Anda di halaman 1dari 41

Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

BAB III

PEMBAHASAN ALAT

A. ENDOSCOPY

1. Pengertian Alat

Endoscopy atau endoskopi adalah prosedur pemeriksaan bagian


internal tubuh menggunakan endoskop. Endoskop adalah alat yang
digunakan dalam pemeriksaan endoskopi. Alat ini berbentuk pipa kecil
panjang flexibel yang dapat dimasukkan kedalam tubuh. Di dalam pipa
tersebut terdapat 2 (dua) serat optic yaitu :
a. Penghantar cahaya agar bagian tubuh di depan ujung endoskop terlihat
jelas yang berasal dari light source.
b. Penghantar gambar yang ditangkap oleh kamera.
Selain dua serat optic, juga terdapat satu saluran portable yang
berfungsi sebagai saluran pemberian obat, memasukkan ataupun menghisap
cairan, dan tempat pemasangan alat medis lain seperti gunting dan sikat.
Gambar bagian dalam tubuh akan dilihat dari layar monitor eksternal.

2. Jenis-jenis Endoscopy1
a. Berdasarkan Fungsi
1) Endoscopy diagnostic
Berperan dalam menentukan penyebab pendarahan dan lokasi lesi
yang terjadi serta pengambilan sampel jariangan yang dicuragai
untuk diperiksa lebih lanjut.
2) Endoscopy teraupetik
Berperan untuk menghentikan pendarahan yang terjadi.
b. Berdasarkan Bentuk Endoscope
1) Rigid / Surgical Endoscope

1 Endoscopy Prentation by DR. DHIREN B. BHOI M. V. Sc.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 1


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Rigid endoscope adalah endoscope yang digunakan untuk proses


operasi. Berbentuk seperti pipa kaku yang di bagian dalam terdapat
fiber optic untuk lensa dan sumber cahaya.

Gambar 3.1 Rigid Endoscope

Gambar 3.2 Bagian Rigid Endoscope

Keterangan :
1. Jacket tube, sebagai pelindung fiber optic.
2. Deflector prism, sebagai lensa optic dan pengukur kedalaman.
3. Inner tube, sebagai saluran lensa optic.
Inner tube berfungsi untuk melindungi lensa optic dari tekanan yang
berlebihan saat proses operasi. Saat mendapat tekanan yang berlebih,

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 2


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

lensa dapat rusak dan pecah. Kerusakan lensa ini menyebabkan


gambar yang dihasilkan menjadi kabur/berawan.

Gambar 3.3 Lensa endoscopy yang rusak dan berawan

2) Flexible Endoscope2
Flexible endoscope adalah jenis endoscopy yang dapat bergerak
mengikuti saluran tubuh manusia, seperti tenggorokan dan usus.
Bagian-bagian flexible endoscope yakni :

a) Tampak dalam

Gambar 3.4a Endoscope tampak dalam bagian pinggir

2 PAKISTAN COUNCIL OF SCIENTIFIC AND INDUSTRIAL RESEARCH

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 3


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.4b Endoscope tampak dalam

b) Tampak luar
Gambar 3.5 Endoscope tampak luar

Flexible endoscope mempunyai scope yang berbeda-beda untuk


berbagai fungsi.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 4


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

a) Fiberoptic Scope
Adalah instrumen original dengan fiber optic yang flexible yang
berfungsi untuk menghantarkan cahaya dari sumber cahaya
menuju ujung endoscope.

Gambar 3.6 Bagian-bagian Fiberoptic scope

b) Videoscope
Mempunyai chip computer yang sensitive dengan cahaya. Sinyal
elektronik dikirimkan dari scope menuju computer yang akan
menampilkan gambar video ke display monitor. Pada videoscope
terdapat open channel sebagai tempat masuknya instrument untuk
pengambilan jaringan dan menghilangkan polyps.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 5


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.7 Bagian-bagian videoscope

c. Berdasarkan Jenis Operasi


1) Upper Endoscopy
a) Gastroscopy
Untuk melihat dan mengetahui keadaan bagian dalam saluran
cerna bagian atas mulai dari tenggorokan (esophagus), lambung,
duodenum, dan bagian pertama dari usus halus.
b) Duodenoscopy (ERCP)
ERCP menggabungkan penggunaan sinar x dan endoscopy. User
akan menyuntikkan zat kontras ke dalam saluran lambung,
duodenum, empedu, dan pancreas sehingga dapat dilihat
menggunakan sinar x.

2) Lower Endoscopy
a) Colonoscopy
Untuk melihat ke dalam saluran usus besar, rectum, hingga
bagian bawah usus halus. Colonoscopy memungkinkan dokter
untuk melihat jaringan yang meradang, pertumbuhan abnormal,
dan pendarahan.
b) Cystoscopy
Fiber optic dimasukkan melalui uretra menuju kandung kemih.
Dokter akan mengisi kandung kemih dengan air dan memeriksa
interior kandung kemih.

3) Respiratory Endoscopy

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 6


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

a) Bronchoscopy
Memasukkan fiber optic melalui hidung atau mulut menuju paru-
paru. Bronchoscope digunakan untuk melihat keadaan saluran
udara paru-paru, mengumpulkan sekresi dan jaringan paru-paru
untuk diteliti.
b) Laryngoscopy
Memasukkan fiber optic melalui hidung atau mulut menuju
laring.

3. ENDOSCOPY

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 7


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.8 Endoscopy

a. Inventaris Alat
Nama Alat : Endoscopy
Merk : Olympus
Type : Evid Exera II
Ruang : Ruang Endoscopy Instalasi Radioogi

Power Supply Voltage 100 240 VAC


Voltage fluctuation Within 10%
Frequency 50/60 Hz
Frequency fluctuation Within 1 Hz
Consumption electric
500 VA
power
Fuse rating 8 A, 250 V

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 8


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Fuse size 5 x 20 mm
Examination lamp Xenon short-arc lamp (ozone-free) 300W
Average lamp life Approximately 500 hours of continuous use
Ignition method Switching regulator
Illumination
Brightness adjustment Light-path diaphragm control
Emergency lamp Halogen lamp (within mirror) 12 V 35 W
Average emergency lamp
Approximately 500 hours
life
Pump Diaphragm type
Air and Water Pressure switching 4 level available (off, low, medium, high)
Feeding Air pressurization or detachable water
Method container
Either RGB or YPbPr output can be
HDTV signal output selected
SDTV signal output VBS composite (PAL), Y/C and RGB
White balance adjustment is possible using
White balance adjustment the white balance switch on the front panel
A color bar chart can be displayed by
Standard color chart output pressing the Shift+F7 keys on the keyboard
The following color tone adjustments are
possible using the COLOR key and arrow
keys on the keyboard
Color tone adjustment
1. Red adjustment : 8 steps
2. Blue adjustment : 8 steps
3. Chroma adjustment : 8 steps
Observation The image can be electrically amplified
Automatic Gain Control when the light is inadequate due to the
(AGC) distal end of the endoscope being too far
from the object
The image contrast can be set to one of the
following three modes (N, H, L) using the
Shift+F6 key on the keyboard
1. N (normal) : normal image
2. H (high) : the dark areas are darker and
Contrast
the bright areas are brighter than the
normal image
3. L (low) : the dark areas are bright and
bright aread are darker than in the
normal image

Tabel 3.1 Spesifikasi Alat Endoscopy Olympus Evid Exera II


b. Bagian Bagian Alat

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 9


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

5
6

8 9 10
7
Gambar 3.9 Bagian-bagian alat endoscopy

Keterangan :
1. Trolley with hanger 6. Suction pump
2. Monitor 7. Sistem computer mediview
3. Kamera 8. Scope ERCP
4. Light source 9. Scope Gastroscopy
5. Video printer 10. Scope Laparoscopy

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 10


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

1) Sistem Kamera
Pencitraan pemandu pembedahan endoskopi merupakan sekumpulan devices
yang membentuk sistim kamera. Sistim kamera dalam prosedur ini adalah
mata seorang ahli bedah. Sistim kamera terbagi dalam berbagai peralatan
elektronik, yaitu :

Gambar 3.10 Sistem kamera endoscopy

2) Sumber Cahaya (Cold Light Source)


Sumber cahaya ini menggunakan prinsip mentransimisikan cahaya dengan
kabel cahaya serat optik yang masuk ke dalam tubuh.
Cold light artinya cahaya yang dipancarkan dihasilkan pada suhu rendah dari
sumber yang tidak berpijar, misalnya proses fluoresensi,
fosforesensi, bioluminescence, atau triboluminescence. Sumber cahaya dingin
tidak memiliki spektrum infra red atau mempunyai spectrum infra red yang
rendah dengan cara memodifikasi konstruksi penghasil cahaya. Cold light
dipancarkan oleh lampu berjenis LED, Xenon atau lampu halogen.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 11


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.11 Lampu halogen, xenon, dan LED

3) Kabel Sumber Cahaya Serat Optik (Fiber Optik)


Serat optik adalah sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang
sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan dapat digunakan untuk
mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain.
Sumber cahaya yang digunakan dalam hal ini yang dijelaskan diatas. Kabel
ini berdiameter lebih kurang 120 mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat
optik tidak keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks
bias dari udara.

Gambar 3.12 Kabel fiber optik

4) Sistem Air, udara, dan vacuum3

3 Hideto Yokoi (IHE-Japan Endoscopy Working Group)

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 12


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Udara dari pompa mengalir melalui pipa inlet udara dengan tekanan 20 Psi.
Udara digunakan untuk memfokuskan jalan dari adanya cairan yang
menghalangi. Vacuum digunakan untuk menghisap cairan yang menghalangi
selama proses endoscopy berlangsung. Sedangkan air digunakan dalam
proses irigasi untuk membersihkan jaringan. Endoscopy memiliki port air
sebagai sumber irigasinya.

Gambar 3.13 Sistem air, udara, dan vacuum endoscopy

c. Fungsi Alat
1) Melihat organ-organ dalam tubuh manusia tanpa sayatan ataupun
dengan sayatan kulit minimal.
2) Mengetahui kelainan yang terjadi pada alat pencernaan dan
pernafasan.
3) Dapat melihat dengan jelas lokasi dan jenis kelainan dalam rongga
saluran pencernaan dan pernafasan secara langsung dengan bantuan
monitor dalam waktu singkat dan akurasi yang tinggi.

d. Prinsip Kerja Alat


Sebuah endoskop terdiri dari kamera, sumber cahaya dan juga fiber optic
yang berfungsi sebagai jalur cahaya menuju bagian yang diperiksa.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 13


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah halogen, xenon, dan


LED. Bola lampu berfungsi untuk memfokuskan cahaya input pada
permukaan ujung fiberoptik .

Gambar 3.14 Skema Kerja Endoscopy

Sesuai dengan gambar , image bundle berfungsi sebagai elemen yang


mentransmisikan gambar dari dua ujung permukaan fiber, menuju
pangkal fiber. Pada pangkal fiber (proximal end) terdapat sebuah system
lensa yang berfungsi untuk mentransmisikan gambar dan juga
menghubungkan dengan lensa okuler (untuk pengamatan) ataupun
dengan video camera ( Annalie Lombard and Willie Liebenberg, 2008).

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 14


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

e. Blok Diagram4

Gambar 3.15 Blok Diagram Endoscopy

f. Cara Kerja Blok Diagram


1) Insertion Tube sebagai probe yang akan dimasukkan ke dalam tubuh
pasien yang berupa kabel fiber optik
2) Suction valve, Air/Water valve, dan Biopsy valve adalah valve yang
berfungsi untuk saluran suction, air/water, dan biopsy
3) Light Source Connector adalah konektor yang berfungsi untuk
menghubungkan antara scope dan light source
4) Light Source adalah sumber cahaya digunakan dalam proses
pemeriksaan endoscopy berupa lampu halogen, xenon, atau LED
5) Pump Unit berfungsi sebagai media suction untuk menghisap cairan
selama proses pemeriksaan
6) Video Processor yang terdiri dari kamera untuk menangkap gambar
selama pemeriksaan yang akan ditampilkan di layar monitor

4 Schwaitzberg, 2004

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 15


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

g. Perawatan, Pemeliharaan, dan Uji Kebocoran5


1) Perawatan dan pemeliharaan
Sebelum dan setelah pemakaian, endoskopi harus melakukan
pemeriksaan :
a) Insertion dan tabung
b) Sistem optic dan sistem kamera
c) Pemeriksaan general
2) Uji kebocoran
Endoscopy harus diperiksa kebocoran dan kerusakannya sebelum
digunakan dengan tujuan untuk memastikan efisiensi dan
menghindari kebocoran selama endoscopy berlangsung.
Uji kebocoran menggunakan leakage tester yang akan memberikan
udara dengan tertentu, lalu scope endoscopy dimasukkan kedalam
baskom air untuk melihat ada gelembung udara atau tidak sebagai
indicator kebocoran.

h. Standar Prosedur Operasional


1) Hubungkan endoscope dengan sumber cahaya dan camera sebagai
sistem video.
2) Periksa sumber cahaya dan perlengkapan tambahan yang
digunakan selama proses endoscopy.
3) Hidupkan sumber cahaya, camera, dan layar monitor dengan
menekan tombol ON.
4) Pastikan sumber air bersih dan tempat penampungan suction
berada di tempat yang aman dan tidak mengganggu.
5) Saat endoscope sudah terhubung dengan alat, lakukan penyetingan
seperti :
a) Sesuaikan intensitas cahaya yang akan digunakan dengan
menggunakan mode otomatis atau manual.
b) Atur kekuatan air dan udara yang digunakan dengan mode
low, medium dan high.
5 http://www.worldofteaching.com

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 16


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

c) Setting transillumination dan high intensity mode.


d) Observasi NBI dengan syarat camera dan sumber cahaya telah
terhubung, endoscopy mengkompetibel NBI ke camera dan
sumber cahaya, dan melakukan pengaturan white balance.
6) Masukkan endoscope kedalam saluran pencernaan dan
pernafasan berdasarkan jenisnya, jika gastroscopy masukkan
melalui mulut dan jika colonoscopy masukkan melalui anus.
7) Lakukan pemeriksaan hingga ditemukan jaringan yang
bermasalah.
8) Ambil gambar penampakan jaringan dengan menekan tombol
shutter pada kamera atau menggunakan footswitch.
9) Setelah selesai melakukan pemeriksaan, lepaskan dan
bersihkan endoscope dengan 3 proses pembersihkan yaitu
dengan deterjen, desinfektan, dan air steril. Lalu bersihkan
dengan sterilisasi tingkat lanjut.
10) Matikan cahaya dan sumber cahaya dengan menekan tombol
OFF.
11) Bersihkan alat sebelum dipergunakan kembali.
12) Waktu pemeriksaan sekitar 5 hingga 15 menit.

i. Pemeliharaan Alat
1) Bersihkan alat dengan menyikat tabung dan saluran dengan lab
deterjen pH netral.
2) Gunakan desinfektan menggunakan 2,0 3,0 % glauteraldehyde atau
dengan 70 % isopropyl alcohol.
3) Bilas menggunakan air steril untuk menghilangkan detergen dan
desinfektan. Endoscopy harus dikeringan dan digantung pada
cabinet khusus.

j. Kerusakan Alat

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 17


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Selama menjalani praktikum di RSUP Fatmawati, penulis menemukan


beberapa kerusakan yang sering terjadi yaitu :
1) Sumber cahaya tidak ada.
2) Scope rusak dan bocor sehingga air masuk ke dalam scope yang
mengganggu tampilan di layar monitor.
3) Video tidak tampil di layar monitor.
4) Tidak dapat menangkap gambar.
5) Gambar di layar monitor terlalu terang atau gelap.

Dengan berbagai masalah yang penulis temui, penulis akan membahas


tata cara perbaikan dimana video selama pengoperasian tidak muncul di
layar monitor.
Tata cara perbaikan untuk masalah diatas yaitu :
1) Perhatikan indikator lifetime sumber cahaya, tegangan ke sumber
cahaya.
2) Perhatikan apakah light source sudah menyala, karena apabila light
source nya mati maka monitor gelap karena tidak adanya sumber
cahaya.
3) Perhatikan apakah kamera sudah menyala dan dalam keadaan ready
untuk siap digunakan.
4) Konektor light source dan kamera sudah sesuai dengan scope yang
digunakan.
5) Scope light source, kamera, dan layar monitor sudah terhubung.
6) Pastikan scope dan fiber optiknya dalam keadaan baik.
7) Jika semua keadaan dalam kondisi yang baik, cek layar monitor
untuk memastikan dalam keadaan baik dan tidak rusak karena jika
kerusakan ada pada layar monitor, maka dapat dipastikan gambar
dari kamera tidak dapat ditampilkan di layar monitor.
8) Apabila gambar masih tidak tampil, hubungi customer service untuk
perbaikan alat.

B. PATIENT MONITOR

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 18


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

1. Pengertian Alat

Pasien monitor atau bedside monitor adalah suatu alat yang


difungsikan untuk memonitor kondisi fisiologis pasien. Dimana proses
monitoring tersebut dilakukan secara real-time, sehingga dapat diketahui
kondisi fisiologis pasien pada saat itu juga. Data fisiologis pasien ini akan
ditampilkan terus menerus pada LCD layar sebagai saluran data sepanjang
sumbu waktu.
Parameter adalah bagian-bagian fisiologis dari pasien yang diperiksa
melalui pasien monitor. Jika kita ketahui ada sebuah pasien monitor dengan
5 parameter, maka yang dimaksud dari lima parameter tersebut adalah
banyaknya jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan oleh pasien monitor
tersebut. Sinyal/pulsa atau indikator fisiologis pasien yang akan ditampilkan
pada patient monitor yaitu :
a. Sinyal/pulsa ECG (jantung)
Pemeriksaan aktivitas kelistrikan jantung menggunakan cable patient.

b. Nilai SPO2 (Saturasi darah)


Kadar oksigen yang ada di dalam darah yang ukur menggunakan finger
sensor.

c. Tensimeter (NIBP/Non Invasive Blood Pressure)


Pemeriksaan tekanan darah pasien dengan penggunaan manset pada
lengan yang akan menampilkan pengukuran systole dan diastole secara
otomatis.

d. Respirasi
Pemeriksaan irama napas pasien dalam waktu satu menit.

e. Temperature
Mengetahui suhu tubuh yang dideteksi secara otomatis dengan
menggunakan pada perekat yang berisi termoelektrik transduser,
kemudian hasilnya akan ditampilkan pada display.
2. Jenis-jenis Patient Monitor

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 19


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

a. Patient Monitor Vital Sign


Pasien monitor vital sign adalah pasien monitor yang bersifat
pemeriksaan standar, yaitu seperti pemeriksaan ECG, respirasi, NIBP,
dan kadar oksigen dalam darah / SpO2.

Gambar 3.16 Patient Monitor Vital Sign

b. Patient Monitor 5 Parameter


Pasien monitor 5 parameter adalah pasien monitor yang bisa melakukan
pemeriksaan 5 parameter, seperti ECG, respirasi, NIBP, kadar oksigen
dalam darah / SpO2, dan temperatur (suhu tubuh).

Gambar 3.17 Patient Monitor 5 Parameter

c. Patient Monitor 7 Parameter

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 20


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Pasien monitor 7 parameter adalah pasien monitor yang biasanya dipakai


diruangan operasi, karena ada satu parameter tambahan yang biasa
dipakai pada saat operasi yaitu IBP (Invasive Blood Pressure) yakni
pengukuran tekanan darah melalui pembuluh darah langsung dan EtCo2
(End Tidal Co2) yaitu pengukuran kadar karbondioksida dari sistem
pernafasan pasien.

Gambar 3.18 Patient Monitor 7 Parameter

3. Parameter Pengukuran Patient Monitor


Parameter yaitu bagian-bagian fisiologis dari pasien yang diperiksa melalui
patient monitor. Jika diketahui patient monitor dengan 5 parameter, maka
yang dimaksud dengan 5 parameter tersebut adalah banyaknya jenis
pemeriksaan yang bisa dilakukan oleh patient monitor terhadap pasien.

a. ECG (Electrocardiograph)
ECG adalah alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kelistrikan
jantung dengan merekam sinyal bioelektrik jantung yang ditampilkan
pada layar monitor atau kertas.
Prinsip kerja dari ECG adalah bioelektrik jantung yang disadap oleh
sadapan yang disebut lead. Lalu rangkaian elektronika akan
mengubahnya menjadi sinyal listrik murni lalu ditampilkan dalam

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 21


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

bentuk grafik yang dapat dilihat bentuk gelombangnya. Sinyal biolistic


jantung direkam dengan menggunakan electrode yang hasilnya berupa
grafik pulsa
1) Anatomi dan Fungsi Jantung
Jantung adalah organ yang mempunyai tugas mengirim darah
keseluruh tubuh. Jantung adalah organ berongga yang terdiri dari
empat ruangan, yaitu serambi kanan (atrium kanan), serambi kiri
(atrium kiri), bilik kiri (ventrikel kiri), dan bilik kanan (ventrikel
kanan). Darah dari jantung dipompakan keseluruh tubuh melalui
pembuluh darah (nadi), sedangkan darah yang kembali ke jantung
dari seluruh tubuh masuk ke atrium kanan.

Darah dari atrium kanan dipompakan ke ventrikel kanan


triscupid valve dan dari ventrikel kanan darah dipompakan lagi ke
paru-paru melalui pulmonary artery. Diparu-paru darah mengambil
O2 dan melepaskan CO2 kemudian kembali lagi ke jantung, dengan
demikaian kita harus mengetahui kerja jantung tersebut, apakah
jantung kita bekerja dengan normal atau tidak.

Jantung berfungsi sebagai pompa dengan empat kamar pada


sistem peredaran darah. Pemompaan utama adalah oleh ventrikel,
sedangkan atrial berfungsi untuk menyimpan darah selama ventrikel
mernompa. Fasa pengisian dalam siklus jantung dikenal sebagai
diastole. Kontraksi ventrikel atau fasa pemompaan disebut sistole.
Rithme kontraksi atria dan ventrikel yang mulus disebabkan suatu
sistem elektrik yang mengkoordinasi langkah-langkah elektrik yang
terjadi pada jantung.

Jantung terbagi menjadi empat ruangan, yaitu dua atrium


(kanan dan kiri) dan dua ventrikel (kanan dan kiri). Selain itu jantung
juga mempunyai beberapa jaringan yang berbeda (jaringan nodal SA
dan AV, jaringan atrial, Purkinye, dan ventrikular). Tampilan anatomi

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 22


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

masing-masing tipe sel sangat berbeda, tetapi mereka semua dapat


dieksitasi elektrik, dan setiap sel mempunyai potensial-aksinya
sendiri.

Irama sinyal jantung diatur oleh isyarat listrik yang dihasilkan


oleh rangsangan yang terjadi secara spontan. Rangsangan spontan ini
dilakukan oleh sel - sel khusus yang terdapat pada atrium kanan
(dekat muara vena cava superior dan inferior), yaitu SA node
(simpul sinoatrial). SA node ini bertindak sebagai pemicu (pace
maker), dan bergetarnya SA node berkisar 60 - 100 kali per menit
pada jantung normal dalam kondisi rileks. Getaran tersebut dapat
meningkat atau menurun diatur oleh saraf eksternal jantung yang
merupakan respon/jawaban terhadap kebutuhan darah oleh tubuh.
Isyarat listrik SA node menyebabkan depolarisasi otot jantung atrium
dan memompa darah ke ventrikel, kemudian diikuti oleh repolarisasi
otot atrium.

Isyarat listrik dilanjutkan ke AV node dan akan


menyebabkan depolarisasi ventrikel kanan dan kiri yang
menyebabkan kontraksi ventrikel sehingga darah dipompa ke dalam
arteri pulmonalis dan ke aorta, setelah itu saraf pada ventrikel dan
otot ventrikel akan mengalami repolarisasi dan mulai kembali
isyarat listrik dari SA node. Jalan depolarisasi sel dalam jantung
dilustrasikan dalam Gambar 3.18.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 23


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.19 Sistim Hantaran Kelistrikan Jantung Manusia

2) Kelistrikan Jantung
Aktifitas listrik dapat diamati dengan melakukan pengukuran
beda potensial disekitar jantung. Aktifitas kelistrikan jantung ini dapat
dibagi menjadi tiga kondisi,yaitu :

a) Saat sel berada dalam kondisi polarisasi, maka selisih antara


bagian dalam sel dan bagian luar sel terdapat tegangan sebesar
-90mV.
b) Bila diberikan rangsangan terhadap sel tersebut maka akan terjadi
depolarisasi muatannya, yang mempunyai beda potensial sebesar
+20mV.
c) Kondisi ini akan berlangsung sesaat dan sel jantung akan kembali
kekondisi semula (repolarisasi) sebesar -90mV. Aksi pada sel
tersebut merangsang sel-sel disekitarnya sehingga terjadi
depolarisasi bagian otot jantung.Beberapa saat setelah
terbentuknya gelombang depolarisasi akan diikuti kontraksi otot-
otot jantung.
Gambar 3.14 menunjukan rekaman aktifitas listrik jantung.
Gelombang P menunjukan depolarisasi atrium, gelombang QRS
menunjukan gelombang depolarisasi ventrikel dan gelombang T
merupakan repolarisasi ventrikel.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 24


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.20 Rekaman aktifitas listrik jantung .

Gambar 3.21a Arus Ionik sebagai Sumber dan Elektrocardiograph

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 25


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.21b Segitiga Einthoven

3) Prinsip Pengoperasian ECG


Sebelum pemasangan elektroda, bersihkan dahulu bagian anggota
tubuh yang akan ditempeli elektroda dengan alkohol 70 % atau
cream khusus. Gunakan jelly secukupnya pada permukaan yang akan
dikenai elektroda untuk penghantaran yang lebih baik. Pasanglah
elektroda sesuai dengan kode yang ada pada ujung kabel, yaitu :

1) RA untuk tangan kanan


2) LA untuk lengan kiri
3) RL untuk kaki kanan
4) LL untuk kaki kiri
5) C atau V untuk dada

Gambar 3.22 Pemasangan Elektroda

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 26


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

b. Saturasi Darah (SPO2)


Saturasi oksigen adalah persentasi hemoglobin yang berikatan dengan
oksigen dalam arteri, dimana saturasi oksigen normal adalah 95-100%.
1) Proses Oksigenasi
Sistim pernafasan terdiri dari organ pertukaran gas yaitu paru-paru
dan sebuah pompa ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot
pernafasan, diagfragma, isi abdomen, dinding abdomen dan pusat
pernafasan di otak. Pada keadaan istirahat frekuensi pernafasan 12-
15 kali per menit. Ada 3 langkah dalam proses oksigenasi yaitu
ventilasi, perfusi paru dan difusi (Guyton, 2005).
a) Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru-
paru sebanyak 500 ml. Udara yang masuk dan keluar paru-paru
terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara paru-paru dan
udara luar.
b) Perfusi paru adalah gerakan darah melewati sirkulasi paru untuk
dioksigenasi, dimana pada sirkulasi paru adalah darah
deoksigenasi yang mengalir dari ventrikel kanan jantung. Darah
ini memperfusi paru bagian respirasi dan ikut serta dalam proses
pertukaran oksigen dan karbon dioksida di kapiler dan alveolus.
c) Difusi adalah pergerakan oksigen dari area konsentrasi tinggi
yaitu alveoli ke area konsentrasi rendah yaitu aliran darah dan
pergerakan karbon dioksida dari aliran darah ke alveoli. Difusi
udara respirasi terjadi antara alveolus dengan membrane kapiler.

2) Pengukuran Saturasi Oksigen


a) Saturasi oksigen arteri (SaO2) dengan nilai dibawah 90%
menunjukkan keadaan hipoksemia.
b) Saturasi oksigen vena (SvO2) dengan nilai dibawah 60%
menunjukkan bahwa tubuh kekurangan oksigen.
c) Tissue oksigen saturasi (StO2) memberikan gambaran tentang
oksigenasi jaringan yang diukur dengan spektroskopi inframerah.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 27


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

d) Saturasi oksigen perifer (SpO2) adalah estimasi tingkat kejenuhan


oksigen yang diukur dengan oksimeter pulsa.

3) Faktor yang Mempengaruhi Pembacaan Saturasi


a) Hemoglobin (Hb)
Jika Hb tersaturasi penuh dengan O2 walaupun nilai Hb nya
rendah, maka akan tetap menunjukkan nilai normalnya.
b) Sirkulasi
Alat tidak akan memberikan bacaan yang akurat jika area
dibawah sensor mengalami gangguan sirkulasi.
c) Aktivitas
Pasien menggigil atau pergerakan yang berlebihan pada area
sensor dapat mengganggu pembacaan SpO2.

c. NIBP (Non Invasive Blood Pressure)


Tekanan darah adalah kekuatan tekanan darah yang menekan pembuluh
darah secara vertikal pada saat darah dipompakan dari jantung keseluruh
anggota tubuh. Tekanan ditentukan oleh kekuatan dan jumlah darah yang
dipompa oleh jantung dan fleksibilitas dan ukuran dari nadi.
1) Metode Pengukuran
a) Auscultatory / Korotkoff
Bunyi serasi yang diciptakan oleh nadi utama darah pada saat
manset terkembang dan menekan nadi pada lengan bisa
dihubungkan dengan tekanan systolic dan diastolic.
b) Oscillometric
Proses pengukuran perubahan tekanan udara yang berada
didalam manset yang disebabkan oleh tekanan dari nadi dimana
hasil pengukuran ditampilkan pada layar monitor.

2) Fungsi Pengukuran Tekanan Darah


a) Menampilkan kondisi cardiovascular.
b) Untuk mencegah komplikasi seperti hypotensi, hypertensi, dan
kematian mendadak.
c) Untuk monitoring dan melihat efek dari obat antihypertensi.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 28


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

d) Untuk memantau kegagalan jantung.

3) Ukuran Tekanan Darah Normal

Kategori Systolic mmHg Diastolic mmHg


Hipotensi < 90 <60
Normal 90 119 60 79
Prahipertensi 120 139 80 89
Hipertensi Stadium 1 140 159 90 99
Hipertensi Stadium 2 160 179 100 119
Hipertensi Parah 180 120
Tabel 3.2 Ukuran Tekanan Darah Normal Manusia

4) Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pengukuran Tekanan Darah


a) Ukuran manset yang tidak sesuai dengan pasien.
b) Kesiapan pasien pada saat pengukuran tekanan darah dilakukan.
c) Pasien yang diukur merokok atau minum minuman beralkohol
kurang dari 15 menit sebelum pengukuran.
d) Pemasangan manset dilakukan diatas lengan baju yang tidak
dilipat.
e) Pasien yang diukur tidak duduk tenang dalam waktu kkurang dari
5 menit atau berbicara saat pengukuran.

d. Respirasi
Respirasi adalah pemeriksaan irama dan frekuensi nafas dalam satu
menit yaitu berapa kali siklus inspirasi dan ekspirasi pasien.
Inspirasi adalah masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam paru-paru.
Ekspirasi adalah keluarnya karbon dioksida dari paru-paru ke atmosfer
dimana siklusnya terjadi terus-menerus.

e. Temperature
Menggunakan sensor suhu yang berfungsi untuk mengetahui suhu tubuh
pasien, apakah suhu tubuh tidak melebihi atau kurang dari batas normal
suhu manusia

4. Aksesoris Patient Monitor


Aksesoris patient monitor tergantung dari parameter pengukuran yang ada

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 29


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

a. ECG

Gambar 3.23 Aksesoris ECG untuk Patient Monitor


b. Saturasi darah / SPO2

Gambar 3.24 Aksesoris SpO2 untuk dewasa, anak-anak, bayi


(kiri ke kanan)

c. NIBP

Gambar 3.25 Aksesoris NIBP untuk dewasa, anak-anak, bayi


(kiri ke kanan)

d. Temperature

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 30


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.26 Aksesoris Temperature untuk Kulit dan Rektal

5. Patient Monitor

Gambar 3.27 Patient Monitor AM1500

a. Inventaris Alat6

Nama alat : Patient Monitor


Merk : Analog Medical
Type : AM1500 Advance
Ruang : Lantai 6 Ruang Pemulihan IBS
ECG ECG Display Channel 3 or 7 channel

6 AM 1500 Advance Patient Monitor Users Manual

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 31


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Lead selection I ; II ; III ; V ; avR ; avL ; avF (5 lead


Heart Rate Measurement more)
15 ~ 300 bpm
and Alarm Range
Accuracy 1 -2 bpm
Input 3 or 5 lead ECG cable
QRS indicator Audible and visual (heart mark flashes)
Sweep speed 12.5 / 25 / 50 mm/s
Amplitude selection X1/4, X1/2, X1, X2, AUTO
Defibrillation protection Tested with 5kV

Measurement method Impedance method


Respiration Rate 0 ~ 120 bpm 2 bpm
Respirasi Measurement
Waveform and Alarm
speed 6.25, 12.5, 25 mm/s
Update time Approx 2 second
Accuracy 1 bpm
Rate measurement and 0 ~ 100% Adult, Child, Neonate
alarm range
Accuracy
90 ~ 100% 1%
70 ~ 89% 2%
SpO2 40 ~ 69% 5%
Pulse rate 0 ~ 256 bpm
Accuracy 3 bpm
Update time Approx 1 second
Pulse rate alarm limit 0 ~ 240 bpm
Method Automatic oscilloscope
Parameter SYS, DIA, MAP, Pulse Rate
Operation mode Manual / Cycle / Quick
Repeat cycle 3, 5, 10, 30, 45, 60 minutes
Measurement and alarm range
Systolic Adult / Pediatric 30 ~ 254 mmHg, Neonate
NIBP Diastolic 30~135 mmHg 10 ~ 220 mmHg, Neonate
Adult / Pediatric
Cuff pressure range 10~110/ Pediatric
Adult mmHg 0 ~ 300 mmHg, Neonate
Measurement time 0~150 mmHg
Typical measurement time is 25 second,
Pressure display accuracy max 40 second
1 mmHg
BP pulse rate accuracy 3 bpm at 40~200 bpm, 5 bpm at 240
Manset standar bpm
Manset Dewasa
Optional Manset Neonate, Bayi, Anak, Dewasa Extra
Channel Large
2 Channel
Measuremet and alarm 0 ~ 50 C
range
Probe Skin surface
Temperature
Unit Celcius
Accuracy 0.1 C
Update time Approx 1 second
Display Color TFT
Size 15"
Display
Matrix / Resolution 1024 (H) x 768 (V) pixels
Display Channel 6 or 8

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 32


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Input power supply voltage AC 100-240 22 VAC, 50/60 1 Hz


Power Supply Input power < 80 VA
Requirement Battery capacity 12V / 4 AH, Charging time > 12 hours
Batter backup working > 1.5 hours
time
Type Thermal Recorder
Recorder Printing mode Real time, manual single triggered, and
alarm triggered printing of waveform and
Printing channel 3 channel
Physical Net weight 8.5 kg
Spesification Dimension 48.5 X 29X 43.2 cm

Tabel 3.3 Spesifikasi Alat Patient Monitor Analog Medical AM1500

b. Bagian Bagian Alat


1) Tampak depan
1

13

14

15

12 16

10

11 9 8 7 6 5 41 3 2
Gambar 3.28 Bagian Patient Monitor Tampak Depan

Keterangan :

1. Indikator lampu alarm 10. Indikator power alat


2. Trim knop Hijau : Menggunakan sumber AC
3. Menu utama Jingga : Menggunakan sumber baterai
4. Pengukuran NIBP 11. Tombol Power
5. Mematikan bunyi alarm 12. Indikator nilai NIBP
6. Menghentikan gerakan 13. Indikator nilai ECG (bpm)

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 33


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

secara sementara 14. Indikator nilai saturasi (SpO2)


7. Merekam / printing 15. Indikator nilai temperature
8. Kembali ke menu utama 16. Indikator nilai respirasi
9. Indikator pengisian
baterai

2) Tampak kiri

Gambar 3.29 Bagian Patient Monitor Tampak Kiri

Keterangan :

1. Soket CO2
2. Soket ICG
3. Soket SPO2
4. Soket ECG
5. Soket IBP1 dan IBP2
6. Soket NIBP
7. Soket TEMP1 dan TEMP2

3) Tampak kanan

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 34


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.30 Bagian Patient Monitor Tampak Kanan

Keterangan :

1. Soket Input AC
2. Potential equalization conductor terminal
3. Auxiliary output connector
4. Soket USB
5. Konektor network
6. Soket sinkronisasi untuk defibrillator
c. Fungsi Alat
1) Memonitoring kondisi fisiologis pasien secara real time dan continue
2) Mengukur tanda-tanda vital pasien seperti suhu tubuh, tekanan darah,
frekuensi pernafasan, frekuensi nadi, dan kadar oksigen dalam tubuh

d. Blok Diagram

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 35


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Gambar 3.31 Blok Diagram Patient Monitor

1) Power supply board


Sebagai pemberi catu daya agar alat dapat digunakan.

2) LCD display
Menghasilkan gambar bagi tampilan sinyal-sinyal hasil pengukuran yang
telah diolah dan didapatkan dari main prosessor board.

3) Main prosessor board


Sebagai pengendali program kerja alat dan mengolah sinyal-sinyal hasil
pengukuran setiap parameter yang akan ditampilkan pada LCD/display.

4) LCD display prosessor


Sebagai pengendali display setiap parameter yang telah diolah pada main
prosessor board.

5) Keypad
Untuk mengetik dan mengisi data-data pasien yang sedang diperiksa dan

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 36


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

memberikan perintah-perintah untuk melakukan program yang akan


dilakukan.

6) Main connector board

Terdiri dari 3 fungsi blok yaitu :

a) ECG / Defibrillator

b) Auxilary port, dengan 3 daerah operasi utama :

(1) Input channel (2 pressure dan 2 temperatur)

(2) Control dan A/D konversi dari front panel

(3) Input channel yaitu ECG, NIBP, SpO2, dan temperature.

c) Expansion and docking port

7) Printer

Untuk mencetak hasil pemeriksaan yang telah dideteksi oleh patient


monitor.

e. Standar Operasional Prosedur

1) Lepaskan penutup debu dari alat.


2) Siapkan aksesoris dan pasang sesuai dengan kebutuhan.
3) Hubungkan alat ke sumber PLN.
4) Hidupkan alat dengan menekan tombol ON/OFF.
5) Set rentang nilai (range) untuk temperatur, pulse, dan alarm.
6) Perhatikan protap/tata cara pelayanan.
7) Beritahukan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 37


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

8) Hubungkan elektroda ECG, probe temperatur, manset NIBP/tekanan


darah, dan sensor finger SPO2 ke pasien dan pastikan sudah terhubung
dengan baik.
9) Lakukan monitoring secara terkontrol.
10) Lakukan pemantauan display terhadap heart rate, ECG wave form, pulse,
temperatur, saturasi oksigen (SpO2), dan NiBP/tekanan darah.
11) Setelah pengoperasian selesai matikan alat dengan menekan tombol
ON/OFF.
12) Lepaskan hubungan alat dari catu daya.
13) Lepaskan semua parameter pada pasien dan bersihkan kembali lalu
simpan pada tempat yang aman dan bersih.
14) Pastikan bahwa Bedside Monitor dalam kondisi baik dan siap
difungsikan lagi.
15) Pasangkan kembali penutup debu.
16) Simpan alat dan aksesoris ke tempat semula.

f. Pemantauan Fisik Patient Monitor


Secara umum, pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk peralatan patient
monitor adalah :

No Tidak No Tidak
Pemeriksaan Baik Pemeriksaan Baik
. Baik . Baik
1. Selungkup 9. Electrode
Kotak
2. 10. Control
kontak
3. Pembumian 11. Battery/charger
Kabel daya Indikator/displa
4. 12.
y
5. Saklar 13. Kalibrasi
6. Sekering 14. Alarm
Patient
7. 15. Aksesoris
cables
8. Connector 16. Kebersihan alat

Tabel 3.4 Pemantauan Fisik Patient Monitor

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 38


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

g. Kalibrasi Patient Monitor


1) Alat Ukur Kalibrasi

No Gambar Alat
Nama Alat
.

1. NIBP Stimulator

Gambar 3.32 NIBP Stimulator

2. ECG Stimulator

3. SpO2 Stimulator

Gambar 3.33 Patient Stimulator

2) Kalibrasi Heart Rate (BPM)

No Penunjukan Alat Penyimpangan


Penunjukan Standar I II III
. yang diijinkan
1. 30 5% / 5 BPM
2. 60 5% / 5 BPM
3. 120 5% / 5 BPM
4. 240 5% / 5 BPM

3) Kalibrasi Saturasi Oksigen (%)


No. Penunjukan Standar Penunjukan Alat Penyimpangan

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 39


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

I II III yang diijinkan


1. 90 1% SpO2
2. 92 1% SpO2
3. 94 1% SpO2
4. 96 1% SpO2
5. 98 1% SpO2
6. 100 1% SpO2

4) Kalibrasi Blood Pressure


No Penunjukan Alat Penyimpangan
Penunjukan Standar I II III
. yang diijinkan
Systol 60 5 mmHg
1. MAP 40 5 mmHg
Diastole 30 5 mmHg
Systol 80 5 mmHg
2. MAP 60 5 mmHg
Diastole 50 5 mmHg
Systol 100 5 mmHg
3. MAP 76/77 5 mmHg
Diastole 65 5 mmHg
Systol 120 5 mmHg
4. MAP 93 5 mmHg
Diastole 80 5 mmHg
Systol 150 5 mmHg
5. MAP 116/117 5 mmHg
Diastole 100 5 mmHg
Systol 200 5 mmHg
166/16
6. MAP 5 mmHg
7
Diastole 150 5 mmHg
h. Kerusakan Alat
Selama penulis melakukan praktek kerja lapangan di RSUP Fatmawati,
penulis menemui beberapa masalah pada alat patient monitor AM1500.
Masalah yang ditemui antara lain :

1) Konektor ECG ke patient monitor rusak sehingga tidak dapat mendeteksi


detak jantung pasien.
2) Manset pengukuran NIBP bocor sehingga pengukuran tidak akurat.
3) Finger sensor goyah atau rusak sehingga pengukuran saturasi darah tidak
akurat atau tidak dapat dideteksi.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 40


Laporan Praktek Kerja Lapangan RSUP Fatmawati

Bab III : Pembahasan Alat

Dengan berbagai masalah yang penulis temui, penulis akan membahas tata
cara perbaikan dimana finger sensor tidak dapat mendeteksi :
1) Kabel trunk dan finger sensornya dalam keadaan baik dan tidak putus.
2) Pastikan sensor infrared nya menyala. Jika lampu tidak berkedip artinya
LED nya rusak atau tidak ada output frekuensi.
3) Pastikan konektor dari finger sensor ke patient monitor cocok dan
terpasang dengan baik.
4) Lakukan pengukuran dengan SpO2 analyzer untuk menentukan apakah
pengukuran alat akurat atau tidak.
5) Apabila semuanya sudah baik, maka lakukan penggantian aksesoris SpO2
dengan yang baru karena sensor sudah rusak atau habis masa pakainya.

Program DIV Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II| 41

Anda mungkin juga menyukai