Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DENGAN

GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN DERMATITIS


PADA LANSIA

DISUSUN OLEH :

AIDIL FITRISYAH
RINI PUSPITA ANGGRAINI
PUTRI ANDARI
DONNA VIOLENSIA

ALIH PROGRAM 2015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat
dan karunianya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan
Dermatitis Pada Lansia
Makalah Asuhan Keperawatan Dermatitis Pada Lansia ini untuk memenuhi
salah satu syarat dalam menyelesaikan mata kuliah Keperawatan Gerontik. Dalam
penyusunan tugas ini, penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan serta bantuan
dari semua pihak terutama untuk kedua orang tua yang terus memberikan semangat
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan dan jauh dari
sempurna. Karena itu dengan hati yang lapang serta terbuka penulis menerima segala
kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan kualitas dan
kesempurnaan tugas ini di masa yang akan datang.
Akhirnya kami mengharapkan semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi kita
semua. Amin.

Inderalaya, September 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. i


KATA PENGANTAR ........................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ....................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Lansia
1. Pengertian Lansia............................................................... 4
2. Klasifikasi lansia. ............................................................... 4
3. Karakteristik lansia. ........................................................... 5
4. Tipe lansia. ......................................................................... 5
5. Tugas perkembangan lansia. .............................................. 6
B. Konsep Dasar Teori
1. Pengertian. ......................................................................... 6
2. Anatomi dan fisiologi. ....................................................... 7
3. Klasifikasi. ......................................................................... 10
4. Etiologi............................................................................... 12
5. Patofisiologi. ...................................................................... 12
6. Tanda dan Gejala. .............................................................. 13
7. Komplikasi. ........................................................................ 14
8. Penatalaksanaan. ................................................................ 14
9. Tes Diagnostik. .................................................................. 17
C. Konsep dasar asuhan keperawatan
1. Pengkajian. ............................................................................ 19
2. Pemeriksaan fisik. ................................................................. 20
3. Diagnosa keperawatan dan Intervesi . ................................... 21

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan. ................................................................................ 27
B. Saran. ........................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

3
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak
secara tiba-tiba manjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan
akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku
yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai
usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan suatu proses
alami yang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami
proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir.
Dimana seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial scara bertahap
(Lilik Marifatul azizah, 2011).Eksema dermatitis adalahkelainanpatogen yang
unik, memilikigambaran histology yang sama. Eksema dermatitis
adalahreaksiinflamasikulitterhadapunsur-unsurfisik, kimiaataubiologis.
Eksema dermatitisbersifat residif dan kronis dengan kasus yang cukup
tinggi di Indonesia. Pada sebagian besar pasien dermatitis,sering ditemukan
riwayat atopi pada keluarga. Dermatitis juga dapat sangat mengganggu bagi
penderitanya, dikarenakan terjadi pengeringan kulit, lesi dan rasa gatal yang bisa
datang kapan saja. Penderita cenderung lebih sensitif terhadap rasa gatal, sehingga
reaksi menggaruk atau menggosok kulit akan memperburuk inflamasi. Keadaan
ini diperburuk saat tidur, dimana kontrolkesadaranterhadapgarukan
menurun(Dewi, 2004).Dermatitis tidak akan muncul selama tidak ada faktor
pencetusnya. Untuk itu, dermatitis sangat memerlukan penanganan yang tepat.
Berdasarkan data Riskesdas 2007, prevalensi dermatitis di Indonesia cukup
tinggi (67,8). Sementara, prevalensi dermatitis di Provinsi Sumatera Selatan
sendiri yaitu sebesar 48,4%.
Penanganan permasalahan dermatitis yang tidak tepat menyebabkan
dermatitis dapat terjadi secara berulang. Untuk itu, upaya perawat dalam
mengatasinya tidak hanya melalui pendekatan kepada pasien dengan pengobatan
saja. Tindakan promotif dan preventif juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi
faktor penyebabnya.Pendekatan asuhan keperawatan cukup tepat digunakan untuk

4
membantu mengatasi permasalahan diatas, diantaranya melalui upaya promotif,
preventif, dan tidak mengabaikan kuratif dalam rangka menghilangkan atau
mengatasi masalah kesehatan lansia.
Berdasarkanuraian datadiatas,penulistertarikuntukmenyusun makalah
tentangAsuhanKeperawatanGerontik dengan Eksema Dermatitis melalui
pendekatan dalam proses keperawatan, meliputi:
pengkajian,diagnosa,perencanaan,pelaksanaandanevaluasi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Eksema dermatitis?
2. Apa saja anatomi fisiologi eksema dermatitis?
3. Apa saja klasifikasi eksema dermatitis?
4. Seperti apa etiologi eksema dermatitis?
5. Bagaimana patofisiologi eksema dermatitis?
6. Apa saja tanda dan gejala eksema dermatitis?
7. Apa saja komplikasi eksema dermatitis ?
8. Bagaimana penatalaksanaan eksema dermatitis ?
9. Bagaimana Asuhan Keperawatan eksema dermatitis?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian eksema dermatitis
2. Untuk mengetahui anatomi fisiologi eksema dermatitis
3. Untuk mengetahui klasifikasi eksema dermatitis
4. Untuk mengetahui etiologi
5. Untuk mengetahui patofisiologi
6. Untuk mengetahui Tanda dan Gejala
7. Untuk mengetahui komplikasi
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan
9. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan eksema dermatitis

D. Manfaat Penelitian

5
1) BagiInstitusiPendidikan
Memberikanbekalkompetensibagimahasiswasehinggamampumenerapkanilmu
yang didapatkepadamasyarakat, khususnya asuhan keperawatan gerontik..
2) BagiKeluarga
Sebagaisaranauntukmenambahpengetahuankeluargatentangperansertanyadala
mperawatanklien dengan masalaheksema dermatitis.
3) Bagi Penulis
Dapatmengaplikasikansecaralangsungilmukeperawatandalammemberikanasu
hankeperawatangerontikdenganmasalah eksema dermatitis.

BAB II
PEMBAHASAN

6
A. Konsep dasar lansia
1. Pengertian Lansia
Masa dewasa tua (lansia) dimulai setelah pensiun, biasanya antara usia
65-75 tahun (Potter, 2005). Proses menua merupakan proses sepanjang hidup,
tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan
kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang
telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua (Nugroho,
2008).
Penuaan adalah suatu proses yang alamiah yang tidak dapat dihindari,
berjalan secara terus-manerus, dan berkesinambungan (Depkes RI, 2001).
Menurut Keliat (1999) dalam Maryam (2008), Usia lanjut dikatakan sebagai
tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia sedangkan menurut
pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No.13 Tahun 1998 Tentang Kesehatan dikatakan
bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60
tahun (Maryam, 2008).
Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang
dapat diramalkan dan terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai
usia tahap perkembangan kronologis tertentu (Stanley, 2006).

2. Klasifikasi Lansia
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia.
a. Pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
b. Lansia yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia Resiko Tinggi yaitu seseorang yang berusia 70 tahun atau
lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah
kesehatan (Depkes RI, 2003).
d. Lansia Potensial yaitu lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa (Depkes RI,
2003).

7
e. Lansia Tidak Potensial yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain (Depkes RI,
2003).

3. Karakteristik Lansia
Lansia memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 Ayat (2) UU No. 13
tentang kesehatan).
b. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit,
dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaftif
hingga kondisi maladaptif.
c. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi (Maryam, 2008).

4. Tipe Lansia
Tipe-tipe usia lanjut antara lain:
a. Tipe arif bijaksana
Lanjut usia ini kaya dengan hikmah pengalaman, menyesuaikan diri
dengan perubahan zaman, mempunyai diri dengan perubahan zaman,
mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana,
dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan.
b. Tipe mandiri
Lanjut usia ini senang mengganti kegiatan yang hilang dengan kegiatan
baru, selektif dalam mencari pekerjaan dan teman pergaulan, serta
memenuhi undangan.
c. Tipe tidak puas
Lanjut usia yang selalu mengalami konflik lahir batin, menentang
proses penuaan, yang menyebabkan kehilangan kecantikan, kehilangan
daya tarik jasmani, kehilangan kekuasaan, status, teman yang disayangi,
pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, menuntut, sulit dilayani dan
pengkritik.
d. Tipe pasrah

8
Lanjut usia yang selalu menerima dan menunggu nasib baik,
mempunyai konsep habis (habis gelap datang terang), mengikuti
kegiatan beribadat, ringan kaki, pekerjaan apa saja dilakukan.
e. Tipe bingung
Lansia yang kagetan, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri,
merasa minder, menyesal, pasif, acuh tak acuh (Nugroho, 2008).

5. Tugas Perkembangan Lansia


Menurut Erickson, kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri
terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh
kembang pada tahap sebelumnya. Adapun tugas perkembangan lansia adalah
sebagai berikut :
a. Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun.
b. Mempersiapkan diri untuk pensiun.
c. Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya.
d. Mempersiapkan kehidupan baru.
e. Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial/masyarakat secara
santai.
f. Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan
(Maryam, 2008).

B. Konsep Dasar Eksema Dermatitis


1. Pengertian
Eksema dermatitis adalahsemualesikulit yang disertaikemerahan, lepuh,
basah, sisik, menebaldangatal. (Price.2006:). Eksema dermatitis
adalahkelainan pathogen yang unik, tetapisemuanyamemilikigambaran
histology yang sama. (Mitchel.2009:709). Eksema dermatitis
adalahreaksiinflamasikulitterhadapunsur-unsurfisik, kimiaataubiologis.
(Smeltzer.2002:1871).

2. AnatomidanFisiologi

9
a. Anatomi
Pembagian kulit sescara garis besar tersusun atas 3 lapisan utama yaitu:
1) Lapisan epidermis terdiri atas:
a) Stratum korneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit yang
paling luar dan terdiri atas beberapa lapis el-sel gepeng yang
mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah berubah menjadi
keratin (zat tanduk).
b) Stratum lusidium terdapat langsung sel-sel gepeng tanpa inti
dengan protoplasma yang beruabah menjadi protein yang
disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas ditelapak
tangan dan kaki.
c) Stratum granulosum (lapisan keratohialin) merupakan 2 atau 3
lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan
terdapat inti diantaranya.
d) Stratum spinosum (stratum malpigi) terdiri atas beberapa lpis
sel yang berbentuk polygonal yang besarnya berbeda-beda
karena adanya proses mitosis.
e) Stratum basale terdiri atas sel-sel berbentuk kubus (kolumnar)
yang tersusun vertical pada perbatasan dermo-epidermal
berbaris seperti pagar (palisade). Lapisan ini merupakan
lapisan epidermis pains bawah.

2) Lapisan dermis adalah lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih


tebal daripada epidermis. Secara garis besar lapisan ini dibagi
menjadi 2 bagian, yaitu:
a) Parspapilare yaitu bagian yang menonjol keepidermis, berisi
ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
b) Pars retikulare yaitu bagian dibawahnya yang menonjol kearah
sub kutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang
misalnya serabut kolagen, elastin dan retikukulin.

10
3) Lapisan subkutis adakah kelanjutan dermis yang terdiri dari
jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel
lemak merupakan sel bukit, besar, dengan inti terbesar kepinggir
sitoplasma lemak yang bertambah. Lapisan sel-sel lemak disebut
panikulu adikosa, berfungsi sebagai cadangan makanan dan
merupakan bantalan. Lapisan ini terdapat pada ujung-ujung saraf
tepi, pembuluh darah dan getah bening. Tebal tipisnya jaringa
lemak tergantung pada lokasinya.

4) Adneksa kulit terdiri atas:


a) Kelenjar kulit terdapat dilapisan dermis, terdiri atas:
i. Kelenjar keringat (glandila sudorifera) ada 2 macam,
yaitu:
Kelenjar ekrin dibentuk sempurna pada 28 minggu
kehamilan dan baru berfungsi 40 minggu setelah
kelahiran. Terletak dangkal didermis dengan pekret
yang encer.
Kelenjar apokrin dipengaruhi oleh saraf edrenergik,
terdapat di axial, arelamamae, pubis, labia minora
dan saluran telinga luar. Terletak lebih dalam dan
sekretnya lebih kental.
ii. Kelenjar palit (glandula sebasea). Terletak diseluruh
permukaan kulit manusia kecuali ditelapak tangan dan
kaki. Kelenjar ini disebut juga kelenjar holokrin karena
tidak berlumen dan secret kelenjar berasal dari
dekomposisi sel-sel kelenjar. Kelenjar ini terdapat di
samping akar rambut dan muaranya terdapat pada lumen
akar rambut.

b) Kuku adalah bagian terminal tanduk (stratum korneum) yang


menebal. Bagian kuku yang terbenam dalam kulit jari disebut
akar kuku (naikl root), bagian yang terbuka diatas dasar

11
jaringan lemak kulit pada ujung jari disebut bagian kuku (nail
plate), dan yang paling ujung disebut bagian kuku bebas.

c) Rambut terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit (akar


rambut) dan bagian yang berada di luar kulit (batang rambut).
Ada 2 macam tipe rambut:
Lanugo yang merupakan rambut halus, tidak mengandung
pegmen dan terdapat pada bayi.
Terminal yaitu rambut yang lebih kasar dengan banyak
pigmen, mempunyai medulla dan terdapat pada orang
dewasa.

b. Fisiologi
Kulit pada manusia memiliki fungsi utama, antara lain:
1) Fungsi proteksi. Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap
gangguan fisis atau mekanis, misalnya tekanan, gesekan, tarikan.
Gangguan kimiawi misalnya zat-zat kimia terutama yang bersifat
iritan. Gangguan yang bersifat panas misalnya radiasi, sengatan
sinar ultraviolet. Gangguan infeksi luar terutama kuman atau
bakteri maupun jamur.
2) Fungsi absorbsi. Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air,
larutan, benda padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih
mudah diserap, begitupun yang larut dalam lemak. Kemampuan
absobrsi kulit, hidrasi, kelembapan, metabolism dan jenis
vetikulum.
3) Fungsi ekskresi. Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang
tidak berguna lagi atau sisa metabolisme dalam tubuh yang berupa
NaCl, Urea, Asam urat dan Amonia. Kelenjar lemak pada fetus
dipengaruhi oleh hormone androgen dari ibunya yang
memproduksi sebum. Sebum yang diproduksi melindungi kulit
karena berfungsi untuk meminyaki kulit dan menahan evaporasi air
yang berlebihan sehingga kulit tidak kering.

12
4) Fungsi persepsi. Kulit mengandung ujung-ujung saraf motorik
yang berfungsi untuk menerima/merangsang panas yang
diperankan oleh badan-badan nuffini di dermis dan subkutis.
Terhadap rangsang dingin diperankan oleh badan-badan Krause
didermis.
5) Fungsi pengaturan suhu tubuh. Diperankan dengan cara
mengeluarkan keringat dan mengerutkan pembuluh darah kulit.
6) Fungsi pembentukan pigmen. Sel pembentuk pigmen (melanosit),
terletak dilapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf.
7) Fungsi kreatinisasi. Kreatinisasi berfungsi untuk memberikan
perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik
8) Fungsi pembentukan vitamin D. Dimungkinkan dengan mengubah
7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari.
(FKUI, 2007 : 3 )

3. Klasifikasi
a. Eksogen
1) Dermatitis kontak iritan primer. Iritan primer yang secara fisik
merusak kulit adalah asam, basa, deterjen, dan produk-produk
minyak bumi. Gambaran yang khas dari dermatitis adalah telapak
tangan dan ujung jari kering, sering disertai kulit yang tretak dan
terasa sakit pada lipatan kulit serta pada bagian lunak jari.
2) Dermatitis kontak alergi. Penyakit ini timbul akibat terjadinya
reaksi hypersensitivitas tipe lambat terhadap suatu allergen
eksternal. Yang sering menyebabkan dermatitis kontak adalah
nikel, colophony, bahan-bahan aditif karet, kromat, cat rambut, dan
obat-obatan topical (krim, lotion).

b. Eksema endogen
1) Eksema atopic. Eksema atopic tidak ditemukan pada bayi baru
lahir, tetapi sering timbul pada tahun pertama kehidupan. Pada

13
anak-anak usia dini eksema sering menyerang keseluruhan tubuh,
tetapi kemudian tampak keseluruhan tubuh, tetapi kemudian
tampak menyerang daerah lipatan yang khas (pergelangan tangan,
fosa antekubiti, fosa poplitea, dan dorsum pedis). Kulit terasa
kering dan terasa sangat gatal. Eksema atopic seringkali hilang
pada masa kanak-kanak, tetapi bisa bertahan sampai usia remaja
serta dewasa, dan tidak ada cara untuk memperkirakan
prognosisnya.
2) Dermatitis seboroik. Penyakit ini merupakan kelainan
konstitusional, yang pathogenesis pastinya masih belum diketahui,
tetapi pada akhir-akhirnya ini ditekankan adanya peran ragi
maslassezia. Dermatitis seboroik menyerang kulit kepala, wajah,
punggung bagian atas, dan daerah-daerah lipatan. Serangan di
daerah lipatan menimbulkan eritema yang sedikit basah dan
berminyak.
3) Eksema discoid. Pada kelainan ini, timbul eksema yang tersebar,
terbatas jelas, mengeluarkan eksudat, dan ditutupi krusta, yang
terdapat pada tubuh dan ekstrimitas. Suatu steroid topical yang
poten biasanya diperlukan untuk mengendalikan kondisi ini.
4) Eksema varikosa. Hipertensi vena kronis sering dihubungkan
dengan perubahan eksematosa pada tungkai. Penyebaran sekunder
ke bagian depan lengan bisa terjadi. Steroid topical dengan potensi
ringan atau sedang biasanya akan menekan eksema.
5) Eksema asteatotika. Eksema asteatotika ditemukan pada tungkai,
tetapi bisa juga terdapat pada perut bagian bawah, lengan, dan
kadang-kadang bisa di seluruh bagian tubuh. Hal ini sering terjadi
pada pasien usia lanjut yang dirawat di rumah sakit dan dimandikan
lebih sering dari pada kalau mandi di rumah.
4. Etiologi
Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar (eksogen), misalnya bahan kimia
(contoh: deterjen,asam, basa, oli, semen), fisik (contoh : sinar, suhu),

14
mikroorganisme (contoh: bakteri, jamur); dapat pula dari dalam (endogen),
misalnya dermatitis atopik. Sebagian lain tidak diketahui etiologinya yang
pasti (FKUI, 2007,129)

5. Patofisiologi
Dermatitis sebagai akibat iritasi dari kulit dari bahan yang mampu mengiritasi
atau dari reaksi imunitas terhadap hipersensitivitas pada waktu kontak dengan
antigen spesifik. Alergi merupakan respon sistem imun yang tidak tepat dan
kerap kali membahayakan terhadap subtansi yang biasanya tidak berbahaya.
Cedera jaringan ini akibat interaksi antara antigen dan antibody. Terjadi
kontriksi pada pembuluh darah superfisial, dan kulit segera menjadi pucat.
Pada penderita dermatitis umumnya mengeluh gatal.
Dermatitis kontak alergi dapat terjadi melalui 2 reaksi fase:
a. Fase primer (induktiflafferen)
Yaitu penetrasi bahan yang mempunyai berat molekul kecil (hapten) ke
kulit, yang kemudian berikatan dengan karier protein di epidermis.
Komponen tersebut akan disajikan oleh sel lagerhaens( LCs) pada sel T.
Di kelenjar limfe regional, kompleks yang terbentuk akan merangsang
sel limfosit T di daerah parakorteks untuk memperbanyak diri dan
berdiferensiasi menjadi sel T efektor dan sel memori. Terbentuklah sel
T memori yang akan bermigrasi ke kulit, peredaran perifer, dll.
b. Fase sekunder (eksitasi/eferen)
Yaitu pajanan hapten pada individu yang telah tersensitasi, sehingga
antigen disajikan lagi oleh sel lagerhaens ke sel T memori di kulit dan
limfe regional. Kemudian terjadi reaksi imun yang menghasilkan
limfokin. Terjadi reaksi inflamasi dengan perantaraan sel T, karena
lepasnya bahan bahan limfokin dan sitokin. Fase-fase pada fase
sekunder sabagai berikut :
1) Fase akut : merah, edema, papula, vesikula, berair, krusta,
gatal

15
2) Fase kronik : kulit tebal/linkenifikasi, kulit pecah pecah,
skuama, kulit kering, dan hiperpigmentasi.

Faktor yang ikut berinteraksi dalam dermatitis atopik adalah faktor


imunologi. Kelainan imunologis pada keadaan atopik termasuk peningkatan
kadar IgE total dalam serum, antibodi IgE yang spesifik terhadap antigen
yang masuk lewat mulut dan yang dihirup, serta aktivasi preferensial dari sel
sel T CD4 fenotipe Th2 , yang akan membentuk interleukin 4 (IL-4) dan
IL-5. Interleukin interleukin ini merangsang sintesis IgE oleh sel sel B.
Stafilokokus membentuk koloni pada kulit pasien eksema atopik, dan
eksotosin yang dikeluarkannya yang merupakan superantigen juga diduga
memilik peran pathogen. Perjalanan penyakit ini secara khas ditandai oleh
ekserbasi yang episodik (Robin ,2002 :73)

6. Tanda dan gejala


Pada umumnya penderita dermatitis mengeluh gatal. Kelainan kulit
bergantung pada stadium penyakit, batasnya sirkumskrip, dapat pula difus.
Penyebarannya dapat setempat, generalisata, dan universal. Tanda dan gejala
dibagi menjadi 3 fase :
a. Stadium akut : kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel/bula, erosi
dan eksudasi sehingga tampak basah (madidans).
b. Stadium sub akut : eritema dan edema berkurang, eksudat mengering
menjadi krusta.
c. Stadium kronis : lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan
likenifikasi, mungkin juga terdapat erosi atau okskoriasi karena garukan.
Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja suatu dermatitis sejak awal
memberi gambaran

7. Komplikasi
a. Dermatitis Kontak

16
1) Kondisi kronis dapat menyebabkan likensifikasi, fisura, dan
skuama.
2) Infeksi kulit dapat disebabkan oleh garukan berulang dan
kerusakan kulit.
3) Respons buruk terhadap poison ivy atau aleren poten lain dapat
menyebabkan kemerahan signifikan dan pembengkakan pada
wajah.
b. Dermatitis Atopik
Infeksi kulit oleh bakteri permukaan yang lazim dijumpai, terutama
staphylococcus aureus, atau oleh virus misalnya herpes simpleks.
Pengidap penyakit ini sebaiknya menghindari inokulasi virus hidup yang
telah dilemahkan (Corwin, 2009, 108).

8. Penatalaksanaan
a. Non farmakologi
Pengobatan yang tepat didasarkan kausa yaitu menyingkirkan
penyebabnya. Seperti yang diketahui penyebab dermatitis multifaktor,
kadang juga tidak diketahui dengan pasti. Jadi pengobatan bersifat
simtomatis yaitu dengan menghilangkan atau mengurangi keluhan dan
gejala dan menekan peradangan.
1) Kompres yang sejuk dan basah
Dilakukan pada daerah dermatitis vesikuler yang kecil. Remukan
halus es yang di tambahkan pada air kompres kerap kali memberikan
efek anti pruritus. Kompres basah biasanya membantu
membersihkan lesi eksema yang meneluarkan secret.
2) Balutan oklusif
Balutan oklusif dapat dibuat atau diproduksi secara komersial dari
potongan kain penutup atau kasa yang steril atau nonsteril dan
harganya tidak begitu mahal. Kasa ini dipakai untuk menutup obat
topikal yang dioleskan pada dermatosis (lesi kulit abnormal). Daerah
lesi dibuat kedap udara dengan memakai lembaran plastik yang tipis

17
(seperti plastik pembalut). Lembaran plastik itu tipis dan mudah
beradaptasi dengan semua ukuran tubuh, bentuk tubuh serta
permukaan kulit. Plester bedah dari plastik yang mengandung
kortikosteroid pada lapisan perekat dapat dipotong menjadi ukuran
tertentu dan ditempelkan pada setiap lesi. Umumnya plastik
pembalut ini tidak boleh digunakan lebih 12 jam dalam sehari.Untuk
memasang kasa ini dirumah, pasien harus mendapatkan instruksi
berikut:
a) Mencuci daerah yang sakit, kemudian mengeringkannya;
b) Mengoleskan obat pada lesi ketika kulit tersebut berada
dalam keadaan basah;
c) Menutupi dengan lembaran plastik (misalnya, plastik
pembalut, sarung tangan vinil, kantong plastik);
d) Menutupi dengan pembalut elastic, kasa atau plester kertas
agar bagian tepinya tersegel. Kasa harus dilepas selama 12
jam dari setiap 24 jam untuk mencegah penipisan kulit
(atrofi), striae (guratan mirip sabuk), telangiektasia(lesi yang
merah dan kecil akibat pelebaran pembuluh darah).

3) Mandi terapeutik (balneoterapi)


Rendaman yang dikenal dengan istilah balneoterapi dapat digunakan
jika lesi mengenai daerah kulit yang luas; bentuk terapi ini dilakukan
untuk menghilangkan krusta, skuama serta obat lama dan untuk
meredakan inflamasi serta rasa gatal yang menyertai dermatosis
akut. Suhu air rendaman harus nyaman bagi pasien, dan lama tetapi
rendaman tidak boleh lebih dari 30 menit karena perendaman dan
pencelupan cenderung menimbulkan maserasi kulit. Untuk berbagai
tipe terapi rendaman dan pemakaiannya (Smeltzer, 2002 : 1845)

b. Farmakologi
Pengobatan secara farmakologi dibagi menjadi 2, yaitu:

18
1) Pengobatan topical
Hidrasi kulit. Kulit kering, mudah retak, sehingga mempermudah
masuknya mikroorganisme patogen, bahan iritan dan allergen. Pada
kulit yang demikian diperlukan pelembab misal, losion dank rim
untuk stadium akut, dan salep ketiaka inflamasi menjadi kronik dan
kulit menjadi likenifikasi( penebalan kulit).
a) Losion. Losion memiliki dua tipe : suspensi yang terdiri atas
serbuk dalam air yang perlu dikocok sebelum digunakan, dan
larutan jernih yang mengndung-unsur-unsur aktif yang bisa
dilarutkan sepenuhnya. Losion biasanya dioleskan langsung
pada kulit tetapi kasa yang dicelupkan ke dalam losion dapat
ditempelkan pada daerah yang sakit. Losion dioleskan setiap 3-
4 jam.
b) Krim. Dapat berupa suspensi minyak air atau emulsi air dalam
minyak dengan unsure-unsur mencegah pertumbuhan bakteri
hingga jamur. Emulsi air dalam minyak lebih terasa berminyak
dan lebih disukai untuk mengeringkan serta mengelupaskan
dermatosis. Krim oleskan pada kulit pada tangan. Preparat ini
dipakai untuk memberikan efek pelembabdan emolion.
c) Salep. Bersifat menahan kehilangan air dan melumasi serta
melindungi kulit,prerarat ini unuk kelainan kulit yang kronis.
Dioleskan dengan tangan yang memakai sarung tangan
(Smeltzer, 2002 :1843 )

2) Pengobatan sistemik
a) Kortikosteroid. Digunakan untuk eksaserbasi akut dalam
jangka pendek. Pemakaian jangka panjang menimbulkan eferk
sampina yaitu lesi akan bertambah berat.
b) Antihistamin. Membantu mengurangi rasa gatal yang hebat
terutama malam hari, sehingga menggangu tidur dengan dosis
10-75 mg secara oral pada malam hari.

19
c) Anti infeksi eritromisin, asitromisin, atau klaritromisin,
dikloksasilin, oksasilin, atau generasi pertama sefalosporin
(Marwali , 2000 : 9 dan FKUI, 2007 : 145)

Pengobatan yang paling tepat adalah menghilangkan penyebab


dermatitis. Tetapi dermatitis multifaktor, kadang tidak diketahui pasti
penyebabnya sehingga pengobatan bersifat :
1) Simtomatis yaitu menghilangkan atau mengurangi keluhan dan
menekan peradangan.
2) Sitemik : untuk kasus ringan diberi antihistamin atau kombinasi
dengan anti serotonin.
3) Pada kasus akut dan berat dapat diberi kortikosteroid
4) Topikal :
a) Dermatitis basah atau akut (madidans) harus diobati secara
basah (kompres terbuka)
b) Dermatitis subakut, diberi lotion (bedak kocok), krim, pasta,
atau linimentum (pasta pendingin)
Krim diberikan pada daerah yang berambut.
Pasta diberikan pada lokasi atau bagian yang tidak
berambut (Hetharia, 2009,94).

9. Tes Diagnostik
a. Uji Tempel Terbuka
Pada uji terbuka bahan yang dicurigai ditempelkan pada daerah belakang
telinga karena daerah tersebut sukar dihapus selama 24 jam. Setelah itu
dibaca dan dievaluasi hasilnya. Indikasi uji tempel terbuka adalah alergen
yang menguap.

b. Uji Tempel Tertutup


Untuk uji tertutup diperlukan Unit Uji Tempel yang berbentuk semacam
plester yang ada pada bagian tengahnya terdapat lokasi dimana bahan

20
tersebut diletakkan. Bahan yang dicurigai ditempelkan dipunggung atau
lengan atas penderita selama 48 jam setelah itu hasilnya dievaluasi.
Hasilnya dicatat seperti berikut :
1= reaksi lemah (nonvesikuler) : eritema,infiltrat,papul (+)
2= reaksi kuat : edema atau vesikel (++)
3= reaksi sangat kuat (ekstrim) :bula atu ulkus (+++)

c. Uji Tempel dengan sinar


Uji tempel sinar dilakukan untuk bahan-bahan yang bersifat sebagai
fotosensitisir yaitu bahan-bahan yang bersifat sebagai fotosensitisir yaitu
bahan yang dengan sinar ultra violet baru akan bersifat sebagai alergen.
Setelah 24 jam ditempelkan pada kulit salah satu baris dibuka dan
disinari dengan sinar ultraviolet dan 24 jam berikutnya dievaluasi
hasilnya. Untuk menghindari efek daripada sinar, maka punggung atau
bahan test tersebut dilindungi dengan secarik kain hitam atau plester
hitam agar sinar tidak bisa menembus bahan tersebut.Untuk dapat
melaksanakan uji tempel ini sebaiknya penderita sudah dalam keadaan
tenang penyakitnya, karena bila masih dalam keadaan akut kemungkinan
salah satu bahan uji tempel merupakan penyebab dermatitis sehingga
akan menjadi lebih berat.

d. Uji intrademal
Spuit steril berukuran 0,5 ml atau 1ml dengan jarum intradermal dengan
ukuran 26 / 27 digunakan untuk menyuntikan 0,02 hingga 0,03ml alergen
intradermal. Jarum ditusukan dengan jarum menghadap ke atas dan spuit
berada dalam posisi agak miring. Kulit di tembus secra superfisial, dan
sejumlah kecil alergen disuntikan untuk menimbulkan suatu tonjolan
kecil yang berdiameter kurang lebih 5mm. Setiap kali penyuntikan harus
di gunakan spuit dan jarum tersendiri (Smeltzer, 2002:1763)

C. Konsep dasar AsuhanKeperawatan

21
1. Pengkajian
a. Pengkajian
1) Keluhanutamamisalnya: gatal-gatal,rasaterbakar,rasabaal.
2) Riwayatkesehatan
a) Riwayatkesehatansekarang
Pola PQRST dapatdigunakan untuk menanyakan keluhan klien
misalnya pada klien dengan keluhan
klien.Misalnya,padaklienpadakeluhangatal,dapatdikembangkanp
engkajiannyasebagaiberikut:
P=Provokatif/Paliatif(pencetus). Apapenyebab rasa gatal,
yang meringankandanmemperberat rasa gataltersebut?
Q=Quality/quqntity(kualitas). Bagaimanagambaran rasa
gataltersebut(sepertimembakar,hilangtimbulataubercamp
urnyeri).
R=Region/radiasi(lokasi). Rasa
gataltersebutterasadimana? Apakah menjalar?
Jikamenjalarsampaidimana?
S=Sevirity Scale/(tingkatkeperahan). Berapa lama
berlangsungnyadanapakahmenggangguaktifitassehari-
hari?
T=Timing(waktu). Kapan pertama kali dirasakan?
Apakahtimbulsetiapsaatatausewaktu-waktu?

b) Riwayatkesehatandahulu
Untukinformasiriwayatkesehatan yang dahulu, misalnya
demam, penyakit kulit yang
pernahdideritapenyakitpernapasanataupencernaan, riwayatalergi,
dan lain-lain.

22
c) Riwayatkesehatankeluarga
Tentang status kesehatankeluarga, dapat ditanyakan ada
tidaknya anggota keluarga yang menderita gangguan kulit,
kapan dimulainya gangguan itu, danadakahanggotakeluarga
yang mempunyairiwayatalergi.
3) Riwayatpengobatanatauterpaparzat
Tanyakanpadaklienobatapa saja yang telah dikonsumsi atau
pernahkah klien terpapar factor-faktor yang tidak lazim. Misalnya,
terkenazat-zatkimiaataubahaniritanlainya.
4) Riwayatpekerjaanatauaktivitassehari-hari
Kebiasaandanaktivitassehari-hari klien perlu ditanyakan Misalnya,
bagaimana pola tidur klien, sebab pola tidur dan istirahat sangat
mempengaruhi kesehatan kulit.Lingkungan kerja klien juga
perludikajiuntukmengetahuiapakahklienberkontakdenganbahan-
bahaniritan.
5) Riwayatpsikososial
Keadaanpsikologisklien yang perlu dikaji misalnya, stress yang
berkepanjangan yang
akanmempengaruhikesehatankulitseseorangbahkandapatmenimbulka
nkelainankulit

2. Pemeriksaanfisik
Mengkajicirikulitsecarakeseluruhan
1) Inspeksi
a) Warnakulit. Perubahanwarnakulit juga dipengaruhi oleh
banyak variable. Gangguan pada melanin dapat bersifat
menyeluruh atau setempat yang dapt menyebabkan kulit
menjadi gelap atau lebih terang dari pada kulit yang
lainnya.Kondisitanpapigmentasiterjadipadakasus albino.
b) Keadaankulit. Mengobservasilokasilesi,
keadaanlesidankedalamanlesi.

23
2) Palpasi
a) Turgor kulit. Turgor kulitumumnyamencerminkan status
hidrasi. Pada klien yang dehidrasi dan lansia, kulit terlihat
kering. Pada klien lansia, turgor
kulitmencerminkanhilangnyaelastisitaskulit,
dankeadaankekurangan air ekstrsasel.
b) Teksturkulit. Teksturkulitpadaperubahan menyeluruh perlu
dikaji , karena tekstur kulit dapat berubah-ubah dibawah
pengaruh banyak variable.
Jenisteksturkulitdapatmeliputikasar, kering,
atauhalus(Raharyani, 2008, 12).

3. DiagnosaKeperawatan
1. Gangguanintegritaskulitberhubungandenganlesi.
Definisi :keadaandimana seorang
individumengalamiatauberesikoterhadapkerusakanjaringan epidermis dan
dermis.
Batasankarakteristik :
a. Mayor :gangguan epidermis dan dermis.
b. Minor :Pencukurankulit, Eritema : lesi (primer, sekunder), pruritus.

KriteriaHasil :
a. Mengidentifikasirasionaluntukpenyembuhanluka
b. Berpartisipasidalamrencanapengobatan yang
dianjurkanuntukmeningkatkanpenyembuhanluka.

Intervensi :

24
a) Kajilokasi, kondisisekitarkulit, ukuranlesi, bentuk, eritema, papul,
vesikel.
Rasional
:memberikaninformasidasaruntukdapatmemberikanpetunjukpengobatan
.
b) Meningkatkanintegritaskulitdenganmenghindaridaricubitandangarukan.
Rasional :denganadanyacubitandangarukanakanmenimbulkan trauma
barupadakulit.
c) Berikanperawatankulit (cuci area
kemerahandenganlembutmenggunakansabunringan, bilaslahseluruh
area kulit).
Rasional :pembersihankulitdapatmencegahterjadinya rasa
gataldanmemberikan rasa nyaman.
d) Berikanmotivasi agar pasientidakkontakdenganbahaniritan.
Rasional :bagipasien yang
seringkontakdenganbahaniritanakanmemperhambatpenyembuhan.
e) Masasedenganlembutkulitsehatdisekitar yang sakitjangandilakukanpada
area yang kemerahan.
Rasional :membantumelancarkansirkulasi.
f) Berikanpelembabpadakulit yang mengalamikekeringan
Rasional :memberikankelembabanpadakulitmenimbulkan rasa nyaman.
g) Kolaborasipemberianterapi.
Rasional :membantudalampenyembuhan.

Evaluasi :
Mencapaiintegritaskulit yang sempurna (kulit yang lebihhalus)
a. Tidakadalesibaru yang timbul.
b. Mempertahankankulit agar selaludalamkeadaanlunak.
c. Mempertahankankulit agar tidakterjadikekeringan.

2. Nyeridangatalberhubungandenganlesikulit.

25
Definisi :keadaandimana individu mengalami sensasi yang
tidakmenyenangkandalamberesponsterhadapsuaturangsangan yang
berbahaya.
BatasanKarakteristik:
a. Mayor :individumemperlihatkanataumelaporkanketidaknyamanan.
b. Minor :Responautonompadanyeri (tekanan darah meningkat,
nadimeningkat, pernapasanmeningkat, posisiberhati-hati,
rautwajahkesakitan, menangis).

KriteriaHasil :
a. Mengidentifikasisumber-sumbernyeri.
b. Mengidentifikasiaktivitas yang meningkatkandanmenurunkannyeri.
c. Menggambarkan rasa nyamandari orang lainselamamengalaminyeri.

Intervensi :
a) Hindaripenggunaanspreiataubantalplastik.
Rasional
:bantaldanspreiplastikdapatmeningktakanketidaknyamananolehkarenap
eningkatanproduksipanas.
b) Evaluasikeluhannyeriatauketidaknyamanan,
perhatikanlokasidankarakteristiktermasukintensitas.
Rasional :mempengaruhipilihan atau pengawasan keeefektifan.
Intervensi, tingkat ansietas dapat
mempengaruhi.Persepsiataureaksiterhadapnyeri.
c) Dorongpasienuntukmendiskusikanmasalahsehubungandengan pruritus,
vesikeldanbula.
Rasional :membantuuntukmenghilangkanansietas.
d) Dorongumtukmenggunakanteknikmanajemenstres, imajinasivisualisasi,
sentuhanterapeutik.

26
Rasional :memfokuskankembali perhatian, meningkatkan rasa control,
dandapatmenigkatkankemampuankopingdalammanajemennyeri yang
menetap.
e) Identifikasiterapeutik yang tepatuntukusiapasiendanpenampikanpribadi.
Rasional :mencegahkebosananmenurunkantegangan,
dandapatmenigkatkanhargadiridankemampuankoping.
f) Kolaborasiuntukpemeberianobatsesuaiindikasi.
Rasional :pemberianobat analgetik dapatmenurunkan rasa nyeri.

Evaluasi :
Tidak terjadi nyeri, pasien tenang.

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perasaan malu terhadap


penampakan diri dan persepsi diri tentang ketidakberhasilan.
Definisi : suatu keadaan dimana individu mengalami gangguan dalam cara
pencerapan citra diri seseorang.
Batasan Karakteristik:
a. Mayor: Respons negatif verbal atau nonverbal terhadap perubahan
aktual, misalnya; malu, keadaan yang memalukan, bersalah.
b. Minor :
Bersembunyi tidak menampakkan diri pada lingkugan.
Perubahan dalam keterlibatan sosial.
Perasaan negatif terhadap tubuh.
Perasaan ketidakberdayaan.

Kriteria Hasil :
a. Mengimplementasikan pola penanganan baru.
b. Mengungkapkan dan mendemonstrasikan penerimaan penampilan
(kerapian, postur, kehadiran diri).
c. Mendemonstrsikan keinginan dan kemapuan untuk mengambil
perawatan diri.

27
Intervensi :
a) Kaji makan kehilangan atau perubahan pada pasien atau orang terdekat.
Rasional : pada tahap terjadinya traumatik mengakibatkan perubahan
yang tiba-tiba sehingga membutuhkan dukungan dalam proses
penyembuhan.
b) Dorong individu untuk mengekspresikan perasaan (tentang pikiran,
perasaan, pandangan dirinya).
Rasional : episode awal dalam menentukan terapi.
c) Terima dan akui ekspresi frustasi (perhatikan perilaku menarik diri).
Rasional : penerimaan perasaan sebagai respons normal mendorong
pasien untuk menerima situasi, dan penarikan menarik diri karena
pasien tidak siap mengatasi masalah pribadi.
d) Berikan informasi yang dapat dipercaya.
Rasional : informasi yang tepat dapat menimbulkan semangat dan
motivasi pasien untuk melanjutkan perawatan dan mendukung
terjadinya perilaku koping positif.
e) Bersikap realistis dan positif selama pengobatan.
Rasional : meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan
antara pasien dengan perawat.

Evaluasi :
a. Pasien mengungkapkan atau menyatakan penerimaan situasi diri.
b. Mengembangkan kesadaran untuk penerimaan diri.
c. Mengekspresikan optimisme tentang hasil akhir terapi.

4. Resiko tinggi serangan penyakit berulang b/d predisposisi genetic, perubahan


hormone, status nutrisi, infeksi, serta stres emosional mempengaruhi periode
remisi dan ekserbasi.
Tujuan: terjadi penurunan resiko serangan penyakit berulang

28
Kriteria evaluasi:
a. Mengungkapkan tentang pengertian proses infeksi, tindakan yang
dibutuhkan untuk menurunkan serangan penyakit berulang.
b. Mengenal perubahan gaya hidup
c. Secara subjektif menyatakan motivasi yang kuat untuk menurunkan
resiko

Intervensi:
a) Beritahu pasien/ orang terdekat mengenai dosis, aturan dan efek
pengobatan, diet yang dianjurkan, dan pembatasan aktivitas yang dapat
dilakukan.
Rasional: informasi dibutuhkan untuk meningkatkan perawatan diri,
menambah kejelasan efektivitas pengobatan.
b) Untuk menghindari infeksi sekunder
Rasional: pasien dan orang tua harus menjaga kondisi kulit dan
mempertahankan lipatan kulit agar tetap bersih dan kering
c) Instruksi untuk menggunakan sampo obat harus ditegaskan kembali
kepada penderita ketombe yang memerlukan terapi
Rasional: akan menurunkan risiko serangan penyakit berulang
d) Berikan dukungan
Rasional: untuk meningkatkan upaya dalam menurunkan resiko dan
dukungan positif

29
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya
dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan
kehidupan.Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah
laku yang dapat diramalkan dan terjadi pada semua orang pada saat
mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu.Eksema
dermatitis adalah kelainan patogen yang unik, memiliki gambaran
histology yang sama. Eksema dermatitis adalah reaksi inflamasi kulit
terhadap unsur-unsur fisik, kimia atau biologis.Pada umumnya penderita
dermatitis mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantung pada stadium
penyakit, batasnya sirkumskrip, dapat pula difus. Penyebarannya dapat
setempat, generalisata, dan universal. Penyebab dermatitis multifaktor,
kadang juga tidak diketahui dengan pasti sehingga pengobatan bersifat
simtomatis yaitu dengan menghilangkan atau mengurangi keluhan dan
gejala dan menekan peradangan.
Upaya perawat dalam mengatasinya tidak hanya melalui
pendekatan kepada pasien dengan pengobatan saja. Tindakan promotif dan
preventif juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi faktor
penyebabnya.Pendekatan asuhan keperawatan cukup tepat digunakan
untuk membantu mengatasi permasalahan diatas, diantaranya melalui
upaya promotif, preventif, dan tidak mengabaikan kuratif dalam rangka
menghilangkan atau mengatasi masalah kesehatan lansia.

B. Saran
Adapun saran-saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

30
1. Dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga haruslah dapat
memperhatikan berbagai hal seperti latar belakang pendidikan,
budaya yang dianut, kebiasaan keluarga serta bahasa yang
digunakan agar dapat memberikan pendidikan kesehatan dan
perawatan penyakit dermatitis atopik sehingga mampu diterima dan
dimengerti dengan baik dan jelas.
2. Dalam proses asuhan keperawatan keluarga dibutuhkan waktu yang
maksimal, sehingga dalam pembinaan keluarga tersebut,
tercapainya tujuan dari asuhan keperawatan keluarga dalam upaya
meningkatkan derajat kesehatan keluarga.
3. Diharapkan perawat dapat menerapkan ilmu dan kiatnya dengan
baik dan benar. Perawat harus memepelajari dan mengerti terlebih
dahulu tentang bagaimana komunikasi yang baik sehingga tercipta
komunikasi terapeutik serta memahami terlebih dahulu pendidikan
kesehatan yang akan diberikan terhadap keluarga agar tujuan dapat
dicapai secara maksimal.

31
DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta:


Salemba Medika.

Brown, Robin Graham dan Tony Burns. 2005. Dermatologi. Jakarta : Erlangga.

Smeltzer, Suzanne C. 2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8


volume 3. Jakarta : EGC.

FKUI. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.

Price Anderson Sylvia. 1994. Patofisiologi. Jakarta : EGC.

Hetharia, Rospa. 2009. Asuhan Keperawatan gangguan Sistem Integumen.


Jakarta:Trans Info Media.

Raharyani, Loetfia Dwi. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Sistem Integumen. Jakarta : EGC.

Mitchel, Richard N. 2009. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit. Jakarta : EGC.

Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : hipocrates.

32