Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam era modern seperti sekarang tuntutan profesionalisme semakin
meningkat, hal ini juga belaku dalam praktik keperawatan dengan kondisi klien dan
keluarga yang semakin kritis terhadap pelayanan kesehatan terutama bidang
keperawatan. Untuk itu riset-riset keperawatan dilakukan untuk meningkatkan
disiplin ilmu yang telah ada. Dalam sejarahnya penelitian keperawatan relatif baru
sejalan dengan perkembangan disiplin ilmu ini.
Dalam sejarahnya tahap awal riset keperawatan dimulai dengan investigasi
Nightingle pada abad ke-19. Dilanjutkan dengan studi-studi pendidikan
keperawatan pada tahun 1930 an dan tahun 1940 an. Sejak tahun 1970
pengembangan teori keperawatan dan isu-isu keperawatan pun mulai dilakukan.
Pada era ini penelitian terfokus pada praktik-praktik keperawatan klinis. Banyak
riset-riset yang dilakukan dan diterbitkannya beberapa jurnal keperawatan. Di
Indonesia sendiri jurnal keperawatan di terbitkan di Universitas Indonesia pada
akhir tahun 1990 an. Departemen Kesehatan RI memberikan dukungan terhadap
riset keperawatan melalui Riset Pembinaan Tenaga Kesehatan ( Risbinakes ).
Hingga saat ini Indonesia masih dalam fase stimulasi yakni membangkitkan gairah
riset keperawatan dan aplikasinya dalam praktik keperawatan. Tahapan
perkembangan riset keperawatan (Ross, Mackenzie & Smith, 2003)
1. Fase stimulasi, bangkitnya kegairahan riset keperawatan
2. Fase individualistis, perawat secara individual melakukan riset mandiri dengan
bimbingan ahli statistik.
3. Fase penyatuan, pengembangan jejaring (network) peneliti keperawatan
4. Fase keseimbangan, kolaborasi beberapa program penelitian ilmiah
Berdasarkan filsafat ilmu riset keperawatan didasari oleh tiga hakikat ilmu
yaitu ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Sejarah riset keperawatan

Penerbitan Jurnal Keperawatan di Universitas Indonesia (akhir th 1990-an)


Di Departemen Kesehatan RI, dukungan terhadap riset keperawatan melalui
Riset Pembinaan Tenaga Kesehatan (Risbinakes)
Sampai saat ini di Indonesia masih dalam fase stimulasi --> membangkitkan
gairah riset keperawatan dan aplikasinya dalam praktik keperawatan

Tahap awal : sebelum tahun 1960an

Florence Nightingale --> laporan mengenai faktor-faktor yang berdampak


pada kesakitan dan kematian prajurit Inggris selama perang Crimean.
Dipublikasikan dalam Notes on Nursing (1859).
Th 1900an s.d. 1940an --> pengembangan pendidikan tinggi keperawatan
Th 1950an --> jurnal Nursing Research terbit
Th 1963 --> International Journal of Nursing Studies
Th 1969 --> Canadian Journal of Nursing Research

Sejak tahun 1970an

Pengembangan teori keperawatan dan isu-isu keperawatan


Penerbitan jurnal keperawatan th 1970an: Advances in Nursing Science,
Research in Nursing & Health, the Western Journal of Nursing Research,
Journal of Advanced Nursing
Penerbitan jurnal di th 1980an: Applied Nursing Research, Evidenced Based
Medicine
Mulai ada perhatian untuk mengaplikasikan temuan riset ke dalam praktik
keperawatan
Pengembangan lembaga penelitian yang berfokus pada perawatan klien di AS
th 1986 (National Center for Nursing Research di bawah National Institutes of
Health)
Penerbitan jurnal di th 1990an: Qualitative Health Research (1990), Clinical
Nursing Research (1991), Clinical Effectiveness in Nursing (1996).
Cochrane Collaboration (www.cohrane.co.uk), CINAHL (www.cinahl.com),
PubMed (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/) --> direktori rangkuman
hasil penelitian (systematic review)
Penerbitan Jurnal Keperawatan di Universitas Indonesia (akhir th 1990-an)
Di Departemen Kesehatan RI, dukungan terhadap riset keperawatan melalui
Riset Pembinaan Tenaga Kesehatan (Risbinakes)
Sampai saat ini di Indonesia masih dalam fase stimulasi --> membangkitkan
gairah riset keperawatan dan aplikasinya dalam praktik keperawatan

Tahapan perkembangan riset keperawatan (Ross, Mackenzie & Smith, 2003)

5. Fase stimulasi, bangkitnya kegairahan riset keperawatan


6. Fase individualistis, perawat secara individual melakukan riset mandiri
dengan bimbingan ahli statistik.
7. Fase penyatuan, pengembangan jejaring (network) peneliti keperawatan
8. Fase keseimbangan, kolaborasi beberapa program penelitian ilmiah

Ruang lingkup riset keperawatan:

Keperawatan medikal bedah


Keperawatan maternitas
Keperawatan anak
Keperawatan jiwa
Keperawatan gerontik
Keperawatan keluarga
Keperawatan komunitas
Manajemen Keperawatan
Pendidikan Keperawatan

Etika Riset Keperawatan (Loiselle et al., 2004) :


1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)
2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian (respect for privacy
and confidentiality)
3. Keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness)
4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing harms
and benefits)
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1

1. Pengertian Filsafat
Filsafat adalah sebuah studi mengenani dasar-dasar dari pengetahuan, realitas,
dan eksistensi. Filsafat memiliki banyak studi disiplin seperti epistemologi (teori
pengetahuan), metafisika (teori menjadi), logika (teori akal dan kesimpulan), teori nilai
(termasuk etika, politik dan estetika), dan sejarah filsafat. Studi disiplin ini muncul dari
berbagai pertanyaan orang-orang terdahulu, seperti pertanyaan Apa kebenaran itu?,
Apakah tuhan ada?, Apakah manusia benar-benar bebas? dan sebagainya.
Falsafah berasal dari bahasa Arab artinya filosofi, dalam bahasa Yunani disebut
Philosophiadan philoshophos. Berasal dari kata Philos, artinya Cinta dan Sophia,
artinya kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah. Seseorang dapat disebut berfilsafat
ketika ia aktif memperoleh kebijaksanaan. Filsafat adalah studi tentang seluruh
fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep
mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen dan percobaan-
percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu,
memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Berfilsafat berarti
berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma
serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar
persoalannya.

2. Pengertian Filsafat Ilmu


Filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh
pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-
ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau
singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan
diorganisasi sedemikian rupa, sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural,
metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya
sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat
dipertanggungjawabkan. Sedang pengetahuan tak-ilmiah adalah yang masih tergolong
prailmiah. Dalam hal ini berupa pengetahuan hasil serapan indrawi yang secara sadar
diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Disamping itu termasuk yang
diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu
(oleh nabi)
Sedangkan fungsi dari filsafat ilmu itu sendiri antara lain :
1.Alat-alat untuk menulusuri kebenaran segala hal-hal yang dapat disaksikan dengan
panca indra dari segala fenomena yang ada.
2.Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia
3.Panduan tentang ajaran moral dan etika
4.Sumber ilham dan panduan untuk menjalani berbagai aspek kehidupan
5.Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan
filsafat lainnya.

Kajian Filsafat Ilmu


a. Ontologi
Ontologi adalah dasar untuk mengklasifikasi pengetahuan dan sekaligus bidang
bidang ilmu.Selain itu, ontologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas
tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk
jasmani/kongkret maupun rohani/abstrak.
b. Aksiologi
Aksiologi merupakan kajian yang berkaitan dengan kegunaan dari suatu ilmu,
hakekat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna
untuk manusia dalam menjelaskan, meramalkan dan menganalisa gejala-gejala
alam.
c. Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu
dan ilmu sebagai proses yang merupakan usaha sistematik dan metodik untuk
menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu.

3. Filsafat Keperawatan
Perawat adalah orang yang merawat orang-orang sakit. Terdapat dua jenis
perawat yaitu perawat awam dan perawat profesional. Perawat awam adalah seseorang
yang merawat orang-orang sakit tanpa ada pelatihan sebelumnya, seperti ibu yang
merawat anaknya ketika demam. Sedangkan perawat profesional adalah perawat yang
dilatih sebelum melakukan perawatan terhadap orang sakit. Perawat profesional harus
mengikuti pendidikan keperawatan sebelum merawat orang sakit.
Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional berupa pemenuhan kebutuhan dasar
yang diberikan kepada individu yang sehat maupun sakit yang mengalam gangguan
fisik, psikis, dan sosial agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. Bentuk
pemenuhan kebutuhan dasar dapat berupa meningkatkan kemampuan yang ada pada
individu, mencegah, memperbaiki, dan melakukan rehabilitasi dari suatu keadaan yang
dipersepsikan sakit oleh individu (Nursalam, 2008).
Keperawatan sebagai profesi harus memiliki konsep ilmu yang jelas, yang
menuntut untuk berfikir kritis, logis, dan analitis serta bertindak secara rasional dan etis
serta harus tanggap atas apa yang terjadi terhadap klien dan lingkungannya atau bisa
dikatakan berkaitan dengan kebenaran pada klien. Hal ini tentu memiliki keterkaitan
dengan filsafat yangmana merupakan cara untuk mengetahui kebenaran ilmu, sehingga
filsafat bagi keperawatan akan berguna untuk memajukan keperawatan sendiri.
Filsafat keperawatan adalah sesuatu yang menyatakan pikiran kita pada apa
yang kita yakini benar tentang sifat profesi keperawatan dan memberikan dasar untuk
kegiatan Perawatan. Hal ini mendukung nilai-nilai etika perawat sebagai dasar dan
mendasarkan keyakinan perawat dalam teori. Selain itu, filsafat keperawatan juga dapat
dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari tentang bagaimana seorang perawat
menyikapai apa yang terjadi pada kliennya, yang berpegang pada kebenaran yang
terjadi dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup klien.
Diketahui bahwa dalam filsafat ilmu terdapat tiga kajian, yaitu ontologi (apa arti dari
sebuah ilmu), epistemologi (bagaimana ilmu tersebut muncul) dan aksiologi (apa
manfaat dari ilmu tersebut). Dari ketiga kajian ini dapat diambil tiga pertanyaan
mengenai Ilmu Keperawatan, yaitu apa itu Ilmu Keperawatan?, bagaimana lahirnya
Ilmu Keperawatan?, dan apa tujuan dari adanya Ilmu Keperawatan?
Dari pertanyaan ontologi mengenai keperawatan, Virginia Henderson
mendefinisikan bahwa keperawatan adalah Bantuan yang diberikan kepadaindividu
baik dalam keadaan sehat maupun sakit dalamkegiatannya untuk mencapai keadaan
sehat atau sembuh daripenyakit sehingga ia mempunyai kekuatan, keinginan dan
pengetahuan.
Selanjutnya, apa jawaban dari bagaimana Ilmu Keperawatan lahir?
Keperawatan lahir bahkan jauh sebelum Florence Nightingale lahir. Keperawatan lahir
sejak zaman purbakala, yangmana pada zaman ini perawatan merupakan sebuah naluri
keibuan (mother instinc). Dari naluri keibuan ini bergeser kepada waktu dimana
manusia mempercayai tentang adanya kekuatan mistis yang dapat mempengaruhi
kehidupan manusia (Animisme). Disini, manusia percaya bahwa keadaan sakit
diakibatkan adanya pengaruh gaib. Kemudian dilanjutkan dengan zaman dimana
manusia percaya pada dewa dimana pada masa ini manusia percaya bahwa keadaan
sakit mereka adalah akibat dari kemarahan dewa. Hal ini terus berkembang sampai
akhirnya Florence Nightingale yang pada saat itu merawat pasien perang menyadari
bahwa pasien yang ditempatkan pada lingkungan bersih, proses kesembuhan lebih
cepat daripada pasien yang ditempatkan pada lingkungan kotor. Hal ini yang mendasari
bahwa lingkungan menjadi salah satu paradigma keperawatan. Sejak saat itu muncul
berbagai pemikiran baru mengenai kebenaran dalam keperawatan seperti Johnson yang
kemudian mengemukakan Behavioral System Model yang berdasarkan pada
penelitiannya mengenai adaptasi pasien terhadap kondisi sakitnya.
Jawaban dari pertanyaan aksiologis mengenai keperawatana adalah
memelihara, mencegah infeksi, dan cedera, memulihkan dari sakit, melakukan
pendidikan kesehatan serta mengendalikan lingkungan (Florence Nightingale, 1895).
Selain itu, Ilmu Keperawatan mejadi dasar perawat dalam melakukan tindakan
keperawatan kepada klien sehingga merubah kondisi klien menjadi lebih baik.
Hubungan antara filsafat imu dengan keperawatan adalah dimana filsafat dalam
keperawatan mengkaji apa penyebab dan hukum-hukum yang mendasari realitas
(kebenaran), serta keingintahuan mengenai gambaran akan sesuat yang lebih
berdasakan pada alasan logis daripada metode empiris. Filsafat keilmuan harus
menunjukkan bagaimana pengetahuan ilmiah sebenarnya dapat diaplikasikan, dalam
hal ini pengetahuan keperawatan, sehingga filsafat keperawatan merupakan keyakinan
dasar mengenai Ilmu Keperawatan yang berisi tentang segi biologis manusia (klien)
dan perilakunya dalam keadaan sehat dan sakit terutama berfokus kepada respon klien
terhadap situasi yang dihadapinya.
Berbagai manfaat dapat diambil dari filsafat untuk ilmu keperwatan. Berikut ini
beberapat manfaat filsafat bagi Ilmu Keperawatan:
1. Memudahkan proses keperawatan
2. Perawat dapat memecahkan permasalahan yang ada pada proses
keperawatan meliputi permasalahan teknologi, sosial budaya, ekonomi,
pengobatan alternatif, kepercayaan spiritual, dan lain sebagainya.
3. Sebagai dasar menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan untuk
tindakan perawatan melalui pengalaman-pengalaman sebelumnya.
4. Seorang perawat dapat menggunakan kebijaksanaan yang diperoleh dari
filsafat sehingga perawat tersebut dapat lebih berfikir positif (positif
thinking). Dengann positif thinking ini, seorang perawat dapat menjalankan
tugasnya dengan baik dan memudahkan perawat dalam menjalin hubungan
dengan klien yang tadinya susah berkomunikasi sehingga klien dapat
menjadi lebih dapat berkomunikasi dengan baik dan akhirnya dapat
mempercepat proses penyembuhan pasien tersebut.
5. Meminimalisir terjadinya kesalahpahaman dalam pencarian kebenaran Ilmu
Keperawatan.
6. Mendapatkan kebenaran dari hal-hal yang belum pasti seperti ketika
seorang perawat akan memberikan obat kepada klien, harus mengetahui
prosedur pemberian obat sehingga perawat dapat memberikan obat dengan
baik dan benar.

4. Filsafat Dilihat dari Nilai Budaya


Secara harfiah, budaya ialah cara hidup yang dimiliki sekelompok masyarakat
yang diwariskan secara turun temurun kepada generasi berikutnya
Soelaiman Soemardi & Selo Soemardjan menerangkan bahwa suatu kebudayaan
merupakan buah atau hasil karya cipta & rasa masyarakat.
Suatu kebudayaan memang mempunyai hubungan yang amat erat dengan
perkembangan yang ada di masyarakat
Budaya dan fakta
Pertama, fakta dapat berupa perbuatan/ tindakan, juga dapat berupa hasil karya
(budaya)
Fakta kesehatan apa adanya (blote rechtsfeiten), misalnya kelahiran, kematian,
kedewasaan atau keadaan belum dewasa dan sebagainya
Fakta keperawatan adalah kejadian atau peristiwa yang menimbulkan akibat
kesembuhan.
Hubungan antara fakta dengan budaya terjadi atau berperan jika sudah ada empirisnya.
Fakta keperawatan
Hubungan antara fakta empiris keperawatan dengan aturan baik-buruk adalah bahwa
aturan etika merupakan genus karena berlakunya umum dan abstrak dan tidak
menunjuk suatu peristiwa atau fakta konkret tertentu.
Nursing system diperlukan bila kebutuhan melebihi kemampuan seseorang.

5. Filsafat dilihat dari nilai moral & etika


Moral digunakan untuk sesuatu perbuatan yang dinilai, sedangkan etika dipakai
untuk menguji sistem-sistem nilai yang ada.
Moral tidak lepas dari hati nurani yang merupakan kesadaran yang diucapkan
dalam menjawab pertanyaan apakah sesuatu yang dilakukannya itu baik / buruk atau
boleh/tidak
Konsep sentral dari paradigma keperawatan adalah :
Manusia / Person / klien
Sehat dan kesehatan
Lingkungan
Perawat dan keperawatan
Interaksi, perilaku menyimpang danposisi adalah contoh darikonsep. Konsep
adalah generaliasasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk
menggambarkan berbagai fenomena dengan ciri atau kekhasan yang sama. Jadi konsep
harus merupakan atribut dari berbagai kesamaan fenomena yang diamati.
DAFTAR PUSTAKA

Conny R. Semiawan, TH. I Setiawan, Yufiarti. 2010. Spirit Inovasi dalam Filsafat Ilmu.
Jakarta: PT Indeks.

Drs. Rizal Mustansyir, M.Hum. & Drs. Misnal Munir, M.Hum. 2012. Filsafat Ilmu.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Drs. Surajiyo. 2012. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. 2010. Filsafat Ilmu: Sebagai Dasar
Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Penerbit Liberty.