Anda di halaman 1dari 58

SKRIPSI

STUDI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG


BERTINGKAT RUSUNAWA JAMBANGAN TAHAN
GEMPA DENGAN METODE SRPMK
MENGGUNAKAN BETON PRACETAK

IMAM FERY WAHYUDI


431302571

PROGRAM STUDI SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA
2017
STUDI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG
BERTINGKAT RUSUNAWA JAMBANGAN TAHAN GEMPA
DENGAN METODE SRPMK MENGGUNAKAN BETON
PRACETAK

Nama Mahasiswa : Imam Fery Wahyudi


NRP : 431302571
Jurusan : Teknik Sipil
Dosen Pembimbing : Ir. Gede Sarya, MT

Retno Trimurtiningrum ST, MT

Abstrak
Precast concrete atau beton pracetak merupakan elemen bangunan yang
menggunakan beton (bertulang atau tidak bertulang) yang dibuat atau dicetak di
pabrik dengan bentuk sesuai cetakan, kemudian beton tersebut diinstalasi ke
tempat lokasi konstruksi. Seiring dengan perkembangannya, metode beton
pracetak semakin banyak diaplikasikan dalam pembangunan bangunan seperti
pada gedung, jembatan, maupun konstruksi lainnya. Penggunaan metode beton
pracetak didasari pada beberapa keungggulan yang dimilikinya dibandingkan
metode konvensional (cor ditempat). Dalam pelaksanaannya metode beton
pracetak memiliki keunggulan dalam kecepatan pengerjaan dan kontrol kualitas
beton itu sendiri.
Dalam perencanaan struktur gedung bertingkat RUSUNAWA Jambangan,
pada kondisi sebenarnya menggunakan metode cor di tempat, luas bangunan
1.152 m2 , jumlah lantai sebanyak 5 lantai dengan tinggi bangunan 14,6 m. Dalam
penulisan tugas akhir ini, penulis melakukan modifikasi. Desain awalnya
menggunakan beton bertulang konvensional dengan system cor di tempat (cast in
site), digunakan metode pracetak (precast). Pemilihan metode pracetak didasari
oleh kecepatan pelaksanaan , kontrol kualitas mutu yang tinggi, ramah
lingkungan, serta pengurangan jumlah tenaga kerja. Perencanaan dengan
komponen pracetak diaplikasikan pada seluruh komponen struktur primer dan

i
sekunder kecuali tangga. Metode konvensional juga diterapkan pada sambungan,
yaitu sambungan antara pelat dengan balok, balok dengan kolom, dan sambungan
lainya direncanakan menggunakan sambungan basah dengan cor di tempat.

Pada tugas akhir ini, digunakan perencanaan penulangan struktur beton


gedung dengan menggunakan metode SRPMK sesuai dengan SNI 2847:2013, PCI
Handbook dan beberapa referensi lainnya.

Kata Kunci : metode beton pracetak, system struktur SRPMK, metode beton
konvensional, RUSUNAWA Jambangan.

ii
STUDYING OF PLANNING OF RAILWAY BUILDING STRUCTURAL
HOUSEHOLD RAILWAY HOUSEHOLD WITH SRPMK METHOD
USING PRECAST CONCRETE

Student Name : Imam Fery Wahyudi


NRP : 431302571
Department : Civil Engineering
Academic Supervisor : Ir. Gede Sarya, MT

Retno Trimurtiningrum ST, MT

Abstract
Precast concrete is a building element that uses concrete (boned or non-
boned) made or molded in a plant, then installed onto the construction site. Along
with its development, precast concrete method is increasingly applied in building
construction such as building, bridge, and other construction. The use of precast
concrete method is based on some of its superiority compared to conventional
method (cast in place). In practice the precast concrete method has an advantage
in the speed of workmanship and the quality control of the concrete itself.
In the planning of RUSUNAWA Jambangan multi-storey building
structure, in actual condition using cast method in place, building area 1,152 m2 ,
number of floor as much as 5 floor with building height 14,6 m. In writing this
thesis, the authors make modifications. The design initially uses conventional
reinforced concrete with a cast system in place (cast in site), used precast method
(precast). The choice of precast method is based on the speed of implementation,
high quality quality control, environmentally friendly, and the reduction of the
amount of labor. Planning with precast components is applied to all components
of the primary and secondary structures except the ladder. Conventional methods
are also applied to connections, ie connections between plates with beams, beams
with columns, and other connections planned using a wet joint with cast in place.

In this final project, the design of reinforced concrete building using


SRPMK method in accordance with SNI 2847: 2013, PCI Handbook and some
other references.

iii
Keywords : Precast Concrete Method, SRPMK Structure System,
Conventional Concrete Method, RUSUNAWA Jambangan.

iv
KATA PENGANTAR

Pertama-tama ucapan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga terselesaikannya penyusunan
Laporan Proposal Skripsi dengan judul Studi Perencanaan Struktur
Gedung Bertingkat RUSUNAWA Jambangan Tahan Gempa dengan Metode
SRPMK Menggunakan Beton Pracetak .
Skripsi ini merupakan salah satu syarat bagi kami dalam menempuh
jenjang Pendidikan Strata I Teknik Sipil UNTAG Surabaya. Tersusunnya skripsi
ini juga tidak terlepas dari dukungan dan motivasi dari berbagai pihak yang telah
banyak membantu dan memberi masukan serta arahan kepada kami. Untuk itu
kami ucapkan terima kasih terutama kepada :
1. Kedua orang tua, saudara-saudara kami tercinta, sebagai penyemangat terbesar
bagi kami, dan yang telah banyak memberi dukungan moril maupun materiil
terutama doanya.
2. Bapak Ir. Gede Sarya, MT dan Ibu Retno Trimurtiningrum ST, MT selaku
dosen pembimbing.
3. Teman-teman terdekat yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih
atas bantuan dan saran-saran yang telah diberikan selama proses pengerjaan
proyek akhir ini.
4. Dan juga terima kasih saya ucapkan kepada Dora Melati Nurita Sandi atas
dukungan doa dan bantuannya.
Disusunnya Laporan Proposal Skripsi ini sangatlah diharapkan, semoga
apa yang telah dibuat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya dan bagi
majunya pendidikan umumnya.
Menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan Skripsi ini tidaklah
sempurna. Sehingga ucapan mohon maaf apabila dalam penyusunan Laporan
Skripsi ini masih ada kekurangan.Oleh karena itu dengan rendah hati diharapkan
saran dan kritik yang berguna dari pembaca.
Demikian yang dapat disampaikan, terimakasih.

Surabaya, 28 April 2017

Penyusun

v
DAFTAR ISI

ABSTRAK ..................................................................................................... i
ABSTRACT ..................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................................. v
DAFTAR ISI ................................................................................................ vi

BAB I
PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 3
1.3 Tujuan .................................................................................................. 3
1.4 Batasan Masalah .................................................................................. 3
1.5 Manfaat ................................................................................................ 4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 5
2.1 Ketentuan Perencanaan Bangunan ...................................................... 5
2.2 Penentuan Material ............................................................................. 5
2.2.1 Beton Pracetak ........................................................................... 5
2.2.2 Beton Bertulang ........................................................................ 12
2.3 Sistem Struktur Gedung .................................................................... 14
2.3.1 Struktur Gedung ...................................................................... 14
2.4 Pembebanan ....................................................................................... 15
2.4.1 Beban Mati .............................................................................. 15
2.4.2 Beban Hidup ............................................................................ 16
2.4.3 Beban Gempa .......................................................................... 16
2.5 Sistem Rangka Pemikul Momen (SRPM) ......................................... 25
2.5.1 Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa ................................... 25
2.5.2 Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah ............................ 26
2.5.3 Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus .................................. 28
2.6 Analisa Beban Lateral atau Gempa .................................................. 37

vi
BAB III
METODOLOGI PERENCANAAN ....................................................... 39
3.1 Bagan Alir Penelitian ........................................................................ 39
3.2 Lokasi ............................................................................................... 40
3.3 Bagan Alir Perencanaan Struktur Primer dan Sekunder..................... 40
3.3.1 Struktur Primer ........................................................................ 40
3.3.2 Struktur Sekunder..................................................................... 41
3.4 Tahapan Penelitian............................................................................. 54
3.4.1 Pengumpulan Data ................................................................... 54
3.4.2 Preliminary Desain .................................................................. 55
3.4.3 Perhitungan Pembebanan ........................................................ 58
3.4.4 Analisa Struktur........................................................................ 59
3.4.5 Analisa Gaya Dalam................................................................. 60
3.4.6 Perhitungan Penulangan Struktur.............................................. 61
3.4.7 Perencanaan Sambungan Pada Beton Precast
dengan system SRPMK ............................................................. 61
3.4.8 Kontrol Persyaratan .................................................................. 64
3.4.9 Gambar Perencanaan ................................................................. 65
BAB IV PRELIMINARY DESAIN .......................................................... 67
4.1 Umum ........................................................................................... 67
4.2 Data Perencanaan.......................................................................... 68
4.3 Perencanaan Dimensi Balok ......................................................... 69
4.4 Perencanaan Tebal Pelat ............................................................... 69
4.5 Perencanaan Dimensi Kolom ....................................................... 70
BAB V PEMBEBANAN DAN ANALISA STRUKTUR ........................ 71
5.1 Umum ........................................................................................... 71
5.2 Permodelan Struktur ..................................................................... 72
5.3 PembebananS Gravitasi ................................................................ 72
5.4 Pembebanan Gempa Dinamis ....................................................... 72
5.5 Kontrol Waktu Getar Alami Fundamental (T) ............................. 73

vii
5.6 Kontrol Gaya Geser Dasar (Base Shear) ...................................... 73
5.7 Kontrol Partisipasi Massa ............................................................. 74
5.8 Kontrol Drift ................................................................................. 74
BAB VI PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER .......................... 75
6.1 Struktur Pelat Pracetak ................................................................. 77
6.2 Struktur Balok Anak Pracetak ..........................................................
6.3 Perencanaan Tangga .........................................................................
BAB VII PERENCANAAN STRUKTUR PRIMER
7.1 Umum ...............................................................................................
7.2 Perencanaan Balok Induk Pracetak ..................................................
7.3 Perencanaan Kolom ..........................................................................
BAB VIII PERENCANAAN SAMBUNGAN ..............................................
8.1 Umum ...............................................................................................
8.2 Konsep Desain Sambungan ..............................................................
8.3 Perencanaan Sambungan Balok Kolom.........................................
8.4 Perencanaan Sambungan Balok Anak Balok Induk dan Balok Anak
Balok Anak
8.5 Perencanaan Sambungan Pelat Lantai Balok ................................
8.6 Perencanaan Sambungan Tangga Balok........................................
8.7 Perencanaan Sambungan Kolom Kolom .......................................
BAB IX PENUTUP ........................................................................................
11.1 Kesimpulan .....................................................................................
11.2 Saran ...............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
LAMPIRAN ....................................................................................................

viii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Precast concrete atau beton pracetak merupakan elemen bangunan yang


menggunakan beton (bertulang atau tidak bertulang) yang dibuat atau dicetak di
pabrik dengan bentuk sesuai cetakan, kemudian beton tersebut diinstalasi ke
tempat lokasi konstruksi.
Sistem pracetak berkembang mula-mula di negara Eropa. Struktur
pracetak pertama kali digunakan adalah sebagai balok beton pracetak untuk
Casino di Biarritz, yang dibangun Oleh kontraktor Coignet, Paris1891. Pondasi
beton bertulang diperkenalkan oleh sebuah Perusahaan Jerman, Wayss &reytag di
Hamburg dan mulai digunakan tahun1906. Tahun 1912 beberapa bangunan
bertingkat menggunakan system pracetak berbentuk komponen - komponen,
seperti dinding, kolom dan lantai diperkenalkan oleh John.E.Conzelmann.
Struktur komponen pracetak beton bertulang juga diperkenalkan di Jerman oleh
Philip Holzmann AG, Dyckerhoff & Widmann G Wayss & Freytag KG,
Prteussag, Loser dll. Sistem pracetak tahan gempa dipelopori pengembangannya
di Selandia Baru. Amerika dan Jepang yang dikenal sebagai negara maju di dunia,
ternyata baru melakukan penelitian intensif tentang system pracetak tahan gempa
pada tahun 1991. Dengan membuat program penelitian bersama yang dinamakan
PRESS ( Precast seismic Structure System).
Indonesia telah mengenal sistem pracetak yang berbentuk komponen,
seperti tiang pancang, balok jembatan, kolom dan plat lantai sejaktahun1970an.
Sistem pracetak semakin berkembang dengan ditandai munculnya berbagai
inovasi seperti Sistem Column Slab (1996), Sistem L-Shape Wall (1996), Sistem
All Load Bearing Wall (1997), Sistem Beam Column Slab (1998), Sistem
Jasubakim (1999), Sistem Bresphaka (1999) dan sistem T-Cap (2000).
Ada berbagai jenis beton pracetak, yang membentuk sistem untuk aplikasi
arsitektur, berbeda dalam ukuran, fungsi dan biaya. Panel arsitektur pracetak juga

1
digunakan untuk melapisi semua atau bagian dari dinding fasade bangunan yang
digunakan untuk lansekap, kedap suara (soundproofing), dinding keamanan, dan
terkadang dapat menjadi elemen dari struktur beton prategang. Drainase
stromwater, pipa air dan limbah, serta terowongan memanfaatkan unit beton
pracetak.
Keuntungan penggunaan beton pracetak diantaranya, memudahkan
pekerjaan struktur maupun finishing, menghemat biaya pekerjaan bangunan, Mutu
lebih terjamin dikarenakan proses pembuatannya dilakukan dengan metode yang
baik dan benar serta perawatannya juga sangat diperhatikan sesuai dengan
peraturan yang berlaku, dan beton pracetak memiliki tingkat ketahanan yang
tinggi terhadap perubahan cuaca yang drastis.
Dalam pengaplikasian metode beton pracetak juga harus memperhatikan
sistem koneksi atau sambungan komponen-komponen struktur beton pracetak.
Proses penyatuan komponen-komponen tersebut menjadi sebuah struktur
bangunan yang monolit merupakan hal yang amat penting. Sambungan antar
komponen pracetak tidak hanya berfungsi sebagai penyalur beban tetapi juga
harus mampu secara efektif mengintegrasikan komponen-komponen tersebut
sehingga struktur secara keseluruan dapat berperilaku monolit. Gaya-gaya yang
harus disalurkan dalam struktur bangunan adalah gaya horisontal yaitu gaya yang
timbul akibat beban horisontal (beban angin, beban gempa), dan gaya vertikal,
yaitu gaya yang ditimbulkan akibat beban gravitasi (berat sendiri komponen).
Pada umumnya sambungan-sambungan dikelompokkan menjadi,
sambungan saat pemasangannya harus langsung menerima beban (biasanya beban
vertikal ) akibat beban sendiri dari komponen, sambungan yang pada keadaan
akhir harus menerima beban-beban yang selama pemasangan diterima oleh
pendukung pembantu, sambungan dimana tidak ada persyaratan ilmu gaya tapi
harus memenuhi persyaratan lain seperti: kekedapan air, kekedapan suara,
sambungan-sambungan tanpa persyaratan konstruktif dan semata-mata
menyediakan ruang gerak untuk pemasangan.
RUSUNAWA terletak di daerah Jambangan, Surabaya Jawa Timur.
Pemilik dari proyek ini adalah kementrian pekerjaan umum, Dinas Cipta Karya
dan Tata Ruang, satuan kerja pembangunan kawasan pemukiman perkotaan

2
strategis dan sebagai pelaksana kontraktor pelaksana adalah PT. Total Boanerges
Indonesia. Rumah Susun Sederhana Sewa (RUSUNAWA) Jambangan memiliki
jumlah lantai sebanyak 5 lantai dengan tinggi 14,6 m dan memiliki luas bangunan
1.152 m2 .
Dari uraian di atas, maka dalam penulisan tugas akhir ini, penulis
melakukan modifikasi perencanaan Rumah Susun Sederhana Sewa
(RUSUNAWA) Jambangan, dimana desain awalnya menggunakan beton
bertulang konvensional dengan system cor di tempat (cast in site), digunakan
metode pracetak (precast). Pada tugas akhir ini, digunakan perencanaan
penulangan struktur beton gedung dengan menggunakan metode SRPMK sesuai
dengan SNI 2847:2013.

1.2 Rumusan Masalah


Permasalahan yang ditinjau dalam perencanaan Rumah Susun
Sederhana Sewa Jambangan adalah :
1. Bagaimana merencanakan pleliminary design dimensi elemen-elemen
struktur gedung yang meliputi plat, balok, dan kolom menggunakan
beton pracetak dengan metode SRPMK ?
2. Bagaimana menghitung dan merencanakan penulangan struktur beton
pracetak mulai dari tahap penyimpanan, pengiriman, pengangkatan,
pemasangan hingga masa layan dengan metode SRPMK ?
3. Bagaimana merencanakan sambungan antar elemen beton pracetak agar
menjadi struktur elemen yang monolit ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan tugas akhir ini adalah :
1. Dapat merencanakan pleliminary design dimensi elemen-elemen struktur
gedung yang meliputi plat, balok, dan kolom menggunakan beton
pracetak dengan metode SRPMK.
2. Dapat menghitung dan merencanakan penulangan struktur beton
pracetak mulai dari tahap penyimpanan, pengiriman, pengangkatan,
pemasangan hingga masa layan dengan metode SRPMK.

3
3. Dapat merencanakan sambungan antar elemen beton pracetak agar
menjadi struktur elemen yang monolit.

1.4 Batasan Masalah


Didalam penyusunan Tugas Akhir ini yang menjadi batasan masalah dalam
perencanaan Struktur Gedung ini adalah :
1. Perencanaan ini tidak membahas tentang analisa biaya dan pelaksanaan
di lapangan.
2. Perencanaan ini tidak membandingkan kelebihan dan kekurangan beton
bertulang konvensional dengan system cor di tempat (cast in site)
dengan beton pracetak.
3. Perencanaan ini tidak membahas tentang system utilitas bangunan.
4. Analisis beban gempa menggunakanr respons spectrum (SNI 03-1726-
2012).
5. Pada tugas akhir ini tidak dilakukan perencanaan pondasi

1.5 Manfaat
Manfaat dari penyusunan tugas akhir ini adalah :
1. Sebagai proses pembelajaran mendesain suatu bangunan gedung yang
mampu menahan gempa, khususnya pada wilayah kategori desain
seismic D.
2. Memahami perancangan metode beton pracetak pada struktur gedung
bertingkat.
3. Mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat perencanaan
struktur sehingga kegagalan struktur dapat dihindari.
4. Menjadi acuan bagi pembaca tentang pembangunan dengan
menggunakan metode beton pracetak
5. Menambah wawasan penulis tentang metode beton pracetak sehingga
bermanfaat di masa mendatang ketika memasuki dunia kerja.

4
BAB II
LANDASAN TEORI

3.1 Pengertian Beton Pracetak / Precast concrete

Precast Concrete Beton pracetak adalah suatu metode percetakan


komponen secara mekanisasi dalam pabrik atau workshop dengan memberi
waktu pengerasan dan mendapatkan kekuatan sebelum dipasang.
Precast Concrete atau Beton pra-cetak menunjukkan bahwa komponen
struktur beton tersebut : tidak dicetak atau dicor ditempat komponen tersebut
akan dipasang. Biasanya ditempat lain, dimana proses pengecoran dan curing-
nya dapat dilakukan dengan baik dan mudah. Jadi komponen beton pra-cetak
dipasang sebagai komponen jadi, tinggal disambung dengan bagian struktur
lainnya menjadi struktur utuh yang terintegrasi.
Karena proses pengecorannya di tempat khusus (bengkel frabrikasi),
maka mutunya dapat terjaga dengan baik. Tetapi agar dapat menghasilkan
keuntungan, maka beton pra-cetak hanya akan diproduksi jika jumlah bentuk
typical-nya mencapai angka minimum tertentu, sehingga tercapai break-
event-point-nya. Bentuk typical yang dimaksud adalah bentuk-bentuk yang
repetitif, dalam jumlah besar.

3.2 Kelebihan dan Kekuatan Beton Precast

Kelebihan Beton Precast


Terdapat enam kelebihan dari beton precast, di antaranya :
Beton precast mempunyai kualitas yang benar-benar terjamin karena
proses pembuatannya dilakukan dengan metode yang baik dan benar, serta
perawatannya juga sangat diperhatikan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Beton precast memiliki tingkat ketahanan yang tinggi terhadap
perubahan cuaca yang drastis. Beton ini bisa sangat diandalkan jika kondisi di
tempat pelaksanaan proyek tidak menentu. Selain itu, pemasangan beton
precast juga tidak terpengaruh pada cuaca.

5
Beton precast dapat memangkas waktu pelaksanaan proyek secara
signifikan. Hal tersebut dikarenakan penggunaan beton ini memungkinkan
pekerjaan proyek bisa dilakukan secara overlapping. Sebagai contoh, ketika
pekerjaan struktur masih dalam tahap pondasi, maka pelaksanaannya bisa
bersamaan dengan pembuatan beton precast untuk kolom lantai. Dengan
begini, saat pekerjaan struktur bawah telah selesai, kolom juga sudah siap
untuk dipasangkan.
Beton precast juga sanggup menghemat penggunaan bekisting sehingga
jauh lebih sedikit. Bayangkan saja, pada pembuatan beton secara
konvensional, bekisting hanya bisa dipakai maksimal 10 kali. Akan tetapi,
pada pembuatan beton precast, bekisting tersebut bisa digunakan terus-
menerus hingga mencapai 50 kali. Perawatan yang tepat memberikan andil
yang terbesar kenapa bekisting tersebut mempunyai daya tahan yang lama.
Beton precast mampu memangkas Rencana Anggaran Belanja (RAB)
Proyek terutama biaya yang perlu dikeluarkan untuk pengadaan tenaga kerja.
Perlu diketahui, upah pabrik precast rata-rata lebih rendah daripada upah
tukang bangunan. Sehingga penggunaan RAB pun bisa menjadi lebih efektif
dan efisien.
Beton precast bersifat ramah terhadap lingkungan. Pemakaian beton ini
sebagai pengganti dari beton konvensional akan mengurangi jumlah sampah
dan kotoran di lokasi proyek yang merupakan sisa-sisa material pembentuk
beton dan bekisting.

Kekurangan Beton Precast


Beton precast juga memiliki kekurangan-kekurangan, antara lain :
Beton precast membutuhkan biaya tambahan untuk mengangkut beton ini
dari pabrik pembuatnya menuju ke tempat pelaksanaan proyek. Sekali lagi,
ini dikarenakan beton precast tidak dibuat di tempat pembangunan, melainkan
di pabrik precast khusus.
Beton precast memerlukan peralatan berat yang lengkap untuk
pemasangannya. Alat-alat tukang konvensional saja tidak bisa dipakai untuk
memasang komponen struktur ini dengan sempurna.

6
Beton precast harus diletakkan di tempat yang baik dan dirawat dengan
benar sampai tiba waktu pemasangannya. Sehingga lokasi proyek harus
memiliki ruang yang cukup lapang untuk menyimpan beton-beton tersebut.

Beton precast juga kerap kali memakan biaya tak terduga yang cukup
banyak. Misalnya saja pada saat dilakukan pemasangan elemen-elemen beton
precast, dibutuhkan biaya tambahan untuk keperluan penyambungannya.

3.3 Pembuatan Beton Pracetak

Proses produksi/pabrikasi beton pracetak dapat dibagi menjadi tiga


tahapan berurutan yaitu :
Tahap Design
Proses perencanaan suatu produk secara umum merupakan kombinasi
dari ketajaman melihat peluang, kemampuan teknis, kemampuan pemasaran.
Persyaratan utama adalah struktur harus memenuhi syarat kekuatan, kekakuan
dan kestabilan pada masa layannya

Tahap Produksi
Beberapa item pekerjaan yang harus dimonitor pada tahap produksi :
a. Kelengkapan dari perintah kerja dan gambar produk
b. Mutu dari bahan baku
c. Mutu dari cetakan
d. Mutu atau kekuatan beton
e. Penempatan dan pemadatan beton
f. Ukuran produk
g. Posisi pemasangan
h. Perawatan beton
i. Pemindahan, penyimpanan dan transportasi produk
j. Pencatatan ( record keeping )

Tahap produksi terdiri dari :


a. Persiapan
b. Pabrikasi tulangan dan cetakan

7
c. Penakaran dan pencampuran beton
d. Penuangan dan pengecoran beton
e. Transportasi beton segar
f. Pemadatan beton
g. Finishing / repairing beton
h. Curing beton

Tahap Pasca produksi


Terdiri dari tahap penanganan (handling), penyimpanan (storage),
penumpukan (stacking), pengiriman (transport dan tahap pemasangan di
lapangan) (site erection)
Yang perlu diperhatikan dalam system transportasi adalah :
Spesifikasi alat transport : lebar, tinggi, beban maks, dimensi
elemen
Route transport : jarak, lebar jalan, kepadatan lalu lintas, ruang
bebas bawah jembatan, perijinan dariinstansi yang berwenang.
Pemilihan alat angkut dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai
berikut :
Macam komponennya : linier atau plat
Ketinggian alat angkat : berhubungan dengan ketinggian
bangunan yang akan dibangun
Berat komponen : berdasarkan beban maksimum
Kondisi local : pencapaian lokasi dan topografi
Menurut tempat pembuatan beton pracetak dibagi 2 yaitu :
Dicor di tempat disebut Cast In Situ
Dicor di pabrik
Menurut perlakuan terhadap bajanya dibagi 2 yaitu :
Beton pracetak biasa
Beton prategang pracetak
Ada 2 prinsip yang berbeda pada beton prategang ;
Pre-tensioned Prestressed Concrete
Post-tensioned Prestressed Concrete
Metode Membangun dengan Konstruksi Precast

8
a. Serangkaian kegiatan yang dilakukan pada proses produksi
adalah :
1. Pembuatan rangka tulangan
2. Pembuatan cetakan
3. Pembuatan campuran beton
4. Pengecoran beton
5. Perawatan ( curing)
6. Penyempurnaan akhir
7. Penyimpanan

3.4 Titik-Titik Angkat dan Sokongan

3.4.1 Pengangkatan Pelat / Dinding Pracetak


Pemasangan pelat / dinding pracetak harus diperhatikan bahwa
pelat akan mengalami pengangkatan sehingga perlu perencanaan
terhadap tulangan angkat untuk pelat / dinding dengan tujuan untuk
menghindari tegangan yang disebabkan oleh fleksibilitas dari truk
pengangkut dalam perjalananmenuju lokasi proyek. Kondisi tersebut
menyebabkan terjadinya momen-momen pada elemen pracetak.Pada
saat pengangkatan elemen pracetak, dapat menggunakan bantuan
balok angkat yang berfungsi untuk menyeimbangkan elemen pracetak
pada saat pengangkatan. Jenis titik angkat pada pelat tersebit
dijelaskan berikut ini :
1. Dua Titik Angkat
Maksimum Momen (pendekatan) :
+Mx = -My = 0,0107 w a2 b . (PCI Design
Handbook 6th Edition)
+My = -My = 0,0107 w a b2 . (PCI Design
Handbook 6th Edition)
Mx ditahan oleh penampang dengan lebar yang terkecil
dan 15t atau b/2
My ditahan oleh penampang dengan lebar a/2

9
Gambar 2.1 Posisi titik angkat pelat (4 buah titik angkat)
(Sumber : PCI Design Handbook 6 th Edition, gambar 5.3.1.2(b))
2. Empat Titik Angkat
Maksimum Momen (pendekatan) :
+Mx = -My = 0,0054 w a2 b ... (PCI Design
Handbook 6th Edition)
+My = -My = 0,0027 w a b2 ... (PCI Design
Handbook 6th Edition)
Mx ditahan oleh penampang dengan lebar yang terkecil
dan 15t atau b/4
My ditahan oleh penampang dengan lebar a/2

Gambar 2.2 Posisi titik angkat pelat / dinding (8 buah titik angkat)
(Sumber : PCI Design Handbook 6 th Edition, gambar 5.3.1.2(b))

10
3.4.2 Pengangkatan Balok / Kolom Pracetak
Kondisi pertama adalah saat pengangkatan balok / kolom pracetak
untuk dipasang pada tumpuannya. Pada kondisi ini beban yang
bekerja adalah berat sendiri balok pracetak yang ditumpu oleh angkur
pengangkatan yang menyebabkan terjadinya momen pada tengah
bentang dan pada tumpuan. Ada dua hal yang harus ditinjau dalam
kondisi ini, yaitu kekuatan angkur pengangkatan (lifting anchor) dan
kekuatan lentur penampang beton pracetak.

Gambar 2.3 Pengangkatan balok / kolom pracetak

Gambar 2.4 Model pembebanan balok / kolom pracetak saat


pengangkatan
Balok pracetak harus dirancang untuk menghindari kerusakan
pada waktu proses pengangkatan. Titik pengangkatan dan kekuatan
tulangan angkat harus menjamin keamanan elemen balok dari
kerusakan. Titik pengangkatan balok dapat dilihat pada gambar
berikut :

11
Gambar 2.5 Titik-titik angkat dan sokongan sementara untuk produk pracetak
balok / kolom
(Sumber : PCI Design Handbook, Precast and Prestress Concrete 6 th Edition, gambar
5.3.2.2)
Tabel 2.1 Angka pengali beban statis ekivalen untuk menghitung gaya
pengangkatan dan gaya dinamis
Pengangkatan dari bekisting 1.7

Pengangkatan ke tempat
1.2
penyimpanan

Transportasi 1.5

\Pemasangan 1.2

(Sumber : PCI Design Handbook, Precast and Prestress Concrete Fourth Edition,
1992, table 5.2.1.)

12
3.5 Sistem Struktur Gedung ( SNI 1726:2012 Pasal 7.3.2 & SNI 1726-2012
Pasal 7.3.2. )

Pembagian keteraturan gedung diatur dalam SNI 1726:2012 Pasal 7.3.2.


Adapun penggolongannya adalah sebagai berikut:
Struktur Gedung Beraturan
Struktur gedung beraturan harus memenuhi ketentuan SNI
1726:2012 Pasal 7.3.2. Pengaruh gempa rencana struktur gedung ini
dapat ditinjau sebagai pengaruh beban gempa statik equivalen.
Sehinga dapat menggunakan analisa statik equivalen
Struktur Gedung Tidak Beraturan
Struktur gedung tidak beraturan adalah struktur gedung yang
tidak memenuhi syarat konfigurasi struktur gedung beraturan (atau
tidak sesuai SNI 1726-2012 Pasal 7.3.2. Pengaruh gempa struktur ini
harus diatur dengan menggunakan pembebanan gempa dinamik.
Sehingga menggunakan analisa respons dinamik.
Perancangan gedung dalam Tugas akhir ini adalah merupakan
struktur gedung tidak beraturan, sehingga perlu dianalisa dinamis
pada saat menggunakan program bantu SAP2000 v.14

3.6 Pembebanan

Berdasarkan peraturan-peraturan diatas, struktur sebuah gedung harus


direncanakan kekuatannya terhadap beban-beban berikut:

i. Beban Mati
Beban Mati adalah berat dari semua bagian dari suatuu gedung yang
bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-
penyelesaian, mesin- mesian serta peralatan tetap yang merupakan
bagian yang taak terpisahkan dari gedung itu. (PPIUG 1983, Pasal
1.0.1)
Beban mati pada pelat atap, terdiri dari :
- Berat sendiri pelat
- Beban Spesi

13
- Beban Plafond dan rangka plafond
- Instalasi listrik
- Pemipaan air bersih dan kotor
- Lapisan penutup atap kedap air (waterproofing)
Beban mati pada pelat lantai, terdiri dari :
- Berat sendiri pelat
- Beban Spesi
- Beban Keramik
- Beban Plafond dan rangka plafond
- Instalasi listrik
- Pemipaan air bersih dan kotor
Beban mati pada balok, terdiri dari :
- Berat sendiri balok
- Berat dinding 15 cm

ii. Beban hidup


Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian
atau penggunaan suatu gedung, dan ke dalammya termasuk beban-
beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat
berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup
dari gedung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan
lantai dan atap tersebut.(PPIUG 1983, Pasal 1.0.2)
Beban hidup untuk atap rumah susun = 100 kg/m2
Beban hidup untuk lantai rumah susun = 192 kg/m2
Beban hidup tangga = 300 kg/m2

iii. Beban Gempa ( SNI 1726:2012 )

Analisa Beban Gempa


Rangka penahan momen yang dilingkupi atau dihubungkan oleh
elemen yang lebih kaku dan tidak dianggap sebagai bagian sistem
penahan gaya gempa harus didesain agar aksi atau kegagalan

14
tersebut tidak memperparah beban vertikal dan kemampuan rangka
penahan gaya gempa.
Pada dasanya beban lateral yang bekerja menjadikan analisisnya
menjadi lebih komplek. Menurut SNI 1726-2012, ada dua buah
metode analisis yang digunakan untuk menghitung pengaruh beban
gempa pada struktur yaitu:

A. Analisis gaya lateral ekivalen


Metode ini merupakan analisa sederhana untuk menentukan
pengaruh gempa yang hanya digunakan pada bangunan
sederhana dan simetris, yang mengasumsikan besarnya gaya
gempa berdasarkan hasil perkalian suatu konstanta / massa dari
elemen tersebut. Metode ini bertujuan untuk menyederhanakan
dan memudahkan perhitungan dengan menggantikan beban
gempa dengan gaya-gaya statik ekivalen. Untuk prosedur
analisis gaya lateral ekivalen harus sesuai dengan SNI 1726-
2012 pasal 7.8.

B. Analisis spektrum respons ragam


Metode analisa pada perencanaan gedung tahan gempa
diperlukan untuk evaluasi yang lebih akurat dari gaya-gaya
gempa yang bekerja pada struktur serta untuk mengetahui
perilaku dari struktur akibat pengaruh gempa yang sifatnya
berulang.Prosedur analisis metode ini harus sesuai dengan SNI
1726-2012 pasal 7.9.

Dalam perencanaan beban gempa, dihitung dengan menggunakan


respons spektrum. Dengan mengacu pada kombinasi pembebanan
SNI 1726:2012.

15
A. Faktor keutamaan dan kategori risiko struktur bangunan (
SNI 1726:2012 pasal 4.1.2 )
kategori risiko struktur bangunan gedung dan non gedung beban
gempa di tinjau dari fungsi bangunan, pada Tabel 2.1 diuraikan
beberapa kategori resiko sesuai dengan fungsi bangunan sehingga
akan didapatkan nilai faktor keutamaan gempa (Ie) pada tabel 2.2
yang sesuai dengan SNI 1726:2012 pasal 4.1.2.

16
Tabel 2.2 Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban gempa ( SNI 1726:2012 pasal 4.1.2 Tabel 1 )
Kategori
Jenis pemanfaatan
risiko
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko rendah terhadap jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi
tidak dibatasi untuk, antara lain:
-Fasilitas pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan
I
- Fasilitas sementara
- Gudang penyimpanan
- Rumah jaga dan struktur kecil lainnya
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam kategori risiko I,III,IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Perumahan
- Rumah toko dan rumah kantor
- Pasar
- Gedung perkantoran
II
- Gedung apartemen/ rumah susun
- Pusat perbelanjaan/ mall
- Bangunan industri
- Fasilitas manufaktur
- Pabrik

17
Kategori
Jenis pemanfaatan
risiko

Gedung dan non gedung yang memiliki risiko tinggi terhadap jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi
tidak dibatasi untuk:
- Bioskop
- Gedung pertemuan
- Stadion
- Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit gawat darurat
- Fasilitas penitipan anak
- Penjara
- Bangunan untuk orang jompo
Gedung dan non gedung, tidak termasuk kedalam kategori risiko IV, yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak
ekonomi yang besar dan/atau gangguan massal terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari bila terjadi kegagalan, termasuk,
tapi tidak dibatasi untuk:
- Pusat pembangkit listrik biasa
- Fasilitas penanganan air
- Fasilitas penanganan limbah
- Pusat telekomunikasi

18
Jenis pemanfaatan Kategori
risiko

Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori risiko IV, (termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas
manufaktur, proses, penanganan, penyimpanan, penggunaan atau tempat pembuangan bahan bakar berbahaya, bahan kimia
berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang mudah meledak) yang mengandung bahan beracun atau peledak di mana
III
jumlah kandungan bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh instansi yang berwenang dan cukup menimbulkan
bahaya bagi masyarakat jika terjadi kebocoran.

Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang penting, termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk:
- Bangunan-bangunan monumental
- Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
- Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki fasilitas bedah dan unit gawat darurat
- Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi, serta garasi kendaraan darurat
- Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai, dan tempat perlindungan darurat lainnya
- Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan fasilitas lainnya untuk tanggap darurat
- Pusat pembangkit energi dan fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan pada saat keadaan darurat

19
Kategori
Jenis pemanfaatan risiko

-Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangki penyimpanan bahan bakar, menara pendingin, struktur stasiun listrik,
tangki air pemadam kebakaran atau struktur rumah atau struktur pendukung air atau material atau peralatan pemadam kebakaran )
IV
yang disyaratkan untuk beroperasi pada saat keadaan darurat
Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi struktur
bangunan lain yang masuk ke dalam kategori risiko IV.

20
Tabel 2.3 Faktor keutamaan gempa ( SNI 1726:2012 pasal
4.1.2 Tabel 2 )
Kategori Faktor keutamaan
risiko gempa, Ie
I atau II 1,0
III 1,25
IV 1,50

B. Klasifikasi situs ( SNI 1726:2012 pasal 5.2 )


Klasifikasi suatu situs untuk memberikan kriteria desain seismik
berupa faktor-faktor amplifikasi pada bangunan. Dalam perumusan
kriteria desain seismik suatu bangunan di permukaan tanah maka
situs tersebut harus diklasifikasikan terlebih dahulu sehingga profil
tanah dapat di ketahui berdasarkan data tanah pada bangunan, pada
tabel 2.3 akan di jelaskan beberapa macam kelas situs yang harus
ditinjau.
Tabel 2.4 Klasifikasi situs ( SNI 1726:2012 pasal 5.2 Tabel 3)
N atau N
Kelas Situs vs(m/detik) s u (kPa)
ch
SA (batuan
>1500 N/A N/A
keras)
750 sampai
SB (batuan) N/A N/A
1500
SC (tanah keras,
sangat Padat 350 sampai
>50 100
dan batuan 750
lunak)

SD (tanah 175 sampai 15 sampai 50


sedang) 350 50 sampai100

CATATAN: N/A = tidak dapat dipakai

21
C. Koefisien-koefisien situs dan paramater-parameter respons
spektral percepatan gempa maksimum yang dipertimbangkan
risiko - tertarget (MCER) ( SNI 1726:2012 pasal 6.2 )
Untuk penentuan respons spektral percepatan gempa MCER di
permukaan tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismik pada
perioda 0,2 detik dan perioda 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor
amplifikasi getaran terkait percepatan pada getaran perioda pendek
Fa dan faktor amplifikasi terkait percepatan yang mewakili getaran
perioda 1 detik ( Fv). Parameter spektrum respons percepatan pada
perioda pendek(SMS)dan perioda 1 detik (SM1 ) yang disesuaikan dengan
pengaruh klasifikasi situs, harus ditentukan dengan perumusan berikut
ini sesuai SNI 1726:2012 pasal 6.2 yaitu :
SSM = Fa Ss
SS1 = Fv S1
Keterangan:
Ss = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan
untuk perioda pendek;
S1 = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan
untuk perioda 1,0 detik.dan koefisien situs Fa dan Fv mengikuti
Tabel 2.4 dan Tabel 2.5

Tabel 2.5 Koefisien situs Fa ( SNI 1726:2012 pasal 6.2 Tabel 4 )


Parameter respons spektral percepatan gempa (MCER)
Kelas
terpetakan pada perioda pendek, T=0,2 detik, Ss
Situs
Ss 0,25 Ss = 0,5 Ss = 0,75 Ss = 1,0 Ss 1,25
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,2 1,2 1,1 1,0 1,0
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0
SE 2,5 1,7 1,2 0,9 0,9
SF SSb

22
CATATAN:
(a) Untuk nilai- nilai antara Ssdapat dilakukan interpolasi linier
(b) SS= Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan
analisis respons situs spesifik,

Tabel 2.6 koefisien situs Fv ( SNI 1726:2012 pasal 6.2 Tabel 5 )

Kelas Parameter respons spektral percepatan gempa (MCER)


Situs terpetakan pada perioda 1 detik, S1

Ss 0,1 Ss = 0,2 Ss = 0,3 Ss = 1,4 Ss 0,5

SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8


SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,7 1,6 1,5 1,4 1,3
SD 2,4 2 1,8 1,6 1,5
SE 3,5 3,2 2,8 2,4 2,4
b
SF SS
CATATAN :
(a) Untuk nilai- nilai antara S1 dapat dilakukan interpolasi linier
(b) SS= Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan
analisis respons situsspesifik

D. Parameter percepatan spektral desain (SNI 1726:2012 pasal 6.3)


Parameter percepatan spektral desain untuk perioda pendek, SDS dan
pada perioda 1 detik, SD1 , harus ditentukan melalui perumusan berikut
ini:

SDS = SMS, SD1 = SM1

E. Spektrum sespons desain ( SNI 1726:2012 pasal 6.4 )


Bila spektrum respons desain diperlukan oleh tata cara ini dan
prosedur gerak tanah dari spesifik-situs tidak digunakan, maka kurva
spektrum respons desain harus dikembangkan dengan mengacu Gambar
1 dan mengikuti ketentuan di bawah ini :

23
1. Untuk perioda yang lebih kecil dari T0 , spektrum respons
percepatan desain Sa, harus diambil dari persamaan:

Sa = SDS (0,4 + 0,6 )

2. Untuk perioda lebih besar dari atau sama dengan T0 dan lebih
kecil dari atau sama dengan Ts, spektrum respons percepatan
desain, Sa sama dengan SDS.
3. Untuk perioda lebih besar dari Ts, spektrum respons percepatan
desain, Sa diambil berdasarkan persamaan:

Sa =

Keterangan:
SDS = parameter respons spektral percepatan desain pada perioda
pendek;
SD1 = parameter respons spektral percepatan desain pada perioda
1 detik;
T = perioda getar fundamental struktur.

T0 = 0,2 ;TS =

3.7 Sistem Rangka Pemikul Momen

SRPM adalah singkatan dari Sistem Rangka Pemikul Momen, atau


Moment Resisting Frame.Istilah ini sering kita dengar pada pembahasan
mengenai struktur gedung tahan gempa.SRPM merupakan salah satu
"pilihan" sewaktu merencanakan sebuah bangunan tahan gempa. Ciri-ciri
SRPM antara lain: Beban lateral khususnya gempa, ditransfer melalui
mekanisme lentur antara balok dan kolom. Jadi, peranan balok, kolom, dan
sambungan balok kolom disini sangat penting; Tidak menggunakan dinding
geser.Kalaupun ada dinding, dinding tersebut tidak didesain untuk menahan
beban lateral; Tidak menggunakan bresing (bracing).Untuk struktur baja,
penggunaan bresing kadang sangat diperlukan terutama pada arah sumbu
lemah kolom.Dalam hal ini, bangunan tersebut dapat dianalisis sebagai
SRPM pada arah sumbu kuat kolom, dan sistem bresing pada arah lainnya.
SRPM dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:

24
1. Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB), untuk daerah
yang berada di wilayah gempa dengan kategori disain seismik
(KDS) A dan B.
2. Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM), untuk
daerah yang berada di wilayah gempa dengan kategori disain
seismik (KDS) A, B , dan C.
3. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK), untuk daerah
yang berada di wilayah gempa dengan kategori disain seismik
(KDS) A, B,C, D, E, dan F.

i. Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa


1. Balok harus mempunyai paling sedikit dua batang tulangan
longitudinal yang menerus sepanjang kedua muka atas dan bawah.
Tulangan ini harus disalurkan pada muka tumpuan. (SNI 2847: 2013
Pasal 21.2.2)
2. Kolom yang mempunyai tinggi bersih kurang dari atau sama dengan
lima kali dimensi c1 harus didesain untuk geser sesuai dengan
21.3.3.2. (SNI 2847: 2013 Pasal 21.2.3)

ii. Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah


Pada Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah di mana semua
rangka struktur bangunan memikul beban gravitasi dan beban lateral
yang diakibatkan oleh beban gempa sedang.
Syarat-syarat dan perumusan yang dipakai pada perencanaan
komponen struktur dengan sistem rangka pemikul momen menengah
menurut SNI 03-2847-2013.

iii. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus


Merupakan sistem rangka pemikul momen yang mana komponen-
komponen struktur dan joint-jointnya menahan gaya yang bekerja
melalui aksi lentur, geser dan aksial. Sistem ini pada dasarmnya
memiliki daktilitas penuh dan wajib digunakan di zona resiko gempa
tinggi. Struktur harus direncanakan menggunakan sistem penahan
beban lateral yang memenuhi persyaratan detailing yang khusus dan

25
mempunyai daktilitas penuh. Komponen struktur rangka ini juga harus
memenuhi kondisi berikut :
1. Gaya tekan aksial pada komponen struktur, P u > 0,1Agfc/10.
2. Bentang bersih untuk komponen struktur, ln > empat kali tinggi
efektif
3. Lebar kompoen, bw > 0,3h dan 250 mm
4. Bw < lebar komponen penumpu.
Syarat-syarat dan perumusan yang dipakai pada perencanaan
komponen struktur dengan sistem rangka pemikul momen khusus
menurut :

2.6.1 Komponen struktur lentur pada Sistem Rangka Pemikul


Momen Khusus (SRPMK) ( SNI 2847-2013 pasal 21.5 )

A. Tulangan longitudinal ( SNI 2847-2013 pasal 21.5.2 )


Pada setiap penampang struktur lentur, jumlah tulangan atas
dan tulangan bawah tidak boleh kurang dari 1,4b wd/fy , dan
rasio tulangan tidak boleh melebihi 0.025. sekurang-
kurangnya harus ada dua batang tulangan atas dan dua
batang tulangan bawah yang dipasang secara menerus.
Kuat lentur positif komponen struktur lentur pada muka
kolom tidak boleh lebih kecil dari setengah kuat lentur
negatifnya pada muka tersebut. Baik kuat lentur negatif
maupun kuat lentur positif pada setiap penampang di
sepanjang bentang tidak boleh kurang dari seperempat kuat
lentur terbesarnya yang disebabkan pada kedua muka kolom
tersebut.
Sambungan lewatan pada tulangan lentur hanya diijinkan
jika ada tulangan spiral atau sengkang tertutup yang
mengikat bagian sambungan lewatan tersebut. Spasi
sengkang yang mengikat daerah sambungan lewatan
tersebut tidak melebihi d/4 atau 100 mm. Sambungan
lewatan tidak boleh digunakan pada (a) daerah hubungan

26
kolom-balok (b) pada daerah hingga jarak dua kali tinggi
balok dari muka kolom, dan (c) pada tempat-tempat yang
berdasarkan analisis, memperlihatkan kemungkinan
terjadinya leleh lentur akibat perpindahan lateral inelastis
struktur rangka.

B. Tulangan Transversal ( SNI 2847-2013 pasal 21.5.3 )


Sengkang tertutup harus dipasang pada komponen struktur
pada daerah-daerah dibawah ini:
o Pada daerah hingga dua kali tinggi balok diukur dari
muka tumpuan ke arah tengah batang, di kedua ujung
komponen struktur lentur.
o Di sepanjang daerah dua kali tinggi balok pada kedua
sisi dari suatu penampang dimana leleh lentur
diharapkan dapat terjadi sehubungan dengan terjadinya
deformasi inelastik struktur rangka.
Sengkang tertutup pertama harus dipasang tidak lebih dari
50 mm dari tumpuan. Jarak maksimum antara sengkang
tertutup tidak boleh melebihi (a) d/4 (b) delapan kali
diameter terkecil tulangan memanjang, (c) 24 kali diameter
batang tulangan sengkang tertutup, dan (d) 300 mm.
Pada daerah yang memerlukan sengkang tertutup, tulangan
memanjang pada perimeter harus mempunyai pendukung
lateral.
Pada daerah yang tidak memerlukan sengkang tertutup,
sengkang dengan kait gempa pada kedua ujungnya harus
dipasang dengan spasi tidak lebih dari d/2 di sepanjang
bentang komponen struktur pada gambar berikut.

27
Gambar 2.6 pemasangan sengkang tertutup

Sengkang tertutup dalam komponen struktur lentur,


diperbolehkan terdiri dari dua unit tulangan, yaitu: sebuah
sengkang dengan kait gempa pada kedua ujung dan ditutup
oleh pengikat silang. Pada pengikat silang yang berurutan
yang mengikat tulangan memanjang yang sama. Kait 90
derajat harus dipasang secara berselang-seling. Jika
tulangan memanjang yang diberi pengikat silang dikekang
oleh pelat lantai hanya pada satu sisi saja maka kait 90
derajatnya harus dipasang pada sisi yang dikekang.

C. Persyaratan kuat geser ( SNI 2847-2013 pasal 21.5.4 )


Gaya rencana
Gaya geser rencana Ve harus ditentukan dari peninjauan
gaya statik pada bagian komponen struktur antara dua muka
tumpuan. Momen-momen dengan tanda berlawanan
sehubungan dengan kuat lentur maksimum, Mpr harus
dianggap bekerja pada muka-muka tumpuan, dan komponen
struktur tersebut dibebani dengan beban gravitasi terfaktir
disepanjang batangnya, lihat Gambar 2.3.

28
Gambar 2.7 Perencanaan geser untuk balok kolom

2.6.2 Komponen struktur yang menerima kombinasi lentur dan


beban aksial pada SRPMK ( SNI 2847-2013 pasal 21.6 )

Persyaratan dalam pasal ini berlaku untuk komponen struktur


pada SRPMK (a) yang memikul gaya akibat gempa, dan (b)
yang menerima beban aksial terfaktor yang lebih besar daripada
Ag fc / 10 Komponen struktur tersebut juga harus memenuhi
syarat-syarat berikut ini:
Ukuran penampang terkecil, diukur pada garis lurus yang
melalui titik pusat geometris penampang, tidak kurang dari
300 mm.
Perbandingan antara ukuran terkecil penampang terhadap
ukuran dalam arah tegak lurusnya tidak kurang dari 0,4

A. Kuat lentur minimum kolom ( SNI 2847-2013 pasal 21.6.2 )


Kuat lentur setiap kolom yang dirancang untuk menerima
beban aksial tekan terfaktor melebihi Ag fc / 10.
Kuat lentur kolom harus memenuhi persamaan

29
Me adalah jumlah momen pada pusat hubungan balok-kolom,
sehubungan dengan kuat lentur nominal kolom yang
merangka pada hubungan balok-kolom tersebut. Kuat lentur
kolom harus dihitung untuk gaya aksial terfaktor, yang sesuai
dengan arah gaya-gaya lateral yang ditinjau, yang
menghasilkan nilai kuat lentur yang terkecil.
Mg adalah jumlah momen pada pusat hubungan balok-kolom,
sehubungan dengan kuat lentur nominal balok-balok yang
merangka pada hubungan balok-kolom tersebut. Pada
konstruksi balok-T, dimana pelat dalam keadaan tertarik pada
muka kolom, tulangan pelat yang berada dalam daerah lebar
efektif pelat harus diperhitungkan dalam menentukan kuat
lentur nominal balok bila tulangan tersebut terangkur dengan
baik pada penampang kritis lentur.

B. Tulangan memanjang ( SNI 2847-2013 pasal 21.6.3 )


Rasio penulangan g tidak boleh kurang dari 0,01 dan tidak
boleh lebih dari 0,06.
Sambungan mekanis harus sesuai SNI - 03 - 2847 2002
point 23.2(6) dan sambungan las harus sesuai dengan point
23.2(7). Sambungan lewatan hanya diizinkan di lokasi
setengah panjang elemen struktur yang berada ditengah,
direncanakan sebagai sambungan lewatan tarik, dan harus
diikat dengan tulangan spiral atau sengkang tertutup yang
direncanakan sesuai dengan point 23.4(4(2)) dan 23.4(4(3)).

C. Tulangan Transversal ( SNI 2847-2013 pasal 21.6.4 )


Ketentuan mengenai jumlah tulangan transversal di bawah
ini harus dipenuhi kecuali bila ditentukan jumlah tulangan
yang lebih besar.

30
o Rasio volumetrik tulangan spiral atau sengkang cincin,
s, tidak boleh kurang daripada yang ditentukan
persamaan berikut ini:

o Luas total penampang sengkang tertutup persegi tidak


boleh kurang daripada yang ditentukan pada persamaan
berikut ini:

o Tulangan transversal harus berupa sengkang tunggal atau


tumpuk. Tulangan pengikat silang dengan diameter dan
spasi yang sama dengan diameter dan spasi sengkang
tertutup boleh dipergunakan. Tiap ujung tulangan
pengikat silang harus terkait pada tulangan longitudinal
terluar. Pengikat silang yang berurutan harus
ditempatkan secara berselangseling berdasarkan bentuk
kait ujungnya. Lihat Gambar 2.4.
o Bila tebal selimut beton di luar tulangan transversal
pengekang melebihi 100 mm, tulangan transversal
tambahan perlu dipasang dengan spasi tidak melebihi
300 mm. Tebal selimut di luar tulangan transversal
tambahan tidak boleh melebihi 100 mm.

31
Gambar 2.8 contoh tulangan transversal pada kolom

Tulangan transversal harus diletakan dengan spasi tidak


lebih daripada (a) satu per empat dari dimensi terkecil
komponen struktur, (b) enam kali diameter tulangan
longitudinal, dan (c) Sx sesuai dengan persamaan berikut ini,

Nilai Sx tidak perlu lebih besar daripada 150 mm dan tidak


perlu lebih kecil daripada 100 mm.
Tulangan pengikat silang tidak boleh dipasang dengan spasi
lebih daripada 350 mm dari sumbu-ke-sumbu dalam arah
tegak lurus sumbu komponen struktur.

D. Persyaratan kuat geser ( SNI 2847-2013 pasal 21.6.5 )


Gaya-gaya rencana
Gaya geser rencana, Ve, harus ditentukan dengan
memperhitungkan gaya-gaya maksimum yang dapat terjadi
pada muka hubungan balok-kolom pada setiap ujung
komponen struktur. Gaya-gaya pada muka hubungan balok-
kolom tersebut harus ditentukan menggunakan kuat momen
maksimum, Mpr, dari komponen struktur tersebut yang

32
terkait dengan rentang beban-beban aksial terfaktor yang
bekerja. Gaya geser rencana tersebut tidak perlu lebih besar
daripada gaya geser rencana yang ditentukan dari kuat
hubungan balok-kolom berdasarkan kuat momen
maksimum, Mpr dari komponen struktur transversal yang
merangka pada hubungan balok-kolom tersebut. Gaya geser
rencana, Ve, tidak boleh lebih kecil daripada geser terfaktor
hasil perhitungan analisis struktur.
Tulangan transversal pada komponen struktur sepanjang l o
harus direncanakan untuk memikul geser dengan
menganggapVc = 0, bila:
a) Gaya geser akibat gempa mewakili 50 % atau lebih
dari kuat geser perlu maksimum pada bagian
sepanjang l o tersebut, dan
b) Gaya tekan aksial terfaktor termasuk akibat pengaruh
gempa tidak melampaui Ag fc / 20.

2.6.3 Hubungan Balok - Kolom pada SRPMK ( SNI 2847-2013


pasal 21.7 )

Gaya-gaya pada tulangan longitudinal balok di muka


hubungan balok-kolom harus ditentukan dengan menganggap
bahwa tegangan pada tulangan tarik lentur adalah 1,25fy. Bila
tulangan longitudinal balok diteruskan hingga melewati
hubungan balok-kolom, dimensi kolom dalam arah paralel
terhadap tulangan longitudinal balok tidak boleh kurang
daripada 20 kali diameter tulangan longitudinal terbesar balok
untuk beton berat normal. Bila digunakan beton ringan maka
dimensi tersebut tidak boleh kurang daripada 26 kali diameter
tulangan longitudinal terbesar balok.

A. Tulangan transversal ( SNI 2847-2013 pasal 21.7.3 )

33
Tulangan transversal berbentuk sengkang tertutup harus
dipasang di dalam daerah hubungan balok-kolom, kecuali
bila hubungan balok-kolom tersebut dikekang oleh
komponen-komponen struktur.
Pada hubungan balok-kolom, dengan lebar balok lebih
besar daripada lebar kolom, tulangan transversal harus
dipasang pada hubungan tersebut untuk memberikan
kekangan terhadap tulangan longitudinal balok yang berada
diluar daerah inti kolom; terutama bila kekangan tersebut
tidak disediakan oleh balok yang merangka pada hubungan
tersebut.

B. Kuat geser ( SNI 2847-2013 pasal 21.7.4 )


Kuat geser nominal hubungan balok-kolom tidak boleh
diambil lebih besar dari pada ketentuan berikut ini untuk
beton berat normal.
Untuk hubungan balok-kolom yang terkekang pada
keempat sisinya:

Untuk hubungan yang terkekang pada ketiga sisinya


atau dua sisi yang berlawanan:

Untuk hubungan lainnya:

Luas efektif hubungan balok-kolom Aj ditunjukkan


pada Gambar 2.5.

34
Gambar 2.9 Luas efektif hubungan balok dan kolom

Suatu balok yang merangka pada suatu hubungan


balok-kolom dianggap memberikan kekangan bila
setidaknya-tidaknya tiga per empat bidang muka hubungan
balok-kolom tersebut tertutupi oleh balok yang merangka
tersebut. Hubungan balok-kolom dapat dianggap terkekang
bila ada empat balok yang merangka pada keempat sisi
hubungan balok-kolom tersebut.

3.8 Jenis - Jenis Sambungan Beton Pracetak

Pada konstruksi pracetak, sambungan yang biasa digunakan adalah


metode sambungan basah dan metode sambungan kering. Metode sambungan
basah adalah metode penyambungan komponen beton pracetak di mana
sambungan tersebut baru dapat berfungsi secara efektif setelah beberapa
waktu tertentu. Yang termasuk dalam jenis ini adalah sambungan in situ
concrete joints (Ervianto 2006). Metode sambungan kering adalah metode
penyambungan komponen beton pracetak di mana sambungan tersebut dapat
segera berfungsi secara efektif. Yang termasuk dalam metode ini adalah alat
sambung berupa las dan baut (Ervianto 2006).

A. Sambungan Basah
Sambungan basah dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

35
1. In Situ Concrete Joints
Sambungan jenis ini dapat diaplikasikan pada komponenkomponen
beton pracetak:
a) Kolom dengan kolom
b) Kolom dengan balok
c) Pelat dengan balok
Metode pelaksanaannya adalah dengan melakukan pengecoran
pada pertemuan dari komponen-komponen tersebut. Diharapkan hasil
pertemuan dari tiap komponen tersebut dapat menyatu. Sedangkan
untuk cara penyambungan tulangan dapat digunakan coupler ataupun
secara overlapping.

2. Pre-Packed Aggregate
Cara penyambungan jenis ini adalah dengan menempatkan agregat
pada bagian yang akan disambung dan kemudian dilakukan injeksi air
semen pada bagian tersebut dengan menggunakan pompa hidrolis
sehingga air semen tersebut akan mengisi rongga dari agregat tersebut.

B. Sambungan Kering
Jenis sambungan ini dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Sambungan Las
Alat sambung jenis ini menggunakan pelat baja yang ditanam
dalam beton pracetak yang akan disambung. Kedua plat ini
selanjutnya disambung dengan bantuan las. Melalui plat baja inilah
gaya-gaya akan diteruskan ke komponen yang terkait. Setelah
pekerjaan pengelasan dilanjutkan dengan menutup pelat sambung
tersebut dengan adukan beton yang bertujuan untuk melindungi pelat
dari korosi.
2. Sambungan Baut
Pada penyambungan dengan cara ini juga diperlukan pelat baja di
kedua elemen beton pracetak yang akan disatukan. Kedua komponen
tersebut disatukan melalui pelat tersebut dengan alat sambung

36
berupa baut dengan kuat tarik tinggi. Selanjutnya pelat tersebut dicor
dengan adukan beton guna melindungi dari korosi.

2.7.1 Sambungan Balok dan Kolom

Perencanaan sambungan antar kolom berdasarkan SNI 2847:2013,


pasal 21.8.3(d). Pada sambungan ini digunakan HPKM Column Shoe
digunakan bersamaan dengan HPM Rebar Anchor Bolts. Column shoe
berada pada kolom sedangkan Rebar Anchor Bolt berada pada struktur
di bawah kolom. Instalasi sambungan kolom ini tidak perlu
ditambahkan pengaku (bracing) karena HPKM Column Shoe dan HPM
Anchor Bolts sendiri sudah berfungsi menahan beban saat tahap ereksi.

Gambar 2.10 Gaya Aksial dan Gaya Geser Kolom

2.7.2 Sambungan Balok Kolom

Sambungan balok kolom berdasarkan SNI 2847:2013 pasal 21.7.


Pada sambungan ini digunakan BECO Beam Shoe digunakan
bersamaan dengan COPRA Anchoring Couplers. Beam shoe berada di
dalam balok sedangkan anchoring coupler berada pada kolom.

37
Gambar 2.11 Penyaluran Gaya Geser Pada Sambungan Balok Kolom

Gambar 2.12 Penggunaan Pelat Baja Sebagai Penyambung

Pada perancangan sambungan balok dan kolom ini menggunakan


konsol pendek. Balok induk diletakkan pada konsol pendek pada kolom
kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan. Perencanaan konsol
berdasarkan SNI 2847:13 pasal 11.8 mengenai ketentuan khusus untuk
konsol pendek.

38
Gambar 2.13 Parameter geometri

2.7.3 Sambungan Balok Pelat Lantai

Untuk menghasilkan sambungan yang bersifat kaku, monolit, dan


terintegrasi pada elemen-elemen ini, maka harus dipastikan gaya-gaya
yang bekerja pada plat pracetak tersalurkan pada elemen balok. Hal ini
dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.
Kombinasi dengan beton cor di tempat (topping), dimana
permukaan pelat pracetak dan beton pracetak dikasarkan dengan
amplitudo 5 mm.
Pendetailan tulangan sambungan yang dihubungkan atau diikat
secara efektif menjadi satu kesatuan, sesuai dengan aturan yang
diberikan dalam SNI 03- 2847-2013 pasal 7.13.
Grouting pada tumpuan atau bidang kontak antara plat pracetak
dengan balok pracetak.

Gambar 2.14 Sambungan balok induk dengan pelat

39
BAB III

METODOLOGI PERENCANAAN

3.1. Bagan Alir Penelitian

Langkah-langkah yang digunakan dalam Perencanaan Rumah Susun


Sederhana Sewa Jambangan ini Dengan Menggunakan Metode Struktur Rangka
Pemikul Momen Khusus tergambar diagram dibawah ini:

START

Pengumpulan data:
1. Gambar arsitektur
2. Data tanah
3. Peraturan peraturan dan buku penunjang
sebagai dasar teori

P reliminary Design
1. P enentuan dimensi plat (SNI 2847 - 2013 P asal 9.5(a))
2. P enentuan dimensi balok (SNI 2847 2013 P asal 8.12)
3. P enentuan dimensi kolom (SNI 2847 2013 Pasal 8.10)
4. P enentuan dimensi tangga

AnalisisP embebanan
bebanmati, beban hidup, bebangempa, beban angin
(P P IUG 1983 dan SNI 1726 2012)

Analisa Struktur
(Menggunakan SAP 2000)

Analisa Gaya Dalam


(N, D dan M)

StrukturAtas
Kolom, Balok, P lat, Tangga
(SNI 2847-2013)

P erhitungan P enulangan
(SNI 2847 2013)

P erencanaan Sambungan P ada Beton Precast Berdasarkan SRP MK


P CI handbook 7 th 2010 dan (SNI 2847 2013 dan SNI 7833-2012)

Cek persyaratan

Tidak OK
OK
Gambar Rencana

FINISH

Gambar 3.1 Bagan Alir Perencanaan Struktur

40
3.2. Lokasi
Data - data yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Nama Proyek : RUSUNAWA Jambangan
2. Lokasi Proyek : Jl. Jambangan Surabaya
3. Zona Gempa : Terletak di Surabaya (Zona 3)
4. Fungsi : Rusun / Gedung Apartemen
5. Jumlah lantai : 5 lantai (termasuk atap)
6. Tinggi dan lebar :14,6 m dan 1,152 m2

Gambar 3.2 Lokasi RUSUNAWA Jambangan

3.3. Bagan Alir Perencanaan Struktur Primer dan Sekunder


3.3.1 Struktur Primer
Didalam analisa struktur, struktur gedung dibagi menjadi dua, yaitu primer
atau struktur utama dan struktur sekunder. Struktur primer merupakan komponesn
utama dimana kekakuannya mempengaruhi dari perilaku dari gedung tersebut.
Struktur primer ini berfungsi untuk menahan pembebanan yang berasal dari beban
gravitasi dan beban lateral berupa beban gempa maupun angin.
Didalam analisa struktur primer atau struktur utama dari gedung ini,
pemodelan struktur mengacu pada SNI 2847 2013 dengan sistem yang
dipergunakan adalah Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus.

41
3.3.2 Struktur Sekunder
Didalam analisa struktur, struktur sekunder merupakan bagian dari gedung
yang tidak menahan kekuatan secara keseluruhan, namu tetap mengalami
tegangan-tegangan akibat pembebanan yang bekerja pada bagian tersebut secara
langsung, ataupun perubahan terhadap bentuk dari struktur primer. Bagian dari
struktur sekunder meliputi pelat, tangga, dan balok anak.

3.4. Tahapan Penelitian


3.4.1. Pengumpulan Data
Data-data yang diperlukan dalam perencanaan adalah :
a. Gambar arsitektur
Gambar arsitek yang kami dapat dari proyek pembangunan bangunan
gedung Rumah Susun Sederhana Sewa (RUSUNAWA) Jambangan
adalah gambar denah, potongan serta tampak.Pada proyek akhir terdapat
perubahan dari gambar awal antara lainnya letak dinding dan balok yang
awalnya berada agak jauh dari as kami rubah ke as, penambahan tangga
serta ruang panel, pemberian sloof yang berada pada elevasi + 0,000 atau
rata dengan permukaan tanah, danpemberian kolom pendek setinggi 1
meter ke bawah.
b. Data tanah,
Data tanah berupa data SPT yang didapatkan dari laboratorium
mekanika tanah Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS yang akan digunakan
dalam perencanaan struktur pondasi dan tiang pancang.
c. Peraturan dan buku penunjang lainnya sebagai dasar teori maupun
pendukung.

3.4.2. Preliminary Desain


Penentuan dimensi elemen struktur dikerjakan dengan mengacu pada
SNI 2847-2013 maupun ketentuan lain sesuai literatur yang dipakai. Elemen
struktur yang perlu direncanakan adalah :
1. Penentuan dimensi pelat,
a. Perencanaan plat sesuai dengan SNI 2847- 2013 Pasal 9.5

42
Komponen struktur beton bertulang yang mengalami lentur
harus direncanakan agar mempunyai kekakuan yang cukup untuk
membatasi defleksi atau deformasi apapun yang dapat memperlemah
kekuatan ataupun mengurangi kemampuanlayan struktur pada beban
kerja.
1. Perencanaan pelat satu arah (one way slab)
Pelat satu arah terjadi apabila ly/lx > 2; dimana Lx adalah
bentang pendek dan Ly adalah bentang panjang.

Lx
Ly

Tebal minimum yang di tentukandalam table 1.3 berlaku


untuk konstruksi satu arah yang tidak menumpu atau tidak di
satukan dengan partisi atau konstruksi lain yang mungkinakan
rusak akibat lendutan yang besar, kecuali bila perhitungan
lendutan menunjukkan bahwa ketebalan yang lebih kecil dapat di
gunakan tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan. (SNI
2847-2013, Pasal 9.5.2.1)

Tabel 3.1Tebal minimum balok non prategang atau pelat satu arah bila
lendutan tidak dihitung
Tebal minimum, h
Tertumpu Satu ujung Kedua ujung
kantilever
sederhana menerus menerus
Komponen
Komponen struktur tidak menumpu atau tidak di
struktur
hubungkan dengan partisi atau konstruksi lainnya
yang mungkin rusak oleh lendutan yang besar
Pelat massif
l/20 l/24 l/28 l/10
satuarah
Balok atau pelat
l/16 l/18,5 l/21 l/8
rusuk satu arah

43
CATATAN:
Panjang bentang dalam mm
Nilai yang diberikan harus digunakan langsung untuk komponen struktur
dengan beton normal dan tulangan- tulanga nmutu 420 MPa. Untuk
kondisi lain, nilai di atas harus di modifikasi sebagaiberikut:
(a) Untuk struktur beton ringan dengan berat jenis (equilibrium density),
Wc diantara 1440 sampai 1840 kg/m3 . Nilai tadi harus dikalikan
dengan (1,65 0,003 Wc) tetapi tidak kurang dari 1,09
(b) Untuk fy selain 420 MPa, nilainya harus dikalikan dengan (0,4 +
fy /700)
(Sumber: SNI 2847-2013, Tabel 9.5(a))
2. Perencanaan pelat dua arah (two way slab)
Pelat dua arah terjadi apabila ly/lx < 2; dimana lx adalah
bentang pendek dan Ly adalah bentang panjang
.
Lx
Ly

Tebal pelat minimumnya harus memenuhi ketentuan table 1.4


dan tidak boleh kurang dari nilai berikut:
a. Tanpa penebalan> 125 mm
b. Dengan penebalan> 100 mm

2. Penentuan dimensi balok,


Komponen struktur balok dua tumpuan sederhana untuk perencanaan
tebal minimum (h) menggunakan L/16.
Komponen struktur balok kantilever sederhana untuk perencanaan
tebal minimum (h) menggunakan L/8
Untuk kuat leleh lentur (fy) selain 400 Mpa, hasil nilai perencanaan
tebal minimum (h) dikalikan dengan (0,4+ fy/700).
Perencanaan dimensi balok sesuai dengan SNI 2847:2013 pada tabel
9.5(a).

44
3. Penentuan dimensi kolom,
Perencanaan dimensi kolom sesuai dengan SNI 2847- 2013 Pasal 8.10

Dimana:
Ikolom = inersia kolom (1/12 x b x h)
Ikolom = tinggi bersih kolom
Ibalok = inersia balok (1/12 x b x h)
Ibalok = tinggi bersih balok
bk dan dk 250 mm

4. Penentuan dimensi tangga,

3.4.3. Perhitungan Pembebanan


Perhitungan beban-beban yang bekerja disesuaikan dengan peraturan
pembebananPPIUG 1983.Analisa pembebanan adalah sebagai berikut :
1. Bebankontruksiatapbetonbertulang
a. Beban mati
Terdiri dari beban aspal, plafond, penggantung, rangka dan intalasi
gedung.
b. Beban hidup
Terdiri dari beban pekerja, beban hujan dan beban angin.
2. Beban plat lantai
a. Beban mati
Terdiri dari beban spesi, keramik, plafond dan penggantung,
Mechanical dan Elektrical (ME), instalasi air dan dinding.
b. Beban hidup
Beban sesuai dari fungsi bangunan (PPIUG 1983).
3. Beban balok
a. Beban mati
Terdiri dari dinding 15 cm ( 250 Kg/m2 )
4. Beban tangga dan bordes
a. Beban mati

45
Terdiri dari beban spesi, keramik, hand railing dan anak tangga.
b. Beban hidup
Beban sesuai dari fungsi tangga PPIUG 1983 pada BAB 3 tabel 3.1
yaitu 300 Kg/m2 .
5. Beban gempa
Analisa pembebanan gempa bangunan sesuai dengan Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan
Non Gedung (SNI 1726:2012). Dalam proyek akhir ini perhitungan
beban gempa menggunakan analisa beban gempa respons spektrum.

3.4.4. Analisa Struktur


Model struktur dibuat mendekati kondisi aslinya yaitu menyatukan
struktur utamanya dengan struktur sekunder, semua komponen struktur
baik primer dan sekunder dimodelkan dalam SAP2000. Pondasi pada
bangunan RUSUNAWA Jambangan kami umpamakan sebagai perletakan
jepit, untuk plat kami umpamakan jepit penuh dan jepit elastic pada
kantilever, dan balok kami umpamakan sebagai perletakan sendi dan roll,
untuk kolom kami umpamakan sebagai perletakan jepit.

3.4.4.1. Struktur Sekunder


a. Plat Beton Pracetak Lantai dan Atap
- Perhitungan dimensi plat dengan menggunakan system satu
arah dan dua arah, agar lendutan tidak melebihi yang di
isyaratkan, sesuai SNI 2847-2013.
- Kombinasi pembebanan plat yang dipakai sesuai dengan SNI
2847-2013 pasal 9.2.1 dan pembebanan plat sesuai PPIUG
1983.
- Penulangan beton pracetak plat direncanakan dengan mutu
beton fc = 30 MPa dengan mutu baja tulangan fy 400 MPa
mulai dari tahap penimpanan, pengiriman, pengangkatan,
pemasangan hingga masa layan.
3.4.4.2. Struktur Primer

46
Asumsi yang dipakai dalam perencanaan struktur primer
adalah struktur open frame (Rangka Pemikul Momen). Elemen
Struktur primer meliputi:
a. Balok Beton Pracetak
- Pembacaan output analisis SAP
- Penulangan balok beton pracetak mulai dari tahap
penimpanan, pengiriman, pengangkatan, pemasangan hingga
masa layan.
b. Kolom Beton Pracetak
- Pembacaan output analisi SAP
- Penulangan kolom beton pracetak mulai dari tahap
penimpanan, pengiriman, pengangkatan, pemasangan hingga
masa layan.
3.4.5. Analisa Gaya Dalam
Nilai gaya dalam diperoleh dari program bantuan SAP 2000 dengan
kombinasi pembebanan sesuai dengan SNI 03-2847-2013 pasal 9.2 dan SNI
03- 7833-2013 sebagai berikut:
1,15DL
1,15DL + 1,5LL
1,2DL + 1LL + 1EX + 0,3EY
1,2DL + 1LL + 0,3EX + 1EY
0,9DL + 1EX + 0,3EY
0,9DL + 0,3E
X + 1EY
1.15D + 1.5L + 0.4(Lr atau R)
1.15D + 0.9L + 1.5(Lr atau R
1.3D

Keterangan :
DL : Beban Mati (Dead Load)
LL : Beban Hidup (Life Load)
EX : Beban gempa searah sumbu X (Earthquake X)

47
EY : Beban gempa searah sumbu Y (Earthquake Y)
3.4.6. Perhitungan Penulangan Struktur Beton Precast dengan sistem
SRPMK
Penulangan dihitung berdasarkan SNI 03 2847 2013 dengan
memperhatikan standar penulangan-penulangan pada pelat, balok, kolom
dan pondasi, serta menggunakan data-data yang diperoleh dari output SAP
2000.
a. Dari output SAP 2000 diperoleh gaya geser (V), Momen (M), Torsi (T)
danganya aksial (P).
b. Perhitungan kebutuhan penulangan geser lentur dan puntir pada semua
komponen struktur utama.
c. Kontrol kemampuan dan cek persyaratan.
d. Penggambaran detail penulangan.

3.4.7. Perencanaan Sambungan Pada Beton Precast dengan sistem


SRPMK
Perencanaan Sambungan menggunakan referensi dari Peikko Group.

Dalam perencanaan sambungan dilakukan sesuai dengan peraturan SNI 2847:13

Pasal 7.13. Jenis sambungan yang digunakan adalah sambungan dengan

menggunakan baut kemudian dilakukan grout pada sambungan tersebut agar

beton menjadi struktur yang monolit. Produk sambungan yang digunakan adalah

sambungan Bolt Connections.

3.4.8. Kontrol Persyaratan


a. Pelat
Kontrol jarak spasi tulangan (SNI 03-2847-2013),
Kontrol jarak spasi tulangan susut (SNI 03-2847-2013),
Kontrol perlu tulangan susut (SNI 03-2847-2013),
Kontrol lendutan (SNI 03-2847-2013).
b. Balok
Kontrol Mn pasang Mn untuk penulangan lentur,

48
Kontrol penulangan geser yang terdiri dari 5 kondisi.
c. Kolom
Kontrol kemampuan kolom,
Kontrol momen yang terjadi Mn pasang Mn.

3.4.9. Gambar Perencanaan


Gambar perencanaan meliputi :
a. Gambar Arsitek
Gambar denah,
Gambar tampak.
b. Gambar Potongan
Potongan memanjang,
Potongan melintang.
c. Gambar Struktur
Gambar denah pelat,
Gambar denah balok,
Gambar denah kolom,
d. Gambar Penulangan
Gambar penulangan pelat,
Gambar penulangan balok,
Gambar penulangan kolom,
e. Gambar Detail
Gambar detail panjang penyaluran,
f. Gambar Portal
Portal memanjang,
Portal Melintang.

49