Anda di halaman 1dari 12

Perubahan Objek dan Gaya Berpikir Ilmiah dari Zaman ke Zaman

(Pengetahuan dari Waktu ke Waktu)

Pengantar

Pengetahuan kebanyakan menyangkut suatu objek. Pengetahuan sifatnya objektif,


walaupun tidak selalu terlepas dari subjeknya. Pengetahuan kerap digunakan sebagai
rujukan. Pengetahuan dan keyakinan adalah sikap mental menyangkut suatu objek.
Keyakinan bisa saja keliru walaupun diyakini. Pengetahuan tidak bisa keliru karena setelah
terbukti keliru, pengetahuan ini tidak digunakan lagi untuk rujukan atau dikatakan bahwa
kekeliruannya telah diketahui. Kekeliruan yang diketahui itupun merupakan pengetahuan
juga. Kekeliruan yang dilakukan terus akan mengakibatkan kesalahan.

Dalam hal ini ilmu alam mempunyai bahasa sendiri karena objek yang dibicarakan
lepas dari subjektivitas pengamat. Bahasa dapat berupa alat ekspresi yang membutuhkan
daya abstraksi tingkat tinggi seperti persamaan-persamaan matematis yang rumit, juga
grafik, gambar, simbol yang berbicara jauh lebih efektif dibandingkan dengan bahasa verbal
untuk komunikasi manusia sehari-hari. Ini yang menyebabkan ilmu alam/sains kadang-
kadang dianggap sebagai bidang studi yang relatif sulit karena membutuhkan ketekunan dan
juga latar belakang yang sesuai serta minat yang tinggi.

A. Pembedaan Pengetahuan
Pengetahuan bercirikan beberapa pengetahuan tambahan lainnya yang mendukung atau
pengetahuan lain yang bisa menjadi pembanding. Dalam sains ada begitu banyak kenyataan
yang belum diketahui ataupun belum terumuskan dengan jelas dan menunggu penelitian
selanjutnya dari zaman ke zaman. Hal ini menyebabkan ilmu alam bisa dikatakan bersifat
sementara. Masih banyak yang perlu digali dan disempurnakan.
Pengetahuan selalu terbagi menjadi berbagai tahap dari prosesnya. Ada pengetahuan
terselubung dan ada pengetahuan aktual. Pengetahuan terselubung adalah pengetahuan
rasional yang rumusannya belum lahir, perlu elaborasi lebih lanjut, perlu eksperimen dan
pemikiran rumit yang tidak jarang membutuhkan kerja sama dengan ahli ilmu alam di bidang
lain. Pengetahuan aktual adalah pengetahuan yang dapat dilihat dengan objektif tanpa perlu
abstraksi.
Secara umum, pengetahuan dpat dibedakan menurut polanya. Pmebagian ini berlaku
untuk pengetahuan secara umum, termasuk untuk pengetahuan akan alam dan segala
aspeknya. Ada pembedaan (1) tahu bahwa (know that), (2) tahu bagaimana (know how), (3)
tahu akan (know about), dan (4) tahu mengapa (know why) sesuai dengan sejauh mana
pengetahuan telah diolah dan seberapa banyak pengetahuan itu diperlukan untuk
memecahkan masalah yang ada.
1. Know That
Tahu bahwa (to know that) adalah pengetahuan yang menyangkut informasi.
Pengetahuan semacam ini tidak terlalu mendalam sifatnya karena berhenti pada tahap
mengetahui dan mengumpulkan informasi yang sifatnya nyata dan faktual. Tahu bahwa ada
gempa tadi malam, merupakan pengetahuan yang benar, artinya banyak orang yang juga
merasakan gempa tersebut tadi malam. Bahwa pengetahuan tentang adanya gempa tadi
malam adalah benar dan objektif, tidak terbantahkan.
Tahu bahwa atau to know that ini juga bisa menyangkut konsep, teori, rumus, dan
informasi abstrak. Dalam tahap ini, masih dalam taraf dihafalkan. Misalnya atom terdiri dari
inti dan elektron, elektron bergerak mengelilingi inti atom. Hal tersebut adalah pengetahuan
yang dipelajari dibangku sekolah / kuliah tanpa memerlukan pengamatan langsung dan
diterima abstrak yang telah dibuktikan oleh para ahli sebelumnya. Banyak teori yang harus
diketahui dahulu sebelum mamahami teori lain yang memerlukan pemikiran lebih lanjut.
2. Know How
Tahu bagaimana (to know how) adalah pengetahuan yang sifatnya praktis yang sangat
berguna untuk menjalankan alat-alat maupun memecahkan masalah-masalah praktis.
Kebanyakan pengetahuan ini dikaitkan dengan ketrampialan (skill) mengoperasikan alat dan
kemahiran teknis. Pengetahuan ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan know that
di atas yang tidak memerlukan pemahaman lebih lanjut dan tidak memerlukan tindakan lebih
lanjut. Namun know how ini juga menuntut pengetahuan teoritis untuk mendukung
ketrampilannya, terutama dalam hal memecahkan masalah. Contoh yang baik untuk
melukiskan pengetahuan ini adalah ketrampilan montir kendaraan bermotor yang juga
memerlukan latar belakang teoritis mengenai kerja mesin dan kegunaan tiap bagian mesin
serta bagaimana menghubungkan tiap bagian agar mesin dapat bekerja, juga memperbaiki
kerusakan pada bagian-bagian tersebut. Pengalaman juga memberikan pengetahuan yang
sangat berharga bagi ketrampilan praktis ini, terutama untuk memberikan masalah-msalah
yang harus dipecahkan sehari-hari. Pengetahuan tahap ini sangat berguna.
3. Know About
Tahu akan/ mengenai (to know about) menyangkut pengetahuan spesifik akan sesuatu
melalui pengalaman dan pengenalan pribadi secara langsung dengan objek. Dalam bahasa
Indonesaia tahu akan ini diungkapkan dengan lebih lugas, yaitu kenal. Kenal mengandung
arti lebih dari sekedar tahu. Kenal seseorang mengandung arti orang yang dikenal tersebut
juga kenal dengan orang yang mengenalnya. Semua orang bisa tahu presiden suatu negara
misalnya, namun tidak semua mengenal dia dan tidak semua orang dikenal Bapak Presiden
tersebut. Tanpa pengenalan pribadi dan interaksi yang mendalam dengan objek yang dikenal
itu, pengetahuan belum dapat digolongkan pada know about.
Di dalam taraf mengenal ini kadar objektivtas dari kebenaran cukup tinggi. Contoh: tahu
akan alat titrasi (biuret) mengandung arti bahwa subjek yang mengenal ini dapat
bertanggung jawab penuh atas alat ini dan semua penjelasan yang diberikan. Penjelasan yang
diberikan mengenai alat ini dan segala permasalahannya dapat dipercaya karena daripada
orang lain yang hanya tahu secara teoritis.
4. Know Why
Tahu mengapa (to know why) adalah tingkatan pengetahuan yang jauh lebih mendalam
daripada tingkatan pengetahuan yang lain karena berkaitan dengan penjelasan yang harus
menerobos masuk ke dalam data atau informasi yang abstrak untuk menyingkap
pengetahuan. Pengetahuan macam ini perlu kerja penelitian yang keras dan elaborasi yang
tidak sedikit karena kepercayaan yang diberikan juga tinggi. Latar belakang teoritis juga
sangat diperlukan karena yang dihadapi adalah informasi yang harus dianalisis dengan
mendalam dan menggunkan teori-teori pendukung untuk mencapai ke kesimpulan yang
valid. Misalnya pengalaman Isaac Newton, benda yang jatuh dan jatuh ke bawah itu hanya
menarik perhatian ilmuwan yang berpikir mendalam sekaligus analitis sehingga dia mampu
menghasilkan teori besar.
Pertanyaan yang tidak selesai ternyata sangat bagus untuk perkembangan sains, yang bisa
membawa sains semakin maju. Tuntutan akan know why inilah yang mendorong kemajuan
ilmu dan teknologi.
Para ilmuwan biasanya lebih cenderung berkutat pada know how untuk tujuan pragmatis,
untuk menghasilkan produk yang menguntungkan dan mudah dipasarkan. Hal ini sangat
berkaitan dengan kepentingan teknologi. Namun tidak sedikit ilmuwan berkutat di ilmu-ilmu
murni jauh lebih tertarik pada know why, untuk lebih memperjelas serta senantiasa
menyempurnakan sejumlah teori dan konsep yang telah diketahhui sebelumnya. Bisa juga
apa yang baru dan didapat di zaman modern secara tidak langsung adalah verifikasi dari
konsep dan teori sebelumnya, di lapangan spesifik yang sama.
Menilai suatu pertanyaan sebagai benar atau salah bukanlah pekerjaan mudah. Namun
dalam hal pengetahuan alam/sains, pertanyaan benar atau salah selalu disertai fakta dan
logika.
B. Pengetahuan dan Kesadaran
Kesadaran merupakan kunci dari pengetahuan. Dapat dikatakan bahwa pengetahuan
alam didasari oleh kesadaran manusia akan alam. Memang tidak semua menyadari dan
mengetahui alamnya. Kehidupan senantiasa bisa berjalan lancar tanpa kesadaran dan tanpa
pengetahuan alam. Sains dan teknologi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan kita
pergunakan maksimal baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Hal penting adalah
bahwa dengan kesadaran manusia akan bergerak ke dalam kegiatan untuk mengetahui lebih
lanjut. Bahkan manusia berusaha untuk menjawab pertanyaaan dalam tingkatan know about
dan know why bahkan know how secara sadar maupun tidak. Manusia menyadari dan
bersikap, dari waktu ke waktu dalam kumpulannya. Tiap pengetahuan baru akan
menimbulkan kesadaran baru dan dengan demikian pencarian akan diteruskan. Misalnya di
lantai sebuah mall/supermarket ada papan kuning bertuliskan caution wet floor yang
merupakan peringatan bagi pengunjung yang melewati lantai tersebut harus berhati-hati
karena lantai licin. Artinya kita tahu bahwa ada peringatan lantai licin dan kita sadar dengan
melakukan tindakan tidak melewati lantai yang licin tersebut.

C. Skeptisisme, Subjektivisme, dan Relativisme


1. Aliran Skeptisisme
Sikap dasar kaum skeptis adalah bahwa manusia tidak pernah tahu akan apapun dan
manusia tidak boleh merasa pasti karena pengetahuan yang didapat dari waktu ke waktu
tidak pernah cukup. Sejak zaman Yunani kuno, ditengah masyarakat Sofistik sudah terdapat
tokoh-tokoh terkenal diantaranya Gorgias (485-380 SM), yang sering digelari bapak kaum
skeptis, yang mengambil sikap tidak mau percaya akan kebenaran menurut para pemikir
yang ada.
Ada tiga pernyataan Gorgias yang terpenting: 1) tidak ada yang benar-benar ada, (2)
kalaupun ada yang benar-benar ada, kita tak dapat mengetahuinya, (3) kalaupun kita tahu
apa yang benar-benar ada itu, kita tak dapat mengkomunikasikannya. Dari ketiga pernyataan
tersebut dapat ditarik implikasi bahwa pengetahuan sesungguhnya hanya merupakan
konstruksi abstraksi manusia, tidak ada realitas yang diketahui secara nyata.
Di awal zaman modern banyak orang kembali menjadi skeptis setelah dicetuskannya teori
kebolehjadian Heisenberg dalam mekanika kuantum dimana digambarkan bahwa letak
elektron tidak dapat diketahui secara pasti dan tepat pada saat yang sama. Banyak para ahli
akhirnya menarik implikasi dari teori ini bahwa sebenarnya usaha manusia untuk mencari
kepastian tidak akan membuahkan hasil, karena kepastian yang dicari tersebut pada
hakikatnya tidak bisa didapatkan. Bahkan Thomas Samuel Khan, filsuf sains, pernah
meragukan kemampuan ilmu pengetahuan untuk menemukan kebenaran.
Timbul sikap skeptis karena manusia terlalu mencari kepastian dan kebenaran tanpa
berpikir dengan lebih mendalam. Ada anggapan bahwa pengetahuan identik dengan
kepastian, dan manusia mencari pengetahuan seperti manusia mencari kepastian, supaya
manusia dapat berpegang pada kepastian itu dan tidak susah-susah menentukan sendiri mana
yang baik dan mana yang salah menurut dirinya. Sikap skeptis ini sangat berbahaya karena
akan mengarah ke fanatisme tertentu.
Sikap skeptis membantu manusia untuk selalu ragu-ragu dan selalu mencari, terutama
mencari kepastian supaya tidak perlu ragu-ragu lagi. Keraguan metodologis ini merajai
pemikiran manusia di abad pertengahan yang dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650),
ahli matematika yang sangat mengemukakan kesadaran objektif dari pelaku sains.
Ungkapannya yang terkenal adalah: cogito, ergo sum, saya berpikir, maka saya ada. Menurut
Descartes, segala sesuatu perlu diragukan dan dicarikan kebenarannya dan kebenaran itu
harus dapat disadari dengan jelas dan dapat dibedakan (clear and distinctive). Menurut
Descartes manusia mempunyai kemampuan untuk mengenali dan menangkap kebenaran,
bukan sekedar tahu akan kebenaran.
2. Aliran Subjektivisme
Subjektivisme mengandaikan satu-satunya hal yang kita ketahui dengan pasti adalah diri
kita sendiri dalam aktivitas kesadaran kita. Maka yang di luar subjek bisa diragukan
keberadaannya. Argumen yang melawan skeptisisme dengan kesadaran diri dari Descartes
ternyata membawa sekelompok manusia menuju ke subjektivisme mutlak. Karena
Descartes, banyak pemikir meyakini bahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan
pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita. Hal lain yang berada di luar diri kita
dan tidak diketahui secara langsung tidak dapat dipastikan kebenarannya. Kebenaran macam
.itu hanya dapat diterima setelah melewati argumentasi menggunakan Iogika dan
penyimpulan tidak langsung. Pengetahuan macam ini dikatakan sebagai pengetahuan tidak
Iangsung. Dalam pengetahuan yang diperlukan adalah pengetahuan objektif karena
mengkaji segala yang menjadi objek dan keradaannya di luar diri manusia yang
mengamatinya.
3. Aliran Relativisme
Menurut aliran relativisme, kebenaran dan kepastian yang ada tidak dapat diklaim oleh
manusia dengan mutlak karena sifatnya selalu relatif. Sifatnya tidak mutlak karena sangat
tergantung pada subjek yang melihat, situasi kondisi saat itu, kebudayaan dan hukum yang
berlaku saat itu, dan pandangan masyarakat akan kebaikan keburukan yang berlaku di daerah
tersebut saat itu.
Dengan melihat ketiga kecenderungan yang ekstrim dari manusia dari zaman ke zaman
ini maka sudah sepantasnya kita berhati-hati dalam menetukan sikap dan tidak terjebak
dalam salah satu ekstrim.

D. Sejarah Sains dan Ilmu Pengetahuan Alam


1. Ciri dan Karakteristik Manusia
Salah satu ciri dan karakteristik manusia adalah berpikir, dan dengan demikian manusia
langsung menjadi subjek. Subjek yang berpikir terus menerus akan membuat kumpulan
manusia berpikir, akan melahirkan sistem baru, akan menghasilkan stuktur pengetahuan.
Struktur pengetahuan akan objek di luar diri manusia biasanya bersifat objektif, dan
dimengerti oleh manusia lain dan kelompoknya. Struktur pengetahuan mengenai alam akan
menceritakan secara objektif mengenai alam dengan bahasa yang akan dimengerti oleh
subjek lain yang juga mengamati alam yang sama. Struktur pengetahuan akan akan
berkembang dan bertambah sepanjang sejarah karena manusia akan mengamati alam
lingkungannya dari waktu ke waktu.
Penemuan-penemuan yang memberikan informasi mengenai kemajuan berpikir manusia
tidak terpusat di satu tempat, melainkan menyebar di seluruh penjuru dunia dari daratan Asia
( Cina, India ), Yunani, Babilonia, Mesir, dan Irak. Hal ini cukup memberikan informasi
bahwa dimanapun manusia akan berpikir dan mempelajari alam hidupnya serta berusaha
bertahan mengatasi keganasan alam. Perkembangan ilmu pengetahuan yang mulai berjalan
pesat dengan adanya jalur perdagangan, yang terbukti efektif untuk menyebarkan kemajuan
dan informasi baru keseluruh penjuru dunia. Perdaban Timur (Asia) terbukti cukup memacu
perkembangan peradaban Barat masa itu.
2. Pentahapan Sejarah Perkembangan Sains
Sejarah perkembangan sains dapat dibagi menjadi beberapa tahapan dasar sebagai
berikut:
a. Zaman Batu Purba (4 juta 10.000 SM)
Pada zaman ini manusia telah mencapai kemampuan dasar untuk perkembangan ilmu
pengetahuan yaitu membedakan macam-macam hal, mengklasifikasi, mendesain alat-alat
bantu kerja, meningkatkan efisiensi, dan sebagainya. Kemampuan dasar ini diperoleh untuk
bertahan hidup dan berhadapan dengan alam yang keras.
Bukti kemajuan teknologi dapat dilihat dari peninggalan di gua tempat tinggal mereka,
alat berburu, lumbung tempat menyimpan makanan dan cara-cara pengawetan makanan
secara sederhana, gambar gua menunjukkan cara mereka berkomunikasi dan juga
kebudayaan serta seni berkomunikasi yang mereka miliki.
b. Zaman Pola Pikir Koheren (10.000 500 SM)
Pada zaman ini peradaban sudah maju dalam rupa kerajaan Cina, India, Mesir, Babilonia,
dan Yunani. Kemampuan bahasa sudah berkembang amat baik yang dapat dilihat dari
kemajuan ilmu pengetahuan seperti Matematika dan Astronomi, dan juga mitologi kuno
yang tak bisa dilepaskan dari manifestasi kerinduan manusia untuk mengerti gejala alam
yang pada saat itu belum terpecahkan.
Di peninggalan di lembah Mesopotamia telah ditemukan 12 Rasi bintang dengan nama-
nama binatang yang merupakan hasil pengamatan mendetil para ahli terhadap benda-benda
langit, dan untuk menghitung waktu sudah digunakan peredaran bulan dan matahari. Lama
matahari berevolusi selama 365 hari dan bulan 29 hari.
Di sekitar abad 500 SM or ang dapat mampu berpikir sangat abstrak dan berbicara bahasa
yang penuh simbolisme. Perkembangan filsafat di zaman Yunani kuno merupakan cikal
bakal perkembangan filsafat barat modern. Agama kuno di masa ini bercirikan politeisme.
Di antara abad ke 15-16 SM telah ditemukan unsur Besi, Tebaga, dan Perak yang tampak
pada peralatan mereka.
c. Zaman Pola Pikir Rasio
Pada zaman ini pola pikir Yunani adalah dominan. Beberapa nama dari masa kejayaan
Yunani kuno antara lain:
Thales (625-565 SM) menyatakan bahwa bintang bersinar dan bulan hanya memantulkan
sinar, dan berpendapat bahwa asal mula semua benda yang ada di alam semesta adalah
air, dan didapat dari proses-proses alam.
Anaximander (670-547 SM) menemukan jam matahari dan mendukung pendapat thales.
Herakleitos (540-480 SM) menyatakan bahwa api merupakan keutamaan yang
membentuk alam raya.
Phytagoras (580-500 SM) ahli matematika yang bermain dengan segitiga dan bilangan
pendapat bahwa unsur-unsur tanah, air, udara, dan api merupakan unsur utama alam.
Sokrates (470-399 SM) merumuskan metode Diaalektika untuk merumuskan kebenaran,
dan akan berkembang di dunia pemikiran modern satu milenium kemudian.
Demokritos (460-370 SM) menyatakan materi yang paling kecil dan tak dapat dibagi lagi
lagi dan disebut atomos adalah inti dari segala yang ada di alam.
Empledokles mengungkap bahwa daya ikat antara api, air, tanah, dan udara adalah
sesuatu yang disebut benci dan cinta.
Plato (427-347 SM) menyatakan bahwa keanekaragaman di alam merupakan duplikat
dari sesuatu yang kekal dan immaterial, ada dunia ide dan dunia materi.
Herakleitos yang bertolak pada segala sesuatu adalah majemuk dan selalu bergerak.
Aristoteles (384-322 SM) memberi label forma dan materia bagi realitas di alam.
d. Zaman Pertengahan (abad 2 - 14 M)
Zaman ini ditandai dengan karya para teolog (ahli agama).perumusan hukum alam
mendasar digabungkan dengan karya para teolog menjadi warna zaman ini. Berpadunya
agama islam dan kristen dalam menggali ilmu pengetahuan membuat penemuan menjadi
fenomenal dan sangat berguna untuk perkembangan sains di zaman selanjutnya.
e. Zaman Sains Modern pada Zaman Renaissance (14 - 17 M)
Zaman ini ditandai dengan bangkitnya akal budi yang melepaskan diri dari dogma
agama,. Dimulai dari revolusi Kopernikus (1473-1543) yang merumuskan alam semesta ini
heliosentris yang bertentangan dengan ide geosentrisme dan ptolomeus. Penelitiannya
diteruskan oleh George Joachim dan Tycho Brahe (1546-1601).
Johannes Keppler (1571-1630) merumuskan orbit benda-benda luar angkasa yang
berupa elips dan juga meramalkan terjadinya gerhana matahari dan bulan dengan
menghitung posisi benda langit tersebut. Konsep ini diteliti lanjut oleh Galileo Glilei (1564-
1642) dengan teleskopnya yang juga menemukan planet Jupiter dan membuktikan bahwa di
bulan juga ada kawah dan planet tidak mempunyai cahaya sendiri.
f. Zaman Pola Pikir Induksi
Zaman ini ditandai dengan gaya berpikir induksi telah mulai digunakan sebagai landasan
dalam penyelidikan ilmiah. Zaman ini sering disebut zaman timbulnya empirisme.
Penemuan cahaya oleh Christian Huygens dan juga perumusan mekanika klasik dari Isaac
Newton mengawali zaman ilmu pengetahuan alam baru yang sama sekali lain dari zaman
sebelumnya.
Rene Descartes (Renatus Cartesius, 1596-1650) dapat dianggap sebagai tonggak pendiri
era modern dalam pemikiran barat. Decartes juga mewariskan metode berpikir yang menjadi
landasan dalam ilmu pengetahuan modern, yang dapat dirangkum dalam tiga pernyataan
berikut: 1. Keraguan metodis; 2. Terimalah yang anda yakin benar saja; 3. Prinsip clear dan
distinctive.
Isaac Newton (1643-1727) adlah ahli fisika yang penemuan toeri gravitasi, penemuan di
bidang optika, dan rumusan mekanika klasiknya menjadi motor perkembangan ilmu
pengetahuan alam selama tiga abad. Teori gravitasi memperjelas semua penelitian
revolusioner Galileo dan Keppler yang meliputi gerakan sejumlah planet dan benda angkasa
dalam orbit yang berbentuk elips, dan bukan garis lurus, dan bukan lingkaran. Newton juga
melakukan perhitungan kalkulus yang meliputi deferensial dan integral. Di lapangan optik,
Newton berhasil mendokumentasikan pembiasan cahaya matahari oleh prisma kaca
sekaligus menjelaskan fenomena penguraian alam ini.
Zaman perkembangan sains pasca Newton adalah zaman keemasan bagi ilmu
pengetahuan alam. Teori dan hukum alam baru ditemukan pada zaman ini dan hukum-
hukumnya berlaku hingga saat ini. Penemuan mesin uap oleh James Watt (1736-1819)
memicu terjadinya era keemasan teknologi karena dalam waktu singkat industri-industri
mengaalami otomatisasi dengan menggunakan mesin-mesin.
g. Zaman Kontemporer
Zaman ini ditandai dengan kemajuan ilmu alam terutama fisika. Setelah percobaan Erns
Rutherford(1871-1937), penemuan J.J. Thomson (1856-1940), eksperimen Heissenberg
(1901-1976), Erwin Schodinger(1887-1951), dan kawan-kawan sampai merumuskan teori
kuantum, orang mulai menganalisis bahwa fisika merupakan dasar semua ilmu alam karena
subjek materinya mengandung penyelidikan mengenai unsur-unsur fundamental yang
menyusun alam semesta, dan jika dilihat dari sisi historisnya ada hubungan erat antara fisika
dan ilmu filsafat.
Hubble dengan teleskopnya telah melihat dinamika di alam raya, dan besarnya alam raya
melebihi apa yang dibayangkan sebelumnya. Lahirnya teori Dentuman Besar (Big Bang)
oleh Stephen Hawking juga menimbulkan banyak kontroversi pada saat itu. Kemajuan di
zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan beberapa teknologi canggih, disamping
itu gejala spesialisasi ilmu tak dapat dibendung lagi.
h. Sains di Masa Depan
Banyak ilmuan mendedikasikan perhatiannya pada gejala alam non-linier dan random,
dengan bantuan matematika modern yang membahas teori kemungkinan, sains di masa
depan bergerak di lapangan yang berbeda, misalnya memetakan ketidakteraturan di alam,
yang sebelumnya terlupakan. Ilmu baru seperti chaos dan faktoral adalah hasil
berkembangan di laman yang tidak linier ini. Benoit Mandelbrot, Ilya Prigogine, Stephen
Wolfram, dan masih banyak lagi ilmuan yang muncul tiga dekade terakhir.
Lebih jauh lagi sains di masa depan adalah Sains Digital. Karenanya manusia akan
menghadapi kenyataan baru, yakni kenyataan virtual (virtual reality). Pesatnya laju
komunikasi antar komputer besar atau kecil membuat realitas fisika yang selama ini
dipelajari sama sekali tidak menyentuh realitas yang akan dibicarakan sains masa depan.
E. Perulangan Pola
Sejarah akan terulang. Ungkapan ini sering terbukti. Sejarah mencatat perubahan titik
tolak perkembangan pengetahuan alam dari zaman ke zaman: alam makro dan perbintangan,
lalu mengecil skalanya menjadi materi seputar kehidupan (air, api, tanah, kayu), mengecil
lagi sampai skala mikro. Di awal abad pertengahan terulang lagi pola yang ternyata mirip
dengan pola minat zaman dahulu, terhadap hal yang dibahas (matahari, tatsurya, benda-
benda kecil), dan metode yang digunakan, penggunaan rasio dan pengamatan empiris
mengalami osilasi alternatif yang menuju ke kebenaran alam yang lebih spesifik lagi.
Dengan demikian, sikap manusia dari zaman ke zaman, skeptisme, subjektivisme, dan
bahkan relativisme berulang pula dengan tokoh dan ciri pemikiran mirip namun
menunjukkan karakter zamannya. Perulangan pola tanpa disadari sudah menjadi
keharusan dalam proses, baik proses yang terjadi di alam maupun proses berpikir manusia.
Tanpa pengulangan pola, kita tidak tahu arah suatu proses akan menuju kemana. Naik
turunnya minat manusia untuk mempelajari alam juga mempunyai pola serupa.

Kesimpulan
Pengetahuan manusia berkembang sedikit demi sedikit dan mewarnai hidup manusia dari
waktu ke waktu. Akumulasi pengetahuan manusia akan alam melahirkan spesifikasi ilmu
dan kajian sains menurut macam-macam kategori. Pembagian ilmu pada umumnya
didasarkan pada objek kajiannya.
Perkembangan ilmu sangat cepat dan tidak terbendung di era komputasi dan
telekomunikasi. Dengan demikian alam realitas yang dipelajari manusia menjadi bertambah,
yakni realitas maya yang akan mewarnai sains di masa yang akan datang. Realitas maya di
zaman digital telah mewarnai perkembangan sains di masa kini. Demikian pula ilmu lain di
luar sains akan merasakan dampak perkembangan sains ini. Dengan demikian pengetahuan
dan kajian manusia secara menyeluruh dapat berkembang ke segala arah dengan akhir yang
tidak pernah dapat diduga.
Mencermati sejarah perkembangan sains akan memberikan pemahaman baru akan
proses-proses di alam yang teliti dan dijalankan manusia. Bermula dari kesadaran subjek dan
objek, manusia tidak pernah akan berhenti mencari pengetahuan. Pengetahuan yang ada akan
berkembang menjadi pengetahuan baru. Dalam lingkup kajian tertentu, pengetahuan baru
dicari dengan metodologi. Objek-objek yang diteliti dari waktu ke waktu menghasilkan
pengetahuan baru dan metodologi baru. Jika saat ini kita mempunyai sekian ratus cabang
ilmu baru maka hal ini merupakan hasil dari usaha manusia untuk mengetahui alamnya
dengan penuh kesadaran.
Aspek kesadaran juga sangat diperlukan di saat realitas maya menjadi bahan kajian yang
tidak terelakan. Realitas maya yang disadari akan membantu para ilmuan menentukan arah
perkembangan pengetahuan tanpa menambah kerumitan yang sudah ada, dan menyebarkan
hasil pengetahuan kepada masyarakat luas. Kesadaran akan tugas-tugas ilmuan akan
membantu banyak pemecahan masalah serta mencegah masalah lebih lanjut masuk kedalam
lingkaran permasalahan yang sudah ada.
Dengan demikian pada zaman era digital sekarang, dimana era muncul dan
berkembangnya teknologi, informasi, dan komputer dengan sangat pesat kita harus berpikir
ilmiah maksudnya, berpikir logis sesuai fakta tidak menelan mentah-mentah informasi yang
beredar tanpa adanya bukti yang mendukung dan sebagai pengguna tidak hanya cerdas tetapi
bijak dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Buku
Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. 2010. Dasar-Dasar Sains. Jakarta: Indeks
Internet
http://ilmiyahblog.blogspot.co.id/2016/05/dasar-dasar-sains-mind-mapping.html/ diakses
pada 17 September 2017
https://andikartika.wordpress.com/2012/07/11/perkembangan-ilmu-pengetahuan-dari-
masa-ke-masa/ diakses pada 17 September 2017
https://www.rangkumanmakalah.com/sejarah-perkembangan-ilmu-pengetahuan/ diakses
pada 17 September 2017