Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PARAGRAF DALAM KARYA ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi salahsatu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia


Dosen : Drs. H. Didin Sahidin, M.Pd.

Oleh : Kelompok 2
Ikeu Suryani 15833004
Munira Habibah Putri R 15834005
Rafi Rizki Insan Kamil 15834013
Kelas : PTI-1B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMASI


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP)
GARUT
2015
PEMBAHASAN

A. Pengertian Paragraf
Paragraf dapat diartikan sebagai satuan gagasan didalam bagian suatu wacana yang
dibentuk oleh kalimat-kalimat yang saling berhubungan dalam menyusun satu kesatuan
pokok pembahasan. Dengan demikian, paragraf merupakan satuan bahasa yang lebih
besar dari pada kalimat.

B. Unsur-unsur Paragraf
Paragraf dibentuk oleh unsur gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas. Selain
itu, ada unsur yang disebut kalimat utama dan kalimat penjelas. Hubungan kalimat
utama dan dengan kalimat penjelas sering kali memerlukan kehadiran unsur lain yang
berupa kata penghubung atau konjungsi.
1. Gagasan Pokok dan Gagasan Penjelas
Secara umum, paragraf dibentuk oleh dua unsur, yakni gagasan pokok dan
beberapa gagasan penjelas.
a. Gagasan pokok merupakan gagasan yang menjadi dasar pengembangan suatu
paragraf. Dengan demikian, fungsinya sebagai pokok, patokan, atau dasar acuan
pengembangan suatu paragraf.
b. Gagasan penjelas merupakan gagasan yang berfungsi menjelaskan gagasan
pokok. Penjelasannya bisa dalam bentuk uraian-uraian kecil, contoh-contoh atau
ilustrasi, kutipan-kutipan, dan sebagainya.
Berikut contoh pola hubungan gagasan pokok dengan gagasan penjelasnya.
Adapun pengembangannya kedalam bentuk paragraf adalah sebagai berikut.
Pola 1 : deduktif Pola 2 : induktif
Gagasan Pokok Gagasan Penjelas Gagasan Penjelas Gagasan Pokok
Laut mempunyai 1. Suhu tidak 1. Seseorang harus Telebanking me-
beberapa kelebihan berubah-ubah datang ke bank rupakan inovasi baru
dibandingkan darat. 2. Air yang cukup dengan memenuhi untuk mempermudah
tersedia. segala per- para nasabah

1
3. Makhluk hidup syaratannya. melakukan berbagai
dilaut dapat 2. Seorang nasabah kegiatan transaksi
menyerap air yang mau perbankan.
langsung masuk mentransfer dana
sistem tubuh. ke rekening lain,
4. Makhluk hidup harus datang ke
dilaut dapat bank dengan
memperoleh memenuhi segala
oksigen dan persyaratan.
karbon. 3. Segala transaksi
harus dilakukan di
tempat bank.
4. Sekarang, para
nasabah bank
dipermudah.
5. Transaksi dapat
dilakukan dari
jarak jauh.
a. Sebgai tempat hidup, laut mempunyai kelebihan dibandingkan darat.
Kelebihan-kelebihan laut, antara lain, suhu yang kurang berubah-ubah,
dukungan yang lebih banyak untuk melawan gravitasi bumi, air yang cukup
tesredia. Dengan air yang cukup tersebut, makhluk hidup dilaut dapat
menyerap air langsung masuk sistem tubuh. Makhluk hidup dilaut dapat
memperoleh oksigen dan karbon.
b. Pada masa lalu bila seseorang mau menabung atau mengambil uang di bank,
dia harus datang ke bank tersebut dengan memenuhi segala peryaratannya.
Demikian juga bila seoang nasabah mau mentransfer dana ke rekening lain, dia
harus datang ke bank tersebut dengan memenuhi segala persyaratannya. Segala
transaksi harus dilakukan di tempat bank itu berada. Sekarang, para nasabah
bank di permudah dengan teknik layanan baru. Bila mau mengadakan transaksi

2
mulai dari menabung, mengambil uang, mengecek saldo akhir, hingga
membayar rekening telepon, dan lain-lain dapat dilakukan dari jarak jauh,
tinggal tekan tombol. Telebanking merupakan inovasi baru untuk
mempermudah para nasabah melakukan berbagai kegiatan transaksi
perbankan.
2. Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas
Kalimat utama merupakan kalimat yang menjadi tempat keberadaanya gagasan
pokok. Letaknya bisa di awal, di tengah, ataupun di akhir paragraf. Ada pula
kalimat utama yang berada di awal dan di akhir paragraf secara sekaligus. Walaupun
terdapat pada dua kalimat, tidak berarti paragraf itu memiliki dua gagasan pokok,
gagasan pokok paragraf tersebut tetap satu. Adapun keberadaan dua kalimat utama
hanya saling menegaskan: kalimat pertama menegaskan kalimat terakhir ataupun
sebaliknya.
Sementara itu, kalimat penjelas merupakan kalimat yang menjadi tempat di
rumuskannya gagasan penjelas. Jumlah kalimat penjelas pada suatu paragraf
biasanya sesuai dengan jumlah gagasan pokoknya. Satu kalimat utama lazimnya
mewakili satu gagasan penjelas.
3. Hubungan Unsur-unsur Paragraf
Tabel berikut mengemukakan secara lebih jelas tentang hubungan gagasan
pokok dengan gagasan penjelas serta kalimat utama dengan kalimat penjelas.
Hubungan gagasan pokok dengan kalimat utama
Gagasan Pokok Kalimat Utama
Penemuan fotokopi karena ketekunan. Proses penemuan fotokopi bukan karena
ditunjang oleh fasilitas yang memadai,
tetapi karena ketekunan.

No. Gagasan Penjelas Kalimat Penjelas


1. Dia mengatur waktu kosongnya. Dia mengatur waktu kosongnya yang
relatif singkat.

3
2. Dia mengadakan penelitian. Ketika menginjak usia 29 tahun, dia
sudah mulai mengadakan penelitian
tentang berbagai efek cahaya atas
berbagai bahan guna memindahkan
suatu tulisan dari satu lembar ke lembar
lain.
Dia mengadakan eksperimen. Karena itu, dia mulai bereksperimen di
apartemennya dengan menggunakan
efek fotoelektrik untuk mengadakan
penggandaan.
Dia membaca buku. Tiap menjelang tidur malam, dia
membaca buku yang di pinjamnya dari
perpustakaan.
Hubungan antar unsur paragraf, terutama kalimat utama denagn kalimat penjelas
lainnya, sering menggunakan kata penghubung atau konjungsi. Konjungsi yang
berfungsi menggabungkan kalimat-kalimat itu sering disebut konjungsi antar
kalimat. Dalam paragraf di atas, tampak satu contoh konjungsi antar kalimat, yakni
denga demikian. Contoh konjugsi antar kalimat lainnya adalah biarpun demikian,
setelah itu,, sebaliknya, oleh sebab itu, dan kecuali itu.

C. Ciri-Ciri Paragraf yang Baik


Dalam menyusun paragraf, seorang penulis perlu memperhatikan hal-hal berikut.
1. Kepaduan Paragraf
Kepaduan paragraf adalah keeratan ataupun kekompakan hubungan antar unsur-
unsur paragraf, baik itu antar kalimat utama dengan kalimat penjelasnya ataupun
antar kalimat penjelas itu sendiri. Kepaduan itu harus tampak dalam isi serta dalam
bentuknya. Dengan demikian, kepaduan suatu paragraf mencakup dua hal, yakni
kepaduan isi dan kepaduan bentuk.
a. Kepaduan isi
Kepaduan isi atau koheren adalah kekompakan sebuah paragraf yang di
nyatakan oleh kekompakan kalimat-kalimat di dalam mendukung satu gagasan

4
pokok. Sebuah paragraf memenuhi syarat kepaduan isi apabila kalimat-kalimat
dalam paragraf tersebut tidak melenceng dari gagasan pokoknya. Misalnya,
kalimat awalnya membahas masalah bencana alam, namun dalam kalimat
keduanya membahas musim durian.
b. Kepaduan bentuk
Perhatikanlah paragraf berikut.
Bingung. Begitulah yang biasa terjadi pada tamatan SLTA. Mau ke mana
mereka setelah itu: kuliah atau kerja? Sementara itu, ancaman menganggur
begitu menakutkan. Menganggur memang tidak enak: bengong, tidak ada
yang bisa dikerjakan dan menghasilkan sesuatu.
Paragraf di atas memiliki keeratan hubungan antar kalimat-kalimatnya karena
diikat oleh kehadiran kata-kata tertentu. Ada beberapa bentuk kata yang
menyebabkan paragraf di atas memiliki keeratan hubungan.
1. Pengulangan kata, yakni begitu, menganggur, kerja.
2. Penggunaan kata tunjuk, yakni itu, begitu.
3. Penggunaan kata ganti, yakni mereka, dia.
4. Penggunaan kata penghubung, yakni sementara itu, kemudian.
Kepaduan bentuk dalam suatu paragraf dapat dilakukan dengan cara-cara berikut.
1. Penggunaan konjungsi, misalnya:
a. Biarpun begitu, namun untuk menyatakan hubungan pertentangan dengan
kalimat sebelumnya.
b. Sesudah itu atau kemudian untuk menyatakan hubungan kelanjutan dari
peristiwa sebelumnya.
c. Selain itu untuk menyatakan hal lain di luar yang telah dinyatakan
sebelumnya.
d. Sebaliknya untuk menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan
sebelumnya.
e. Sesungguhnya untuk menyatakan keadaan yang sebenarnya.
2. Pengulangan kata atau frasa.
Contoh:

5
Anak-anak biasanya mudah terkena ETS. Hal ini karena pada anak-anak
saluran pernapasan mereka lebih kecil dan bernapas lebih cepat
daripada orang dewasa.
Minyak bumi adalah sumber energi yang tidak terbarukan. Artinya,
minyak bumi yang telah dipakai tidak dapat didaur ulang.
3. Pemakaian kata ganti atau kata yang sama maknanya.
Contoh:
a. Putri penyair kenamaan itu makin besar juga. Gadis itu sekarang duduk
di sekolah menengah.
b. Pak Hamid pagi-pagi telah berangkat ke sawahnya. Petani yang rajin itu
memikul cangkul sambil menjinjing bungkusan makanan dan minuman.
4. Pemakaian kata yang berhiponimi, yakni kata yang merupakan bagian dari
kata lainnya.
a. Dia tidak menyangka bahwa adiknya itu sangat cantik. Rambutnya
panjang, matanya bulat, dan hidungnya mancung.
b. Beruntunglah Pak Kosasih membeli rumah itu. Lokasinya strategis dan
harganya tidak terlalu mahal.
2. Ketepatan Pemilihan Kata
Pemilihan kata harus sesuai dengan situasi dan kondisi pemakainya. Pemakaian
kata dia, misalnya, tidak tepat digunakan untuk orang yang usianya lebih tua, yang
tepat adalah kata beliau. Demikian pula halnya dengan kata menonton, kata ini tidak
tepat bila digunakan dalam paragraf yang menyatakan maksud melihat orang sakit.
Dalam hal ini kata yang harus digunakan adalah mengunjungi, menjenguk, atau
menengok. Untuk itulah, seorang penulis perlu menguasai pembendaharaan kata,
terutama kata-kata yang bersinonim, akan mudahlah kita dalam menggunakan kata-
kata dengan tepat, yang sesuai dengan situasi dan kondisinya.

D. Jenis-Jenis Paragraf
Terdapat beberapa jenis paragraf didalam penulisan karya ilmiah. Berikut
paparannya.
1. Berdasarkan Letak Kalimat Utamanya

6
Pengembangan paragraf dalam karangan ilmiah harus mengikuti pola logika atau
cara penalaran yang benar. Oleh karena itulah, pengembangan paragraf tidak jauh
berbeda dengan pola-pola logika yang akan di pelajari kemudian, yakni dikenal
dengan adanya paragraf deduktif, induktif, campuran, deskriptif, dan naratif.
a. Paragraf deduktif adalah paragraf yang gagasan pokoknya terletak di awal
paragraf. Pengembangan paragraf ini mengikuti pola penalaran deduksi. Mula-
mula penulis merumuskan gagasan pokok pada kalimat pertama. Kemudian,
disusul oleh penjelasan-penjelasan secara terperinci.
b. Paragraf induktif adalah paragraf yang gagasan pokoknya terletak di akhir
paragraf atau pada kalimat penutup paragraf. Pengembangan paragraf ini
mengikuti pola penalaran induksi. Mula-mula penulis memerinci sejumlah data,
kemudian mengakhiri paragraf itu dengan gagasan pokok atau kesimpulannya.
c. Paragraf campuran adalah paragraf yang gagasan pokoknya terletak pada kalimat
pertama dan kalimat terakhir. Dalam paragraf ini terdapat dua kalimat utama.
Dalam hal ini kalimat terakhir mengulangi gagasan yang dinyatakan kalimat
pertama dengan sedikit tekanan atau variasi.
d. Paragraf deskriptif atau naratif adalah paragraf yang menggambarkan atau
menceritakan suatu hal. Paragraf ini cenderung tidak memiliki kalimat utama.
Semua kalimatnya berfungsi sebagai penjelas.
2. Berdasarkan Letaknya dalam Karangan
Berdasarkan letak atau penempatannya dalam karangan, paragraf dapat di
bedakan menjadi tiga macam, yaitu : paragraf pendahuluan, paragraf penjelas, dan
paragraf penutup.
a. Paragraf pendahuluan adalah paragraf yang berperan untuk mengantarkan
pembaca pada permasalahan yang akan dibahas dalam karangan. Paragraf
pendahuluan dapat berisikan latar belakang atau tujuan penulisan sebuah
karangan. Oleh karena itu, paragraf tersebut harus menyajikan gambaran umum
tentang materi yang dibahas.
b. Paragraf penjelas berisi uraian permasalahan, pembahasan, atau analisis tentang
hal-hal yang hendak dikemukakan dalam paragraf pendahuluan. Aspek yang

7
dikemukakannya bisa berupa fakta-fakta. Karena fungsinya sebagai penjelas,
maka paragraf ini jumlahnya tentu harus lebih banyak daripada paragraf
pendahuluan.
c. Paragraf penutup adalah paragraf yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan
atau bagian karangan. Karena itu, paragraf ini pada umumnya berupa
pembahasan akhir, kesimpulan, atau ringkasan dari uraian-uraian yang
dikemukakan paragraf penjelas.
3. Berdasarkan Tujuannya
Berdasarkan tujuannya, paragraf terbagi ke dalam paragraf naratif, deskriptif,
ekspositori, argumentatif, dan persuasif.
a. Paragraf naratif adalah paragraf yang bertujuan untuk menceritakan suatu
peristiwa atau kejadian. Dengan paragraf ini, pembaca seolah-olah mengalami
sendiri kejadian yang diceritakan. Dalam paragraf narasi, kehadiran alur atau
peristiwa, tokoh dan latar sangat utama. Ketiadaan unsur-unsur tersebut
menyebabkan sebuah paragraf berubah menjadi jenis paragraf lainnya.
Paragraf naratif terbagi ke dalam dua jenis. Pertama, naratif artistik, yakni
paragraf yang menyajikan sejumlah pengalaman estetis dengan tujuan untuk
menghibur pembacanya. Paragraf tersebut terdapat di dalam cerpen, novel, dan
sejenisnya. Kedua, naratif informasional, yakni paragraf yang menyajikan
sejumlah peristiwa faktual, informasi, dan pengetahuan.
b. Paragraf deskriptif adalah jenis karangan yang menggambarkan suatu pesan atas
benda, peristiwa, keadaan, ataupun manusia. Dengan paragraf ini, pembaca
dapat seolah-olah menyaksikan, merasakan, atau mengimajinasikan hal yang di
gambakan. Paragraf deskriptif pada umumnya di tandai oleh banyaknya
penggunaan kata sifat.
c. Paragraf ekspositori adalah paragraf yang memaparkan atau menerangkan suatu
hal objek dengan sejelas-jelasnya. Paragraf ekspositori sering kali menggunakan
contoh, grafik, serta berbagai fakta lainnya untuk memperjelas gagasan pokok
yang dikemukakan.

8
Paragraf ekspositori merupakan paragraf yang paling dominan di dalam karya
ilmiah. Paragraf tersebut diperlukan untuk memperinci dan menjelaskan fakta-
fakta, baik itu yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Pola
pengembangannya mungkin secara deduktif, induktif, ataupun campuran.
d. Paragraf argumentatif adalah paragraf yang mengemukakan alasan, contoh, dan
bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Alasan-alasan, bukti, dan sejenisnya,
digunakan penulis untuk mempengaruhi pembaca agar mereka menyetujui
pendapat, sikap, atau keyakinan.
Di dalam beberapa hal, paragraf ini memiliki kesamaan dengan paragraf
ekspositori, yakni sama-sama memerlukan kehadiran sejumlah fakta. Dalam
paragraf ekspositori, fakta befungsi untuk memperjelas paparan. Sementara itu,
dalam paragraf argumentatif, fakta berfungsi untuk lebih meyakinkan pembaca
atas pendapat yang dikemukakan penulis.
e. Paragraf persuatif adalah paragraf yang bertujuan untuk mempengaruhi
emosionalitas pembaca. Seperti halnya paragraf ekspositori dan argumentatif,
paragraf ini juga membutuhkan data dan cotoh-contoh untuk mempengaruhi
pembaca.
Untuk menyatakan bujukan, paragraf ini ditandai oleh kata-kata seperti harus,
jangan, tidak boleh, hendaknya. Namun, tidak sedikit pula paragraf persuasif
yang menyatakan bujukannya itu secara tersirat. Tiba-tiba pembaca sudah
terbujuk atau menyetujui pendapat-pendapat yang di kemukakan penulis.

E. Berbagai Pola Pengembangan Paragraf


Pengembangan paragraf mencakup dua persoalan utama, yakni :
1. Kemampuan memperinci gagasan pokok paragraf ke dalam gagasan-gagasan
penjelas, dan
2. Kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan penjelas ke dalam urutan yang teratur.

9
Gagasan pokok paragraf hanya akan menjadi jelas apabila di lakukan perincian
dengan cermat. Perincian-perincian itu dapat dilakukan dengan bermacam pola
pengembangan. Pola-pola pengembangan paragraf dalam karangan ilmiah umumnya
berbentuk sebagai berikut.
1. Pola Umum-Khusus
Pola ini sebenarnya meliputi pola umum-khusus dan khusus-umum. Keduanya
merupakan cara yang paling umum untuk mengembangkan gagasan. Pola pertama,
gagasan pokok ditempatkan pada awal paragraf yang kemudian diikuti oleh
gagasan-gagasan seperti itu, sudah kita kenal sebagai paragraf deduktif. Sementara
itu, pola kedua menempatkan gagasan umum pada akhir paragraf dan gagasan-
gagasan khusus yang mendahuluinya. Pola ini telah kita kenal sebagai pola induktif.
2. Pola Definisi Luas
Yang dimaksud dengan definisi dalam pembentukan sebuah paragraf adalah
usaha penulis untuk memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah kata atau hal.
Disini kita menghadapinya dalam satu kalimat, tetapi merupakan rangkaian kalimat
yang membentuk sebuah paragraf. Hal yang dikemukakan penulis dalam hal bisa
berupa definisi formal, definisi dengan contoh, dan keterangan-keterangan lain yang
bersifat menjelaskan arti suatu kata atau hal.
3. Pola Proses
Proses merupakam suatu urutan dari tindakan-tindakan atau perbuatan-
perbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu atau berurutan dari suatu
kejadian atau peristiwa. Untuk menyusun sebuah proses, langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut.
a. Penulis harus mengetahui perincian-perincian secara menyeluruh.
b. Penulis harus membagi proses tersebut atas tahap-tahap kejadiannya.
c. Penulis menjelaskan tiap urutan itu kedalam detail-detail yang tegas sehingga
pembaca dapat melihat seluruh proses itu dengan jelas.
4. Pola Sebab Akibat
Penyusunan sebuah paragraf dapat pula dibuat dengan menggunakan pola sebab-
akibat. Dalam hal ini sebab bertindak sebagai gagasan pokok, sedangkan akibat

10
sebagai perincian pengembangannya. Namun demikian, susunan tersebut bisa juga
terbalik. Akibat dijadikan gagasan pokoknya, sedangkan untuk memahami
sepenuhnya akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab sebagai perinciannya.
5. Pola Ilustrasi
Sebuah gagasan yang terlalu umum, memerlukan ilustrasi-ilustrasi konkret.
Dalam karangan ilmiah, ilustrasi-ilustrasi tersebut tidak berfungsi untuk
membuktikan sebuah pendapat. Ilustrasi-ilustrasi tersebut dipakai sekedar
menjelaskan maksud penulis.
6. Pola Pertentangan dan Perbandingan
Pola pertentangan dan perbandingan merupakan salah satu jenis pengembangan
paragraf. Pola perbandingan digunakan ketika membahas dua hal atau dua objek
berdasarkan persamaan dan perbedaan-perbedaannya. Pola pertentangan digunakan
ketika kita membahas satu persoalan dengan cara membedakan atau
mengontraskannya dengan persoalan lain. Dengan cara demikian, pembahasan suatu
persoalan akan lebih jelas dari pada dengan hanya terfokus pada persoalan itu
sendiri.
7. Pola Analisis
Pola analisis digunakan ketika menjelaskan suatu hal atau gagasan yang sifatnya
umum ke dalam perincian-perincian yang logis. Dalam paragraf ini ada bagian yang
dianalisis dan bagian yang menganalisis. Bagian yang dianalisis ditempatkan pada
bagian awal paragraf, yang kemudian diikuti oleh uraian sebagai analisisnya.
8. Pola Pengkasifikasian
Klasifikasi adalah proses untuk mengelompokkan hal, peristiwa, atau benda
yang dianggap mempunyai kesamaan-kesamaan tertentu. Pengklasifikasian
dibentuk oleh dua pola yang berlawanan.
a. Mempersatukan satuan-satuan ke dalam suatu kelompok.
b. Memisahkan kesatuan kelompok tersebut ke dalam kelompok yang lain.
Setiap kelompok yang diperoleh dalam langkah pengklasifikasian pertama bisa
diperinci ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil lagi. Untuk itu, penulis
harus memiliki dasar pengklasifikasian yang jelas.

11
9. Pola Observasi
Pola observasi disusun berdasarkan hasil pengamatan penulis, baik melalui indra
penglihatan, perabaan, pendengaran, atau penciuman. Penggambaran merupakan
rekaman dan tanggapan penulis atas objek yang diamati. Pola ini disusun dengan
tujuan untuk menggambarkan suatu objek secara apa adanya berdasarkan sudut
pandang.
10. Pola Fokus
Pola fokus dalam hal ini berupa penggambaran objek dalam ruang lingkup yang
lebih terbatas pada satu titik pembahasan. Berbeda dengan pola observasi yang
menggambarkan objek secara tersebar dan dangkal, penggambaran objek dalam
pola fokus dilakukan lebih terpusat dan mendetail dengan didasarkan pengetahuan
penulis.
11. Pola Seleksi
Dalam pola seleksi penggambaran objek tidak dilakukan secara utuh dan
menyeluruh, tetapi dipilih secara per bagian. Pemilihan itu dilakukan dengan dasar-
dasar tertentu, misalnya berdasarkan fungsi, kondisi, atau bentuknya.
12. Pola Titik Pandang
Titik pandang adalah tempat pengarang melihat atau menceritakan sesuatu. Titik
pandang tidak diartikan sebagai penglihatan seseorang atas suatu barang, misalnya
dari atas atau dari bawah, tetapi lebih kepada posisi penceritaan
Titik pandang yang diambil seorang pengarang mencakup konsistensi cara
penguraian suatu kisah. Apabila dalam kalimat atau paragraf pertama penulis
menggunakan titik pandang orang pertama, maka dalam seluruh karangan itu ia
harus tetap menggunakan orang pertama. Jangan berpaling kepada titik pandang
penceritaan yang lain sebab hal itu akan mengacaukan kisah yang disampaikannya.
13. Pola Dramatis
Dalam pola ini cerita tidak disampaikan dengan penceritaan langsung.
Pergerakan isi cerita dikemukakan melalui dialog-dialog. Mungkin saja pengarang
turut sebagai salah seorang tokoh dalam cerita itu. Hal yang membedakan dengan
pola titik pandang adalah cara penyampaiannya. Pola titik pandang disampaikan

12
dengan pencerita langsung, sedangkan dalam pola dramatis cerita itu disampaikan
dengan berupa dialog.

13