Anda di halaman 1dari 21

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

FORMULASI SALEP EKSTRAK IKAN GABUS (Channa striatus) DAN


LIDAH BUAYA (Aloe barbadensis Miller) UNTUK MEMPERCEPAT
PENYEMBUHAN LUKA BAKAR

BIDANG KEGIATAN :
PKM-GT

Disusun oleh:

Setiyawati 115080313111002 / 2011


Putri Pertiwi 115080313111008 / 2011
Vischa Chindi M 115080301111014 / 2011

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011

1
HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

1. Judul Kegiatan : Formulasi Salep Ekstrak Ikan Gabus (Channa


Striatus dan Lidah Buaya (Aloe barbadensis
Miller) untuk Mempercepat Penyembuhan Luka
Bakar
2. Bidang Kegiatan : ( ) PKM-GT
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap
b. NIM : 115080313111002
c. Jurusan : Manajemen Sumberdaya Perairan
d. Universitas : Universitas Brawijaya
e. Alamat dan No HP : Jalan Sumbersari gang 2, 88 Malang/
085649928753
f. Alamat email : tya_lakerszero@yahoo.co.id
5. Anggota Pelaksana Kegiatan : 2 orang
6. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap : Yunita Eka Puspitasari, S.Pi, MP
b. NIP : 19840607 201012 2 003
c. Alamat & No. HP : Jl. Danau Kerinci V G6D/11 SawojajarMalang

Malang, 12 Oktober 2011

Mengetahui
Pembantu Dekan III
Ketu Pelaksana Kegiatan

(Dr. Ir. Harsuko Riniwati, MP.) Setiyawati


NIP. 19630604 199002 2 002 NIM. 115080313111002

Pembantu Rektor
Bidang Kemahasiswaan Dosen Pendamping

(Ir. R.B. Ainurrasyid, MS.) (Yunita Eka Puspitasari, S.Pi, MP)


NIP. 195506181981031002 NIP. 19840607 201012 2 003

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat
serta hidayah-Nya, sehinga penyusun dapat menyelesaikan penulisan PKM-GT
berjudul Salep Ekstrak Ikan Gabus dan Lidah Buaya untuk Mempercepat
Penyembuhan Luka Bakar tanpa kendala yang berarti.

Karya tulis ini adalah hasil dari sebuah gagasan kreatif penulis sebagai suatu
ide yang sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya dalam hal penyembuhan luka
bakar. Aplikasi metode ini hanyalah sebuah tindakan nyata dalam usaha
penyembuhan luka bakar.

Selain itu, ucapan terima kasih yang tulus penyusun persembahkan kepada :

1. Kedua orang tua penyusun yang telah memberikan bimbingan, kasih


sayang, motivasi, sehingga penyusun dapat sampai ke masa kuliah serta
dapat menyelesaikan PKM-GT ini.
2. Ibu Yunita Eka Puspitasari, S.Pi, M. P selaku dosen pendamping yang
telah meluangkan waktu Beliau untuk membina penyusun dalam
menyusun karya tulis ilmiah ini
3. Rekan-rekan yang telah membantu penyusunan karya tulis ilmiah ini
dan rekan-rekan lain yang tidak sempat penulis sebutkan namanya satu
persatu.
Penyusun menyadari bahwa penulisan ini masih banyak kekurangan
sehingga jauh dari kesempurnaan. Hal ini disebabkan terbatasnya pengetahuan dan
kemampuan penyusun.

Akhirnya penyusun berharap mudah-mudahan penulisan ini dapat


bermanfaat bagi penyusun khususnya dan semua pihak serta para pembaca umumnya.

Malang, 4 Oktober 2011

Penyusun

3
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................ ii
KATA PENGANTAR........................................................................................ iii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... v
DAFTAR TABEL.............................................................................................. vi
RINGKASAN..................................................................................................... vii

PENDAHULUAN.............................................................................................. 1
Latar Belakang............................................................................................... 1
Tujuan............................................................................................................ 1
Manfaat.......................................................................................................... 1

GAGASAN......................................................................................................... 2
Klasifikasi Ikan Gabus................................................................................... 2
Komponen Bioaktif Ikan Gabus.................................................................... 2
Lidah Buaya dan Komponen Bioaktifnya..................................................... 4
Kulit dan Luka Bakar..................................................................................... 7
Salep dan Mekanisme Absorbsi Obat Melalui Kulit..................................... 9
Proses Penyembuhan Luka............................................................................ 10
KESIMPULAN.................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 12
DAFTAR RIWAYAT HIDUP.......................................................................... 14

4
DAFTAR GAMBAR

Gambar Ikan Gabus.............................................................................................2


Gambar Lidah Buaya...........................................................................................4
Gambar Komponen Asam Amino Lidah Buaya..................................................7
Gambar Klasifikasi luka bakar............................................................................8

5
DAFTAR TABEL

Tabel Asam Amino Ekstrak Ikan Gabus.............................................................3


Tabel Zat Aktif Lidah Buaya (Aloe vera) yang sudah teridentifikasi..................6

6
RINGKASAN

Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh
energi panas atau bahan kimia atau benda-benda fisik yang menghasilkan efek baik
memanaskan atau mendinginkan. Masalah terpenting dalam penanganan luka bakar
yang utama adalah mencegah luka tersebut agar tidak terjadi infeksi. Pencegahan
infeksi ini dilakukan dengan memberikan salep yang diformulasikan dari ekstrak ikan
gabus.
Pada ikan gabus terdapat serum albumin yang merupakan komponen yang
diproduksi dari darah manusia yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka, baik luka
bakar maupun luka pasca operasi. Fungsi utama albumin yakni mengatur tekanan
osmotik didalam darah. Albumin menjaga keberadaan air dalam plasma darah
sehingga dapat mempertahankan volume darah. Bila jumlah albumin turun akan
terjadi penimbunan cairan dalam jaringan (adema) misalnya bengkak dikedua kaki.
Ekstrak gel lidah buaya dapat digunakan untuk mengatasi luka akibat sinar X
dan luka bakar akibat radiasi radium. Gel lidah buaya berisi glukomannan (salah satu
grup dari polisakarida), brandykinase (suatu inhibitor protease), magnesium laktat,
senyawa antiprostaglandin, serta anti-inflamatori. Penggunaan sebagai salep (ontmen)
mempunyaai pengaruh antimikroba yang dihasilkan lebih cepat dalam penyembuhan
luka dibandingkan dengan salep perak sulfadazina. Selain itu penambahan ekstrak
lidah buaya membantu dalam pengurangan bau amis yang terdapat pada kandungan
ekstrak ikan gabus.

7
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ikan gabus yang ada di perairan Indonesia terdiri dari dua kelompok besar
yaitu ikan Toman (Ophiocephalus micropeltes) dan ikan Gabus biasa (Ophiocephalus
striatus). Ikan gabus biasa dikenal dengan nama lain yaitu bako, haruan, tola, dan
kayu. Badannya bulat, pipih pada bagian posterior, punggungnya kecoklatan hampir
hitam, bagian perut putih kecoklatan (Jangkaru,1999). Ikan ini biasa memijah pada
musim penghujan di tepian sambil menyusun sarang yang melingkar di ujung
tanaman sejenis rumput. Telur menetas setelah 1-2 hari. Biasanya gabus mulai
reproduksi setelah berumur 2 tahun (Kiswantoro,1986).
Saat ini ikan gabus digunakan dalam dunia kedokteran sebagai penyembuh
luka pasca operasi dan luka bakar dengan mengambil ekstrak dari ikan gabus
tersebut. Ikan Gabus memiliki potensi fungsional yang tinggi, maka dilakukan
pengolahan terhadap ikan gabus tersebut menjadi produk obat yang berbentuk (Saleh
et al.,1985).
Lidah buaya (Aloe vera) adalah salah satu tanaman obat tradisional yang
termasuk ke dalam suku Liliaceae, sering ditanam di dalam pot atau halaman rumah
hanya saja khasiatnya belum digunakan secara optimal, padahal lidah buaya ini
mengandung berbagai zat aktif yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Khasiat yang sudah dikenal pada tanaman ini yaitu mempercepat penyembuhan luka
bakar (Furmawanti,2002).
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada
kulit atau selaput lendir. Salep memiliki keuntungan tersendiri, seperti proses
produksi yang lebih sederhana dan murah (Earle,1968).

Tujuan Penulisan
1. Memberikan gagasan baru mengenai pemanfaatan ikan gabus dan lidah
buaya untuk pengobatan luka bakar dalam bentuk sediaan salep
2. Untuk mengetahui kandungan yang terdapat pada Lidah buaya dan ikan
gabus yang berpotensi tinggi dapat membantu mempercepat penyembuhan
luka bakar.
3. Untuk memberikan informasi pengetahuan bagi masyarakat mengenai
khasiat albumin yang terdapat pada ikan gabus dan glukomannan yang
terdapat pada Lidah Buaya

Manfaat Penulisan
1. Bagi pemerintah, sebagai rekomendasi kebijakan pemerintah terhadap
pembudidayaan ikan gabus dan lidah buaya untuk dimanfaatkan sebagai
bahan obat

8
2. Bagi masyarakat, sebagai bahan informasi mengenai khasiat lidah buaya
yang banyak terdapat di pekarangan rumah
3. Bagi mahasiswa, sebagai sebuah bahan kajian lebih lanjut yang nantinya
dapat ditelusuri akan kebenarannya dalam pemanfaatan ekstrak ikan gabus
dan lidah buaya dalam bentuk salep untuk penyembuhan luka bakar

GAGASAN

Klasifikasi Ikan Gabus


Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) yang di sebut snake head ini tergolong
ikan buas dengan makanan berupa zooplankton, katak, kepiting dan lain-lain. Untuk
makanan tambahan dapat diberikan cincangan daging ikan-ikan yang tidak memiliki
nilai ekonomis atau sisa-sisa penyiangan. Ikan gabus hidup di perairan tawar dengan
pH 4,5 sampai 6 dan tidak begitu dalam, ada juga yang hidup di air payau. Tubuhnya
hampir bulat panjang, makin kebelakang makin pipih dan di tutupi oleh sisik yang
berwarna hitam dengan sedikit belang pada bagian punggung sedangkan perutnya
berwarna putih (Asmawi, 1986).
Klasifikasi ikan gabus menurut Saanin (1968) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub Ordo : Ophiocephalidae
Famili : Ophiocephalidae
Genus : Ophiocephalus (Channa) Gambar 1. Ikan gabus
Spesies : Ophiocephalus striatus(Channa striatus)

Komponen Bioaktif Ikan Gabus


Ikan gabus (Channa striatus) merupakan jenis ikan yang sudah banyak
dimanfaatkan dan diolah oleh masyarakat untuk dibuat tepung ikan seebagai pakan
ternak. Namun, sejalan dengan perkembangan teknologi, ikan gabus tidak hanya
digunakan dalam pembuatan pakan ternak. Saat ini ikan gabus juga digunakan dalam
dunia kedokteran sebagai penyembuh luka pascaoperasi dan luka bakar dengan cara
mengambil ekstrak ikan tersebut. Serum albumin merupakan komponen yang
diproduksi dari darah manusia yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka, baik luka
bakar maupun luka pasca operasi. Akan tetapi harga serum albumin mahal, sehingga
pasien harus mengeluarkan biaya yang cukup besar. Dengan ditemukannya albumin
pada ikan gabus diharapkan dapat menjadi alternatif obat untuk mempercepat
penyembuhan luka sehingga membantu mengurangi biaya pasien untuk mendapatkan
serum albumin tersebut (Saleh et al., 1985).
Albumin merupakan protein globular. Protein adalah sumber asam-asam
amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak

9
atau karbohidrat. Molekul protein mengandung pula fosfor, belerang dan ada jenis
protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga (Winarno,2002).
Menurut (Puspitasari,2007) ikan gabus yang diekstrak menggunakan ekstraktor
vakum pada suhu 35C selama 12,5 menit merupakan perlakuan terbaik ekstraksi
crude albumin Ikan Gabus. Adapun profil asam amino dari albumin Ikan Gabus
disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Profil asam amino ekstrak ikan gabus


Jenis Asam Amino Kadar (g/mg)
Fenilalanin 0,132
Isoleusin 0,098
Leusin 0,169
Valin 0,127
Treonin 0,084
Lisin 0,197
Histidin 0,062
Aspartat 0,072
Glutamat 0,286
Alanin 0,150
Prolin 0,082
Serin 0,081
Glisin 0,140
Sistein 0,017
Tirosin 0,025
Arginin 0,109
NH3 0,026
Sumber : Puspitasari (2007).

Asam-asam amino tertentu seperti triptofan, arginin, trisin, fenilalanin,


glutamin, alanin, treonin, dan prolin dapat merangsang proses sintesa albumin.
Albumin pada manusia terutama banyak mengandung asam aspartat dan glutamate
dan sangat sedikit triptofan ( Tandra,dkk,1988 ).
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Fungsi pertama, yakni mengatur tekanan
osmotic di dalam darah. Albumin menjaga keberadaan air dalam plasma darah
sehingga dapat mempertahankan volume darah. Fungsi kedua, sebagai sarana
pengangkut/transportasi. Albumin juga bermanfaat dalam pembentukan jaringan
tubuh yang baru pada saat pertumbuhan dan mempercepat penyembuhan jaringan
tubuh, misalnya sesudah operasi, luka bakar dan saat sakit (Handoko, 2003).
Sekitar 6-8% plasma darah terdiri atas protein plasma. Biasanya protein
plasma dibagi dalam 3 golongan (fibrinogen, globulin, dan albumin) dengan memakai
berbagai konsentrasi natrium sulfat dan ammonium sulfat. Fibrinogen merupakan
protein prazat fibrin yang membekukan darah (Martin et al., 1982). Fibrinogen,
sebagai salah satu penyusun plasma darah, bersama-sama dengan trombin merupakan

10
protein pembeku darah yang menjaga kehilangan darah jika sistem pembuluh terluka
(Lehninger, 1988). Gumpalan darah dibentuk oleh protein (fibrinogen) yang terdapat
dalam plasma dan bertransformasi menjadi jaringan tak larut dari material fibrosa
melalui mekanisme pembekuan darah (Harper, 1975).
Aplikasi penggunaan albumin dalam klinis adalah untuk perbaikan gizi dan
penyembuhan luka pasca operasi. Dalam uji coba pada instalasi gizi dan bagian bedah
RSUD Dr.Syaiful Anwar Malang kepada pasien pasca operasi dengan kadar albumin
rendah (1,8 g/dl), pemberian diet kurang lebih 3kg ikan gabus masak/hari telah
meningkatkan albumin darah pasien menjadi normal, yakni kurang lebih 3,5-5,5 g/dl
dan luka operasi menutup dalam waktu 8 hari tanpa efek samping (Aqua, 2003).
Selain albumin , di dalam ikan gabus terdapat mineral yang berupa seng.
Fungsi lain dari seng adalah berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan merupakan
mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi, selain itu seng juga berperan
dalam berbagai fungsi organ, misalnya keutuhan penglihatan yang merupakan
interaksi metabolisme antara seng dan vitamin A (Revina, 2004). Seng juga bertindak
sebagai kofaktor dalam banyak enzim metabolik serta epitalisasi dan kekuatannya
(Sabiston and Lyerly, 1994).

Lidah Buaya dan Komponen Bioaktifnya


Lidah buaya ( Aloe vera linn. ) merupakan tanaman suku Liliaceae asli Afrika
yang dapat tumbuh dengan mudah didaerah tropis dengan lahan berpasir dan sedikit
air serta memiliki pertumbuhan yang mudah dan cepat. Tanaman ini telah lama
dikenal sebagai The Miracle Plant serta telah banyak dii gunakan orang diberbagai
Negara seperti Cina, Kongo, dan Amerika sebagai obat luka, rambut rontok, tumor,
wasir, dan laksansia. Lidah buaya telah dimanfaatkan oleh sekitarr 23 negara yang
tercantum dalam daftar prioritas WHO sebagai bahan baku uttama obat dan
kosmetika (Fit, 1983; Wijayakusumah, 1990).
Klasifikasi Lidah buaya
Dunia : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Liliflorae
Suku : Liliaceae
Marga : Aloe
Spesies : Aloe barbadensis Miller Gambar.2 Aloe barbadensis Miller

Aloe barbadensis Miller yang ditemukan oleh Phillip Miller, seorang pakar
botani yang berasal dari Inggris, pada tahun 1768. Aloe barbadensis Miller
mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya tahan hama; ukurannya lebih panjang,
yakni bisa mencapai 121 cm; berat perbatangnya bisa mencapai 4 kg; dan
mengandung 75 nutrisi. Di samping itu, lidah buaya ini aman dikonsumsi, karena
mengandung zat polisakarida ( terutama glukomannan ) yang bekerja sama dengan

11
asam amino esensial dan sekunder serta enzim oksidase, katalase, lipase, dan enzim-
enzim pemecah protein (Furnawanthi,2002).
Di Amerika, Lidah Buaya mulai popular pada dekade 1930-an dengan adanya
laporan bahwa ekstrak gel lidah buaya dapat digunakan untuk mengatasi luka akibat
sinar X dan luka bakar akibat radiasi radium. Dalam kasus ini, pemanfaatan daging
lebih banyak dari kulitnya. Gel lidah buaya berisi glukomannan (salah satu grup dari
polisakarida), brandykinase (suatu inhibitor protease), magnesium laktat, senyawa
antiprostaglandin, serta anti-inflamatori. Penggunaan sebagai salep (ontmen)
mempunyaai pengaruh antimikroba yang dihasilkan lebih cepat dalam penyembuhan
luka dibandingkan dengan salep perak sulfadazina. Sementara itu, ekstrak lidah buaya
mempunyai berbagai aktivitas antibakteri Stapbylococcus aureus, Klobsilla
pneumonia, Psedomonas aeruginosa, dan Mycobacterium tuberculosis
(Furnawanthi,2002).
Pada Lidah Buaya terdapat gel dan eksudat. Jeli lidah buaya ini dapat
diperoleh dengan membelah batang lidah buaya. Jeli mengandung zat antibakteri dan
antijamur yang dapat menstimulasi fibroblast, yakni sel-sel kulit yang berfungsi
menyembuhkan luka (Furnawanthi,2002). Gel lidah buaya sering kali digunakan
sebagai pengobatan topikal untuk luka bakar (Heck, 1981). Sedangkan eksudat adalah
cairan berwarna kekuningan yang mengandung aloin yang berasal dari lateks yang
terdapat di bagian luar kulit lidah buaya. Cairan ini tidak sama dengan gel lidah
buaya, dianggap cukup aman dan banyak dimanfaatkan sebagai obat pencahar
komersial.
Komponen aktif dengan sifat-sifatnya : Lidah buaya mengandung 75
konstituen berpotensi aktif: vitamin, enzim, mineral, gula, lignin, saponin, asam
salisilat dan amino acids (Atherton et al., 1998).
Lidah buaya mengandung 75 konstituen yang berpotensi aktif seperti vitamin, enzim,
mineral, gula, lignin, saponin, asam salisilat dan asam amino (Atherton et al., 1998).
1. Vitamin
Lidah buaya mengandung vitamin A (beta-karoten), C dan E, yang merupakan
antioksidan untuk menetralisir radikal bebas. Lidah buaya juga mengandung
vitamin B12, asam folat, dan kolin.
2. Enzim
Lidah buaya mengandung enzim aliiase, fosfatase alkali, amilase, bradykinase,
karboksipeptidase, katalase, selulase, lipase, dan peroksidase. Bradykinase
membantu mengurangi inflamasi berlebihan bila diterapkan ke kulit topikal,
sementara yang lain membantu dalam pemecahan gula dan lemak.
3. Mineral
Lidah buaya menyediakan kalsium, kromium, tembaga, selenium, magnesium,
mangan, kalium, natrium dan seng. Mereka sangat penting untuk berfungsinya
sistem enzim berbagai jalur metabolik yang berbeda dan sedikit antioksidan.
4. Gula
Lidah buaya mengandung monosakarida (glukosa dan fruktosa) dan polisakarida:
(glukomannan atau polimannosa) yang berasal dari lapisan lendir tanaman dan
dikenal sebagai mucopolysaccharides. Yang paling menonjol adalah monosakarida
manosa-6-fosfat, dan polisakarida yang paling umum disebut glucomannan [beta-

12
(1,4)-asetat Mannan]. Acemannan merupakan glukomanan terkemuka juga telah
ditemukan. Baru-baru ini, suatu glikoprotein dengan sifat antiallergic, disebut
alprogen dan novel senyawa anti-inflamasi, C-glucosyl chromone, telah diisolasi
dari gel lidah buaya (Lee et al., 2000).
5. Antrakuinon
Lidah buaya mengandung 12 antrakuinon, senyawa fenolik yang secara tradisional
dikenal sebagai obat pencahar. Aloin dan emodin bertindak sebagai analgesik,
antibakteri dan antivirus.
6. Asam lemak
Lidah buaya mengandung 4 steroid tanaman; kolesterol, campesterol, -sisosterol
dan lupeol. Semua memiliki tindakan anti-inflamasi dan lupeol juga memiliki sifat
antiseptik dan analgesik.
7. Hormon
Auksin dan giberelin membantu dalam penyembuhan luka dan memiliki anti-
inflamasi.
Khasiat lidah buaya dalam penyembuhan luka ini didukung berbagai
penelitian, salah satunya publikasi perdana oleh C.E Collins dari Amerika Serikat
pada tahun 1934. Penderita radiasi kulit, luka bakar, borok, dan infeksi kulit setelah
diobati dengan belahan daun dan salep lidah buaya selama 3 bulan, kulitnya kembali
normal tanpa bekas (Furnawanthi,2002).

Tabel 2. Kandungan zat aktif lidah buaya (Aloe vera) yang sudah teridentifikasi
Zat Aktif Kegunaan
Lignin Mempunyai kemampuan penyerapan
yang tinggi sehingga memudahkan
peresapan gel ke dalam kulit atau mukosa
Saponin Mempunyai kemampuan membersihkan
dan bersifat antiseptic, serta bahan
pencuci yang baik
Kompleks Anthraguinone Sebagai bahan laksatif, penghilang rasa
sakit, megurangi racun, sebagai anti
bakteri, antibiotk.
Acemannan Sebagai antivirus, antibakteri, anti jamur,
dan dapat menghancurkan sel tunor, serta
meningkatkan daya tahan tubuh.
Enzim bradykinase, karbiksipeptidase Mengurangi inflamasi, anti alergi dan
dapat mengurangi rasa sakit
Glukomannan, Mukopolysakarida Memberikan efek imonomodulasi
Tennin, Aloctin Sebagai anti inflamasi
Salisilat Menghilangkan rasa sakit, dan anti
inflamasi
Asam Amino Bahan untuk pertumbuhan dan perbaikan
serta sebagai sumber energi. Aloe vera
menyediakan 20 Asam amino dari 22

13
asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh
Mineral Memberikan ketahanan tubuh terhadap
penyakit dan berinteraksi dengan Vitamin
untuk mengandung fungus-fungsi tubuh
Vitamin A, B1, B2, B6. B12, C, E, Asam Bahan penting untuk menjalankan fungsi
folat tubuh secara normal dan sehat
(Purbaya, 2003, Furnawanthi,2002)
Glukomanan, sebuah polisakarida manosa-kaya, dan giberelin, hormon
pertumbuhan, berinteraksi dengan reseptor faktor pertumbuhan pada fibroblast,
sehingga merangsang aktivitas dan proliferasi, yang pada gilirannya secara signifikan
meningkatkan sintesis kolagen setelah topikal dan oral Lidah buaya vera. Gel lidah
buaya tidak hanyameningkatkan konten kolagen dari luka tetapi juga mengubah
komposisi kolagen (tipe III lebih) dan meningkatkan derajat silang penghubungan
kolagen. Karena ini, itu mempercepat kontraksi luka dan meningkatkan kemampuan
menghilangkan bekas luka (Kucukcelebi et al., 1996). Sebuah peningkatan sintesis
asam hyaluronic dan sulfat dermatan pada jaringan granulasi penyembuhan luka
setelah pengobatan oral atau topikal telah dilaporkan (Sajithalal et al., 1998).

Gambar.3 Komponen asam amino lidah buaya

Aloe vera dapat menyembuhkan luka 8.79 hari lebih pendek dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Lidah buaya digunakan dalam berbagai bentuk sediaan mungkin
efektif dalam memperpendek durasi penyembuhan luka yang pertama untuk luka
bakar derajat kedua, dan cenderung untuk meningkatkan tingkat keberhasilan untuk
penyembuhan dan laju epitelisasi, meningkatkan sintesis kolagen dan laju epitelisasi
oleh efek accemanan (manosa-6 fosfat) untuk merangsang fibroblas (Sajithlal et al.,
1998) efek anti-inflamasi (Heggers et al., 1996) efek antimikroba (Lorenzetti et al.,
1964) dan efek pelembab (Helvig, 2002).
Hasil penelitian menunjukkan pada pemakaian oral lidah buaya dengan
dosis 100 mg/ kgBB/ hari mampu menyembuhkan luka 62,5% dan pemakaian
topikal pada krim dengan konsentrasi 25% mampu menyembuhkan luka 50,8%
pada hewan percobaan (Davis et al., 1989).

Kulit dan Luka Bakar


Kulit merupakan organ besar yang terdiri dari lapisan epidermis, dermis dan
jaringan subkutan. Kulit berfungsi sebagai pelindung tubuh, mencegah masuknya

14
mikroba (bakteri,virus,jamur), dan menjaga cairan tubuh. Lapisan terluar kulit adalah
stratum korneum atau lapisan tanduk yang terdiri dari sel-sel padat dan mati. Sel mati
mengandung keratin, yaitu protein fibrosa tidak larut yang membentuk barier terluar
kulit. Keratin berfungsi untuk mengusir patogen dan mencegah kehilangan cairan
tubuh (Effendy, 1999).
Menurut Mutschler ( 1991 ), luka bakar adalah kerusakan jaringan yang
timbul akibat kerja suhu yang tinggi. Derajat dan besarnya kerusakan akibat panas ini
tergantung kepada besarnya suhu dan lamanya kontak. Akibat terbakar ini dapat
dibagi 4 stadium :
- Pada luka bakar tahap II, terutama terjadi pembentukan bulla. Akibat kerja
panas ini, sel akan rusak dan musnah dan pada saat ini akan dibebaskan
mediator radang. Senyawa-senyawa ini kan memperbesar permeabilitas
pembuluh dan akan mendorong keluarnya plasma ke jaringan. Jika plasma
yang keluar ini melampaui tekanan tertentu, maka jembatan protoplasma
antara masing-masing sel epidermis akan terkoyak, dan akan terjadi bulla.
Karena pada luka bakar stadium I dan II, stratum genninativum tetap utuh,
maka kulit tetap dapat beregenerasi dan dapat terjadi penyembuhan tanpa
pembentukan parut.
- Luka bakar tahap III, akan menyebabkan kerusakan permanen pada epitel dan
kelengkapan kulit lainnya. Akibat suhu yang amat tinggi tersebut, terjadi
denaturasi protein dan nekrosis sampai lapisan korium, subkutis atau bahkan
lebih dalam lagi.
- Luka bakar tahap IV, terjadi jika telah terjadi pengarangan. Di sini, jaringan
tidak hanya berkoagulasi tetapi akibat kerja panas yang hebat jaringan akan
hitam mengarang.

Luka bakar derajat I

Luka bakar derajat


II dangkal
Luka bakar
derajat II dalam
Luka bakar derajat
III

Gambar.4 Klasifikasi luka bakar

15
Salep dan Mekanisme Absorpsi Obat Melalui Kulit
Obat yang umum digunakan untuk luka luar adalah salep, krim dan gel. Salep
adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir. Salep memiliki keuntungan tersendiri, seperti proses produksi yang
lebih sederhana dan murah (Earle,1968). Krim adalah sediaan setengah padat berupa
emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakain
luar (Anief, 1988). Sedangkan gel adalah dirumuskan sebagai system dispersi, yang
minimal terdiri dari dua fase sebuah fase padat dan sebuah fase cair (gel liofil) atau
terdiri dari sebuah fase padat dan fase berbentuuk gas ( gel kserofil) (Noerono, 1994).
Salep yang merupakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen
dalam dasar salep yang cocok (Anief, 1988). Salep terbuat dari dasar salep, yang
dapat berupa suatu sistem sederhana (misalnya vaselin) atau dari komposisi yang
lebih kompleks (misalnya system yang mengandung emulgator), dan bersama dengan
bahan aktif atau kombinasi bahan aktif (Voigt, 1994).
Menurut Anief ( 1998 ), aturan umum cara pembuatan salep adalah :
1. Zat yang dapat larut dalam dasar salep, dilarutkan bila perlu dengan
pemanasan rendah.
2. Zat yang tidak cukup larut dalam dasar salep, lebih dulu diserbuta dan diayak
dengan derajat ayakan no.100.
3. Zat yang mudah larut dalam air dan stabil, serta dasar salep mampu
mendukung atau menyerap air tersebut, dilarutkan dulu dalam air yang
tersedia, setelah ini ditambahkan bagian dasar salep yang lain.
4. Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebut harus
diaduk sampai dingin.
Salep harus homogen dan ditentukan dengan cara salep dioleskan pada
sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan
yang homogen.
Tujuan umum penggunaan obat pada terapi dermatologi adalah untuk
menghasilkan efek terapetik pada tempat-tempat spesifik di jaringan epidermis.
Absorpsi perkutan didefinisikan sebagai absorpsi absorpsi menembus stratum
korneum (lapisan tanduk) dan berlanjut menembus lapisan dibawahnya dan akhirnya
masuk ke sirkulasi darah. Kulit merupakan perintang yang efektif terhadap penetrasi
perkutan obat (Lachman et al., 1994).
Prinsip absorpsi obat melalui kulit adalah difusi pasif yaitu proses di mana
suatu substansi bergerak dari daerah suatu system ke daerah lain dan terjadi
penurunan kadar gradient diikuti bergeraknya molekul (Anief, 1997). Difusi pasif
merupakan bagian terbesar dari proses trans-membran bagi umumnya obat. Tenaga
pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi
membrane sel (Shargel and Yu, 2005). Ditambahkan pula oleh Martin et al. (1993),
bahwa difusi obat berbanding lurus dengan konsentrasi obat, koevisien difusi,
viskositas dan ketebalan membran.

16
Proses Penyembuhan Luka
Proses penyembuhan luka pada jaringan yang rusak menurut Syamsuhidayat
dan Jong (1997), dapat dibagi dalam tiga fase :
1). Fase inflamasi
Fase ini berlangsung sejak terjadinya luka sampai hari kelima. Pembuluh
darah yang terputus pada luka akan menyebabkan pendarahan dan tubuh akan
menghentikanya dengan vasokontriksi, pengerutan ujung pembuluh darah yang
terputus dan reaksi hemostatis.
2). Fase poliferasi
Disebut fase fibroplasia karena yang terjadi proses poliferasi fibroblast. Fase
ini berlangsung sampai minggu ketiga. Pada fase ini poliferasi luka dipenuhi sel
radang, fibroplasias dan kolagen, membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan
permukaan berbenjol halus yang disebut granulasi. Epitel tepi luka yang terdiri dari
sel basal terlepas dari dasar dan mengisi permukaan luka, tempatnya diisi sel baru
dari proses mitosis, proses migrasi terjadi ke arah yang lebih rendah atau datar. Proses
fibroplasias akan berhenti dan mulailah proses pematangan.
3). Fase penyudahan
Fase penyudahan disebut fase maturasi. Pada fase ini terjadi proses
pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan
karena gaya gravitasi dan berakhir dengan adanya jaringan yang baru terbentuk. Fase
ini berakhir bila semua tanda radang sudah hilang. Selama proses ini dihasilkan
jaringan parut yang pucat, tipis dan mudah digerakkan dari dasar. Pada akhir fase,
adanya luka kulit mampu menahan regangan 80% dari kulit normal. Fase ini
berlangsung 3-6 bulan.

17
KESIMPULAN

Kesimpulan dari PKM-GT tentang Formulasi Salep Ekstrak Ikan Gabus dan
Lidah Buaya untuk Mempercepat Penyembuhan Luka Bakar ini adalah :
lidah buaya dan ikan gabus masing-masing memiliki komponen aktif yang
berperan dalam mempercepat penyembuhan luka bakar. Diharapkan jika keduanya
berkolaborasi dapat memberikan efek penyembuhan luka bakar dalam waktu yang
lebih cepat dan penutupan luka yang lebih sempurna. Akan tetapi di perlukan
penelitian lebih lanjut untuk menentukan emulgator apa yang digunakan dalam
menstabilkan gel lidah buaya dan basis yang cocok untuk sediaan salep ekstrak ikan
gabus dan lidah buaya.

18
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Drs. Moh. 1988. Ilmu Meracik Obat teori dan praktik. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta

Aqua.2003. Berburu Kuthuk, Berhemat Rupiah. LPM Aqua. Fakultas Perikanan


Universitas Brawijaya. Malang

Asmawi, A.S. 1986. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. P.T. Gramedia :


Jakarta.

Atherton P. Aloe vera Revisited. Br J Phytother 1998 : 4 : 76-83. Roy JY. Lee B, Kim
JY, Chung Y, Chung MH, Lee SK. Et al. inhibitory mechanism of aloe single
component (alprogen) on mediator release in guinea pig plug mast cells
activated with specific antigen-antibody reactions.J pharmacol exp Ther
2000:292:114-21

Davidson, V. L. and D.B. Sittman. 1999. Biochemistry 4th Edition. Lippincott


Williams & Willkins. Mississippi

Davidson, V. L. and D.B. Sittman. 1999. National Medical For Independent


Study. Boichemistry 4th Edition. Lippincott Williams and Wilkins A
Wolter Kluwer Company. Phyladelphia.

Earle, R. L. 1968. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. Alih Bahasa : Zein
Nasution. Sastra Huday : Bogor.

Fit. 1990. Aloe vera : The Miracle Plant, Anderson Worlds Books Inc., Mountain
View, p. 63.

Furnawanti, I. 2002. Khasiat dan Manfaat Lidah Buaya Si Tanaman Ajaib.


Agro Media Pustaka : Jakarta.

Handoko, I. S. 2003. Klinikku-Protein Plasma.

Heck E, Head M. Aloe Vera Gel Creams as a Topical Treatment for outpatient
burns.Burns. 1981;7 :291-429

19
Jangkaru, Z. 1999. Memelihara Ikan di Kolam Tadah Hujan. Penebar Swadaya.
Jakarta

Kriswantoro, M. 1986. Mengenal Air tawar. B. P. Karya Bani : Jakarta.

Maenthasiong, Ratree., N. Chaiyakunapruk, S. Niruntraporn, Chuenjid Kongkaew.


2007. The efficacy of Aloe vera used for burn Wound healing : Asystematic
Review. Burns:33 : 713-718

Martin, D.W. ,Mayes, P.A., Rodwel, V.W. 1982. Biokimia (Review of


Biochemistry). Alih Bahasa: Dharma, M.M. dan Kurniawan, A.S. EGC
Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta

Montgomery, R., Robert, L. D., T. M. Conway and Arthur, A. S. 1993. Biokimia


Suatu Pendekatan Berorientasi Kasus Jilid I Edisi Keempat. Penerjemah
: M. Ismadi. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.

Mutschler, Dr. rer. Nat. Dr. med. Ernst. 1991. Dinamika Obat. Penerbit ITB.
Bandung

Rodriguez MB, CruzN, et al. Comparative Evaluation of Aloe vera in the


Management of Burn Wounds in Guinea Pigs. Plast Reconstrsurg. 1988;
81(3) : 386-9

Puspitasari, Y. E. 2007. Pengaruh Suhu dan Lama Pemanasan Menggunakan


Ekstraktor Vakum terhadap Crude Albumin Ikan Gabus (Ophiocephalus
Striatus). Skripsi Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta : Bandung.

Saleh, M. Hari Eko I., Delima H.D., P.S. Siswoputranto., 1985. Standar Tepung
Ikan di Dalam Pengembangan Industri Tepung Ikan. Tim Analisa
Komoditi, Sekretariat Jenderal. Departemen Pertanian.

Tandra, H., W.Soemarto, A. Tjokroprawiro. 1988. Metabolisme dan Aspek Klinik


Albumin. Medika No.3 Tahun 14. Surabaya

Voight, Rudolf. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gadjah Mada


University Press. Yogyakarta

Winarmo, F. G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama :
Jakarta

20
Wijayakusumah, H. M. H., 1990. Lidah Buaya Tanaman Obat., Murah dan
Mudah Didapat. Sinar Tani : Jakarta

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP KETUA DAN ANGGOTA PELAKSANA

Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap :Setiyawati
Tempat dan tanggal lahir :Bojonegoro, 14 Oktober
1993
Alamat asal :Dsn. Nganti RT9/RW3
kec. Ngraho Bojonegoro
Alamat di Malang :Jl.Sumbersari II, 88
Malang
Karya-karya ilmiah yang pernah dibuat :-
Penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih :-

b. Nama Lengkap :Putri Pertiwi


Tempat dan tanggal lahir :Pringsewu, 11 Januari
1994
Alamat asal :Dsn. Kaum RT2/RW2
Kec.Cilamaya Wetan,
Karawang
Alamat di Malang :Jl.Sumbersari II, 88
Malang
Karya-karya ilmiah yang pernah dibuat :-
Penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih :-

c. Nama Lengkap : Vischa Chindi Marshelita


Tampat dan tanggal lahir : Probolinggo, 7 Oktober
1992
Alamat asal : Jl.Tales 101 RT3/RW4
Kademangan,Probolinggo
Alamat di Malang :Jl.Sumbersari 292C
Lowokwaru, Malang
Karya-karya ilmiah yang pernah dibuat :-
Penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih :-

21