Anda di halaman 1dari 1

Diagnoa, gejala klinis dan prognosa

Diagnosis ditegakkan dari riwayat penyakit atau anamnesa dan pemeriksaan klinis (inspeksi, palpasi dan
auskultasi intraoral & ekstraoral), yang lebih jauh menegakkan diagosa selulitis tersebut berasal dari gigi.
Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan endiologis, umumnya periapikal foto dan panoramic foto,
walaupun banyak kasus dilaporkan selulitis dapat didiagnosa dengan MRI (Berini, Bresco & Gay, 1999)

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium
CBC (Complete Blood Count) menunjukkan kenaikan jumlah leukosit dan rata-rata sedimentasi
eritrosit. Sehingga mengindikasikan adanya infeksi bakteri.
BUN level
Kreatinin level
Kultur darah dilaksanakan bila infeksi tergeneralisasi telah diduga
Menkultur dan membuat apusan gram, dilakukan secara terbatas pada daerah penampakkan
luka, namun sangat membantu pada area abses atau terdapat bula
Pemeriksaan laboratorium tidak dilaksanakan apabila, penderita belum memenuhin beberapa
criteria; seperti area kulit yang sedikit terkena, tidak terasa sakit, tidak ada tanda sistemik
(demam, dingin, dehidrasi, takipnea, takikardia, hipotensi) dan tidak ada faktor resiko

2. Pemeriksaan imaging
Plain-film radiography, tidak diperlukan pada kasus yang tidak lengkap (seperti criteria yang
telah disebutkan)
CT (computed tomography)
baik plain-film radiography maupun CT, keduanya dapat digunakan saat tata klinis menyarankan
subjacent osteomylitis
MRI (Megnetic Resonance Imaging) sangat membantu pada diagnosis infeksi selulitis akut yang
parah, mengidentifikasi pyomyositis, necrotizing fasciitis dan infeksi selulitis dengan atau tanpa
pembentukan abses pada subcutaneous
Rontgen sinus-sinus pada nasal pada pasien selulitis periorbital