Anda di halaman 1dari 24

A.

KONSEP DEMOGRAFI
1. PENGERTIAN DEMOGRAFI
a. Sejarah Perkembangan Demografi
Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 245 juta jiwa, menjadikan
negara ini negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia.
Pulau Jawa merupakan salah satu daerah terpadat di dunia, dengan lebih dari 107
juta jiwa tinggal di daerah dengan luas sebesar New York.
Indonesia memiliki budaya dan bahasa yang berhubungan namun berbeda.
Sejak kemerdekaannya Bahasa Indonesia (sejenis dengan Bahasa Melayu)
menyebar ke seluruh penjuru Indonesia dan menjadi bahasa yang paling banyak
digunakan dalam komunikasi, pendidikan, pemerintahan, dan bisnis. Namun
bahasa daerah juga masih tetap banyak dipergunakan.

b. Definisi Demografi
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia edisi Balai Pustaka, Demografi
berarti ilmu kependudukan: ilmu tentang susunan, dan pertumbuhan penduduk;
ilmu yang memberikan uraian atau lukisan berupa statistik mengenai suatu bangsa
dilihat dari sudut sosial politik.
Demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan,
meliputi ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah
penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta
penuaan. (Wikipedia:2009)
Demografi adalah studi tentang penduduk khususnya mengenai kelahiran,
perkawinan, kematian dan perpindahan. Studi ini menyangkut jumlah, persebaran
geografis, komposisi penduduk dan perubahannya dari waktu ke waktu.
Demografi terus berkembang, Methorst dan Sirks membedakan masalah
penduduk menjadi 2 yaitu secara kuantitatif dan kualitatif, namun pendapat ini
kurang mendapat dukungan. Adolphe Laundry pada tahun 1937 menyarankan
istilah PURE DEMOGRAPHY dan idenya mendapat sambutan positif. Pure
demography atau demografi murni/formal adalah cabang ilmu demografi yang
bersifat analisis matematik yang menghasilkan teknik-teknik untuk menghitung
data kependudukan. Setelah itu muncul ilmu-ilmu lain yang berkaitan
seperti Social Demography, Demographic Sociology, Population Studies.

2. UKURAN DASAR DEMOGRAFI


a. Rate
Angka yang menunjukkan kemungkinan terjadinya suatu kejadian/penyakit
tertentu dalam populasi dan waktu tertentu atau perbandingan antara kejadian dengan
jumlah penduduk yang memiliki resiko kejadian tersebut. Digunakan untuk menyatakan
dinamika dan kecepatan kejadian tertentu dalam masyarakat.
Besarnya Rate = X x Konstanta (K)
Contoh : Morbidity rate, Mortality rate, Natality rate)
b. Rasio / Ratio
Perbandingan antara nomerator dan denominator pada suatu waktu, atau
perbandingan 2 bilangan yang tidak saling tergantung dan digunakan untuk menyatakan
besarnya kejadian.
Besarnya rasio = XY
c. Proporsi
Perbandingan antara pembilang (Numerator) dengan penyebut (denominator)
dimana Numerator termasuk/bagian dari denominator, dengan satuan %.
Proporsi = X x 100 ( X+Y)
d. Rata-rata
Yaitu ukuran nilai tengah yang diperoleh dengan cara menjumlahkan semua nilai
pengamatan yang didapat kemudian dibagi banyaknya pengamatan yang ada.
e. Frekuensi
Yaitu ukuran yang menyatakan berapa kali aktivitas/suatu kegiatan dilaksanakan
pada periode waktu tertentu.
f. Cakupan
Ukuran untuk menilai pencapaian hasil pelaksanaan dari suatu terget kegiatan
yang ditentukan pada periode tertentu.
3. DINAMIKA KEPENDUDUKAN
Dinamika kependudukan adalah perubahan penduduk. Perubahan tersebut selalu
terjadi dan dalam Undang-Undang No. 10 tahun 1992 Tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera disebut sebagai perkembangan
kependudukan. Perkembangan kependudukan terjadi akibat adanya perubahan yang
terjadi maupun karena perilaku yang terkait dengan upaya memenuhi kebutuhannya.
Setiap perubahan yang diakibatkan salah satu faktor perubahan penduduk tersebut
akan berdampak pada keseluruhan, misalnya jumlah menurut umur penduduk dan jenis
kelamin penduduk. Yang diperlukan dalam pengukuran dinamika kependudukan adalah :
1. Indikator
Indikator diperlukan untuk mengetahui dan mempelajari dengan tepat berbagai
keadaan atau perubahan yang terjadi pada penduduk disuatu negara. Indikator dalam
demografi terdiri dari beberapa hal, yaitu :
a) Jumlah penduduk
b) Komposisi penduduk menurut jenis kelamin, umur, susku bangsa, pendidikan,
agama, pekerjaan dan lain-lain.
c) Proses demografi yang mempengaruhi jumlah dan komposisi penduduk.

2. Parameter
Ukuran atau satuan yang memberikan penilaian kuantitatif. Dikenal 2 macam
pengukuran, yaitu :
a) Angka absolut
b) Angka relative
Dinamika kependudukan menjelaskan bahwa disamping jumlah absolutnya yang
tetap tinggi, persoalan kependudukan di Indonesia meliputi persebaran serta kualitas
penduduk dipandang dari sudut sumber daya manusia secara keseluruhan.

Manfaat dari memahami dinamika penduduk adalah :


1. Mengetahui jumlah penduduk pada suatu waktu dan wilayah tertentu
2. Memahami perkembangan dari keadaan dahulu, sekarang dan perkiraan yang
akan datang.
3. Mempelajari hubungan sebab akibat keadaan penduduk dengan aspek kehidupan
lain misalnya ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan dan lain-lain.
4. Merancang antisipasi menghadapi perkembangan kependudukan yang terjadi baik
hal yang menguntungkan maupun merugikan.

4. TRANSISI DEMOGRAFI
Transisi demografi adalah perubahan fertilitas dan mortilitas yang besar.
Perubahan atau transisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Pada gambar diatas terlihat transisi penduduk ada posisi stabil pada tingkat
kelahiran tinggi, menjadi turun ke stabil pada kelahiran dan kematian rendah.
a. Pada keadaan I
Tingkat kelahiran dan kematian tinggi antara 40 sampai 50. Keadaannya masih
alami tingkat kelahiran tinggi/ tidak terkendali dan tingkat ekonomi yang rendah,
sehingga kesehatan dan gizi lingkungan kurang mendukung. Akibatnya kelaparan dan
kejadian penyakit tinggi sehingga tingkat kematian pun tinggi (kondisi pra
intervensi/pembangunan).
b. Pada keadaan II
Angka kematian turun lebih dahulu akibat peningkatan pembangunan dan
teknologi, misalnya dibidang kesehatan, lingkungan, perumahan dan lain-lain.
Kondisi ekonomi makin membaik akibat pembangunan dan pendapatan penduduk
meningkat sehingga kesehatan semakin baik. Akibatnya tingkat kelahiran tetap tinggi
(makin sehat) tetapi angka kematian menurun (akibat kesehatan dan lain- lain). Pada
kondisi ini akan terasa tingginya laju pertumbuhan penduduk alami, seperti dialami
indonesia pada periode tahun 1970 sampai 1980 dengan angka pertumbuhan 2,32 %
per tahun.
c. Pada keadaan III
Terjadi perubahan akibat pembangunan dan juga upaya pengendalian penduduk,
maka sikap terhadap fertilitas berubah menjadi cenderung punya anak sedikit, maka
turunnya tingkat kematian juga diikuti turunnya tingkat kelahiran sehingga
pertumbuhan penduduk menjadi tidak tinggi lagi. Keadaan tersebut dapat dilihat pada
pertumbuhan penduduk indonesia periode 1980 sampai 1990 yang turun menjadi 1,85
%.
d. Pada keadaan IV
Bila penurunan tingkat kelahiran dan kematian berlangsung terus menerus, maka
akan mengakibatkan pertumbuhan yang stabil pada tingkat yang rendah indonesia
sedang menuju/mengharap tercapainya kondisi ini yaitu penduduk bertambah sangat
rendah atau tanpa pertumbuhan.

Demikianlah gambaran transisi demografi yang dapat dipercepat dengan


peningkatan pembangunan terutama bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan kb.
Menurut Blacker (1947) ada 5 fase dalam teori transisi demografi, dimana
khususnya fase 2 dan 3 adalah fase transisi.
Tahap-tahap dalam transisi demografi :
1) Tahap stasioner tinggi
Tingkat kelahiran : Tinggi
Tingkat kematian : Tinggi
Pertumbuhan alami : Nol/sangat rendah
Contoh : Eropa abad 14
2) Tahap awal perkembangan
Tingkat kelahiran : Tinggi (ada budaya pro natalis)
Tingkat kematian : Lambat menurun
Pertumbuhan alami : Lambat
Contoh : India sebelim PD II
3) Tahap akhir perkembangan
Tingkat kelahiran : Menurun
Tingkat kematian : Menurun lebih cepat dari tingkat kelahiran
Pertumbuhan alami : Cepat
Contoh : Australia, selandia baru tahun 1930-an
4) Tahap stasioner rendah
Tingkat kelahiran : Rendah
Tingkat kematian : Rendah
Pertumbuhan alami : Nol/sangat rendah
Contoh : Perancis sebelum PD II
5) Tahap menurun
Tingkat kelahiran : Rendah
Tingkat kematian : Lebih tinggi dari tingkat kelahiran
Pertumbuhan alami : Negatif
Contoh : Jerman timur dan barat tahun 1975

Ada beberapa masalah dalam mengaplikasikan teori transisi demografi bagi


negara-negara berkembang. Bila di eropa, penurunan mortalitas lebih dikarenakan
pembangunan sosio ekonomi, namun penurunan mortalitas dan fertilitas di negara-negara
berkembang lebih karena pengaruh faktor-faktor lain seperti : peningkatan pemakaian
kontrasepsi, peningkatan perhatian pemerintah, modernisasi, pembangunan dll.
5. SUMBER DATA DEMOGRAFI
Sumber data Demografi yang paling pokok adalah:
a. Sensus Penduduk

1) Pengertian:
Merupakan keseluruhan dari proses pengumpulan (collecting),
pengolahan, penilaian, penganalisaan, penyajian, dan penerbitan data
kependudukan yang antara lain meliputi ciri-ciri demografi, sosial, ekonomi,
kesehatan, dan lingkungan hidup.

2) Kriteria:
Semua orang: Mencakup semua orang atau penduduk yang tinggal dalam
wilayah pencacahan.

Waktu tertentu: Dilaksanakan pada waktu tertentu sesuai dengan yang


telah ditentukan dan dilakukan secara serentak di seluruh wilayah
.pencacahan.

Wilayah tertentu: Ruang lingkup sensus meliputi seluruh wilayah


geografis dengan batas-batas yang jelas, misalnya batas negara.

Unit cacah sensus adalah individu secara perorangan, bukan rumahtangga


atau keluarga.

3) Cara Pelaksanaan Sensus:


Dilakukan dengan dua cara:
a) De jure: Pendataan penduduk menurut tempat tinggal penduduk yang
bersangkutan.
b) De facto: Pendataan penduduk menurut tempat penduduk yang bersangkutan
ditemui oleh petugas pada saat sensus dilaksanakan
b. Registrasi Penduduk
1) Pengertian:
Merupakan sistem pencatatan data kependudukan yang dilaksanakan oleh
petugas pemerintahan setempat yang meliputi pencatatan peristiwa kelahiran,
kematian, perkawinan, perceraian, pengangkatan anak (adopsi), perubahan
tempat tinggal (migrasi), perubahan pekerjaan, serta segala kejadian penting
yang merubah status sipil seseorang sejak dia lahir sampai mati.

2) Perbedaan Sensus Penduduk VS Registrasi Penduduk

a) Dalam pelaksanaan sensus penduduk, para petugas mendatangi penduduk


yang akan dicacah, sedangkan pada registrasi, penduduk atau anggota
keluarga yang melaporkan adanya kejadian peristiwa vital kepada para
petugas.
b) Sensus penduduk dilaksanakan pada suatu periode waktu tertentu,
sedangkan registrasi dilaksanakan secara terus menerus.

c. Survai Penduduk

1) Pengertian
Merupakan proses pencatatan data kependudukan berdasarkan kekhususan
bidang kajian, serta ditujukan untuk mengumpulkan informasi secara lebih
terperinci dan mendalam tentang aspek-aspek tertentu berkaitan dengan
perilaku penduduk. Survai penduduk dilakukan karena Sensus dan Registrasi
Penduduk memiliki kelemahan dan keterbatasan.
2) Survai-survai besar di Indonesia:
a) Survai Penduduk Antar Sensus (SUPAS).
b) Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).
c) Survai Sosial Ekonomi Indonesia (SUSENAS).
d) Survai Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS)
B. KONSEP PENDUDUK
1. TEORI PENDUDUK
a. Teori Malthus (Thomas Robert Malthus)
Orang yang pertama-tama mengemukakan teori mengenai penduduk adalah
Thomas Robert Malthus yang hidup pada tahun 1776 1824. Kemudian timbul
bermacam-macam pandangan sebagai perbaikan teori Malthus. Dalam edisi
pertamanya Essay on Population tahun 1798 Malthus mengemukakan dua pokok
pendapatnya yaitu :
1) Bahan makanan adalah penting untuk kehidupan manusia
2) Nafsu manusia tak dapat ditahan.

Malthus juga mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari
bahan makanan. Akibatnya pada suatu saat akan terjadi perbedaan yang besar antara
penduduk dan kebutuhan hidup.

Dalil yang dikemukakan Malthus yaitu bahwa jumlah penduduk cenderung untuk
meningkat secara geometris (deret ukur), sedangkan kebutuhan hidup riil dapat
meningkat secara arismatik (deret hitung). Menurut pendapat Malthus ada faktor-
faktor pencegah yang dapat mengurangi kegoncangan dan kepincangan terhadap
perbandingan antara penduduk dan manusia yaitu dengan jalan :

1) Preventive checks
Yaitu faktor-faktor yang dapat menghambat jumlah kelahiran yang
lazimnya dinamakan moral restraint. Termasuk didalamnya antara lain :
a) Penundaan masa perkawinan
b) Mengendalikan hawa nafsu
c) Pantangan kawin
2) Positive checks
Yaitu faktor-faktor yang menyebabkan bertambahnya kematian, termasuk
di dalamnya antara lain :
a) Bencana Alam
b) Wabah penyakit
c) Kejahatan
d) Peperangan

Positive checks biasanya dapat menurunkan kelahiran pada negara-negara


yang belum maju.

Teori yang dikemukakan Malthus terdapat beberapa kelemahan antara lain :

1) Malthus tidak yakin akan hasil preventive cheks.


2) Ia tak yakin bahwa ilmu pengetahan dapat mempertinggi produksi bahan
makanan dengan cepat.
3) Ia tak menyukai adanya orang-orang miskin menjadi beban orang-orang kaya
4) Ia tak membenarkan bahwa perkembangan kota-kota merugikan bagi
kesehatan dan moral dari orang-orang dan mengurangi kekuatan dari negara
Akan tetapi bagaimanapun juga teorinya menarik perhatian dunia, karena
dialah yang mula-mula membahas persoalan penduduk secara ilmiah.
Disamping itu essaynya merupakan methode untuk menyelesaikan atau
perbaikan persoalan penduduk dan merupakan dasar bagi ilmu-ilmu
kependudukan sekarang ini.

Pengikut-pengikut teori Malthus antara lain :

1) Francis Flace (1771 1854)


Pada tahun 1882 menulis buku yang berjudul Illustration and Proofs of the
population atau penjelasan dari bukti mengenai asas penduduk. Ia berpendapat
bahwa pemakaian alat kontrasepsi tidak menurunkan martabat keluarga, tetapi
manjur untuk kesehatan. Kemiskinan dan penyakit dapat dicegah.
2) Richard Callihie (1790 1843)
Ia menulis buku yang berjudul What Is Love
3) Pengikut yang lain antara lain Any C. Besant (1847-1933)
Ia menulis buku yang berjudul Hukum Penduduk, akibatnya dan artinya
terhadap tingkah laku dan moral manusia
4) Pengikut yang tidak dapat dilupakan lagi ialah dr. George Drysdale yang
hidup tahun 1825 1904.
Ia berpendapat bahwa keluarga berencana dapat dilakukan tanpa
merugikan kesehatan dan moral. Menurut anggapannya kontrasepsi adalah
untuk menegakkan moral masyarakat.

b. Aliran Marxist (Karl Marx dan Fried Engels)


Aliran ini tidak sependapat dengan Malthus (bila tidak dibatasi penduduk akan
kekurangan makanan). Karl Marx dan Friedrich Engels (1834) adalah generasi
sesudah Maltus. Paham Marxist umumnya tidak setuju dengan pandangan Maltus,
karena menurutnya paham Maltus bertentangan dengan nurani manusia.
Dasar Pegangan Marxist adalah beranjak dari pengalaman bahwa manusia
sepanjang sejarah akan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Beda
pandangan Marxist dan Maltus adalah pada Natural Resource tidak bisa
dikembangkan atau mengimbangi kecepatan pertumbuhan penduduk.
Menurut Marxist tekanan penduduk di suatu negara bukanlah tekanan penduduk
terhadap bahan makanan, tetapi tekanan terhadap kesempatan kerja (misalnya di
negara kapitalis). Marxist juga berpendapat bahwa semakin banyak jumlah manusia
semakin tinggi produk yang dihasilkan, jadi dengan demikian tidak perlu diadakan
pembatasan penduduk. Pendapat Aliran Marxist yaitu :
1) Populasi manusia tidak menekan makanan, tapi mempengaruhi kesempatan kerja.
2) Kemelaratan bukan terjadi karena cepatnya pertumbuhan penduduk, tapi karena
kaum kapitalis mengambil sebagian hak para buruh.
3) Semakin tinggi tingkat populasi manusia, semakin tinggi produktifitasnya, jika
teknologi tidak menggantikan tenaga manusia sehingga tidak perlu menekan
jumlah kelahirannya, ini berarti ia menolak teori Malthus tentang moral restraint
untuk menekan angka kelahiran.
c. Aliran Neo-Malthusian (Garreth Hardin & Paul Ehrlich)
Pada abad 20 teori Malthus mulai diperdebatkan kembali. kelompok ini
menyokong aliran Malthus, akan tetapi lebih radikal lagi dan aliran ini sangat
menganjurkan untuk mengurangi jumlah penduduk dengan menggunakan cara-cara
Preventif Check yaitu menggunakan alat kontrasepsi.
Tahun 1960an dan 1970an foto-foto telah diambil dari ruang angkasa dengan
menunjukkan bumi terlihat seperti sebuah kapal yang berlayar dengan persediaan
bahan bakar dan bahan makanan yang terbatas. Pada suatu saat kapal ini akan
kehabisan bahan bakar dan bahan makanan tersebut sehingga akhirnya malapetaka
menimpa kapal tersebut.
Tahun 1871 Ehrlich menulis buku The Population Bomb dan kemudian direvisi
menjadi The Population Explotion yg berisi :
1) Sudah terlalu banyak manusia di bumi ini.
2) Keadaan bahan makanan sangat terbatas.
3) Lingkungan rusak sebab populasi manusia meningkat.

Analisis ini dilengkapi oleh Meadow (1972), melalui buku The Limit to Growth
ia menarik hubungan antara variabel lingkungan (penduduk, produksi pertanian,
produksi industri, sumber daya alam) dan polusi. Tapi walaupun begitu, melapetaka
tidak dapat dihindari, hanya manusia cuma menunggunya, dan membatasi
pertumbuhannya sambil mengelola alam dengan baik.

Kritikan terhadap Meadow umumnya dilakukan oleh sosiolog yang menyindir


Meadow karena tidak mencantumkan variabel sosial-budaya dalam penelitiannya.
Karena itu Mesarovic dan Pestel (1974) merevisi gagasan Meadow & mencantumkan
hubungan lingkungan antar kawasan.

d. Teori Kependudukan Kontemporer


1) Teori Fisiologi dan sosial ekonomi
a) John Stuart Mill
John Stuart Mill, seorang ahli filsafat dan ahli ekonomi berkebangsaan
Inggris dapat menerima pendapat Malthus mengenai laju pertumbuhan penduduk
melampaui laju pertumbuhan bahan makanan sebagai suatu aksioma. Namun
demikian dia berpendapat bahwa pada situasi tertentu manusia dapat
mempengaruhi perilaku demografinya. Selanjutnya ia mengatakan apabila
produktivitas seorang tinggi ia cenderung ingin memiliki keluarga kecil. Dalam
situasi seperti ini fertilitas akan rendah. Jadi taraf hidup (standard of living)
merupakan determinan fertilitas. Tidaklah benar bahwa kemiskinan tidak dapat
dihindarkan (seperti dikatakn Malthus) atau kemiskinan itu disebabkan karena
sistem kapitalis (seperti pendapat Marx) dengan mengatakan The niggardline of
nature, not the injustice of society is the cause of the penalty attached to
everpopulation (Week, 1992).
Kalau suatu waktu di suatu wilayah terjadi kekurangan bahan makanan,
maka keadaan ini hanyalah bersifat sementara saja. Pemecahannya ada dua
kemungkinan yaitu : mengimpor bahan makanan, atau memindahkan sebagian
penduduk wilayah tersebut ke wilayah lain.
Memperhatikan bahwa tinggi rendahnya tingkat kelahirann ditentukan
oleh manusia itu sendiri, maka Mill menyarankan untuk meningkatkan tingkat
golongan yang tidak mampu. Dengan meningkatnya pendidikan penduduk maka
secara rasional maka mereka mempertimbangkan perlu tidaknya menambah
jumlah anak sesuai dengan karier dan usaha yang ada. Di sampan itu Mill
berpendapat bahwa umumnya perempuan tidak menghendaki anak yang banya,
dan apabila kehendak mereka diperhatikan maka tingkat kelahiran akan rendah.

b) Arsene Dumont
Arsene Dumont seorang ahli demografi bangsa Perancis yang hidup pada
akhir abad ke-19. Pada tahun 1980 dia menulis sebuah artikel berjudul
Depopulation et Civilization. Ia melancarkan teori penduduk baru yang disebut
dengan teori kapilaritas sosial (theory of social capilarity). Kapilaritas sosial
mengacu kepada keinginan seseorang untuk mencapai kedudukan yang tinggi di
masyarakat, misalnya: seorang ayah selalu mengharapkan dan berusaha agar
anaknya memperoleh kedudukan sosial ekonomi yang tinggi melebihi apa yang
dia sendiri telah mencapainya. Untuk dapat mencapai kedudukan yang tinggi
dalam masyarakat, keluarga yang besar merupakan beban yang berat dan
perintang. Konsep ini dibuat berdasarkan atas analogi bahwa cairan akan naik
pada sebuah pipa kapiler.
Teori kapilaritas sosial dapat berkembang dengan baik pada negara
demokrasi, dimana tiap-tiap individu mempunyai kebebasan untuk mencapai
kedudukan yang tinggi di masyarakat. Di negara Perancis pada abad ke-19
misalnya, dimana system demokrasi sangat baik, tiap-tiap orang berlomba
mencapai kedudukan yang tinggi dan sebagai akibatnya angka kelahiran turun
dengan cepat. Di negara sosialis dimana tidak ada kebebasanuntuk mencapai
kedudukan yang tinggi di masyarakat, system kapilaritas sosial tidak dapat
berjalan dengan baik.

c) Emili Durkheim
Emile Durkheim adalah seorang ahli sosiologis Perancis yang hidup pada
akhir abad ke-19. Apabila Dumont menekankan perhatiannya pada faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, maka Durkheim menekankan
perhatiannya pada keadaan akibat dari adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi
(Weeks, 1992). Ia mengatakan, akibat dari tingginya pertumbuhan penduduk,
akan timbul persaingan diantara penduduk untuk dapat mempertahankan hidup.
Dalam memenangkan persaingan tiap-tiap orang berusaha untuk meningkatkan
pendidikan dan keterampilan, dan mengambil spesialisasi tertentu, keadaan
seperti ini jelas terlihat pada kehidupan masyarakat perkotaan dengan kehidupan
yang kompleks.
Apabila dibandingkan antara kehidupan masyarakat tradisional dan
masyarakat perkotaan, akan terlihat bahwa pada masyarakat tradisional tidak
terjadi persaingan dalam memperoleh pekerjaan, tetapi pada masyarakat industri
akan terjadi sebaliknya. Hal ini disebabkan ada masyarakat industri tingkat
pertumbuhan dan kepadatan penduduknya tinggi. Tesis dari Durkheim ini
didasarkan atas teori evolusi dari Darwin dan juga pemikiran dari Ibn Khaldun.

d) Michael Thomas Sadler dan Doubleday


Kedua ahli ini adalah penganut teori fisiologis. Sadler mengemukakan,
bahwa daya reproduksi manusia dibatasi oleh jumlah penduduk yang ada di suatu
wilyah atau negara. Jika kepadatan penduduk tinggi, daya reproduksi manusia
akan menurun, sebaliknya jika kepadatan penduduk rendah, daya reproduksi
manusia akan meningkat.
Thomson (1953) meragukan kebenaran teori ini setelah melihat keadaan di
Jawa, India dan Cina dimana penduduknya sangat padat, tetapi pertumbuhan
penduduknya juga tinggi. Dalam hal ini Malthus lebih konkret argumentasinya
dari pada Sadler. Malthus mengatakan bahwa penduduk disuatu daerah dapat
mempunyai tingkat fertilitas yang tinggi, tetapi dalam pertumbuhan alaminya
rendah karena tingginya tingkat kematian. Namun demikian, penduduk tidak
dapat mempunyai fertilitas tinggi, apabila tidak mempunyai kesuburan
(fecunditas) yang tinggi, tetapi penduduk dengan tingkat kesuburan tinggi dapat
juga tingkat fertilitasnya rendah.
Teori Doubleday hampir sama dengan teori Sadler, hanya titik tolaknya
berbeda. Kalau Sadler mengatakan bahwa daya reproduksi penduduk berbanding
terbalik dengan tingkat kepadatan penduduk, maka Doubleday berpendapat
bahwa daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan bahan makanan
yang tersedia. Jadi kenaikan kemakmuran menyebabkan turunnya daya
reproduksi manusia. Jika suatu jenis makhluk diancam bahaya, mereka akan
mempertahankan diri dengan segala daya yang mereka miliki. Mereka akan
mengimbanginya dengan daya reproduksi yang lebih besar (Iskandar, 1980).
Menurut Doubleday, kekurangan bahan makanan akan merupakan
perangsang bagi daya reproduksi manusia, sedang kelebihan pangan justru
merupakan faktor pengekang perkembangan penduduk. Dalam golongan
masyarakat yang berpendapatan rendah, seringkali terdiri dari penduduk dengan
keluarga besar, sebaliknya orang yang mempunyai kedudukan yang lebih baik
biasanya jumlah keluarganya kecil.
Rupa-rupanya teori fisiologis ini banyak diilhami dari teori aksidan reaksi
dalam meninjau perkembangan penduduk suatu negara atau wilayah. Teori ini
dapat menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat mortalitas penduduk semakin
tinggi pula tingkat produksi manusia.

e) Herman Khan
Pandangan yang suram dan pesimis dari Malthus beserta penganut-
penganutnya ditentang keras oleh kelompok teknologi. Mereka beranggapan
manusia dengan ilmu pengetahuannya mampu melipat gandakan produksi
pertanian. Mereka mampu mengubah kembali (recycling) barang-barang yang
sudah habis dipakai, sampai akhirnya dunia ketiga mengakhiri masa transisi
demografinya.
Ahli futurology Herman Kahn (1976) mengatakan bahwa negara-negara
kaya akan membantu negara-negara miskin, dan akhirnya kekayaan itu akan jatuh
kepada orang-orang miskin. Dalam beberapa decade tidak akan terjadi lagi
perbedaan yang mencolok antara umat manusia di dunia ini.
Dengan tingkat teknologi yang ada sekarang ini mereka memperkirakan
bahwa dunia ini mampu menampung 15 milliun orang dengan pendapatan
melebihi Amerika Serikat dewasa ini. Dunia tidak akan kehabisan sumber daya
alam, karena seluruh bumi ini terdiri dari mineral-mineral. Proses pengertian dan
recycling akan terus terjadi dan era ini disebut dengan era substitusi. Mereka
mengkritik bahwa The Limit to Growth bukan memecahkan masalah tetapi
memperbesar permasalahan tersebut.
Kelompok Malthus dan kelompok teknologi mendapat kritik dari
kelompok ekonomi, karena kedua-duanya tidak memperhatikan masalah-masalah
organisasi sosial dimana distribusi pendapatan tidak merata. Orang-orang miskin
yang kelaparan, karena tidak meratanya distribusi pendapatan di negara-negara
tersebut. Kejadian seperti ini di Brasilia, dimana Pendapatan Nasional (GNP)
tidak dinikmati oleh rakyat banyak adalahsalah satu contoh dari ketimpangan
organisasi sosial tersebut.

2) Teori Teknologi
Kelompok ini muncul untuk menolak pandangan Malthus yang pesimis dalam
melihat perkembangan dunia.Teori ini dimotori oleh Herman Khan, ia berpendapat
bahwa kemiskinan yang terjadi di negara berkembang akan dapat diatasi jika negara
maju dapat membantu daerah miskin, sehingga kekayaan dan kemampuan daerah
hidup itu akan didapatkan oleh orang-orang miskin.Ia beranggapan bahwa teknologi
maju akan mampu melakukan pemutaran ulang terhadap nasib manusia pada suatu
masa yang disebut Era Substitusi.

e. Teori Transisi Kependudukan

Tahap Peralihan keadaan demografis:


1) Tingkat kelahiran dan kematian tinggi. Penduduk tetap/naik sedikit. anggaran
kesehatan meningkat. Penemuan obat obatan semakin maju. Angka kelahiran tetap
tinggi.
2) Angka kematian menurun,tingkat kelahiran masih tinggipertumbuhan penduduk
meningkat. Adanya Urbanisasi, usia kawin meningkat,Pelayanan KB > Luas,
pendidikan meningkat.
3) Angka kematian terus menurun, angka kelahiran menurun - laju pertumbuhan
penduduk menurun.
4) Kelahiran dan kematian pada tingkat rendah pertumbuhan penduduk kembali seperti
kategori I - mendekati nol. Keempat kategori ini akan didialami oleh negara yang
sedang melaksanakan pembangunan ekonomi.
Struktur & persebaran penduduk Membahas :
1) Komposisi penduduk
2) Persebaran penduduk. kegunaan pengelompokan penduduk :
3) Mengetahui human resources yg ada menurut umur & jenis.
4) Mengambil suatu kebijakan yg berhub dengan penduduk.
5) Membandingkan keadaan satu penduduk dengan penduduk lain
6) Melalui gambaran piramid pddk dapat diket proses demografi yg telah terjadi pada
penduduk

Penerapan Transisi kependudukan Yang mencerminkan kenaikan taraf hidup


rakyat di suatu negara adalah besarnya tabungan dan akumulasi kapital dan laju
pertumbuhan penduduknya. Laju pertumbuhan yang sangat cepat di banyak negara
sedang berkembang nampaknya disebabkan oleh fase atau tahap transisi demografi yang
dialaminya. Negara-negara sedang berkembang mengalami fase transisi demografi di
mana angka kelahiran masih tinggi sementara angka kematian telah menurun. Kedua hal
ini disebabkan karena kemajuan pelayanan kesehatan yang menurun angka kematian
balita dan angka tahun harapan hidup. Ini terjadi pada fase kedua dan ketiga dalam proses
kependudukan.

Umumnya ada empat tahap dalam proses transisi, yaitu:

Tahap 1: Masyarakat pra-industri, di mana angka kelahiran tinggi dan angka kematian
tinggi menghasilkan laju pertambahan penduduk rendah;

Tahap 2: Tahap pembangunan awal, di mana kemajuan dan pelayanan kesehatan yang
lebih baik menghasilkan penurunan angka kelahiran tak terpengaruh karena jumlah
penduduk naik.

Tahap 3: Tahap pembangunan lanjut, di mana terjadi penurunan angka kematian balita,
urbanisasi, dan kemajuan pendidikan mendorong banyak pasangan muda berumah tangga
menginginkan jumlah anak lebih sedikit hingga menurunkan angka kelahiran. Pada tahap
ini laju pertambahan penduduk mungkin masih tinggi tetapi sudah mulai menurun;
Tahap 4: Kemantapan dan stabil, di mana pasangan-pasangan berumah tangga
melaksanakan pembatasan kelahiran dan mereka cenderung bekerja di luar rumah.
Banyaknya anak cenderung hanya 2 atau 3 saja hingga angka pertambahan neto
penduduk sangat rendah atau bahkan mendekati nol

2. PIRAMIDA PENDUDUK
a. Konsep
Struktur umur penduduk menurut jenis kelamin secara grafik dapat digambarkan
dalam bentuk piramida penduduk. Piramida penduduk adalah cara penyajian lain dari
struktur umur penduduk. Dasar piramida penduduk menunjukkan jumlah penduduk,
dan badan piramida penduduk bagian kiri dan kanan menunjukkan banyaknya
penduduk laki-laki dan penduduk perempuan menurut umur.

b. Kegunaan
Dengan melihat proporsi penduduk laki-laki dan perempuan dalam tiap kelompok
umur pada piramida tersebut, dapat diperoleh gambaran mengenai sejarah
perkembangan penduduk masa lalu dan mengenai perkembangan penduduk masa
yang akan datang. Struktur umur penduduk saat ini merupakan hasil kelahiran,
kematian dan migrasi masa lalu. Sebaliknya, struktur umur penduduk saat ini akan
menentukan perkembangan penduduk di masa yang akan datang. Indonesia telah
mengalami perubahan bentuk piramida yang disebabkan oleh penurunan kelahiran
dan penurunan kematian bayi beberapa dekade yang lalu.
3. MACAM MACAM PIRAMIDA PENDUDUK
Berdasarkan bentuknya, piramida penduduk dibedakan sebagai berikut :

a. Piramida penduduk bentuk kerucut atau limas. Bentuk piramida ini menggambarkan
pertumbuhan penduduk yang cepat karena terjadi penurunan tingkat kelahiran bayi dan
anak-anak, tetapi tingkat fertilitas masih tinggi.
b. Piramida penduduk bentuk pucuk granat. Bentuk piramida ini menggambarkan angka
kelahiran dan tingkat kelahiran yang rendah.
c. Piramida penduduk bentuk kepala nisan. Bentuk piramida ini menggambarkan tingkat
kelahiran mengalami penurunan yang tajam dan tingkat kematian yang sangat rendah.

Piramida penduduk dapat dibedakan pula atas tiga macam, yaitu ekspansif,
konstruktif, dan stasioner. Piramida ekspansif adalah piramida yang terjadi apabila sebagian
besar penduduk berada pada kelompok usia muda. Adapun piramida konstruktif adalah
piramida yang terjadi apabila kelompok usia muda jumlahnya sedikit, sedangkan piramida
stasioner adalah piramida yang terjadi apabila banyaknya penduduk dalam setiap kelompok
usia relatif sama.
Adapun yang dimaksud dengan komposisi penduduk adalah susunan atau tata susun
penduduk suatu negara atau suatu wilayah berdasarkan kriteria tertentu. Komposisi penduduk
dapat dikaji dengan tujuan sebagai berikut.

1) Setiap penduduk memiliki usia dan jenis kelamin yang berbeda sehingga memiliki
potensi dan kemampuan yang berbeda pula.
2) Menata sarana dan prasarana kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa sesuai
dengan perkembangan penduduk.
3) Mengendalikan dan memantau pemanfaatan sumber daya alam agar dapat hidup
berkelanjutan.

Bentuk piramida penduduk dibadakan menjadi tiga macam yaitu :

1) Bentuk Limas ( Expansive), menunjukkan jumlah penduduk usia muda lebih banyak dari
pada usia dewasa maupun tua, sehingga pertumbuhan penduduk sangat tinggi, contohnya
: Indonesia, Filiphina, Mesir, Brazil.
2) Bentuk Granat ( Stationer), menunjukkan jumlah usia muda hamper sama dengan usia
dewasa sehingga pertumbuhan penduduka kecil sekali, contohnya : Amerika Serikat,
Belanda, Norwegia.
3) Bentuk Batu Nisan (Constructive), menunjukkan jumlah penduduk usia tua lebih besar
dari pada usia muda, jumlah penduduk mengalami penurunan, contohnya : Negara
Negara yang baru dilanda perang.

Negara-negara berkembang pada umumnya memiliki piramida penduduk berbentuk


limas, sedangkan negara-negara maju umumnya berbentuk granat atau batu nisan. Ciri-ciri
struktur penduduk pada tiap bentuk piramida :

1) Piramida Penduduk Expansif (Muda) memiliki ciri-ciri :


a) Sebagian besar berada pada kelompok penduduk muda
b) Kelompok usia tua jumlahnya sedikit
c) Tingkat kelahiran bayi tinggi
d) Pertumbuhan penduduk tinggi
2) Piramida Penduduk Stasioner memiliki ciri-ciri :
a) Penduduk pada tiap kelompok umur hampir sama
b) Tingkat kelahiran rendah
c) Tingkat kematian rendah
d) Pertumbuhan penduduk mendekati nol atau lambat

3) Piramida Penduduk Constructive (Tua) memiliki ciri-ciri :


a) Sebagian besar penduduk berada kelompok usia dewasa atau tua
b) Jumlah penduduk usia muda sangat sedikit
c) Tingkat kelahiran lebih rendah dibanding dengan tingkat kematian
d) Pertumbuhan penduduk terus berkurang

4. Hubungan Piramida Penduduk dengan Kesehatan


a. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya penyakit untuk
masalah kesehatan dalam masyarakat di suatu wilayah. Misalnya : di suatu RS
diketahui terjadi kasus INOS akibat ruangan kotor, ventilasi tidak teratur dengan baik,
kamar mandi kurang bersih, dapur dan penyedian makanan yang kurang hygiene.
Untuk itu perlu disusun rencana pemecahan masalah di RS tersebut berdasarkan
berbagai faktor penyebab masalah.
b. Dapat menyediakan data yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan dan
pengambilan keputusan dalam menanganinya.
c. Membantu melakukan evaluasi program kesehatan yang dianggap tidak berhasil
maka dapat dihentikan atau dirubah dengan program lain setelah mengetahui
penyebab yang sebenarnya. Misalnya : program fogging untuk memberantas nyamuk.
Dapat diganti dengan program 3 M. Setelah diketahui penyebabnya karena perilaku
penduduk.
d. Untuk mengembangkan metodelogi dalam menganalisis keadaan suatu penyakit.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2010. Hasil Sensus Penduduk Indonesia Tahun 2010. Jakarta: Badan Pusat
Statistik: Republik Indonesia
BKKBN. 2013. Profil Kependudukan dan Pembangunan di Indonesia tahun 2013. Jakarta:
BKKBN
Soegimo, Dibyo., dkk. 2009. Geografi untuk SMA/MA kelas XI. Jakarta: Pusbuk Depdiknas
Sumardi., dkk. 2009. Geografi 2 Lingkungan Fisik dan Sosial, Jakarta: Pusbuk Depdikna
Adnani,Hariza. 2010. Prinsip Dasar Epidemologi. Jogjakarta : Noha Medika