Anda di halaman 1dari 10

TEORI YANG MENDASARI GCG, ALASAN

DIPERLUKANNYA GCG, MANFAAT GCG

[SAP 2]

OLEH

KELOMPOK 1:

I GUSTI NGURAH WAHYU WIRA SATRIA (1415351217)

I GUSTI NGURAH ARIYANATHA (1415351126)

NI MADE ARISTAWATI (1415351178)

PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
A. TEORI YANG MENDASARI GCG

Menurut Tim Studi Pengkajian Prinsip-prinsip OECD 2004 (2006:10-11) yang


dibentuk oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, terdapat dua teori
yang dapat digunakan untuk menjelaskan konsep corporate governance. Teori pertama
adalah stewardship theory dan yang kedua adalah agency teori.
1. Stewardship Theory
Teori ini dibangun atas asumsi filosofis mengenai sifat manusia yang pada
hakikatnya dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggungjawab, serta
memiliki integritas dan kejujuran terhadap pihak lain. Bila asumsi stewardship
theory ini diterapkan dalam manajemen perusahaan maka stewardship theory
memandang manajemen sebagai pihak yang dapat dipercaya untuk bertindak
sebaik-baikya bagi kepentingan publik pada umumnya maupun para pemegang
saham (shareholders) pada khususnya. Dapat dikatakan teori stewardship ini
menggambarkan situasi dimana para manajer tidaklah termotivasi oleh tujuan-
tujuan individu tetapi lebih ditujukan pada sasaran hasil utama mereka untuk
kepentingan organisasi, sehingga teori ini mempunyai dasar psikologi dan
sosiologi yang telah dirancang dimana para eksekutif sebagai steward termotivasi
untuk bertindak sesuai keinginan prinsipal, selain itu perilaku steward tidak akan
meninggalkan organisasinya sebab steward berusaha mencapai sasaran
organisasinya. Teori ini didesain bagi para peneliti untuk menguji situasi dimana
para eksekutif dalam perusahaan dapat termotivasi untuk bertindak dengan cara
terbaik pada principalnya.
2. Agency Theory
Teori keagenan merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis perusahaan
yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar dari sinergi teori ekonomi, teori
keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip utama teori ini menyatakan
adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang yaitu investor
dengan pihak yang menerima wewenang (agensi) yaitu manajer.
Pemisahan pemilik dan manajemen di dalam literatur akuntansi disebut dengan
Agency Theory (teori keagenan). Teori ini merupakan salah satu teori yang
muncul dalam perkembangan riset akuntansi yang merupakan modifikasi dari
perkembangan model akuntansi keuangan dengan menambahkan aspek perilaku
manusia dalam model ekonomi. Teori agensi mendasarkan hubungan kontrak
antara pemegang saham/pemilik dan manajemen/manajer. Menurut teori ini
hubungan antara pemilik dan manajer pada hakekatnya sukar tercipta karena
adanya kepentingan yang saling bertentangan.
Dalam teori keagenan (agency theory), hubungan agensi muncul ketika satu orang
atau lebih (principal) memperkerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu
jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada
agent tersebut. Hubungan antara principal dan agent dapat mengarah pada kondisi
ketidakseimbangan informasi (asymmetrical information) karena agent berada
pada posisi yang memiliki informasi yang lebih tentang perusahaan dibandingkan
dengan principal. Dengan asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk
memaksimalkan kepentingan diri sendiri, maka dengan informasi asimetri yang
dimilikinya akan mendorong agent untuk menyembunyikan beberapa informasi
yang tidak diketahui principal. Dalam kondisi yang asimetri tersebut, agent dapat
mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan
dengan cara melakukan manajemen laba.
Masalah keagenan juga akan timbul jika pihak manajemen atau agen perusahaan
tidak atau kurang memiliki saham biasa perusahaan tersebut. Karena dengan
keadaan ini menjadikan pihak manajemen tidak lagi berupaya untuk
memaksimumkan keuntungan perusahaan dan mereka berusaha untuk mengambil
keuntungan dari beban yang ditanggung oleh pemegang saham. Cara yang
dilakukan pihak manajemen adalah dalam bentuk peningkatan kekayaan dan juga
dalam bentuk kesenangan dan fasilitas perusahaan.
Dijelaskan dalam Jensen dan Meckling (1976), Jensen (1986), Weston dan
Brigham (1994), bahwa masalah keagenan dapat terjadi dalam dua bentuk
hubungan, yaitu:
1) Antara pemegang saham dan manajer
Jika suatu perusahaan berbentuk perusahaan perorangan yang dikelola sendiri
oleh pemiliknya, maka dapat diasumsikan bahwa manajer-pemilik tersebut
akan mengambil setiap tindakan yang mungkin untuk memperbaiki
kesejahteraannya, terutama diukur dalam bentuk peningkatan kekayaan
perorangan dan juga dalam bentuk kesenangan dan fasilitas eksekutif. Namun
jika manajer mempunyai porsi sebagai pemilik dan mereka mengurangi hak
kepemilikannya dengan membentuk perseroan dan menjual sebagian saham
perusahaan kepada pihak luar, maka pertentangan kepentingan bisa timbul.
Keadaan ini menjadikan manajer mungkin saja tidak sedemikian gigih lagi
untuk memaksimumkan kekayaan pemegang saham karena jatahnya atas
kekayaan tersebut telah berkurang sesuai dengan pengurangan kepemilikan
mereka. Atau manajer menetapkan gaji yang besar bagi dirinya atau
menambah fasilitas eksekutif karena sebagian diantaranya akan menjadi beban
pemegang saham lainnya.
2) Antara pemegang saham dan kreditor
Kreditur menerima uang dalam jumlah tetap dari perusahaan (bunga hutang),
sedangkan pendapatan pemegang saham bergantung pada besaran laba
perusahaan. Dalam situasi ini, kreditur lebih memperhatikan kemampuan
perusahaan untuk membayar kembali utangnya, dan pemegang saham lebih
memperhatikan kemampuan perusahaan untuk memperoleh kembalian yang
besar adalah melakukan investasi pada proyek-proyek yang berisiko. Apabila
pelaksanaan proyek yang berisiko itu berhasil maka kreditur tidak dapat
menikmati keberhasilan tersebut, namun apabila proyek mengalami
kegagalan, kreditur mungkin akan menderita kerugian akibat dari
ketidakmampuan pemegang saham untuk memenuhi kewajibannya. Untuk
mengantisipasi kemungkinan rugi maka kreditur melakukan pembatasan
penggunaan hutang oleh manajer, salah satunya adalah membatasi
jumlah penggunaan hutang untuk investasi dalam proyek baru.

B. ALASAN DIPERLUKANNYA GCG

Menurut Becht et al. (2002), sekurang-kurangnya terdapat enam alasan yang mendorong
munculnya GCG sebagai topik yang menarik perhatian dunia dan mendorong munculnya
desakan implementasi GCG diseluruh dunia.

1. Munculnya gelombang privatisasi di seluruh dunia


Privatisasi menjadi fenomena yang sangat penting dan terjadi di negara-negara
Amerika Latin, Eropa Barat, Asia, dan sebagian besar negara-negara bekas Uni
Soviet. Tidak bisa dihindari, aktivitas privatisasi ini telah memunculkan persoalan
mengenai bagaimana perusahaan-perusahaan yang baru diprivatisasi tersebut dimiliki
dan dikendalikan. Fenomena ini juga memunculkan subjek penelitian baru mengenai
bagaimana seharusnya peran pemerintah sebagai salah satu pemegang saham di dalam
perusahaan yang baru diprivatisasi dimana sebelumnya perusahaan yang diprivatisasi
tersebut merupakan badan usaha yang dimiliki pemerintah.
2. Reformasi dana pensiun
Dana pensiun yang terjadi di Amerika dan beberapa negara yang tergabung dalam
OECD (termasuk Jepang) telah mengakibatkan semakin besarnya dana yang
disalurkan lewat dana operasi pensiun. Hal ini mengakibatkan meningkatnya investasi
yang dilakukan oleh investor kelembagaan. Sebagai contoh, investor kelembagaan di
Amerika Serikat menguasai 50% dari total asset yang dikelola berbagai perusahaan
yang tergabung dalam OECD. Sementara itu kelembagaan investor dari Jepang
menguasi 13,7% dari total investasi kelembagaan di negara-negara yang tergabung
dalam OECD.
3. Merger dan pengambilalihan perusahaan
Pada dasarnya masalah corporate governance akan mulai mengemuka pada saat
investor luar berkeinginan untuk memegang kendali dari para manajer yang saat ini
telah bercokol sebagai pengelola perusahaan. Oleh sebab itu berbagai
pengambilalihan yang tidak bersahabat (hostile) lainnya telah meningkatkan perhatian
terhadap penerapan GCG di perusahaan dunia.
4. Deregulasi dan integrasi pasar modal
Aturan mengenai corporate governance telah dipromosikan sebagai bagian dari cara
untuk melindungi dan merangsang investasi luar negeri terutama untuk negara-negara
Eropa Timur, Asia, dan berbagai negara lainnya yang saat ini telah muncul sebagai
kekuatan pasar dunia, seperti Brasil, Rusia, India, dan China. Selain itu, pasar modal
dunia yang semakin terintegrasi telah turut mempercepat perpindahan capital dari satu
tempat ke tempat lain. Keadaan tersebut turut meningkatkan munculnya penerapan
GCG di negara-negara yang menjadi target investasi asing.
5. Krisis ekonomi Asia Timur, Rusia, dan Brasil
Krisis ekonomi di Asia Timur telah menguak tabir lemahnya perlindungan terhadap
investasi yang dilakukan investor asing di wilayah ini. Kerugian yang diderita para
investor sebagian diakibatkan oleh praktik corporate governance yang tidak sehat
sehingga gagal untuk menyelamatkan kekayaan investor. Kejadian yang sama
menimpa investasi di Rusia dan Brasil. Semua kejadian itu turut meningkatkan
kebutuhan para investor untuk meningkatkan kebutuhan akan praktik GCG.
6. Berbagai skandal yang menimpa perusahaan besar
Berbagai skandal yang terjadi di perusahaan-perusahaan besar dengan reputasi baik
seperti Enron. Ketika pada akhirnya perusahaan terbukti melakukan berbagai
manipulasi akuntansi yang mengakibatkan eksekutif puncak perusahaan, hal tersebut
mengakibatkan harga saham perusahaan mrngalami penurunan. Penurunan harga
saham ini tidak hanya merugikan investor yang membeli saham perusahaan
berdasarkan informasi keuangan yang keliru, melainkan penurunan telah
mengakibatkan kerugian bagi para karyawan yang memiliki saham perusahaan
sebagai cadangan bagi dana pensiun mereka.
Kasus yang menimpa Enron dan berbagai perusahaan lainnya di dunia disebabkan
oleh tidak diterapkannya corporate governance yang baik. Kasus-kasus tersebut
semakin menguatkan tuntutan dari para investor agar perusahaan menerapkan GCG.

Menurut Sita Supomo dalam bukunya yang berjudul Corporate Social Responsibility (CSR)
dalam Prinsip GC, alas an diperlukannya GCG, seperti:

1. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang


didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta
kesetaraan dan kewajaran.
2. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan,
yaitu dewan komisaris, direksi dan rapat umum pemegang saham.
3. Mendorong pemegang saham, anggota dewan komisaris dan anggota direksi agar
dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral
yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
4. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap
masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan.
5. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan
pemangku kepentingan lainnya.
6. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional, sehingga
meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan
pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.
7. Corporate governance sangat berkaitan dengan bagaimana membuat para investor
yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bahwa
manajer tidak akan menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam proyek-proyek
yang tidak menguntungkan berkaitan dengan modal yang telah ditanamkan oleh
investor.

C. MANFAAT GCG

Dengan melaksanakan Corporate Governance, menurut Forum of Corporate Governance in


Indonesia (FCGI) ada beberapa manfaat yang diperoleh, antara lain:
1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan
yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan, serta lebih
meningkatkan pelayanan kepada stakeholder.
2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak rigid
(karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan corporate value.
3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
4. Pemegang saham akan puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan
meningkatkan shareholder value dan deviden.

Menurut (Hery dalam Tadikapury, 2010) ada lima manfaat yang dapat diperoleh perusahaan
yang menerapkan Good Corporate Governance yaitu :
1. GCG secara tidak langsung akan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya
perusahaan ke arah yang lebih efektif dan efisien, yang pada gilirannya akan turut
membantu terciptanya pertumbuhan atau perkembangan ekonomi nasional.
2. GCG dapat membantu perusahaan dan perekonomian nasional, dalam hal ini menarik
modal investor dengan biaya yang lebih rendah melalui perbaikan kepercayaan
investor dan kreditur domestik maupun internasional.
3. Membantu pengelolaan perusahaan dalam memastikan/menjamin bahwa perusahaan
telah taat pada ketentuan, hukum, dan peraturan.
4. Membangun manajemen dan Corporate Board dalam pemantauan penggunaan asset
perusahaan.
5. Mengurangi korupsi.

Menurut Tjager dkk (2003) manfaat penerapan GCG, yaitu:


1. Berdasarka survey yang telah dilakukan oleh McKinsey & Company menunjukkan
bahwa para investor institusional lebih menaruh kepercayaan terhadap perusahaan-
perusahaan di Asia yang telah menerapkan GCG.
2. Berdasarkan berbagai analisis ternyata ada indikasi keterkaitan antara terjadinya krisis
financial dan krisis berkepanjangan di Asia dengan lemahnya tata kelola perusahaan.
3. Internasionalisasi pasar termasuk liberalisasi pasar financial dan pasar modal menuntut
perusahaan untuk menerapkan GCG.
4. Secara teoris, praktik GCG dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Menurut Ahmad Daniri (2005;14) jika perusahaan menerapkan mekanisme penerapan Good
Corporate Governance (GCG) secara konsisten dan efektif maka akan dapat memberikan
manfaat antara lain:
1. Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung oleh pemegang
saham akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen.
2. Mengurangi biaya modal (Cost of Capital).
3. Meningkatkan nilai saham perusahaan di mata publik dalam jangka panjang.
4. Menciptakan dukungan para stakeholder dalam lingkungan perusahaan terhadap
keberadaan perusahaan dan berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh
perusahaan.

Beberapa manfaat lainnya, seperti:


1. Meningkatkan kualitas kerja para karyawan
Dengan adanya good corporate governance, maka kondisi lingkungan pekerjaan akan
menjadi lebih baik. Bertambah baiknya lingkungan dan suasana dari lingkungan
pekerjaan, maka karyawan akan merasa lebih dihargai dalam pekerjaannya. Hal ini
akan bermanfaat pada lebih baiknya dan meningkatnya kualitas kerja yang dilakukan
oleh para karyawan.
2. Meningkatkan keterikatan kerja para karyawan
Kualitas pekerjaan dari para karyawannya bertambah dan juga kondisi dari
lingkungan pekerjaan yang membuat nyaman, maka karyawan pun akan memiliki
keterikatan kerja yang baik dengan perusahaannya. Hal ini akan berdampak pada
perusahaan dalam mengevaluasi hasil kerja dari para karyawannya.
3. Mencegah terjadinya turnover pada karyawan
Good corporate governance dapat meningkatkan kualitas pekerjaan dan membuat
karyawan menjadi nyaman dalam bekerja di perusahaan tersebut.
4. Meminimalkan cost of capital
Perusahaan yang dikelola dengan baik dan sehat akan menciptakan suatu referensi
positif bagi kreditor. Kondisi ini sangat berperan dalam meminimalkan biaya modal
yang harus ditanggung bila perusahaan mengajukan pinjaman.
5. Meningkatkan citra perusahaan
Dapat meningkatkan daya jual produk karena kepercayaan konsumen akibat dari citra
tersebut.
6. Meningkatkan nilai saham perusahaan
Sebuah perusahaan yang dikelola dengan baik akan menarik minat investor untuk
menanamkan modalnya. Sebuah survey yang dilakukan oleh Russell Reynolds
Associaties (1997) mengungkapkan bahwa kualitas komisaris adalah salah satu faktor
utama yang dinilai oleh investor institusional sebelum mereka memutuskan untuk
membeli saham. Hal ini akan terlihat terutama ketika seorang investor bermaksud
melakukan investasi untuk jangka waktu yang lama.
REFERENSI

Effendi, Muh. Arief, 2009. The Power of Good Corporate Governance: Teori dan

Implementasi. Salemba Empat, Jakarta

Solihin, Ismail, 2009. Corporate Social Responsibility: From Clarity to Sustainability.

Salemba Empat, Jakarta

Miko Kamal, 2008. Undang Undang PT dan Harapan Implementasi GCG, Jakarta

Supomo Sita , 2008, Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Prinsip GCG, Jakarta

Skripsi Indra dewi suryani ( UNDIP Semarang 2010 )

http://fekool.blogspot.co.id/2016/05/gcg-good-corporate-governace.html (diakses tanggal 20

Februari 2017)