Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA PADA PEMBELAJARAN

KESETIMBANGAN KIMIA DI SMA PGRI JAYAPURA


Desi Eka Susanti
Jurusan Pendidikan Kimia FKIP Universitas Cenderawasih
Abstrak
Miskonsepsi adalah menyimpangnya pemahaman siswa dari
konsepsi yang benar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
miskonsepsi siswa kelas XI IPA di SMA PGRI Jayapura tahun ajaran
2012/2013 pada materi kesetimbangan kimia. Metode yang digunakan
adalah dengan menyusun 16 soal konsepsi berupa tes pilihan ganda
beralasan yang disertai Tingkat Keyakinan Jawaban (TKJ). Jumlah
konsepsi yang dianalisis yaitu sebanyak 16 konsepsi. Hasil analisis
miskonsepsi menunjukkan sebanyak 19,53% siswa mengalami
miskonsepsi. Faktor penyebab miskonsepsi meliputi kurangnya
kemampuan dasar siswa, kurangnya minat/motivasi, kurangnya buku teks
dan cara mengajar guru yang kurang tepat.

Kata Kunci: Miskonsepsi, Kesetimbangan Kimia, TKJ

Pendahuluan
Penguasaan Ilmu ditimbulkan bagi kemajuan

Pengetahuan dan Teknologi peradaban umat manusia, misalnya

(IPTEK) menjadi salah satu faktor terpenuhinya kebutuhan fisik,

yang penentu kemajuan suatu komunikasi dan masih banyak lagi.

bangsa dan negara. Semakin pesat Secara umum, ilmu

perkembangan IPTEK maka akan pengetahuan dapat dikelompokkan

semakin besar pula manfaat yang menjadi dua bagian yaitu Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu proses pembelajaran, siswa

Pengetahuan Sosial (IPS). IPA diharapkan dapat menghubungkan

dapat dikelompokkan menjadi tiga antar konsep dan pengetahuan

bagian utama yaitu ilmu kimia, yang dipelajarinya dengan benar.

ilmu fisika dan ilmu biologi. Pengetahuan tidak bisa

Ilmu kimia adalah ilmu dipindahkan secara sederhana dari

yang mempelajari tentang struktur, guru kepada siswa, tetapi siswa

susunan, sifat dan perubahan sendirilah yang akan

materi menghasilkan zat baru serta mengkonstruksi apa yang

energi yang menyertainya. Tujuan diajarkan dengan cara

yang harus dicapai dalam menyesuaikannya berdasarkan

pembelajaran kimia yaitu siswa pengalaman mereka (Losbarch dan

mampu menguasai konsep-konsep Tobin dikutip oleh Aunurrahman

kimia yang telah dipelajari dan (2009: 16)). Asimilasi terjadi

mampu mengaitkan konsep-konsep dalam proses ini, yaitu siswa akan

tersebut dengan materi yang menghubungkan bahan yang

sedang dipelajari. Konsep-konsep dipelajari dengan pengalaman-

dalam ilmu kimia saling berkaitan pengalaman yang dimilikinya

satu sama lain. Berkaitan dengan sehingga pengetahuan mereka


tentang suatu obyek menjadi lebih prakonsepsi atau konsepsi awal.

kompleks (Piaget dikutip oleh Siswa akan mengolah informasi

Sagala (2009: 24)). Proses yang mereka terima selama proses

asimilasi akan mengalami pembelajaran di sekolah dan

kesulitan jika informasi baru yang mereka sendiri pula yang

diterima tidak sejalan dengan membangun atau mengkonstruksi

konsepsi awal yang dimiliki oleh pengetahuannya sehingga tidak

siswa. Permasalahan ini dapat mustahil dapat terjadi kesalahan

terjadi karena siswa hadir ke kelas dalam proses tersebut. Pemahaman

tidak dengan kepala kosong, konsep siswa yang tidak sesuai

melainkan telah membawa dengan konsep yang sebenarnya

sejumlah pengalaman-pengalaman disebut miskonsepsi. Miskonsepsi

atau ide-ide yang dibentuk ini dapat menghambat proses

sebelumnya ketika berinteraksi pemahaman materi kimia sehingga

dengan lingkungan sekitarnya siswa akan mengalami masalah

(Fetherstonhaugh dan Treagust untuk menguasai konsep yang baru

dikutip oleh Sendur et al. (2010: diterimanya karena konsepsi

1)). Gagasan yang telah dimiliki sebelumnya sudah salah.

oleh siswa sebelumnya ini disebut Berdasarkan hal tersebut, sangat


penting bagi pengajar untuk jumlah siswa yang diteliti

mengetahui miskonsepsi pada mengalami miskonsepsi pada

siswa agar dapat melakukan upaya pembelajaran kesetimbangan

untuk mencegah dan kimia. Miskonsepsi yang sering

mengatasinya. Siswa-siswa SMA dialami oleh siswa menurut

yang mempelajari materi kimia, Adaminata dan Marsih (2011: 2-5)

biasanya tidak terlepas dari adanya di beberapa SMA Bandung dalam

miskonsepsi, salah satunya yaitu materi kesetimbangan kimia

pada materi kesetimbangan kimia. diantaranya yaitu pada konsep

Konsep-konsep dalam pengaruh penambahan padatan

materi kesetimbangan kimia sangat murni pada kesetimbangan

penting untuk dipahami dengan heterogen (55%, siswa

benar oleh siswa karena akan menganggap penambahan padatan

menjadi dasar untuk mempelajari murni dapat menggeser

materi-materi kimia selanjutnya, kesetimbangan, yang benar adalah

seperti asam basa dan kelarutan. penambahan padatan murni tidak

Sutiman dkk. (Salirawati, 2011: 1) menggeser kesetimbangan

menemukan bahwa di Kabupaten heterogen) dan dalam menghitung

Sleman, sebanyak 63,42 % dari konsentrasi kesetimbangan (46%,


siswa berpikir kesetimbangan miskonsepsi dalam mempelajari

tercapai jika konsentrasi zat-zat ilmu kimia serta dapat diketahui

yang bereaksi sama dengan hasil secara pasti pada konsep bagian

reaksi, yang benar adalah tidak mana saja siswa selalu mengalami

selalu konsentrasi produk sama miskonsepsi, khususnya pada

dengan reaktan pada materi kesetimbangan kimia.

kesetimbangan tercapai melainkan Konsep-konsep yang telah

bergantung banyaknya reaktan diketahui secara pasti selalu

yang bereaksi atau terurai). mengalami miskonsepsi oleh

Penelitian ini dilakukan siswa, perlu mendapatkan

mengetahui miskonsepsi yang perhatian untuk dikaji lebih lanjut

terjadi pada siswa kelas XI IPA di agar permasalahan ini dapat diatasi

SMA PGRI Jayapura tahun ajaran sehingga siswa dapat memahami

2012/2013 serta faktor-faktor apa konsep-konsep tersebut dengan

saja yang menyebabkan benar.

miskonsepsi tersebut. Kajian ini Metode Penelitian

perlu terus dilakukan diberbagai Tes digunakan untuk

tempat sehingga diperoleh mengidentifikasi miskonsepsi

gambaran yang jelas tentang siswa dalam pembelajaran kimia


pada materi kesetimbangan kimia. dengan alasan dan keyakinan siswa

Teknik tes yang digunakan berupa dalam menjawab soal menurut

tes diagnosis. Soal konsepsi dibuat metode TKJ.

sebanyak 16 butir soal untuk Kemungkinan jawaban

mengidentifiksi miskonsepsi siswa dalam tes dengan TKJ

peserta uji. Pengambilan data dianalisis menggunakan kriteria

dilakukan melalui dua cara, yaitu pada Tabel 1. Soal konsepsi yang

dengan memberikan tes kepada digunakan di uji validitas dan

responden dan wawancara. Tes reliabilitasnya. Faktor penyebab

dilakukan pada tanggal 27 Mei miskonsepsi diperoleh melalui

2013 dengan alokasi waktu 180 wawancara.

menit (3 jam). Konsepsi pada Tabel 1. Kriteria Penentuan Siswa


yang Paham Konsep, Miskonsepsi
materi kesetimbangan yang
dan Tidak Paham Konsep
diujikan disusun berdasarkan TKJ
Kriteria
Jawaban Tidak Yakin Kurang Yakin
Yakin Benar
silabus dan telah memenuhi (Menebak) (Ragu-ragu)
Jawaban Tidak tahu Tidak tahu Paham
benar konsep konsep konsep
validitas isi dan ahli. Instrumen tes Jawaban Tidak tahu Tidak tahu
Miskonsepsi
salah konsep konsep

diagnosis yang digunakan yaitu


Data yang diperoleh
dalam bentuk tes pilihan ganda
melalui tes diagnostik dan
(multiple choice) yang dilengkapi
wawancara, selanjutnya dianalisis
secara deskriptif yaitu dengan cara 31,25%, sedangkan yang tidak

mendeskripsikan atau paham konsep (termasuk

menggambarkan miskonsepsi yang didalamnya siswa yang mengalami

terjadi pada siswa kelas XI IPA miskonsepsi) sebanyak 68,75 %.

SMA PGRI Jayapura pada materi Berdasarkan data tersebut, dapat

kesetimbangan beserta faktor- diketahui bahwa pembelajaran

faktor penyebab miskonsepsi pada pada materi kesetimbangan kimia

siswa. belum berhasil karena masih ada

Hasil dan Pembahasan siswa yang mengalami

Penelitian ini dilakukan miskonsepsi dan sebagian besar

pada siswa-siswa kelas XI IPA didominasi oleh siswa yang tidak

SMA PGRI Jayapura tahun ajaran paham konsep. Persentase siswa

2012/2013 yang berjumlah 16 yang mengalami miskonsepsi pada

orang untuk mengetahui tiap konsepsi kesetimbangan kimia

miskonsepsi siswa pada materi dapat dilihat pada Tabel 2 dan

kesetimbangan kimia. Hasil beberapa miskonsepsi yang terjadi

analisis data tingkat pemahaman pada siswa dapat dilihat pada

siswa menunjukkan bahwa siswa Tabel 3.

yang paham konsep yaitu sebanyak


Tabel 2. Persentase Miskonsepsi Siswa pada Tiap Konsepsi
Kesetimbangan Kimia di SMA PGRI Jayapura
Konsepsi Banyaknya Siswa
No Konsep yang dianalisis
Ke Miskonsepsi (%)
1 Kesetimbangan dinamis 1 25,00
2 Kesetimbangan homogen 2 12,50
3 Kesetimbangan heterogen 3 6,25
4 Pengaruh penambahan padatan dan cairan
murni terhadap sistem kesetimbangan
a. Padatan murni 4 12,50
b. Cairan murni 5 0,00
5 Tetapan kesetimbangan (K)
a. Hukum kesetimbangan K) 6 37,50
b.Persamaan tetapan kesetimbangan
7 31,25
(bentuk matematis)
6 Hubungan antara Qc dengan Kc 8 0,00
7 Memprediksi arah pergeseran
kesetimbangan berdasarkan asas Le
Chatelier (perubahan konsentrasi, tekanan,
volume, suhu, dan penambahan katalis)
a. Asas Le Chatelier 9 25,00
b. Pengaruh perubahan suhu 10 18,75
c.Pengaruh perubahan konsentrasi 11 6,25
d.Pengaruh perubahan tekanan dan volume 12 18,75
e.Pengaruh penambahan katalis 13 31,25
8 Tetapan kesetimbangan Kc dan Kp
a.Tetapan kesetimbangan berdasarkan 14 37,50
konsentrasi (Kc)
b.Tetapan kesetimbangan berdasarkan
15 31.25
tekanan (Kp)
9 Hubungan antara Kc dengan Kp 16 18,75
Tabel 3. Bentuk Miskonsepsi Siswa pada Materi Kesetimbangan Kimia

No Miskonsepsi
1. Reaksi dikatakan setimbang ketika jumlah mol reaktan (pereaksi) sama dengan produk
(hasil reaksi).
2. Reaksi dikatakan setimbang adalah reaksi yang berlangsung bolak balik secara terus
menerus pada waktu yang bersamaan.
3. Pada reaksi kesetimbangan jumlah zat-zat (rekatan dan produk) adalah konstan.
4. Kesetimbangan homogen itu tersusun atas dua zat atau lebih yang memiliki fase sama
(tidak bisa membedakan antara konsep kesetimbangan homogen dan heterogen).
5. Penambahan padatan murni akan mempengaruhi perubahan konsentrasi pada
kesetimbangan heterogen.
6. Persamaan tetapan kesetimbangan adalah hasil kali konsentrasi setimbang zat-zat di ruas
kiri (reaktan) dibagi dengan hasil kali konsentrasi zat-zat di ruas kanan (produk) masing-
masing dipangkatkan koefisiennya (konsepnya terbalik).
7. Persamaan tetapan kesetimbangan adalah hasil kali konsentrasi zat di ruas kanan dibagi
dengan hasil kali konsentrasi zat diruas kiri dan masing-masing dipangkatkan koefisiennya,
padahal hal ini juga berlaku pada Qc (kuosien reaksi)
8. Menurut asas Le Chatelier yaitu jika suatu sistem kesetimbangan diganggu maka sistem
akan mengadakan reaksi sebagai akibat dari gangguan tersebut (Mereka tidak memahami
makna dari reaksi terhadap gangguan yang diberikan. Makna dari reaksi ini sebenarnya
yaitu untuk mengurangi efek dari gangguan tersebut).
9. Peningkatan suhu akan menyebabkan pergeseran kesetimbangan ke arah reaksi eksoterm
10. Penambahan konsentrasi reaktan akan menyebabkan pergeseran kesetimbangan ke reaktan
tersebut dengan alasan karena yang bertambah banyak adalah reaktannya.
11. Jika tekanan sistem diperbesar dan volume ruang diperkecil maka kesetimbangan akan
bergeser ke arah reaksi dengan jumlah koefisien zat terbesar untuk menambah jumlah mol
zat dalam sistem demikian pula sebaliknya (siswa tersebut tertukar antara konsep perubahan
tekanan dan volume, ia menganggap bahwa tekanan berbanding lurus dengan koefisien
(jumlah mol) sedangkan volume berbanding terbalik).
12. Penambahan katalis pada sistem kesetimbangan akan mempengaruhi pergeseran
kesetimbangan dari sistem yang sudah setimbang.
13. Siswa mengganggap pada persamaan kesetimbangan konsentrasi (Kc), zat dengan fase
padat (s) dan cairan (l) juga dimasukkan.
14. Siswa mengganggap pada persamaan kesetimbangan tekanan (Kp), zat dengan fase selain
gas (g) juga dimasukkan.
15. Siswa salah mengartikan antara konsep Kc dan Kp sehingga penempatan posisinya terbalik.
a. Kc = Kp(RT)n
b. Kp = Kc/ (RT)n
Berasarkan hasil analisis Siswa mengalami

miskonsepsi, pemahaman siswa miskonsepsi pada hampir semua

kelas XI IPA SMA PGRI Jayapura konsepsi dalam materi

dalam mempelajari materi kesetimbangan kimia, kecuali pada

kesetimbangan kimia berbeda- konsepsi penambahan cairan murni

beda, dimana analisis tingkat ke dalam suatu sistem

pemahaman menunjukkan bahwa kesetimbangan salah satu

siswa yang memahami konsep komponennya dan menentukan

pada materi kesetimbangan kimia arah reaksi. Data hasil miskonsepsi

lebih sedikit (31,25 %) bila siswa pada Tabel 2 menunjukkan

dibandingkan dengan siswa yang bahwa dari 16 konsepsi yang

tidak paham konsep (68,75%, dianalisis terdapat 8 konsepsi yang

termasuk di dalamnya siswa yang miskonsepsi sangat rendah (6,25 %

mengalami miskonsepsi). - 18,75 %) dan 6 konsepsi yang

Banyaknya siswa yang mengalami miskonsepsinya tergolong rendah

miskonsepsi pada materi (25,00 % - 37,50 %), sedangkan

kesetimbangan kimia yaitu sebesar pada 2 konsepsi tidak terdeteksi

19,53 %. siswa yang mengalami

miskonsepsi. Berdasarkan kriteria


10
tinggi rendahnya persentase siswa mirip sehingga miskonsepsi yang

yang mengalami miskonsepsi pada terjadi terdapat kemiripan pula,

teknik analisis data, dapat sedangkan siswa yang jawabannya

diketahui bahwa miskonsepsi yang terkonsentrasi pada beberapa

terjadi pada siswa kelas XI IPA pilihan jawaban yang berbeda,

SMA PGRI Jayapura masih menunjukkan bahwa pemahaman

tergolong rendah. konsep yang menyebabkan

Sebaran jawaban siswa terjadinya miskonsepsi tersebut

yang mengalami miskonsepsi pada berbeda-beda sehingga jawaban

materi kesetimbangan kimia siswa tidak terfokus pada satu

terdapat beberapa variasi, yaitu ada pilihan jawaban salah saja. Faktor-

yang jawabannya terkonsentrasi faktor penyebab miskonsepsi siswa

pada satu pilihan jawaban dan ada meliputi kemampuan dasar siswa

pula yang tersebar pada lebih dari yang kurang, kurangnya minat dan

satu pilihan jawaban. Siswa-siswa motivasi dalam diri siswa untuk

yang jawabannya terkonsentrasi mempelajari kimia, kurangnya

pada satu pilihan jawaban tertentu buku teks kimia yang dapat

menunjukkan bahwa mereka digunakan sebagai pegangan siswa

memiliki pemahaman konsep yang


11
dalam belajar dan cara mengajar kimia agar Dapat melakukan

guru yang kurang tepat. diagnosis miskonsepsi meskipun

Simpulan dan Saran dengan cara yang sederhana untuk

Berdasarkan hasil dapat membantu siswa dalam

penelitian, dapat disimpulkan memahami konsep sehingga

siswa kelas XI IPA SMA PGRI miskonsepsi yang dialami oleh

Jayapura mengalami miskonsepsi siswa dapat diperbaiki secepat

(19,53%) pada hampir semua mungkin serta dapat

konsepsi dalam materi mengidentifikasi faktor-faktor

kesetimbangan kimia, kecuali pada penyebab miskonsepsi yang terjadi

konsepsi penambahan cairan murni pada siswa, sehingga guru dapat

pada kesetimbangan. Faktor menentukan metode-metode yang

penyebab miskonsepsi meliputi perlu dilakukan untuk

kurangnya kemampuan dasar menanggulangi miskonsepsi yang

siswa, kurangnya minat/motivasi, terjadi pada siswanya sehingga

kurangnya buku teks dan cara tidak terus berlanjut.

mengajar guru yang kurang tepat.

Oleh karena itu, diharapkan

kepada para guru, khususnya guru


12
Daftar Pustaka Djojosoediro, W. (2010).
Pengembangan dan
Adaminata, M. A. Marsih, I. N. Pembelajaran IPA SD.
(2011). Analisis Kesalahan [Online]. diakses:
Konsep Siswa SMA pada http://tpardede.wikispaces.c
Pokok Bahasan om/file/view/ipa_unit_1.pd
Kesetimbangan Kimia. f [2 Maret 2013]
Bandung: Prosiding
Simposium Nasional Faiqoh, E. (2009). Penerapan
Inovasi Pembelajaran dan Model Transaktif dalam
Sains 2011 (SNIPS 2011). Pembelajaran Matematika
Untuk Meningkatkan
Arikunto, S. (2006). Prosedur Kemampuan Pemahaman
Penelitian Suatu Konsep Matematika Siswa
Pendekatan Praktik. SMA. Skripsi Sarjana pada
Jakarta: Rineka Cipta. FPMIPA UPI Bandung:
diterbitkan.
Aunurrahman. (2009). Belajar dan
Pembelajaran. Bandung: Halomoan, M. (2012). Analisis
Alfabeta. Konsepsi Guru Mata
Pelajaran Fisika Madrasah
Brady, J. E. (2008). Kimia Aliyah Terhadap Konsep
Universitas Asas dan Gaya Pada Benda Diam
struktur Jilid 2. Tangerang: Dan Bergerak. Medan:
Binarupa Aksara. BDK Medan.

Diyanti, N. (2010). Penerapan Hamalik, O. (2009). Proses


Model Pembelajaran Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi
Konstruktivisme Tipe Aksara.
Novick untuk
Meminimalisasi Komsiah, S. (2008). Pengantar
Miskonsepsi Siswa pada Sosiologi Sosiologi dan
Mata Pelajaran Fisika. Ruang Lingkupnya.
Skripsi Sarjana pada [Online]. diakses: http://
FPMIPA UPI Bandung: kk.mercubuana.ac.id/ files/
diterbitkan. 94014-1- 938940675525.
doc. [1 Maret 2013]
13
Sagala, S. (2009). Konsep dan
Pratiwi, I. Widayati, A. (2012). Makna Pembelajaran
Pembelajaran Akuntansi Untuk Membantu
Melalui Reciprocal Memecahkan Problematika
Teaching Model untuk Belajar dan Mengajar.
Meningkatkan Penguasaan Bandung: Alfabeta.
Konsep dan Kemandirian
Belajar Materi Mengelola Salirawati, D. (2011).
Administrasi Surat Pengembangan Model
Berharga Jangka Pendek Instrumen Pendeteksi
Siswa Kelas X Akuntansi 1 Miskonsepsi Kimia Pada
SMK Negeri 7 Yogyakarta Peserta Didik SMA.
Tahun Pelajaran Program Pascasarjana
2011/2012. Jurnal Universitas Negeri
Pendidikan Akuntansi Yogyakarta: Yogyakarta.
Indonesia . X (2), 133 -
152. Sari, R. L., Purtadi, S. (2009).
Penilaian Berkarakter
Pujayanto, Budiharti, R., Waskito, Kimia Berbasis
S. (2011). Identifikasi Demonstrasi Untuk
Miskonsepsi IPA (Fisika) Mengungkap Pemahaman
Pada Siswa SD. Semarang: Konsep dan Miskonsepsi
FKIP Universitas Negeri Kimia pada Siswa SMA.
Semarang. [Online]. diakses:
http://staff.uny.ac.id/sites/d
Purba, M. (2006). KIMIA Untuk efault/files/Makalah
SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga. Semnas Kimia 2009-
Penilaian Berkarakter
Sabli, D. (2009). Analisis Kimia Berbasis
Miskonsepsi Siswa Demonstrasi untuk
Madrasah Aliyah (MA) Mengungkap Pemahaman
Kelas X Pada Subkonsep Konsep dan Miskonsepsi
Pencemaran Lingkungan. Kimia pada Siswa
Skripsi Sarjana FPMIPA SMA.pdf [25 Januari 2013
UPI Bandung: diterbitkan.
Sendur, G. et al. (2010). Analyzing
of Students
14
Misconceptions About
Chemical Equilibrium.
International Conference
on New Trends in
Education and Their
Implications , 1-7.

Sugiyono. (2010). Metode


Penelitian Pendidikan
(Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R dan D).
Bandung: Alfabeta.

Sunardi. (2008). Kimia Bilingual


Untuk SMA/MA Untuk
Kelas XI. Bandung: Yrama
Widya.

Suparno, P. (2005). Miskonsepsi


dan Perubahan Konsep
Pendidikan Fisika. Jakarta:
Grasindo.

Tayubi, Y. R. (2005). Identifikasi


Miskonsepsi Pada Konsep-
Konsep Fisika
Menggunakan Certainty of
Response Index (CRI).
Mimbar Pendidikan, 4-9.

Utami, B. dkk. (2009). Kimia


Untuk SMA/MA Kelas XI
Program Ilmu Alam.
Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.

15