Anda di halaman 1dari 27

MANAJEMEN KEPERAWATAN PASIEN DEWASA

DENGAN COPD

OLEH : SGD 4

Ni Luh Gede Prabayati (1002105007)

Ni Ketut Dewi Jayanthi (1002105013)

Ni Kadek Widiagustiningsih (1002105022)

Kadek Ratih Mentari (1002105041)

Kadek Gunantari Ariani (1002105042)

Ni Putu Christin Jayastri (1002105044)

Ni Kadek Kusuma Dewi (1002105048)

Ni Luh Putu Devi Kusumayanti (1002105053)

Bagus Adi Marthayoga (1002105056)

Ni Made Risma Widyastuti (1002105067)

I Made Someita (1002105077)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

2012
Learning Task

Tn. K laki-laki 53 tahun dirawat dengan dx: COPD stadium 3 EC empisema dan bronchitis
kronis sejak 2 hari yang lalu. Pasien dibawa ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas yang
berat dan badannya terasa lemas. Pasien mengatakan mengalami batuk berdahak sejak 10 bulan
yang lalu. Pasien sudah berobat ke dokter dan diberikan obat batuk tetapi tidak hilang dan terus
bertambah berat. Sejak 2 minggu yang lalu pasien mengalami sesak napas yang terjadi sepanjang
hari dan terasa paling keras pada saat malam hari. Pasien mengatakan berat badannya terus
menurun sejak 10 bulan yang lalu. Pasien bekerja sebagai petani dan mempunyai kebiasaan
merokok sejak tamat SMP.

1. Apa alasan Tn K dikatakan menderita COPD? Apa pengertian COPD?


Tn K dikatakan menderita COPD karena Tn K mengalami batuk berdahak sejak sepuluh
bulan yang lalu, sesak nafas yang berat terjadi sepanjang hari dan paling keras pada saat
malam hari serta Tn K terasa lemas, mempunyai kebiasaan merokok sejak tamat SMP.
COPD adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronchitis kronis, asma
bronchial, serta emphysema. COPD merupakan kondisi irreversibel yang berkaitan dengan
dispneu saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru, serta COPD
merupakan penyebab kematian terbesar ke-5 di Amerika Serikat. (brunner and sudart)
COPD merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang
berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai
gambaran patofisiologi utamanya. Dimana bronchitis kronik, emfisema paru dan asma
bronchial membentuk kesatuan yang disebut COPD. (Price and wilson)

2. Ada berapa stadium dalam COPD dan kenapa Tn K dikatakan mengalami stadium 3?
Penentuan klasifikasi (derajat) PPOK sesuai dengan ketentuan Global Inisiatif of Chronic
Obstructive Pulmonary Diseases (GOLD) tahun 2005 sebagai berikut :

STADIUM GEJALA KLINIS HASIL SPIROMETRI


Stage I. Mild Dengan atau tanpa batuk FEV1 80% prediksi
COPD (PPOK Dengan atau tanpa produksi atau
Ringan) sputum. FEV1 / FVC < 70%
Sesak napas derajat sesak 0
sampai derajat sesak 1
Stage II. Moderate Dengan atau tanpa batuk 50% FEV1 < 80%
COPD (PPOK Dengan atau tanpa produksi prediksi atau
Sedang) sputum. FEV1 / FVC < 70%
Sesak napas : derajat sesak 2
(sesak timbul pada saat
aktivitas).
Stage III. Severe Sesak napas derajat sesak 3 30% FEV1 < 50%
COPD (PPOK dan 4 dengan gagal napas kronik. prediksi atau
Berat) Eksaserbasi lebih sering FEV1 / FVC < 70%
terjadi
Stage IV. Very Sesak napas derajat sesak 4 FEV1 < 50% prediksi
Severe COPD dengan gagal napas kronik. dan gagal napas kronik
(PPOK Sangat Eksaserbasi sangat sering atau
Berat) terjadi FEV1 < 30% prediksi
Disertai komplikasi kor atau
pulmonale atau gagal jantung FEV1 / FVC < 70%
kanan.

3. Apa yang dimaksud dengan emphysema dan kenapa emphysema dikatakan sebagai
penyakit COPD?
Empisema paru merupakan suatu perubahan anatomis parenkim paru yang ditandai oleh
pembesaran alveolus dan ductus alveolaris yang tidak normal serta destruksi dinding
alveolar (price & wilson,2006)
Dan empisema sendiri dikatakan penyakit COPD karena sesuai dengan pengertian COPD
itu sendiri merupakan suatu istilah yang digunakan untuk satu atau sekelompok penyakit
paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran
udara. Jadi pada empisema sendiri karena adanya pembesaran alveolus serta destruksi
dinding alveolar, hal tersebut akan menyebabkan peningkatan resistensi terhadap aliran
udara.
4. Apa yang dimaksud dengan bronchitis kronis dan kenapa bronchitis kronis
dikatakan sebagai penyakit COPD?
Bronkitis kronis merupakan inflamasi pada bronkus yang disebabkan oleh iritan atau
infeksi. Bronchitis kronis menunjukan kelainan pada bronkus yang sifatnya menahun
(berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai factor baik yang berasal dari luar
bronkus baik yang dari bronkus itu sendiri. Bronchitis kronis merupakan keadaan yang
berkaitan dengan produksi mucus trakeobronkial yang berlebihan, sehingga cukup untuk
menimbulkan batuk dengan ekspektorasi tiga bulan dalam setahun dan dua tahun secara
berturut-turut. Bronchitis kronis dikatakan sebagai penyakit COPD oleh karena pada
bronchitis kronis terjadi hipersekresi mucus serta batuk produktif yang kronis
berlangsung selama tiga bulan dalam satu tahun dan terjadi sedikitnya selama dua tahun
berturut-turut.
5. Kenapa merokok dapat menyebabkan COPD jelaskan bagaimana perilaku
merokok dan bagaimana proses rokok dapat menyebabkan COPD?
Merokok dapat menyebabkan COPD karena merokok merupakan salah satu factor resiko
penting yang menunjang proses terjadinya penyakit COPD. Seseorang yang merokok
dalam waktu jangka lama akan menyebabkan terjadinya gangguan kerja silia serta fungsi
sel-sel makrofag yang akan menyebabkan terjadinya inflamasi pada jalan nafas sehingga
akan meningkatkan produksi lender atau mucus dimana peningkatan produksi mucus ini
akan menimbulkan destruksi septum alveolar serta fibrosis peribronkial.
Penelitian telah menunjukan bahwa merokok dalam jangka waktu yang panjang dapat
menyebabkan COPD karena:
a. mengganggu pergerakan rambut getar epitel saluran napas (respiratory epithelial
cilliary)
b. meghambat fungsi alveolar macropaghes,
c. manyebabkan hypertrophy dan hyperplasia kelenjar penghasil mukus,
d. menghambat antiprotease dan menyebabkan leukosit melepaskan enzim proteolitik
secara akut,
e. merusak elastin, suatu protein yag membentuk alveolar

6. Selain merokok, apa saja yang dapat menyebabkan COPD?


Yang dapat menyebabkan terjadinya PPOK secara umum selain merokok yaitu apabila
terjadinya infeksi saluran nafas atas yang kambuhan atau kronis, polusi udara, alergi serta
factor-faktor familiar atau herediter serperti defisiensi anti tripsin-alfa1.

Penyebab/faktor Prediposisi
Faktor dari luar
PPOM disebabkan oleh factor lingkungan dan gaya hidup, yang sebagian besar bisa
dicegah. Merokok diperkirakan menjadi penyebab timbulnya 80-90% kasus PPOM. Faktor
resiko lainnya termasuk keadaan social-ekonomi dan status pekerjaaan yang rendah,
kondisi lingkungsn yang buruk karena dekat lokasi pertambangan, perokok pasif, atau
terkena polusi udara dan konsumsi alcohol yang berlebihan. Laki-laki dengan usia antara
30 hingga 40 tahun paling banyak menderita PPOM.
Faktor dari luar
Obstruksi jalan nafas yang menyebabkan reduksi aliran udara beragam tergantung pada
penyakit.

Pada bronchitis kronik dan bronkiolitis, penumpukan lender dan sekresi yang sangat
banyak menyumbat jalan nafas.

Pada emfisema, obstruktif pada pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi akibat
kerusakan dinding alveoli yang disebabkan oleh overekstensi ruang udara pada paru.

Pada asma, jalan nafas bronkial menyempit dan membatasi jumlah udara yang
mengalir ke dalam paru-paru.

7. Terdapat 3 gejala utama pada Tn K seingga dikatakan COPD, apa gejala tersebut ?
Gejala utama pada Tn K sehingga dikatakan COPD yaitu pertama Tn K mengeluh sesak
nafas yang berat dan terjadi sepanjang hari dan terasa kerasa pada malam hari, pasien
mengatakan badannya terasa lemas serta pasien mengatakan mengalami batuk berdahak
sejak sepuluh bulan yang lalu dan terus bertambah berat.
8. Sebutkan apa gejala lain dari COPD?
Gejala lain dari COPD dibagi berdasarkan perjalanan klinis penderita COPD yang
terbentuk mulai dari apa yang dikenal sebagai pink puffers (berkaitan degan empisema)
dan blue bloaters ( bronkhitis tanpa empisema) tanda klinis utama dari pink puffers selain
dipsnea yang telah disebutkan pada kasus biasanya tanpa disertai batuk dan produksi
sputum yang berarti. Pada penyakit lanjut pasien mungkin kehabisan napas sehingga
tidak bisa makan lagi dan tubuhnya tampak kurus tak berotot, dada pasien berbentuk
tong, diafragma terletak rendah dan bergerak tak lancar.

Pada blue bloaters pasien biasanya menderita batuk produktif dan berulang kali
mengalami infeksi pernapasan yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Akan
timbul gejala dipsnea pada saat klien melakukan aktivitas fisik. Pasien ini
memperlihatkan gejala berkurangnya dorongan untuk bernapas mengalami hipoventilasi
dan menjadi hipoksia dan hiperkapnea.
Tanda dan gejala
Berdasarkan Brunner & Suddarth (2005) adalah sebagai berikut :
Batuk produktif, kronis pada bulan-bulan musim dingin.
Batuk kronik dan pembentukan sputum purulen dalam jumlah yang sangat banyak.
Dispnea.
Nafas pendek dan cepat (Takipnea).
Anoreksia.
Penurunan berat badan dan kelemahan.
Takikardia, berkeringat.
Hipoksia, sesak dalam dada.

Manifestasi Klinis COPD merupakan penyakit obstruksi saluran napas, terjadi sedikit
demi sedikit, bertahun tahun.biasanya dimulai pada seorang penderita perokok berumur
15 - 25 tahun produktivitasnya menurun dan timbul perubahan padasaluran pernapasan
kecil dan fungsi paru mulai pula berubah. Umur 35-45tahun timbul batuk produktif.
Umur 45-55 tahun timbul sesak napas,hiposemia dan perubahannya pada pemeriksaan
spirometri. Sering berulang-ulang mendapat infeksi saluran pernapasan bagian atas
sehingga sering kalitidak dapat berkerja. Umur 55-65 tahun sudah ada kor pulmonal
yang dapatmenyebabkan kegagalan pernapasan dan meinggal dunia. ( Sumber : Ilmu
Penyakit Dalam, 1996. hal. 756 )

9. Apa komplikasi yang mungkin muncul dan menyebabkan kematian pada pasien?
1. Hipoxemia
Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg,
dengan nilai saturasi Oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalami
perubahan mood, penurunan konsentrasi dan pelupa. Pada tahap lanjut timbul
cyanosis.
2. Asidosis Respiratory
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul
antara lain : nyeri kepala, fatique, lethargi, dizzines, tachipnea.
3. Infeksi Respiratory
Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus,
peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya aliran
udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea.
4. Gagal jantung
Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus
diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. Komplikasi ini sering kali
berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga
dapat mengalami masalah ini.
5. Cardiac Disritmia
Timbul akibat dari hipoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis
respiratory.
6. Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial.
Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak
berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan
dan distensi vena leher seringkali terlihat.
30% penderita PPOM dengan sumbatan yang berat akan meninggal dalam waktu 1 tahun,
dan 95% meninggal dalam waktu 10 tahun. Kematian bisa disebabkan oleh kegagalan
pernafasan, pneumonia, pneumotoraks (masuknya udara ke dalam rongga paru), aritmia
jantung atau emboli paru (penyumbatan arteri yang menuju ke paru-paru). Penderita
PPOM juga memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya kanker paru.
10. Apa lagi yang perlu anda tanyakan (riwayat kesehatan dan riwayat keluarga) dan
apa alasan anda menanyakan hal tersebut. Apa kemungkinan data yang anda
temukan?
Yang perlu ditanyakan terkait riwayat kesehatan dan riwayat keluarga yaitu
a. Sudah berapa lama pasien mengalami kesulitan pernafasan?
Pasien dikatakan COPD apabila pasien mengalami sesak nafas yang berat dan dialami
sepanjang hari
b. Apakah ketika pasien melakukan aktivitas meningkat mengalami dispneu? Jenis
aktivitasnya apa?
Karena pasien dengan COPD biasanya mengalami keletihan dan sesak nafas. Apabila
pasien melakukan aktivitas yang berat dan kebutuhan energinya akan bertambah dan
sesak nafasnya akan bertambah. Pasien dengan COPD tidak boleh melakukan
aktivitas yang berat oleh karena pasien mengalami penurunan cadangan paru.
c. Berapa jauh batasan pasien terhadap toleransi aktivitas?
d. Saat kapan pasien mengeluh paling letih dan sesak nafas?
e. Apakah penyakit yang dialamai pasien mempengaruhi kebiasaan makan dan
tidurnya?
f. Apa yang pasien ketahui dengan penyakit dan kondisinya?
11. Apa focus pemeriksaan fisik yang anda lakukan padaTn K ?
Pemeriksaan fisik :
Secara umum
Penampilan pink puffer atau blue bloater
Pernapasan pursed-lips
Tampak denyut vena jugularis dan edema tungkai bila telah terjadi gagal jantung
kanan
Toraks
Inspeksi :
- barrel chest
- penggunaan otot bantu napas
- pelebaran sela iga
Perkusi : hipersonor pada emfisema
Auskultsi :
- suara napas vesikuler normal, meningkat atau melemah
- terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau dengan ekspirasi
paksa
- ekspirasi memanjang
Dipsnea adalah gejala utama emfisema dan mempunyai awitan yang membahayakan.
Pasien biasanya mempunyai riwayat merokok dan riwayat batuk kronis yang lama,
mengi, serta peningkatan nafas pendek dan cepat (takipnea). Gejala-gejala yang
diperburuk oleh infeksi pernafasan.
Pada Inspeksi, pasien biasanya tampak mempunyai barrel chest akibat
terperangkapnya udara, penipisan masa otot, dan pernafasan dengan bibir yang
dirapatkan. Pernafasan dada, pernafasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan
otot otot aksesori pernafasan (sternokleidomastoid) adalah umum terjadi. Pada
tahap lanjut dipsnea terjadi saat aktivitas bahkan pada aktivitas kehidupan sehari
hari seperti makan dan mandi.
Saat perkusi ditemukan hiperresonan
Saat palpasi penurunan premitus ditemukan pada seluruh bidang paru.
Auskultasi menunjukkan tidak terdengarnya bunyi nafas dengan krekels, ronchi, dan
perpanjangan ekspirasi. Kadar oksigen yang rendah (hipoksemia) dan kadar
karbondioksida yang tinggi (hiperkapnea) terjadi pada tahap lanjut penyakit.
Pada waktunya bahkan gerakan ringan sekalipun seperti gerakan membungkuk untuk
mengikat tali sepatu mengakibatkan dipsnea dan keletihan (dipsnea esersional). Paru
yang mengalami empisematosa tidak berkontraksi saat ekspirasi dan bronkiolus tidak
dikosongkan secara efektif dari sekresi yang dihasilkannya.
Pasien rentan terhadap reaksi inflamasi dan infeksi akibat pengumpulan sekresi ini.
Setelah infeksi ini terjadi pasien mengalami mengi yang berkepanjangan saat ekspirasi.
Anoreksia, penurunan BB, dan kelemahan umum terjadi. Vena leher mungkin mengalami
distensi selama ekspirasi. Pemeriksaan fisik menunjukkan tidak terdengarnya bunyi nafas
dengan ronchi dan ekspirasi memanjang, hiperresonan saat perkusi, dan penurunan taktil
premitus.
12. Apa pemeriksaan diagnostic yang perlu dilakukan pada Tn K dan apa tujuan
pemeriksaan tersebut?
Pemeriksaan diagnostic
a) Uji fungsi pulmonal
Uji fungsi pulmonal dilakukan untuk mengkaji fungsi pernapasan dan unutk
mendeteksi keluasan abnormalitas. Uji fungsi pulmonal meliputipengkuran volume
paru, fungsi ventilator, dan mekanisme pernapasan, difusi, dan pertukaran gas
b) Pemeriksaan gas darah arteri
Pengukuran pH darah dan tekanan oksigen serta karbondioksida harus dilakukan saat
menangani pasien pasien dengan masalah-masalah pernapasan dan dalam
menyesuaikan terapi oksigen yang diperlukan. Pemeriksaan gas darah arteri
membantu dalam mengkaji tingkat dimana paru-paru mampu memberikan oksigen
yang adekuat dan membuang karbondioksida serta tingkat dimana ginjal mampu
untuk menyerap kembali atau mengekskresikan ion-ion bikarbonat untuk
mempertahankan pH darah yang normal
c) Oksimetri nadi
Oksimetri nadi adalah metode pemantauan non-invasif secara continue terhadap
saturasi oksigen hemoglobin (SaO2). Oksimetri nadi merupakan suatu cara efektif
untuk memantau pasien terhadap perubahan saturasi oksigen yang kecil atau
mendadak.

d) Pemeriksaan rontgen dada


Film sinar X dapat menunjukan proses patologi ekstensif dalam paru-paru saat tidak
terdapatnya gejala. Rontgen dada terdiri atas dua bidang yakni projeksi
posteroanterior dan projeksi lateral. Rontgen dada biasanya diambil setelah inspirasi
penuh (napas dalam karena paru-paru akan tervisualisasi dengan baik saat keduanya
terisi penuh oleh udara) oleh udara. Diambil saat ekspirasi film sinar x dapat
memperjelas penumothoraks atau obstruksi arteri besar yang sebaliknya tidak akan
terlihat.

e) Computed tomography
Computed tomography (CT) adalah suatu metode pencitraan dimana paru-paru
dipindai dalam lapis-lapis berurutan oleh pancaran sempit sinar x. Pemeriksaan ini
digunakan untuk menentukan nodulus pulmonal dan tumor kecil yang berdekatan
dengan permukaan pleural yang tidak terlihat pada pemeriksaan sinar x rutin dan
untuk menunjukan abnormalitas mediastinal dan adenopati hilar.

f) Bronkoskopi
Bronkoskopi adalah inspeksi dan pemeriksaan langsung terhadap laring, trakea, dan
bronki baik melalui bronkoskop serat optic yang fleksibel atau bronkoskop kaku.
Bronkoskopi teapeutik digunakan untuk mengangkat benda asing dari phon
trakeobronkeal, mengangkat sekresi yang menyumbat di pohon trakeobronkeal
ketika pasien tidak dapat membersihkanny, untuk pengobatan pascaoperatif dalam
atelektasasis, mneghancurkan dan mengangkat lesi.

g) Torakoskopi
Torakoskopi adalah prosedur diagnostic dimana kavitas pleural diperiksa dengan
suhu endoskop. Insisi kecil dibuat di dalam kavitas pleural dalam suatu spasium
interkosta; lokasi insisi tergantung pada temuan-temuan klinis dan diagnostic.
Setelah cairan yang ada di dalam kavitas pleural diaspirasi, mediatinoskop serat optic
dimasukkan ke dalam kavitas pleural dan permukaannya diinspeksi melalui
instrument tersebut. Torakoskopi diindikasikan pada evaluasi diagnostic efusi
pleural, penyakit pleural dan pentahapan tumor.

h) Pemeriksaan sputum
Sputum dikumpulkan untuk pemeriksaan guna mengidentifikasi organism patogenik
dan untuk menentukan apaka terdapat sel-sel malignan atau tidak. Juga mungkin
digunakan untuk mengkaji terhadap keadaan sensitivitas. Ekspetorasi adalah metode
yang biasa digunakan untuk mengumpulkan specimen sputum. Pasien diinstruksikan
untuk membersihkan hidung dan tenggorok dan membilas mulut untuk mengurangi
kontaminasi sputum. Setelah melakukanbeberapa kali napas dalam, pasien
membatukan (bukan meludahkan), menggunakan diafragma dan mengeluarkan ke
dalam wadah steril.

i) Biopsy pleura
Biopsy pleura diselesaikan dengan jarum pleural atau dengan pleuroskopi, yang
merupakan eksplorasi visual bronkoskopi serat optic yang dimasukkan ke dalam
spasium pleural. Biopsy pleural dilakukan ketika terdapat eksudat pleural yang tidak
diketahui asalnya dan ketika terdapat kebutuhan untuk kultur atau pewarnaan
jaringan untuk mengindentifikasi tuberculosis atau fungi.

j) Biopsy paru
Biopsy paru bronchial menggunakan forcep pemotong yang dimasukkan dengan
bronkoskop serat optic. Biopsy diindikasikan ketika dicurigai lesi paru dan
pemeriksaan sputum rutin serta pencucian bronkoskopik menunjukkan hasil
negative. (brunner & sudart)

Pemeriksaan penunjang dalam COPD adalah sebagai berikut :

Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologist sangat membantu dalam menegakan ataumenyokong
diagnosis dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain.
Pemeriksaan faal paru
Pada pemeriksaan fungsi paru FVC (kapasitas vital kuat) dan fev folumeekspirasi
kuat mengalami penurunan menjadi kurang ari 20 %.
.Analisis gas darah
Pada pemeriksaan gas darah arteri PH < 7,35;Paco2> 45 mmHg,sedangkan yang
normal PH 7,35-7,45 dan PaCO2 35-45 mmHg, serta pO275-100 mmHg
Pemeriksaaan EKG (elektrokardiogram).
( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam, 1996. hal. 757 )
13. Sebelum anda melakukan test pemeriksaan fungsi paru, anda menyiapkan pasien
tersebut dengan memberitahu bagaimana prosedur pemeriksaan dan hal yang
harus dilakukan. Bagaimana prosedur pemeriksaan tersebut dan hal apa saja yang
harus dilakukan pasien, bagaimana anda memberikan penjelasan tersebut.

Prosedur Pemeriksaan Spirometri


Menurut Charles (1993), langkah-langkah persiapan pemeriksaan
spirometri mencakup antara lain :
1. Persiapan alat yang digunakan termasuk akurasi dan ketepatan alat Spirometer
2. Persiapan tenaga kerja yang akan diperiksa, baik fisik maupun mental
3. Penjelasan-penjelasan mengenai pemeriksaan dan cara-cara pemeriksaan yang akan
dihadapi
4. Latihan tenaga kerja mengenai cara pemeriksaan bagi tenaga kerja.
Sedangkan menurut Depnakertrans (2005) dalam Modul Pelatihan Pemeriksaan
Kesehatan Kerja, sebelum melakukan pemeriksaan spirometri ada beberapa hal yang
harus disiapkan antara lain:
1. Siapkan alat spirometer, dan kalibrasi harus dilakukan sebelum pemeriksaan
2. Pasien harus dalam keadaan sehat, tidak ada flu atau infeksi saluran nafas bagian
atas, dan hati-hati pada penderita asma karena dapat memicu serangan asma.
3. Masukkan data yang diperlukan, yaitu umur, jenis kelamin, tinggi badan, berat
badan, dan ras untuk mengetahui nilai prediksi.
4. Beri petunjuk dan demonstrasikan manuver pada tenaga kerja, yaitu pernafasan
melalui mulut, tanpa ada udara lewat hidung dan celah bibir yang mengatup mouth
tube.
5. Tenaga kerja dalam posisi duduk atau berdiri, lakukan pernafasan biasa, tiga kali
berturut-turut, kemudian langsung menghisap sekuat dan sebanyak mungkin udara
ke dalam paru-paru, dan kemudian dengan cepat dan sekuat-kuatnya dihembuskan
udara melalui mouth tube.
6. Manuver dilakukan tiga kali untuk mengetahui FVC dan FEV1.
7. Hasilnya dapat dilihat pada print out.
Interpretasi Pemeriksaan Spirometri
Interpretasi dari hasil spirometri biasanya langsung dapat dibaca dari print out setelah
hasil yang didapat dibandingkan dengannilai prediksi sesuai dengan tinggi badan, umur,
berat badan, jenis kelamin, dan ras yang datanya telah terlebih dahulu dimasukkan ke
dalam spirometer sebelum pemeriksaan dimulai.

14. Apa kemungkinan diagnose keperawatan yang mungkin muncul pada pasien
dengan COPD dan pada Tn K apa diagnose yang bias anda tetapkan?
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi
sputum ditandai dengan sesak
Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan kelumpuhan otot diafragma
ditandai dengan gangguan ventilasi
Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan gangguan
penurunan konsentrasi berhubungan dengan ketidaknormalan dalam bicara,
kelemahan
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik ditandai dengan ekspresi nyeri,
melaporkan nyeri secara verbal
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuan tubuh berhubungan dengan
faktor biologis ditandai dengan BB 20 % atau lebih dibawah normal
15. Berapa O2 yang diberikan pada Tn K dan apa alat yang tepat untuk memberikan
O2 tersebut?
Sebelum Tn K diberikan terapi oksigen Tn K harus dilakukan pemeriksaan analisis gas
darah arteri untuk menentukan kebutuhan oksigennya dan hindari narcosis karbon
dioksida. Jika pasien ingin melanjutkan pemakaian oksigen dirumah, ajarkan kepadanya
cara menggunakan tabung dan selang oksigen dengan benar. Pasien COPD jarang
memerlukan oksigen dengan kecepatan 2-3 liter / menit untuk mempertahankan
oksigenasi yang adekuat. Pemberian oksigen dengan kecepatan yang lebih tinggi dapat
meningkatkan tekanan parsial oksigen dalam darah arteri; akan tetapi, pasien yang
pernafasannya terutama dipicu oleh keadaan hipoksemia akan memiliki tekanan parsial
carbon dioksida yang tinggi dalam darah arterinya. Pada pasein ini chemoreseptor dalam
otaknya relative lebih sensitive terhadap peningkatan carbon dioksida. Ajarkan pasien
dan keluarganya bahwa therapy oksigen berlebihan dapat menghilangkan dorongan
bernafas karena keadaan hipoksemia sehingga akan timbul gejala bingung dan pusing
yang merupakan tanda-tanda narcosis karbon dioksida.
Pengobatan tambahan yang penting pada pasien COPD adalah pemberian suplemen
oksigen (O2) yang mengalami hipoksia bermakna ( O2 arteri [PaO 2] 55 higga 60 mmHg
atau kurang) aliran udara rendah dengan O2 sebesar 1 hingga 2 liter per menit yang
diberikan dengan sungkup hidung (masker non rebreathing) mengalirkan O2 sebesar 24
hingga 28%, dan nilai tersebut cukup efektif dan dapat ditoleransi.
16. Tn K menolak untuk makan, apa usaha anda agar Tn K bias menghabiskan porsi
makannya apa diet yang didapatkan Tn K kalau seandainya mengkonsumsi
makanan dari luar rumahsakit apakah boleh kemudian makanan apa saja yang
dianjurkan?
Apabila Tn K menolak untuk makan maka tindakan yang dapat kita lakukan sebagai
perawat untuk membantu Tn K menghabiskan porsi makannya. Tekankan pentingnya diet
seimbang pada pasien karena pasien mudah merasa lelah saat makan. Anjurkan pasien
untuk makan sedikit-sedikit tetapi sering. Hidangkan makanan dengan tampilan yang
menarik

Berikut adalah beberapa tips mengenai konsumsi makanan untuk penderita PPOK:
Makan lebih sering dengan porsi kecil
Penderita PPOK saat beraktifitas akan membutuhkan energi 10 kali lebih besar daripada
orang normal. Saat kekenyangan kita akan menjadi lemas karena otomatis pernapasan
terganggu. Oleh karena itu disarankan konsumsi makanan dalam porsi kecil namun sering
sehingga tidak akan cepat kekenyangan. Untuk sehari makanan dapat dibagi menjadi 4-6
porsi kecil dan 3 porsi sedang.
Pentingnya sarapan
Banyak orang dengan PPOK akan merasa cepat letih saat beraktifitas seharian , oleh
karena itu sangat pernting untuk konsumsi sarapan bergizi di awal hari saat energi masih
tinggi. Konsumsilah 25-30 gram serat seperti sereal atau roti gandum untuk memulai hari.
Dapat pula konsumsi oatmeal yang penuh serat tinggi, kalsium, besi dan vitamin A.
Sumber baik lainnya serat adalah kacang-kacangan kering (kacang polong), beras merah,
buah-buahan segar dan sayuran.
Utamakan makanan tinggi Protein
Biasanya penderita PPOK akan cepat lelah saat makan, oleh karena itu makanlah dahulu
protein yang tinggi asupan kalori seperti ayam, daging sapi tanpa emak, ikan panggang,
telur , kacang kacangan , tahu
Minumlah banyak air putih
Konsumsi banyak air putih akan membantu mengurangi lendir dari jalan napas.
Sebaiknya minum dilakukan setelah makan sehingga tidak menyebabkan cepat kenyang.
Saat makan sebaiknya hindari minum setelah makan sehingga tidak menyebabkan cepat
kenyang.
Hindari kafein
Kafein dapat menyebabkan meningkatnya rasa gugup dan gelisah yang akan membuat
kekambuhan PPOK. Maka dari itu hindari produk kafein seperti kopi, teh, soda berkafein
dan coklat.
Kurangi Garam
Garam akan menyebabkan restriksi cairan dalam tubuh sehingga akan membuat sulit
bernapas.
Cemilan Sehat
Jika Anda perlu untuk mendapatkan berat badan , sebaiknya konsumsi cemilan yang
tinggi kalori seperti kacang-kacangan, puding rendah lemak, biskuit gandum, buah-
buahan dan sayuran seperti bit, jagung, wortel, dan labu yang kaya vitamin dan mineral
serta memiliki lebih banyak kalori dibandingkan sayuran lainnya. Tips Hidup Sehat pada
Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( PPOK )12 Februari 2012
17. Sebagai seorang Ners yang merawat pasien COPD apa tujuan yang ingin anda
capai?
1. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama...x24 jam, diharapkan klien dapat
mempertahanakan patensi napas dengan kriteria hasil: NOC Label Respiratory
status:Airways patency
Bunyi napas vesikuler (skala 3)
Tidak ada spuntum (skala 4)
Masukan cairan adekuat (skala 4).
2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama.x24 jam pemenuhan kebutuhan
nutrisi dapat dikontrol
Asupan nutrisi adekuat
Asupan makanan dan cairan adekuat
Tidak mengalami penurunan berat badan
3. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam diharapkan pola nafas px
normal dengan kriteria hasil: NOC Label Respiratory status :
Respiratory rate normal
Tidak ada pemakaian otot bantu pernafasan
Px tidak gelisah
Ritme nafas normal
4. setelah diberikan asuhan keperawatan selama.... x 24 jam diharapkan perfusi
jaringan cerebral efektif dengan kriteria hasil :
NOC label :Tissue perfusion cerebral
Px tidak tampak gelisah
Tidak ada keluhan nyeri kepala
TD sistole dalam rentang normal(100-120)
MABP normal(100-140)
Tekanan intrakranial berkurang
5. Setelah diberikan asuhan keperawatan selama. x 24 jam, diharapkan nyeri px
berkurang dengan kriteria hasil: NOC label
Discomfort level:
Nyeri hilang (skala 5)
Cemas hilang (skala 5)
Pain Level
Pasien melaporkan nyeri normal (skala 5)
Panjang episode nyeri normal (skala 5)
Ekspresi wajah terhadap nyeri normal (skala 5)
Pain Control
Mengakui serangan nyeri (skala 5)
Peggunaan analgesic jika diperlukan (skala 5)
18. Apa yang anda lakukan pada pasien dengan COPD

mendorong agar berhenti merokok (promoting smoking cessation)


NIC : smooking cessation assistance
catat status merokok dan riwayat merokok pasien
tentukan kesiapan pasien untuk belajar tentang penghentian merokok
monitor kesiapan pasien untuk berhenti merokok
bantu pasien untuk mempertahankan keinginan utuk berhenti merokok
intruksikan pasien untuk menahan gejala yang ditimbulkan
bantu klien untuk mengidentifikasi aspek psikososial (pandangan negatif atau positif
tentang merokok)
bantu pasien untuk menentukan metode terbaik untuk berhenti merokok ketika pasien
sudah siap
sediakan usaha untuk memprtahankan gaya hidup bebas rokok , buat satu hari bebas
rokok, lalu bertahap menjadi 1minggu, 1 bulan da 6 bulan
anjurkan pada pasien untuk menggunakan uang yang digunakan untuk merokok agar
digunakan untuk membeli barang yang lebih berguna
pantau pasien selama 2 tahun setelah berhenti merokok ( bila memungkinkan)
memperbaiki pertukaran gas (improving gas exchange)
NIC label : Respiratory Monitoring
Monitor laju ritme dari nafas
Monitor suara nafas tambahan seperti snoring
Monitor peningkatan kelelahan
Monitor peningatan kegelisahan, dan kekurangan oksigen
Monitor sekresi dari sistem pernafasan pasien
Berikan terapi perawatan nebulizer sesuai kebutuhan
Oxigen therapy
Bersihkan skresi mulut hidung dan trakea sesuai kebutuhan
Memeberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan
Monitor aliran oksigen
Jalan nafas pasien bersih (achieving airway clearance)
NIC Label : Vital sign monitoring
Monitor suara paru-paru
Monitor pulse oksimetri
Monitor pola nafas abnormal (ex: cheyne stone, kusmaul)
Monitor tekanan darah, nadi, temperature dan status respirasi

Oxygen therapy (memberikan oksigen dan memonitor keefektifannya)

Pertahankan kepatenan jalan nafas pasien


Berikan oksigen tambahan jika diindikasikan
Instruksikan pasien dan keluarga tentang penggunaan oksigen di rumah

Airway management (fasilitasi dari kepatenan dari jalan pernafasan)

Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi


Identifikasi kebutuhan actual atau potensial pasien terhadap alat bantu pernafasan
Anjurkan nafas dalam dan batuk efektif
Auskultasi suara nafas, catat area penurunan atau tidak adanya ventilasi, dan adanya
suara tambahan
Posisikan pasien untuk mencegah sesak nafas
Monitoring status respiratori atau oksigenasi

memperbaiki pola nafas (improving breathing patterns)


NIC: Oxygen therapy
Sediakan/ pastikan jalan nafas paten
Sediakan terapi O2
Monitor aliran O2
Monitor keefektifan terapi O2
Monitor kebutuhan px akan O2

meningkatkan toleransi aktivitas (improving activity tolerance)


Energy management :
Tentukan penyebab keletihan: :nyeri, aktifitas, perawatan , pengobatan
Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktifitas.
Evaluasi motivasi dan keinginan klien untuk meningkatkan aktifitas.
Monitor respon kardiorespirasi terhadap aktifitas : takikardi, disritmia, dispnea,
diaforesis, pucat.
Monitor asupan nutrisi
Monitor respon terhadap pemberian oksigen : nadi, irama jantung, frekuensi Respirasi
terhadap aktifitas perawatan diri.
Letakkan benda-benda yang sering digunakan pada tempat yang mudah dijangkau
Kaji pola istirahat klien dan adanya faktor yang menyebabkan kelelahan.
Activity therapy:
Bantu klien melakukan ambulasi yang dapat ditoleransi.
Rencanakan jadwal antara aktifitas dan istirahat.

Bantu dengan aktifitas fisik teratur : misal: ambulasi, berubah posisi, perawatan personal,
sesuai kebutuhan.

Minimalkan anxietas dan stress, dan berikan istirahat yang adekuat

Kolaborasi dengan medis untuk pemberian terapi, sesuai indikasi

meningkatkan kemampuan perawatan diri (enhancing sefl-care strategies)


NIC label Self Care assistane : ADLs
Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.
Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias,
toileting dan makan.
Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-care.
Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai kemampuan yang
dimiliki.
Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu
melakukannya.
Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk memberikan bantuan hanya
jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.
Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai kemampuan.
Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas sehari-hari.
meningkatkan koping strategi (enhancing individual coping strategies)
Nic label: Coping enhancement
Menilai akibat dari keadaan hidup pasien berdasarkan aturan dan hubungan
Nilai dan diskusikan respon alternatif dari situasi
Tenangkan pasien dengan pendekatan yang meyakinkan
Ciptakan atmosfer penerimaan
Bantu pasien untuk mengidetifikasi informasi penting yang mereka peroleh
Cari untuk mengerti pesepsi pasien dari situasi yang paling menekan
Evaluasi kemampuan pasien dalam mengambil keputusan
Mencegah pengambilan keputusan saat pasien dibawah tekanan
Dorong secara berangsur untuk mengontrol situasi
Dorong pasien dalam mengembangan hubungan
memonitor dan mengatasi potensial komplikasi (monitoring and managing potential
complication)
NIC Label: Infection Control
Membersihkan lingkungan tepat setelah setiap kali digunakan pasien
mempertahankan teknik isolasi
membatasi jumlah pengunjung
mengajarkan mencuci tangan baik untuk petugas kesehatan
anjurkan pasien tentang teknik mencuci tangan yang tepat
menginstruksikan pengunjung untuk mencuci tangan pada masuk dan keluar dari ruang
pasien
penggunaan antimikroba atau sabun pencuci tangan
mencuci tangan sebelum dan sesudah setiap kegiatan perawatan pasien
memakai sarung tangan sebagaimana diamanatkan oleh kebijakan kewaspadaan
universal
memakai pakaian scrub dan gaun saat menangani bahan-bahan infeksius
memberikan bedak anti bakteri pada kulit pasien
memastikan penanganan aseptik dari semua pemakaian IV lines
memastikan teknik perawatan luka yang tepat
menggunakan kateter untuk mengurangi kejadian infeksi kandung kemih
mengelola terapi antibiotik
mengelola agen imunisasi
menginstruksikan pasien untuk meminum antibiotik yang disarankan dokter
mengajarkan pasien dan keluarga tanda gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya ke
penyedia layanan kesehatan
mengajarkan pasien dan anggota keluarga bagaimana menghindari infeksi

19. Pada Tn K anda akan melakukan latihan nafas dan physiotherapy dada karena
dari hasil ronsen terdapat secret yang tertimbun di apek paru kiri dan basis paru
kanan. Bagaimana anda melakukan nafas dalam dan physiotherapy dada tersebut
serta kapan dilakukan?
Fisioterapi dada, dilakukan dengan perkusi dan fibrasi menggunakan bantuan gaya
gravitasi untuk membantu menaikkan sekresi sehingga dapat dikeluarkan atau diisap
dengan mudah. Terapi yang dapat mendilatasi bronkioles, seperti terapi aerosol,
bromkodilator aerosolisasi, atau tindakan pernapasan tekanan positif intermiten (IPPB),
harus diberikan sebelum drainase postural karena sekresi akan mengalir lebihmudah
setelah percabangan trekeobronkial berdilatasi. Pasien diinstruksikan bernapas dan batuk
efektif untuk membantu mengeluarkan sekresi. Drainase efektif untuk membantu
mengeluarkan sekresi. Drainase postural biasanya dilakukan ketika pasien bangun, untuk
membuang sekresi yang telah terkumpul sepanjang malam, dan sebelum istirahat, untuk
meningkatkan tidur. Frekuensi tindakan ini sepanjang hari akan ditentukan oleh
kebutuhan pasien.

Latihan bernapas dalam, dalam hal ini pasien diajarkan untuk mengeluarkan napas degan
perlahan dan tenang melalui bibir yang dikerutkan. Latihan ini mencegah kolaps
bronkhiolus- bronkhiolus kecil seta mengurangi jumlah udara yang terperangkap.

Latihan bernapas dan training pernapasan


Latihan bernapas:
Sebagian besar individu dengan PPOM bernapas dengan dalam, dari dada bagian atas
dengan cara yang cepat dan tidak efisien. Jenis bernapas dengan dada atas ini dapat
diubah menjadi bernapas diafragmatik dengan latihan. Training pernapasan diafragmatik
mengurangi frekuensi pernapasan, meningkatkan ventilasi alveolar, dan kadang
membantu mengeluarkan udara sebanyak mungkin selama ekspirasi.
Bernapas dengan bibir dirapatkan:
Untuk melambatkan ekspirasi, mencegah kolaps unit paru, dan membantu pasien untuk
mengendalikan frekuensi serta kedalaman pernapasan dan untuk rileks, yang
memungkinkan pasien untuk mencapai control terhadap dispnea dan perasaan panic

Mengatur aktivitas:
Pasien dengan PPOM mengalami penurunan toleransi terhadap olahraga pada periode
yang pasti dalam sehari. Hal ini terutama tampak nyata pada saat bangun di pagi hari,
karena sekresi bronchial dan edema menumpuk dalam paru-paru selama malam hari
ketika individu berbaring. Pasien sering tidak dapat mandi dan berpakaian. Aktivitas yang
membutuhkan mengangkat lengan ke atas setinggi toraks dapat menyebabkan keletihan
atau distress pernapasan. Aktivitas ini mungkin akan dapat ditoleransi lebih baik setelah
pasien bangun dan bergerak-gerak sekitar setengah jam atau lebih. Karena keterbatasan
ini, pasien harus ikut serta dalam perencanaan aktivitas perawatan diri dengan perawat
dan dalam menentukan waktu yang paling tepat untuk mandi dan berpakaian. Minuman
hangat saat bangun, dibarengi dengan pernapasan diafragmatik, akan membantu untuk
mengeluarkan sekresi dan akan mempersingkat periode kesulitan yang dialami saat
bangun pagi.
Periode peningkatan kesulitan lainnya segera terjadi setelah makan, terutama saat makan
di malam hari. Keletihan akibat aktivitas siang hari disertai dengan distensi abdomen
membatasi toleransi latihan pasien. Keluhan utama pasien pada saat ini adalah keletihan
atau dispnea.
Latihan otot-otot pernapasan:
Manakala pasien telah mempelajari pernapasan diafragmatik, suatu program pelatihan
otot-otot pernapasan mungkin diresepkan untuk membantu menguatkan otot-otot yang
digunakan dalam bernapas. Program ini mengharuskan pasien bernapas terhadap suatu
tahanan selama 10-15 menit setiap hari. Resisten secara bertahap ditingkatkan dan otot-
otot menjadi terkondisi lebih baik. Mengkondisikan otot-otot pernapasan membutuhkan
waktu yang lama, dan pasien diinstruksikan untuk melanjutkan latihan rumah.
Melakukan aktivitas perawatan diri:
Dengan membaiknya pertukaran gas, bersihan jalan napas, dan perbaikan pola
pernapasan, pasien dianjurkan untuk melakukan aktivitas perawatan diri. Pasien diajarkan
untuk mencoba mengkoordinasikan pernapasan diafragmatik dengan aktivitas seperti
berjalan, mandi, membungkuk, atau menaiki tangga. Pasien harus mulai mandi,
berpakaian, dan bejalan dalam jarak dekat, istirahat sesuai kebutuhan untuk menghindari
keletihan dan dispnea berlebihan. Cairan harus selalu tersedia, dan pasien harus mulai
minum tanpa harus diingatkan. Jika drainase postural akan dilakukan di rumah, pasien
diajarkan dan diawasi oleh perawat sebelum dipulangkan.
Meningkatkan pengkondisian fisik:
Teknik pengkondisian fisik termasuk latihan pernapasan dan latihan pengkondisian fisik
secara umum yang dimaksudkan untuk memulihkan dan meningkatkan ventilasi paru.
Terdapat hubungan yang erat antara kebugaran fisik dan kebugaran pernapasan. Program
latihan dan pengkondisian fisik secara bertahap mencakup treadmill, sepeda statis dan
tingkat berjalan yang diukur telah menunjukkan manfaat perbaikan gejala dan
meningkatkan kapasitas kerja serta toleransi aktivitas. Aktivitas fisik yang dapat
dilakukan pada jadwal teratur yang menetap sangat membantu. Sistem oksigen portabel
dengan berat yang ringan tersedia untuk pasien ambulatory yang membutuhkan terapi
oksigen selama aktivitas fisik untuk menurunkan hipoksia. Jenis rehabilitasi ini
memperbaiki kualitas hidup.
Peningkatan tindakan koping:
Segala faktor yang mengganggu bernapas normal secara alamiah dapat mencetuskan
ansietas, depresi, dan perubahan prilaku. Banyak pasien mendapati mudah mengalami
kelelahan dengan aktivitas ringan. Napas pendek yang konstan dan keletihan dapat
membuat pasien mudah terangsang dan gelisah mengarah pada panik. Aktivitas yang
dibatasi, frustasi karena harus bersusah payah untuk bernapas, dan realisasi bahwa
penyakit yang diderita berkepanjangan dan tidak kunjung sembuh, dapat menyebabkan
pasien untuk bereaksi marah, depresi, dan perilaku yang terlalu menuntut. Fungsi seksual
dapat terganggu, yang juga menghilangkan harga diri.
20. Keluarga pasien datang dan ingin meminta penjelasan tentang penyakit pasiennya. Dia
bertanya Ners... apa itu penyakit COPD, kenapa bisa terjadi pada bapak saya apa
penyebabnya, apa yang harus bapak saya lakukan supaya bapak saya cepat sembuh,
kapan boleh pulang, boleh makan apa saja coba peragakan bagaimana anda
memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarganya?
Dialog percakapan
Px : Ners, apa itu penyakit COPD????

Ns : COPD itu sakit yang lama biasanya disertai dengan gejala seperti batuk selama 3
bulan berturut-turut pak

Px : Kenapa bisa terjadi???

Ns : Salah satu penyebabnya adalah asap rokok, asap rokok tersebut akan masuk ke
saluran pernapasan sehingga menyebabkan gangguan pernapasan seperti COPD

Px : Pada bapak saya apa penyebabnya???

Ns : Ya salah satunya karena bapak anda merokok

Px : Apa yang bisa dilakukan agar cepat sembuh??

Ns : Hindari penyebabnya seperti jangan merokok, istirahat yang cukup, teratur minum
obat, apabila bekerja jangan mengambil aktifitas yang terlalu berat

Px : Kapan kira - kira boleh pulang ???

Ns : Jika nyerinya sudah hilang, sesak nafas berkurang, batuk sudah tidak ada, atau tidak
ada keluhan lainnya. Dan apabila bapak anda sudah merasa baikan.

Px : Boleh makan apa saja??

Ns : Dianjurkan makan yang tinggi protein dan karbohidrat, apabila dirumah sebaiknya
sarapan pagi untuk meningkatkan energy agar bapaknya tidak lemas. Banyak konsumsi
serat baik dari sayuran maupun buah-buahan. Makanan yang dianjurkan seperti tempe,
tahu ,telor kacang kacangan.

21. Seandainya pasien sudah bisa dipulangkan, apa pesan yang anda berikan kepada
keluarga dan pasiennya?
Pesan yang dapat diberikan untuk pasien ketika pasien sudah boleh dipulangkan adalah :
1. Menghindari factor risiko yang dapat menyebabkan COPD mengalami kambuhan seperti
asap rokok, polusi udara dan lingkungan sekitar pasien yang kumuh
2. Menjaga sanitasi lingkungan di sekitar pasien
3. Menghilangkan kebiasaan buruk yang dimiliki pasien seperti kebiasaan merokok
4. Lakukan aktivitas fisik secara bertahap,dilakukan sesuai dengan kemampuan pasien dan
didampingi oleh keluarga
5. Penuhi nutrisi yang adekuat, konsumsi makanan tinggi kalori tinggi protein serta kaya
serat
6. Lakukan treatment atau oengobatan sampai tuntas, gunakan obat dengan benar sesuai
seperti cara penggunaan, waktu pemberian, dan dosis yang benar, bahkan jika pasien
diindikasikan pemberian oksigen terapi di rumah, pasien harus tau penggunaan oksigen
dengan benar.

1. Somantri, Irman. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Respirasi. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Salemba Medika
DAFTAR PUSTAKA

NANDA International. 2011. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2009-2011.


Jakarta : EGC.
Dochterman, Joanne M. & Bulecheck, Gloria N. 2004. Nursing Interventions Classification :
Fourth Edition. United States of America : Mosby.
Moorhead, Sue et al. 2008. Nursing Outcomes Classification : Fourth Edition. United States of
America : Mosby
Price S.A., Wilson L.M., 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4,
Buku II, EGC, Jakarta.

Brunner, Sudarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8, Vol.1. Jakarta :ECG
Anonim.2012. Tips-Hidup-Sehat-pada-Penderita-Penyakit-Paru-Obstruktif-Kronik-PPOK.
http://www.ahliwasir.com/news/10856/. (diakses tanggal 13 mei 2012)