Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mulut merupakan pintu gerbang pertama di dalam sistem pencernaan.

Makanan dan minuman akan diproses didalam mulut dengan bantuan gigi-

geligi, lidah, saliva, dan otot. Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut

merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan. Mulut bukan sekedar

pintu masuk makanan dan minuman, tetapi fungsi mulut lebih dari itu dan

tidak banyak orang menyadari besarnya peranan mulut bagi kesehatan dan

kesejahteraan seseorang. Masyarakat akan sadar pentingnya kesehatan gigi

dan mulut ketika terjadi masalah atau ketika terkena penyakit. Oleh karena itu

kesehatan gigi dan mulut sangat berperan dalam menunjang kesehatan

seseorang.

Salah satu penyakit yang sudah tidak asing lagi ialah stomatitis.

Stomatitis dapat disebabkan oleh rangsangan mekanik, termal, kimia, dan

fisik. Selain itu juga disebabkan karena malnutrisi, diabetes, dan sistem

hemopoietik. Faktor- faktor lainnya yang meyebabkan stomatitis adalah

protesa yang tidak tepat, benda asing, makan atau minum yang panas,

pengaruh alkali dan juga asam.

Kejadian stomatitis di dunia mencapai rata-rata prevalensi populasi

sebanyak 20%. Penelitian yang telah dilakukan oleh Anom dkk (2013),

menyatakan bahwa penyakit stomatitis juga memiliki angka kejadian yang

cukup tinggi yaitu 68,2 % responden pernah mengalami penyakit stomatitis

1
2

dan faktor yang paling memicu terjadinya stomatitis adalah faktor trauma,

stress dan kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C.

kejadian stomatitis di daerah surakarta juga sering terjadi, terbukti didapatkan

2.710 jiwa yang mengalami stomatitis (Dinkes, 2014).

Stomatitis dikenal juga sebagai sariawan, recurrent aphthae, recurrent

oral ulceration. Stomatitis merupakan radang yang terjadi di daerah mukosa

mulut, biasanya berupa bercak putih kekuningan dapat tunggal maupun

kelompok dengan permukaan yang agak cekung. Beberapa faktor yang

berperan terhadap timbulnya stomatitis aftosa rekuren (SAR) antara lain

trauma, infeksi bakteri atau virus dan gangguan sistem imun (Cella dkk.,

2010).

Keperawatan merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang

profesional, bersifat holistik dan komprehensif yang ditunjukkan kepada

individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik dalam keadaan sehat

maupun sakit. Pelayanan keperawatan yang diberikan oleh seorang perawat

sangat mempengaruhi mutu asuhan keperawatan yang akan diterima oleh

pasien. Oleh karena itu perlu adanya pemahaman khusus mengenai proses

keperawatan itu sendiri serta pemahaman mengenai komunikasi terapeutik

dalam melaksanakan asuhan keperawatan.

Perawat perlu mengembangkan ilmu serta praktik keperawatan salah

satunya melalui penggunaan model konseptual keperawatan. Dan salah satu

model konseptual model keperawatan itu adalah selfcare oleh Dorothea Orem.

Fokus utama dari teori orem ini adalah kemampuan seseorang untuk merawat
3

diri sendiri sehingga tercapai kemandirian untuk mempertahankan kesehatan.

Orem dalam teori sistem keperawatannya menggarisbawahi tentang

bagaimana kebutuhan self-care klien dapat dipenuhi oleh perawat, klien atau

kedua-duanya. Sistem keperawatan dirancang oleh perawat berdasarkan

kebutuhan self-care dan kemampuan klien dalam menampilkan aktivitas self-

care. Apabila ada self-care deficit, yaitu defisit antara apa yang bisa dilakukan

(self-care agency) dan apa yang perlu dilakukan untuk mempertahankan

fungsi optimum (self-care demand), disinilah keperawatan diperlukan.

Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien yang

mengacu pada teori Self Care berprinsip pada usaha menolong atau membantu

pasien individu yang tidak mampu untuk terlibat dalam tindakan self-

care yang memerlukan kemandirian dan ambulasi yang terkontrol serta

pergerakan manipulatif atau penatalaksanaan medis untuk menahan diri dari

aktivitas-aktivitas, perawat dan klien melakukan tidakan care atau tindakan

lain yang bersifat manipulatif atau ambulasi di mana baik klien maupun

perawat mempunyai peran yang besar dalam pelaksanaan tindakan perawatan,

seseorang mampu melaksanakan atau bisa dan harus belajar untuk melakukan

tindakan self-care terapeutik yang diperlukan yang berorientasi secara

eksternal atau internal tapi tidak bisa melakukannya tanpa bantuan.

Hasil akhir dari tindakan keperawatan menurut Orem adalah adanya

peran perawat sebagai pendidik atau konsultan dalam meningkatkan

kemampuan klien sebagai self-care agent sehingga diharapkan kemandirian

pasien berangsur-angsur dapaat terwujud.


4

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan

penelitian tentang penerapan aplikasi teori Dorothea Orem dalam pemberian

asuhan keperawatan pada Tn. R dengan Stomatitis di Puskesmas Bentiring

Bengkulu Tengah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas yang telah dikemukan, maka

permasalahan yang akan peneliti angkat adalah bagaimana keefektifan

aplikasi teori Dorothea Orem dalam pemberian asuhan keperawatan pada Tn.

R dengan Stomatitis di Puskesmas Bentiring Bengkulu Tengah.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mampu menerapkan aplikasi teori Dorothea Orem dalam

pemberian asuhan keperawatan pada Tn. R dengan Stomatitis di

Puskesmas Bentiring Bengkulu Tengah.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian penerapan model konsep teori

Dorothea Orem dalam pemberian asuhan keperawatan pada Tn. R

dengan Stomatitis di Puskesmas Bentiring Bengkulu Tengah.

b. Mampu menentukan diagnosa keperawatan dengan teori Dorothea

Orem dalam pemberian asuhan keperawatan pada Tn. R dengan

Stomatitis di Puskesmas Bentiring Bengkulu Tengah.

c. Mampu melakukan penerapan intervensi keperawatan pada model

konsep teori Dorothea Orem dalam pemberian asuhan keperawatan


5

pada Tn. R dengan Stomatitis di Puskesmas Bentiring Bengkulu

Tengah.

d. Mampu melakukan penerapan implementasi keperawatan pada model

konsep teori Dorothea Orem dalam pemberian asuhan keperawatan

pada Tn. R dengan Stomatitis di Puskesmas Bentiring Bengkulu

Tengah.

e. Mampu melakukan penerapan evaluasi pada model konsep teori

Dorothea Orem dalam pemberian asuhan keperawatan pada Tn. R

dengan Stomatitis di Puskesmas Bentiring Bengkulu Tengah.

f. Mampu menarik kesimpulan dari proses penerapan model konsep

keperawatan teori Dorothea Orem dalam pemberian asuhan

keperawatan pada Tn. R dengan Stomatitis di Puskesmas Bentiring

Bengkulu Tengah.

D. Manfaat Penelitian

Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi Perawat

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang penerapan teori

Dorothea Orem dalam pemberian asuhan keperawatan pada pada

Stomatitis.

2. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

Sebagai bahan acuan dalam mengembangkan pelayanan maupun

penanganan terhadap pasien khususnya pada pasien stomatitis dengan


6

mengaplikasikan teori keperawatan Dorothea Orem sehingga pasien

dapat mendapatkan kesehtan yang maksimal dan mandiri.

3. Bagi Akademis

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan referensi dan bahan bacaan

bagi mahasiswa keperawatan khususnya mahasiswa program studi

profesi ners STIKes Dehasen Bengkulu.

E. Aplikasi Penulisan Karya Tulis Ilmiah terhaadap Ilmu Keperawatan

Dalam penulisan karya tulis ilmiah penulis menggunakan beberapa metode

penulisan antara lain :

1. Studi Kepustakaan

Yakni membaca literatur yang menerangkan dan berhubungan dengan

teori Dorothea Orem dan kasus stomatitis serta perawatannya baik berupa

buku-buku dan informasi lainnya.

2. Studi Kasus

Yakni mengkaji merencanakan dan melaksanakan asuhan keperawatan

pada klien secara langsung dengan cara :

a. Wawancara

Dalam pelaksanaan studi kasus keperawatan terhadap klien, penulis

mendapatkan data secara lisan dari klien dan keluarga melalui

percakapan.
7

b. Observasi

Pada tahap pengkajian dan implementasi penulis dapat melihat

langsung keadaan klien.

c. Pemecahan Masalah

Dalam penerapan studi asuhan keperawatan penulis menyelesaikan

masalah-masaalah yang ada pada klien dengan melakukan intervensi

langsung dengan menjalin kerjasama terhadap klien.