Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM SPPK

HYDRANT SYSTEM II

KELOMPOK :1

NAMA : Intan Maharani

NRP : 0515040116

KELAS : K3-4D

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebakaran merupakan sesuatu bencana yang disebabkan


oleh api atau pembakaran tidak terkawal, membahayakan nyawa manusia,
bangunan atau ekologi. Ia boleh jadi sengaja atau tidak sengaja. Kebakaran
lazimnya akan menyebabkan kerusakan atau kemusnahan pada binaan dan
kecederaan atau kematian kepada manusia. Kebakaran kadangkala turut
menyebabkan ribut kebakaran atau kebakaran liar. Kebakaran bisa menyebabkan
cedera atau kematian.

Instalasi hydrant kebakaran adalah suatu sistem pemadam kebakaran tetap


yang menggunakan media pemadam air bertekanan yang dialirkan melalui pipa-
pipa dan slang kebakaran. Sistem ini terdiri dari sistem persediaan air, pompa,
perpipaan, kopling outlet dan inlet serta slang dan nozzle. Biasanya digunakan
untuk memadamkan kebakaran untuk Kelas A (bahan terbakar seperti : Kertas,
Kayu, dan sebagainya).

Hydrant merupakan sebuah fasilitas wajib bagi bangunan-bangunan publik


seperti pasar tradisional maupun modern, pertokoan, bahkan semestinya
lingkungan perumahan pun harusnya ada fasilitas hydrant. Pada saat terjadi
peristiwa kebakaran Fire Hydrant harus mudah terlihat dan segera dapat
dipergunakan.

Mahasiswa Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya program studi teknik


keselamatan dan kesehatan kerja diharapkan mampu memahami bagaimana
prosedur pemakaian hydrant system, meskipun job desk primer di lapangan
nantinya. Supaya lebih mudah untuk mengevaluasi cara-cara memadamkan
kebakaran dengan hydrant system dan meminimalisir potensi terjadinya
kecelakaan yang disebabkan karena kurang maksimalnya prosedur yang
dijalankan.
1.2 Tujuan
TIU
Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori pemadaman kebakaran.
TIK
Mahasiswa mampu memahami tentang prosedur pemakaian Hydrant System
dan dapat memadamkan kebakaran dengan Hydrant System.

1.3 Manfaat

Adapun manfaat dari Praktikum Hydrant System ini, yaitu:


Sebagai masukan dan evaluasi untuk bahan pertimbangan dalam
melakukan penyediaan hydrant yang telah diterapkan di
perusahaan serta dapat meningkatkan upaya peningkatan
keselamatan kerja bidang kebakaran di lingkungan perusahaan.
Sebagai sarana dalam rangka pengembangan ilmu K3 bagi
mahasiswa melalui tambahan referensi di perpustakaan.
Meningkatkan kualitas mahasiswa dalam penerapan ilmu K3 di
perusahaan dalam bidang kebakaran khususnya tentang hydrant.
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Pengertian Hydrant System


Hydrant system adalah suatu system yang dioperasikan secara manual
oleh operator (manusia). Media pemadamnya menggunakan air. Disepanjang
instalasi pemipaan mengandung air bertekanan sampai pada titik Hydrant Valve,
Hose reel, Hydrant Pillar atau perangkat lainnya.
Sistem instalasi hydrant dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1) Sistem instalasi hydrant kering ialah suatu sistem hydrant yang pipa-
pipanya tidak berisi air, dan akan berisi air manakala hydrant tersebutdigunakan.
2) Sistem instalasi hydrant basah ialah suatu sistem hydrant tang pipa-
pipanya selalu berisi air.

2.2 Komponen-komponen Hydrant System

1) Hydrant pilar

Gambar 2.1 Hydrant pillar dua dan Hydrant pillar satu

Hydrant pilar ialah suatu sistem pencegah kebakaran yang membutuhkan


pasokan air dan dipasang di luar bangunan. Hydrant ini biasanya digunakan oleh
mobil Pemadam Kebakaran untuk mengambil air jika kekurangan dalam tangki
mobil. Jadi hydrant pilar ini diletakkan di sepanjang jalan akses mobil Pemadam
Kebakaran.
2) Hydrant Box

Outdoor hydrant

Gambar 2.2 Hydrant Box

Hydrant box ialah adalah suatu sistem pencegah kebakaran yang


menggunakan pasokan air dan dipasang di dalam bangunan atau gedung. Hydrant
box biasanya dipasang menempel di dinding dan menggunakan pipa tegak (stand
pipe) untuk menghubungkan dengan pipa dalam tanah khusus kebakaran

3) Siamese Connection

Gambar 2.3 Siamese


Siamese connection ialah merupakan masukan (inlet) bercabang dua yang
berfungsi untuk memasukkan air kedalam jaringan sistem hydrant apabila pompa
kebakaran mengalami kerusakan atau air didalam resevoir telah habis.

4) Nozzle

Gambar 2.4 Nozzle

Nozzle ialah suatu alat penyemprot yang terletak pada bagian ujung
darislang yang digunakan untuk pengaturan pengeluaran air

5) Selang Hydrant

Gambar 2.5 Hose

Slang hydrant ialah alat yang digunakan untuk mengalirkan air yang
bersifat flexible.
6) Hose Rell

Gambar 2.6 Hose Rell

Hose Reel ialah slang yang digunakan untuk mengalirkan air yang pada
bagian ujungnya selalu terpasang nozzle secara tetap dihubungkan secara
permanen dengan sumber air bertekanan

2.3 Klasifikasi Hydrant System

a. Berdasarkan letaknya dan jenisnya, hydrant system dibedakan


menjadi dua, yaitu :
1. Hydrant Gedung

Gambar 2.7 Hydrant Gedung

Hydrant gedung atau biasa disebut dengan hydrant box adalah suatu sistem
pencegah kebakaran yang menggunakan pasokan air dan dipasang di dalam
bangunan atau gedung. Hydrant box biasanya dipasang menempel di dinding dan
menggunakan pipa tegak (stand pipe) untuk menghubungkan dengan pipa dalam
tanah khusus kebakaran.

2. Hydrant Halaman

Gambar 2.8 Hydrant Halaman

Hydrant halaman atau biasa disebut dengan hydrant pilar, adalah suatu
sistem pencegah kebakaran yang membutuhkan pasokan air dan dipasang di luar
bangunan. Hydrant ini biasanya digunakan oleh mobil PMK untuk mengambil air
jika kekurangan dalam tangki mobil. Jadi hydrant pilar ini diletakkan di sepanjang
jalan akses mobil PMK.

3. Hydrant Kota

Hydrant Kota ialah hydrant yang terpasang ditepi/sepanjang jalan pada


daerah perkotaan yang dipersiapkan sebagai prasarana kota oleh Pemerintah
Daerah setempat guna menanggulangi bahaya kebakaran. Persediaan air untuk
hydrant jenis ini dipasok oleh Perusahaan Air Minum setempat (PAM).

b. Berdasarkan besar ukuran pipa hydrant yang dipakai, hydrant


system dibedakan menjadi :
Hydrant kelas I adalah suatu hydrant yang menggunakanukuran slang 6,25
cm (2,5 inch). Penggunaannya diperuntukan secara khusus bagi petugas Pemadam
Kebakaran atau orang yang telah terlatih.
Gambar 2.9 Hydrant Kelas I
Hydrant kelas II adalah suatu hydrant yang menggunakanukuran slang
3,75 cm (1,5 inch). Penggunaannya diperuntukan bagi penghuni gedung atau para
petugas yang belum terlatih.

Gambar 2.10 Hydrant Kelas II

Hydrant kelas III adalah suatu hydrant yang menggunakanukuran sistem


gabungan kelas I dan kelas II.
Gambar 2.11 Hydrant Kelas III

Tabel 2.1 Peletakan hydrant berdasarkan luas lantai klasifikasi bangunan dan
jumlah lantai bangunan

Sumber : Depnaker

2.4 Perencanaan Sistem Hydrant

Untuk merencanakan instalasi hydrant kebakaran harus diperhatikan beberapa


faktor yang menentukan, antara lain :
Tabel 2.2 Klasifikasi bangunan menurut tinggi dan jumlah lantai

Sumber : depnaker

2.5 Klasifikasi Bahaya Hunian

A. Bahaya Kebakaran Ringan ialah jenis hunian yang mempunyai jumlah dan
kemudahan terbakar rendah dan apabila terjadikebakaran melepaskan panas
rendah sehingga menjalarnya apilambat.

B. Bahaya Kebakaran Sedang kelompok I, ialah jenis hunian yangmempunyai


jumlah dan kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar
dengan tinggi tidak lebih dari 2,5meter dan apabila terjadi kebakaran melepaskan
panas sedangsehingga menjalar api sedang.

C. Bahaya Kebakaran Sedang kelompok II, ialah jenis hunian


yangmempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan yang
mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4meter dan apabila terjadi
kebakaran melepaskan panas sedangsehingga menjalarnya api sedang.

D. Bahaya Kebakaran Sedang kelompok III, ialah jenis hunian


yangmempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi dan apabilaterjadi
kebakaran melepaskan panas tinggi, sehingga menjalarnyaapi cepat.
E. Bahaya Kebakaran Berat ialah jenis hunian yang mempunyai jumlah dan
kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadikebakaran melepaskan panas tinggi,
seperti tempat penyimpanancairan yang mudah terbakar, serat atau bahan lain
yang apabilaterbakar apinya akan ceat menjadi besar dengan melepaskan panas
tinggi sehingga menjalarnya api cepat.

2.6 Bagian Bagian dari Sistem Hydrant ( Hydrant System )

2.6.1 Persediaan Air

Sistem persediaan air untuk sistem hydrant ( hydrant system ) adalah


sebagai berikut :

1. Sumber air untuk memasok kebutuhan sistem hydrant kebakaran dapat


berasal dari PAM, sumur dalam ( artesis ) atau kedua-duanya.
2. Volume Reservoir, sesuai yang diatur dengan ketentuan yang berlaku,
harus diperkirakan berdasarkan waktu pemakaian yang disesuaikan
dengan Klasifikasi Ancaman Bahaya Kebakaran bagi bangunan yang
diproteksi.
3. Berdasarkan ancaman bahaya kebakaran, maka banyaknya dapat
digunakan untuk lama waktu seperti ditentukan sebagai berikut :
Kelas Ancaman Bahaya Kebakaran Ringan : 45 menit

Kelas Ancaman Bahaya Kebakaran Sedang : 60 menit

Kelas Ancaman Bahaya Kebakaran Berat : 90 menit


4. B
ak Penampungan ( reservoir ) untuk persediaan air pada sistem hydrant dapat
berupa reservoir bawah tanah ( ground tank ), tangki bertekanan ( presure tank )
atau reservoir atas ( gravity tank ).
2.6.2 Pompa

Pompa-pompa yang terpasang dalam sistem hydrant kebakaran merupakan


perangkat alat yang berfungsi untuk memindahkan air dari bak penampungan (
reservoir ) ke ujung pengeluaran ( pipa pemancar / nozzle ). Pompa-pompa pada
sistem hydrant ini sekurang-kurangnya terdiri atas 1 unit Pompa Jockey, 1 unit
Pompa Utama dengan sumber daya listrik dan generator serta 1 unit Pompa
Cadangan dengan sumber daya motor diesel. Berikut ini pompa pompa yang
terdapat pada hydrant :

1. Pompa Jockey

Pompa Jockey berfungsi untuk mempertahankan tekanan statis didalam


jaringan sistem hydrant. Pada saat terjadi pengeluaran kecil sejumlah air didalam
jaringan pompa jockey ini akan bekerja guna mengembalikan tekanan keposisi
semula. Karenanya sekaligus pompa jockey juga akan berfungsi untuk memantau
kebocoran - kebocoran pada jaringan sistem hydrant. Operasi kerja pompa jockey
didisain untuk hidup ( start ) secara otomatis pada saat salah satu katup
pengeluaran dibuka atau terjadi kebocoran pada jaringan dan akan berhenti
bekerja ( stop ) secara otomatis pada saat katup bukaan ditutup.

2. Pompa Utama

Pompa utama ini berfungsi sebagai penggerak utama bekerjanya sistem


hydrant. Pompa Utama akan bekerja setelah kapasitas maksimal pompa jockey
terlampaui. Operasi kerja pompa utama didisain untuk hidup ( start ) secara
otomatis dan berhenti bekerja ( stop ) secara manual, melalui tombol reset pada
panel pompa kebakaran.

2. Pompa Cadangan

Pompa cadangan berfungsi sebagai penggerak cadangan dari sistem


hydrant, yang titik start bekerjanya setelah pompa utama. Pompa ini meskipun
berfungsi sebagai cadangan, namun tetap dalam kondisi siaga operasi. Dalam
kondisi seperti ini pompa cadangan akan bekerja secara otomatis pada saat
kapasitas maksimal pompa utama terlampaui, mengalami kerusakan atau pada
saat sumber daya utama ( PLN ) padam. Sama halnya dengan pompa utama,
operasi kerja pompa cadangan didisain untuk hidup ( start ) secara otomatis dan
berhenti bekerja ( stop ) secara manual.
2.6.3 Pemipaan

Rangkaian jaringan pemipaan pada sistem hydrant terdiri atas :

a) Pipa Hisap (suction)

Ialah hydrant yang dilengkapi dengan selang berdiameter 2,5 yang


penggunaannya diperuntukan secara khusus bagi petugas pemadam
kebakaran atau orang yang telah terlatih.

b) Pipa Penyalur

Pipa Penyalur adalah pipa yang terentang dari Pipa Header sampai
ke Pipa Tegak atau ke Hydrant Halaman. Diamater pipa berfariasi antara
4, 6 dan 8 inch sesuai dengan besar kecilnya sistem hydrant yang dipasang

c) Pipa Header

Pipa Header dapat dikatakan sebagai pipa antara yang ukuran


diameternya biasanya lebih besar dari pipa lainnya didalam rangkaian sistem
hydrant. Pipa ini merupakan tempat bertemunya pipa pengeluaran ( discharge
) dari pompa jockey, Pompa Utama maupun Pompa Cadangan sebelum
kemudian ke pipa penyalur. Diameter pipa header ini bervariasi antara 6, 8
dan 10 inci, tergantung dari besar kecilnya sistem hydrant yang dipasang.
Dari pipa header ini, selain berhubungan dengan pipa penyalur, biasanya
dihubungkan juga dengan pipa-pipa yang menuju ke tangki bertekanan (
pressure tank ), tangki pemancing ( priming tank ), Sirkulasi by pass ke
Reservoir ( safety valve ), pressure switch dan ke manometer indikasi
tekanan kerja pompa.

d) Pipa Tegak ( Riser )


Pipa Tegak adalah pipa yang dipasang vertical dari lantai terbawah
sampai dengan lantai teratas bangunan yang dihubungkan dari Pipa
Penyalur. Diameter pipa bervariasi antara 3, 4 dan 6 inch sesuai dengan
besar kecilnya sistem hydrant yang dipasang. Berikut ini sistem pada pipa
tegak :
Pipa Tegak Basah (wet riser)
Pipa Tegak sistem basah adalah suatu sistem hydrant dimana pada
jaringan hydrant tersebut telah terisi air dengan tekanan statis. air akan
keluar pada saat katup di lantai-lantai dibuka dan pompa akan bekerja
secara otomatis.
Pipa Tegak Kering (dry riser)
Pada sistem jaringan Pipa Tegak tidak terisi air. Pasokan dan
tekanan air disediakan oleh mobil unit Pemadam Kebakaran melalui
sambungan siamese connection.
Pipa Tegak Kering dengan sistem Remote Control
Pada sistem ini jaringan pipa tegak juga kosong, namun aliran air
akan diperoleh dari sistem hydrant itu sendiri melalui operasi manual
dengan mengaktifkan tombol manual yang terpasang pada kotak-
kotak hydrant di lantai-lantai.

e) Pipa Cabang
Pipa Cabang adalah pipa yang dihubungkan dari pipa tegak sampai
ke titik pengeluaran (outlet) hydrant pada lantai-lantai bangunan. Diameter
pipa bervariasi antara 3 dan 4 inch.Dalam merencanakan sistem perpipaan
harus memperhatikan hal hal sebagai berikut :
Diameter pipa induk ( pipa suction ) minimum 15 cm ( 6
inchi ) dan diameter pipa cabang ( pipa discharge )
minimum 10 cm ( 4 inchi ) atau dihitung secara hydrolis;

Tidak boleh digabungkan dengan instalasi lainnya;

Pipa berdiameter sampai 6,25 cm ( 2,5 inchi ) harus


menggunakan sambungan ulir;
Pipa berdiameter lebih besar 6,25 cm ( 2,5 inchi ) harus
menggunakan sambungan las;

Memasang pipa horizontal

-Diberi penggantung dengan kemampuan 5 x berat piap


berisi air

-Harus terpisah dengan penggantung lain

-Jarak antara penggantung maximum 3,5 m;

Pipa yang menembus beton bangunan harus disediakan


selongsong dari besi tuang / pipa baja dengan kelonggaran
minimum 25 mm diluar pipa;

Pipa yang dipasang didalam tanah harus memenuhi


persyaratan

-Kedalaman minimal 75 cm dari permukaan tanah

-Pipa harus diberi tumpuan pada jarak setiap 3 m

-Dasar lubang galian harus cukup stabil dan rata

-Pipa harus dicat ( flincoote ) minimum 3 ( tiga ) lapis


Pemasangan pipa di daerah korosi perlu dilindungi dengan cara yang tepat.

2.7 Hydrant Gedung dan Hydrant

Halaman Hydrant Gedung

a) Diameter slang untuk hydrant gedung maximum 1.5/40 mm.

b) Diameter pipa tegak harus memenuhi ketentuan :-

Untuk bangunan rendah diameter pipa tegak 2/50 mm

Untuk bangunan tinggi kelas A, diameter pipa tegak 2,5/65 mm

Untuk bangunan tinggi kelas B, diameter pipa tegak 4/100 mm.

c) Tekanan maksimum pada titik terberat adalah 7 kg/cm2 dan pada titik
terlemah sebesar 4,5 kg/cm2.

d) Dilengkapi dengan katup pengeluaran (landing valve) berukuran 2,5.

Hydrant Halaman

a) Hydrant halaman/hydrant pilar yang mempunyai 1 (satu atau 2 (dua)

kopling pengeluaran dengan diameter 2,5.

b) Tekanan maksimum pada titik terberat adalah 7 kn/cm2 dan


tekananmaksimal pada titik terlemah/terjauh ukuran 4,5 kg/cm2.

c) Diameter slang hydrant halaman 2,5/65 mm.

d) Hydrant pilar harus dipasang pada jarak tidak kurang dari 6 (enam) meter
dari tepi bangunan.

e) Pada sistem hidrant halaman harus ada sambungan yang kembar


siam(siamese connection).
2.8 Teknik Penggunaan Media Pemadam Kebakaran Media Pemadam Air
1. Pancaran Jet
Pancaran jet utuh (solid stream) adalah pancaran yang berasal dari nozzle-
nozzle yang dari masukan sampai moncongnya tidak ada penghalang kecuali
penyempitan diameter (play-pipe nozzle).
Pancaran jet lurus (straight stream) adalah pancaran yang berasal dari
nozzle yang antara lubang masukan dengan keluarannya terdapat penghalang,
umumnya pancaran ini berasal dari nozzle yang bisa diatur dari spray sampai
dengan jet.

Gambar 2.12 Semprotan Jet


Sumber : Modul Praktikum SPPK, 2013

Ciri dari semprotan jet :


Jumlah air besar.
Jangkauan semprotan jauh.
Untuk kebakaran kelas A, seperti pada pemadaman kebakaran, rumah,
hutan atau padang rumput dan lain-lain.
Untuk kebakaran kelas B, secara idak langsung untuk pendingin tangki.
Pancaran utuh mempunyai jumlah air yang lebih banyak dibanding dengan
pancaran lurus.
2. Pancaran Tirai (Spray)
Jumlah air besar.
Jangkauan semprotan dekat/pendek.
Untuk kebakaran kelas A, (seperti untuk sprinkler).
Kelas B (untuk pendinginan wadahnya dan dilusi).
Juga dipakai sebagai perisai air untuk radiasi panas dari api dalam usaha
menutup kerangan, menutup bocoran maupun tugas-tugas penyelamatan.

3. Pancaran Kabut (Fog)


Jumlah air relatif sedikit.
Jangkauan semprotan dekat/pendek.
Untuk kebakaran kelas A, B dan C (dengan teknik khusus), juga bisa
dipakai sebagai perisai air pecahan/pengurang radiasi panas dari api walaupun
tidak sebaik pancaran tirai.

Gambar 2.13 Pancaran Kabut (fog)


Sumber : Modul Praktikum SPPK, 2013

2.9 Menguji hydrant

Standar AWWA mengharuskan hidran perunggu dinilai pada 150 psi


(1.034 kPa), dan hidran ulet besi menjadi peringkat 250 psi (1.723 kPa). Setiap
hydrant diisi dengan air dan ditekan untuk dua kali tekanan pengenal untuk
memeriksa kebocoran.
2.10 Yang Harus diperhatikan dalam Hydrant System :

Perhitungan Hydraulic Calculation yaitu perhitungan untuk menentukan


kapasitas pompa yang dibutuhkan dalam mensuplai air sesuai dengan design yang
ditentukan.

Supply air harus mencukupi (NFPA = 30 Menit, Indonesia = 90 Menit)

Pompa Hydrant harus mempunyai Jokey pump untuk menjaga tekanan


selalu ada dalam pipa, dan pompa utama memakai rangkaian automatis bila
tekanan turun, pompa utama akan jalan secara automatis

Back up engine pump, bila terjadi kebakaran dan listrik padam

2.11 KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN MENGGUNAKAN HYDRANT

Hydrant digunakan pada saat :

Alat Pemadam Api Ringan sudah tidak bisa memadamkan api.

Aliran listrik sudah dimatikan/dipadamkan.

Jumlah personil sesuai dengan peralatan yang digunakan.

Keuntungan menggunakan Hydrant :

Mudah didapat dalam jumlah banyak.

Mudah diangkut dan dialirkan.

Daya serap terhadap panas besar.

Daya mengembang menjadi uap besar.

Kelemahan menggunakan Hydrant :

Tidak bisa untuk kebakaran listrik.


Untuk kebakaran minyak harus dengan cara spray dan teknik yang benar.

2.12 PERAWATAN HYDRANT

1) Kunci Hydrant (wrench), Nozzle, dan Selang (Hose) harus dirawat dan
disimpan dalam Hydrant Box.

2) Selang pemadam harus diperiksa secara visual minimal sekali dalam


sebulan.

3) Nozzle harus diperiksa untuk mengetahui apakah mudah dioperasikan,


retak atau korosi.

4) Selesai digunakan selang harus dikosongkan dan dikeringkan sebelum


disimpan dalam box.

2.13. PETUNJUK PEMADAMAN MENGGUNAKAN HYDRANT

1. Menggelar Selang (Fire Hose)

Panggul selang dan lemparkan gulungan selang ke arah api.

Bila kurang panjang, tambah lagi dan sambungkan satu dengan yang
lainnya.

Sambungkan pangkal selang (sisi betina) dengan hydrant pillar.

2. Pegang Nozzle

Ambil posisi dengan benar (kuda-kuda), setelah siap beri kode agar air
segera dialirkan.

Tangan kiri pegang ujung Nozzle, tangan kanan pada pangkal Nozzle
sambil dijepit dengan ketiak.

3. Mengalirkan air

Beri kode operator dengan tangan lurus ke atas.

Untuk menghentikan aliran air, tangan ditekuk dengan membuat gerakan


melipat sebatas siku berulang-ulang.
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM
1.1 Alat dan Bahan
1. Instalasi Hydrant System Kebakaran
2. Bak Bahan Bakar (Sesuatu yang dibakar)
3. Bahan Bakar
4. Pemantik
1.2 Prosedur Kerja
3.2.1 Langkah Persiapan

Gambar 3.1 Diagram alir langkah persiapan


3.2.2 Langkah Pemadaman

Gambar 3.2 Diagram alir langkah pemadaman

3.2.3 Aba Aba Dalam Pelaksanaan PMK


Tabel 3.1. Aba - Aba Dalam Pelaksanaan Pemadaman Kebakaran
No. Aba-aba Aba-aba Tindakan
Peringatan Pelaksana
an
1 Satu baris Kumpul Semua berkumpul membentuk satu
bersap baris bersap.
2 Siap Gerak Bersikap tegak (sikap sempurna).
3 Setengah Gerak Dengan tangan kanan disikukan
lengan, kekanan dan tengok ke kanan guna
lencang kanan meluruskan barisan.
4 Tegak Gerak Semua kembali bersikap siap.
5 Hitung Mulai Berhitung dari nomor satu sampai
habis.
6 Kepada Gerak Semua anggota hormat.
instruktur
hormat

3.2.4 Susunan Pembagian Tugas Tiap Anggota Per Regu

Tabel 3.2. Pembagian regu dan tugas

Tugas
No
Jabatan Persiapan
. Pemadaman Kebakaran Pembenahan
Pemadaman

1. Kepala Membawa Memimpin regunya. Membawa/men


regu nozzle dan Mengecek persiapan gumpulkan
connection pemadaman. nozzle dan
cabang. Memerintahkan connection
membuka dan cabang.
menutup hydrant. Membantu
membenahi
peralatan.

2. Operator Membawa Memasang selang ke Melepaskan


pompa / kunci hydrant atau pompa. selang dari
hydrant hydrant dan Membuka atau hydrant atau
membuka menutup kerangan pompa.
tutup hydrant atau fire Mengumpulkan
hydrant. pump. kunci hydrant
dan menutup
kembali tutup
hydrant.
3. Nozzlem Membawa Menggelar selang 1,5 Melepaskan
an selang 1,5 in. m. nozzle.
Memasang nozzle. Mengosongan
Melaksanakan selang.
pemadaman. Menggulung
selang.

4. Helper Membawa Menggelar selang 2,5 Melepaskan


selang 2,5 in. m. sambungan 2,5
Menyambung selang in.
dengan selang Mengosongan
berkutnya. selang 2,5 in.
Menggulung
selang 2,5 in
5. Nozzlem Membawa Menggelar selang 1,5 Melepaskan
an selang 1,5 in in. nozzle.
Memasang nozzle. Mengosongan
Melaksanakan selang.
pemadaman. Menggulung
selang.

6. Helper Membawa Menggelar selang 2,5 Melepas


selang 2,5 in. in. connection
Menyambung selang cabang.
2,5 in dan 1,5 in Mengosongan
dengan connection selang 2,5 in.
cabang. Menggulung
Meneruskan perintah selang 2,5 in.
kepala regu.
TUGAS PENDAHULUAN

1. Apa yang dimaksud dengan siamese connection , nozzle , hose reel ,


hydrant pillar , hydrant box ?

2. Sebutkan macam-macam pompa yang digunakan dalam Instalasi Hydrant


System dan apa fungsi masing-masing ?

Jawaban

1) * Siamese Connection adalah merupakan masukan (inlet) bercabang dua


yang berfungsi untuk memasukkan air kedalam jaringan sistem hydrant
apabila pompa kebakaran mengalami kerusakan atau air didalam resevoir telah
habis.

*Nozzle ialah suatu alat penyemprot yang terletak pada bagian ujung darislang
yang digunakan untuk pengaturan pengeluaran air.

*Hose Reel ialah slang yang digunakan untuk mengalirkan air yang pada bagian
ujungnya selalu terpasang nozzle secara tetap dihubungkan secara permanen
dengan sumber air bertekanan.

*Hydrant pilar ialah suatu sistem pencegah kebakaran yang membutuhkan


pasokan air dan dipasang di luar bangunan. Hydrant ini biasanya digunakan oleh
mobil Pemadam Kebakaran untuk mengambil air jika kekurangan dalam tangki
mobil. Jadi hydrant pilar ini diletakkan di sepanjang jalan akses mobil Pemadam
Kebakaran.

*Hydrant box adalah suatu sistem pencegah kebakaran yang menggunakan


pasokan air dan dipasang di dalam bangunan atau gedung. Hydrant box biasanya
dipasang menempel di dinding dan menggunakan pipa tegak (stand pipe) untuk
menghubungkan dengan pipa dalam tanah khusus kebakaran.

2) *Pompa Jockey berfungsi untuk mempertahankan tekanan statis


didalam jaringan sistem hydrant. Pada saat terjadi pengeluaran kecil sejumlah air
didalam jaringan pompa jockey ini akan bekerja guna mengembalikan tekanan
keposisi semula. Karenanya sekaligus pompa jockey juga akan berfungsi untuk
memantau kebocoran - kebocoran pada jaringan sistem hydrant. Operasi kerja
pompa jockey didisain untuk hidup ( start ) secara otomatis pada saat salah satu
katup pengeluaran dibuka atau terjadi kebocoran pada jaringan dan akan berhenti
bekerja ( stop ) secara otomatis pada saat katup bukaan ditutup

*Pompa utama ini berfungsi sebagai penggerak utama bekerjanya sistem hydrant.
Pompa Utama akan bekerja setelah kapasitas maksimal pompa jockey terlampaui.
Operasi kerja pompa utama didisain untuk hidup ( start ) secara otomatis dan
berhenti bekerja ( stop ) secara manual, melalui tombol reset pada panel pompa
kebakaran.

*Pompa cadangan berfungsi sebagai penggerak cadangan dari sistem hydrant,


yang titik start bekerjanya setelah pompa utama. Pompa ini meskipun berfungsi
sebagai cadangan, namun tetap dalam kondisi siaga operasi. Dalam kondisi
seperti ini pompa cadangan akan bekerja secara otomatis pada saat kapasitas
maksimal pompa utama terlampaui, mengalami kerusakan atau pada saat sumber
daya utama ( PLN ) padam. Sama halnya dengan pompa utama, operasi kerja
pompa cadangan didisain untuk hidup ( start ) secara otomatis dan berhenti
bekerja ( stop ) secara manual
BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan pada hari Selasa,


16 Mei 2017 dapat diketahui bahwa dalam penggunaan hidran halaman
sebagai alat pemadam harus memperhatikan kerjasama antar tim yang
terdiri dari beberapa tugas, yaitu : komandan / ketua regu, operator,
nozzle man, helper.

Sebelum melakukan pemadaman kebakaran terdapat beberapa hal


yang perlu diperhatikan, yaitu :

Memeriksa kelengkapan perlengkapan pemadaman


Berbaris dengan tujuan memastikan bhawa anggota lengkap
Melapor kepada instruktur
Helper melempar selang atau menggelar selang harus dengan cara
cepat (tidak boleh diseret) dan memastikan selang tidak dalam
keadaan terlipat ketika digunakan
Operator memasang kopling female pada pilar hidran
Nozzle man memasang nozzle pada kopling male
Ketua regu memberikan perintah dan semua anggota regu harus
menguasai kode/isyarat yang diberikan oleh ketua dalam
memadamkan api
Operator membuka katip hidran, sebelumnya harus memastikan
bahwa nozzle man pada keadaan siap
Nozzle man harus memperhatikan arah angina sebelum
mengarahkan nozzle ke api agar air tepat sasaran.
Nozzle spray diaktifkan jika dalam keadaan maju dan mundur atau
berpindah tempat untuk melindungi diri dari kobaran api
Nozzle jet diaktifkan jika dalam mode pemadaman (tidak berpindah
tempat)

Apabila api telah padam, maka langkah-langkah yang harus


dilakukan untuk mematikan hidran adalah sebagi berikut :

Ketua regu memberikan perintah untuk mematikan aliran air dari


pilardan jika proses pemadaman telah selesai
Operator menutup katup pada pilar hidran
Nozzle man melepas nozzle dari selang
Operator melepas kopling female dari pilar hidran
Helper mengeluarkan air yang masih terperangkap dalam selang,
lalu menggulungnya. Dalam praktikum kali ini, setelah dilakukan
pemadaman maka selang digulung dalam keadaan double roll atau
gulung ganda
Berbaris kembali untuk melapor kepada instruktur bahwa semua
anggota regu selamat dan proses pemadaman kebakran telah
selesai.

4.2 Analisa Data

Adapun data yang bisa dibahas dari praktikum hydrant yang telah dilakukan oleh
kelompok kami adalah:

Pada praktikum kali ini menggunakan sistem hidran basah (hidran halaman),
yaitu sistem hidran yang terdapat air pada pipa yang menghubungkan dengan
reservoir dengan hidran. Setiap anggota tim harus menjaga komunikasi ketika
menggunakan hidran untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, oleh
karena itu semua anggota regu harus menguasai kode/ isyarat yang diberikan
oleh ketua regu dalam proses pemadaman. Anggota regu harus memastikan
bahwa peralatan pemadaman yang akan digunakan lengkap dan dalam
keadaan baik.
Memasangkan coupling male hose dengan coupling female pada pilar hydrant
hingga berbunyi klik. Hal ini untuk memastikan apabila sambungan sudah
benar dan tidak terjadi loncatan hose apabila saluran dibuka.
Ketika akan menggelar selang, sebaiknya menghindari gerakan menyeret
selang karena dapat menyebabkan sobek pada permukaan selang dan dapat
menimbulkan kebocoran pada selang sehingga proses pemadaman tidak
berjalan dengan maksimal.
Pengaturan hose hingga berbentuk huruf S, hal ini dilakukan agar apabila
pemadaman diperlukan untuk bergerak lebih maju lagi, maka hose masih bisa
ditarik maju mendekati titik yang ingin dipadamkan.
Terdapat helper yang berada tepat dibelakang nozzleman. Hal ini dilakukan
agar mengurangi beban dari hose saat menyala pada saat proses pemadaman.
Terdapat dua tipe pemadaman yang diterapkan pada praktikum kali ini, yaitu
: pancaran jet dan pancaran spray. Untuk menghasilkan tipe pancaran tersebut
kita menggunakan nozzle jet type dan nozzle spray type (kombinasi. Tipe jet
digunakan untuk pemadaman langsung menuju sumber api yang tidak dapat
dijangkau oleh selang atau letaknya lebih jauh dari proses pemadaman.
Sedangkan pancaran spray digunakan untuk melindungi diri (pemadam) dari
radiasi panas api atau sebagai perisai ketika akan berpindah tempat baik maju
mundur maupun menuju sumber api.
Proses pergantian posisi dilakukan dengan cepat. Ketua regu-operator-helper
3-helper 2-helper 1-nozzleman-ketua regu-dst. Dengan catatan perpindahan
nozzleman menuju ketua regu harus melalui belakang arah semprotan.

4.3 Potensi Bahaya

Potensi bahaya yang mungkin terjadi dalam proses praktikum kali ini
adalah :

Dikarenakan pada praktikum kali ini hanya mempelajari bagaimana teknis


saat dilakukan pemadaman dengan media hidran, tidak menggunakan
sumber api sebagai sasaran, sehingga potensi bahaya menjadi kecil.
Namun apabila dilakukan pemadaman dalam kehidupan nyata, maka
potensi bahaya ini dapat terjadi.
Ketidakergonomisan yang dialami oleh helper1, helper 2, nozzle man
dikarenakan beban yang diangkat sangat berat dapat menyebabkan kram
otot pada bagian lengan atas dan sekitar bahu.
Terjatuh maupun terpeleset karena medan operasi tidak rata dan licin
Terluka akibat benda-benda yang ada di medan operasi seperti paku,
ataupun benda tajam lainnya.

4.4 Pembahasan

Setelah dilakukannya praktikum pemdaman api dengan media hidran oleh


kelompok 1, maka terdapat beberapa hal yang perlu dibahas, yaitu :

Saat praktikum berlangsung, dilakukan pergantian tugas pada setiap


anggota regu, dengan tujuan semua anggota regu mengerti akan peran
setiap petugas dalam tim hidran.
Pada saat pergantian tugas oleh tiap anggota regu berlangsung, maka
posisi yang tidak boleh kosong adalah posisi posisi nozzle man,ketua regu,
dan operator. Pada kondisi ini rawan terjadi kesalahan yang dikarenakan
tergesa gesa dalam melaksanakan praktikum.
Urutan pergantian posisi yang benar adalah helper 1 menggantikan nozzle
man maka dengan cepat helper 2 membantu helper 1 untuk menahan
beban nozzle, helper 3 menggantikan posisi helper 2 , lalu nozzle man
menggantikan ketua regu, ketua regu menggantikan operator, operator
menggantikan helper 3 untuk mengkondisikan selang. Semua pergantian
posisi dilakukan dengan cepat dan tanggap.
Terdapat dua mode nozzle, mode jet dan spray. Dimana spray untuk perisai
diri ketika berpindah menuju sumber api dan jet untuk medamkan
langsung ke sumber api. Posisi spray yang benar adalah ketika air
sepenuhnya melindungi pemadam sehingga benar benar menjadi perisai,
posisi jet yang tepat adalah ketika tekanan tinggi dan nozzle mengarah ke
atas dan tepat mengenai sumber api, karena jika nozzle mengarah kebawah
maka akan berbahaya bagi nozzle man.
Dalam proses pemadaman api ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
yaitu arah angin dan medan yang ditempuh. Pemilihan jalur pemadaman
dilakukan untuk meminimalisasi peluang terjadinya kecelakaan kerja bagi
para pemadam.
APD yang sesuai dengan safety induction untuk praktikum ini adalah
seperangkat baju praktik, helm safety, sepatu safety. Namun bila
pemadaman kebakaran dilakukan dalam kehidupan nyata, maka APD yang
digunakan adalah seperangkat baju tahan api, helm safety, masker atau
respirator, sepatu boot safety dan sarung tangan untuk melindungi diri dari
bahaya api.

4.5 Link Video

Video hasil praktikum pemadaman api dengan media hidran kelompok 1


telah kami unggah pada Youtube dengan alamat :

https://youtu.be/NdLxpYmFHgE
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum pemadaman api dengan media hidran adalah :

1. Prosedur pemadamaan kebakaran yang telah kami laksanakan adalah


- Melakukan persiapan (pemeriksaan peralatan dan melapor kepada
instruktur)
- Melakukan pemadaman kebakaran sesuai dengan tugas masing-
masing anggota regu
- Dilakukan pergantian posisi pada setiap anggota regu dengan
tujuan agar semua anggota regu paham dengan setiap posisi dalam
tim hidran
- Pergantian posisi harus dilakukan dengan cepat dan tanggap
- Setelah api padam maka dilakukan pemeriksaan peralatan
pemadaman kembali dan merapihkannya
- Berbaris dan melapor kepada instruktur bahwa pemadaman telah
selesai dilakukan.
- Barisan dibubarkan
- Selang yang telah digunakan, digulung kembali dengan metode
gulung ganda

2. Semua prosedur harus dipatuhi dan APD harus digunakan untuk


menghindari kecelakaan kerja dalam pemadaman.

5.2 Saran

Setelah dilakukannya praktikum dan pengamatan pada peralatan, maka


saran yang dapat kami sampaikan adalah

1. Selang hidran yang digunakan untuk praktikum sebaiknya diganti karena


sudah bocor di banyak sisi.
LAMPIRAN

1. Aba-aba dalam Pelaksanaan Pemadaman Kebakaran

Tabel 5.1. Aba - Aba Dalam Pelaksanaan Pemadaman


Kebakaran
No. Aba-aba Aba-aba Tindakan

Peringatan Pelaksanaan

1 Satu baris bersap Kumpul Semua berkumpul membentuk satu


baris bersap.

2 Siap Gerak Bersikap tegak (sikap sempurna).

3 Setengah lengan, Gerak Dengan tangan kanan disikukan


lencang kanan kekanan dan tengok ke kanan guna
meluruskan barisan.

4 Tegak Gerak Semua kembali bersikap siap.

5 Hitung Mulai Berhitung dari nomor satu sampai


habis.

6 Kepada instruktur Gerak Semua anggota hormat.


hormat

Sumber : Modul Praktikum SPPK, 2014

2. Pembagian Regu dan Tugas Tabel 5.2. Pembagian regu dan


tugas
No Jabatan Tugas

. Persiapan Pemadaman Pembenahan

Pemadaman Kebakaran
1 Kepala regu Membawa nozzle -Memimpin regunya. -Membawa /
dan connection mengumpulkan nozzle
-Memeriksa persiapan
cabang dan connection cabang.
pemadaman
-Membantu membenahi
-Memerintahkan
peralatan
membuka dan
menutup hidran

2 Operator Membawa -Memasang selang ke -Melepaskan selang dari


pompa kunci hydrant hydrant atau pompa. hydrant atau pompa.
hydrant dan membuka -Membuka atau -Mengumpulkan kunci hydrant
tutup hydrant. menutup kerangan dan menutup kembali tutup
hydrant atau fire hydrant.
pump.

3 Nozzleman Membawa -Menggelar selang 1,5 -Melepaskan nozzle.


selang 1,5 in. m. -Mengosongan selang.
-Memasang nozzle.
-Menggulung selang.
-Melaksanakan
pemadaman.

4 Helper Membawa -Menggelar selang 2,5 -Melepaskan sambungan


selang 2,5 in. m. 2,5 in.
-Menyambung selang
-Mengosongan selang 2,5 in.
dengan selang
-Menggulung selang 2,5 in.
berkutnya.

5 Nozzleman Membawa -Menggelar selang 1,5 -Melepaskan nozzle.


selang 1,5 in. in. -Mengosongan selang.
-Memasang nozzle. -Menggulung selang.
-Melaksanakan
pemadaman.

6 Helper Membawa -Menggelar -Melepas connection


selang 2,5 in. selang 2,5 in. cabang.
-Mengosongan selang 2,5
-Menyambung
in.
selang 2,5 in dan 1,5 in
-Menggulung selang 2,5
dengan connection
in.
cabang.
-Meneruskan perintah
kepala regu.

Sumber : Modul Praktikum SPPK, 2013

3. Dokumentasi

Gambar 1 Lapor kepada instruktur bahwa anggota regu lengkap dan


siap untuk melakukan pemadaman
Gambar 2 Menggelar selang dengan cepat (metode gulung ganda)

Gambar 3 Helper menata selang berbentuk huruf S untuk menghindari selang


terlipat

Gambar 4 Ketua regu mengarahkan maju dengan mode spray


Gambar 5 Perintah untuk menaikkan tekanan

Gambar 6 Perintah untuk menurunkan tekanan


DAFTAR PUSTAKA

BSN.2000.Tata Cara Perencanaa dan Pemasangan sistem Pipa Tegak dan


Selang untuk Pencegahan Bahay Kebakaran pada Bangunan Rumah
dan Gedung.Jakarta.Badan Stansar Nasional

Handoko, Lukman.2013.Modul Praktikum Sistem Pencegahan dan


Penanggulangan Kebakaran.Surabaya : Politeknik Perkapalan Negeri
Surabaya.

SNI 03-1735-2000 tentang Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses
Lingkungan

https://www.bromindo.com/perawatan-fire-hydrant/. Perawatan Fire Hydrant.


Diakses pada 4 Mei 2017

Isnaini, S.2009. APAR ( ALAT PEMADAM API RINGAN ) DAN


INSTALASI HYDRANT SEBAGAI SALAH SATU UPAYA
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI
AREA PABRIK I PT. PETROKIMIA
GRESIK.Surakarta.Universitas Sebelas Maret