Anda di halaman 1dari 12

Disebut fusi nuklir.

Oleh karena massa inti akhir lebih kecil dari massa gabungan dua inti
awal, maka terdapat massa yang hilang yang disertai dengan pelepasan energi.
Dua contoh reaksi fusi seperti itu adalah:

Reaksi ini terjadi di dalam inti sebuah bintangdan menyebabkan tercurahnya energi dari
bintang. Reaksi kedua diikuti oleh fusi hidrogen-helium atau fusi helium-helium:

Reaksi tersebut adalah reaksi dasar dalam siklus proton-proton yang diyakini merupakan
salah satu siklus dasar yang menghasilkan energi di dalam matahari dan bintang lainnya di
mana hidrgen sangat melimpah. Sebagian besar dari produksi energinya terjadi di bagian
dalam matahari, yang suhunya mencapai 1,5 x 107 K. Oleh karena itu dibutuhkan suhu
sedemikian tinggi untuk menghasilkan reaksi tersebut, maka reaksi ini juga disebut reaksi
termonuklir. Seluruh reaksi dalam siklus proton-proton adalah reaksi eksoterm. Siklus
tersebut pada dasarnya penggabungan empat proton untuk membentuk sebuah partikel alfa
dan positron.

Kuis cepat 45.4 Dalam inti sebuah bintang, inti hidrogen mengalami reaksi fusi. ketika
hidrogennya telah habis, fusi inti helium dapat terjadi. Ketika helium telah habis ,Jika bintang
cukup masif, maka fusi inti yang lebih berat juga dapat terjadi. Bayangkan sebuah reaksi fusi
yang melibatkan dua inti dengan nilai A yang sama. Untuk reaksi jenis ini manakah nilai A
yang tidak memungkinkan ?

(a) 12 (b) 20 (c) 28 (d) 64

Contoh 45.2 Energi yang dilepaskan dalam fusi

Hitung energi total yang dilepaskan dalam reaksi fusi dari siklus proton-proton.

Penyelesaian

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, siklus proton-proton pada dasarnya adalah empat proton yang
melebur membentuk sebuah partikel alfa. Massa awal dari keempat proton, berdasarkan nilai massa atom
dari tabel A.3, adalah

4 (1,007 825 u) = 4,031 300 u

Perubahan massa dari sistem adalah nilai ini dikurangi massa partikel alfa yang dihasilkan

4,031 300 u 4,002 603 u = 0,028 697 u

Sekarang kita dapat mengkonversi perubahan massa tersebut ke dalam satuan energi :

E = 0,028 697 u X 931, 494 MeV/u = 26,7 MeV


Reaksi reaksi fusi di Bumi

Energi sangat besar yang dilepaskan dalam


Gaya tolak menolak reaksi fusi menunjukkan peluang untuk memanfaatkan
Coloumb
energi tersebut untuk kehidupan. Telah dilakukan berbagai
upaya untuk memanfaatkan energi ini, salah satunya adalah
pengembangan sebuah reaktor termonuklir yang stabil dan
terkendali sebuah reaktor fusi, fusi yang terkendali sering
dibuat sebagai sumber energi terhebat yang ada, karena
sumber bahan bakar yang digunakan adalah air. Sebagai
contoh, jika deuterium digunakan sebagai bahan bakar, maka
0,12 g deuterium dapat dihasilkan dari 1 galon air dengan
seharga $0,04 saja. Deuterium sebanyak 0,12 g dapat
melepaskan energi sekitar 1010 J jika seluruh inti didalamnya
dapat mengalami reaksi fusi. Sebagai perbandingan, satu
galon bensin dapat melepaskan energi 108 J dalam proses
Gaya tarik menarik
Nuklir pembakaran, dan memerlukan biaya lebih tinggi dari $0,04.

Keunggulan lainnya dari reaktor fusi adalah hasil


Gambar 45.7 energi potensial radioaktif yang dihasilkan lebih sedikit bila dibandingkan
sebagai fungsi dari jarak di antara
dua deuteron. Gaya tolak menolak dengan reaktor fisi. Untuk siklus proton-proton, hasil akhir
coulomb sangat dominan pada
jarak yang jauh, dan gay anuklir yang dihasilkan adalah helium. Sayangnya, reaktor
dominan pada jarak dekat, dimana
R berkisar di 1 fm. Jika kita termonuklir yang dapat menghasilkan daya besar dalam
mengabaikan efek penerowongan
(tunneling), dua deuteon yang
selang waktu yang pendek masih belum dapat direalisasikan,
akan mengalami fusi
dan masih ada banyak kesulitan yang harus diatasi sebelum
membutuhkan energi E yang lebih
besar dari pada tinggi alat tersebut dapat diciptakan.
pembatasnya.

Sebagian dari energi matahari berasal dari serangkaian reaksi dimana hidrogen diubah
menjadi helium. Akan tetap, interaksi proton-proton tidak cocok untuk digunakan dalam
reaktor fusi karena peristiwa tersebut membutuhkan suhu dan kerapatan yang sangat tinggi.
Proses ini dapat berlangsung dari matahari karena proton di bagian dalam matahari memiliki
kerapatan yang sangat tinggi.
Reaksi yang berpeluang besar untuk digunakan dalam sebuah reaktor fusi melibatkan
deuterium ( 21) dan tritium ( 31):

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, deuterium dapat digunakan dalam jumlah
yang nyaris tak terbatas karena berada dalam danau dan lautan kita, dan biaya yang
dibutuhkan untuk mengekstrak deuterium sangatlah murah. Sementara itu tritium bersifat
radioaktif (T1/2 = 12,3 tahun) dan mengalami peluruhan beta menjasi 3He. Oleh karena alasan
inilah, tritium tidak dijumpai di alam dan harus dihasilkan secara buatan.

Salah satu permasalahan utama dalam memanfaatkan energi dari fusi nuklir adalah
bahwa gaya tolak-menolak Coulomb antara kedua intinya, yang membawa muatan positif,
harus diatasi sebelum inti-intinya dapat melebur. Energi potonsial sebagai fungsi jarak
pemisahan antara kedua deuteron (inti deuterium yang masing-masing bermuatan +e )
ditunjukkan pada Gambar 45.7 .Energi potensial bernilai positif dalam daerah r >R, di mana
gaya tolak Coulomb mendominasi. Permasalahan yang pokok disin adalah bagaimana
caranya memberikan energi kinetik yang cukup agar kedua inti dapat melampaui gaya
tolak-menolak tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menaikkan suhu bahan
bakarnya menjadi sangat tinggi (sekitar 108 K, lebih tinggi dari suhu di bagian dalam
Matahari). Pada suhu ini, atom-atom akan terionisasi dan sistemnya terdiri dari sekumpulan
elektron dan inti, sering disebut sebagai plasma.

Contoh 45.3 Reaksi Fusi Dua Deutron


Jarak pemisahan antara dua deuteron haruslah sebesar 1,0 x 10-14 m agar gaya nuklir dapat
melampaui gaya tolak.
(A) Hitunglah ketinggian pembatas potensialnya akibat gaya tolak-menolak.

Penyelesaian
Konseptualisasikan soal ini dengan membayangkan kedua deuteron tersebut bergerak saling
mendekat. Ketika mereka saling mendekati, gaya tolak-menolak Coulomb menjadi lebih kuat. harus
dilakukan usaha untuk mendorong serta melawan gaya tersebut, dan usaha ini muncul dalam sistem
dua deuteron sebagai energi potensial listrik. kita kategorikan soal ini sebagai soal yang melibatkan
energi potensial dari sistem dua partikel bermuatan. Untuk menganalisis persoalan ini, kita ingat
kembali bahwa besarnya energi potensial yang berkaitan dengan dua muatan yang terpisah sejauh r,
dari Persamaan 25,13 (buku 2), adalah
U=ke
dimana adalah konstanta coulomb. Unutk kasus dua deuteron, q1=q2=+e sehingga
U=ke = ke = (8.99 x 109 N . m2/C2 ) = 2.3 x J = 0.14 MeV

(B) Tntukan suhu yang dibutuhkan untuk sebuah deuteron agar dapat melewati batasan
potensia, dengan mengasumsikan energy sebesar kB T per deuteron (di mana kB adalah
konstan Boltzmann).

Penyelesaian
Oleh karena energi Coulomb total dari pasangan deuteron adalah 0,14 MeV, energi Coulomb per
deuteron adalah 0,07 MeV = 1.1 x 10-14 J. dengan membuat energi ini setara dengan energi rata-rata
per deuteron, kita peroleh

kBT = 1.1 x 10-14 J

Nilai T adalah: T= = 5.6x108 K

Perhatikan bahwa suhu yang dihitung ini terlalu tinggi karena partikel dalam plasma memiliki
distribusi kelajuan Maxwellian (subbab 21.6 pada buku 2), dan oleh karena itu beberapa reaksi fusi
dihaslkan oleh partikel-partikel yang tidak memiliki energi yang cukup untuk dapat melewati batasan
ini memiliki probabilitas untuk efek penerowongan. Ketika efek ini diperhitungkan, maka suhu 4 x
108 K saja tampakknya cukup untuk meleburkan dua deuteron tersebut dalam sebuah plasma.
(C) Cari energi yang dilepaskan dalam reaksi deuterium-deuterium

+ +

Penyelesaian
Massa satu atom deuterium adalah 2,014 102 u. jadi, massa total sebelum reaksi adalah 4.028 204 u.
setelah reaksi jumlah massa adalah 3.016049 u + 1.007 825 u = 4.023 874 u kelebihannya massanya
adalah 4.028 204 u 4.023 874 u = 0.00433 u , ekuivalen dengan energi sebesar
0.00433 u x931.494 MeV/U = 4.03 MeV
Perhatikan bahwa nilai energi tersebut konsisten dengan nilai yang telah diberikan dalam persamaan
45.4
Bagaimana Jika? Misalkan tritium yang dihasilkan dari reaksi bagian (C) akan bereaksi
dengan deuterium lainnya dalam reaksi

1 + +

Berapa banyak energi yang dilepaskan dalam rangkaian dari kedua reaksi tersebut?
Jawaban Efek keseluruhan dari rangkaian kedua reaksi tersebut adalah tiga inti deuterium yang
bergabung untuk membentuk inti helium, inti hidrogen, dan neutron. Massa awalny adalah 3 (2,014
102 u) = 6,042 306 u. Setelah reaksi, jumlah dari massanya adalah 4,002 603 u + 1,007 825 u +
1,008 665 = 6,019 093 u. Kelebihan massanya adalah 0,023 213 u, setara dengan energi sebesar 21,6
MeV. Perhatikan bahwa nilai ini adalah jumlah nilai Q untuk reaksi kedua dan ketiga Persamaan di
45,4.
garis hijau merupakan
daya hilang oleh Suhu di mana laju pembangkitan daya dalam reaksi fusi apapun
bremsstrahlung sebagai
fungsi temperatur. yang melebihi laju kerugian dayanya disebut suhu penyalaan
kritis Tpenyalaan. Suhu ini untuk reaksi deuterium-deuterium (D-
3
D) adalah 4 x 108 K. Dari hubungan E 2 kB T, suhu
penyalaan tersbut ekuivalen dengan nilai sekitar 52 keV. Suhu
penyalaan kritis untuk deuterium-tritium (D-T) reaksi adalah
sekitar 4,5 x 107 K, atau 6 keV. Sebuah grafik daya Phasil yang
dihasilkan oleh fusi terhadap suhu untuk kedua reaksi tersebut
ditunjukkan pada Gambar 45.8. garis hijau lurus
mempresentasikan daya yang hilang. Philang melalui mekanisme
radiasi yang disebut bremsstrahlung (Bagian 42,8). Dalam
Gambar 45.8 mekanisme hilangnya energi yang utama ini, radiasi (terutama
Gambar 45.8 Tenaga yang sinar X ) terpancarkan sebagai hasil dari tumbukan elektron-ion
dihasilkan versus suhu
untuk deuterium-deuterium di dalam plasma. Perpotongan garis Philang dengan kurva Phasil
(D-D) dan deuterium-
tritium (D-T) fusion. ketika memberikan suhu-suhu penyalaan kritisnya.
tingkat generasi melebihi
tingkat kerugian,
pengapian terjadi.

Selain adanya persyaratan suhu yang tinggi, terdapat dua parameter kritis lainnya
yang menentukan apakah reaktor termonuklir akan berhasil atau tidak: kerapatan ion n dan
waktu pengurungan t, yang merupakan selang waktu selama energi dimasukkan ke dalam
plasma tetap berada di dalam plasma. Fisikawan Inggris JD Lawson (1923-2008)
menunjukkan bahwa kerapatan ion dan waktupengurungan harus cukup besar untuk
memastikan bahwa lebih banyak energi fusi akan dilepaskan dari pada yang dibutuhkan
untuk menaikkan suhu plasma. Sebuah grafik nilai Nt yang dibutuhkan untukk mencapai
output energi untuk reaksi D-T dan reaksi D-D pada berbagai temperatur yang berbeda
ditunjukkan pada Gambar 45,9. Hasil Nt disebut sebagai bilangan lawson dari sebuah
raksi. Kriteria lawson menyatakan bahwa output energi neto memungkinkan untuk nilai-
nilai nt yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

(45.5)
Daerah berwarna di atas Nilai-nilai tersebut mempresentasikan minimal dari kurva pada
kurva mewakili
menguntungkan kondaisi Gambar 45.9
untuk fusion.
kriteria Lawson diperoleh dengan cara membandingkan energi
yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sebuah plasma dengan
energi yang dihasilkan oleh proses fusi. Energi Ein yang
dibutuhkan untuk menaikkan suhu plasma sebanding dengan
kerapatan ino n, yang dapat dinyatakan sebagai Ein = C1 n, di
mana C1 adalah suatu konstanta. Energi yang dihasilkan oleh
proses fusi sebanding dengan n2, atau Ehasil=C2n2 . Hal ini
lebih mudah dipahami dengan mengetahui bahwa energi fusi
yang dilepaskan sebanding dengan laju tumbukkan ion-ion yang
berinteraksi ( 2) dan waktu pengurungan . Energi neto yang
dihasilkan ketika Ehasil > Ein.
Ketika konstanta C1 dan C2 dihitung untuk reaksi-reaksi yang
Gambar 45.9
Grafik bilangan Lowson nT di berbeda, kondisi E hasil in menghasilkan kriteria Lawson.
mana output energi neto
memungkinkan, terhadap suhu
untuk reaksi fusi D-D dan D-T.
Daerah di atas gari kurva (abu-
abu) mempresentasikan kondisi
yang baik untuk terjadinya fusi

Singkatnya, dua persyaratan dasar dari reaktor tenaga termonuklir adalah

Suhu plasma harus sangat tinggi-sekitar 4,5x107K untuk reaksi D-T dan 4x 108 K untuk
reaksi D-D.
Untuk dapat memenuhi kriteria lawson, hasil Nt harus besar. Untuk nilai n tertentu,
pprobabilitas fusi antara dua partikel bertambah seiring t bertambah. Untuk nilai t tertentu,
laju tumbukkan antara kedua inti bertambah seiring n bertambah.

Upaya yang sedang dilakukan saat ini adalah memenuhi kriteria Lawson pada suhu yang
melebihi Tpennyalaan. Meskipun kebutuhan untuk kerapatan plasma minimum telah dicapai,
masalah waktu pengurungan adalah hal yang lebih sulit. Bagaimana caranya plasma dapat
terkurung pada 1014 s/cm3 ? Dua teknik dasar yang sedang diselidiki adalah pengurungan
magnetik dan pengurungan inersia.

Gambar 45,10 (a) Diagram dari tokamak


digunakan dalam skema kurungan
magnetik. (b) Interior pandangan tertutup
tokamak Fusi Uji Reaktor (TFTR) kapal
vakum di Laboratorium Fisika Princeton
Plasma. (c) Nasional Bulat Torus
Percobaan (NSTX) yang mulai beroperasi
Maret 1999.
Pengurungan Magnetik
Banyak eksperimen plasma (fusi) yang menggunakan pengurungan magnetik untuk
mengurung plasmanya. Sebuah perangkat toroida disebut tokamak, pertama dikembangkan
di Rusia, ditunjukkan pada Gambar 45.10a. Kombinasi dua medan magnet yang digunakan
untuk mengurung dan menstabilkan plasma: (1) bidang toroidal kuat yang dihasilkan oleh
arus dalam toroidal yang melilit pada sebuah ruang hampa dan (2) medan "poloidal" lemah
dihasilkan oleh arus toroidal. Selain itu, dari mengurung plasmanya, arus toroidal digunakan
untuk menaikkan suhu. Garis-garis medan magnet heliks yang dihasilkan membuat suatu
spiral yang mengelilingi plasma dan mencegah plasma agar tidak bersentuhan dengan
dinding ruang hampa udaranya. (Jika plasma menyentuh dinding ruang hampa udara, maka
suhunya akan berkurang dan pengotor-pengotor berat pada dinding akan meracuni
plasmanya dan menyababkan hilangnyadaya yang besar.)

Salah satu terobosan besar dalam pengurungan magnetik pada 1980-an adalah di bidang
inpput energi tambahan untuk mencapai suhu penyalaan. Eksperimen telah berhasil
menunjukkan bahwa dengan menyuntikan seberkas sinar partikel netral berenergi tinggi ke
dalam plasma, tercapainya suatu metode yang sangat efisien untuk meningkatkan suhunya
ke suhu penyalaan. Input energi berfrekuensi radio mungkin akan diperlukan untuk plasma
pada unkuran reaktor.

Ketika itu beroperasi 1982-1997, Tokamak Fusion Test Reactor (TFTR, Gambar. 45.10b) di
Princeton University melaporkan bahwa suhu ion pusatnya adalah 510 juta derajat Celcius,
30 kali lebih panas dari bagian pusat Matahari Nilai-nilai nt dalam TFTR untuk reaksi D-T di
atas 1013 s/cm 3 dan mendekati nilai yang dibutuhkan oleh kriteria Lawson. Pada tahun 1991,
17
laju reaksi dari fusi D-T diatas 6 x 10 per detik telah dicapai dalam tokamak Joint
European Torus (JET) di Abington, Inggris. Salah satu generasi baru dari eksperimen fusi
adalah Spherical Nasional.

Salah satu generasi baru percobaan fusi adalah Spherical Nasional Torus Eksperimen
(NSTX) di Princeton plasma Physics Laboratory dan ditunjukkan pada Gambar 45.10c.
berbeda dengan plasma tokamak yang berbentuk donat. NSTX menghasilkan plasma
berbentuk bola dan memiliki lubang di bagian tengahnya. Keuntungan utama dari konfigurasi
bola adalah kemampuan untuk mengurung plasma pada tekanan tinggi dalam sebuah medan
magnet. Pendekatan ini dapat mengarahkan pada perkembangan reaktor fusi yang lebih
ekonomis dan lebih kecil.
Salah satu upaya kolaborasi international yang melibatkan Amerika Serikat, Uni Eropa,
Jepang, Cina, Korea Selatan, India, dan Rusia saat ini sedang mengembangkan reaktor fusi
yang disebut ITER (international thermonuclear experimental reactor). Cina dan AS mula
berpartisipasi dalam program ini pada tahun 2003. Fasilitas tersebut akan menjawab masalah-
masalah teknologi dan ilmiah berkenaan dengan kelayakkan tenaga fusi .rancangan dari
reaktor tersebut telah diselesaikan, sedangkan tempat dan konstruksinya masih dalam tahap
negoisasi. Empat tempat yang diajukan adalah Cadarache Preancis, Clarington Kanada,
Rokkasho-mura Jepang, dan Vandellos Spanyol. Jika alat tersebut dapat berkerja, bilangan
lawson untuk ITER akan mencapai sekitar 6 kali lebih besar dari pada reaktor sementara
yang dipegang oleh tokamak JT- 60U di Jepang. ITER dapat menghasilkan daya 1,5 GW,
dan kandungan energi dari partikel-partikel alpha di dalam reaktor akan sangat kuat
sedemikian rupa hingga mereka dapat menjaga keberlangsungan reaksi fusinya, dan aliran
sumber energi tambahannya dapat diberhentikan ketika reaksinya telah dimulai.

Contoh 45.4 Di dalam Sebuah Reaktor Fusi

Pada tahun 1998, tokamak JT- 60U di Jepang beroperasi menggunakan sebuah plasma D-T
dengan kerapatan 4,8 x 10 13 cm-3+ pada suhu (dalam satuan energi) dari 24,1 keV. Reaktor
tersebut dapat mengurung plasma didalam medan magnet selama 1,1 s.

(A) Apakah tokamak tersebut memenuhi kkriteria lawson?

Penyelesaian persamaan 45.5 menyatakan bahwa untuk sebuah plasma D-T bilangan lawson nT
harus lebih besar dari 1014 s/cm3 .untuk Jt-60 U,

= (4,8 x 1013 cm-3) (1.1 s) = 5.3 x 1013 s/cm3

Nilai ini telah mendekati kriteria lawson pada kenyataannya, para ilmuan mencatat bahwa
keuntungan daya yang dihasilkan adalah 1,25, yang menandakan bahwa reaktor dapat
beroperasi diatas titik impas dan menghasilkan energi lebih dari ynga dibutuhkan untuk
menjaga plasmanya.

(B) Bagaimana perbandngan kerapatan plasma dengan kerapatan atom dalam sebuah gas ideal
ketika gas tersebut berada pada suhu dan tekanan kamar?

Penyelesaian kerapatan atom dalam sampel gas ideal dinyatakan oleh NA /V mol3 dimana NA
adalah bilangan avogadro dan v mol adalah volume molar sebuah gas ideal dengan kondisi
standar, 2.24 x 10-2 m3 / mol. Jadi kerapatan gasnya adalah

=2.7 x atoms/cm3

Nilai tersebut 500 000 kali lebih besar dari pada kepadatan plasma dalam reaktor.
Pengurungan Inersia
Teknik untuk mengurung plasma, yang kedua
disebut pengurungan inersia dan menggunakan sasaran
D-T yang memiliki kerapatan partikel yang sangat
tinggi. Dalam skema ini, waktu pengurungannya sangat
singkat (biasanya 10 211-10 29 s), hal ini disebabkan
adanya inersia dapal partikel sehingga partikel tidak
dapat bergerak bebas dari posisi awal. Jadi, kriteria
lawson dapat dipenuhi dengan cara menggabungkan
kerapatan partikel yang tinggi dengan waktu
pengurungan yang sangat pendek.

Fusi laser adalah bentuk paling umum dari


pengurungan inersia. Sebuah biji kecil D-T
bedriameter sekitar 1 mm, ditembaki secara Gambar 45.11 Dalam
pengurungan inersia, anD-T
serentak oleh beberapa sinarlaser intesitas tingggi
bakar sekering pelet bila
yang terpokus, menghasilkan pulsa energi input dipukul oleh beberapa sinar
laser intensitas tinggi secara
yang besar dan menyebabkan permukaan biji bahan
bersamaan.
bakar menguap partikel-partikel yang lolos
menyebabkan gaya reaksi hukum ketiga pada inti
biji, menghasilkan gelombang kejut yang sangat
kuat. Gelombang kejut tersebut meningkatkan
tekanan dan kerapatan penyalaan, maka terjadilah
reaksi fusi.

Dua laboratorium fusi laser yang terkemuka dia AS terletak dii fasilitas omega
University of Rochester di New York dan difasilitas Nova, Lawrence Livermore National
Laboratory di Livermore, California, fasilitas omega memfokuskan 24 sinar laser pada
sasaran dan fasilitas Nova memfokuskan 10 sinar laser menunjukkan ruang ssasaran dinov,
dan menunjukkan sasaran bijih-bijih bulatb D-T yang digunakan. Nova mampu
menyuntikkan daya sebesar 2x1014 W kedalam bijih berukuran 0,5 mm dan mencapai nt
5x1014 s/cm3 dan suhu ion 5,0 keV. Nilai tersebut sudah mendekati nilai yang dibutuhkan
untuk penyalaan D-T. Kemajuan ini membuat Departemen Energi AS dan kelompok lainnya
untuk membuat sebuah fasilitas nasional yang akan melibatkan suatu perangkat fusi laser
dengan energi input antara 5MJ hingga 10MJ.
Rancangan Reaktor Fusi

Dalam reaksi fusi D-T

1 21 + 31 +

partikel alpha membawa 20% energi dan


neutron membawa 80% energi, atau sekitar 14
MeV. Diagram reaksi fusi deuterium-tritium
ditunjukkan pada gambar 45.12. Partikel alpa
karena bermuatan , akan terabsorbsin oleh plasma
dan menyababkan kenaikkan suhu plasma.
Sebalikknya, neutron 14-MeV, yang tidak Gambar 45.12
bermuatan bergerak menembus plasma dan diserap Deuterium-tritium fusi.
Delapanpuluh persen dari
oleh bahan penyelimut disekeliling plasma dimana energi yang dilepaskan
dalam
energi knetik neutron akan diserap untuk neutron 14-MeV.
menghasilkan tenaga listrik.

Salah satu skema adalah dengan menggunakan logam lithium cair sebagai bahan
pengabsorbsi neutron dan untuk mengedarkan lithium dalam sebuah kumparan penukar
panas yang tertutup, yang akan menghasilkan uap dan menggerakkan turbin, seperti dalam
sebuah pembangkit tenaga listrik biasa. Gambar 45.13 (halaman 1388) menunjukkan
diagram reaktor tersebut. Diperkirakan bahwa lapisan lithium setebal 1 makan menangkap
hampir 100 % neutron dalam fusi sebuah bijih kecil D-T.

Penangkapan neutron oleh lithium digambarkan oleh reaksi:

Gambar 45.13
Diagram Fusi
Reaktor
di mana energi kinetik dari tritium bermuatan 13 H dan partikel alpha akan diubah
menjadi energi dalam dari litium cair. Keuntungan lainnya dalam menggunakan litium
sebagai media transfer energi adalah litium yang dihasilkan dapat dipisahkan dari litium dan
dikembalikan kedalam reaktor sebagai bahan bakar.

Keuntungan dan Permasalahan dari Reaksi Fusi

Jika tenaga fusi dapat diperoleh, akan terdapat bebrapa keuntungan yang tidak
diperoleh dari reaksi fusi: (1) biaya rendah dan melimpahnya bahan bakar (deuterium), (2)
mustahilnya kecelakaan akibat reaksi yang tidak terkendali, dan (3) bahaya radiasi yang
lebih kecil. Beberapa permasalahan yang perlu diantisipasi dan kerugian dari tenaga fusi
adalah: (1) kelangkaan lithium, (2) terbatasnya pasokan helium, yang dibutuhkan untuk
mendinginkan magnet superkonduktor yang digunakan untuk menghasilkan medan
pengurungan kuat, dan (3) kerusakan struktural dan radioaktivitas terinduksi yang dihasilkan
oleh neuron. Jika masalah tersebut dapat diatasi dan faktor-faktor teknik perancangannya
dapat dipecahkan, maka pada abad ke 21 fusi nuklir boleh jadi merupakan sumber emergi
yang memungkinkan.

45.5 Kerusakkan Akibat Radiasi

Dalam Bab 34, kita telah mempelajari bahwa radiasi elektromagnetik berada disekitar
kita dalam bentuk gelombang radio, gelombang mikro, gelombang cahaya, dan sebagainya.
Pada bagian ini, kita akanmempelajari bentuk radiasi yang dapat menyababkan kerusakkan
parah ketika menembus bahan. Hal ini termasukka radiasi yang dihasilkan dari proses
radioaktif dan radiasi dalam bentuk partikel berenergi tinggi, seperti neutron dan proton.
Bentuk-bentuk inilah yang disebut radiasi dibagian ini dan dua bagian lainnya.

Tingkat dan jenis kerusakan tergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis dan
energi radiasi dan sifat-sifat materi tersebut. Logam yang digunakan dalam struktur reaktor
nuklir dapat diperlemah oleh fluks yang tinggi dari neutro berenergi tinggi karena fluks tinggi
menyebabkan lelah logam (metal fatigue). Kerusakan di situasi seperti ini terjadi dalam
bentuk perpindahan atom, dan sering kali mengakibatkan perubahan besar dalam sifat-sifat
material.
Kerusakkan akibat radiasi dalam organisme biologis biasannya disebabkan oleh efek ionisasi
dalam sel. Kegiatan normal dalam sebuah sel dapat terganggu ketika ion yang sangat reaktif
terbentuk sebagai hasil dari radiasi yang mengionisasi. Contohny, hidrogen dan hidroksil
radikal OH- yang dihasilkan dari molekul air menyebabkan reaksi kimia yang bisa
memecahkan ikatan dalam protein dan molekul vital lainnya. Selain itu, radiasi yang
mengionisasi dapat memengaruhi molekul vital secara langsung dengan cara menghilangkan
elektron dari struktur mereka. Radiasi dalam dosis tinggi sangatlah berbahaya karena
kerusakkan dalam jumlah besar pada molekul sebuah sel dapat menyebabkan sel tersebut
mati. Meskipun kematian sel tunggal bukanlah sebuah persoalan, tetapi banyak sel yang mati
dapat menyababkan kerusakkan terhadap organisme tersebut. Sel-sel yang membelah dengan
cepat, seperti pada saluran pencernaan, organ reproduksi, dan folikel rambut, biasanya sangat
rentan. sel yang selamat dari radiasi akan mengalami cacat. Sel cacat tersebut dapat
menyebabkan cacat pada sel lainnya dan mengarah padaa kanker