Anda di halaman 1dari 17

REFERAT September, 2017

POLIDAKTILI

Nama : Nur Safriyanti

No. Stambuk : N 111 16 037

Pembimbing : dr. Kartin Akune, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU, 2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

Polidaktili atau polidaktilisme (berasal dari bahasa Yunani kuno


(polus) yang artinya banyak dan (daktulos) yang artinya jari, juga
dikenal sebagai hiperdaktilisme, yaitu anomali kongenital pada manusia dengan
jumlah jari tangan atau kaki yang berlebihan. Kelainan ekstremitas kongenital
bervariasi dari kelainan yang hampir tak terlihat hingga tidak adanya ekstremitas
Polidaktili merupakan kelainan kongenital kedua tersering pada tangan
setelah sindaktili. Dilaporkan dari seluruh negara di dunia. Tidak ada ras yang
kebal, namun preferensi ras pasti. Pada kulit hitam, insidensinya sekitar 1:300,
dan pada kulit putih 1:3000. Frekuensi polidaktili 10 kali lebih sering pada ras
kulit hitam daripada kulit putih. Pada kulit hitam, duplikasi jari kelingking 10 kali
lebih sering daripada ibu jari, sedangkan pada kulit putih dan Oriental, duplikasi
ibu jari paling sering terjadi pada polidaktili. Insidensi polidaktili ibu jari
0,08:1000 kelahiran hidup pada kedua ras (Tabel 2-7). Hal ini lebih sering terjadi
pada Indian-American. Jari cadangan lebih sering terjadi pada laki- laki.
Polidaktili dapat terjadi sebagai sifat terisolasi atau dalam hubungannya
dengan sindrom tertentu, dan ada riwayat keluarga yang positif dalam 30% kasus.
Sindrom dengan yang polidaktili telah dikaitkan termasuk Ellis-van Creveld
syndrome, [16, 17] trisomi 13, hemimelia tibialis, dan trisomi 21. Polidaktili
adalah bilateral di 50% kasus dan memiliki kecenderungan laki-laki sedikit.
Polidaktili Postaxial (ray lateral) adalah polidaktili paling umum, yang
terjadi pada 80% kasus, diikuti oleh polidaktili preaxial (medial) dan kemudian
polidaktili pusat. Duplikasi dapat berkisar dari well-formed digit diartikulasikan
ke angka yang belum sempurna. Kelainan metatarsal terkait umumnya terjadi
pada polidaktili.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Polidaktili adalah terjadinya duplikasi jari-jari tangan dan kaki


melebihi dari biasanya (Muttaqin, 2008). Kelainan dapat terjadi mulai dari
duplikasi yang berupa jaringan lunak sampai duplikasi yang di sertai dengan
metacarpal dan phalang sendiri.
Polidaktili berasal dari bahasa yunani kuno (Polus) "banyak" dan
(daktulos) "jari", juga dikenal sebagai hiperdaktili, adalah anomali
kongenital fisik jari tangan atau kaki. Polidaktili adalah kebalikan
dari oligodaktili (jari terlalu sedikit atau kaki). Polidaktili merupakan
kelainan pertumbuhan jari sehingga jumlah jari pada tangan atau kaki lebih
dari lima. Dikenal juga dengan nama hiperdaktili. Bila jumlah jarinya enam
disebut seksdaktili, dan bila tujuh disebut heksadaktili. Polidaktili terjadi
pada 1 dari 1.000 kelahiran.
Polidaktili adalah suatu kelainan yang diwariskan oleh gen
autosomal dominan P, yang di maksud dengan sifat autosomal ialah sifat
keturunan yang ditentukan oleh gen pada autosom. Gen ini ada yang
dominan dan ada pula yang resesif. Oleh karena laki-laki dan perempuan
mempunyai autosom yang sama, maka sifat keturunan yang ditentukan oleh
gen autosomal dapat dijumpai pada laki-laki maupun perempuan. Sehingga
orang bisa mempunyai tambahan jari pada kedua tangan atau kakinya
Jari-jari yang lebih dari 5 pada manusia adalah suatu
ketidaknormalan, dan polidaktili merupakan istilah yang digunakan untuk
menyatakan duplikasi jari. Pada polidaktili, biasanya terdapat 6 jari pada
setiap jari tangan,terkadang bisa lebih seperti 7 atau 8 jari. Yang umum
dijumpai ialah terdapatnya jari tambahan pada satu atau kedua tangannya.

3
Tempatnya jari tambahan itu berbeda-beda, ada yang terdapat didekat ibu
jari dan ada pula yang terdapat didekat jari kelingking.
Orang normal adalah homozigotik resesif pp. pada individu
heterozigotik Pp derajat ekspresi gen dominan itu dapat berbeda-beda,
sehingga lokasi tambahan jari dapat bervariasi. Bila seorang laki-laki
polidaktili heterizigotik menikah dengan orang perempuan normal, maka
dalam keturunan kemungkinan timbulnya polidaktili ialah 50% .

2.2 Etiologi

Etiologi dari polidaktili adalah


a. Kegagalan pembentukan bagian,
b. Kegagalan diferensiasi,
c. Duplikasi berlebih
d. Sindrom penyempitan pita kongenital,
e. Kelainan tulang umum.
f. Keturunan
g. Cacat genetik
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya polidaktili
antara lain :
a. Kelainan Genetik dan Kromosom
Diturunkan secara genetik (autosomal dominan). Jika salah satu
pasangan suami istri memiliki polidaktili, kemungkinan 50% anaknya
juga polidaktili. Kelainan genetik pada ayah atau ibu kemungkinan
besar akan berpengaruh atas polidaktili pada anaknya. Di antara
kelainan-kelainan ini ada yang mengikuti hukum Mendel biasa, tetapi
dapat pula diwarisi oleh bayi yang bersangkutan sebagai unsur dominan
("dominant traits") atau kadang-kadang sebagai unsur resesif.
Penyelidikan daIam hal ini sering sukar, tetapi adanya kelainan
kongenital yang sama dalam satu keturunan dapat membantu langkah-
langkah selanjutya.

4
b. Faktor Teratogenik
Teratogenik (teratogenesis) adalah istilah medis yang berasal dari
bahasa Yunani yang berarti membuat monster. Dalam istilah medis,
teratogenik berarti terjadinya perkembangan tidak normal dari sel
selama kehamilan yang menyebabkan kerusakan pada embrio sehingga
pembentukan organ-organ berlangsung tidak sempurna (terjadi cacat
lahir). Di dalam Keputusan Menteri Pertanian nomor 434.1 (2001),
teratogenik adalah sifat bahan kimia yang dapat menghasilkan
kecacatan tubuh pada kelahiran.
Teratogenik adalah perubahan formasi dari sel, jaringan, dan organ
yang dihasilkan dari perubahan fisiologi dan biokimia. Senyawa
teratogen akan berefek teratogenik pada suatu organisme, bila diberikan
pada saat organogenesis. Apabila teratogen diberikan setelah
terbentuknya sel jaringan, sistem fisiologis dan sistem biokimia, maka
efek teratogenik tidak akan terjadi. Teratogenesis merupakan
pembentukan cacat bawaan. Malformasi (kelainan bentuk) janin disebut
terata, sedangkan zat kimia yang menimbulkan terata disebut zat
teratogen atau teratogenik.
Perubahan yang disebabkan teratogen meliputi perubahan dalam
pembentukan sel, jaringan dan organ sehingga menyebabkan perubahan
fisiologi dan biokimia yang terjadi pada fase organogenesis. Umumnya
bahan teratogenik dibagi menjadi 3 kelas berdasarkan golongan nya
yakni bahan teratogenik fisik, kimia dan biologis.
1. Faktor teratogenik fisik

Bahan tertogenik fisik adalah bahan yang bersifat teratogen


dari unsur-unsur fisik misalnya Radiasi nuklir, sinar gamma dan
sinar X (sinar rontgen). Bila ibu terkena radiasi nuklir (misal pada
tragedi chernobil) atau terpajan dengan agen fisik tersebut, maka
janin akan lahir dengan berbagai kecacatan fisik. Tidak ada tipe
kecacatan fisik tertentu pada paparan ibu hamil dengan radiasi,
karena agen teratogenik ini sifatnya tidak spesifik karena

5
mengganggu berbagai macam organ. Dalam menghindari terpaaan
agen teratogen fisik, maka ibu sebaiknya menghindari melakukan
foto rontgen apabila ibu sedang hamil. Foto rontgen yang terlalu
sering dan berulang pada kehamilan kurang dari 12 minggu dapat
memberikan gangguan berupa kecacatan lahir pada janin.
2. Faktor teratogenik kimia
Bahan teratogenik kimia adalah bahan yang berupa
senyawa senyawa kimia yang bila masuk dalam tubuh ibu pada
saat saat kritis pembentukan organ tubuh janin dapat menyebabkan
gangguan pada proses tersebut. Kebanyakan bahan teratogenik
adalah bahan kimia. Bahkan obat-obatan yang digunakan untuk
mengobati beberapa penyakit tertentu juga memiliki efek
teratogenik.
Alkohol merupakan bahan kimia teratogenik yang umum
terjadi terutama di negara-negara yang konsumi alkohol tinggi.
Konsumsi alkohol pada ibu hamil selama kehamilannya terutama
di trisemester pertama, dapat menimbulkan kecacatan fisik pada
anak dan terjadinya kelainan yang dikenal dengan fetal alkoholic
syndrome . Konsumsi alkohol ibu dapat turut masuk kedalam
plasenta dan memperngaruhi janin sehingga pertumbuhan otak
terganggu dan terjadi penurunan kecerdasan/retardasi mental.
Alkohol juga dapat menimbulkan bayi mengalami berbagai
kelainan bentuk muka, tubuh dan anggota gerak bayi begitu ia
dilahirkan. Obat-obatan untuk kemoterapi kanker umumnya juga
bersifat teratogenik. Beberapa polutan lingkungan seperti gas CO,
senyawa karbon dan berbagai senyawa polimer dalam lingkungan
juga dapat menimbulkan efek teratogenik.
3. Faktor teratogenik biologis
Agen teratogenik biologis adalah agen yang paling umum
dikenal oleh ibu hamil. Istilah TORCH atau toksoplasma, rubella,
cytomegalo virus dan herpes merupakan agen teratogenik biologis

6
yang umum dihadapi oleh ibu hamil dalam masyarakat. Infeksi
TORCH dapat menimbulkan berbagai kecacatan lahir dan bahkan
abortus sampai kematian janin. Selain itu, beberapa infeksi virus
dan bakteri lain seperti penyakit sifilis/raja singa juga dapat
memberikan efek teratogenik
2.3 Klasifikasi polidaktili

Jari tambahan paling sering didapatkan pada sisi ulnar (polidaktili


postaxial), lebih jarang pada sisi radial (polidaktili preaxial), dan sangat
jarang pada jari telunjuk, tengah, dan jari manis (polidaktili sentral).
Polidaktili campuran artinya polidaktili ulnar dan radial yang terjadi
bersamaan, sedangkan crossed polydactyly melibatkan tangan dan juga kaki.

Ada 3 derajat polidaktili, yaitu:


- Tipe 1: jari tambahan melekat pada kulit dan nervus.
- Tipe 2: jari tambahan dengan bagian normalnya melekat pada tulang
atau sendi.
- Tipe 3: jari tambahan dengan bagian normalnya berhubungan dengan os
metakarpal tambahan pada tangan. 5

7
Terdapat pula pembagian polidaktili berdasarkan patoanatomi ossealnya,
yaitu Klasifikasi Wassel sebagaimana terlihat pada gambar di bawah ini: 4

Polidaktili diklasifikasikan beberapa macam, yaitu:


a. Polidaktili postaxial
Meskipun salah satu dari 5 jari dapat berduplikasi, namun lebih
sering terjadi pada jari kelingking. Tipe gambaran duplikasi jari
kelingking bervariasi dari pertumbuhan kulit sampai pertumbuhan
lengkap jari kelingking tambahan dengan phalanx dan metacarpal.
Duplikasi jari-jari berdasarkan stelling dan turez, diklasifikasikan
menjadi 3 tipe, yaitu:
1. Pada tipe I terdapat tambahan soft-tissue mass tetapi tidak ada
pertumbuhan tulang tambahan pada tangan, sering tidak terdapat
tulang, sendi atau tendon, dan dihubungkan pada tangan oleh
narrow pedicle (Gambar 2-59A). Polidaktili tipe I terdiri dari
jaringan lunak yang terhubung dengan tulang. Sering kali tidak
terdapat tulang, kartilago dan tendon pada tipe ini.
Penatalaksanaannya adalah pengangkatan sederhana dari jaringan
lunak.

8
2. Pada tipe II, sebagian atau seluruh jari terduplikasi dengan tulang
normal, kartilago atau komponen otot, hal itu berhubungan dengan
pembesaran atau terpecah menjadi dua metakarpal atau
phalanx.Polidaktili tipe II terdiri dari duplikasi dari sebuah jari.
Tercatat bahwa jari ini terhubung dengan kepala metakarpal yang
melebar.
3. Pada tipe III, seluruh jari dengan metakarpal dan seluruh komponen
soft tissue terduplikasi, tetapi tipe ini jarang terjadi.Polidaktili
tipe III, jari tambahan sempurna dengan metakarpal dan semua
jaringan lunaknya sendiri. Penanganannya adalah dengan
pengangkatan sederhana dari seluruh jari dan metakarpal.
Polidaktili postaxial, terjadi karena kelainan anomali, adalah ciri
dominan ditandai dengan penetrasi pada beberapa famili dan variabel.
Temtamy dan Mc-Kusick membagi duplikasi jari kelingking menjadi
dua tipe. Pada tipe A, jari tambahan tumbuh penuh. Pada tipe B, jari
tambahan tumbuh tidak sempurna dan bercabang. Seeorang dengan
polidaktili tipe A dapat menghasilkan keturunan dengan polidaktili tipe
A atau B, sedangkan seseorang dengan polidaktili tipe B dapat
menghasilkan keturunan dengan hanya polidaktili tipe B. Pola genetik
tipe B masih rumit, dengan melibatkan satu atau dua gen dominan dan
faktor tidak tetap penetrasi.
Pada kulit hitam, duplikasi jari kelingking sering terjadi deformitas
terisolasi tanpa ada hubungan ketidaknormalan, sering terjadi bilateral.
Pada beberapa individu kedua tangan dan kedua kaki polidaktili,
meskipun pada yang lain dua atau tiga anggota badan yang terlibat.
Pada kulit putih, polidaktili postaxial, sering dihubungkan dengan
berbagai kelainan dan gejala, ketika ini terjadi sebagian gejala tidak
jarang dihubungkan sebagai sifat autosom resesif. Sebaliknya, duplikasi
ibu jari jarang sebagai bagian dari gejala. Polidaktili ibu jari dilihat
dalam dua tipe acrocephalopolysyndactyly tipe Noack, ditransmisikan
oleh turunan dominan, dan tipe Carpenter oleh turunan resesif.

9
Polidaktili ibu jari dapat timbul gejala seperti Fanconis dan Holt-Oram.
Kelainan regional yang paling sering dihubungkan dengan polidaktili
adalah sindaktili. Selain itu yang dapat terjadi ditangan antara lain
distrofi kuku, brachidaktili, tidak ada ibu jari, triphalangeal ibu jari dari
kontralateral tangan, dan kebalikan/cermin tangan.
Lebih dari 40 ketidaknormlan dilaporkan berhubungan dengan
polidaktili postaxial. Polidaktili postaxial juga sebagai bagian dari
variasi gejala dan ketidaknormalan kromosom. Ketika bayi kulit putih
lahir menunjukan duplikasi jari kelingking, keseluruhan anak harus
diperiksa secara seksama, dan diperlukan konsultasi genetik serta harus
diperoleh jalan keluar yang berhubungan dengan gejala, penyimpangan
kromosom, atau keabnormalan yang lain. Diagnosa yang tepat akan
mencegah keadaan buruk yang dapat terjadi kemudian.

b. Polidaktili preaxial (Duplikasi ibu jari)


Ibu jari tambahan merupakan tipe yang paling sering terjadi pada
polidaktili pada orang kulit putih. Insiensi deformitas pada orang kulit
hitam dan kulit putih adalah 0,08/1000. Hal tersebut bermanifestasi
menjadi bermacam macam bentuk, bertahap dari anyaman daging
kecil pada batas radial tangan menjadi triplikasi. Tahap penyatuan
tulang, Wassel mengklasifikasikan polidaktili ibu jari menjadi 7 tipe.
1. Tipe I, phalanx distal bercabang ( sangat jarang , 2 % ) ;
2. Tipe II, phalanx distal berduplikasi ( 15 % ) ;
3. Tipe III, phalanx proksimal bercabang tetapi phalanx distal
berduplikasi ( 6 % ) ;
4. Tipe IV sering terjadi ( 43 % ), baik phalanx proksimal maupun
phalanx distal berduplikasi ;
5. Tipe V ( 10 % ), metakarpal dari ibu jari bercabang, dan kedua
phalanx distal dan proksimal berduplikasi ;
6. Tipe VI ( 4 % ) metakarpal ibu jari dan kedua phalanx distal dan
proksimal berduplikasi ;

10
7. Tipe VII ( 20 % ) ibu jari hanya memiliki 3 ruas phalanx.

Polidaktil Preaxial
Polidaktili preaxial mungkin berhubungan dengan sindaktili, hal
tersebut dihubungkan dengan sifat autosomal dominan. Temtamy
menyebut bentuk polidaktili ini sebagai polisindaktili. Pada duplikasi
ibu jari, mungkin terjadi ketidaknormalan sirkulasi, dipenuhi oleh satu
atau dua arteri. Sering satu ibu jari dominan ketika yang lain gagl
tumbuh, kadang kadang, walaupun kedua ibi jari berukuran sama,
salah satu bisa mengikis. Biasanya terjadi keterlibatan unilateral. Pada
seri Universitas lowa ( dilaporkan Wessel ) keterlibatan bilateral
ditemukan 7 dari 70 pasien dengan duplikasi ibu jari, pada seri Barsky 1
dari 25 kasus terjadi bilateral, dan Handforth menemukan 11 dari 13
kasus unilateral.
Polidaktili ibu jari biasanya terjadi sporadik, walaupun bila
dihubungkan dengan triphalanx ibu jari terjadi karena famili. Polidaktili
preaxial mungkin dapat dihubungkan dengan ketidaknormalan vertebra,
tidak adanya tibia, celah langit langit mulut, dan imperforasi anus.
Hal ini dapat dilihat dari jumlah gejala, temuan klinis yang penting
seperti sindrom Down, pansitopenia Fanconi, dan
acrocephalosyndactyly.
Tipe terbanyak adalah tipe IV dimana kedua ruas proksimal dan
distal terduplikasi ( 43 % ). Pada tipe I ruas distalnya terbelah menjadi

11
dua, Ini adalah tipe paling jarang ( 2 % ). Pada tipe II ( 15 % ) ruas
distal terduplikasi. Di tipe III ( 6 % ) ruas distal terduplikasi dan ruas
proksimal terbelah menjadi 2. Pada tipe V ( 10 % ) metakarpal dari
jempol terbelah dan kedua ruasnya terduplikasi. Pada tipe VI ( 4 % )
kedua metakarpal jempol dan semua ruas proksimal dan distalnya
terduplikasi. Pada tipe VII triphalangeal pada jempol.

c. Polidaktili sentral
Duplikasi dari jari telunjuk, jari tengah dan jari manis
dihubungkan pada polidaktili sentral atau axial. Kelebihan jari tengah
dan jari manis sering disembunyikandalam jaringan antara penghubung
jari- jari yang normal (Gambar 2-63). Tendon, nervus,dan pembuluh
darah dari jari cadangan biasanya tidak normal, sebagai epifise
kelebihan jari. Epifise dari kelebihan jari biasanya tidak tumbuh normal
pada garis pertumbuhan.
Sebagai hasilnya phalanx bercabang dari axis longitudinal ke
penyimpangan ulna atau radial dan mengubah batas jari jari.
Duplikasi jari telunjuk jarang terjadi, disajikan ulang antara 3,5 % dari
semua kasus polidaktili. Ketidaknormalan ini sebaiknya tidak rancu
dengan triphalanx ibu jari.Kelebihan jari tengah dapat terdiri dari
percabangan soft-tissue mass atau terdapat tulang normal dan
komponen soft tissue. Hal ini dapat dihubungkan dengan sinostosis
radioulnar kongenital, dan duplikasi jari telunjuk dapat menyatu dengan
jari tengah.

2.4 Manifestasi Klinis

a. Ditemukan sejak lahir.


b. Dapat terjadi pada salah satu atau kedua jari tangan atau kaki.

12
c. Jari tambahan bisa melekat pada kulit ataupun saraf, bahkan dapat
melekat sampai ke tulang.
d. Jari tambahan bisa terdapat di jempol (paling sering) dan keempat jari
lainnya.
e. Dapat terjadi bersamaan dengan kelainan bawaan lainnya, walaupun
jarang.

2.5 Patofisiologi

Polidaktili, disebabkan kelainan kromosom pada waktu


pembentukan organ tubuh janin. Ini terjadi pada waktu ibu hamil muda atau
semester pertama pembentukan organ tubuh. Kemungkinan ibunya banyak
mengonsumsi makanan mengandung bahan pengawet. Atau ada unsur
teraogenik yang menyebabkan gangguan pertumbuhan. Kelebihan jumlah
jari bukan masalah selain kelainan bentuk tubuh. Namun demikian,
sebaiknya diperiksa kondisi jantung dan paru bayi, karena mungkin terjadi
multiple anomali.
Orang normalnya adalah yang memiliki homozigotik resesif pp.
Pada individu heterozigotik Pp derajat ekspresi gen dominan itu dapat
berbeda-beda sehingga lokasi tambahan jari dapat bervariasi. Bila seorang
laki-laki polidaktili heterozigotik menikah dengan perempuan normal, maka
dalam keturunan kemungkinan timbulnya polidaktili adalah 50% (teori
mendel). Ayah polidaktili (heterozigot) Pp x, ibu normal homozigot (pp)
maka anaknya polidaktili (heterozigot Pp) 50%, normal (homozigot pp)
50%.
2.6 Penatalaksanaan

a. Tindakan pembedahan untuk mengangkat jari tambahan biasanya


dilakukan untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul akibat jari

13
tambahan tersebut. Pengangkatan jari tambahan di jempol kaki
merupakan prosedur tersering karena implikasi kosmetik dan
kenyamanan saat memakai sepatu. Operasi pembuangan jari yang
berlebihan, terutama bila jari tersebut tidak berkembang dan tidak
berfungsi normal. Bila jari berlebihan hanya berupa gumpalan daging,
biasanya tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, tapi
mungkin anak menjadi malu atau minder.
b. Pemeriksaan rontgen mungkin diperlukan untuk menentukan apakah
jari tambahan mengandung struktur tulang, dan untuk menentukan
perubahan yang dapat terjadi saat operasi.
2.7 Prognosis

Kebanyakan pasien memiliki hasil keluaran yang baik hingga


sempurna. Tindakan yang hati-hati menentukan keluaran yang baik dalam
hal kosmetik dan fungsional. Potensi pertumbuhan dari jari yang
direkonstruksi masih belum diketahui. Pengukuran lebar kuku, lingkaran
dan panjang jari, menunjukkan potensi pertumbuhan jari yang tersisa setelah
eksisi jari yang hipoplasti. Namun, jari hipoplastik ini telah mengganggu
sehingga meskipun pembedahan dilakukan sejak dini, pertumbuhan jari
normal tidak akan pernah tercapai.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Polidaktili merupakan kelainan pertumbuhan jari sehingga


jumlah jari pada tangan atau kaki lebih dari lima. Orang normalnya
adalah yang memiliki homozigotik resesif pp. Polidaktili juga dikenal
sebagai Hyperdaktili, bisa terjadi ditangan atau dikaki manusia
ataupun hewan. Tempat jari tambahan tersebut berbeda-beda ada yang
di dekat ibu jari dan ada pula yang berada di dekat jari kelingking.
Polidaktili terjadi pada 1 dari 1.000 kelahiran. Penyebabnya bisa
karena kelainan genetika atau faktor keturunan, sehingga kelainan ini
tidak dapat dilakukan pencegahan. Bentuknya bisa berupa gumpalan
daging, jaringan lunak, atau sebuah jari lengkap dengan kuku dan
ruas-ruas yang berfungsi normal. Tapi, umumnya hanya berupa
tonjolan daging kecil atau gumpalan daging bertulang yang tumbuh di

15
sisi luar ibu jari atau jari kelingking. Kelebihan jari pada sisi ibu jari
lebih banyak dari pada sisi jari kelingking.

DAFTAR PUSTAKA

1. Choi M, Sharma S, Louie O. Congenital hand abnormalities. In:Thorne CH,


editor. Grab and Smiths Plastic Surgery. 6th ed. USA (PA): Lippincott
Williams & Wilkins; 2007. p. 856-7.
2. University of Maryland Medical Center. Polidaktili-overview. [Online].
2009 [cited Desember 2015]; Available from:
URL:http://www.umm.edu/ency/article /003176.htm
3. Choi M, Sharma S, Louie O. Congenital hand abnormalities. In:Thorne CH,
editor. Grab and Smiths Plastic Surgery. 6th ed. USA (PA): Lippincott
Williams & Wilkins; 2007. p. 860-1.
4. Kryger ZB, Sisco M. Practical plastic surgery. USA: Landes Bioscience;
2007. p. 462-7.
5. Hansen JT, Lambert DR. Netters clinical anatomy. USA: Medimedia; 2005.
p. 435, 435, 438, 445,496, 501

16
6. Datu AR. Diktat muskuloskeletal bagian anatomi universitas hasanuddin.
Makassar: Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin;
2002. p.15-7, 89-91

17

Anda mungkin juga menyukai