Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Menurut Undang Undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, yang
dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental,
spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif
secara sosial dan ekonomis. Sebuah ungkapan mengatakan Health is created in
everyday live, bahwa kesehatan itu dibentuk atau dihasilkan dari kehidupan
manusia sehari hari.
Kehidupan manusia berada dalam lingkungan dimana manusia hidup
sehari-hari, mulai dari lahir sampai meninggal dunia, sejak usia bayi sampai balita
hampir dikatakan manusia hidup di lingkungan keluarga atau rumah tangga saja,
akan tetapi pada usia sekolah sampai mahasiswa, sebagian besar waktu manusia
dihabiskan di lingkungan keluarga dan sekolah atau kampus. Saat usia dewasa
yang telah lepas dari pendidikan, manusia cenderung menghabiskan waktunya di
dalam keluarga dan di tempat kerja, oleh sebab itu lingkungan kerja mempunyai
peranan yang penting dalam membentuk atau mempengaruhi kesehatan seseorang
Lingkungan mempunyai resiko yang besar terhadap terjadinya penyakit dan
kecelakaan akibat kerja seperti di pertambangan, pabrik-pabrik yang menghasilkan
limbah yang beresiko mengganggu kesehatan manusia, dan seterusnya. Mengingat
pentingnya faktor lingkungan kerja sebagai faktor resiko bagi kesehatan
masyarakat, utamanya bagi pekerja, maka dari itulah perlu dipelajari dan dipahami
tentang upaya kesehatan kerja.

1.2 Dasar hukum


Dengan alasan untuk melindungi para tenaga kerja dan pengembangan
usaha demi tercapainya tidak adanya kecelakaan dan penyakit akibat kerja maka
ada beberapa landasan yang digunakan oleh perusahaan, sebagai berikut:
A. UU No.I tahun 1970 tentang kesehatan dan keselamatan kerja
B. UU No 13 tahun 2003 pasal 86 dan 87 tentang ketenagakerjaan
C. UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan
D. UU No 3 tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja
E. Permenakertrans No.03/Men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja

1
F. Kepres RI No.22 tahun 1993 tentang penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan atau lingkungan kerja
G. Kepmenakertrans No.68 tahun 2004 tentang pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja
H. Permenakertrans No.11/Men/VI/2005 tentang pencegahan penyalahgunaan
narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya di tempat kerja
I. Permenakertrans No.01/Men/1976 tentang kewajiban pelatihan hiperkes
bagi dokter perusahaan
J. Permenakertrans No.01/Men/1979 tentang kewajiban pelatihan hiperkes
bagi paramedic perusahaan
K. Permenakertrans No.Per 02/Men/1980 tentang pemeriksaan kesehatan
tenaga kerja dalam penyelanggaraan keselamatan kerja
L. Permenakertrans No.Per 03/Men/1983 tentang pelayanan kesehatan kerja.
M. SE.Menakertrans No.SE.01/Men/1979 tentang pengadaan kantin dan ruang
makan
N. SE.Dirjen binawas No.SE.86/BW/1989 tentang perusahaan catering yang
mengelola makanan bagi tenaga kerja
O. Permenakertrans No.Per 05/MEN/VIII/2008 tentang pertolongan pertama
pada kecelakaan di tempat kerja

1.3 Profil perusahaan


1.3.1 Identitas perusahaan
- Nama Perusahaan
PT. Bridgestone Tire Indonesia (Bekasi Plant)
- Alamat
Jl. Raya Bekasi KM 27, Kelurahan Harapan Jaya, Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa
Barat, Indonesia. 17124. Telepon (021) 8840828
- Sejarah dan Perkembangan
PT. Bridgestone Tire Indonesia merupakan perusahaan patungan swasta Nasional
Indonesia dengan swasta Jepang. Perusahaan didirikan berdasarkan UU Pemerintah
Republik Indonesia No.1 Tahun 1967, tentang Penanaman Modal Asing. Landasan
hukumnya adalah Surat Izin Presiden No. B-84/PRES/1973 tanggal 11 Agustus
1973 dan Surat Keputusan Menteri Perindustrian No. 295/M/SK/8/1973 tanggal 11
Agustus 1973. Pemegang saham adalah PT Sinar Bersama Makmur (43%),
Bridgestone Corporation (51%), dan Mitsui & Co.Ltd (6%). PT Bridgestone Tire
Indonesia didirikan pertama kali pada tanggal 8 September 1973 di Jalan Raya
Bekasi Km 27 Kelurahan Harapan Jaya, Bekasi Utara 17124. Perusahaan ini kini
memiliki dua pabrik yang terletak di Bekasi dan Karawang, Jawa Barat, serta satu
kantor pusat di Jl M.H. Thamrin No. 59, Jakarta. Luas area pabrik yang terletak di

2
Bekasi yaitu 27,6 Ha.
- Visi, Misi, dan Nilai Utama
Visi Grup Bridgestone adalah Trust and Pride dengan misi grup Bridgestone
didasarkan pada kata-kata pendirinya: "Menyumbang Masyarakat dengan Mutu
Tertinggi". Untuk memenuhi misi ini, Grup Bridgestone telah menggunakan
konsep "dasar" untuk menunjukkan komitmen yang berkesinambungan dari
karyawan untuk memberikan kepada pelanggan produk dan jasa untuk melayani
masyarakat di mana Bridgestone melakukan bisnis. "Esensi Bridgestone" terdiri
dari kata-kata, budaya perusahaan yang terintegrasi dan keragaman Indonesia
bahwa perusahaan saat ini telah mewarisi dan rasa berbagi nilai-nilai yang dapat
dianut oleh karyawan Bridgestone di seluruh dunia.
1.3.2 Kebijakan Dasar Perusahaan
- Perusahaan ini mengetahui dengan cepat setiap gejala perubahan tentang
produk yang dibutuhkan di pasar dengan mengecek segera ke lapangan.
- Perusahaan mengembangkan teknologi baru sesuai dengan permintaan pasar.
- Perusahaan memenuhi kebutuhan pasar dengan menyuplai produk dengan tepat
waktu.
- Perusahaan membentuk sistem pengontrolan mutu produk guna menjaga agar
mutunya tetap tinggi sebagai jaminan kepuasan pelanggan.
- Perusahaan membentuk program pendidikan dan pelatihan bagi karyawan.
1.3.3 Kegiatan Usaha
PT. Bridgestone Tire Indonesia (Bekasi Plant) merupakan perusahaan yang
bergerak di bidang otomotif (ban, tabung dan flap).
1.3.4 Jumlah Karyawan
Total karyawan di PT. Bridgestone Tire Indonesia (Bekasi Plant) adalah 3454
orang.
1.3.5 Jam Kerja Karyawan
Sesuai dengan Kesepakatan Kerja Bersama, pengaturan jam kerja di PT
Bridgestone Tire Indonesia, Bab IV pasal 19 mengenai pengaturan jam kerja, maka
jam kerja dibagi menjadi dua, yaitu waktu kerja biasa (non shift) dan waktu kerja
bergilir (sistem shift).

Shift Jam Kerja Jam Istirahat


I 08.00 16.10 WIB 12.00 13.00 WIB
II 16.00 00.10 WIB 20.00 21.00 WIB
III 00.00 08.10 WIB 04.00 05.00 WIB
1.3.6 Jaminan Asuransi Kesehatan
PT. Bridgestone Tire Indonesia (Bekasi Plant) tergabung dalam BPJS
Ketenagakerjaan dan Kesehatan serta asuransi mandiri dari perusahaan.
1.3.7 P2K3 di PT. Bridgestone Tire Indonesia (Bekasi Plant)

3
OHSAS & Awareness PT. Bridgestone Tire Indonesia (Bekasi Plant) diresmikan
pada tahun 2011 yang tergabung dalam unit kerja General Affair Section (GAS).

1.4 Alur Produksi


PT Bridgestone Tire Indonesia merupakan industri yang bergerak di bidang
pembuatan ban kendaraan yang terdiri dari masing-masing seksi produksi. Adapun
proses yang dilakukan di masing-masing seksi produksi antara lain sebagai berikut:

Gambar 1. Proses produksi yang dilakukan di PT Bridgestone Tire Indonesia


A. Raw Material House (RMH)
Merupakan seksi produksi yang bersifat menyimpan bahan baku, baik impor
maupun lokal. Ada beberapa bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan
ban, antara lain:
a. Carbon black, rubber, chemical, dan oil, yang digunakan sebagai bahan
pembuat compound atau adonan utama dari ban, serta digunakan pada tahap
extruding.
b. Dipp cord/ steel cord, yang digunakan pada tahap calendaring.
c. Bead wire, yang digunakan pada tahap bead.
B. Banbury
Merupakan seksi produksi yang berfungsi melakukan proses mixing terhadap raw
material. Pada tahap ini, beberapa raw material, yaitu carbon black, rubber,
chemical, dan oil dicampur jadi satu di dalam suatu alat yang disebut mesin
banbury. Hasil dari tahap ini berupa lembaran-lembaran karet ban yang dinamakan

4
compound sebagai bahan utama dari pembuatan komponen-komponen ban yang
lain.
C. Extruding
Merupakan seksi produksi yang berfungsi melakukan proses mixing karet
(compound) yang berasal dari banbury untuk diolah menjadi lembaran tread (top
tread, side tread, tread) yang kemudian diberi size mark.
D. Bead
Merupakan seksi produksi yang berfungsi melakukan proses pelapisan karet
(compound) pada bead wire atau steel belt sehingga dihasilkan bead. Bead
berfungsi sebagai tempat velg menempel pada ban.
E. Calendering
Merupakan seksi produksi yang berfungsi juga melakukan proses pelapisan karet
(compound) pada benang atau dipp cord dengan menggunakan mesin calendar
sehingga dihasilkan coated cord atau ply cord.
F. Cutting
Merupakan seksi produksi yang berfungsi melakukan pemotongan lembaran karet
(ply cord) menjadi suatu bagian-bagian kecil sesuai dengan ukuran ban yang akan
dibuat.
G. Building
Merupakan seksi produksi yang berfungsi melakukan proses pembentukan tire.
Pada tahap ini, seluruh komponen bahan yang dihasilkan dari proses extruding,
bead, calendaring dan cutting digabung menjadi satu. Hasil dari proses building
berupa ban setengah jadi atau biasa disebut green tire yang terdiri dari tiga jenis,
yaitu:
a. PSR (Passenger Radial), yaitu ban yang digunakan untuk kendaraan jenis
sedan, jeep, van, dan minibus.
b. PSS (Passenger Standard), yaitu ban yang digunakan untuk kendaraan
angkutan umum atau sejenisnya.
c. TBS (Truck, Bus, Standard), yaitu ban yang digunakan untuk kendaraan-
kendaraan besar, seperti truk, taktor, atau sejenisnya.
H. Curing
Merupakan seksi produksi yang berfungsi melakukan proses pencetakan green tire
menjadi tire melalui proses vulkanisasi yaitu menggunakan mesin dengan
tekanan dan suhu panas yang tinggi.
I. Tire Finishing
Merupakan seksi quality assurance/ quality control yang melakukan proses
terakhir dari pembuatan ban yang menyangkut kualitas ban. Pada seksi ini, terdiri
dari empat proses, antara lain:
a. Trimming
Proses pencukuran atau menghilangkan rambut ban dengan standar tertentu.

5
Untuk PSR dan PSS dilakukan pencukuran sepanjang 1 ml, sedangkan
untuk TBS dilakukan pencukuran sepanjang 5 ml.
b. Inspection
Proses pemeriksaan ban secara menyeluruh untuk mencari defect atau cacat
pada ban yang dilakukan oleh inspector. Jika ban sudah sesuai dengan
standar maka ban tersebut dapat langsung dikirimkan ke proses berikutnya,
tetapi bila ban tidak sesuai standar maka ban tersebut akan mengalami
proses repairing. Balance Proses keseimbangan ban di mana pada proses
ini dicari titik teringan dari ban tersebut. Pada proses balance ini dilakukan
oleh dua mesin, yaitu Automatic Machine dan Manual Machine. Jika hasil
dari proses tersebut ban dalam keadaan inspect maka dilakukan proses
berikutnya yaitu uniformity. Proses kestabilan ban yang terdiri dari kelas A,
B, C. Conicity (proses keseimbangan ban dimana ban mengarah ke
kestabilan normal) RFV (Radial Force Variation) LFV (Lateral Force
Variation) Jika ban yang berdasarkan kelas A, B, C telah memenuhi standar
maka dapat langsung disimpan sebagai stok untuk dijual.
c. Tube
Merupakan seksi produksi ini khusus untuk membuat ban dalam dan flap
(pelindung ban dalam terhadap velg) dari segala ukuran mobil.
d. Tire Ware House (TWH)
Merupakan gudang penampungan ban, baik untuk diekspor ke luar negeri
ataupun dijual di Indonesia. Pada dasarnya semua kualitas ban buatan
Bridgestone adalah sama, yang membedakan adalah hasil uniformity (rank
A, B, C). Untuk rank A, merupakan tire yang akan diekspor, tirerank B
dijual di Indonesia, sedangkan tirerank C tidak dijual atau dipotong untuk
bahan bakar boiler incinerator (mesin penghasil uap atau steam).
Secara garis besar proses produksi yang dilakukan di PT Bridgestone Tire Indonesia
adalah sebagai berikut: setelah penerimaan bahan baku, proses awal yang dilakukan yaitu
pencampuran bahan baku yang terdiri dari raw rubber, carbon black, sulfur, dan bahan kimia
lain dengan hasil berupa lembaran- lembaran karet (compound), kemudian lembaran karet
tersebut dilakukan proses beading dan cord manufacturing, yaitu proses dengan hasil lembaran
yang telah diberikan textile cord dan steel cord.
Proses selanjutnya tread stock extruding dimana pada proses tersebut dilakukan pemanasan,
pendinginan, dan proses pemotongan lembaran- lembaran ban tersebut menjadi tread rubber,
belt, dan bead ring. Tahap selanjutnya yaitu proses pembentukan (building) tire hingga menjadi
Green Tire. Setelah itu dilakukan proses vulcanizing ban dengan menggunakan curing
6
machine sehingga terberntuk serabut-serabut ban yang kemudian dilakukan proses trimming di
bagian finishing.
Setelah proses finishing selesai, tahap selanjutnya yaitu dilakukan uji coba terhadap produk
yang telah dihasilkan dengan melakukan ranking menurut kelas A, B, C untuk kemudian siap
dipasarkan sesuai dengan permintaan konsumen.

1.5 Landasan Teori


ERGONOMI
Ergonomi menurut Badan Buruh Internasional ILO (International Labor Organization)
adalah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai
penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum agar bermanfaat demi
efisiensi dan kesejahteraan. Pada prosesnya dibutuhkan kerjasama antara lingkungan kerja
(ahli hiperkes), manusia (dokter dan paramedik) serta mesin perusahaan (ahli tehnik).
Kerjasama ini disebut segitiga ergonomi.
Tujuan dari ergonomi adalah efisiensi dan kesejahteraan yang berkaitan erat dengan
produktivitas dan kepuasan kerja. Adapun sasaran dari ergonomi adalah seluruh tenaga
kerja baik sektor formal, informal dan tradisional. Pendekatan ergonomi mengacu pada
konsep total manusia, mesin dan lingkungan yang bertujuan agar pekerjaan dalam industri
dapat berjalan secara efisien, selamat dan nyaman. Dengan demikian dalam penerapannya
harus memperhatikan beberapa hal yaitu: tempat kerja, posisi kerja, proses kerja. Adapun
tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut:
1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban kerja
tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan meningkatkan
kepuasan kerja
2) Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas
kerjasama sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan
sistem kebersamaan dalam tempat kerja, 3) berkontribusi di dalam
keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik, ekonomi, antropologi dan
budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan meningkatkan efisiensi sistem
manusia-mesin.
Adapun manfaat pelaksanaan ergonomi adalah menurunnya angka kesakitan akibat
kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya pengobatan dan kompensasi berkurang, stress
akibat kerja berkurang, produktivitas membaik, alur kerja bertambah baik, rasa aman
karena bebas dari gangguan cedera, kepuasan kerja meningkat.
7
Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi :
1. Teknik
2. Fisik
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan
persendian
5. Anthropometri
6. Sosiologi
7. Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take dan
aktivitas otot.
8. Desain, dll.

Aplikasi/penerapan Ergonomik pada tenaga kerja:


1. Posisi Kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak
terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi
berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara
seimbang pada dua kaki.
2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja
dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran
anthropometri barat dan timur.
3. Tata Letak Tempat Kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan
simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-
kata.
4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu,
tangan, punggung, dll. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang
punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.
Penyakit-penyakit di tempat kerja yang Berkaitan dengan Ergonomi semua pekerja
secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur. Supervisi medis yang biasanya
dilakukan terhadap pekerja antara lain:
1. Pemeriksaan sebelum bekerja
8
Bertujuan untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya.
2. Pemeriksaan berkala
Bertujuan untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mendeteksi
bila ada kelainan.
3. Nasehat
Harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita muda
danyang sudah berumur.

KESEHATAN KERJA
Kesehatan kerja adalah upaya penyeserasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan
lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan
dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja
yang optimal (UU Kesehatan 1992 Pasal 23). Kesehatan kerja bertujuan untuk
memperoleh derajat kesehatan yang setinggi tingginya, baik fisik, mental dan sosial bagi
masyarakat pekerja dan masyarakat yang berada di lingkungan perusahaan. Aplikasi
kesehatan kerja berupa upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif.
Promosi kesehatan merupakan ilmu pengetahuan dan seni yang membantu
seseorang untuk mengubah gaya hidup menuju kesehatan yang optimal, yaitu terjadinya
keseimbangan kesehatan fisik, emosi, spiritual dan intelektual. Tujuan promosi kesehatan
di tempat kerja adalah terciptanya perilaku dan lingkungan kerja sehat juga produktivitas
yang tinggi. Tujuan dari promosi kesehatan adalah:
- Mengembangkan perilaku kerja sehat
- Menumbuhkan lingkungan kerja sehat
- Menurunkan angka absensi sakit
- Meningkatkan produktivitas kerja
- Menurunnya biaya kesehatan
- Meningkatnya semangat kerja
Upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja yang
disebabkan oleh alat/ mesin dan masyarakat yang berada di sekitar lingkungan kerja
ataupun penyakit menular umumnya yang bisa terjangkit pada saat melakukan pekerjaan
yang diakibatkan oleh pekerja. Upaya preventif diperlukan untuk menunjang kesehatan
optimal pekerja agar didapat kepuasan antara pihak pekerja dan perusahaan sehingga

9
menimbulkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Aplikasi upaya preventif diantaranya
pemakaian alat pelindung diri dan pemberian gizi makanan bagi pekerja.
Salah satu aspek yang harus diimplementasikan dalam kesehatan kerja adalah
adanya pemeriksaan kesehatan bagi tenaga kerja, baik sejak awal sebelum bekerja, selama
bekerja, maupun sesudah bekerja. Tujuan dari pemeriksaan kesehatan ini ditujukan agar
selain tenaga kerja yang diterima di awal berada dalam kondisi kesehatan setinggi-
tingginya, juga untuk memantau status kesehatan pekerja dan juga meminimalisir dan
mendeteksi dini apakah ada penyakit akibat kerja yang ditimbulkan akibat proses produksi.

Aspek kesehatan kerja di PT. Bridgestone Tire Indonesia


PT. Bridgestone Tire Indonesia memiliki unit pelayanan kesehatan yang letaknya di
belakang perusahaan dan cukup terjangkau oleh semua tenaga kerja, juga terdapat klinik
kerjasama yang letaknya didepan perusahaan, personil kesehatan terdiri dari dokter umum,
perawat dan 15 orang personil khusus P3K dan balai kesehatan tersebut melayani 24 jam.
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh PT. Bridgestone Tire Indonesia, yaitu:
a. Pemeriksaan Kesehatan Awal (Pre-Employment)
- PT. Bridgestone Tire Indonesia, melakukan pemeriksaan kesehatan awal pada
setiap calon tenaga kerja yang melamar pekerjaan ke perusahaan tersebut.
- Pemeriksaan kesehatan ini juga dilakukan pada pekerja yang hendak
dipindahkan ke lokasi kerja yang lain dengan risiko yang berbeda
- Pada pemeriksaan kesehatan awal ini dilakukan pemeriksaan berupa
wawancara tentang riwayat kesehatan pekerja, pemeriksaan fisik umum,
rontgen toraks, laboratorium rutin (darah rutin, kolesterol total, asam urat,
trigleserida), dan pemeriksaan lain yang dianggap perlu.
b. Pemeriksaan Kesehatan Berkala
- PT. Bridgestone Tire Indonesia, melakukan pemeriksaan kesehatan berkala
menurut keterangan dokter perusahaan (1 kali setahun).
- Apabila ditemukan kelainan atau gangguan kesehatan pada para pekerja, pihak
manajemen akan menindak lanjut sesuai kebijakannya.
c. Pemeriksaan Kesehatan Khusus

10
PT. Bridgestone Tire Indonesia akan melakukan pemeriksaan kesehatan khusus
terhadap tenaga kerja tertentu apabila dinilai memerlukan pemeriksaan tersebut sesuai
dengan keluhannya.

Pemeriksaan kesehatan khusus yang dilakukan terhadap tenaga kerja antara lain:
- Elektrokardiografi (EKG) Pemerikaan dilakukan untuk pekerja yang
berumur diatas 40 tahun.
- Pemeriksaan mata Pemeriksaan dilakukan karena penyakit rabun jauh
merupakan salah satu penyakit terbanyak yang dialami oleh tenaga kerja PT.
Bridgestone Tire Indonesia
- Audiometri
- Spirometri

Selain itu, dalam Permenakertrans RI No. 15/MEN/VIII/2008 dijabarkan bahwa


Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di tempat kerja (P3K) adalah upaya memberikan
pertolongan pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja/buruh/dan/atau orang lain yang
berada di tempat kerja, yang mengalami sakit atau cidera di tempat kerja. Fasilitas P3K
yang dimaksud dalam Permenakertrans ini meliputi ruang P3K, kotak P3K dan isinya
sesuai standar, alat evakuasi dan alat transportasi, fasilitas tambahan berupa alat pelindung
diri dan/atau peralatan khusus di tempat kerja yang memiliki potensi bahaya yang bersifat
khusus.

11
Kotak P3K juga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut, yaitu terbuat dari
bahan yang kuat dan mudah dibawa, berwarna dasar putih dengan lambang P3K berwarna
putih dengan lambang P3K berwarna hijau dengan isi kotak sesuai dengan
Permenakertrans yang mengatur. Penempatan kotak P3K juga harus pada tempat yang
mudah dilihat dan dijangkau dengan diberi tanda arah yang jelas dan cukup cahaya serta
mudah diangkat apabila digunakan dan disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja yang ada,
dan dalam hal tempat kerja dengan unit kerja berjarak 500 meter atau lebih masing-masing
unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai jumlah pekerja/buruh.

PT. Bridgestone Tire Indonesia menyediakan sarana P3K. Saat dilakukan


wawancara pada walkthrough survey terdapat kotak P3K di tempat kami melakukan
survey baik di ruang produksi maupun barang jadi namun tidak sesuai standar yang
ditetapkan permenaker. Selain itu, tidak dijabarkan berapa jumlah kotak P3K secara
keseluruhan.

12
BAB II
PELAKSANAAN

2.1 Tanggal dan waktu pengamatan


Pengamatan tempat kerja (walkthrough survey) di PT Bridgestone Tire Indonesia
Bekasi Plant, dilakukan pada hari Senin, 28 Maret 2016 pukul 10.00 11.30 WIB.

2.2 Lokasi Pengamatan


Pengamatan dilakukan di PT Bridgestone Tire Indonesia Bekasi Plant yang
beralamat di Jl. Raya Bekasi KM 27, Harapan Jaya, Bekasi Utara.

13