Anda di halaman 1dari 18

TUGAS 1 EKSTRAKSI METALURGI

DASAR-DASAR EKSTRAKSI METELURGI


(TERMODINAMIKA, TERMOKIMIA, DAN GAS IDEAL)

Dosen Pengampuh:

Ir. A. Taufik Arief, M.S.

Dibuat sebagai Tugas Mata Kuliah Ekstraksi Metalurgi pada


Jurusan Teknik Pertambangan

Oleh:

HADI ISMAIL (03021181419034)

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SRIIWIJAYA

2017
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam dunia industri manusia akan melakukan sesuatu hal yang bermanfaat
dari suatu mineral, dan berupaya agar mineral tersebut dapat dijadikan sesuatu
yang sangat berharga dan berguna bagi kehidupan. Adapun kegiatan ini kerap
disebut metalurgi. Metalurgi adalah ilmu, seni, dan teknologi yang mengkaji
proses pengolahan dan perekayasaan mineral dan logam. Ruang lingkup
metalurgi meliputi:pengolahan mineral (mineral dressing) ekstraksi logam dari
konsentrat mineral (extractive metallurgy) proses produksi logam (mechanical
metallurgy) perekayasaan sifat fisik logam (physical metallurgy)

Sejarah ilmu metalurgi diawali dengan teknologi pengolahan hasil


pertambangan. Berdasar kedekatan antara metalurgi dengan pertambangan inilah
maka pada awalnya pendidikan metalurgi lahir dari sekolah-sekolah
pertambangan seperti pendidikan metalurgi di Colorado School of Mines.

Pada saat ini pendidikan metalurgi sudah sedemkian luas sehingga beberapa
perguruan tinggi mengkhususkan penekanan pada cabang-cabang ilmu
metalurgi.

1. Cabang pengolahan mineral dan metalurgi ekstraksi biasanya sangat


ditekankan pada pendidikan metalurgi di jurusan Teknik Pertambangan.
2. Cabang metalurgi mekanik biasanya sangat ditekankan pada pendidikan
metalurgi di jurusan Teknik Mesin dan Teknik Industri.
3. Cabang metalurgi fisik biasanya diajarkan secara merata di berbagai
perguruan tinggi sebagai fundamen dari ilmu logam.
Perkembangan persoalan ilmiah dan teknis saat ini yang memerlukan
pemecahan multidisiplin mengharuskan adanya pertemuan antara berbagai
disiplin ilmu yang berbeda. Dalam hal ini seorang metalurgis (ilmuwan dan
pekerja metalurgi) berada di tengah-tengah pertemuan ilmu-ilmu tersebut.
Metalurgi beririsan dengan beberapa aspek ilmu kimia, teknik kimia, fisika,
teknik fisika, teknik mesin, pertambangan, lingkungan, dll.

Adapun salah satu jenis industri yang menggunakan prinsip metalurgi


adalah dalam pengolahan nikel. Termasuk pengolahan nikel secara langsung dan
secara tidak langsung. Pemanfaatan logam nikel secara langsung misalnya untuk
pembuatan peralatan laboratorium kimia dan fisika, anoda pada batre dan
penyimpanan listrik jenis Edison. Secara tak langsung digunakan sebagai :
pembuatan mesin berat, rel kereta api, paduan nikel bukan besi (non ferous
alloys) misalnya paduan nikel silver untuk peralatan listrik, telepon dan alat
kedokteran gigi.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana dasar-dasar fisika (termodinamika) dalam ekstraksi metalurgi?
2. Bagaimana dasar-dasar kimia (termokimia) dalam proses ekstraksi metalurgi?
3. Bagaimana dasar-dasar gas ideal dalam proses ekstraksi metalurgi?

1.3. Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
1. Mempelajari dasar-dasar fisika (termodinamika) dalam ekstraksi metalurgi.
2. Mempelajari proses dasar-dasar kimia (termokimia) dalam proses ekstraksi
metalurgi.
3. Mempelajari dasar-dasar gas ideal dalam proses ekstraksi metalurgi.
1.4. Manfaat
Manfaat dalam pembuatan makalah ini adalah dapat menambah wawasan
mengenai ekstraksi metalurgi terutama mengenai termodinamika, termokimia, dan gas
ideal dalam proses ekstraksi metalurgi.
BAB 2

PEMBAHASAN

Untuk menghasilkan logam dari bijihnya, diperlukan suatu proses ekstraksi


metalurgi. Karena di alam bijih logam umumnya dalam bentuk oksida dan sulfida,
maka untuk menghasilkan logam diperlukan reaksi reduksi dan oksidasi. Pada proses
metalurgi juga terdapat sifat fisika dan kimia. Dasar Fisika Kimia Metalurgi dapat
didefinisikan juga yaitu sebagai ilmu dan teknologi untuk memperoleh sampai
pengolahan logam yang mencakup tahapan dari pengolahan bijih mineral,pemerolehan
(ekstraksi) logam, sampai ke pengolahannya untuk menyesuaikan sifat-sifat dan
perilakunya sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam pemakaian untuk pembuatan
produk rekayasa tertentu.
Berdasarkan tahapan rangkaian kegiatannya, metalurgi dibedakan menjadi tiga
jenis, yaitu metalurgi ekstraksi, metalurgi kimia dan metalurgi fisika. Metalurgi
ekstraksi yang banyak melibatkan proses-proses kimia, baik yang temperatur rendah
dengan cara pelindian maupun pada temperatur tinggi dengan cara proses peleburan
utuk menghasilkan logam dengan kemurnian tertentu, dinamakan juga metalurgi kimia.
Meskipun sesungguhnya metalurgi kimia itu sendiri mempunyai pengertian yang luas,
antara lain mencakup juga pemaduan logam denagn logam lain atau logam dengan
bahan bukan logam.
Metalurgi kimia Metalurgi kimia merupakan proses metalurgi yang banyak
melibatkan proses-proses kimia, baik yang temperatur rendah dengan cara pelindian
maupun pada temperatur tinggi dengan cara proses peleburan utuk menghasilkan
logam dengan kemurnian tertentu, dinamakan juga metalurgi kimia. Beberapa aspek
perusakan logam (korosi) dan cara-cara penanggulangannya, pelapisan logam secara
elektrolit,dll. Metalugi Fisika Metalurgi fisika adalah pengetahuan-pengetahuan
mengenai fisika dari logam-logam dan paduan-paduan umpamanya tentang sifat-sifat
mekanik, sifat-sifat teknologi serta pengubahan-pengubahan sifat-sifat tersebut yang
umumnya menyangkut segi-segi pengembangan atau development, pada penggunaan
dan pengolahan atau teknologi logam-logam dan paduan-paduan.
Adapun proses-proses dari ekstraksi metalurgi / ekstraksi logam itu sendiri antara
lain adalah pyrometalurgy (proses ekstraksi yang dilakukan pada temperatur tinggi),
hydrometalurgy(proses ekstraksi yang dilakukan pada temperatur yang relatif rendah
dengan cara pelindian dengan media cairan), dan electrometalurgy (proses ekstraksi
yang melibatkan penerapan prinsip elektrokimia, baik pada temperatur rendah maupun
pada temperatur tinggi).

2.1. Termodinamika dalam Ekstraksi Metalurgi

Termodinamika berasal dari bahasa Yunani dimana Thermos yang artinya


panas dan Dynamic yang artinya perubahan. Termodinamika adalah suatu ilmu yang
menggambarkan usaha untuk mengubah kalor (perpindahan energi yang disebabkan
perbedaan suhu) menjadi energi serta sifat-sifat pendukungnya. Termodinamika
berhubungan erat dengan fisika energi, panas, kerja, entropi dan kespontanan proses.
Termodinamika juga berhubungan dengan mekanika statik. Cabang ilmu fisika ini
mempelajari suatu pertukaran energi dalam bentuk kalor dan kerja, sistem pembatas
dan lingkungan. Aplikasi dan penerapan termodinamika bisa terjadi pada tubuh
manusia, peristiwa meniup kopi panas, perkakas elektronik, Refrigerator, mobil,
pembangkit listrik dan industri.
Termodinamika proses metalurgi termasuk Termodinamika metalurgi dan berbagai
proses metalurgi terkait interaksi antara sistem. Untuk pembuatan baja, yang terlibat
termasuk sistem terak metalurgi, baja cair, tahan api, fluks metalurgi dan gas, dan
pendinginan yang dihasilkan inklusi baja cair. Untuk proses metalurgi, termasuk
pembakaran, meniup oksidasi, pemurnian oksidasi dan terak - baja antara berbagai
reaksi. Ketika mempelajari blast furnace, sistem metalurgi diperluas untuk bijih besi,
kokas dan besi cair, proses metalurgi meningkatkan solusi kue, sintering, sistem
pelletizing, mengurangi peleburan dan slag - beberapa reaksi antara besi. Ketika
mempelajari metalurgi non-ferrous, sistem metalurgi meleleh diperluas untuk matte,
terak kuning, garam cair, dan garam dan sistem pelarut organik dan resin pertukaran
ion, proses pemanggangan metalurgi Sejalan meningkat, membuat matte peleburan,
klorida, pencucian, curah hujan , elektrolisis, ekstraksi pelarut dan pertukaran ion.
Jelas, studi tentang sistem yang kompleks termodinamika metalurgi dan berbagai
proses metalurgi interaksi antara sistem yang relevan adalah tugas kompleks sangat
sulit.

Dari sudut pandang termodinamika, isi metalurgi termodinamika hukum aksi


massa dapat dibagi lagi, energi bebas, entalpi, entropi, aktivitas, persamaan Gibbs-
Duhem, kelarutan, koefisien partisi, diagram fasa dan sebagainya. Pirometalurgi,
entalpi bebas - diagram suhu (juga dikenal sebagai potensi diagram oksigen atau
Elligham-Richard-son gambar) menunjukkan serangkaian senyawa logam entalpi
bebas standar dan ketergantungan suhu, yang dapat menambah stabilitas relatif berbeda
membuat perbandingan kuantitatif, dan digunakan untuk menghitung konstanta
kesetimbangan untuk reaksi metalurgi. Untuk hidrometalurgi, diagram Potensi-pH
(juga dikenal sebagai diagram Pourbaix) menunjukkan berbagai logam padat dan
terlarut dalam larutan senyawa dari kesetimbangan termodinamika, dapat memberikan
gas fase keseimbangan zat terlarut. Angka pada logam bawah mengingat kondisi
pencucian atau erosi memiliki referensi tertentu dan nilai aplikasi.

Penerapan dalam reaksi metalurgi dapat dilakukan untuk membuat lebih lengkap
dan dilakukan, dari sudut pandang termodinamika pandang dapat menggunakan
metode berikut:

a. Pilih kondisi reaksi yang sesuai, entalpi bebas standar variabel menjadi
lebih negatif sejauh mungkin,
b. Meningkatkan reaksi kegiatan substansi,
c. Mengurangi aktivitas dari produk reaksi. Tugas Metalurgi pekerja adalah
untuk berlatih dalam penggunaan pandai produksi prinsip-prinsip ini dalam
rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan tertentu.

Di Hall (CMHall) aluminium metode elektrolit ditemukan sebelum Cowles


bersaudara (Cowles) lebih dulu menemukan metode pengurangan karbon untuk
mempersiapkan paduan tembaga, pada penerapan termodinamika metalurgi atas.
Tinggi karbon ferrochrome peleburan baja karbon sebagai bahan baku, dan didasarkan
pada termodinamika metalurgi, suhu digunakan untuk meningkatkan metalurgi bertiup
argon dicampur dengan oksigen untuk mencapai, dalam kondisi seperti itu, karbon
dapat teroksidasi prioritas kromium. Selain itu, metode pengurangan hidrometalurgi
hidrogen tekanan tinggi diterapkan pada praktek produksi termodinamika metalurgi
contoh.

2.1.1. Kontribusi Termodinamika Metalurgi

Dengan Ore polimetalik dan semakin pentingnya bijih ramping, termodinamika


metalurgi juga semakin menunjukkan peran penting. Termodinamika proses metalurgi
dapat terus meningkatkan kemurnian logam, seperti baja, kandungan sulfur selalu
sangat sedikit, sekarang dikurangi menjadi beberapa ratus ribuan. Oleh karena itu, kita
bisa mengharapkan, termodinamika metalurgi juga dapat pemurnian logam murni dan
semikonduktor untuk berkontribusi dalam hal ini kotoran biasanya beberapa bagian per
juta (ppm) atau bagian per miliar (ppb) untuk mewakili. Umum digunakan dalam
pembuatan baja proses termodinamika CO dan keseimbangan ekuilibrium H2-H2O
telah diterapkan untuk silikon, germanium, indium daripemurnian.
2.1.2. PENERAPAN TERMODINAMIKA
2.1.2.1. Termodinamika Reduksi Bijih Besi

Termodinamika menjawab apakah suatu reaksi di dalam proses reduksi bijih besi
oleh reduktor batubara dapat berlangsung. Dengan melihat nilai perubahan energi
bebas Gibbs standard (G0) pada setiap kemungkinan reaksi yang terjadi, dapat
diketahui apakah reaksi tersebut dapat berlangsung atau tidak. Jika nilai G0 adalah
negatif maka reaksi tersebut dikatakan berlangsung yang artinya adalah reaksi akan
berlangsung ke arah produk. Sebaliknya ketika nilaiG0 adalah positif maka reaksi
tidak berlangsung atau reaksi akan berlangsung ke arah reaktan.

Perubahan G0 dapat diperhitungkan melalui persamaan sebagai berikut [Habashi.,


1968] :

G0 = H0 TS0 ...........................................................(1)

Pada persamaan (1) dapat dijelaskan bahwa G0 adalah perubahan sejumlah energi
entalpi standard (H0) dikurangi dengan perubahan entropi standard (S0) pada
temperatur tertentu.

Karakteristik bijih besi yang dicirikan dengan sejumlah pengotor seperti SiO2,
Al2O3 dan Cr2O3 dapat mengganggu jalannya proses reduksi. Secara termodinamika
pengotor-pengotor tersebut tidak dapat direduksi oleh CO walaupun temperatur reduksi
dinaikkan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1
Gambar 1 Diagram Ellingham untuk kestabilan SiO2, Al2O3, Cr2O3, NiO dan
CoO [Rosenqvist.,1983]

Pada Gambar 1 diperlihatkan bahwa garis kurva 2CO + O2 = CO2 (a) tidak akan
bersinggungan dengan garis pembentukkan SiO2, Al2O3 dan Cr2O3. Hal ini
mengindikasikan bahwa oksida-oksida tersebut tidak dapat direduksi oleh gas CO
walaupun temperatur dinaikkan karena G0selalu bernilai positif, seperti yang
diperlihatkan pada persamaan reaksi berikut [Rosenvqist., 1983]:

SiO2 + 2CO Si + 2CO2 G01273 = + 81,3 Kkal .............(2)


Al2O3 + 3CO 2Al + 3CO2 G01273 = + 66,35 Kkal ...........(3)
Cr2O3 + 3CO 2Cr + 3CO2 G01273 = + 190,1 Kkal ...........(4)

Jika pengotor tersebut membentuk ikatan dengan Fe dan ditambah dengan


kadarnya yang tinggi maka akan mengurangi reducibility pada bijih besi. Karakteristik
bijih besi ditandai juga dengan kandungan logam pengotor seperti Ni dan Co. Adapun
Ni dan Co yang masih dalam bentuk oksida dapat tereduksi oleh CO. Seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 1. bahwa kurva oksidasi Ni dan Co berada diatas kurva
(a), sehingga G0 reduksi NiO dan CoO oleh CO akan bernilai negatif, seperti yang
ditunjukkan pada persamaan berikut [Rosenvqist., 1983]:

NiO + CO Ni + CO2 G01273 K : - 12,55 Kkal .................(5)


CoO + CO Co + CO2 G01273 K : - 6,57 Kkal ...................(6)

Berlangsungnya reduksi NiO dan CoO pada saat proses reduksi akan
menyebabkan terganggunya reduksi besi oksida oleh CO Karena secara
termodinamika afinitas CO akan lebih cenderung mereduksi NiO dan CoO
dibandingkan dengan Fe3O4ataupun FeO. Seperti yang diperlihatkan
pada persamaan berikut [Rosenvqist., 1983]:

3Fe2O3 + CO 2Fe3O4 + CO2 G01273 K = -24,19 Kkal ..........(7)


Fe3O4 + CO 3FeO + CO2 G01273 K = - 4,46 Kkal ..............8)
FeO + CO Fe + CO2 G01273 K = +2,01 Kkal ..............(9)

2.1.2.2. Gibbs Free Energy

Gibbs free energy (G) adalah energi termodinamik dari suatu sistem yang dapat
diubah menjadi usaha/kerja pada T dan P konstan.

G A + PV

Gibbs free energy mencapai nilai maksimum jika prosesnya berupa reversible process.

G = A + PV
Diferensial:
dG = dA + d(PV)
= S dT P dV + P dV + V dP
dG = S dT + V dP

Untuk sistem tertutup pada T dan P konstan, dGT,P 0

2.2. Termokimia dalam Ekstraksi Metalurgi


2.2.1. Pengolahan Pertama Metalurgi

Hampir semua logam yang diperoleh dari bijihnya mengandung sejumlah


pengotor selama berada dalam mineral logam. Pengotor dalam suatu bijih dinamakan
pengganggu. Bijih dapat dipekatkan dalam bentuk unsur logam melalui pemisahan dari
pengganggu, menggunakan metode kimia atau fisika. Pendulangan emas adalah
pemisahan fisik yang bergantung pada perbedaan kerapatan antara emas dan pasir. Air
mudah membilas pasir dan kotoran lainnya meninggalkan butiran emas pada bagian
bawah dulang.

Pengapungan adalah metoda fisika memisahkan mineral dari pengganggu,


bergantung pada perbedaan kemampuan pembasahannya. Bijih dihancurkan menjadi
serbuk halus, kemudian dicampurkan ke dalam tanki air (biasanya mengandung zat
pengapung), dan udara dialirkan, dimana aliran udara untuk membentuk busa.

Partikel-partikel yang dibasahi oleh air, misalnya penggangu akan tenggelam ke


dasar tanki, sedangkan partikel yang tidak terbasahi menempel pada gelembung udara
dan mengapung di atas permukaan tanki. Zat pengapung dalam air membentuk partikel
mineral menjadi lapisan hidrofob (lapisan yang tidak dibasahi air). Setiap molekul zat
pengapung mempunyai ujung polar yang menempel pada permukaan mineral dan
ujung yang non-polar (hidrofob) mengarah ke luar. Molekul-molekul pengapung ini
bersekutu dengan teman-temannya menggunakan ujung nonpolar pada permukaan
mineral. Ujung yang mengarah ke luar menjadikan partikel mineral suatu permukaan
hidrofom. Bijih sulfida, seperti tembaga, timbal dan seng dipekatkan dengan cara
pengapungan ini.

Proses bayer adalah salah satu contoh metoda pemekatan bijih secara kimia.
Proses Bayer adalah suatu proses dimana aluminium oksida muri diperoleh dari
bauksit, mengandung aluminium hidroksida atau oksida hidroksida, AlO(OH). Jika
bauksit dicampur dengan larutan natrium hidroksida panas, mineral aluminium larut
menghasilkan ion aluminat, Al(OH)4.

Al(OH)3(s) + OH(aq) Al(OH)4(aq)


AlO(OH)(s) + OH(aq) + H2O(l) Al(OH)4 (aq)

Pengotor oksida silikat dan oksida besi tetap tidak larut sehingga dapat disaring.
Akibat larutan natrium aluminat panas menjadi dingin, aluminium hidroksida akan
mengendap. Dalam prakteknya, ke dalam larutan ditambahkan pemicu dengan
aluminium hidroksida untuk memulai pengendapan.

Al(OH4(aq) Al(OH)3(s) + OH(aq)

Aluminium hidroksida dapat dibuat melalui pengasaman ringan larutan. Endapan


disaring dan dipanaskan untuk diubah menjadi serbuk putih aluminium oksida tak
berhidrat. Bila bijih dipekatkan, perlu mengubah mineral menjadi senyawa yang cocok
untuk direduksi. Pemanggangan adalah proses pemanasan mideral dalam udara untuk
memperoleh oksida. Contohnya, bijih seng (ZnS) dapat diubah menjdai seng oksida
melalui pemanggangan dalam udara.

Al(OH3(s) Al2O3(s) + 3H2O(l) (dengan pemanasan)


2ZnS(s) + 3O2(g) 2ZnO(s) + 2SO2(g)
Pemanggangan bersifat eksoterm sehingga sekali dimulai tidak memerlukan
tambahan panas lagi.

Tahapan proses bayer:

1. Ekstraksi:

Al2O3.xH2O + 2 NaOH = 2 NaAlO2 + (x + 1)H2O

2. Dek omposisi

2 NaAlO2 + 4 H2O = 2 NaOH +Al2O3.3H2O

3. Kalsinasi

Al2O3.3H2O = Al2O3 + H2O

Selain alumina bahan baku lainnya adalah soda abu (Na2CO3) dan aluminium
florida (AlF3) dan kriolit (Na3AlF6), gas HF serta beberapa campuran lain sebagai
pemadu dengan kadar tertentu. Untuk proses elektrolisis, elektroda yang digunakan
pada masing-masing kutub adalah karbon dengan keadaan dan sifat berbeda pada
anoda dan katoda. Adapun cairan elektrolit yang digunakan adalah kriolit (Na3AlF6)
yang lebih dikenal dengan sebutan bath. Sel elektrolisa pada reduction plant ini terbuat
dari steel yang dilapisi refractory pada bagian dalamnya.
2.2.2. Proses Reduksi Metalurgi

Logam bebas diperoleh melalui reduksi senyawa, menggunakan cara elektrolisis


atau zat pereduksi kimia. Pada produksi seng secara komersial, seng oksida direduksi
melalui pemanasan dengan beberapa bentuk karbon, seperti batu bara antrasit atau
arang.

ZnO(s) + C(s) Zn(g) + CO(g)

(dengan pemanasan) Uap logam seng meninggalkan ka mar reaktor dan terkondensasi
menjadi cair, yang selanjutnya memadat. Hidrogen dan logam aktif, seperti natrium,
magnesium dan aluminium juga digunakan sebagai zat pereduksi jika karbon yang
dipakai tidak cocok. Misalnya, tungsten digabungkan secara kimia dengan karbon.
Untuk menghasilkan logam murni, hidrogen juga digunakan.

WO3(s) + 3H2(g) W(s) + 3H2O(g) (dengan pemanasan)

Beberapa contoh produksi logam menggunakan logam aktif sebagai zat pereduksi telah
diuraikan sebelumnya.

2.2.3. Penghalusan Logam Metalurgi

Biasanya logam yang mengandung pengotor diperoleh melalui proses reduksi


dan harus dimurnikan sebelum digunakan. Seng misalnya, dikontaminasi oleh timbal,
kadmium, dan besi. Seng dapat dimurnikan melalui distilasi fraksional. Beberapa
logam, seperti tembaga, nikel, dan aluminium dimurnikan secara elektrolisis.

Proses Hoopes adalah proses elektrolisis untuk memurnikan aluminium. Pengotor


aluminium terbentuk di sekitar anode dan aluminium murni terbentuk di daerah katoda,
dan terbentuk tiga lapisan cair. Lapisan bawah adalah memehan pengotor aluminium,
lapisan tengah adalah leburan garam yang mengandung aluminium fluorida dan lapisan
atas adalah aluminium murni. Pada anoda (lapisan bawah), aluminium melewati
larutan sebagai ion aluminium (Al3+) dan di katoda (lapisan atas), ion-ion ini direduksi
menjadi logam murni. Selam pengoperasian pengotor dan lelehan logam ditambahkan
dari bawah sel dan aluminium murni ditarik ke atas.

2.3. Gas Ideal dalam Metalurgi

merupakan kumpulan dari partikel-partikel suatu zat yang jaraknya cukup jauh
dibandingkan dengan ukuran partikelnya. Partikel-partikel itu selalu bergerak secara
acak ke segala arah. Pada saat partikel-partikel gas ideal itu bertumbukan antar partikel
atau dengan dinding akan terjadi tumbukan lenting sempurna sehingga tidak terjadi
kehilangan energi.

Berdasarkan eksperimen diketahui bahwa semua gas dalam kondisi kimia apapun, pada
temperatur tinggi, dan tekanan rendah cenderung memperlihatkan suatu hubungan
sederhana tertentu di antara sifat-sifat makroskopisnya, yaitu tekanan, volume dan
temperatur. Hal ini menganjurkan adanya konsep tentang gas ideal yang memiliki sifat
makroskopis yang sama pada kondisi yang sama. Berdasarkan sifat makroskopis suatu
gas seperti kelajuan, energi kinetik, momentum, dan massa setiap molekul penyusun
gas, kita dapat mendefinisikan gas ideal dengan suatu asumsi (anggapan) tetapi
konsisten (sesuai) dengan definisi makroskopis.

2.3.1. Persamaan Gas Ideal dalam Metalurgi


Dasar dasar hukum gas ideal adalah :
1. Hukum Avogadro
Hukum Avogadro mengatakan gas gas yang memiliki volume (V) yang sama, pada
temperatur (T) dan tekanan (P) yang sama, akan memiliki jumlah partikel yang
sama pula. Satu mol gas ideal memiliki volume 22,4 liter pada kondisi standar
(STP).
2. Hukum Boyle-Gay Lussac
Boyle menyatakan bahwa bila suhu gas yang berada dalam bejana tertutup
dipertahankan konstan, maka tekanan gas berbanding terbalik dengan volumenya.
Pada suhu konstan akan menghasilkan persamaan sebagai berikut:

1 1 = 2 2

Hukum Gay Lussac menyatakan bahwa jika volume gas yang berada dalam bejana
tertutup dipertahankan konstan, maka tekanan gas sebanding dengan suhu
mutlaknya:

1 2
=
1 2

Apabila hukum boyle gay lussac digabungkan maka akan didapat persamaan :

1 1 2 2
=
1 2
=

Dimana :
R = Bilangan Reynold = 0,082 Latm/molK
3. Hukum Dalton
Dalton menyatakan bahwa tekanan total gas yang tidak saling bereaksi merupakan
jumlah masing masing tekanan parsialnya. Hal ini dapat dilihat pada persamaan :

= 1 + 2 + +
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2015). Hukum Hukum Gas Ideal. Didapatkan pada 30 Agustus 2017 dari

http://fisikazone.com/hukum-hukum-gas-ideal/

Hendrajaya, L. 2016. Termodinamika dalam Memahami Proses Pengolahan Mineral.

FMIPA Institute Teknologi Bandung : Bandung.

Rhakmasari ,K. 2015. Metalurgi. Didapatkan pada 31 Agustus 2017 dari

http://khairunnisarakhmasari.blogspot.co.id/2015/05/metalurgi

Volsky, A et al., (1978). Theory of Metallurgical Processes. Mir Publisher : Moscow