Anda di halaman 1dari 13

PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR

BANDUNG SELATAN

DISUSUN OLEH :

Scherlly Reviana

030.11.269

PEMBIMBING :

dr. Gita Tarigan, MPH

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

PERIODE 3 APRIL 2017 10 JUNI 2017

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA, 2017

0
1. PENDAHULUAN
Berdasarkan Atlas Kebencanaan Indonesia yang dipublikasikan oleh BNPB
tahun 2016, sekitar 98% dari keseluruhan bencana di Indonesia, adalah bencana
hidrometeorologi, yaitu bencana yang dipengaruhi oleh cuaca seperti banjir,
kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor dan angin puting beliung.
Diperkirakan bencana hidrometeorologi akan terus meningkat seiring dengan dampak
perubahan iklim global dan dampak degradasi lingkungan.
Seperti yang dikemukakan di atas, salah satu bencana hidrometeorologi adalah
banjir. Bencana banjir selama bulan Januari hingga Juni 2016 adalah 40,5% dari total
keseluruhan bencana di Indonesia yaitu 442 kejadian. Dengan adanya korban jiwa
yakni 62 orang meninggal dunia, 84 orang mengalami luka-luka dan sebanyak
1.595.521 orang menderita dan mengungsi. Banjir adalah di mana suatu daerah dalam
keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang begitu besar. Sedangkan banjir
bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena
tersumbatnya sungai maupun karena penggundulan hutan di sepanjang sungai
sehingga merusak rumah-rumah penduduk maupun menimbulkan korban jiwa.
Dampak perubahan iklim sudah sangat nyata. Cuaca dan musim menjadi kian tak
menentu dan sulit diprediksikan. Saat ini harusnya sebagian besar wilayah Indonesia
memasuki awal musim kemarau. Pertengahan bulan Juni umumnya sudah kemarau.
Namun saat ini, hujan berintensitas tinggi masih sering turun.
Bencana banjir hampir setiap musim penghujan melanda Indonesia.
Berdasarkan nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir terlihat adanya
peningkatan yang cukup berarti. Kejadian bencana banjir tersebut sangat dipengaruhi
oleh faktor alam berupa curah hujan yang di atas normal dan adanya pasang naik air
laut. Di samping itu faktor ulah manusia juga berperan penting seperti penggunaan
lahan yang tidak tepat (pemukiman di daerah bantaran sungai, di daerah resapan,
penggundulan hutan, dan sebagainya), pembuangan sampah ke dalam sungai,
pembangunan pemukiman di daerah dataran banjir dan sebagainya. Salah satu
wilayah di Indonesia yang rawan banjir adalah Kecamatan Dayeuhkolot yang terletak
di Soreang, Kabupaten Bandung.

Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga bentuk morfologi


wilayahnya bagaikan sebuah mangkok raksasa, secara geografis kota ini terletak di
tengah-tengah provinsi Jawa Barat, serta berada pada ketinggian 768 m di atas

1
permukaan laut, dengan titik tertinggi di berada di sebelah utara dengan ketinggian
1.050 meter di atas permukaan laut dan sebelah selatan merupakan kawasan rendah
dengan ketinggian 675 meter di atas permukaan laut.

Kota Bandung dialiri dua sungai utama, yaitu Sungai Cikapundung dan Sungai
Citarum beserta anak-anak sungainya yang pada umumnya mengalir ke arah selatan
dan bertemu di Sungai Citarum. Dengan kondisi yang demikian, Bandung selatan
sangat rentan terhadap masalah banjir terutama pada musim hujan.

a. Geografi
Kota Bandung memiliki luas wilayah 167,45 Km yang terbagi menjadi 30 kecamatan,
139 Kelurahan, 1.494 Rukun Warga dan 4.9.205 Rukun Tetangga.
Adapun batas-batas administratif Kota Bandung, sebagai berikut :
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.
2) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung.
3) Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Terusan Pasteur Kecamatan Cimahi Utara,
Cimahi Selatan dan Kota Cimahi.
4) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Dayeuh Kolot, Bojongsoang,
Kabupaten Bandung. Iklim asli Kota Bandung dipengaruhi oleh pegunungan di
sekitarnya sehingga cuaca yang terbentuk sejuk dan lembab. Temperature rata-rata
yaitu 23.3C dan mencapai suhu tertinggi yaitu pada bulan April (30.2C). Curah
hujan rata-rata kota Bandung adalah 322.4 mm (BPS Bandung, 2012).

b. Penduduk
Jumlah populasi penduduk tahun 2014 adalah 2.470.802 jiwa. Terdapat
peningkatan jumlah penduduk dari waktu ke waktu dan diketahui populasi laki-
lakinya lebih banyak daripada perempuan. Terdapat 30 kecamatan dan 153 kelurahan
di Kota Bandung.

2. Rekayasa Kasus
SOREANG, (PR).- Kabupaten Bandung kembali dikepung banjir. Akses utama lalu
lintas dari Kabupaten Bandung menuju Kota Bandung di wilayah Dayeuhkolot, lumpuh total.
Beberapa jalur alternatif menuju Kota Bandung disesaki pengendara. Aktivitas perniagaan
pun terhenti. Posko pengungsian kembali dipenuhi pengungsi.
2
Itulah pemandangan yang terjadi pada Rabu 8 Maret 2017 sekitar pukul 7.30 WIB. Akibat
banjir yang semakin meluas, aktivitas warga kembali terganggu. Diguyur hujan sejak Selasa
7 Maret 2017 sore hingga Rabu 8 Maret 2017 dini hari, mengakibatkan debit air di Sungai
Citarum kembali meningkat. Tak hanya debit air di Sungai Citarum yang meningkat,
demikian pula dengan debit air di anak-anak Sungai Citarum.

Banjir yang mendera wilayah Bandung Selatan ini kerap terjadi setiap tahunnya. Warga pun
mendesak pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah segera melakukan langkah
kongkret mengatasi permasalahan banjir ini. Banjir kembali menggenangi wilayah
Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang.

"Permasalahan banjir ini terus berulang setiap tahunnya. Sekarang pemerintah mau
membangun kolam retensi untuk mengendalikan banjir. Tetapi belum ada realisasinya. Kami
pun harus tetap berhadapan dengan banjir," ungkap seorang warga di Dayeuhkolot, Epul
Saefuloh (47).

Dijelaskan Epul, selama 10 hari terakhir ini, banjir kali ini memang yang terparah.
Ketinggian permukaan banjir di Jalan Dayeuhkolot hingga mencapai 70 sentimeter.
Akibatnya, akses jalan pun terputus. Jalur alternatif menuju Kota Bandung pun diserbu ribuan
pengendara. Akibatnya, kemacetan lalulintas pun tidak bisa dihindari.

Dijelaskan Eful, ketinggian permukaan banjir di dalam permukiman warga mencapai 2 meter
lebih. Akibatnya, banyak warga yang mengungsi ke tempat yang lebih aman atau ke posko
pengungsian yang telah disediakan pemerintah.

"Banyak pegawai pabrik yang memilih berjalan kaki atau menyewa perahu menerobos
genangan banjir agar bisa sampai ke tempat kerjanya. Aktivitas niaga di Dayeuhkolot juga
terhenti," ucap dia.1

3. Analisis Komponen Bencana


a. Hazard
Sebagian besar wilayah Bandung Selatan merupakan dataran rendah.
Berdasarkan sumber airnya, air yang berlebihan/banjir dapat dikategorikan dalam
tiga kategori:
(a) Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas
penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem
drainase buatan manusia;
3
(b) Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai
akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai; dan
(c) Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan,
tanggul dan bangunan pengendali banjir .

b. Vulnerability
Kerentanan dari Aspek Lingkungan
Peningkatan curah hujan lokal, debit air sungai meningkat namun banyaknya
penyempitan badan sungai, tergolong kawasan industrial dan tingginya laju
pembangunan dan pemukiman penduduk sehingga daerah penyerapan air
tanah menurun, rendahnya pemeliharaan saluran dan kanal, rendahnya
kesadaran membuang sampah pada tempatnya, luapan beberapa sungai besar
yang mengalir ke tengah kota, kerusakan lingkungan pada daerah hulu serta
pertumbuhan pemukiman di pinggiran kali semakin tak terkendali.
Kerentanan dari Aspek Sosial
1. Tingkat kepadatan penduduk
Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka semakin rentan terhadap
bencana banjir. Berdasarkan data dari BPS Kecamatan Dayeuhkolot, jumlah
penduduk laki-laki ada 59.568 jiwa dan perempuan 57.321 penduduk. Dengan
luas wilayah 276,80 kilometer 1.078,6 hektar & jumlah kepadatan penduduk
10535.2
2. Tingkat laju pertumbuhan penduduk
Semakin tinggi tingkat laju pertumbuhan penduduk, maka semakin rentan
terhadap bencana banjir. Pada 2016, laju pertumbuhan penduduk di
Dayeuhkolot sebesar 1.55% persen, terbesar se-Jawa Barat. Padahal, ideal laju
pertumbuhan penduduk di bawah 1 persen.
3. Persentase jumlah lansia dan balita
Semakin banyak jumlah penduduk usia tua dan balita, maka semakin rentan
terhadap bencana banjir. Jumlah penduduk usia 0-14 tahun sebanyak 30.896
orang dan lansiadi atas 65 tahun sebanyak 4626 orang.2
4. Kurangnya pengetahuan tentang risiko bahaya dan bencana, rendahnya
pendidikan, corak budaya individualisme, tingkat kesehatan masyarakat yang
rendah akan mempertinggi tingkat kerentanan.
Kerentanan dari Aspek Ekonomi
Semakin banyak rumah tangga miskin, maka semakin rentan terhadap bencana
banjir.

4
c. Capacity
Jumlah rumah sakit sebanyak 1 unit, rumah sakit bersalin tidak ada,
puskesmas berjumlah 3 unit, puskesmas pembantu (pustu) sebanyak 1 unit, balai
pengobatan 2 unit, praktek dokter umum 14 unit, praktek bidan 15 unit, dan
posyandu 90 unit. Jumlah tenaga kesehatan tahun 2015 sebanyak 43 orang terdiri
dari 6 orang dokter pria, 6 orang dokter wanita, 1 orang dokter gigi, 17 orang
bidan, 3 orang mantri kesehatan dan 9 orang dukun bayi.2

4. Disaster Management Plan


Pra Bencana
A. Pencegahan
Pencegahan dengan cara memberikan peringatan kepada warga agar dapat
waspada terhadap datangnya banjir, diharapkan juga dapat menyadarkan
warga untuk memperhatikan penyerapan air di sekitar lingkungan rumah, bisa
dengan memperbaiki selokan dan menambah lahan untuk penghijauan
B. Mitigasi
Pada fase ini dilakukan usaha-usaha untuk meredam dan mengurangi bencana
dan juga meredam atau mengurangi dampak bencana. Pada fase ini bidang
kesehatan lebih cenderung pasif, dengan melakukan pengobatan dan upaya
kesehatan yang insidentil dan screening penderita banjir melalui pengobatan
massal. Fase ini lebih banyak diperankan oleh institusi lainnya dengan,
a) Pengenalan faktor resiko/Hazard, penyebab-penyebab harus dikenali
b) Rencana mereduksi faktor resiko, jika penyebab dikenali makan faktor
resiko diturunkan atau dihilangkan
c) Rencana mengurangi dampak bencana (Mitigation Plan), jika bencana
tidak dapat dihindari maka dilakukan rencana pengurangan dampak
bencana
Bentuk upaya mitigasi non struktural yang dapat dilakukan oleh masyarakat di
kawasan rawan banjir antara lain:
a) Mengetahui akan ancaman banjir termasuk banjir yang pernah terjadi
dan mengetahui letak daerah yang banjir dan mengetahui seberapa
tinggi banjir di daerah tersebut.

5
b) Mengembangkan diri dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dalam
menghadapi bencana seperti pelatihan pertolongan pertama pada
kondisi tanggap darurat dan lain-lain.
c) Berperan aktif pada posko banjir
C. Kesiapsiagaan
a) Penyusunan dan uji coba bencana penanggulangan kedaruratan
bencana
b) Pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini
c) Penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan
dasar
d) Pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang mekanisme
tanggap darurat, berupa:
Menempatkan barang barang elektronik (pemanas air,
panel,meteran dan peralatan listrik) serta barang berharga (ijasah,
sertifikat tanah, dll) di tempat yang tinggi (tidak terjangkau
bencana banjir)
Menyiapkan alamat/no telp yang penting untuk dihubungi.
Menyediakan barang-barang kebutuhan darurat saat memasuki
musim penghujan ( seperti radio, obat obatan, makanan, minuman,
baju hangat dan pakaian, senter, lilin, selimut, pelampung, ban
dalam mobilatau barang-barang yang bisa mengapung, tali dan
korek api.
Pindahkan barang-barang rumah tangga seperti furniture ke tempat
yang lebih tinggi
Menyimpan surat-surat penting di dalam tempat yang tinggi, kedap
air dan aman
e) Penyiapan lokasi evakuasi
f) Penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tetap
tanggap darurat bencana, dan
g) Penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk
pemenuhan pemulihan prasarana dan sarana.
h) Mengorganisasikan sistem keamanan pada keadaan darurat, khususnya
rumah hunian yang ditinggal mengungsi.

6
i) Koordinasi antara BMG, media massa, pejabat setempat dan
masyarakat yang terkait.
j) Penyiapan bahan dan material untuk tanggul yang jebol.

Puskesmas melakukan fase kesiapsiagaan seperti :


1. Revitalisasi sarana dan pra sarana PPPK ( Ambulance, Peralatan, Obat-
obatan).
2. Menyiagakan Brigada siaga Bencana (BSB).
3. Merlaksanakan rencana kontingensi (pendelegasia tugas) dengan
membentuk Gugus Tugas untuk menempati Pos-Pos tertentu yang
sudah ditentukan melalui kesepakatan rapat evaluasi bencana.

Saat Terjadi Bencana


Tanggap Darurat
1. Mendata lokasi dan jumlah korban bencana.
2. Pencarian dan penyelamatan korban bencana
3. Pelayanan kesehatan darurat kepada korban bencana
4. Pengoperasian sistem peringatan banjir (flood warning system),
pemberitahuan dini kepada masyarakat tentang kondisi cuaca
5. Mengevakuasi dan mengungsikan penduduk ke daerah aman, sesuai yang
telah direncanakan
6. Menempatkan petugas pada pos-pos pengamatan, penyelenggaraan piket
banjir di setiap posko
7. Memberikan bantuan pangan, pakaian, dan peralatan kebutuhan lainnya,
serta pelayanan
8. Pemantauan tinggi muka air dan debit air pada setiap titik pantau.
9. Melaporkan hasil pemantauan pada saat mencapai tingkat siaga kepada
dinas/instasi terkait, untuk kemudian diinformasikan kepada masyarakat
sesuai dengan Standar Prosedur Operasional Banjir.
10. Gawar/Pemberitaan Banjir (Pemberitaan) dilakukan dengan sirine,
kentongan, dan/atau sarana sejenis lainnya dari masing-masing pos
pengamatan berdasarkan informasi dari posko banjir.

Paska Bencana
A. Rehabilitatif

7
Fase rehabilitasi umumnya berlangsung selama 1 bulan dan diikuti fase
rekontruksi selama 6 bulan.Tahapan pada fase ini adalah,
a. Inventarisasi dan dokumentasi kerusakan sarana dan prasarana sumber
daya air, kerusakan lingkungan, korban jiwa, dan perkiraan kerugian yang
ditimbulkan;
b. Merencanakan dan melaksanakan program pemulihan, berupa:
rehabilitasi, rekonstruksi atau pembangunan baru sarana dan prasarana sumber
daya air; dan memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar fisik, pendidikan,
kesehatan, kejiwaan, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, lingkungan,
prasarana transportasi, penyusunan kebijakan dan pembaharuan struktur
penanggulangan bencana di pemerintahan.
B. Rekonstruksi
Fase ini meliputi pembangunan prasarana dan pelayanan dasar fisik,
umum, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, keamanan,
lingkungan, pembaharuan rencana tata ruang wilayah, sistem pemerintahan
dan lainnya yang memperhitungkan faktor risiko bencana.

Pengawasan
Salah satu tugas dinas dan/atau badan hukum yang mengelola wilayah sungai
adalah melaksanakan pengendalian banjir. Agar tugas tersebut dapat terlaksana
sebagaimana mestinya, maka diperlukan pengawasan oleh BPBD provinsi (atau
Satkorlak) dan BPBD kabupaten/kota (Satlak) yang meliputi:
pengawasan terhadap dampak dari banjir
pengawasan terhadap upaya penanggulangannya.

Kelembagaan
Pengaturan pengendalian banjir di suatu wilayah sungai diselenggarakan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, atau badan hukum sesuai kewenangan masing-
masing, yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh BNPB, BPBD provinsi (atau
Satkorlak), dan BPBD kabupaten/kota (Satlak).
8
Organisasi
Pengendalian banjir merupakan sebagian tugas yang diemban oleh pengelola
sumber daya air wilayah sungai. Untuk melaksanakan tugas tersebut, di dalam
struktur organisasi pengelola sumber daya air wilayah sungai terdapat unit yang
menangani pengendalian banjir.
Tugas-tugas unit yang menangani pengendalian banjir adalah:
1. Melaksanakan pengumpulan data, pembuatan peta banjir, penyusunan
rencana teknis pengendalian banjir;
2. Melaksanakan analisis hidrologi dan penyebab banjir;
3. Melaksanakan penyusunan prioritas penanganan daerah rawan banjir;
4. Melaksanakan pengendalian bahaya banjir, meliputi tindakan darurat
pengendalian dan penanggulangan banjir;
5. Menyusun dan mengoperasikan sistem peramalan dan peringatan dini
banjir;
6. Melaksanakan persiapan, penyusunan, dan penetapan pengaturan dan
petunjuk teknis pengendalian banjir; dan
7. Menyiapkan rencana kebutuhan bahan untuk penanggulangan banjir.

Sumber Daya Pendukung


Personil
a. Kelompok tenaga ahli
Tenaga ahli yang diperlukan adalah tenaga ahli yang memenuhi kualifikasi di
bidang sumber daya air, antara lain: bidang hidrologi, klimatologi, hidrolika, sipil,
elektro mekanis, hidrogeologi, geologi teknik, dan tenaga ahli lainnya yang
berhubungan dengan masalah banjir.
b. Kelompok tenaga lapangan
Dalam pelaksanaan pengendalian banjir, dibutuhkan petugas lapangan dalam
jumlah cukup, utamanya untuk kegiatan pemantauan dan tindakan turun tangan.

Sarana dan Prasarana


Peralatan dan bahan dalam rangka pengendalian banjir terdiri dari:
Peralatan hidrologi dan hidrometri (antara lain: peralatan klimatologi, AWLR,
ARR, extensometer);

9
Peralatan komunikasi (antara lain: radio komunikasi, telepon, faksimili);
Alat-alat berat dan transportasi (antara lain: bulldozer, excavator, truk);
Perlengkapan kerja penunjang (antara lain: sekop, gergaji, cangkul, pompa air);
Perlengkapan untuk evakuasi (antara lain: tenda darurat, perahu karet, dapur
umum, obat obatan);
Bahan banjiran (a.l. karung plastik, bronjong kawat, bambu, dolken kayu).

Dana
Dalam pengendalian banjir, diperlukan alokasi dana yang diupayakan selalu
tersedia. Dana yang diperlukan tersebut harus dialokasikan sebagai dana
cadangan yang bersumber dari APBN, APBD, atau sumber dana lainnya. Dana
cadangan disediakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Koordinasi
Lembaga Koordinasi
Berkaitan dengan pengendalian banjir, lembaga koordinasi yang ada adalah
Tim Penanggulangan Bencana Alam. Pada tingkat nasional adalah Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tingkat provinsi adalah BPBD
provinsi (jika belum dibentuk dikoordinir oleh Satkorlak PB), dan pada tingkat
kabupaten/kota adalah BPBD kabupaten/kota (jika tidak dibentuk dikoordinir
oleh Satlak PB).
Obyek yang dikoordinasikan dalam pengendalian serta penanggulangan banjir
dapat dipisahkan menjadi tahapan sebelum banjir, saat banjir, dan sesudah banjir.
Sebelum Banjir
a. Perencanaan rute evakuasi dan tempat penampungan penduduk.
b. Perencanaan program penyelamatan dan pertolongan kepada masyarakat.
c. Perencanaan rute pengiriman material penanggulangan pada tempat-tempat
kritis.
d. Perencanaan rute pengiriman logistik kepada masyarakat.
e. Perencanaan jenis dan jumlah bahan serta peralatan banjiran.
f. Penyiapan sarana dan prasarana pendukung serta Sumberdaya Manusia.
Saat Banjir
a. Evakuasian penduduk sesuai dengan prosedur.

10
b. Memberikan bantuan kepada penduduk.
Sesudah Banjir
a. Pemulihan kembali pemukiman penduduk, prasarana umum, bangunan
pengendali banjir, dan lain-lain.
b. Pengembalian penduduk ke tempat semula.
c. Pengamatan, pendataan kerugian dan kerusakan banjir.
Mekanisme Koordinasi
Koordinasi dalam pengendalian banjir dilakukan secara bertahap melalui
BPBD kabupaten (Satlak PB), BPBA, dan BNPB. Dalam forum koordinasi
tersebut, dilakukan musyawarah untuk memutuskan sesuatu yang sebelumnya
mendengarkan pendapat dari anggota yang mewakili instansi terkait.
Sistem Pelaporan
Dinas/Instansi/Badan hukum pengelola wilayah sungai melaporkan hal-hal
sebagai berikut:
a. Karakteristik banjir (antara lain: hidrologi banjir, peta daerah rawan banjir,
banjir bandang);
b. Kejadian banjir (antara lain: waktu, lokasi, lama dan luas genangan banjir);
c. Kerugian akibat banjir (antara lain: korban jiwa, harta benda, sosial ekonomi);
d. Kerusakan (antara lain: sarana dan prasarana, permukiman, pertanian,
perikanan, lingkungan);
e. Penanggulangan darurat; dan
f. Usulan program pemulihan secara menyeluruh.
Laporan tersebut di atas disampaikan kepada Bupati/ Walikota/ Gubernur/
Menteri sesuai dengan jenis dan tingkatannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sukirman, Ecep. Banjir Bandung Selatan Meluas! Pikiran Rakyat. Available at:
http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2017/03/08/banjir-bandung-selatan-meluas-
395555. March 18th 2017. Accessed on May 26th 2017.

11
2. Kecamatan Dayeuhkolot dalam Angkat Tahun 2015. Badan Pusat Statistik Kabupaten
Bandung. Available at : https://bandungkab.bps.go.id/ . Accessed on May 29th 2017.

12