Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN FIELD LAB

KOMUNIKASI, INFORMASI, DAN EDUKASI (KIE)


PEMBINAAN POSYANDU LANSIA

KELOMPOK XVIII

Amalia Ifanasari G0014022


Andre Thadeo Abraham G0014032
Atika Rahmah G0014050
Dinda Carissa G0014072
Firdanianti Ulfa G0014100
Handy Nugraha Putra G0014112
Khoirunnisa G0014132
Muh Arif Wira Bahari G0014160
Nabila Gita Ekanara G0014172
Realita Sari G0014198
Syahmadidi Rabbani G0014226
Tia Putri Widayati G0014228

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2017

1
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kegiatan Field Lab Komunikasi Informasi dan Edukasi


Pembinaan Posyandu Lansia di Puskesmas Kerjo, Karanganyar, pada hari Rabu,
31 Mei 2017 ini telah disetujui oleh Kepala Puskesmas di lapangan untuk
memenuhi salah satu tugas Field Lab.

Kerjo, 31 Mei 2017


Mengetahui,
Kepala Puskesmas Kerjo Instruktur,

Retno Sawartuti, dr., M. Kes. Fitri Nur Rachmawati,


dr.
NIP. 19730314 200212 2 003 NIP. 19840606 201001 2 045

2
DAFTAR ISI

HALAMAN COVER
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................................................1
B. Tujuan Pembelajaran.........................................................................3
BAB II KEGIATAN YANG DILAKUKAN
A. Pertemuan Pertama............................................................................4
B. Pertemuan Kedua...............................................................................4
C. Pertemuan Ketiga..............................................................................5
BAB III PEMBAHASAN...6
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan...........................................................................................8
B. Saran.................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................10
LAMPIRAN..........................................................................................................11

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penduduk usia lanjut (yang kemudian disingkat lansia) merupakan
bagian masyarakat yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita. Siapapun
pasti akan mengalami masa fase lansia tersebut. Menurut data Pusat Statistik,
jumlah lansia di Indonesia pada tahun 1980 adalah sebanyak 7,7 juta jiwa atau
hanya 5,2 persen dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah
penduduk lanjut usia meningkat menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Dan
data terbaru menunjukkan bahwa jumlah lansia di Indonesia diperkirakan akan
mencapai 9,77% atau sejumlah dengan 23,9 juta jiwa pada tahun 2010 dan
meningkat lagi secara signifikan sebesar 11,4% atau sebanyak 28,8 juta jiwa
pada tahun 2020. Hal ini berkorelasi positif dengan peningkatan kesejahteraan
yang dialami oleh masyarakat Indonesia khususnya di bidang kesehatan yang
ditunjukkan dengan semakin tingginya angka harapan hidup masyarakat
Indonesia. Pada tahun 1980, angka harapan hidup masyarakat hanya sebesar
52,2 tahun. Sepuluh tahun kemudian meningkat menjadi 59,8 tahun pada tahun
1990 dan satu dasawarsa berikutnya naik lagi menjadi 64,5 tahun. Diperkirakan
pada tahun 2010 usia harapan hidup penduduk Indonesia akan mencapai 67,4
tahun. Bahkan pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 71,1 tahun.
Dengan data-data tersebut, maka diperkirakan 10 tahun ke depan struktur
penduduk Indonesia akan berada pada struktur usia tua.
Isu sentral masalah kependudukan yaitu masih rendahnya kualitas
sumber daya manusia usia lanjut (LANSIA) yang dipengaruhi langsung oleh
beberapa faktor, antara lain konsumsi makanan dan gizi, tingkat kesehatan,
tingkat pendidikan serta pengakuan masyarakat bahwa mereka masih
mempunyai kemampuan kerja dan pendapatan dari pensiunan yang masih
rendah. Konsumsi makanan dan gizi (malnutrisi) masih dialami oleh beberapa
Lansia di Indonesia yang tersebar pada beberapa desa dan daerah pinggiran
kota. Kondisi yang demikian mengakibatkan masih rendahnya derajat
kesehatan masyarakat Lansia.
Pertambahan penduduk di Jawa Tengah telah berhasil diturunkan dari
1,47% pada tahun 1990 menjadi 0,91% pada tahun 1995. Namun, secara
absolut pertumbuhan penduduk tersebut masih relative tinggi, yaitu sebesar 196.
1
758 jiwa per tahun. Dampak lebih jauh dari permasalahan kependudukan adalah
bertambahnya penduduk berusia lanjut dengan kriteria:
1. Rendahnya kualitas kesehatan Lansia yang disebabkan oleh rendahnya
pendapatan, disamping pendapatan itu sendiri belum merata diterima setiap
Lansia.
2. Adanya tuntutan persediaan pangan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan
kalori yang makin berkualitas bagi Lansia.
Permasalahan penduduk Lansia perlu ditangani dengan strategi antara
lain melalui pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi bersama-sama dengan
peningkatan prasarana dan pelayanan kesehatan yang dipusatkan pada
Posyandu. Strategi peningkatan kesehatan Lansia ini ditempuh melalui
penurunan angka kesakitan dan jumlah jenis keluhan Lansia. Penurunan
Angka Kesakitan Lansia (AKL), tidak hanya merupakan tanggung jawab
sektor kesehatan tapi merupakan tanggung jawab semua sektor terkait.
Agar program penurunan AKL dapat dicapai secara efektif dan efisien
perlu didukung adanya data. Posyandu Lansia merupakan sarana pelayanan
kesehatan dasar untuk meningkatkan kesehatan para Lansia. Gerakan Sadar
Pangan dan Gizi (GSPG) juga merupakan wadah lintas sektoral untuk
melaksanakan keterpaduan unsur terkait dalam rangka mendukung kesehatan
para Lansia. GSPG yang disampaikan kepada masyarakat melalui pendekatan
KIE meliputi 10 materi informasi, yakni:
1. Menu makanan yang beragam dan bergizi untuk keluarga sehat.
2. Menu makan yang beragam dan bergizi untuk ibu hamil.
3. Berat badan bayi lahir cukup.
4. Menu makanan yang beragam dan bergizi untuk peningkatan produksi
ASI.
5. Menu makanan yang beragam dan bergizi untuk pertumbuhan bayi dan
balita.
6. Menu makanan yang beragam dan bergizi untuk kesadaran anak-anak.
7. Menu makanan yang beragam dan bergizi untuk produktivitas kerja.
8. Menu makanan yang beragam dan bergizi untuk kebugaran jasmani.
9. Menu makanan yang beragam dan bergizi untuk umur panjang.
10. Menu makanan yang beragam dan bergizi untuk kesehatan tubuh dan
mental.
2
Berbagai kemitraan antara Pemda Kabupaten sebagai pelaksana
pembangunan daerah dengan pihak swasta maupun universitas telah ikut
berpartisipasi secara aktif dan bekerja sama dalam gerakan sadar pangan dan
gizi yang dikhususkan bagi Lansia. Cita-cita pembangunan untuk Lansia
supaya tetap sehat aktif dan produktif dapat terwujud di setiap wilayah baik
desa maupun kota. Untuk itu perlu keterlibatan mahasiswa FK dalam upaya
menyusun strategi pemberdayaan kaum Lansia khususnya pada tingkat
pelayanan kesehatan dasar berbasis masyarakat. Oleh karena itu modul ini
dimaksudkan untuk mengantarkan mahasiswa di lapangan khususnya di
Posyandu Lansia agar gambaran pemberdayaan kaum Lansia yang tepat guna
menjamin kelangsungan hidup sehat, aktif, dan produktif di masyarakat dapat
terpenuhi.
B. Tujuan Pembelajaran

Setelah melakukan kegiatan Laboratorium Lapangan, diharapkan


mahasiswa dapat memiliki kemampuan:
1. Mampu memahami peran dan fungsi Posyandu Lansia.
2. Mampu menjelaskan cara pengisian dan penggunaan KMS Lansia.
3. Mampu menjelaskan kelainan-kelainan yang sering terjadi pada Lansia
beserta pencegahan dan pengobatan.
4. Memahami tatalaksana Diet Lansia dan Pola Hidup Sehat Lansia.
5. Melakukan penyuluhan kesehatan komunitas tentang manfaat Posyandu
Lansia dalam meningkatkan kesehatan Lansia.
6. Melakukan pengumpulan data tentang Program Posyandu, prevalensi
penyakit yang diderita lansia, serta upaya kuratif dan rehabilitatif.
7. Melakukan penilaian status depresi lansia dengan menggunakan Geriatric
Depression Scale (GDS) dan Mini Mental State Examination (MMSE).
8. Mampu melakukan pengamatan dan penilaian pada posyandu lansia
setempat dengan standar program posyandu lansia.

3
BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN

Kegiatan Field Lab Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)


Pembinaan Lansia dilaksanakan dalam 4 kali kegiatan, yaitu pada hari Rabu,
17 Mei 2017, Selasa, 23 Mei 2017, Rabu 24 Mei 2017 dan Rabu 31 Mei 2017
Pada hari Rabu, 17 Mei 2017 (10. 00 11. 00 WIB), kami melakukan
survey ke Puskesmas Kerjo, Karanganyar, mahasiswa menyerahkan berkas
berkas pengantar dari Kantor Fieldlab kepada Instruktur lapangan, dr. Fitri.
Pertama tama mahasiswa melakukan perkenalan kemudian dilanjutkan
dengan koordinasi jadwal posyandu lansia yang akan dilaksanakan lapangan
oleh mahasiswa.

A. Pertemuan Pertama (Selasa, 23 Mei 2017)


Kegiatan hari pertama, perencanaan dan persiapan, dilakukan pada hari
Selasa, 23 Mei 2017 (08. 00 13. 00 WIB), mahasiswa datang dan diberikan
arahan mengenai posyandu lansia dan kedudukannya dalam program kerja
dalam puskesmas. Kemudian setelah dilakukan arahan mengenai bagaimana
kegiatan posyandu lansia di Puskesmas Kerjo, konsep posyandu lansia seperti
kegiatan yang terdapat dalam posyandu lansia yang terdiri atas 5 meja
(pendaftaran, pengukuran tinggi badan dan berat badan, pencatatan kartu
menuju sehat, penyuluhan dan senam sehat, dan pelayanan medis), cara
pengisian kartu menuju sehat, pemutaran video senam untuk lansia dan konsep
mengenai lansia sekaligus masalah yang terjadi pada lansia. Pemberian semua
materi mengenai Field Lab Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Pembinaan
Posyandu Lansia disampaikan oleh dr. Fitri selaku instruktur lapangan dan Bu
Noer Indarni selaku penanggung jawab kegiatan Posyandu Lansia. Kegiatan
dilanjutkan membahas perencanaan dan persiapan bersama instruktur
mengenai kegiatan fieldlab yang akan dilaksanakan pada pertemuan lapangan
berikutnya .

B. Pertemuan Kedua (Rabu, 24 Mei 2017)


Kegiatan kedua, yakni pada hari Rabu, 24 Mei 2017 (09. 00 13. 00
WIB). Kami tiba di puskesmas sekitar pukul 09. 00. Setelah itu, kami
diarahkan untuk langsung berangkat menuju Posyandu Lansia Brastomolo

4
yang berada di Dusun Kasihan, Desa Kuto, Kecamatan Kerjo, Karanganyar .
Kami ditemani oleh instruktur lapangan yakni dr. Fitri dan Bu Titis .
Sesampai di posyandu, kami melakukan perkenalan diri dan izin kepada tuan
rumah, para kader serta peserta posyandu lansia untuk melakukan kegiatan
KIE Pembinaan Posyandu Lansia. Selanjutnya, kami membagi tugas, 4 orang
bertugas melakukan pengukuran tekanan darah yakni, Muh. Arif Wira Bahari,
Nabilla Gita Ekanara, Dinda Carissa, dan Tia Putri Widayati. 3 orang bertugas
pengukuran berat badan dan tinggi badan oleh Andre Thadeo Abraham,Handy
Nugraha Putra dan Khoirunnisa, 5 orang bertugas melakukan pemeriksaan
GDS (Geriatric Depression Scale) dan MMSE (Mini Mental State
Examination) yakni Syahmadidi Rabbani, Realita Sari, Amalia Ifanasari,
Firdanianti Ulfa, dan Atika Rahmah. Setelah semua pemeriksaan selesai,
dilakukan penyuluhan mengenai hipertensi yang dibawakan oleh Syahmadidi
Rabbani dan Andre Thadeo Abraham. Setelah kegiatan posyandu dan
penyuluhan berakhir mahasiswa dan lansia melakukan senam lansia sebagai
penutupan kegiatan posyandu . Pukul 12. 30 mahasiswa kembali ke
Puskesmas Kerjo .

C. Pertemuan Ketiga (Rabu, 31 Mei 2017)


Kegiatan ketiga, yakni pada tanggal 31 Mei 2017 diPuskesmas Kerjo .
kegiatan ketiga ini meliputi presentasi hasil kegiatan Field lab yang telah
dilaksanan, menyusun laporan Field Lab, evaluasi kegiatan Field lab, serta
pengumpulan laporan field lab dan buku rencana kegiatan yang telah dibuat
setiap pertemuan .

BAB III

5
PEMBAHASAN

A. Sasaran Posyandu Lansia dan Target Cakupan Posyandu Lansia


Target cakupan kegiatan Field Lab Posyandu Lansia Brastomolo, Kasihan
= jumlah sasaran yang ikut posyandu x 100%
Jumlah sasaran lansia
= 46x100%
70
= 65,7%
Adapun target cakupan yang diharapkan oleh Puskesmas di Wilayah
Posyandu Lansia Brastomolo adalah 100%. Sehingga pada kegiatan Field Lab
kali ini belum mencapai target cakupan sesuai dengan program.

B. Hasil dan Diskusi


Pada pelaksanaan Posyandu Brastomolo, Desa Kuto, Kecamatan
Kerjo, dilakukan berbagai macam kegiatan : pengukuran tekanan darah, tinggi
badan (TB), berat badan (BB), screening depresi dan gangguan kognitif pada
lansia, penyuluhan kesehatan, dan senam lansia. Pemeriksaan pertama yaitu
pengukuran tekanan darah dilakukan dalam rangka screening kasus hipertensi
dengan dasar terjadinya kecenderungan peningkatan tekanan darah seiring
meningkatnya usia pada lansia. Pemeriksaan kedua merupakan pengukuran
TB dan BB dalam menentukan status gizi pada lansia. Pemeriksaan ketiga
adalah screening depresi dan gangguan kognitif pada lansia, dimana screening
dilakukan dengan metode wawancara dengan kuesioner Geriatric Depression
Scale (GDS) dan Mini Mental Scale Examination (MMSE). Setelah menjalani
semua pemeriksaan, maka para lansia lalu mengikuti penyuluhan mengenai
hipertensi. Setelah mengikuti penyuluhan, kemudian para lansia mengikuti
senam lansia bersama.
Berdasarkan data posyandu pada hari Rabu, 24 Mei 2017, terdapat 46
lansia yang datang pada hari itu. Peserta posyandu lansia terdiri 1 lansia yang
berjenis kelamin laki- laki dan 45 lansia yang berjenis kelamin pria, Pria yang
datang lebih sedikit dikarenaka posyandu dilaksanakan pada jam kerja,
sehingga banyak yang pada saat itu sedang bekerja. Berdasarkan usia terdapat
20 orang kategori pralansia, 13 orang kategori lansia/elderly, 11 orang
kategori lansia/old, dan 1 orang kategori lansia /very old. Dari hasil

6
pengukuran tekanan darah, didapatkan 17 orang dari 46 lansia yang datang ke
posyandu mengalami hipertensi. Ini berarti sekitar 36,9% lansia yang hadir
mengalami hipertensi. Dari hasil pengukuran IMT didapatkan sebanyak 11
lansia dengan gizi baik kategori normal, 7 lansia dengan gizi lebih kategori
gemuk, dan 28 lansia dengan gizi lebih kategori sangat gemuk.

Pemeriksaan MMSE yang dilakukan memperlihatkan sebanyak 15


orang lansia mengalami gangguan kognitif berat, 18 lansia mengalami
gangguan kognitif ringan, 12 lansia tidak mengalami ganggua kognitif, dan
satu lansia tidak melakukan tes MMSE sehingga hasil tidak tercatat. Hasil ini
masih belum dapat digunakan untuk diagnosis pasti. Hal tersebut dikarenakan
berbagai macam faktor; seperti rendahnya pendidikan lansia yang
diwawancarai dan penurunan fungsi penglihatan.
Selanjutnya dari pemeriksaan GDS yang dilakukan didapatkan
sebanyak 3 lansia mempunyai kecenderungan depresi dan 43 lansia dalam
keadaan tidak depresi. Akan tetapi, hasil yang telah didapatkan bukan
merupakan diagnosis pasti, masih diperlukan pemeriksaan lain untuk
menunjang diagnosis depresi dari lansia tersebut. Hal tersebut dikarenakan
keterbatasan bahasa antara pewawancara dan lansia yang diwawancarai.

C. Kendala yang dihadapi


Adapun kendala yang dihadapi pada masing-masing kegiatan yakni:
1. Pengukuran tekanan darah
a. Kendala Bahasa
2. Pengukuran berat badan dan tinggi badan
a. Kendala Bahasa
3. Penilaian GDS dan MMSE
a. Penurunan fungsi pendengaran
b. Kendala bahasa

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan

7
1. Setiap tahun terjadi pertambahan jumlah penduduk begitu pula jumlah
lansia namun tidak diiringi dengan peningkatan kualitas sumberdaya
manusia sehingga menimbulkan berbagai masalah. Permasalahan
penduduk lansia perlu ditangani dengan berbagai strategi yang berfokus
pada penurunan Angka Kesakitan Lansia (AKL) dan jumlah jenis keluhan.

2. Posyandu Lansia merupakan suatu program yang mendukung upaya


penurunan AKL yang efektif dan efisien. Kegiatan Posyandu Wilayah
Kerja Puskesmas Kerjo sudah berjalan dengan baik, dapat dilihat dari
keaktifan lansia untuk mengikuti posyandu, kader yang mengayomi, dan
tata administrasi yang baik.

B. Saran
1. Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kerjo diharapkan
terus aktif, agar fungsinya sebagai sarana pelayanan kesehatan dasar dapat
terus dimanfaatkan oleh lansia.

2. Kerjasama antara Posyandu Lansia dengan masyarakat, Puskesmas, dan


Pemerintah Daerah perlu dibina lebih baik lagi agar operasional Posyandu
dapat berjalan dengan lebih baik sehingga bisa menekan jumlah Angka
Kesakitan Lansia (AKL).

3. Dalam pelaksanaan posyandu lansia, banyak terdapat kendala seperti


kurangnya tenaga, waktu dan tempat yang kurang menunjang, kendala
bahasa dan sasaran yang tidak mencapai target cakupan. Terkait tenaga,
tempat, dan waktu tidak terlalu dipermasalahkan, namun ke depannya bisa
lebih baik lagi. Terkait kendala bahasa sebaiknya disusun terlebih dahulu
perencanaan kegiatan agar dalam pelaksanaan lebih baik. Terkait target
cakupan, sebaiknya pelaksanaan posyandu lansia, lebih gencar dalam
melibatkan lansia terutama lansia laki-laki agar target cakupan terpenuhi.

4. Dari hasil semua pengamatan yang dilakukan di Posyandu Brostomolo,


dapat disarankan untuk kegiatan posyandu lansia diberikan tidak saat jam
kerja agar target posyandu lansia tercapai, dan melakukan penyuluhan
tentang hipertensi, dan pengaturan gizi untuk lansia diakibatkan masih

8
tingginya lansia yang menderita hipertensi dan masih terdapat lansia yang
mengalami gizi lebih.
5. Untuk meningkatkan sumber daya manusia pada lansia, kami
mengusulkan dua program, yaitu:
a. One Lansia One Person
Dilatarbelakangi oleh kondisi lansia yang banyak di antaranya
menderita hipertensi yang tidak terkontrol, One Lansia One Person
diharapkan menjadi solusi untuk lebih menjaga dan meningkatkan
kesehatan lansia. Dalam program ini akan ada satu pendamping pada
tiap lansia, yang bertugas untuk mendampingi dan memantau
kesehatan lansia. Baik dari segi promotif, preventif, ataupun kuratif.
Program ini mengadaptasi dari program Pendamping Minum Obat
(PMO) pada penderita TBC. Nantinya, diharapkan para pendamping
ini juga turut aktif dalam program posyandu lansia dan berperan juga
mengedukasi masyarakat sekitar akan kesehatan lansia.
b. Kegiatan Lansia Inovatif dan Kreatif (KLIK)
Program ini merupakan program yang mewadahi dan mengajak para
lansia untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang inovatif dan
kreatif. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sederhana berupa
pemberdayaan lansia untuk membuat suatu produk yang berguna dan
memiliki daya jual. Dimana nantinya akan bekerja sama juga dengan
unit PNPM Mandiri atau koperasi sekitar. Sehinga hasil dari penjualan
tersebut juga bisa dikumpulkan ke kas Posyandu sehingga dapat
menunjang kegiatan Posyandu.

9
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2003. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut bagi


Petugas Kesehatan. Jakarta: Depkes RI.
Depsos. 2009. Dukungan Kelembagaan Dalam Kerangka
Peningkatan Kesejahteraan Lansia. Kantor Urusan
Pemberdayaan Lansia, Depsos. RI. Jakarta. www. depsos. go.
id

10
LAMPIRAN

11