Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Darah adalah cairan tubuh khusus yang mengangkut bahan-bahan menuju sel-
sel tubuh antara lain nutrient dan oksigen serta mengangkut produk sampah dari sel-
sel tersebut. Darah merupakan jaringan, seperti halnya jaringan lainnya yaitu saraf
dan otot maka darah juga merupakan kumpulan sel serupa yang terspesialisasi untuk
melakukan fungsi tertentu dalam tubuh. Darah merupakan kumpulan korpuskula
yang tersuspensi dalam plasma. Darah diedarkan keseluruh tubuh melalui sistem
sirkulasi. Darah hewan terdiri atas cairan plasma kurang lebih 55%, komponen
primer cairan tersebut adalah air dan komponen seluler (sel-sel darah) yang berada
dalam plasma kurang lebih 45%. Sel-sel darah terdiri atas eritrosit , leukosit, dan
trombosit. Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zat-zat
kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan
pengangkut oksigen serta karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti
trombosit dan plasma darah memiliki peran penting sebagai pertahanan pertama dari
serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh (Norma, 2006).
Darah merupakan jaringan yang sel-sel darahnya tidak saling berlekatan dalam
sistem aliran darah.Seperti halnya sel tubuh umumnya, sel darah merah mempunyai
konsentrasi internal yang dijaga agar sel darah merah dapat berfungsi optimal.
Kondisi lingkungan eksternal sel darah yang berbeda akan menunjukkan respon sel
berupa pengerutan atau pembengkakan, untuk itulah respon sel darah merah dapat
dipelajari dengan menempatkan darah di dalam medium hipotonik, isotonik, atau
hipertonik (Soedjono, 1988).
Perubahan media lingkungan akan mengakibatkan struktur sel darah merah
menjadi abnormal. Hal ini terjadi karena adanya aliran materi dari media lingkungan
ke dalam selnya. Aliran materi tersebut terutama air, jika terjadi dari luar ke dalam
mengakibatkan sel menjadi menggembung sehingga sel akan pecah. Sebaliknya, bila
aliran air dari sel keluar menuju medium ekstraseluler maka mengakibatkan sel
menjadi mengkerut.Pada kondisi osmotik yang seimbang antara di dalam dan di luar
sel, maka tidak terjadi perubahan struktur sel (Watson, 1997).
Apabila terjadi luka, akan berlangsung proses pembekuan darah. Ketika bagian
tubuh terluka, maka trombosit akan pecah dan mengeluarkan enzim trombokinase.
Dengan pengaruh ion kalsium dan vitamin K dalam darah, enzim trombokinase akan
mengubah protrombin menjadi trombin, selanjutnya trombin akan mengubah protein
darah fibrinogen menjadi benang-benang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin
menyebabkan luka tertutup sehingga tidak mengeluarkan darah secara terus menerus
(Soewolo, 2000).
Jumlah darah kira-kira 7% dari berat badan, dengan massa jenis 1,060 kg/m3.
Orang dewasa memiliki volume darah kira-kira 5 liter. Darah tersusun atas
korpuskuli (45%) dan cairan kekuningan bernama plasma darah (55%). Korpuskuli
terdiri atas eritrosit atau sel darah (99%), lekosit atau sel darah putih (0,2%) dan
trombosit atau platelet atau keping-keping darah (0,6-1,0%). Sedangkan plasma
darah tersusun atas solven (pelarut) berupa H2O atau air (91,5%) dan solut (zat
terlarut) yang terdiri atas protein (7%) dan bahan lain (1,5%) (Norma, 2006).

1.2. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memahami respon sel darah merah
terhadap berbagai macam media yang mempunyai konsentrasi osmotis yang berbeda
dan mengetahui konsentrasi internal sel darah merah. Memahami bentuk dan struktur
sel dan membandingkan bentuk dan struktur sel darah merah anatara katak dan
manusia, serta untuk memahami proses pembekuan darah dan lamanya waktu
pembekuan darah pada manusia.
II. MATERI DAN METODE

2.1 Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah pipet isap,
komparator, batang pengaduk, pembuluh kaca kapiler (pipa kapiler),
mikroskop,object glass dan cover glass, kapas, mikrometer, beaker glass, syring dan
lancet.
Bahan yang digunakan adalah darah segar manusia dan darah katak sawah
(Fejervarya cancrivora), akuades, larutan NaCl (0,2 %, 0,4 %, 0,6 %, 0,9 % dan 1
%), kloroform/eter, alkohol 70 % dan larutan EDTA (Etil Diamin Tetra Aseticacid).

2.2 Metode

2.2.1 Mengamati konsentrasi darah


1. Katak dibius dengan kloroform kemudian dilakukan diseksi di bagian ventral
agar jantungnya dapat diisolasi.
2. Insisi dibuat dengan menggunting bagian ventral sisi kiri atau kanan secara
melintang di bagian posterior jantung. Kulit dan otot ventral diangkat agar jantung
terlihat. Insisi diteruskan sampai rongga dada terbuka.
3. Setelah jantung katak diisolasi, bagian ventrikel ditusuk dengan syringe yang
sebelumnya telah dibasahi larutan antikoagulan (EDTA) agar tidak terjadi
pembekuan darah.
4. Darah katak dihisap sebanyak 1ml dengan syringe, syringe dicabut, diputar-
putar agar darah tercampur dengan EDTA. Kemudian darah diteteskan pada object
glass dan ditambahkan beberapa tetes larutan NaCl 0,2 %.
5. Darah katak dan larutan NaCl 0,2 % tersebut dihomogen pada object glass,
kemudian ditutup dengan cover glass dan diamati dibawah mikroskop.
6. Kegiatan tersebut diulang dengan menggunakan larutan NaCl (0,4 % dan 0.9%).
7. Ukuran sel darah dihitung, diamati dan gambarnya didokumentasikan / difoto.
8. Ditentukan pada konsentrasi NaCl yang mana sel darah merah tidak mengalami
perubahan bentuk.
2.2.2 Struktur Sel Darah Merah
1. Darah katak diambil dengan cara yang sama seperti prosedur pengambilan darah
katak untuk pengamatan konsentrasi darah yaitu diisap langsung dari jantungnya.
2. Darah diletakkan pada object glass yang bersih dan kering kemudian ditetesi
dengan larutan NaCl 0,6%.
3. Campuran darah dan larutan NaCl 0,6% dihomogenkan dan ditutup dengan cover
glass kemudian diamati menggunakan mikroskop.
4. Sampel darah manusia diambil dengan cara ujung jari praktikan dibersihkan
terlebih dahulu menggunakan alkohol 70% kemudian diutusuk menggunakan lancet
steril dan darah diteteskan pada object glass.
5. Darah ditetesi larutan NaCl 0,9% dan dihomogenkan kemudian ditutup dengan
cover glass.
6. Campuran darah tersebut diamati menggunakan mikroskop dan dibandingkan
dengan struktur darah pada katak.
2.2.3 Waktu Beku Darah
1. Jari dibersihkan dengan alkohol 70% kemudian ditusuk dengan lancet steril dan
darah diambil secukupnya menggunakan pipa kapiler.
2. Dengan interval satu menit, pipa kapiler dipotong sedikit demi sedikit sampai
terbentuk fibrin yang ditandai dengan potongan kapiler yang tetap menggantung
setelah dipatahkan.
3. Waktu yang diperlukan darah untuk membeku dicatat, yaitu waktu sejak jari
dilukai sampai kapiler yang dipatahkan tetap menggantung.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1 Konsentrasi sel darah manusia


Rata-
No NaCl (%) 1 (m) 2 (m) 3 (m) 4 (m) 5 (m)
Rata
1 0.2 10 7.5 10 5 7.5 8
2 0.4 6.25 7.5 5 5 7.5 6.25
3 0.6 5 5 2.5 5 5 4.5
4 0.9 5 5 5 2.5 7.5 5
5 1 7.5 5 7.5 5 5 6

Sel darah manusia 0.6 % Sel darah manusia 1 %


Sel 1 Sel 1
D= 2 D=3
D x 2.5 = 5 D x 2.5 = 7.5
Sel 2 Sel 2
D=2 D=2
D x 2.5 = 5 D x 2.5 = 5
Sel 3 Sel 3
D=1 D=3
D x 2.5 = 2.5 D x 2.5 = 7.5
Sel 4 Sel 4
D=2 D=2
D x 2.5 = 5 D x 2.5 = 5
Sel 5 Sel 5
D=2 D=2
D x 2.5 = 5 D x 2.5 = 5
5+5+2.5+5+5 7.5+5+7.5+5+5
Rata-Rata = = 4.5 m Rata- Rata = = 6 m
5 5
Gambar 3.1 Sel Gambar 3.2 Sel Gambar 3.3 Sel
Darah Manusia Darah Manusia Darah Manusia
Konsentrasi 0.2% Konsentrasi 0.4% Konsentrasi 0.6%

Gambar 3.4 Sel Gambar 3.5 Sel Gambar 3.6


Darah Manusia Darah Manusia Struktur Sel Darah
Konsentrasi 0.9% Konsentrasi 1% Manusia

Tabel 2. Konsentrasi darah katak


Rata-
No NaCl (%) 1 (m) 2 (m) 3 (m) 4 (m) 5 (m)
Rata
1 0.2 16.25 17.5 15 17.5 17.5 16.25
2 0.4 8.75 16.5 12.5 12.5 12.5 11.25
3 0.6 15 13.75 16.5 13.75 13.75 16.5
4 0.9 15 12.5 16.25 15 15 13.75
5 1 16.5 13.75 16.5 8.75 8.75 16.5

Sel darah katak 1 % Sel 2 D1 = 5


Sel 1 D1 = 4 D2 = 8
D1 = 5 D2 = 7 1+2
2
x 2.5 = 16.5
D2 = 8 1+2
x 2.5 = 13.7 Sel 4
2
1+2
x 2.5 = 16.5 Sel 3 D1 = 3
2
D2 = 4 D1 = 5 D1 = 4
1+2 D2 = 7 D2 = 7
x 2.5 = 8.75
2
1+2 1+2
Sel 5 x 2.5 = 15 x 2.5 = 13.75
2 2

D1 = 5 Sel 2 Sel 5
D2 = 8 D1 = 4 D1 = 5
1+2 D2 = 7 D2 = 8
x 2.5 = 16.5
2
1+2 1+2
Rata Rata = x 2.5 = 13.75 x 2.5 = 16.5
2 2
16.5+13.75+16.5+8.75+16.5 Sel 3 Rata Rata =
5
D1 = 5 15+13.75+16.5+13.75+16.5
= 14.4 m 5
D2 = 8
Sel darah katak 0.6 = 15.1 m
1+2
% x 2.5 = 16.5
2

Sel 1 Sel 4

Gambar 3.7 Sel darah Gambar 3.8 Sel Gambar 3.9 Sel darah
merah katak dengan darah merah katak merah katak dengan
konsentrasi 0.2 % dengan konsentrasi konsentrasi 0.6 %
0.4 %

Gambar 3.10.Sel Gambar 3.11 Sel Gambar 3.12


darah merah katak darah merah katak Struktur Sel
dengan konsentrasi 0.9 dengan konsentrasi 1 Darah Katak
% %
Tabel 3.3 Waktu Beku Darah

Kelompok Waktu

1 1 menit 28 detik

2 5 menit 36 detik

3 4 menit 38 detik

4 2 menit 15 detik
3.2 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan kali ini didapatkan hasil diameter sampel sel darah
merah pada katak dengan konsentrasi 0,2% sebesar 16,5 m, 0,4% sebesar 9,75 m,
0,6% sebesar 15,1 m, 0,9% sebesar 14,5 m dan 1,0% sebesar 14,4 m serta
didapatkan hasil diameter sampel sel darah pada manusia dengan konsentrasi 0,2%
sebesar 8 m, 0,4% sebesar 6,25 m, 0,6% sebesar 4,5 m, 0,9% sebesar 5 m dan
1,0% sebesar 6 m. Pada pengamatan kali ini didapatkan hasil yang bervariasi.
Seharusnya makin tinggi konsentrasi NaCl maka diameter sel darah merah makin
besar dan sebaliknya. Karena air yang terdapat di luar sel darah merah ke dalam sel.
Sehingga menyebabkan sel darah merah mengalami lisis. (Wulangi, 1993).
Berdasarkan pengamatan waktu beku darah, didapatkan hasil waktu beku darah
pada kelompok 1 adalah 1 menit 28 detik, kelompok 2 adalah 5 menit 36 detik,
kelompok 3 adalah 4 menit 38 detik, kelompok 4 adalah 2 menit 15 detik Menurut
Jati (2007) waktu normal untuk pembekuan darah adalah 3 - 8 menit. Perbedaan
waktu pembekuan darah pada masing-masing individu sampel dapat disebabkan oleh
adanya perbedaan kadar glukosa dalam darah serta perbedaan kekentalan darah.
Selain itu, keberadaan faktor-faktor yang berperan dalam pembekuan darah seperti
vitamin K juga sangat berpengaruh serta dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti,
stress, kondisi lingkungan, klainan genetis, dan pengaruh fisiologis lainnya.
Struktur sel darah merah sendiri sangat mudah berubah jika konsentrasi
didalam darah berbeda dengan di lingkungan. Hal ini terjadi karena adanya peristiwa
osmosis, yaitu proses perpindahan zat pelarut tinggi menuju zat pelarut rendah. Pada
percobaan kita membuat eritosit dalam keadaan hipotonis dengan memberikan
larutan NaCl. Hipotonis sendiri merupakan keadaan dimana konsentrasi larutan di sel
lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungan, sebaliknya dengan hipertonis yang
konsentrasi larutan sel lebih tinggi dilingkungan, dan isotonis memiliki konsentrasi
yang sama antara sel dengan lingkungan luarnya. Pada penelitian dengan memakai
alat dimana didapatkan komparasi dimana pada hipotonik memiliki kondisi
deformasi yang besar pada sel, sedangkan pada keadaan hipertonik hanya mengalami
deformasi yang kecil (Yuwono, 2001). Sel darah merah berpartisipasi dalam
hemostasis dan trombosis melalui sifat biokimia, sifat biomekanik dan rheologi,
antar interaksi, perakitan faktor koagulasi, pelepasan prokoagulan signaling senyawa,
dan komposisi bekuan fibrin. Menargetkan anti-trombotik dan obat anti-inflamasi
untuk sel darah merah memberikan pendekatan baru untuk mengurangi trombosit
dan patologi intravaskular lainnya (Villa et al., 2016).
Sel eritosit pada katak maupun manusia mengalami perbesaran diameter
dengan pemberian konsentrasi NaCl menandakan benarnya terjadi osmosis antara sel
dengan larutan hipotonis, namun naiknya konsentrasi NaCL pada data yang kita
temukan tidak berbanding lurus dengan diameter masing-masing sel darah merah
yang kita dapatkan, contohnya pada data diameter katak dimana dari konsentrasi 0,4
ke 0,6 % mengamalami penurunan, sedangkan pada konsentrasi 0,6 ke 0,9
mengalami peningkatan pada manusia. Katak sendiri mengalami perubahan diameter
yang tidak konsisten juga. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Yuwono (2001)
dimana larutan hipotonis akan membuat sel semakin membesar karena tekanan dari
arah masuk air kedalam sel, dan bahkan pecah karena tidak kuat menahan tekanan.
Sel darah merah pada katak berbentuk oval, memiliki inti dan ukurannya lebih
besar dibandingkan dengan sel darah merah pada manusia. Berbeda dengan sel darah
merah pada manusia yang bentuknya bikonkaf dan tidak berinti. Bentuk bikonkaf
pada sel darah manusia manusia bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan
untuk difusi gas. Ukuran sel darah merah pada katak tiga kali lebih besar dari pada
sel darah merah manusia, namun ukurannya dengan sel darah putih sama besar dan
keduanya memiliki inti sehingga pada darah katak sulit dibedakan antara sel darah
merah dan sel darah putihnya (Mediawati, 2009).
Struktur sel darah pada manusia berukuran lebih kecil dan berjumlah lebih
banyak dibandingkan dengan ukuran dan jumlah sel darah pada katak sawah (F.
cancrivora). Ukuran sel darah manusia yang lebih kecil dikarenakan manusia adalah
makhluk hidup yang aktivitasnya tinggi dan hidup didaerah yang terpapar oksigen
lebih banyak sehingga diperlukan sel darah yang efisien untuk menangkap lebih
banyak oksigen. Dengan semakin mengecilnya ukuran sel darah pada manusia maka
jumlahnya pun akan terus bertambah sebagai adaptasi untuk memperluas bidang
pegikatan oksigen. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soedjono (1988) yang
menjelaskan bahwa kepingan eritrosit mamalia memiliki diameter sekitar 6-8 m dan
ketebalan 2 m, lebih kecil dibandingkan sel-sel lainnya yang terdapat pada tubuh
suatu individu.
Darah akan mengalami koagulasi (pembekuan) karena dalam plasma darah
terdapat suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah, yaitu
Ca2+ dan fibrinogen. Fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh mendapat luka. ketika
kita luka maka darah akan keluar, trombosit pecah dan mengeluarkan zat yang
dinamakan trombokinase. Trombokinase bertemu dengan protrombin dengan
pertolongan Ca2+ akan menjadi trombin. Trombin akan bertemu dengan fibrin yang
merupakan benang-benang halus, bentuk jaringan yang tidak teratur letaknya, yang
akan menahan sel darah, dengan demikian terjadilah pembekuan. Protrombin di buat
didalam hati dan untuk membuatnya diperlukan vitamin K, dengan demikian vitamin
K penting untuk pembekuan darah (Bryon, 1973).
Pembekuan darah terjadi selama 4 menit 38 detik, hal ini sesuai dan
menunjukan waktu pembekuan darah dimana menurut Handayani (2013) waktu yang
normal merupakan 15 detik sampai 2 menit, dan umumnya berakhir sampai 5 menit.
Factor yang mempengaruhi lama nya pembekuan darah dikarenakan pada fibrinogen
trombin, prothrombin, tromboplastin, kalsium, proaccelerin, koagulasi, proconvertin,
anthemophilic faktor, komponen tromboplastin, stuart faktor, faktor antihemophilic
C, hageman faktor, dan faktor penstabil (Drews, 2012).
Adapun komponen koagulasi darah adalah sebagai berikut :
1. Protrombin: Fase ke dua dari pembekuan darah melibatkan perubahan
protrombin menjadi trombin. Protrombin ialah protein berupa alfa-globalin
dengan berat molekul 68.700 terdapat dalam plasma dengan konsentrasi 15 mg/dl
dan mudah pecah menjadi trombin dengan berat molekul 33.700 dibentuk di
dalam hati membentuk vitamin K, kekurangan vitamin K ini dapat
mengakibatkan pendarahan, suatu kecenderungan tidak cukup membentuk
protrombin. Protrombin dibentuk di dalam fase untuk membantu memulai
merubah protrombin. Tetapi dengan adanya ion kalsium dan faktor penghambat
tertentu cukup untuk memperlengkap reaksi tersebut. Protrombin juga
merupakan precursor inaktif trombin (enzim yang mengubah protein fibrinogen
plasma darah menjadi fibrin yang merupakan protein serat yang tidak larut yang
menggabungkan gumpalan darah). Protrombin harus berikatan dengan ion Ca2+
sebelum dapat diaktifkan menjadi trombin. Adanya peran vitamin K
memungkinkan residu asam glutamat yang terkandung dalam protrombin
berubah menjadi asam g-karboksiglutamat, sehingga ion Ca2+ bisa terikat.
Protrombin disintesis oleh hati dan merupakan prekursor tidak aktif dalam proses
pembekuan. Protrombin dikonversi menjadi thrombin oleh tromboplastin yang
diperlukan untuk membentuk bekuan darah (Shier, 2010).
2. Trombin : Fase ketiga proses pembekuan darah melibatkan aksi trombin di dalam
merubah Fibrinogen yang dapat larut menjadi fibrin yang tidak dapat larut.
Fibrinogen adalah plasma lain yang dihasilkan oleh hati dan ditemukan di dalam
sirkulasi plasma. Mula-mula fibrin keluar sebagai jaringan-jaringan dari benang
yang cepat menjadi padat, membentuk bekuan eritrosit. Eritrosit terperangkap di
dalam perangkap fibrin, tetapi sel-sel darah ini tidak tahu apa yang dilakukannya
dengan pembekuan itu. Selama bekuan menyusut, tampak cairan berwarna
kuning bening keluar, cairan ini disebut serum, sama dengan plasma kecuali
tanpa fibrinogen dan unsur pembeku lainnya yang telah digunakan di dalam
proses pembekuan darah (Soewolo, 2000)
3. Fibrinogen: Fibrinogen adalah protein dengan berat molekul 340.000 dalam
plasma dengan kadar 100 700 mg/dl (Soewolo, 2000).
4. Trombosit: Fragmen sel yang berasal dari megakariosit besar di sumsum
tulang.Trombosit berperan penting dalam hemostasis penghentian perdarahan
dari pembuluh yang cedera. Pada tubuh normal, pendarahan akan segera diatasi
agar darah tidak terus menerus keluar. Mekanisme penghentian darah dalam
pendarahan dapat disebut sebagai mekanisme koagulasi/penjendalan
darah.Mekanisme koagulasi darah penting untuk menjaga hemostasis
(keseimbangan darah) tubuh. Normalnya berjumlah 250.000 400.000 sel per
mm2, jika trombosit lebih dari 300.000 disebut trombositosis sedangkan yang
kurang dari 200.000 disebut trombositopenia, tidak berinti (Soewolo, 2000).
Koagulasi dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor pembekuan darah
diantaranya prokoagulan, subunit yang mengandung tempat antigenic, faktor Von
Willebrand, Prakalikrein dan kininogen. Aktivasi faktor-faktor koagulasi diyakini
terjadi karena enzim-enzim memecahkan fragmen bentuk prekursor yang tidak aktif,
oleh karena itu disebut prokoagulan. Proses pengentalan darah dapat dihambat oleh
berbagai senyawa, antara lain oleh aspirin, warfarin, heparin, dan kalium sitrat atau
natrium sitrat. Masing-masing senyawa mennghambat proses pengentalan darah
dengan cara yang beragam.
1. Aspirin menghambat koagulasi darah dengan menghambat agregasi platelet, atau
sebagai antiplatelet.
2. Warfarin, yaitu mekanismenya dengan menghambat karboksilasi residu glutamat
dari protrombin sehingga protrombin tidak dapat diubah menjadi trombin.
3. Heparin menghambat koagulasi darah dengan meningkatkan laju pembentukan
komplek trombin-antitrombin III yang dapat menginaktivasi trombin sehingga
tidak dapat melanjutkan proses pembekuan darah karena tidak dapat mengubah
fibrinogen menjadi fibrin.
4. Selain itu koagulasi dapat dicegah dengan penambahan senyawa yang dapat
menghilangkan garam kalsium (Schmidt, 1997).
Hemofilia adalah kelompok kelainan pembekuan darah dengan karakteristik sex-
linked resesif dan autosomal resesif. Gejala yang paling sering terjadi ialah perdarahan,
baik di dalam tubuh (internal bleeding) maupun di luar tubuh (external bleeding).
Masalah perdarahan dan kelainan pem-bekuan disini harus ditangani secara pendekatan
tim. Gejala yang paling sering terjadi pada hemofilia ialah perdarahan, baik yang terjadi
di dalam tubuh (internal bleeding) maupun yang terjadi di luar tubuh (external bleeding).
Internal bleeding yang terjadi dapat berupa: hyphema, hematemesis, he-matoma,
perdarahan intrakranial, hematuria, melena, dan hemartrosis. Terdapatnya external
bleeding dapat bermanifestasi sebagai perdarahan masif dari mulut ketika ada gigi yang
tanggal atau pada ekstraksi gigi; perdarahan masif ketika terjadi luka kecil; dan
perdarahan dari hidung tanpa sebab yang jelas (Yoshua & Engeline, 2013).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :


1. Sel darah akan membesar ketika diberikan larutan hipotonis, keriput jika
diberikan larutan hipertonik, dan normal ketika diberikan larutan isotonis. Hal ini
dikarenakan sifat osmoritas pada sel dengan larutan.
2. Pada katak berukuran besar, berinti, dan lonjong, sedangkan pada manusia
berukuran kecil, bulat bikonkaf, dan tidak berinti. Hal ini dikarenakan alam dan
aktifitas manusia dan katak yang berbeda, dimana manusia lebih efisien mengikat
oksigen di paparan oksigen yang tinggi dan aktifitas yang tinggi pula.
3. Waktu pembekuan darah pada kelompok 3 adalah sekitar 4 menit. Waktu normal
pembekuan darah 3-8 menit
DAFTAR REFERENSI

Bryon, S. 1973. Text Book of Physiology. Japan: St Lourst the Mosby Co. Toppon.
Co. Ltd.

Drews. R. E. 2012. Critical Issue in Hematology: Anemia, Thrombocytopenia,


Coagulopathy, and Blood Product Transfusions in Criticaly All Patients. Clin
Chest Med, 4(2),pp.607-622.

Handayani L. 2013. Pengaruh Pemberian Minyak Ikan Lemuru Terhadap kadar


Eritrosit dan Trombosit pada ayam Kampung. Purwokerto: Unsoed.

Jati, W. 2007. Aktif Biologi. Jakarta: Ganeca exact.

Mediawati, D. 2009. Fisiologi Darah Katak dan Manusia. Jakarta: FMIPA


Universitas Negeri Jakarta.

Norma, A, 2006. Sel Darah Pada Manusia. Bandung: Yudisthira.

Schmidt, K. 1997. Animal Physiology Adaptation and Environment. USA:


Cambridge University Press.

Shier, David. 2010. Holes Human Anatomy and Physiology, Ninth Edition. New
York: McGraw-Hill Companies.

Soedjono, B. 1988. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta: Depdikbud.

Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan


Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Villa, C.H., V. R Muzykantov & D. B Cines. 2016. The Emerging Role for Red
Blood Cells in Haemostasis: Opportunity for Intervention. ISBT Science
Series, 11(1) ,pp.158-164.

Watson, R. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat Edisi 10. Jakarta: EGC
Buku Kedokteran.

Wulangi, K. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Yogyakarta: UGM press.

Yoshua, V & Engeline A. 2013. Rehabilitasi Medik pada Hemofilia. Jurnal


Biomedik (JBM), 5(2),pp.67-73.

Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Purwokerto: Fakultas Biologi UNSOED.