Anda di halaman 1dari 4

A.

Efektivitas Pembelajaran

Dengan semakin aktifnya siswa dalam proses pembelajaran berarti semakin efektif pembelajaran
tersebut. Menurut Slavin (1994: 310) bahwa keefektivan pembelajaran terdiri dari empat
indikator, yaitu kualitas pembelajaran (quality of instruction), kesesuaian tingkat pembelajaran
(appropriate Levels of Instruction), insentif (incentive) dan waktu (time), yang dapat diuraikan
sebagai berikut.

a. Kualitas pembelajaran

Kualitas pembelajaran adalah banyaknya informasi atau keterampilan yang disajikan


sehingga siswa dapat mempelajarinya dengan mudah, atau makin kecil tingkat kesalahan
yang diperoleh. Semakin kecil tingkat kesalahan yang diperoleh berarti makin efektif
pembelajaran. Penentuan tingkat keefektivan pembelajaran bergantung pada pengusaan
tujuan pembelajaran tertentu, pencapaian tingkat penguasaan tujuan pengajaran biasanya
disebut ketuntasan belajar yang merupakan salah satu indikator keefektivan pembelajaran.

b. Kesesuian tingkat pembelajaran

Kesesuaian tingkat pembelajaran adalah sejauh mana guru memastikan tingkat


kesiapan siswa (mempunyai keterampilan dan pengetahuan) untuk mempelajari materi baru.
Dengan kata lain materi pembelajaran yang diberikan tidak terlalu sulit atau tidak terlalu
mudah.

c. Insentif

Insentif adalah seberapa besar usaha guru memotivasi siswa untuk mengerjakan tugas-
tugas belajar atau mempelajari materi yang diberikan. Semakin motivasi yang diberikan
guru kepada siswa maka keaktifan siswa semakin besar pula, dengan demikian pembelajaran
akan efektif.

d. Waktu

Waktu adalah lamanya waktu yang diberikan kepada siswa untuk mempelajari materi
yang disajikan. Pembelajaran akan efektif apabila siswa dapat menyelesaikan pembelajaran
dengan waktu yang telah ditentukan.

Pembelajaran akan efektif apabila dilaksanakan oleh guru yang efektif juga. Menurut Arends
(1997: 2), paling tidak ada empat karakter guru yang efektif yaitu 1) mempunyai kualitas pribadi
untuk mengembangkan hubungan kemanusiaan secara autentik (misalnya : siswa dengan siswa,
siswa dengan orang tua dan siswa dengan teman-temannya ) ; 2) mempunyai disposisi positif
terhadap pengetahuan, yakni menguasai pengetahuan dasar tentang pengajaran dan
pembelajaran, materi pelajaran yang diajarkan, tentang perkembangan manuasia dan
pembelajaran, serata manajemen dan pengajaran kelas ; 3) menguasai strategi tentang
pelaksanaan pembelajaran untuk memberi stimulus terhadap apa yang harus dikerjakan oleh
siswa dan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa ; 4) mempunyai kemampuan dan
keterampilan untuk membantu siswa melakukan refleksi dan problem solfing. Kemudian
suherman (1986 : 78) menyatakan bahwa minat mempengaruhi proses hasil belajar siswa, jika
siswa tidak berminat untuk mempelajari sesuatu maka tidak dapat diharapkan dia akan berhasil
dengan baik dalam mempelajari hal tersebut, sebaliknya jika siswa belajar sesuai dengan
minatnya, maka dapat diharapkan hasilnya akan lebih baik.

Selain pendapat diatas, eggen dan kauchak (1996: 28) mengemikakan bahwa pembelajaran
yang dikatakan efektif apabila siswa secara aktif dilibatkan dalam pengorganisasian dan
penemuan informasi (pengetahuan). Siswa tidak hanya semakin pasif menerima pengetahuan
yang diberikan guru. Dengan demikian dalam pembelajaran sangat perlu diperhatikan bagaimana
keterlibatan siswa dalam pengorganisasian pelajaran dan pengetahuannya. Semakin aktif siswa
maka ketercapaian ketuntasan pembelajaran semakin besar, sehingga semakin efektif pula
pembelajaran.

Dari beberapa pendapat diatas, dalam penelitian ini penulis memadukan beberapa pendapat
tersebut, sehingga yang merupakan indikator kefektipan pembelajaran berupa : ketercapaian
ketuntasan belajar (sesuai dengan petunjuk kurikulum SMA / MA 2013 yaitu seorang siswa
dinyatakan tuntas belajar bila memiliki daya serap paling sedikit 65% , sedangkan ketuntasan
klasikal tercapai bila paling sedikit 75% siswa di kelas telah tuntas belajar) , ketercapaian
efektifitas aktifitas siswa, ketercapaian efektifitas aktivitas guru, keterlaksanaan rencana
pembelajaran, serta respon siswa terhadap pelajaran yang positif. Jika palaing sedikit empat
aspek diatas terpenuhi dengan syarat ektuntasan belajar terpenuhi maka pembelajaran
matematioka realistik dikatakan efektif.

B. Aktivitas Siswa dalam Kelompok Kecil

Dalam proses pembelajaran siswa diharapkan dapat membangun sendiri pengetahuannya, ini
berarti para siswa harus secara aktif terlibat selama pembelajaran. Semakin aktif siswa semakin
efektif pembelajaran. Dan indikator yang digunakan untuk melihat keaktifan siswa dalam
pembelajaran dapat dilihat tingkah laku mana yang muncul dalam proses belajar mengajar
berdasarkan apa yang telah dirancang oleh guru dalam penelitian ini tingkah laku tersebut adalah
:

1. Mendengarkan / memperhatikan penjelasan guru atau temannya


2. Membaca / memaham,I masalah
3. Bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri (berfikir)
4. Bekerja menyelesaikan masalah dengan teman sebangkunya (berpasangan)
5. Menunjukkan pendapat atau ide dari permasalah pada kelas (berbagi)
6. Bertanya kepada guiru
7. Bertanya kepada temannya
8. Perilaku yang tidak relevan dengan pembelajaran ( sesuai dengan langkah-langakah PMR
dalam penelitian ini)

Agar siswa mampu mengkontruksi pengetahuan dengan pemikiran sendiri sesuai dengan
situasinya. Oleh karna itu situasi mengajar dan lingkungan belajar perlu juga disesuaikan dengan
kebutuhan siswa. Selanjutnya guru perlu memikirkan metode pembejaran yang akan dilakukan.
Salah satu metode mengajar yang dapat membawa siswa terslibat secara aktif adalah metode
diskusi metode diskusi yang dapat membantu guru agar lebih mudah mengornisir siswa dikelas,
sebab dengan mengelompokkan siswa secara berpasangan akan sesuai dengan kondisi kelas dan
tempat duduk di sekolah-sekolah dan dari segi efektifitas waktu. Maka dalam penelitian ini
penulis menggunakan metode diskusi berfikir perpsangan berbagai (think-pair-share).
Menurut Arends (1997 : 221) metode berpikir berpasangan berbagai ini terdiri dari tiga
tahap berikut ini.
1) Berfikir, guru mengajukan pertanyaan atau permasalahan diskusi dan memberi kesempatan
kepada siswa untuk berfikir sendiri sebelum mereka berpasangan dengan kelompoknya.
2) Berpasangan, guru meminta siswa untuk mencocokkan atau membandingkan hasil
pekerjaan/jawaban dengan pasangan kelompoknya.
3) Berbagi, guru meminta siswa secara berpasangan menyampaikan jawaban dari permasalahan
diskusi yang telah diselaesaikan kepada kelompok yang lain.

Metode berfikir-perbasangan-berbagi ini menghendaki siswa satu kelas di kelompokkan


menjadi kelompok yang masing-masing terdiri atas 2 orang siswa. Agar diskusi dapat berjalan
efektif, siswa yang kemampuannya tinggi di pasangkan dengan siswa yang kemapuannya kurang
tetapi keduanya diberi tanggung jawab yang sama dalam menyelesaiakan permasalahan.

Diskusi dapat berjalan apabila ada komunikasi yang bermakna antar siswa dalam kelompok,
siswa yang mengalami kesulitan harus aktif berpikir dan minta bantuan dalam kelompoknya
yang lebih mampu secara terarah, sehingga komunikasi matematis dapat efektif dan efisien.
Vyggotsky menyatakan bahwa interaksi anak dengan perangkat pembelajaran, dapat mendukung
anak menjembatani ZPD-nya kepemahaman yang lebih tinggi. Menurut Leiken dan Zaslavsky
(1997), terdapat lima jenis interaksi dalam kegiatan pembelajaran matematika, yaitu komunikasi
antatara siswa-siswa ( S-S ) komunikasi antara siswa perangkat pembelajaran (SPP) , komunikasi
antara siswa guru (SG) , komunikasi antara siswa perangkat pembelajaran guru (SPPG). Lima
kemungkinan interaksi tersebut dapat di ilustrasikan seperti pada Gambar 2.3.

Gambar

C. Pendekatan Matematika Realistik


Pendekatan matematika realistik atau realistic mathematic edukation (RME) merupakan
suatu pendekatan pendidik matetematika yang di kembangkan di belanda selama kurang lebih 30
tahun. Kata realistik diambil dari kualitas yang ditentukan oleh Treffers (1987), yang
membedakan empat pendekatan dalam pendidikan matematika yaitu mekanistik, emperistik,
strukturalistic, realistic. Pendekan ini mengacu pada pendapat freudentahl yang mengatakan,
matematika merupakan aktifitas manusia dan banyak berhungan dengan realita. Pendekatan ini
kemudian dikenal dengan realistik mathematic edukation (RME).
R. Soedjadi ( 2001a : 2 ) meengemukakan bahwa pembelajaran matematika realistic pada
dasarnya pemanfaatan pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk
memperlancar proses pembelajaran mathematika sehingga mencapai tujuan pendidikan
matematika secara lebih baik dari pada masa yang lalu dan R. Soedjadi juga menjelaskan apa
yang dimaksud dengan realita, yaitu hal-hal yang nyata atau konkret yang dapat diamati atau
dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan
adalah linkgungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun
masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan ini disebut juga kehidupan sehari-
hari, dan glasersfeld (1992), mengatakan matematika merupaka reflects dunia nyata, melalui
proses abstraksi empire.
Berdasarkan uraian diatas, proses pembelajaran matematika realistik menggunakn masalah
konstektuial (contextual problem) sebagai titik tolak dalam belajar matematika. Lebih lanjut
(hudoyo, 2002 : 428) mengatakan masyalah dalam pembelajaran matematika merupakan suatu
keharusan dalam menghadapi dunia yang tidak menentu. Siswa perlu dipersiapkan bagaimana
memdapatkan dan menyelesaiakan masyalah. Masalah yag disajikan kesiswa adalah masalah
konstektual yakni masalah yang memeang semestinya dalat di seselaikan siswa sesuai dengan
pengalaman siswa dalam kehidupannya.
Menurut R. Soedjadi (2001a.25) pembelajaran matematika relaistic (PMR) berorientasi pada
pemesahan masalah semenjak awal pembelajaran. Proses penerapan PMR tersebut dapat diikuti
dalam gambar 2.2.

Gambar.

Berdasarkan gambar 2.2 perlu dipikirkan masalah masalah sederhana yang memungkinkan siswa
dapat melakukan kegiatan yang me