Anda di halaman 1dari 9

KEPUTUSAN KEPALA RUMAH SAKIT UMUM BUNDA JAKARTA

NOMOR 132/SK/KEP/RSUMTG/XII/2016

TENTANG
PEDOMAN PELAYANAN UNIT RAWAT INAP
DI RUMAH SAKIT UMUM BUNDA JAKARTA

KEPALA RUMAH SAKIT UMUM BUNDA JAKARTA

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya peningkatan mutu pelayanan di Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Umum Bunda Jakarta, maka diperlukan penyelenggaraan
pelayanan Unit Rawat Inap yang bermutu tinggi yang menyeluruh dan
terintegrasi
b. Bahwa perlu adanya efektifitas dan efisiensi dalam hal pelayanan di Unit
Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Bunda Jakarta
c . Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas perlu adanya
penetapan kebjakan dalam bentuk Surat Keputusan Kepala Rumah
Sakit Umum Bunda Jakarta

Mengingat : 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang


Praktik Kedokteran;
2. Undang-Undang Republik Indonesaia Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan;
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Kesehatan;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/
Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis;
6. Peraturan Mentri Kesehatan Nomer 290 tahun 2010 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran;
7. Peraturan Mentri Kesehatan Nomer 1438 tahun 2010 tentang Standar
Pelayanan Kedokteran;
8. Peraturan Mentri Kesehatan Nomer 169 tahun 2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
9. Peraturan Pemerintah nomer 7 tahun 2011 tentang Pelayanan Darah;
10. Keputusan Direktur Utama PT. Bundamedik Nomor 002A
I/KEP/RSBJ/I/10 tentang Peraturan Internal ( Hospital ByLaws) Rumah
Sakit Umum Bunda Jakarta;
11. Keputusan Bersama Direktur Utama dan Komisaris Utama PT.
Bundamedik Nomor 013-I/SK/DIRUT/XII/11 tentang Pengangkatan
Kepala Unit Usaha Rumah Sakit Bunda Jakarta Unit Umum.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama : KEPUTUSAN KEPALA RUMAH SAKIT UMUM BUNDA JAKARTA TENTANG
PEDOMAN PELAYANAN UNIT RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM BUNDA
JAKARTA
Kedua : Pedoman Pelayanan Pasien Unit Rawat Inap Rumah Sakit Bunda Jakarta
tercantum dalam Lampiran Peraturan Ini.

i
Ketiga : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pelayanan Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Umum Bunda Jakarta dilaksanakan oleh Manajemen
Pelayanan Rumah Sakit Umum Bunda Jakarta

Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila dikemudian
hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan
perbaikan sebagaimana mestinya

Ditetapkan di Jakarta,
Pada tanggal 31 Desember 2016

Dr. Didid Winnetouw


Kepala RSU Bunda Jakarta

ii
LAMPIRAN
KEPUTUSAN KEPALA RUMAH SAKIT UMUM BUNDA JAKARTA
NOMOR : 132/SK/KEP/RSUMTG/XII/2016
TANGGAL : 31 Desember 2016

PEDOMAN PELAYANAN UNIT RAWAT INAP

1. Rumah Sakit Bunda Jakarta dalam menyelenggarkan pelayanan kesehatan menerapkan


prinsip nondiskriminatif yaitu pelayanan yang seragam tanpa membedakan status sosio-
ekonomi,budaya,agama dan waktu pelayanan.

2. Asuhan pasien dan pengobatan diberikan oleh praktisi yang kompeten dan memadai,tidak
tegantung waktu tertentu.

3. Tingkat asuhan yang diberikan pasien, sama di seluruh rumah sakit .

4. Pasien dengan kebutuhan asuhan keperawatan yang sama menerima asuhan keperawatan
yang setingkat di seluruh rumah sakit.
a. Asuhan pasien meliputi Pelayanan Kedokteran dan Keperawatan yang diberikan
mengacu pada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran ( PNPK )SPM dan SPO sesuai
dengan perundang undangan yang berlaku.
b. Pelayanan Kasus Emergency diidentifikasi, dan dilakukan oleh tenaga medis yang
kompeten di Instalasi Gawat Darurat.
c. Asuhan pasien diberikan dengan mengintegrasikan dan mengkordinasikan asuhan.

5. Proses asuhan pasien bersifat dinamis dan melibatkan banyak praktisi pelayanan kesehatan
dan dapat melibatkan berbagai unit kerja dan pelayanan

6. Asuhan kepada pasien direncanakan dan ditulis di rekam medis

7. Asuhan untuk setiap pasien direncanakan oleh dokter penanggung jawab pelayanan
(DPJP),perawat dan pemberi pelayanankesehatan lain dalam waktu 24 jam sesudah pasien
masuk rawat inap

8. Rencana asuhan pasien harus bersifat individu dan berdasarkan dan asesmen awal pasien

9. Rencana asuhan dicatat dalam rekam medis dalam bentuk kemajuan terukur pencapaian
sasaran

10. Kemajuan yang dianstipasi dicatat atau direvisi sesuai kebutuhan, berdasarkan hasil asesmen
ulang atas pasien oleh praktisi pelayanan kesehatan

11. Rencana asuhan untuk tiap pasien di review dan di verifikasi oleh DPJP dengan mencatat
kemajuannya

iii
12. Asuhan yang diberikan kepada setiap pasien dicatat dalam rekam medis pasien oleh pemberi
pelayanan

13. Mereka yang diijinkan memberikan perintah / order menuliskan perintah ini dalam rekam
medis pasien dilokasi yang seragam :
a. Perintah harus tertulis bila diperlukan dan mengikuti pedoman rekam medis rumah sakit
b. Permintaan pemeriksaaan diagnostic imaging dan laboraturium klinis harus disertai
indikasi klinis / rasional apabila memerlukan ekspertise
c. Hanya mereka yang diijinkan boleh menuliskan perintah, sesuai dengan pedoman rekam
medis rumah sakit
d. Perintah berada dilokasi tertentu yang seragam direkam medis pasien
e. Pasien dan keluarga diberi tau tentang hasil asuhan dan pengobatan termasuk kejadian
yang tidak diharapkan

14. Penanganan dan pemberian darah dan produk darah Rumah Sakit Bunda Jakarta :
a. Setiap penggunaan dan pemberian darah dan atau produk darah harus berdasarkan atas
permintaan dokter
b. Pemberian darah dan atau produk darah harus selalu memperhatikan keselamatan
pasien
c. Darah dan atau produk darah yang diberikan kepada pasien harus dijamin bebas dari
bibit penyakit yang dapat menimbulkan penyakit yang dapat ditularkan melalui
transfuse darah dan atau produk darah
d. Sebelum melakukan pemberian darah dan atau produk darah ( transfusi ) pasien darah
sudah dikroscek di PMI
e. Pada pelaksana pemberian darah dan atau produk darah harus dilakukan secara aman
dan meminimalkan resiko transfuse
f. Pemberian darah dan atau produk darah harus tercatat di dalam rekam medis pasien

15. Pelayanan pasien resiko tinggi dan penyediaan pelayanan resiko tinggi Pemimpin
bertanggung jawab untuk :
a. Kasus Emergency :
Identifikasi pasien kasus emergency atau berisiko tinggi terjadinya kasus emergency
dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten
Tenaga medis yang bertugas ditempat dengan resiko terjadinya kasus emergency
tinggi agar dilakukan pelatihan
b. Pemberian pelayanan resusitasi
Resusitasi dapat dilakukan seluruh unit karyawan Rumah Sakit
Karyawan yang bertugas di semua unit Rumah Sakit agar dilatih untuk dapat
melakukan resusitasi dasar
Resusitasi lanjut dilakukan oleh tim yang terlatih dengan nama Blue Team dengan
membawa alat-alat dan obat resusitasi yang diperlukan
c. Asuhan pasien yang menggunakan peralatan bantuan hidup dasar atau yang koma
Identifikasi kebutuhan pasien dengan peralatan bantuan hidup dasar atau yang koma
dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten

iv
Bila rumah sakit tidak mampu melakukan asuhan pasien agar diberitahukan kepada
keluarga pasien dan dirujuk ke tempat yang mampu melakukan asuhan pasien
tersebut
d. Asuhan pasien dengan penyakit menular dan mereka yang daya tahannya diturunkan
Identifikasi kebutuhan asuhan pasien dan resiko penularan akibat dari penyakit atau
akibat obat obatan yang diberikan
Bila fasilitas tidak memungkinkan untuk melakukan asuhan pasien tersebut agar
diberitahukan kepada pasien dan keluarga untuk dirujuk ke tempat dengan fasilitas
yang sesuai kebutuhan
e. Mengarahkan penggunaan alat penghalang ( restrain ) dan asuhan pasien yang diberi
penghalang
Identifikasi penggunaan alat penghalang dilakukan pada pasien yang tidak mengerti
asuhan yang diberikan, seperti pasien anak dan geriatric, pasien gelisah dan
kesadaran menurun
Asuhan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien
f. Asuhan pasien usia lanjut,mereka yang cacat, anak-anak dan populasi yang beresiko
disiksa
Identifikasi pasien dengan resiko disiksa,seperti pasien pasien lanjut usia, cacat
tubuh, cacat mental dan anak anak
Pelayanan pasien usia lanjut melibatkan multidisplin ilmu dan tersedia dalam suatu
tim asuhan

16. Pelayanan Instalasi :


a. Pelayananunit Gawat Darurat, Rawat Inap, Rawat Intensif,Laboraturium dan Radiologi
dilaksanakan dalam 24 jam. Pelayanan Rawat Jalan sesuai dengan jadwal praktik dokter.
Pelayanan Kamar Operasi dilaksanakan dalam jam kerja dilanjutkan dengan system on
call.
b. Pelayanan harus selalu berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien
c. Seluruh staf Rumah Sakit Umum Bunda Jakarta harus bekerja sesuai dengan standar
profesi, pedoman / panduan dan standar prosedur operasional yang berlaku, serta
sesuai dengan etika profesi, etika Rumah Sakit Bunda Jakarta dan etiket Rumah Sakit
Bunda Jakarta yang berlaku
d. Seluruh staf Rumah Sakit Bunda Jakarta dalam melaksanakan pekerjaaan nya wajib
selalu sesuai dengan ketentuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3 ),
termasuk dalam penggunaan alat pelindung diri ( APD )

17. Skrining dan Triase :


a. Skrining dilakukan pada kontak pertama untuk menetapkan apakah pasien dapat
dilayani oleh Rumah Sakit Bunda Jakarta
b. Skrining dilaksanakan melalui kriteria triase, visual atau pengamatan, pemeriksaaan
fisik, psikologik, laboraturium klinik atau diagnostic imajing sebelumnya
c. Kebutuhan darurat, mendesak, atau segera diidentifikasi dengan proses triase berbasis
bukti untuk memprioritaskan pasien dengan kebutuhan emergensi

v
18. Transfer / perpindahan di dalam rumah sakit :
a. Transfer dilaksanakan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan
b. Pasien yang ditransfer harus dilakukan stabilitas terlebih dahulu sebelum dipindahkan
c. Rumah Sakit Bunda Jakarta melaksanakan proses untuk memberikan pelayanan asuhan
pasien yang berkelanjutan didalam rumah sakit dan kordinasi antar para tenaga medis
d. Bila ada indikasi , rumah sakit dapat membuat rencana kontinuitas pelayanan yang
diperlukan pasien sedini mungkin

19. Transfer keluar rumah sakit / Rujukan :


a. Stabilitas terlebih dahulu sebelum dirujuk
b. Rujukan ke rumah sakit ditunjukan kepada individu secara spesifik dan badan dari mana
pasien berasal
c. Merujuk berdasarkan atas kondisi kesehatan dan kebutuhan akan pelayanan
berkelanjutan
d. Rujukan menunjuk siapa yang bertanggung jawab selama proses rujukan serta
perbekalan dan peralatan apa yang dibutuhkan selama transportasi
e. Proses rujukan menjelaskan situasi dimana rujukan tidak mungkin dilaksanakan
f. Kerjasama yang resmi atau tidak resmi dibuat dengan rumah sakit penerima
g. Proses rujukan didokumentasikan didalam rekam medis pasien

20. Penundaan Pelayanan :


a. Memperhatikan kebutuhan klinis pasien pada waktu menunggu atau penundaan untuk
pelayanan diagnostik dan pengobatan
b. Memberikan informasi apabila akan terjadi penundaan pelayanan atau pengobatan
c. Memberi informasi alasan penundaan atau menunggu dan memberikan informasi
tentang alternatif yang tersedia sesuai dengan keperluan klinik mereka

21. Pemulangan Pasien :


a. DPJP yang bertanggung jawab atas pelayanan pasien tersebut, harus menentukan
kesiapan pasien untuk dipulangkan
b. Keluarga pasien dilibatkan dalam perencanaan proses pemulangan yang terbaik atau
sesuai kebutuhan pasien
c. Rencana pemulangan pasien meliputi kebutuhan pelayanan penunjang dan kelanjutan
pelayanan medis
d. Identifikasi organisasi dan individu penyedia pelayanan kesehatan di lingkungan yang
sangat berhubungan dengan pelayanan yang ada di rumah sakit serta populasi pasien
serta populasi pasien
e. Resume pasien pulang dibuat oleh DPJP sebelum pasien pulang
f. Resume berisi pula instruksi untuk tindak lanjut
g. Salinan resume pasien pulang didokumentasi dalam rekam medis
h. Salinan resume pasien pulang diberikan kepada praktisi kesehatan perujuk

22. Transportasi :

vi
a. Transportasi milik rumah sakit, harus sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku
berkenaan dengan pengoperasian, kondisi dan pemeliharan
b. Transportasi disediakan atau diatur sesuai denagn kebutuhan dan kondisi pasien
c. Semua kendaraan yang dipergunakan untuk transportasi, baik kontrak maupun milik
rumah sakit, dilengkapi dengan peralatan yang memadai, perbekalan dan
medikamentosa sesuai dengan kebutuhan pasien yang dibawa

23. Penolakan pelayanan dan pengobatan :


a. Memberitahukan hak pasien dan keluarga untuk menolak atau tidak melanjutkan
pengobatan
b. Memberitahukan tentang konsekuensi, tanggung jawab berkaitan dengan keputusan
tersebut dan tersedianya alternatif pelayanan dan pengobatan
c. Memberitahukan pasien dan keluarganya tentang menghormati keinginan dan pilihan
pasien untuk menolak pelayanan resusitasi atau memebrikan pengobatan bantuan
hidup dasar ( Do Not Resusitation )
d. Rumah sakit elah menetapkan posisinya pada saat pasien menolak pelayanan resusitasi
dan membatalkan atau mundur dari pengobatan bantuan hidup dasar
e. Posisi rumah sakit dengan norma agama dan budaya masyarakat, serta persyaratan
hukum dan peraturan

24. Pelayanan Pasien Tahap terminasi :


a. Mendukung hak pasien untuk mendapatkan pelayanan yang penuh hormat dan ksih
saying pada akhir kehidupan nya
b. Perhatian terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua aspek
pelayanan pada tahap akhir kehidupan
c. Semua staf harus menyadari kebutuhan untukpasien pada akhir kehidupannya yaitu
meliputi pengobatan terhadap gejala primer dan sekunder, manajemen nyeri, respon
terhadap aspek psikologis, sosial ,ekonomi, agama dan budaya pasien dan keluarga nya
serta ketrlibatannya dalam keputusan pelayanan

25. Asesment Pasien :


a. Semua pasien yang dilayani rumah sakit harus diidentifikasi kebutuhan pelayanannya
melalui suatu proses asesmen yang baku
b. Asesmen awal setipa pasien meliputi evaluasi faktor fisik, psikologis, sosial, dan
ekonomi, termasuk pemerikasaan fisik dari riwayat kesehatan
c. Hanya mereka yang kompeten sesuai perizinan, Undang-undang dan peratutan yang
berlaku dan sertifikasi dapat melakukan asesmen
d. Asesmen awal medis dlaksanakan dalam 24 jam pertama sejak rawat inap atau lebih
dini/ cepat sesuai kondisi pasien atau kebijakan rumah sakit
e. Asesment awal keperawatan dilaksanakan dalam 24 jam pertama sejak rawat inap atau
lebih cepat sesuai kondisi pasien atau kebijakan rumah sakit
f. Asesmen awal medis yang dilakukan sebelum pasien di rawat inap, atau sebelum
tindakan pada rawat jalan di rumah sakit, tidak boleh lebih dari 30 hari, atau riwayat
medis telah diperbaharui dan pemeriksaan fisik telah diulangi
g. Untuk asesmen kurang dari 30 hari, setiap perubahan kondisi pasien yang signifikan,
sejak asesmen dicatat dalam rekam medis pasien pada saat masuk rawat inap

vii
h. Asesmen awal termasuk menentukan kebutuhan rencanan pemulangan pasien (
discharge )
i. Semua pasien dilakukan asesmen ulang pada interval tertentu atas dasar kondisi dan
pengobatan untuk menetapkan respon terhadap pengobatan dan untuk merencanakan
pengobatan untuk pemulangan pasien
j. Data dan informasi asesmen pasien dianalisa dan diintegrasikan

26. Manajemn Nutrisi :


a. Pasien di skrining untuk status gizi
b. Respon pasien terhadap terapi gizi dimonitor
c. Makanan disiapkan dan disimpan dengan cara mengurangi resiko kontaminasi dan
pembusukan
d. Produk nutrisi enteral disimpan sesuai rekomendasi pabrik
e. Distribusi makanan secara tepat waktu, dan memenuhi permintaan khusus

27. Manajemen Nyeri


a. Semua pasien rawat inap dan rawat jalan di skirining utuk sakit dan dilakukan asesmen
apabila ada rasa nyerinya
b. Pasien dibantu dalam pengeloalan rasa nyeri secara efektif
c. Menyediakan pengelolan nyeri sesuai pedoman secara efektif
d. Komunikasi dengan mendidik pasien dan keluarga tentang pengelolan nyeri dan gejala
dalam konteks pribadi, budaya dan kepercayaan agama masing-masing

28. Resiko Jatuh :


a. Penerapan asesmen awal resiko pasien jatuh dan melakukan asesmen ulang terhadap
pasien bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan
b. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi resiko jatuh bagi mereka yang pada hasil
asesmen dianggap beresiko
c. Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik tentang keberhasilan pengurangan cedera
akibat jatuh maupun dampak yang berkaitan secara tidak disengaja

29. Komunikasi Efektif :


a. Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan dituliskan secara
lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut
b. Perintah lisan dan melalui telpon atau hasil pemeriksaaan secara lengkap dibacakan
kembali oleh penerima telpon atau hasil pemeriksaan tersebut
c. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang member perintah atau
hasil pemeriksaan tersebut

viii
Ditetapkan di Jakarta,
Pada tanggal 31 Desember 2016

Dr. Didid Winnetouw


Kepala RSU Bunda Jakarta

ix