Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

Manajemen Operasional Laboratorium

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Laboratorium
Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Disusun oleh :
Aditya Juliastuti: P17334114403
Diana Hardiyanti: P17334114413
Nurul Sarifah : P17334114417
Resa Irawati : P17334114415
Neneng Lucky S : P1733411421
Letyssinthia Pujiasri : P1733411437

ANALIS KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN


KEMENKES BANDUNG
Jl. Babakan Loa Gunung Batu, Cimahi Utara - Kota Cimahi
Telp. (022) 662.8141 Fax (022) 662.8142

1|Manajemen Operasional Laboratorium


Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 3


1.1 Latar Belakang .................................................................................................................................... 3
1.2. Rumusan Masalah .............................................................................................................................. 3
1.3. Tujuan ................................................................................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................................................. 5
2.1. Pengertian Manajemen Laboratorium ................................................................................................ 5
2.2. Manajemen Operasional Laboratorium ............................................................................................. 5
2.3. Rincian Kegiatan Masing-masing Perangkat ..................................................................................... 8
2.3.1. Tata Ruang .................................................................................................................................. 8
2.3.2. Alat yang Baik dan Terkalibrasi ................................................................................................. 8
2.3.3. Infrastruktur .............................................................................................................................. 10
2.3.4. Administrasi Laboratorium ....................................................................................................... 10
2.3.5. Organisasi Laboratorium........................................................................................................... 10
2.3.6. Fasilitas Pendanaan ................................................................................................................... 11
2.3.7. Inventarisasi dan Keamanan Laboratorium .............................................................................. 11
2.3.8. Disiplin yang tinggi ................................................................................................................... 14
2.3.9. Keterampilan ............................................................................................................................. 14
2.3.10. Peraturan dasar ........................................................................................................................ 14
2.3.11. Penanganan masalah laboratorium.......................................................................................... 15
2.3.12. Jenis pekerjaan ........................................................................................................................ 16
2.4. Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Operasional Organisasi/Perusahaan................................ 16
BAB III PENUTUPAN............................................................................................................................... 18
3.1. Kesimpulan ...................................................................................................................................... 18
Daftar Pustaka ............................................................................................................................................. 19

2|Manajemen Operasional Laboratorium


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Widyarti (2005:1) Laboratorium adalah suatu ruangan tempat melakukan


kegiatan praktek atau penelitian yang ditunjang oleh adanya seperangkat alat-alat laboratorium
serta adanya infrastruktur laboratorium yang lengakap. Laboratorium adalah bagian integral
dari bidang akademik (bukan bagian dari rumah tangga atau administrasi), maka manajemen
laboratorium perlu direncanakan seiring dengan perencanaan akademik (program dan
anggarannya). Peranan laboratorium sangat besar dalam menentukan mutu pendidikan karena
laboratoriumlah yang menghasilkan karya-karya ilmiah yang membanggakan, yang tak
dapatdihasilkan oleh institusi lainnya. Sehingga bagi perguruan tinggi yang bermutu,
laboratorium menjadi bagian yang dikedepankan.

Secara umum laboratorium adalah tempat melakukan berbagai percobaan atau penelitian.
Dalam melakukan percobaan di laboratorium digunakan peralatan dan bahan kimia yang sifatnya
belum kita pahami atau belum dikenal sama sekali. Bahan-bahan kimia tersebut dapat
menimbukan keracunan, kebakaran, ledakan atau bahaya-bahaya lain yang mungkin juga belum
kita pahami. Dalam bekerja di laboratorium tentu saja kita mempunyai target atau tujuan, namun
hendaknya untuk mencapai target tesebut keselamatan tidak kita abaikan. Dalam bekerja
hendaknya kita punya motto: hasil didapat, diri selamat atau jangan mengorbankan diri demi
target. Beberapa contoh kebakaran laboratorium di universitas terkemuka negeri ini adalah yang
terjadi di ITB (1973), UGM (1995) dan USU (2006). Semua peralatan, bahan kimia, dan
dokumen yang dimiiki yang telah dikumpulkan sekian tahun musnah terbakar. Tragedi ini kita
harapkan tidak akan terulang lagi sehingga manajemen di sebuah laboratorium mutlak harus
diimplementasikan. Hal yang diinginkan adalah dinamika laboratorium tinggi namun tidak
terjadi kecelakaan (zero accident). Maka untuk mencapai hal tersebut sekali lagi implementasi
manajemen laboratorium yang baik adalah kata kuncinya.

Jadi untuk mengoptimalkan pengelolaan ruangan laboratorium diperlukan strategi yang


bagus dan terkoordinir. Yang dimaksud dengan optimasi ruangan adalah suatu usaha untuk
mengoptimasikan pemakaian ruangan sehingga laboratoium tersebut secara optimal memberikan
dan penunjang pencapaian tujuan ruangan.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian manajemen laboratorium?


2. Apa yang dimaksud manajemen operasional laboratorium?
3. Apa saja rincian masing-masing perangkat operasional laboratorium?

3|Manajemen Operasional Laboratorium


1.3. Tujuan

1. Memahami pengertian manajemen laboratorium


2. Memahami manajemen operasional laboratorium
3. Memahami rincian masing-masing perangkat operasional laboratorium

4|Manajemen Operasional Laboratorium


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Manajemen Laboratorium

Manajemen laboratorium (laboratory management) adalah usaha untuk mengelola


laboratorium. Suatu laboratorium dapat dikelola dengan baik sangat ditentukan oleh beberapa
faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Beberapa alat-alat laboratorium yang
canggih, dengan staf profesional yang terampil belum tentu dapat berfungsi dengan baik, jika
tidak didukung oleh adanya manajemen laboratorium yang baik. Oleh karena itu manajemen
laboratorium adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan laboratorium sehari-
hari.

Suatu manajemen laboratorium yang baik memiliki sistem organisasi yang baik, uraian
kerja (job description) yang jelas, pemanfaatan fasilitas yang efektif, efisien, disiplin, dan
administrasi lab yang baik pula. Bagaimana mengelola lab yang baik adalah menjadi tujuan
utama, sehingga semua pekerjaan yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar. Dalam
penanganannya harus dikelola oleh Kepala Laboratorium yang ahli, terampil di bidangnya dan
berdedikasi tinggi serta penuh tanggung jawab, termasuk peranan tenaga laborannya yang
bertanggung jawab atas semua kegiatan operasional yang dilakukan di laboratorium masing-
masing. Keamanan dan keselamatan laboratorium, serta keselamatan kerja di laboratorium
merupakan faktor penting dalam pengelolaan (manajemen) laboratorium.

Hal ini perlu perhatian dari penanggung jawab kegiatan laboratorium. Penanggung jawab
pelaksana kegiatan tidak boleh membiarkan praktikan melakukan kegiatan tanpa pengawasan
dan bimbingannya. Oleh sebab itu, penanggung jawab pelaksana kegiatan laboratorium haruss
bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan laboratorium pada umumnya serta
keselamatan kerja praktikan.

Pengelolaan laboratorium akan berjalan dengan lebih efektif bilamana dalam struktur
organisasi laboratorium didukung oleh Board of Management yang berfungsi sebagai pengarah
dan penasehat. Board of Management terdiri atas para senior/profesor yang mempunyai
kompetensi dengan kegiatan laboratorium yang bersangkutan.

2.2. Manajemen Operasional Laboratorium

A. Pengertian Manajemen Operasional

Manajemen Operasional lahir sejak 1970-an hingga sekarang. Sasaran yang hendak
dicapai Manajemen Operasional ialah mewujudkan efisiensi ekonomi (cost minimization) dalam
proses produksi, baik barang maupun jasa, kualitas yang tinggi (high quality), dapat diserahkan
ke pasar dalam waktu yang cepat (speed of delivery), dan peralatan produksi dapat dengan segera
dialihkan untuk mengerjakan produk lainnya (flexibility). Disamping itu, orientasi Manajemen

5|Manajemen Operasional Laboratorium


Operasional sudah semakin luas dan lazim disebut memiliki orientasi pada biaya, mutu,
kecepatan penyerahan, dan keluwesan proses (QCDF Orientation). Kepeloporan Jepang
dibidang modernisasi Manajemen Produksi dipimpin oleh Toyota yang menekankan proses pada
usaha menghasilkan produk yang bermutu sesuai pengharapan konsumen. Perwujudan kualitas
adalah tanggung jawab semua personil, semua jabatan, dan semua proses. Dengan demikian,
tanggungjawab atas mutu bergeser dari para inspektur mutu ke pada segenap personil
perusahaan. Sejak saat itu, Jepang mengenalkan konsep pengawasan melekat (built-in
controlling) dan perbaikan terus menerus (keizen, continuous improvement). Ke dua hal itu harus
dilakukan oleh perusahaan sebagai antisipasi terhadap tuntutan konsumen atas mutu keluaran
yang semakin meningkat. Tiap pekerja dididik dan dilatih untuk menghidarkan proses dari cacat
(poke yoke, atau to avoid mistake) dan mengawasi serta memeriksa sendiri pekerjaannya menuju
terwujudnya proses dan keluaran bebas cacat (zero defect).
Manajemen operasional adalah bentuk pengelolaan secara menyeluruh dan optimal pada
masalah tenaga kerja, barang-barang seperti mesin, peralatan, bahan-bahan mentah, atau produk
apa saja yang sekiranya bisa dijadikan sebuah produk barang dan jasa yang biasa dijual belikan.

Manajemen operasional sangat erat kaitannya dengan Unsur Manajemen yang terdiri
dari : perencanaan, pelaksanaan, pengawasan.
Tahap Perencanaan, meliputi ; Penentuan strategi operasi; penentuan lokasi; Riset dan
pengembangan produk; penentuan jumlah produk; penentuan luas dan pola
produksi;penyusunan layout & job design; serta penentuan standar kerja.
Tahap Pelaksanaan, meliputi ; pengaturan bahan baku; pengaturan proses produksi;
pemeliharaan dan penggantian fasilitas; perbaikan lingkungan kerja; dan perbaikan
kesejahteraan pekerja.
Tahap Pengawasan, meliputi ; pengawasan kuantitas ; pengawasan kualitas; dan pengawasan
biaya produksi dan operasi. Pengambilan keputusan seorang pemimpin operasional.
Mengapa Manajemen Operasi penting, Hal tersebut antara lain karena :
1. Sebagian besar aktiva perusahaan umumnya tertanam dalam aktivitas operasi/produksi,
khususnya persediaan
2. Sebagian besar SDM, berada dalam departemen operasi/produksi
3. Kegiatan operasional perusahaan merupakan kegiatan utama perusahaan

Kegiatan operasional atau produksi secara singkat dapat dikatakan sebagai serangkaian
kegiatan atau proses untuk merubah input menjadi output. Untuk lebih jelasnya,
perhatikan gambar berikut :

6|Manajemen Operasional Laboratorium


Secara lebih detail proses transformasi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Untuk mengelola laboratorium yang baik harus dipahami perangkat-perangkat


manajemen laboratorium, yaitu:

1. Tata ruang
2. Alat yang baik dan terkalibrasi
3. Infrastruktur
4. Administrasi laboratorium
5. Organisasi laboratorium
6. Fasilitas pendanaan
7. Inventarisasi dan keamanan
8. Pengamanan laboratorium
9. Disiplin yang tinggi

7|Manajemen Operasional Laboratorium


10. Keterampilan SDM
11. Peraturan dasar
12. Penanganan masalah umum
13. Jenis-jenis pekerjaan.

Semua perangkat-perangkat tersebut di atas, jika dikelola secara optimal akan mendukung
terwujudnya penerapan manajemen laboratorium yang baik. Dengan demikian manajemen
laboratorium dapat dipahami sebagai suatu tindakan pengelolaan yang kompleks dan terarah,
sejak dari perencanaan tata ruang sampai dengan perencanaan semua perangkat penunjang
lainnya. Dengan demikian sebagai pusat aktivitasnya adalah tata ruang.

2.3. Rincian Kegiatan Masing-masing Perangkat

2.3.1. Tata Ruang

Laboratorium harus ditata sedemikian rupa hingga dapat berfungsi dengan baik. Tata
ruang yang sempurna, harus dimulai sejak perencanaan gedung sampai pada pelaksanaan
pembangunan. Tata ruang yang baik mempunyai:

a. pintu masuk (in)


b. pintu keluar (out)
c. pintu darurat (emergency-exit)
d. ruang persiapan (preparation-room)
e. ruang peralatan (equipment-room)
f. ruang penangas (fume-hood)
g. ruang penyimpanan (storage - room)
h. ruang staf (staff-room)
i. ruang teknisi (technician-room)
j. ruang bekerja (activity-room)
k. ruang istirahat/ibadah
l. ruang prasarana kebersihan
m. ruang toilet
n. lemari praktikan (locker)
o. lemari gelas (glass-rack)
p. lemari alat-alat optik (opticals-rack)
q. pintu jendela diberi kawat kasa, agar serangga dan burung tidak dapat masuk.
r. fan (untuk dehumidifier)
s. ruang ber-AC untuk alat-alat yang memerlukan persyaratan tertentu.

2.3.2. Alat yang Baik dan Terkalibrasi

Pengenalan terhadap peralatan laboratorium merupakan kewajiban bagi setiap petugas

8|Manajemen Operasional Laboratorium


laboratorium, terutama mereka yang akan mengoperasikan peralatan tersebut. Setiap alat yang
akan dioperasikan itu harus benar-benar dalam kondisi:
a. siap untuk dipakai (ready for use)
b. bersih
c. berfungsi dengan baik
d. terkalibrasi
Peralatan yang ada juga harus disertai dengan buku petunjuk pengoperasian
(manualoperation). Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan, dimana buku manual
merupakan acuan untuk perbaikan seperlunya. Teknisi laboratorium yang ada harus senantiasa
berada di tempat, karena setiap kali peralatan dioperasikan ada kemungkinan alat tidak berfungsi
dengan baik. Beberapa peralatan yang dimiliki harus disusun secara teratur pada tempat tertentu,
berupa rak atau meja yang disediakan. Peralatan digunakan untuk melakukan suatu kegiatan
pendidikan, penelitian, pelayanan masyarakat atau studi tertentu. Karenanya alat-alat ini harus
selalu siap pakai, agar sewaktu-waktu dapat digunakan. Peralatan laboratorium sebaiknya
dikelompokkan berdasarkan penggunaannya. Setelah selesai digunakan, harus segera dibersihkan
kembali dan disusun seperti semula. Semua alat-alat ini sebaiknya diberi penutup (cover)
misalnya plastik transparan, terutama bagi alat-alat yang memang memerlukannya. Alat-alat
yang tidak ada penutupnya akan cepat berdebu, kotor dan akhirnya dapat merusak alat yang
bersangkutan.

a. Alat-alat Gelas (Glassware)


Alat-alat gelas harus dalam keadaan bersih, apalagi peralatan gelas yang sering dipakai.
Untuk alat-alat gelas yang memerlukan sterilisasi, sebaiknya disterilisasi sebelum dipakai.
Semua alat-alat gelas ini seharusnya disimpan pada lemari khusus.

b. Bahan-bahan Kimia
Untuk bahan-bahan kimia yang bersifat asam dan alkalis, sebaiknya ditempatkan pada
ruang/kamar fume (untuk mengeluarkan gas-gas yang mungkin timbul). Demikian juga untuk
bahan-bahan yang mudah menguap. Ruangan fume perlu dilengkapi fan, agar udara/uap yang
ada dapat terhembus keluar. Bahan-bahan kimia yang ditempatkan dalam botol berwarna
coklat/gelap, tidak boleh langsung terkena sinar matahari dan sebaiknya ditempatkan pada lemari
khusus.

c. Alat-alat Optik
Alat-alat optik seperti mikroskop harus disimpan pada tempat yang kering dan tidak
lembab. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan lensa berjamur. Jamur ini yang
menyebabkan kerusakan mikroskop. Sebagai tindakan pencegahan, mikroskop harus
ditempatkan dalam kotak yang dilengkapi dengan silica-gel, dan dalam kondisi yang bersih.
Mikroskop harus disimpan di dalam lemari khusus yang kelembabannya terkendali. Lemari
tersebut biasanya diberi lampu pijar 15-20 watt, agar ruang selalu panas sehingga dapat
mengurangi kelembaban udara (dehumidifier-air). Alat-alat optik lainnya seperti lensa pembesar

9|Manajemen Operasional Laboratorium


(loupe), alat kamera, microphoto-camera, digital camera, juga dapat ditempatkan pada lemari
khusus yang tidak lembab atau dalam alat desiccator.

2.3.3. Infrastruktur
Infrastruktur laboratorium ini meliputi:

a. Sarana Utama
Mencakup bahasan tentang lokasi laboratorium, konstruksi laboratorium dan sarana lain,
termasuk pintu utama, pintu darurat, jenis meja kerja/pelataran, jenis atap, jenis dinding, jenis
lantai, jenis pintu, jenis lampu yang dipakai, kamar penangas, jenis pembuangan limbah, jenis
ventilasi, jenis AC, jenis tempat penyimpanan, jenis lemari bahan kimia, jenis alat optik, jenis
timbangan dan instrumen yang lain, kondisi laboratorium, dan sebagainya.

b. Sarana Pendukung
Mencakup bahasan tentang ketersediaan energi listrik, gas, air, alat komunikasi, dan
pendukung keselamatan kerja seperti pemadam kebakaran, hidran dsb.

2.3.4. Administrasi Laboratorium


Administrasi laboratorium meliputi segala kegiatan administrasi yang ada di laboratorium,
yang antara lain terdiri atas:
a. Inventarisasi peralatan laboratorium
b. Daftar kebutuhan alat baru, alat tambahan, alat yang rusak, alat yang
dipinjam/dikembalikan
c. Surat masuk dan surat keluar
d. Daftar pemakai laboratorium, sesuai dengan jadwal kegiatan praktikum/ penelitian
e. Daftar inventarisasi bahan kimia dan non-kimia, bahan gelas dan sebagainya
f. Daftar inventarisasi alat-alat meubelair (kursi, meja, bangku, lemari dsb.)
g. Sistem evaluasi dan pelaporan
Untuk kelancaran administrasi yang baik, seyogyanya tiap laboratorium memberikan pelaporan
kepada atasannya (misalnya kepada PDII, Ketua Program Studi maupun Dekan). Evaluasi dan
Pelaporan kegiatan masing-masing laboratorium dapat dilakukan bersama dengan pimpinan
Fakultas, setiap semester atau sekali dalam setahun, tergantung pada kesiapan yang ada agar
semua kegiatan laboratorium dapat dipantau dan sekaligus dapat digunakan untuk perencanaan
laboratorium (misalnya penambahan alat-alat baru, rencana pembiayaan/dana laboratorium yang
diperlukan, perbaikan sarana & prasarana yang ada, dsb).
Kegiatan administrasi ini adalah merupakan kegiatan rutin yang berkesinambungan,
karenanya perlu dipersiapkan dan dilaksanakan secara berkala dengan baik dan teratur.

2.3.5. Organisasi Laboratorium

Organisasi laboratorium meliputi struktur organisasi, deskripsi pekerjaan, serta susunan


personalia yang mengelola laboratorium tersebut. Penanggung jawab tertinggi organisasi di
dalam laboratorium adalah Kepala Laboratorium. Kepala Laboratorium bertanggung jawab
10 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m
terhadap semua kegiatan yang dilakukan dan juga bertanggung jawab terhadap seluruh peralatan
yang ada. Para anggota laboratorium yang berada di bawah Kepala Laboratorium juga harus
sepenuhnya bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan yang dibebankan padanya. Untuk
mengantisipasi dan menangani kerusakan peralatan diperlukan teknisi yang memadai.

2.3.6. Fasilitas Pendanaan

Ketersediaan dana sangat diperlukan dalam operasional laboratorium. Tanpa adanya dana
yang cukup, kegiatan laboratorium akan berjalan tersendat-sendat, bahkan mungkin tidak dapat
beroperasi dengan baik. Dana dapat diperoleh dari, antara lain:
a. SPP
b. Anggaran rutin/DIP
c. Institusi lain, misalnya kerjasama dalam bidang penelitian atau pengembangan bidang
lainnya
d. Dana dari badan-badan Internasional, misalnya JICA, ADB loan projects, dsb
e. Dana Operasional melalui Hibah kompetisi A1; A2; A3 atau B
f. Dana-dana lainnya, yang bersumber dari luar Universitas/Institut
Kegigihan pimpinan institusi memperjuangkan ketersediaan dana sangatlah penting, namun
yang tidak kalah pentingnya ialah kemampuan untuk mengusahakan dana sendiri, misalnya:
melalui kegiatan penelitian, kegiatan tugas akhir/thesis mahasiswa, kegiatan layanan masyarakat,
dan sebagainya. Jika anggaran rutin tidak ada, maka kegiatan operasional laboratorium tidak
akan tercapai dengan baik.

2.3.7. Inventarisasi dan Keamanan Laboratorium

Kegiatan inventarisasi dan keamanan laboratorium meliputi:


a. Semua kegiatan inventarisasi harus memuat sumber dana darimana alat-alat ini
diperoleh/dibeli. Misalnya: dari DIP tahun 2004, ADB Project, Pemerintah Jepang
(JICA),
b. Proyek Hibah Kompetisi SP4; A1: A2; A3: dan B.
c. Keamanan/security peralatan laboratorium ditujukan agar peralatan laboratorium tersebut
harus tetap berada di laboratorium. Jika peralatan dipinjam harus ada jaminan dari si
peminjam. Jika hilang atau dicuri, harus dilaporkan kepada kepala laboratorium.
Perlu diingat bahwa semua barang dan peralatan laboratorium yang ada adalah milik
negara, jadi tidak boleh ada yang hilang.
Tujuan yang ingin dicapai dari inventarisasi dan keamanan adalah:
(1) mencegah kehilangan dan penyalahgunaan
(2) mengurangi biaya-biaya operasional
(3) meningkatkan proses pekerjaan dan hasilnya
(4) meningkatkan kualitas kerja
(5) mengurangi resiko kehilangan
(6) mencegah pemakaian yang berlebihan

11 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m
(7) meningkatkan kerjasama.
Berikut ini diberikan beberapa petunjuk umum pengamanan laboratorium, agar setiap
laboran/pekerja/asisten dapat bekerja dengan aman.

2.3.7.1. Prinsip Umum Pengamanan Laboratorium

a. Tanggung jawab
Kepala Laboratorium, anggota laboratorium termasuk asisten bertanggung jawab penuh
terhadap segala kecelakaan yang mungkin timbul. Karenanya Kepala Laboratorium seharusnya
dijabat oleh orang yang kompeten dibidangnya, termasuk juga teknisi dan laborannya.
b. Kerapian
Semua koridor, jalan keluar dan alat pemadam api harus bebas dari hambatan seperti botol-
botol, dan kotak-kotak. Lantai harus bersih dan bebas minyak, air dan material lain yang
mungkin menyebabkan lantai licin. Semua alat-alat dan reagensia bahan kimia yang telah
digunakan harus dikembalikan ketempat semula seperti sebelum digunakan.
c. Kebersihan
Kebersihan dalam laboratorium menjadi tanggung jawab bersama pengguna laboratorium.
d. Konsentrasi terhadap pekerjaan
Setiap pengguna laboratorium harus memiliki konsentrasi penuh terhadap pekerjaannya
masing-masing, tidak boleh mengganggu pekerjaan orang lain, dan tidak boleh meninggalkan
percobaan yang memerlukan perhatian penuh.
e. Pertolonan pertama (First-Aid)
Semua kecelakaan bagaimanapun ringannya, harus ditangani di tempat dengan
memberikan pertolongan pertama. Misalnya, bila mata terpercik harus segera dialiri air dalam
jumlah yang banyak. Jika tidak bisa, segera panggil dokter. Jadi setiap laboratorium harus
memiliki kotak P3K, dan harus selalu dikontrol isinya.
f. Pakaian
Saat bekerja di laboratorium dilarang memakai baju longgar, kancing terbuka, kalung
teruntai, anting besar dan lain-lain yang mungkin dapat tersangkut oleh mesin, ketika bekerja
dengan mesin-mesin yang bergerak. Selain pakaian, rambut harus diikat rapi agar terhindar dari
mesin-mesin yang bergerak.
g. Berlari di laboratorium
Tidak dibenarkan berlari di laboratorium atau di koridor, berjalanlah di tengah koridor
untuk menghindari tabrakan dengan orang lain dari pintu yang hendak masuk/keluar.
h. Pintu-pintu
Pintu-pintu harus dilengkapi dengan jendela pengintip untuk mencegah terjadinya
kecelakaan (misalnya: kebakaran).
i. Alat-alat
Alat-alat seharusnya ditempatkan di tengah meja, agar alat-alat tersebut tidak jatuh kelantai.
Selain itu, peralatan sebaiknya juga ditempatkan dekat dengan sumber listrik, jika memang

12 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m
peralatan tersebut memerlukan listrik. Demikian juga untuk alat-alat yang menggunakan air
ataupun gas sebagai sarana pendukung.

i.1. Penanganan alat-alat


Alat-alat kaca/gelas
Bekerja dengan alat-alat kaca perlu berhati-hati sekali. Gelas beaker, flask, test tube,
erlenmeyer, dan sebagainya; sebelum dipanaskan harus benar-benar diteliti, misalnya apakah
gelas tersebut retak/tidak retak, rusak. Bila terdapat gejala seperti ini,barang-barang tersebut
sebaiknya tidak dipakai.
Mematahkan pipa kaca/batangan kaca
Jika hendak memetong pipa kaca harus menggunakan sarung tangan. Pada bekas pecahan
pipa kaca, permukaannya dilicinkan dengan api lalu diberi pelumas/gemuk silikon, kemudian
masukkan ke sumbat gabus/karet.
Mencabut pipa kaca
Mencabut pipa kaca dari gabus dan sumbat harus dilakukan dengan hati-hati. Bila sukar
mencabutnya, potong dan belah gabus itu. Untuk memperlonggar, lebih baik digunakan pelubang
gabus yang ukurannya telah cocok, kemudian licinkan dengan meminyakinya dan kemudian
putar perlahan-lahan melalui sumbat. Cara ini juga digunakan untuk memasukkan pipa kaca
kedalam sumbat. Jangan gunakan alat-alat kaca yang sumbing atau retak. Sebelum dibuang
sebaiknya dicuci lebih dahulu untuk memastikan kerusakan.
Label
Semua bejana seperti botol, flask, test tube dan lain-lain seharusnya diberi label yang jelas.
Jika tidak jelas, lakukan pengetesan isi bejana yang belum diketahui secara pasti dengan hati-hati
secara terpisah, kemudian dibuang melalui cara yang sesuai dengan jenis zat kimia tersebut.
Biasakanlah menulis tanggal, nama orang yang membuat, konsentrasi, nama dan bahayanya dari
zat-zat kimia yang ada dalam bejana.
Suplai gas
Tabung-tabung gas harus ditangani dengan hati-hati walaupun berisi atau kosong.
Penyimpanan sebaiknya di tempat yang sejuk dan terhindar dari tempat yang panas. Kran gas
harus selalu tertutup jika tidak dipakai, demikian juga dengan kran pengatur (regulator). Alat-alat
yang berhubungan dengan tabung gas harus memakai "Safety Use" (alat pengaman jika terjadi
tekanan yang kuat). Saat ini sudah beredar banyak jenis pengaman seperti selang anti bocor dan
lain-lain.
Sediaan gas untuk alat-alat pembakar harus dimatikan pada kran utama yang ada di meja
kerja, tidak hanya pada kran, tapi juga pada alat yang dipakai. Kran untuk masing-masing
laboratorium harus dipasang di luar laboratorium, pada tempat yang mudah dicapai dan diberi
label yang jelas serta diwarnai dengan wama yang spesifik.
Penggunaan pipet
Gunakan pipet yang dilengkapi pompa pengisap (pipet pump), jangan menggunakan
mulut!. Ketika memasukkan pipet kedalam pompa pengisap harus dilakukan dengan hati-hati

13 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m
supaya pipet tidak pecah dan pompa pengisap tidak rusak. Jangan sampai ada cairan yang masuk
ke pompa pengisap, karena akan merusak pompa tersebut.
Melepaskan tutup kaca yang kencang
Melepaskan tutup kaca yang kencang dengan cara mengetok berganti-ganti sisi tutup botol yang
ketat tersebut, dengan sepotong kayu, sambil menekannya dengan ibu jari pada sisi yang
berlainan/berlawanan dengan ketokan. Jangan mencoba untuk membuka tutup botol secara
paksa, lebih-lebih jika isinya berbahaya atau mudah meledak. Di bawah pengawasan Kepala
Laboratorium, panaskanlah leher botol dengan air panas secara perlahan-lahan, lalu coba
membukanya. Jika gagal juga goreslah sekeliling leher botol dengan alat pemotong kaca untuk
dipatahkan. Lalu pindahkan isi botol ke dalam botol yang baru.
Kebakaran
Untuk menanggulangi bahaya kebakaran, perlu diketahui klasifikasi bahan dan alat
pemadam kebakaran yang sesuai. Secara umum bahan yang mudah terbakar dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
- Kelas Kebakaran (fire-class)
- Bahan mudah terbakar (Buming materials)
- Larutan yang mudah terbakar
- Gas yang mudah terbakar
- Alat-alat listrik

2.3.8. Disiplin yang tinggi

Pengelola laboratorium harus menerapkan disiplin yang tinggi pada seluruh pengguna
laboratorium (mahasiswa, asisten, laboran/teknisi) agar terwujud efisiensi kerja yang tinggi.
Kedisiplinan sangat dipengaruhi oleh pola kebiasaan dan perilaku dari manusia itu sendiri. Oleh
sebab itu setiap pengguna laboratorium harus menyadari tugas, wewenang dan fungsinya.
Sesama pengguna laboratorium harus ada kerjasama yang baik, sehingga setiap kesulitan dapat
dipecahkan/diselesaikan bersama.

2.3.9. Keterampilan

Pengelola laboratorium harus meningkatkan keterampilan semua tenaga laboran/teknisi.


Peningkatan keterampilan dapat diperoleh melalui pendidikan tambahan seperti pendidikan
keterampilan khusus, pelatihan (workshop) maupun magang di tempat lain. Peningkatan
keterampilan juga dapat dilakukan melalui bimbingan dari staf dosen, baik di dalam
laboratorium maupun antar laboratorium.

2.3.10. Peraturan dasar

Beberapa peraturan umum untuk menjamin kelancaran jalannya pekerjaan di laboratorium,


dirangkum sebagai berikut:
a. Dilarang makan/minum di dalam laboratorium

14 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m
b. Dilarang merokok, karena mengandung potensi bahaya seperti:
(1) Kontaminasi melalui tangan
(2) Ada api/uap/gas yang bocor/mudah terbakar
(3) Uap/gas beracun, akan terhisap melalui pernafasan
c. Dilarang meludah, akan menyebabkan terjadinya kontaminasi
d. Jangan panik menghadapi bahaya kebakaran, gempa, dan sebagainya.
e. Dilarang mencoba peralatan laboratorium tanpa diketahui cara penggunaannya.
Sebaiknya tanyakan pada orang yang kompeten.
f. Diharuskan menulis label yang lengkap, terutama pada bahan-bahan kimia.
g. Dilarang mengisap/menyedot dengan mulut segala bentuk pipet. Semua alat pipet harus
menggunakan bola karet pengisap (pipet - pump).
h. Diharuskan memakai baju laboratorium, dan juga sarung tangan dan gogles, terutama
sewaktu menuang bahan-bahan kimia yang berbahaya.
i. Beberapa peraturan lainnya yang spesifik, terutama dalam pemakaian sinar X, sinar
Laser, alat-alat sinar UV, Atomic Absorption, Flamephoto-meter, Bacteriological
Glove Box with UV light, dan sebagainya, harus benar-benar dipatuhi. Semua
peraturan tersebut di atas ditujukan untuk keselamatan kerja di laboratorium.

2.3.11. Penanganan masalah laboratorium

a. Mencampur zat-zat kimia


Jangan campur zat kimia tanpa mengetahui sifat reaksinya. Jika belum tahu segera
tanyakan pada orang yang kompeten.
b. Zat-zat baru atau kurang diketahui
Demi keamanan laboratorium, berkonsultasilah sebelum menggunakan zat-zat kimia baru
atau yang kurang diketahui. Semua zat-zat kimia dapat menimbulkan resiko yang tidak
dikehendaki.
c. Membuang material-material yang berbahaya
Sebelum membuang material-material yang berbahaya harus diketahui resiko yang
mungkin terjadi. Karena itu pastikan bahwa cara membuangnya tidak menimbulkan
bahaya. Jika tidak tahu tanyakan pada orang yang kompeten. Demikian juga terhadap air
buangan dari laboratorium. Sebaiknya harus ada bak penampung khusus, jangan dibuang
begitu saja karena air buangan mengandung bahan berbahaya yang menimbulkan
pencemaran. Air buangan harus ditreatment, antara lain dengan cara netralisasi
sebelum dibuang ke lingkungan.
d. Tumpahan
Tumpahan asam diencerkan dahulu dengan air dan dinetralkan dengan CaC03 atau soda
abu, dan untuk basa dengan air dan dinetralisir dengan asam encer. Setelah itu dipel dan
pastikan kain pel bebas dari asam atau alkali. Tumpahan minyak, harus ditaburi dengan
pasir, kemudian disapu dan dimasukkan dalam tong yang terbuat dari logam dan ditutup
rapat.

15 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m
Catatan: Penanganan terhadap lain-lain masalah yang belum diketahui, sebaiknya berkonsultasi
kepada ahlinya, sebelum mengambil tindakan. lngat keselamatan lebih diutamakan dari yang
lainnya.

2.3.12. Jenis pekerjaan

Berbagai pekerjaan laboratorium seperti praktek, penelitian, dan layanan umum, harus
didiskusikan sebelumnya dengan Kepala Laboratorium. Setelah itu dilanjutkan dengan cara
pelaksanaannya. Pemahaman jenis pekerjaan di laboratorium diperlukan untuk:
a. Meningkatkan efisiensi penggunaan bahan-bahan kimia, air, listrik, gas dan alat-alat
laboratorium.
b. Meningkatkan efisiensi biaya (operasional cost).
c. Meningkatkan efisiensi tenaga dan waktu, baik dari pengguna maupun pengelola
laboratorium
d. Meningkatkan kualitas dan ketrampilan pengelola laboratorium dan laboran.
e. Baik pengelola laboratorium dan laboran/teknisi harus dapat bekerja sama dengan baik
sebagai satu Team-Work. Bekerja dengan satu team, jauh lebih baik dari pada bekerja
secara sendiri/mandiri
f. Meningkatkan pendapatan (income) dari laboratorium yang bersangkutan.

2.4. Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Operasional Organisasi/Perusahaan

Menurut Higgins (1994) Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Operasional


adalah: Manajer/Pimpinan Pada dasarnya setiap tindakan yang diambil oleh manajer atau
pimpinan mempengaruhi dalam beberapa hal, seperti aturan-aturan, kebijakan-kebijakan, dan
prosedur-prosedur organisasi terutama masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah
personalia, distribusi imbalan, gaya komunikasi, cara-cara yang digunakan untuk memotivasi,
teknik-teknik dan tindakan pendisiplinan, interaksi antara manajemen dan kelompok, interaksi
antar kelompok, perhatian pada permasalahan yang dimiliki karyawan dari waktu ke waktu, serta
kebutuhan akan kepuasan dan kesejahteraan karyawan.

Tingkah laku karyawan

Tingkah laku karyawan mempengaruhi melalui kepribadian mereka, terutama kebutuhan


mereka dan tindakan-tindakan yang mereka lakukan untuk memuaskan kebutuhan tersebut.
Komunikasi karyawan memainkan bagian penting, karena cara seseorang berkomunikasi
menentukan tingkat sukses atau gagalnya hubungan antar manusia.

Tingkah laku kelompok kerja

Terdapat kebutuhan tertentu pada kebanyakan orang dalam hal hubungan persahabatan,
suatu kebutuhan yang seringkali dipuaskan oleh kelompok dalam organisasi. Kelompok-

16 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m
kelompok berkembang dalam organisasi dengan dua cara, yaitu secara formal, utamanya pada
kelompok kerja; dan informal, sebagai kelompok persahabatan atau kesamaan minat.

Faktor eksternal organisasi

Sejumlah faktor eksternal organisasi mempengaruhi pada organisasi tersebut. Keadaan


ekonomi merupakan faktor utama yang mempengaruhi organisasi. Keadaan ekonomi adalah
faktor utama. Di lain pihak, ledakan ekonomi dapat mendorong penjualan dan memungkinkan
setiap orang mendapatkan pekerjaan dan peningkatan keuntungan yang besar, sehingga hasilnya
menjadi lebih positif.

17 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m
BAB III
PENUTUPAN

3.1. Kesimpulan

Agar semua kegiatan yang dilakukan di dalam laboratorium dapat berjalan dengan lancar,
dibutuhkan sistem pengelolaan operasional laboratorium yang baik dan sesuai dengan situasi
kondisi setempat. Untuk mencapai hal tersebut, beberapa hal yang telah dijelaskan di atas, perlu
diperhatikan. Peran Kepala Laboratorium sangat penting dalam menerapkan proses manajemen
pengelolaan laboratorium, termasuk dukungan keterampilan dari segala elemen yang ada di
dalamnya.

18 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m
Daftar Pustaka

Djas, Fachri, 1998. Manajemen Laboratorium (Laboratory Management). Penataran Pengelolaan


Laboratorium (Laboratory Management). Fakultas Kedokteran USU, Medan.

Djas, Fachri, Syaiful Bahri Daulay, 1997, Manajemen Laboratorium (Laboratory Management).
Penataran Tenaga Laboran dalam Lingkungan Fakultas Pertanian USU, Medan

Griffin, Paul, 1993. Laboratory Safety Manual. WUTC University Andalas, Padang

Suyanta, 2010. Manajemen Operasional laboratorium [Tersedia secara online:


http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/suyanta-msi-dr/manajemen-lab.pdf
(diakses 5 Mei 2017)

Western Universities Training Centre, 1993, Lecture Notes, Universitas Andalas, Padang

19 | M a n a j e m e n O p e r a s i o n a l L a b o r a t o r i u m