Anda di halaman 1dari 39

KASUS DIABETES MELITUS

KELOMPOK A

Seorang wanita 71 tahun, datang ke laboratorium sdr untuk dilakukan pemeriksaan glukosa
darah, dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut:

Glukosa puasa 176 mg/dl ( normal: < 100 mg/dl )


Glukosa 2 jam post prandial 154 mg/dl ( normal < 140 mg/dl )
HbA1C : 6,2 % ( nilai normal 4 - 5,9% )

Pertanyaannya:

1. Bagaimana pendapat sdr dengan hasil laboratorium seperti diatas?


2. Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil lab ini, jelaskan ?
3. Apakah sdr akan memberikan hasil pemeriksaan ini kepada pasien tsb ? jelaskan

Jawaban

1. Hasil laboratorium diatas tidak normal karena kadar glukosa puasa, glukosa 2 jam pp,
dan HbA1C yang abnormal. Hasil glukosa puasa > 126 mg/dl dan HbA1C yang diatas
nilai rujukan merujuk bahwa pasien menderita DM.
Kadar glukosa puasa dan glukosa 2 jam post prandial yang abnormal
Ada ketidaksesuaian antara hasil pemeriksaan glukosa 2 jam pp dengan glukosa
puasa. Dimana hasil pemeriksaan glukosa 2 jam post prandial lebih rendah
dibandingkan dengan glukosa puasa. Pada keadaan yang seharusnya, hasil
pemeriksaan glukosa 2 jam post prandial lebih tinggi dibandingkan dengan
pemeriksaan glukosa puasa, karena pemeriksaan dilakukan 2 jam setelah diberi
intake makanan (karbohidrat). Ada beberapa kemungkinan yang dapat
menyebabkan ketidaksesuaian hasil tersebut, diantaranya:
Pada proses pra-analitik:
Sampel darah untuk pem.glukosa 2 jam pp tertukar
Pasien mengkonsumsi obat-obatan atau mendapat injeksi obat2an yang
dapat menurunkan kadar glukosa setelah makan sehingga pada pemeriksaan
glukosa 2 jam pp hasilnya lebih rendah dibandingkan dengan glukosa puasa
Pasien tidak makan atau hanya makan sedikit sebelum pemeriksaan glukosa
2 jam pp sehingga hasilnya lebih rendah dibandingkan glukosa puasa
Pasien melakukan aktivitas seperti berjalan-jalan sebelum diperiksa glukosa 2
jam pp sehingga kadarnya bisa menjadi lebih rendah
Pemeriksaan glukosa 2 jam pp yang dilakukan lebih dari 2 jam dapat
menyebabkan kadarnya menjadi rendah palsu karena adanya aktivitas
bakteri. Bisa juga karena serum tidak segera dipisahkan akibatnya kadar
glukosa 2 jam pp lebih rendah karena dimetabolisme oleh sel-sel
Pada proses analitik:
Pastikan quality control masuk kedalam range yang dapat diterima
Pastikan alat sudah terkalibrasi dan maintanance secara rutin
Pada proses post-analitik:
Pastikan tidak ada kesalahana dalam pelaporan hasil

2. Pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil lab ialah pemeriksaan glukosa urin
untuk melihat ada tidaknya glukosa pada urin atau tidak dan hitung jumlah eritrosit
dan Hb

3. Tidak, karena terdapat ketidaksesuaian hasil laboratorium. Hasil tersebut bisa


diberikan kepada pasien jika telah dilakukan verifikasi terhadap proses pra analitik,
analitik, dan post-analitik seperti:
Menanyakan pada pasien makanan apa yang telah dikonsumsi sebelum
pemeriksaan
Menanyakan pada pasien memiliki riwayat penyakit apa saja
Menanyakan pada pasien mengkonsumsi obat-obatan tertentu atau tidak
Menanyakan kegiatan pasien saat itu, karena aktivitas akan mempengaruhi
hasil pemeriksaan
Sampel diperiksa lebih dari 2 jam atau tidak
Mengetahui apakah Quality Control dilakukan dengan benar atau tidak
Solusi : lakukan pemeriksaan ulang dengan menggunakan sampel darah yang
baru beserta sampel urin. Karena untuk memastikan apakah pasien DM atau tidak

KELOMPOK B

Seorang pria 41 tahun, datang ke laboratorium sdr untuk dilakukan pemeriksaan darah,
dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Glukosa puasa 95 mg/dl (normal : 60-100 mg/dl)


2. Glukosa 2 jam post prandial 106 mg/dl (normal : < 140 mg/dl)
3. HbA1C : 6,1% (normal : 4-5,9%)
PERTANYAAN

1. Bagaimana pendapat sdr dengan hasil laboratorium seperti diatas?


2. Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil lab ini, jelaskan!
3. Apakah sdr akan memberikan hasil pemeriksaan ini kepada pasien tersebut? Jelaskan

HASIL DISKUSI

1. Hasil laboratorium diatas menunjukkan hasil yang abnormal pada pemeriksaan


HbA1C sedangkan pemeriksaan glukosa puasa dan glukosa 2 jam pp menunjukan
hasil yg normal. Seperti yang kita ketahui bahwa pada pemeriksaan glukosa puasa,
pasien harus berpuasa terlebih dahulu selama 8-10 jam karena asupan karbohidrat
akan mempengaruhi hasil pada glukosa puasa. Pada pemeriksaan 2 jam post
prandial, setelah pasien berpuasa selama 8-10 jam kemudian diambil darahnya,
kemudian pasien makan dan 2 jam setelah makan diperiksa lagi kadar glukosanya.
Sedangkan pemeriksaan HbA1C dilakukan untuk monitoring kadar glukosa dalam
waktu lama.
Dari hasil tersebut dapat disebabkan beberapa kemungkinan yaitu:
Pra Analitik
- Dilihat dari kadar glukosa puasa yang normal, namun kadar HbA1Cnya
meningkat. Kemungkinan pasien baru terkena DM atau sedang
melakukan treatment DM sehingga hasil glukosa darah normal (DM
terkontrol).
- Persiapan sampel untuk pemeriksaan glukosa darah kurang tepat,
misalnya setelah di sentrifuge, serum tidak segera dipisahkan, sehingga
dapat menyebabkan hasil rendah palsu karena glukosa digunakan oleh
eritrosit. Atau serum didiamkan terlalu lama bukan di suhu penyimpanan
yang tepat, sehingga glukosa di metabolisme bakteri.
Analitik
Pada saat pemeriksaan bahan kontrol, hasilnya berada pada rentang -2 SD,
sehingga sampel juga rendah. Karena bahan kontrol diperlakukan sama
dengan sampel, maka apa yang terjadi pada bahan kontrol dapat
menggambarkan hasil pada sampel juga.
Pasca analitik
Kesalahan pada penulisan hasil (human error).

Kemungkinan lain HbA1C tinggi sedangkan glukosa darah normal yaitu pasien
menderita polisitemia yaitu keadaan dimana sel-sel darah ada dalam jumlah yang
diatas normal. Sehingga jumlah sel eritrosit yang mengikat glukosa juga lebih banyak.

2. Pemeriksaan lain yang berhubungan adalah dengan melakukan pemeriksaan hitung


jumlah eritrosit untuk memastikan HbA1C benar-benar tinggi karena diabetes atau
polisitemia.
3. Setelah dipastikan bahwa tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik telah yakin
benar (diverifikasi), hasil boleh diberikan kepada pasien.

KELOMPOK D

Seorang wanita usia 57 tahun akan dilakukan operasi reposisi fraktur, dilakukan
pemeriksaan lab untuk persiapan operasi dengan hasil sbg berikut :

- Glukosa puasa 147 mg/dl (normal : 60-100 mg/dl)


- Glukosa 2 jam post prandial 212 mg/dl (normal : < 140 mg/dl)
- HbA1C : 7,8% (normal : 4-5,9%)
- C peptida : 1,6 ng/mL (normal : 0,51-2,72 ng/ml)
PERTANYAAN

1. Bagaimana pendapat sdr dengan hasil laboratorium seperti diatas?


2. Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil lab ini, jelaskan!
3. Apakah sdr akan memberikan hasil pemeriksaan ini kepada pasien tersebut?
Jelaskan

JAWABAN

1. Hasil pemeriksaan diatas menunjukkan hasil glukosa puasa, glukosa 2 jam pp, dan
HbA1C yang tidak normal sedangkan hasil C peptida normal. Hasil glukosa puasa yang
> 126 mg/dl, glukosa 2 jam pp > 200 mg/dl merujuk bahwa pasien kemungkinan
menderita DM. Tipe DM-nya yaitu tipe 2 karena pada pem. C peptide nya
menunjukkan hasil yang normal. Namun, hasil pemeriksaan tsb dpt dikatakan benar
apabila sudah dipastikan tahap pra-analitik,analitik, dan post analitiknya yaitu :
Pra-analitik
- Tanyakan pada pasien terakhir mengkonsumsi obat karena ada beberapa
obat yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Dan pemberian
vitamin C juga dapat menyebabkan HbA1C tinggi palsu
- Pasien kemungkinan stres sehingga dapat menyebabkan glukosa puasa dan
2 jam pp tinggi
Analitik
- Apakah bahan kontrolnya masuk kedalam rentang yang dapat diterima
atau tidak
- Pastikan alat sudah terkalibrasi dan maintanance secara rutin

Post-analitik
- Pastikan pelaporan hasil benar

2. Pemeriksaan lain yg berhubungan dengan kasus ini yaitu HOMA IR untuk melihat
apakah terdapat resistensi insulin atau tidak.

3. Setelah dipastikan bahwa tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik telah yakin
benar (diverifikasi), hasil boleh diberikan kepada pasien.

KELOMPOK C

Pria usia 27 tahun dengan penyakit DM datang kontrol ke lab, dilakukan pem.lab dengan
hasil sbb:
1. Glukosa puasa 188 mg/dl (normal : 60-100 mg/dl)
2. Glukosa 2 jam post prandial 215 mg/dl (normal : < 140 mg/dl)
3. HbA1C : 5,8% (normal : 4-5,9%)
4. Mikroalbuminuria 200 ug/ml (normal : 20-200 ug/ml)

PERTANYAAN

1. Bagaimana pendapat sdr dengan hasil laboratorium seperti diatas?


2. Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil lab ini, jelaskan!
3. Apakah sdr akan memberikan hasil pemeriksaan ini kepada pasien tersebut?
Jelaskan

JAWABAN

1. Hasil pemeriksaan diatas menunjukkan hasil glukosa puasa dan glukosa 2 jam pp yang
tidak normal sedangkan hasil HbA1Cnya normal dan mikroalbuminuria berada pada
batas atas. Hasil pemeriksaan tersebut terdapat ketidaksesuaian antara hasil glukosa
darah (glukosa puasa dan 2 jam pp) dengan HbA1C karena dikasus tsb disebutkan
bahwa pasien menderita DM sehingga seharusnya hasil HbA1C nya lebih tinggi.
- Kadar HbA1C rendah palsu bukan normal karena pasien sudah memiliki riwayat
penyakit DM. Kadar HbA1C berhubungan dengan jumlah eritrosit sehingga hasil
rendah palsu dpt disebabkan karena anemia hemolitik, anemia glukosa 6 fosfat
dehidrogenase, perdarahan
- Mikroalbuminuria menunjukan adanya kerusakan ginjal. Karena hasilnya 200
ug/ml adalah batas atas berarti sudah ada kerusakan ginjal, ditunjang juga dengan
adanya riwayat penyakit DM
Hasil pemeriksaan tsb dpt dikatakan benar apabila sudah dipastikan tahap pra-
analitik,analitik, dan post analitiknya yaitu :
Pra-analitik
- Sampel tidak hemolisis karena jika hemolisis dapat menyebabkan hasil
HbA1C rendah palsu
- Tanyakan riwayat penyakit pasien apakah menderita anemia hemolitik,
anemia glukosa 6 fosfat dehidrogenase, mengalami perdarahan atau tidak
Analitik
- Apakah bahan kontrolnya masuk kedalam rentang yang dapat diterima
atau tidak
- Pastikan alat sudah terkalibrasi dan maintanance secara rutin

Post-analitik
- Pastikan pelaporan hasil benar

2. Pemeriksaan lain yang berhubungan yaitu:


- Glukosa urin sbg tes konfirmasi karena glukosa darah lebih dari 180 mg/dl
(melebihi ambang batas ginjal) shg kemungkinan positif dalam urin
- Pemeriksaan hitung jumlah eritrosit, Hb, dan elektroforesis Hb, untuk
menentukan apakah kadar HbA1C yang rendah disebabkan karena anemia
hemolitik atau perdarahan

3. Setelah dipastikan bahwa tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik telah yakin
benar (diverifikasi), hasil boleh diberikan kepada pasien.

KASUS ELEKTROLIT

1. Kasus A
Seorang anak laki-laki ( 6 th ) datang dengan keluhan muntah dan diare. Dilakukan
pemeriksaan Laboratorium dengan hasil sebagai berikut :

Natrium 150 mmol/l ( 135-144 mmol/l )


Kalium 6,4 mmol/l ( 3,6 4,8 mmol/l )
Chlorida 110 mmol/l ( 97-106 mmol/l )
Pertanyaan :

Bagaimana dengan hasil Lab diatas ?


Dapatkah hasil diatas dikeluarkan ? Beri penjelasan
Jawaban :

Dehidrasi : ECF keluar, sehingga menyebabkan Na dan Cl dalam ekstra sel meningkat.

ICF keluar ke ekstra sel sehingga ICF pun berkurang dan K meningkat

Bisa pula karena tinggi palsu penyebabnya

1. Penyebab Hemolisis
Penggunaan torniquet terlalu lama
Menggerakan tangan buka tutup saat sampling
Jarum yang digunakan tidak sesuai
Penarikan piston yang terlalu cepat
2. Pra Analitik
- Hemolisis : K tinggi palsu
- Pengambilan Antikoagulan : Na tinggi palsu jika yang digunakan Na-heparin dan
K tinggi palsu
- Mengambil sampel vena yang sedang di infus
- Darah di biarkan terlalu lama
- Periksa riwayat penyakit pasien
3. Analitik
QC Jika bahan kontrol hasilnya jauh dari nilai target
Qc liat aturan westgard ( 4kali diatas 1 sd, maka dilakukan kalibrasi ulang)
Alat pake ise (elektroda punya umur yg harus terkalibrasi)
4. Post Analitik
Salah penulisan dalam pelaporan

Kesimpulan hasil tinggi karena keadaan pasien dan juga bisa kemungkinan yg menyebabkan
tinggi . Hasil dapat dikeluarkan jika pada tahap verifikasi sudah benar dan sudah tervalidasi

Ibu nanya : Kalo hasil semua tinggi mungkin ga dikeluarkan dengan verfikasi sudah benar ?
biasanya ga tinggi gini, Na kalium mungkin tinggi, tapi klorida biasanya ga tinggi, liat
konidisi klinis jg , mungkin tidak hanya diare mungkin bisa dari yg lain seperti gangguan
keseimbangan asam basa (asidosis) karena akibat diare/muntah2 dpt menyebabkan gangguan
keseimbangan asam basa. Disarankan pemeriksaan agd

2.KASUS B

Seorang Pria (76 tahun) datang dengan keluhan muntah dan diare, dilakukan pemeriksaan
laboratorium dengan hasil sebagai berikut:

Natrium 135 mmol/L (135-144 mmol/L)


Kalium 5.0 mmol/L (3.6-4.8 mmol/L)
Chlorida 104 mmol/L (97-106 mmol/L)

PERTANYAAN

Bagaimana dengan hasil laboratorium diatas?


Dapatkah hasil diatas dikeluarkan? Beri penjelasan!
HASIL DISKUSI

Bagaimana dengan hasil laboratorium diatas?

Dilihat dari hasil laboratorium diatas terjadi peningkatan pada kadar kalium,
sehingga hasil abnormal.
Dilihat dari kondisi pasien muntah dan diare, keadaan tersebut dapat
menyebabkan gangguan keseimbangan cairan tubuh yaitu dehidrasi atau hipovolemi.
Namun dilihat dari hasil pemeriksaan laboratorium kadar natrium dalam keadaan
normal, yang berarti menunjukan terjadinya gangguan keseimbangan cairan tubuh
yaitu hipovolemi. Karena seperti yang kita ketahui pada hipovolemi terjadi penurunan
ECF (cairan ekstraselular) yang sebanding dengan penurunan natrium ( ECF ~ Na
) Isotonik (kadar Natrium normal). Sedangkan pada keadaan dehidrasi umumnya
terjadi penurunan air tanpa disertai elektrolit. Sehingga seharusnya kadar natrium
menjadi meningkat dalam tubuh. Karena kadar natrium normal, maka hal ini dapat
dikatakan terjadinya hipovolemi.
Kadar kalium yang meningkat, kemungkinan karena sampel hemolisis. Karena
pada hemolisis akan menyebabkan kadar kalium menjadi tinggi palsu.

Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu:


Pra-Analitik
o Pemasangan torniquet saat sampling tidak boleh terlalu keras dan lama.
o Pasien harus dalam keadaan relaks, pergerakan tangan (buka - tutup) akan
meningkatkan kadar kalium (bahaya hemolisis), kenaikan kalium 10 - 20 %.
o Jarum yang dipakai tidak boleh terlalu kecil dan penarikan piston tidak boleh
terlalu cepat.
o Tidak boleh mengambil sampel dari vena yang sedang diinfus.
o Pada keadaan sel darah jumlahnya tinggi (polisitemia, lekositosis, atau
trombositemia), sebaiknya bahan pemeriksaan memakai plasma, karena bila
darah dibiarkan lama untuk jadi serum, maka darah akan mudah lisis.
o Serum tidak segera dipisahkan, karena kalium akan keluar dari sel darah
merah.
Analitik
o Lakukan kalibrasi dan QC secara berkala.
Post-Analitik
o Tidak boleh ada kesalahan pencatatan hasil.

Dapatkah hasil diatas dikeluarkan? Beri penjelasan!


Hasil tidak boleh dikeluarkan karena kemungkinan sampel hemolisis. Jadi
sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang dengan sampel baru dan harus
memperhatikan tahap pra-analitik, analitik, dan post-analitik.

KESIMPULAN

Jadi dapat disimpukan bahwa hasil laboratorium pada kasus ini abnormal. Dimana
terjadi peningkatan kadar Kalium. Peningkatan kadar kalium ini dikarenakan sampel
hemolisis dan kondisi pasien muntah dan diare menyebabkan hipovolemi.

Hasil laboratorium tidak boleh dikeluarkan karena kemungkinan sampel hemolisis.


Jadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang dengan sampel baru dan harus memperhatikan
tahap pra-analitik, analitik, dan post-analitik.
Ibu say : semua sudah benar, satu hal yang perlu diingat pada kasus ini yg abnorml hanya
kalium yaitu hiperkalemi bisa memang benar penyakitnya, bisa juga kesalahan teknis.
Teteapi dilihat dari gejala pasien pasien tidak cocok , maka besar kemungkinan dari
kesalahan teknis dari pra-post.

Perlu diingat pemeriksaan yg berhubungan dengan kalium tinggi , liat pem hematologi,
klo lekosit tinggi, hb tinggi,trombosit tinggi (polisitemia vera), maka mudah melepas
kalium karena mudah sekali lisis. Jika memang benar hasil hematologi tinggi maka
pemeriksaan ini harus sesegera mungkin dilakukan

3. STUDI KASUS C

Seorang perempuan 45 tahun datang dengan keluhan sudah 2 bulan sering kencing terus
menerus. Dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil sbb:

o Glukosa darah sewaktu 104 mg/dl (<140 mg/dl)


o Natrium 150 mmol/l (135-144 mmol/l)
o Kalium 4.0 mmol/l (3.6-4.8 mmol/l)

PERTANYAAN

1. Bagaimana dengan hasil laboratorium diatas?


2. Dapatkah hasil diatas dikeluarkan? Beri penjelasan

JAWABAN

1. Hasil laboratorium tersebut berkorelasi karena sesuai dengan keluhan pasien yang
sudah 2 bulan sering kencing. Karena nilai glukosa darah sewaktu yang normal
sehingga pasien merujuk kepada Diabetes Insipidus, dimana pada Diabetes Insipidus
terjadi penurunan hormone ADH (yang berperan sebagai antidiuretik) sehingga
penderita akan kencing terus menerus. Karena kencing terus menerus, maka lama
kelamaan penderita akan mengalami dehidrasi. Dehidrasi tersebut dapat menyebabkan
terjadinya hypernatremia karena volume air akan berkurang tanpa diikuti
berkurangnya elektrolit (Na+) atau berkurangnya air melebihi berkurangnya Natrium
dari cairan ekstraseluler sehingga terjadi peningkatan Natrium pada cairan
ekstraseluler.
2. Hasil tersebut dapat dikeluarkan setelah dilakukan verifikasi pra analitik, analitik, dan
pasca analitik.
Pra analitik:
Penggunaan antikoagulan harus tepat. Penggunaan Na-heparin dapat
menyebabkan hasil Natrium tinggi palsu.
Tanyakan riwayat penyakit pasien apakah menderita diabetes insipidus atau
tidak

Analitik:

Pastikan alat dikalibrasi dan dilakukan maintanance secara berkala


Hasil qc didalam batas diterima Baca pake aturan (westgard, sixsigma,
uncertainty)

Pasca Analitik:

Pastikan tidak ada kesalahan dalam pelaporan hasil

3. Kasus Kelompok D

Seorang Pria usia 56 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak nafas. Dilakukan
pemeriksaan laboratorium dengan hasil sebagai berikut:

Natrium 153 mmol/l (nilai rujukan : 135 144 mmol/l)


Kalium 6,7 mmol/l (nilai rujukan 3,6 4,8 mmol/l)
Klorida 121 mmol/l (nilai rujukan 97 106 mmol/l)
Kalsium 11,2 mmol/l (nilai rujukan 9,0 10,5 mmol/l)
Hemoglobin 18,7 g/dl (nilai rujukan 13,0 17,0 g/dl)
Leukosit 34.500/mm3 (nilai rujukan 4.000 10.000/mm3)
Hematokrit 53% (nilai rujukan 43 49%)
Trombosit 765.000/mm3 (nilai rujukan 150.000 450.000/mm3)

Pertanyaan :

Bagaimana dengan hasil laboratorium diatas?


Dapatkah hasil diatas dikeluarkan? Beri penjelasan

Jawaban :

Hasil laboratorium di atas menunjukkan hasil yang tidak normal karena seluruh
pemeriksaan berada di atas nilai rujukan.
Kemungkinan yang terjadi adalah :
Pasien datang dalam keadaan sesak nafas, hasil pemeriksaan hematologi nya
pun menunjukkan hasil yang sangat tinggi, kemungkinan pasien menderita
polisitemia. Pada penderita polisitemia, sel darah dengan jumlah yang banyak
akan menyumbat aliran ke jantung akibatnya timbul sesak nafas.
Pada penderita polisitemia, sebaiknya bahan pemeriksaan menggunakan
plasma karena jika darah dibiarkan lama untuk menjadi serum maka darah
akan mudah lisis sehingga menyebabkan kenaikan elektrolit. KONFIRMASI
APAKAH BENAR POLISITEMIA ? KONFIRMASI DENGAN HITUNG JUMLAH SEL
DI MIKROSKOP
Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah serum atau serum tidak segera
dipisahkan sehingga kalium dan cairan intra sel lainnya keluar dari sel darah
merah dan menyebabkan hasil tinggi.
Anti koagulan yang digunakan tidak benar. Anti koagulan yang digunakan
untuk pemeriksaan elektrolit sebaiknya heparin-kalium atau heparin-lithium.
Pemakaian antikoagulan lain dapat menyebabkan hasil menjadi tinggi palsu.
Pasien dalam keadaan sesak nafas pada saat datang ke rumah sakit :
ekshalasi mengeluarkan air lebih banyak sehingga elektrolit dalam tubuh
meningkat.

Hasil perlu dilakukan verifikasi terlebih dahulu mulai dari pra analitik, analitik, hingga
post analitik.
Pra analitik
1. Saat pengambilan darah, pastikan torniquet tidak dipasang terlalu lama
atau terlalu keras, tidak buka tutup kepalan tangan, jarum disesuaikan (tidak
terlalu kecil), dan penarikan piston syringe tidak terlalu cepat karena dapat
menyebabkan sampel lisis.
2. Identifikasi pasien dengan riwayat penyakit atau pemeriksaan fisik.
3. Pastikan sampel yang akan diperiksa tidak dibiarkan lama karena akan
mengakibatkan kenaikan elektrolit.
4. Pastikan antikoagulan yang digunakan benar.
5. Periksa ulang bahan pemeriksaan yang digunakan apakah serum atau plasma.

Analitik
1. Pastikan isntrumen yang digunakan terkalibrasi dan reagen yang digunakan
masih layak pakai
Post analitik
1. Pastikan pelaporan hasil pemeriksaan dilakukan dengan benar.

Ibu says : kemungkinan polisitemia vera harus dicek dulu dengan pemeriksaan konfirmasi
menggunakan mikroskop, hasil tinggi bisa saja selain polisitemia vera yaitu lisis atau tertukar
sampelnya karena pemeriksaan nya kan beda alat (elektrolit dan hema)

Klo memang benar yakin polisitemia vera dan sudah uji konfirmasi , jangan lupa tanyakan
juga riwayat penyakit, apakah memang sering sesak, pusing dsb. Biasanya memang pada
polisitemia vera itu prosesnya kronis, ga mungkin tiba, maka dari itu liat riwayat penyakit

Pada elektrolit jgn menggunakan antikoagulan natrium

KASUS GOLONGAN DARAH

Kasus A

Seorang wanita di bawa ke UGD dalam keadaan pucat, dilakukan pemeriksaan hematologi, darah
pasien tsb cepat sekali lisis dan membeku, setelah mendapatkan perlakuan khusus, dilakukan
pemeriksaan darah dan ditemukan Hbnya 4,3 g/dl, lalu direncanakan pasien tersebut untuk
transfuse darah, penderita tsb dilakukan pemeriksaan back typing pada cross match golongan
darahnya adalah O, pertanyaannya

1. mengapa hal tersebut terjadi ?

2. discrepansi golongan berapa?

3. Apa yang harus dilakukan untuk pemeriksaan golongan darah yang benar?

Jawaban
1. Perbedaan golongan darah pada pemeriksaan pasien dapat disebabkan oleh kondisi pasien yang
darahnya mudah lisis dan menggumpal sehingga pada pemeriksaan golongan darah yang
pertama(cell typing)dimana kondisi darah sudah membeku sehingga golongan darah menunjukkan
hasil positif pada pembacaan reaksinya.

2. Menurut kelompok kami, kasus ini termasuk pada diskrepansi golongan III karena pada
pemeriksaan cell typing antibodi tidak terdeteksi sedangkan padaback typing terdeteksi bahwa
terdapat antibodi, berarti ada sesuatu di antibodi , antibodi merupakan protein , kemungkinan
protein atau plasma nya abnormal. Protein atau plasma yang abnormal tadi menyebabkan
terbentuknya rouleaux, ini sesuai dengan kondisi darah pasien yang cepat sekali lisis dan membeku.
Rouleaux tadi terbentuk akibat protein (globulin) yang meningkat sehingga globulin tersebut
menyebabkan muatan electron pada eritrosit melemah sehingga eritrosit-eritrosit menggumpal
(rouleaux).

3. Apakah yang harus dilakukan :

Pra Analisis
Sebelum pengambilan darah pasien, siapkan wadah yang berisi air hangat yang
bersuhu 40 derajat celcius dan masukkan tabung kosong ke dalam wadah yang berisi
air hangat tersebut.
Setelah mengambil darah pasien, ambil tabung dari wadah yang berisi air hangat lalu
masukkan darah pasien kedalam tabung tadi.
Setelah diisi darah pasien, masukkan kembali tabung tadi kedalam wadah yang
berrisi air hangat untuk mengantisipasi terjadinya darah yang cepat membeku.
Analisis
Pemeriksaan golongan darah cell typing pada kondisi cold agglutinin sering
memberikan hasil yang tidak akurat. Sehingga memerlukan pemeriksaan khusus
yaitu back typing agar memberikan hasil yang lebih akurat. Pada pemeriksaan back
typing sampel yang digunakan adalah serum sehingga adanya eritrosit yang
menggumpal tidak akan mempengaruhi pemeriksaan.

Post Analisis
Pada saat interpretasi hasil pembacaan dilakukan dengan teliti, karena seringkali
analis salah dalam menentukan golongan darah.
Verifikasi ulang antara identitas pasien dengan sampel yang diperiksa.

Kasus B

Seorang bayi 3 hari, dibawa ke IGD dalam keadaan pucat dan kuning, dilakukan pemeriksaan
hematologi, ditemukan Hb nya 5,3 g/dl, lalu direncanakan pasien tersebut untuk transfusi darah,
penderita tersebut dilakukan pemeriksaan golongan darah hasilnya B, ternyata pada pemeriksaan
back typing pada crossmatch terjadi reaksi,
Pertanyaan :
1. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
2. Discrepansi golongan berapa?
3. Apa yang harus dilakukan untuk pemeriksaan golongan darah yang benar?

Jawaban :
1. Terjadi diskrepansi yakni ketidaksesuaian antara forward dan reverse test. Hal ini dapat terjadi
karena dua kemungkinan yaitu diskrepansi palsu dan diskrepansi sejati.

Diskrepansi sejati yaitu adanya kelainan antigen dan/atau antibodi golongan darah
pasien. Berikut penyebab kemungkinan dikrepansi sejati pada kasus ini :
a. Kesalahan dalam menentukan golongan darah. Pemeriksaan golongan darah pada bayi
tersebut didapat golongan darah B (antigen B pada eritrosit dan antibodi anti A pada
serum). Jika pemeriksaan menggunakan serum typing (deteksi antibodi pada serum
pasien) ada kemungkinan bahwa golongan darah tersebut bukan golongan darah yang
sebenarnya, karena antibodi pada bayi baru lahir belum terbentuk sempurna. Sehingga
hasil tidak akurat.
b. Setelah diketahui golongan darah selanjutnya dilakukan pemeriksaan crossmatch
karena bayi tersebut kadar hemoglobinnya rendah sehingga perlu segera di transfusi.
Pemeriksaan reaksi silang (Cross Match) diperlukan sebelum melakukan transfusi darah
untuk melihat apakah darah pasien / resipien sesuai dengan darah donor. Pemeriksaan
Cross Match ini sangat perlu untuk mencegah reaksi transfusi dengan memastikan
penderita tidak mengandung antibody yang reaktif terhadap antigen pada sel darah
merah donor dan bermanfaat bagi pasien. Ada 2 pemeriksaan reaksi silang :
- Pada reaksi silang mayor (Mayor Cross Match) adalah memeriksa ketidakcocokan
oleh karena adanya antibodi dalam serum pasien terhadap antigen sel darah
merah donor.
Serum pasien golongan darah B mengandung antibodi anti-A direaksikan dengan
sel darah merah donor golongan darah B mengandung antigen B, reaksi :
Anti-A + Antigen B Tidak terjadi aglutinasi.
Namun pada hasil pemeriksaan terjadi reaksi aglutinasi, maka kemungkinan
terdapat antibodi Anti-B pada serum pasien yang bereaksi dengan antigen B pada
sel darah merah donor. Hal ini dapat terjadi mengingat pasien merupakan bayi
baru lahir (umur 3 hari) dimana antibodi belum terbentuk sempurna atau belum
ditemukan, karena antibodi Anti-A dan Anti-B biasanya tipe IgM yang tidak dapat
melewati plasenta untuk masuk ke sirkulasi fetus. Dan antibodi umumnya
ditemukan pada bayi berusia 4-6 bulan.
- Pada uji silang serasi minor (Minor Cross Match) adalah untuk memastikan
ketidakcocokan oleh karena adanya antibodi dalam serum donor terhadap antigen
sel darah merah pasien.
Sel darah merah pasien golongan darah B mengandung antigen B direaksikan
dengan serum donor golongan darah B mengandung antibodi Anti-A, reaksi :
Antigen B + Anti-A Tidak terjadi aglutinasi
Hasil pemeriksaan sesuai karena pada bayi baru lahir antigen tidak ada masalah.

Diskrepansi palsu disebabkan oleh masalah teknikal. Berikut kemungkinan kesalahan


yang dapat terjadi :
a. Pra analitik :
- Sampel tertukar
- Salah pelabelan
- Kemungkinan menggunakan whole blood/kapiler sehingga bereaksi dengan
protein lain dan menyebabkan hasil positif palsu.
Analitik :
- Salah meneteskan reagen, contohnya ketika pemeriksaan golongan darah reagen
anti-A dan anti-B tertukar, sehingga menyebabkan salah dalam identifikasi
golongan darah.
- Sentrifuge tidak terkalibrasi
- Reagen terkontaminasi
- Tabung kotor
Post analitik :
- Salah pembacaan interpretasi hasil

2. Diskrepansi golongan 1 karena terdapat perbedaan antara forward dan reverse grouping
akibatnya reaksi lemah atau antibodi yang tidak terdeteksi pada bayi baru lahir, seperti yang
dijelaskan sebelumnya. Namun bisa juga termasuk kedalam diskrepansi golongan 2
tergantung dari penyebabnya.

3. Karena terdapat diskrepansi maka darah donor tidak dapat diberikan kepada pasien, dan
berikut yang harus dilakukan adalah:
a. Identifikasi masalah diskrepansi yang terjadi. Jika terdapat kesalahan teknis yang
menyebabkan dikrepansi palsu, maka hilangkan seluruh kesalahan teknis dan lakukan
pemeriksaan ulang untuk konfirmasi. Jangan lupa juga untuk memastikan bahwa sampel
tidak lisis karena jika lisis dapat menyebabkan hasil positif palsu
b. Meningkatkan reaksi reverse grouping dengan cara menginkubasi serum pasien dengan
reagen sel pada suhu kamar selama 15 menit
c. Ketika telah dilakukan pemeriksaan ulang dan hasil tetap sama yang disebabkan karena
diskrepansi sejati (di dalam serum pasien bayi baru lahir, antibodi belum terbentuk atau
belum sempurna), maka untuk kebutuhan transfusi yang mendesak dapat dilakukan
transfusi dengan packed red cell (sel darah merah saja) golongan darah O karena
golongan darah O tidak memiliki antigen sehingga aman ditransfusikan kepada pasien.
(catatan: tidak berlaku bagi pasien dengan golongan darah O Bombay)

Kasus C

Kasus D

Seorang bayi 7 hari, dilakukan pemeriksaan golongan darah, hasilnya gol O, ternyata
ayahnya mempunyai gol AB dan ibunya gol B.

PERTANYAAN

1. Apakah golongan anak ini sesuai dengan golongan darah kedua orang tuanya?
2. Mengapa bisa terjadi demikian?
3. Apa yang harus dilakukan?

JAWABAN

1. Tidak sesuai. Karena berdasarkan Hukum Mendell, jika kedua orang tua memiliki
golongan darah AB dan B maka golongan darah yang mungkin diwariskan kepada
anaknya adalah gol AB, A dan B, sedangkan golongan darah yang tidak mungkin
diwariskan adalah gol O.
A B
B AB BB
O AO BO
Fenotip AB, A, B

A B
B AB BB
B AB BB
Fenotip AB, B
2. Hal ini bisa terjadi karena:

PRA ANALITIK

Sampel dan reagen tertukar: bisa disebabkan karena ketidak jelasan


label/identitas.
Tabung kotor: tabung yang kotor bisa menimbulkan gumpalan yang berpengaruh
terhadap pembacaan hasil,sehingga gumpalan tersebut akan dianggap sebagai
hasil aglutinasi dari reaksi antigen-antibodi. Hal ini bisa menyebabkan hasil pada
cell typing dan serum typing positif palsu gol O dan negatif palsu gol A, B dan AB.

ANALITIK

Kalibarasi dan perawatan alat:tidak dilakukan secara berkala, misalnya alat


centrifuge.
Kesalahan pembacaan: bisa disebabkan karena human error, dimana pembacaan
masih dilakukan secara manual berdasarkan optik. Alasan lainnya metode
pemeriksaan masih menggunakan metode slide test yang menyebakan gumpalan
tidak terlihat jelas.
Volume reagen: jika volume reagen cell typing ditambahkan terlalu banyak atau
reagen serum typing ditambahkan terlalu sedikit, maka akan menyebabkan hasil
positif palsu gol O dan negatif palsu gol A, B dan AB.
Volume/konsentrasi sampel: jika volume/konsentrasi sampel cell typing terlalu
sedikit (encer) atau volume/konsentrasi sampel serum typing terlalu banyak
(kental), maka akan menyebabkan hasil positif palsu gol O dan negatif palsu gol A,
B dan AB.
Reagen kadaluarsa: reagen yang kadaluarsa pada cell typing bisa saja kehilangan
substansi anti-A dan anti-B atau pada serum typing bisa saja kehilangan substansi
antigen-A dan antigen B , sehingga bisa menyebabkan hasil positif palsu gol O dan
negatif palsu gol A, B dan AB.
Reagen terkontaminasi: kontaminan yang mengandung antigen-antibodi akan
mempengaruhi hasil pemeriksaan, misalnya bakteri.
POST ANALITIK

Kesalahan bisa terjadi pada saat pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan
laboratorium.

3. Jika hasil pemeriksaan sudah diverifikasi dan divalidasi dengan baik dan benar, maka:
Periksa kembali pasien (bayi) tersebut pada usia 4-6 bulan, karena umumnya
antibodi pada bayi baru lahir akan tampak pada usia tahun pertama.
Periksa kembali golongan darah dari orang tua bayi tersebut.
Setelah menemukan kesalahan teknis yang menyebabkan hasil positif dan negatif
palsu, hilangkan seluruh kesalahan teknis tersebut.
Serum typing: inkubasi serum pasien dengan reagen sel pada suhu kamar selama
15 menit.

KASUS KESEIMBANGAN ASAM BASA

KASUS A

PH : 5,2

pCo2 : 43 mmHg

HCO3 N

Interpretasi Hasil : Dari kondisi tersebut disebutkan kondisi PH nya asam yaitu 5,2, komponen yang
terganggu adalah komponen Respiratorik karena diatas dari nilai normal (40 mmHg). Sehingga
kondisi diatas menunjukan bahwa pasien menderita kelainan Respiratorik Asidosis Tanpa
kompensasi. pada kondisi ini, tidak terjadi kompensasi karena nilai HCO3 nya Normal.

Untuk memastikan hasil tersebut benar, maka hal hal yang harus diperhatikan :

1) Pra-analitik
Pada saat persiapan pasien, usahakan pasien tenang dan tidak takut karena hal ini
dapat menaikkan pH dan menurunkan kadar PCO2.
Saat pengambilan bahan pemeriksaan, sampel darah yang digunakan adalah darah
arteri dan dilakukan secara tertutup, hal ini untuk mencegah terjadinya perubahan
kadar CO2.
Menggunakan perbandingan antikoagulan yang sesuai. Heparin yang berlebih
dapat mengakibatkan hasil rendah palsu.
Memastikan pada sample tidak ada bekuan dan gelembung udara karena keadaan
tersebut dapat mengakibatkan penurunan PCO2 dan peningkatkan pH.
Sebelum pemeriksaan, syringe dihomogenkan dan bahan harus segera diperiksa
maksimal penundaan 1 jam pada suhu 4-8oC.
Suhu penyimpanan bahan pemeriksaan 2-80C (dalam lemari es/diberi butiran es) hal ini
dilakukan untuk mencegah glikolisis yang akan menurunkan PO2 dan pH sehingga PCO2
akan naik.

Pastikan semprit yang sudah mengandung darah harus tercampur homogen,


karena jika tidak akan menyebabkan hasil rendah palsu.

2) Analitik
Melakukan pemeriksaan QC terlebih dahulu dan dianjurkan menggunakan 3 level
bahan control dan dilakukan setiap 8 jam. Kemudian cek reagen pemeriksaan
untuk menghindari kemungkinan adanya kontaminasi dan reagen yang sudah
kadaluarsa.
Pastikan reagen yang dipakai tidak kadaluwarsa dan tidak terkontaminasi.

3) Post analitik

Pencatatan hasil pemeriksaan dan expertise (interpretasi hasil harus benar)

Kesimpulan : Respiratorik Asidosis tanpa Kompensasi

KELOMPOK B

P CO2 : 40 mmHg

HCO3 : 28 mmol/l

Interpretasi hasil : ?

JAWABAN

Nilai Rujukan P CO2 : 40 mmHg


Dilihat dari soal, nilai PCO2 = 40 mmHg, hal ini menunjukan bahwa kondisi pasien tersebut
dalam keadaan normal.
Nilai Rujukan HCO3 : 24 mmol/l
Dilihat dari soal, nilai HCO3 = 28 mmol/l, hal ini menunjukan bahwa kondisi pasien tersebut
tidak normal, karena hasilnya melebihi nilai rujukan.

Dari kondisi tersebut komponen yang terganggu adalah komponen metabolik karena nilai HCO3 nya
yang tidak normal. Gangguan tersebut dapat mempengaruhi pH darah yang berdeviasi ke arah basa
dilihat dari konsentrasi rasio [HCO3] / [PCO2].

[3]
2
= = pH > 7,4 Alkalosis

Sehingga, kondisi diatas menunjukan bahwa pasien menderita kelainan metabolik alkalosis tanpa
kompensasi. Pada kelainan ini, tidak terjadi kompensasi karena nilai PCO2 masih dalam kondisi yang
normal.
Untuk memastikan hasil tersebut benar, maka hal hal yang harus diperhatikan :

4) Pra-analitik
Pada saat persiapan pasien, usahakan pasien tenang dan tidak takut karena hal ini dapat
menaikkan pH dan menurunkan kadar PCO2.
Saat pengambilan bahan pemeriksaan, sampel darah yang digunakan adalah darah arteri
dan dilakukan secara tertutup, hal ini untuk mencegah terjadinya perubahan kadar CO2.
Menggunakan perbandingan antikoagulan yang sesuai. Heparin yang berlebih dapat
mengakibatkan hasil rendah palsu.
Memastikan pada sample tidak ada bekuan dan gelembung udara karena keadaan
tersebut dapat mengakibatkan penurunan PCO2 dan peningkatkan pH.
Sebelum pemeriksaan, syringe dihomogenkan dan bahan harus segera diperiksa
maksimal penundaan 1 jam pada suhu 4-8oC.

5) Analitik
Melakukan pemeriksaan QC terlebih dahulu dan dianjurkan menggunakan 3 level bahan
control dan dilakukan setiap 8 jam. Kemudian cek reagen pemeriksaan untuk
menghindari kemungkinan adanya kontaminasi dan reagen yang sudah kadaluarsa.

6) Post analitik
Pencatatan hasil pemeriksaan dan expertise (interpretasi hasil).

KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa kelainan yang diderita oleh pasien dalam kasus ini adalah
Metabolik alkalosis tanpa kompensasi.

KELOMPOK C

PCO2 : 45 mmHg

HCO3 : 26 mmol/L

PERTANYAAN

Bagaimana Interpretasinya?

JAWABAN

- Komponen mana yang terganggu?


PCO2 :
HCO3- :
Keduanya mengalami peningkatan, namun pada PCO2 peningkatannya lebih tinggi
dibandingkan peningkatan HCO3-.

Berarti ini menunjukan kelainan Respiratorik yakni pada paru-paru.


- Rasio?

Dari hasil perhitungan diatas, dapat dikatakan bahwa ratio kecil akan mempengaruhi pH
berdeviasi kearah asam -> ASIDOSIS

- Apakah terjadi kompensasi oleh tubuh?


PCO2 :
HCO3- :
Peningkatan HCO3- menunjukan didalam tubuh telah terjadi kompensasi oleh ginjal yaitu
dengan cara mengikat ion H+ untuk meningkatkan kadar HCO3- dalam tubuh.
+ -

CO + H O H CO H + HCO
2 2 2 3 3

KESIMPULAN : Respiratorik Asidosis Dengan Kompensasi

PRA-ANALITIK :

1. Volume anti koagulan yaitu heparin harus sesuai karna jika kurang atau berlebih dapat
menyebabkan hasil yg tidak akurat.

2. Bahan harus segera diperiksa, maksimal penundaan 1 jam (pada suhu 4-80C).

3. Suhu penyimpanan bahan pemeriksaan 2-80C (dalam lemari es/diberi butiran es) hal ini
dilakukan untuk mencegah glikolisis yang akan menurunkan PO2 dan pH sehingga PCO2 akan
naik.

ANALITIK :

Pastikan alat sudah terkalibrasi secara berkala dan dilakukan QC (8 jam sekali menggunakan
3 level)

POST-ANALITIK :

Interpretasi hasil yang benar yaitu dengan cara tentukan terlebih dahulu komponenyang
mana yang terganggu dan lihat rasio dari HCO3- dan CO2 untuk mengetahui asidosis atau
alkalosis.

KELOMPOK D

PCO2 : 34 mmHg

HCO3 : 22 mmol/L

PERTANYAAN

Bagaimana Interpretasinya?
JAWABAN

PCO2 : 34 mmHg (Nilai rujukan: 40 mmHg)

HCO3 : 22 mmol/L (Nilai rujukan: 24 mmol/L)

Grafik 1. Grafik area kelainan asam basa Grafik 2. Grafik area kompensasi kelainan asam basa

Karena pada kasus di atas tidak diketahui nilai pH-nya, maka untuk mengetahuinya perlu
dilakukan perhitungan nilai rasio antara HCO3 dengan PCO2.
3
=
2

Dari rasio di atas, dapat dilihat bahwa pembagi (PCO2) lebih rendah daripada pembilang
(HCO3), sehingga nilai rasio tinggi. Rasio yang tinggi menggambarkan keadaan alkalosis.
Pada kasus di atas, penurunan lebih besar terjadi pada nilai PCO2. Hal tersebut
menggambarkan kelainan respiratorik.
HCO3 dan PCO2 pada kasus di atas abnormal, sehingga menunjukan adanya kompensasi.
Karena kelainan yang terjadi adalah kelainan respiratorik, maka ginjal akan melakukan
kompensasi dengan menurunkan kadar HCO3 dengan cara melepas ion H+.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kelainan asam basa yang terjadi pada kasus di atas yaitu
respiratorik alkalosis dengan kompensasi.

Untuk memastikan hasil pemeriksaan, harus dilakukan verifikasi terlebih dahulu, dari mulai tahap
pra-analitik, analitik sampai post analitik.

PRA ANALITIK

Pastikan pasien tenang dan jangan takut, karena akan meningkatkan kadar O2 dan pH,
sedangkan CO2 akan turun.
Pastikan pengambilan darah dilakukan secara tertutup (anaerob), karena jika terbuka
maka O2 yang berada di luar akan masuk dan dapat menurunkan kadar CO2.
Pastikan takaran antikoagulan (lithium/natrium heparin) terhadap darah arteri tidak
berlebih, karena jika berlebih akan menyebabkan hasil rendah palsu pada CO2.
Pastikan tidak ada gelembung udara dan bekuan pada sampel darah, karena dapat
menyebabkan penurunan PCO2 dan peningkatan pH.
Pastikan semprit yang sudah mengandung darah harus tercampur homogen, karena jika
tidak akan menyebabkan hasil rendah palsu.

ANALITIK

Pastikan alat dikalibrasi secara rutin.


Pastikan reagen yang dipakai tidak kadaluwarsa dan tidak terkontaminasi.

POST ANALITIK

Pastikan pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan dilakukan dengan benar dan hasil
pemeriksaan harus segera dikeluarkan.

KASUS POCT

KELOMPOK B
Seorang Wanita 24 tahun, dirawat di ICU dengan keluhan sesak napas, dan mendapat
oksigen dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut:

Glukosa sewaktu (Metode POCT): 76 mg/dL (rujukan: <140 mg/dL)


PERTANYAAN

o Bagaimana pendapat saudara dengan hasil laboratorium seperti diatas?


o Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil lab ini? Jelaskan!
o Apakah saudara akan memberikan hasil pemeriksaan ini kepada pasien tersebut?
Jelaskan!

ANALISIS

o Menurut kami, hasil laboratorium di atas menunjukan hasil rendah palsu. Karena
pasien tersebut mendapatkan oksigen (terapi oksigen). Dimana terapi oksigen dapat
menyebabkan glukosa darah menurun dan hipoglikemik pada penderita DM akibat
sensitifitas jaringan terhadap insulin.
o Ada, dimana pemeriksaan lain yang berhubungan adalah dilakukannya pemeriksaan
ulang glukosa darah menggunakan alat automatis yang memiliki presisi dan akurasi
yang baik. Dan pemeriksaan dilakukan setelah pasien sudah membaik.
o Hasil pemeriksaan diberikan kepada pasien, dengan memberi keterangan bahwa
pasien mendapat oksigen (terapi oksigen) dan pemeriksaan menggunakan metode
POCT.

KELOMPOK C
Seorang anak 4 tahun, dirawat di ruang anak dengan diabetes mellitus, sesak, dan
thalassemia, dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagai beerikut:

Hemoglobin : 7,4 g/dL ( rujukan: 17,0 -19,7 g/dL )


Lekosit : 6.300 /mm3 ( rujukan : 4.000 10.000 /mm3 )
Trombosit : 234.000 /mm3 ( rujukan: 150.000 450.000 /mm3 )
Hematocrit : 24 % ( rujukan: 37 43 % )
Glukosa sewaktu (metode POCT) : 167 mg/dL (rujukan < 140 mg/dL)

Selanjutnya anak tersebut mendapat insulin injeksi setelah beberapa saat anak tersebut
menjadi koma, dicek lagi ternyata hasil glukosa sewaktu (POCT) nya 187 mg/dL, pasien
mendapat insulin kembali dan 6 jam kemudian pasien meninggal.

PERTANYAAN

1. Bagaimana pendapat saudara dengan hasil laboratorium seperti diatas


2. Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil lab ini? Jelaskan!
3. Apa kira-kira penyebab keadaan diatas?

JAWABAN

1. Hasil lab diatas tidak normal karena kadar hb, ht, glukosa sewaktu menunjukkan
hasil dibawah nilai rujukan. Kadar hb dan ht yang abnormal disebabkan karena
pasien menderita penyakit thalasemia dimana pada thalasemia umur eri kurang dari
120 hari sehingga dapat menyebabkan anemia. Sedangkan hasil glukosa sewaktu
yang diatas nilai rujukan disebabkan karena pasien menderita diabetes melitus.
Namun, kondisi pasien yang mengalami hipoksia dan anemia dapat menyebabkan
kadar glukosa menjadi lebih tinggi.

Karena pasien menderita diabetes melitus yang menunjukkan bahwa kadar glukosa
dalam darahnya tinggi (hiperglikemia) sehingga dibutuhkan injeksi insulin untuk
menurunkan kadar glukosa dalam darah.

Pasien meninggal kemungkinan disebabkan karena injeksi insulin yang berlebih


sehingga glukosa dalam darah menjadi rendah (hipoglikemia) dan dapat
berpengaruh terhadap fungsi otak karena glukosa merupakan energi utama dalam
otak dan apabila terjadi hipoglikemia maka dapat menyebabkan kerusakan otak dan
bahkan dapat menyebabkan kematian.

2. Pemeriksaan lain yang berhubungan dengan pemeriksaan laboratorium diatas, yaitu


Glukosa darah sewaktu menggunakan alat otomatis yang sudah memiliki akurasi
dan presissi yang baik
Pemeriksaan hematologi lengkap
3. Penyebab keadaan di atas ada beberapa factor, yaitu:
a. Pra analitik
- Obat-obatan yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
- Factor kondisi pasien yang dapat menyebabkan bahwa hasil glukosa sewaktu
tinggi palsu, yaitu:
Pasien mengalami anemia
Pasien mengalami sesak (hipoksia)
Pasien dirawat dan diberi cairan infus (hemodilusi)

b. Analitik
- Reagen yang dipakainya sudah terkontaminasi dan tidak disimpan pada suhu
yang benar
- Lingkungan saat pemeriksaan juga mempengaruhi, mislanya suhu
kelembapan, lokasi dekat dengan sumber cahaya langsung, terpapar cahaya
langsung
- Saat pemeriksaan menggunakan bahan control/tidak
- Alat POCT terkalibrasi dengan rutin atau tidak
- Poct yang digunakan selalu dibersihkan/dirawat dengan baik atau tidak

c. Post Analitik
- Rentang pengukuran (limit dan batas deteksi) terbatas
- Penulisan hasil manual, kemungkinan salah menuliskan hasil (kesalahan
dalam pelaporan hasil)

KASUS I : ANALISA KLINIS PEMERIKSAAN URIN


KELOMPOK A
Seorang pasien wanita, 30 tahun datang ke laboratorium sebuah Rumah Sakit untuk Medical
Check Up, dilakukan pemeriksaan urin dengan hasil sebagai berikut:

Pemeriksaan Makroskopis
Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Warna Urine Kuning Kemerahan Kuning Jernih
Kekeruhan Negatif Negatif

Pemeriksaan Mikroskopis
Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Eritrosit 10-15 0-2/ LPK
Leukosit 2-4 0-6/ LPB
Epitel 2-4
Kristal Asam Oksalat (+) Negatif
Cyst/ silinder Negatif Negatif
Lain- lain Negatif Negatif

Pemeriksaan Kimiawi
Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
PH 6,7 4,5 - 8,0
Berat Jenis 1,010 1,003 -1,030
Glukosa Negatif Negatif
Protein Negatif Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Leucocyt Esterase Negatif Negatif
Darah Positif (++) Negatif
Urobilinogen Negatif Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif

Hasil Diskusi

1. Bagaimana menurut saudara analisa hasil pemeriksaan di atas, normal/ tidak normal?
Beri alasan.
Tidak normal, karena ada beberapa pemeriksaan yang tidak sesuai nilai rujukan. Dan
dari hasil pemeriksaan diatas menunjukan hematuri (adanya darah di dalam urin) yakni
ditunjukan pada hasil pemeriksaan urin sebagai berikut yang berkorelasi:
Warna urin yaitu kuning kemarahan. Pada pemeriksaan mikroskopis ditemukan eritrosit
dalam jumlah banyak yakni 10-15 (nilai rujukan = 0-2/LPK) dan pada pemeriksaan
kimiawi darah menunjukan hasil positif (++).
Ada beberapa kemumgkinan penyebab hematuri yaitu trauma, infeksi, tumor
(keganasan), atau menstruasi. Jika dilihat dari kondisi pasien yang merukan seorang
wanita usia 30 tahun terlebih datang untuk MCU, besar kemungkinan pasien sedang
mengalami menstruasi. Oleh sebab itu sebaiknya, sebelum pemeriksaan pada tahap pra
analitik ditanyakan apakah pasien sedang menstruasi atau tidak.
Kemudian untuk kemungkinan hematuri karena trauma tidak mungkin, karena
seharusnya pasien merupakan pasien IGD. Dan untuk infeksi tidak mungkin karena
bakteri, leukosit, nitrit, dan protein menunjukan hasil negative.
Ada ketidaksesuaian antara pH dan kristal. Mungkin hasil kristal asam oksalat (+)
disebabkan karena adanya kesalahan pembacaan kristal secara mikroskopis.
2. Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil di atas? Bila ada sebutkan
Karena hematuri tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh menstruasi, maka
harus dilakukan pemeriksaan ulang menggunakan sampel baru saat pasien tidak lagi
menstruasi.

3. Apakah hasil laboratorium ini layak dikeluarkan/ tidak?


Tidak layak, harus dilakukan lagi pemeriksaan ualang dengan sampel urin baru saat
pasien tidak lagi menstruasi.

KELOMPOK B
Seorang pasien pria, 23 tahun dirawat di sebuah Rumah Sakit, dilakukan pemeriksaan urin
dengan hasil sebagai berikut:
Pemeriksaan Makroskopis:
Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Warna Urine Kuning tua Kuning jernih
Kekeruhan Negatif Negatif

Pemeriksaan Mikroskopis :
Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Eritrosit 0-1 0-2/ LPK
Lekosit 0-1 0-6/ LPB
Epitel 3-5
Kristal Negatif Negatif
Cyst/Silinder Negatif Negatif
Lain-Lain Bakteri (++) Negatif

Pemeriksaan Kimiawi :
Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
PH 8.4 4.5 8.0
Berat Jenis 1.030 1.003 1.030
Glukosa Negatif Negatif
Protein Negatif Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Leucocyt esterase Negatif Negatif
Darah Negatif Negatif
Urobilinogen Negatif Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif

Pertanyaan:

1. Bagaimana menurut sdr analisa hasil pemeriksaan diatas, normal / tidak? Beri
alasan!
2. Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil diatas? Bila ada
sebutkan
3. Apakah hasil laboratorium ini layak untuk dikeluarkan / tidak?

HASIL DISKUSI

1. Dari hasil pemeriksaan diatas dapat dikatakan bahwa pemeriksaan tidak normal dan
menurut hasil diskusi kelompok kami sampel urin merupakan urin lama yang
ditunjukan dari hasil pemeriksaan dibawah ini.

Pemeriksaan Mikroskopis:

Bakteri (++) dan leukosit negatif (normal). Hal ini menunjukan tidak adanya
infeksi. Namun merupakan kontaminasi atau urin lama.
Pemeriksaan Kimiawi:

PH 8.4 disebabkan adanya aktivitas bakteri yang mengubah urea menjadi


ammonia sehingga pH menjadi basa (urin lama). Karena jika bukan urin lama
seharusnya terdapat Kristal pH basa : triple fosfat, amorf fosfat, atau calcium
carbonat, sedangkan pada pemeriksaan tidak ditemukan Kristal.
Glukosa negatif. Terdapat 2 kemungkinan yaitu memang tidak terdapat
glukosa di dalam urin atau negatip palsu dikarenakan adanya bakteri yang
memetabolisme glukosa (urin lama) atau pasien mengkonsumsi vit C yang
dapat menyebabkan hasil negative palsu.
Bilirubin negatif sedangkan warna urin menunjukan kuning tua, karena pada
urin lama bilirubin berubah menjadi biliverdin yang dipengaruhi oleh cahaya.
Nitrit negatif sedangkan bakteri (++). Hal ini dapat terjadi karena tidak semua
bakteri dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit dan juga hasil nitrit bisa negatif
palsu jika pasien mengonsumsi vitamin C.

Pemeriksaan Makroskopis :
Warna urin kuning tua (lebih pekat) pada urin lama
Ada ketidak korelasian antara kekeruhan dan bakteri, seharusnya jika bakteri
positif dua seharusnya urin keruh, hal tersebut bisa saja terjadi salah
interpretasi pada saat pembacaan makroskopis.
Sehingga dapat disimpulkan sampel urin yang diperika adalah urin lama.
2. Karena sampel urin merupakan urin lama, jadi seharusnya dilakukan pemeriksaan
ulang terlebih dahulu menggunakan sampel urin baru dan diperiksa <2jam kemudian
hasil pemeriksaan urin baru dikorelasikan dengan pemeriksaan lain.
3. Tidak layak, karena sampel urin merupakan urin lama. Harus dilakukan pemeriksaan
ulang terlebih dahulu menggunakan sampel urin baru dan diperiksa <2jam.

KELOMPOK C
Seorang pasien pria, berusia 67 tahun datang ke IGD sebuah Rumah Sakit, dilakukan
pemeriksaan urin dengan hasil sebagai berikut:
Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Warna urin Kuning Tua Kuning Jernih
Kekeruhan Keruh Negatif

Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan


Eritrosit 10-15 0-2/LPK
Lekosit Banyak 0-6/LPB
Epitel 3-5
Kristal Kristal Oksalat Negatif
Cyst/Silinder Negatif Negatif
Lain-lain: Bakteri (++) Negatif

Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan


PH 8.1 4.5-8.0
Berat Jenis 1.030 1.003-1.030
Glukosa Negatif Negatif
Protein Positif (++) Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Leucocyt esterase Positif (++) Negatif
Darah Positif (+) Negatif
Urobilinogen Negatif Negatif
Nitrit Positif (+) Negatif
Keton Negatif Negatif

1. Bagaimana menurut saudara analisa hasil pemeriksaan diatas, normal/tidak? Beri


Alasan
Analisa hasil pemeriksaan diatas Tidak Normal, alasannya
Tidak normal, karena ada beberapa hasil yang tidak sesuai dengan nilai rujukan dan juga
terdapat beberapa parameter yang tidak berkorelasi. Berikut penjelasannya :
Bakteri (++) dan leukosit banyak: hal tersebut mengindikasikan adanya infeksi. Bukan
urin lama, karena pada urin lama sel akan lisis sehingga seharusnya leukosit negative.
Leukosit esterase (++), maka jenis leukosit banyak granulosit.
Bakteri (++) dan nitrit positif (+). Bakteri mereduksi nitrat menjadi nitrit.
Infeksi juga bisa saja menyebabkan pendarahan yang ditunjukan olah pemeriksaan
kimiawi darah positif (+) dan prmrtksaan mikroskopis eritrosit 10-15/LPK. Namun disini
terjadi ketidak korelasian antara keduanya. Eritrosit dengan jumlah 10-15/LPK
merupakan jumlah yg cukup banyak seharusnya pada pemeriksaan darah menunjukan
hasil positif (++). Namun dari hasil pemeriksaan darah menunjukan hasil positif (+). Hal
tersebut bisa saja terjadi pada saat pembacaan sedimen jamur/Kristal oksalat dihitung
sebagai eritrosit. Dan pada makroskopis warna urin tidak menunjukan adanya
kemerahan bisa saja salah dalam menginterpretasikan pembacaan makroskopisnya.
Urin keruh disebabkan karena banyknya bakteri, leukosit dan protein.
pH 8,1 (basa) tetapi ditemukan Kristal oksalat (asam), tidak sesuai. Bisa saja salah
menginterpretasi pada saat pemeriksaan mikroskopis. Yang seharusnya Kristal karbonat
dilihat sebagai Kristal oksalat. Meragukan sehingga lakukan pemeriksaan ualang.
Protein positif (++) dan kelainan sedimen tetapi silimder negative, seharusnya
jsilindernya juga positif karena silinder merupakan hasil turbulensi dari protein pada
tubulus ginjal.
Dapat disimpulkan pasiem kemungkinan menderita infeksi, namun ada beberapa parameter
yang tidak cocok (tidak berkorelasi)yang disebabkan salah pembacaan mikroskopik, maka
harus dilakukan pemeriksaan ulang menggunakan sampel baru.

2. Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil diatas? Bila ada
sebutkan
Ada pemeriksaan darah hitung jumlah dan jenis leukosit, karena pasien kemungkinan
mengalami infeksi. Namun lakukan terlebih dahulu pemeriksaan ualng dengan sampel urin
baru.

3. Apakah hasil laboratorium ini layak untuk dikeluarkan/tidak?


Tidak layak, sebab ada beberapa hasil yang tidak berkorelasi satu sama lain sehingga
harus dilakukan pemeriksaan ulang dengan sampel baru.
KELOMPOK D
Seorang pasien wanita 54 tahun dengan riwayat DM dan Hipertensi datang ke Laboratorium
sebuah Rumah Sakit untuk dilakukan pemeriksaan urine dengan hasil sebagai berikut:
Hasil Pemeriksaaan Nilai rujukan

Warna Urine Kuning jernih Kuning jernih


Kekeruhan Negatif Negatif

Hasil Pemeriksaaan Nilai rujukan

Eritrosit Negatif 0-2/LPK


Leukosit Negatif 0-6/LPB
Epitel 3-5 Negatif
Kristal Negatif Negatif
Cyst/Silinder Negatif Negatif
Lain-lain Negatif

Hasil Pemeriksaaan Nilai rujukan

pH 5.6 4.5-8.6
Berat Jenis 1.020 1.003-1.030
Glukosa Negatif Negatif
Protein Positif (+) Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Leukosit Esterase Negatif Negatif
Darah Negatif Negatif
Urobilinogen Negatif Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif
1. Bagaimana menurut saudara analisa hasil pemeriksaan diatas, normal/tidak? Beri
alasan!
Jawab:
Tidak normal, karena terdapat hasil-hasil yang tidak sesuai dengan rujukan dan ada
beberapa hasil yang tidak berkorelasi satu sama lain. Diantaranya :

Protein dan Silinder :


Hasil pemeriksaan kimiawi protein menunjukan hasil Positif (+), sedangkan pada
pemeriksaan mikroskopis silinder tidak ditemukan. Seharusnya jika protein berkorelasi
dengan silinder karena silinder merupakan hasil turbulensi dari protein pada tubulus
ginjal.
Karena hasil protein tersebut meragukan, sebaiknya uji konfirmasi dengan
menggunakan asam sulfosalisilat.
pH dan Kristal :
pH urin tersebut adalah 5,6 (normal asam), seharusnya ditemukan keistal asam,
diantaranya cystein, oksalat, dan urat.
Riwayat DM dan Glukosa :
Diketahui bahwa pasien memeiliki riwayat DM, tetapi hasil pemeriksaan urin
menunjukan hasil Glukosa adalah negative. Hasil glukosa urin ini harus dikorelasikan
dengan glukosa darah. Berikut ini beberapa kemungkinan yang dapat terjadi :
a. Glukosa urin negative, Glukosa darah normal
Bisa terjadi jika pengaruh obat, atau DM terkontrol.
b. Glukosa urin negative, Glukosa darah tinggi
- Urin lama, bisa menghasilkan glukosa negative palsu, tapi hal ini tidak mungkin
karena tidak di temukan adanya bakteri yang menyebabkan glukosa tersebut
negative palsu.
- Konsumsi vitamin C dapat menyebabkan hasil negative palsu, oleh sebab itu
sebelum pemeriksaan pada tahap pra analitik tanya pada pasien apakah
mengkonsumsi vitamin C atau obat-obatan yang lainnya.
- Atau dilihat dari umur pasien yakni 54 tahun (usia lanjut) bisa saja terjadi
peningkatan ambang batas ginjal.
2. Apakah ada pemeriksaan lain yang berhubungan dengan hasil di atas? Bila ada sebutkan
Ada, uji konfirmasi terlebih dahulu protein dengan Metode Bang.
Dan lakukan pemeriksaan glukosa darah untuk melihat korelasi hasil glukosa urin.
3. Apakah hasil layak untuk dikeluarkan?
Belum layak, karena terdapat hasil yang meragukan. Oleh sebab itu lakukan tes
konfirmasi dan bandingkan dengan pemeriksaan darahnya. Setelah semua di verifikasi
dan validasi, baru boleh dikeluarkan.

KASUS 2 : PEMERIKSAAN FUNGSI GINJAL

KELOMPOK A

Seorang pasien pria dengan usia 31 tahun, datamg ke IGD sebuah RS, setelah dilakukan
pemeriksaan fisik, selanjutnya dilakukan pemeriksaan laboratorium fungsi ginjal, dengan
hasil sebagai berikut :

Ureum : 97 mg/dL (nilai rujukan : 20 40 mg/dL)


Kreatinin : 0,9 mg/dL (nilai rujukan : <1,1 mg/dL)
Asam urat : 3,9 mg/dL (nilai rujukan : 2 7,5 mg/dL)
Bagaimana menurut sdr tentang fungsi ginjalnya? Normal atau tidak? Beri penjelasan

Apakah menurut sdr hasil diatas boleh diserahkan kepada dokter/pasiennya? Jelaskan!

Jawab:

1. Dari hasil tersebut menujukan hasil tidak normal pada pemeriksaan ureum yang tinggi
melebihi nilai rujukan (uremia), sedangkan kreatinin dan asam urat normal. Berikut
beberapa kemungkinan terjadi hasil tersebut :
Pra Analitik
- Sampel tertukar
- Sampel lisis keruh ikterik dapat menyebabkan hasil tinggi palsu
- Pasien dating ke IGD, maka dapat disimpulkan tidak ada persiapan puasa sebelum
pemeriksaan. Padahal kadar ureum dalam darah sangat dipengaruhi oleh makanan
dan aktivitas, oleh sebab itu harus puasa (8-10 jam), jika tidak dapat menyebabkan
hasil tinggi palsu
Analitik

- Pada pemeriksaan QC, hasil bahan control berada di rentang atas 2 SD sehingga
dapat menyebabkan hasil ureum tinggi palsu
Post Analitik

- Salah pencatatan pelaporan hasil.


2. Belum boleh harus terlebih dahulu dilakukan verifikasi dan validasi dari tahap pra-
analitik, analitik, dan post analitik. Karena kemungkinan besar penyebab hasil tinggi
ureum dikarenakan pasien yang tidak puasa, sehingga lebih baik dilakukan pemeriksaan
ulang menggunakan sampel baru dan persiapa yang benar.

KELOMPOK B

Seorang pasien pria dengan usia 72 tahun, datang ke poliklinik penyakit dalam sebuah RS,
dengan keluhan hipertensi, setelah dilakukan pemeriksaan fisik, selanjutnya setelah pasien
melakukan persiapan puasa selama 8 10 jam, dilakukan pemeriksaan laboratorium fungsi
ginjal, dengan hasil sebagai berikut:

Ureum : 137 mg/dl (nilai rujukan: 20 40 mg/dl)


Kreatinin : 1,1 mg/dl (nilai rujukan: < 1,1 mg/dl)
Asam Urat : 8,9 mg/dl (nilai rujukan: 2 7,5 mg/dl)
Bagaimana menurut sdr tentang fungsi ginjalnya? Normal atau tidak? Beri penjelasan

Apakah menurut sdr hasil diatas boleh diserahkan kepada dokter/pasiennya? Jelaskan!

Jawab :

1. Hasil tersebut tidak normal karena hasil ureum yang tinggi, kreatinin normal batas atas,
dan asam urat. Berikut beberapa kemungkinan penyebab hasil tersebut
a. Dapat kemungkinan terjadi gangguan fungsi ginjal karena terjadi peningkatan hasil
pemeriksaan. Diketahui bahwa pasien memiliki keluhan hipertensi. Hipertensi
merupakan factor yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Hipertensi tak
terkontrol dapat memperlemah dan mempersempit pembuluh darah yang
menyuplai ke ginjal. Hal ini bisa menghambat ginjal untuk berfungsi secara normal
b. Namun hasil-hasil tersebut dapat juga merupakan hasil yang palsu, dengan beberpa
kemungkinan penyebabnya yaitu :
- Usia pasien 72 tahun (lanjut usia) dimana terjadi penurunan massa otot,
sehingga dapat menyebabkan hasil kreatinin rendah palsu karena kreatinin
merupakan hasil akhir metabolism kreatinin otot. Dengan kata lain bisa saja
seharusnya hasil lebih tinggi dari hasil yang ada.
- Pada usia tua kencenderungan peningkatan asam urat karena hypo sekresi akibat
kemunduran fungsi sel tubuh.
Pra Analitik

- Sampel tertukar
- Sampel lisis ikterik atau keruh, dapat menyebabkan hasil tinggi palsu karena
mengganggu pembacaan absorbandi pada spektrofotometer
Analitik

- Hasil QC berada di batas atas 2SD sehingga dapat menginterpretasi hasil sampel
menjadi tinggi palsu
Post Analitik

- Kesalahan dalam pencatatan dan pelaporan hasil.


2. Boleh diserahkan setelah dilakukan verifikasi dan validasi pada tahap pra analitik,
analitik dan post analitik.

KELOMPOK C

Seorang pasien wanita dengan usia 60 tahun, datang ke IGD sebuah RS, dengan keluhan
diare dan muntah-muntah berat, setelah dilakukan pemeriksaan fisik, selanjutnya dilakukan
pemeriksaan laboratorium fungsi ginjal dengan hasil sebagai berikut :

Ureum : 94 mg/dl (nilai rujukan : 20-40 mg/dl)


Kreatinin : 2.3 mg/dl (nilai rujukan : <1.1 mg/dl)
Asam urat : 5.0 mg/dl (nilai rujukan : 2-7.5 mg/dl)

PERTANYAAN
o Bagaimana menurut sdr tentang fungsi ginjalnya? Normal/tidak? Beri penjelasan
o Apakah menurut sdr hasil diatas boleh diserahkan kepada dokter/pasiennya?
Jelaskan

HASIL DISKUSI

o Fungsi ginjal pasien tersebut tidak normal, karena dapat dilihat dari hasil
pemeriksaan laboratorium kadar ureum dan kreatinin dalam darah meningkat
(azotemia).

Ureum tinggi
Pada kasus diatas, peningkatan kadar ureum dalam darah pasien tersebut dapat
terjadi karena 2 kemungkinan yaitu, terlihat dari keluhan pasien yang mengalami
diare dan muntah-muntah berat, yang mana keadaan tersebut dapat
menyebabkan terjadinya dehidrasi yang nantinya dapat mengakibatkan
penurunan fungsi ginjal yang mendadak akibat hilangnya kemampuan ginjal
untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Sehingga akibat dari dehidrasi yang
dialami pasien dapat menyebabkan kelainan pre renal. Selain itu, terlihat bahwa
pasien datang ke IGD, dapat diartikan pasien datang tanpa persiapan (tidak
puasa). Dimana seharusnya pemeriksaan ureum darah harus berpuasa 8-10 jam
karena pemeriksaan ureum dipengaruhi oleh intake makanan yang tinggi protein
yang dapat menyebabkan tinggi palsu.

Kreatinin tinggi
Peningkatan kreatinin pada kasus diatas dapat dilihat dari usia pasien yaitu 60
tahun (usia lanjut). Dimana pada usia lanjut biasanya terjadi penurunan fungsi
ginjal. Keadaan dehidrasi akibat pasien mengalami diare dan muntah-muntah
berat, selain mengakibatkan peningkatan kadar ureum juga mengakibatkan
peningkatan kadar kreatinin dalam darah. Disini keadaannya pasien datang ke
IGD yang artinya pasien tidak ada persiapan (tidak berpuasa), walaupun
pemeriksaan kreatinin tidak memerlukan persiapan khusus seperti berpuasa, tapi
dianjurkan berpuasa untuk memberikan hasil yang akurat. Karena konsumsi/diet
daging dapat meningkatkan kadar kreatinin.
Dan juga pasien merupak lanjut usia dimana dapat terjadi penurunan massa otot
sehigga dapat menyebakan hasi rendah palsu, atau bisa dikatakan bisa aja hasil
seharusnya lebih tinggi dari hasil pemriksaan.

o Boleh diserahkan namun diberi keterangan bahwa pasien tidak berpuasa dan perlu
dilakukan pemeriksaan lagi setelah pasien baikan (pasien melakukan persiapan
sebelum diambil sampel (puasa). Dan telah dilakukan verifikasi dan validasi dari
tahap pra analitik, analitik dan post analitik.
KELOMPOK D

Seorang pasien pria dengan usia 30 tahun, dengan profesi binaragawan datang ke
poliklinik penyakit dalam sebuah RS untuk dilakukan pemeriksaan medical check up, setelah
dilakukan pemeriksaan fisik, selanjutnya setelah pasien melakukan persiapan puasa selama
8-10 jam dilakukan pemeriksaan laboratorium fungsi ginjal dengan hasil sebagai berikut :

Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan


Ureum 27 mg/dl 20-40 mg/dl
Kreatinin 2,4 mg/dl <1,1 mg/dl
Asam Urat 5,1 mg/dl 2-7,5 mg/dl

1. Bagaimana menurut sdr tentang fungsi ginjalnya? Normal atau tidak? Beri penjelasan

2. Apakah menurut sdr hasil diatas boleh diserahkan kepada dokter/pasiennya? Jelaskan

Jawab:

1. Fungsi ginjal pasien tersebut normal, karena dilihat dari hasil pemeriksaannya
menunjukkan bahwa ureum dan asam urat normal. Sedangkan kadar kreatinin yang
berada diatas normal merupakan tinggi palsu karena profesi pasien yang merupakan
seorang binaragawan sehingga massa ototnya besar. Selain itu, ditunjang dengan
persiapan pemeriksaan yang benar (pre-analitik) sebab pasien melakukan puasa 8-10 jam
sehingga pada pemeriksaan ini tidak dipengaruhi oleh intake makanan.
2. Hasil pemeriksaan fungsi ginjal diatas boleh diserahkan kepada dokter/pasiennya, namun
dengan diberikan penjelasan kepada pasien bahwa kreatinin yang tinggi disebabkan
karena massa ototnya yang besar. Selain itu, hasil pemeriksaan boleh diserahkan karena
proses pre-analitik,analitik,dan post analitiknya benar.
- Proses pre-analitik yang benar ditandai dengan adanya edukasi kepada pasien
sehingga pasien melakukan puasa 8-10 jam
- Proses analitik yang benar ditandai dengan parameter satu dengan yang lainnya
saling berkorelasi
- Proses post-analitik yang benar ditandai dengan pelaporan hasil pemeriksaan yang
benar