungan Efisiensi Pengolahan

Efisiensi pengolahan diperoleh dengan cara menentukan persen (%) kandungan senyawa
organik (COD) yang telah terdekomposisi setelah mikroorganisme mendapatkan nutrisi terhadap
kandungan senyawa organik mula-mula. Proses pengolahan air limbah dikatakan baik apabila nilai
efisiensinya lebih dari 90%.

Efisiensi (%) = 100%

DAFTAR PUSTAKA

Chandra, Dyah.2007. Optimasi Efisiensi Pengolahan Limbah Cair Dari Rumah


Pemotongan Hewan dan Pabrik Tahu Dengan Reaktor Anaerobik Bersekat. http://digilib.itb.ac.id
(Diakses pada 16 September 2017)