Anda di halaman 1dari 28

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Meningkatnya usia harapan hidup setiap tahunnya merupakan masalah

baru dalam bidang geriatri, hal ini berkaitan dengan meningkatnya jumlah

lanjut usia di dunia yang membawa beberapa masalah kesehatan masyarakat,

antara lain yang dikaitkan dengan kemunduran fungsi kognitif dan mental

lansia. Usia lanjut adalah usia 60 tahun ke atas sesuai dengan definisi World

Health Organization yang terdiri dari (1) usia lanjut (elderly) 60-74 tahun, (2)

usia tua (old) 75-90 tahun, dan (3) usia sangat lanjut (very old) di atas 90

tahun. 1,2

Diperkirakan di seluruh dunia jumlah lanjut usia mencapai 500 juta orang

dengan rata-rata usia diatas 60 tahun taua lebih yang merupakan sepersepuluh

dari total seluruh penduduk, pada tahun 2050 menjadi seperlima dan pada

tahun 2150 menjadi sepertiganya. Di indonesia peratambahan jumlah lansia

dalam rentang waktu 1990-2025 tergolong yang tercepat di dunia. Data badan

pusat statistik menunjukkan pada tahun 2000 lansia berjumlah 14,4 juta jiwa

(7,18%). Pada tahun 2010 diperkirakan menjadi 23,9 juta jiwa

(9,77%) dan

pada tahun 2020 akan berjumlah 28,8 juta jiwa (11,34%). 2,3

Fungsi kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional,

termasuk

proses

belajar,

mengingat

menilai,

orientasi,

presepsi

dan

memperhatikan. Gangguan fungsi kognitif adalah gangguan fungsi luhur otak,

berupa gangguan orientasi, perhatian, konsentrasi, daya ingat dan bahasa serta

fungsi intelektual yang ditandai dengan adanya gangguan dalam berhitung,

bahasa,

daya ingat, dan pemecahan masalah. Mild cognitive impairment

(MCI) didefinisikan

sebagai fungsi kognitif di bawah normal tetapi tidak

cukup untuk diagnoisi dimensia, dimana MCI perubahan kognitif yang terjadi

tidak berat dan tidak mengganggu aktivitas harian. 4

Pengetahuan dan perhatian masyarkat terhadap gangguan kognitif yang

terjadi pada usia lanjut saat ini masih sangat kurang, dimana masyarakat

cenderung menganggap hal tersebut sebagai suatu proses yng wajar akibat

penuaan. Dan pada umumnya masyrakat baru akan meminta pertolongan

dengan pengobatan seteah adanya gangguan kognitif yan berat dan gangguan

prilaku serta demensia , sehinggga penatalaksanaannya tidak memberikan

hasil yang maksimal. 2

Penilaian fungsi kognitif dengan pemeriksaan MMSE (mini mental State

Examination) adalah salah satu cara penapisan adanya gangguan kognitif

secara

dini.

Penantalaksanaan

gangguan

kognitif

secara

dini

dapat

menyembuhkan dan memperlambat progresifitas penyakit, sehingga individu

yang bersangkutan dapat mempunyai kualitas hidup yang baik. 3

1.2 Batasan Masalah

Makalah

ini

membahas

tentang

definisi,

epidemiologi,

etiologi

dan

patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi serta pencegahan dari

Mild Cognitive Impairment.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui definisi, epidemiologi, etiologi

dan patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi serta pencegahan

dari Mild Cognitive Impairment., sekaligus sebagai syarat dalam mengikuti

kepaniteraan klinik di bagian neurologi RSUD Padang Panjang

1.4 Metode Penulisan

Penulisan

makalah

ini

disusun

berdasarkan

merujuk kepada beberapa literatur.

tinjauan

kepustakaan

yang

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Mild Cognitive Impairment (MCI) merupakan stadium gangguan kognitif

dibawah normal yang terkait dengan penambahan usia, akan tetapi MCI berbeda

dengan penyakit Alzheimer atau demensia lainnya; perubahan kognitif pada MCI

tidak berat dan tidak mengganggu aktivitas harian

sebagai

stadium/

tahapan

intermediate

penurunan

MCI juga dapat diartikan

kognitif,

terutama

yang

mengenai gangguan fungsi memori, yang diduga merupakan prediktif demensia,

terutama demensia Alzheimer. MCI terutama dipergunakan sebagai “peringatan”

bahwa

penyandangnya

mempunyai

resiko

tinggi

untuk

mengidap

demensia

„‟/Alzheimer dan merupakan fase transisi antara gangguan memori fisiologis dan

patologis. 5,6,7

MCI dapat diklasifikasi menjadi 2 subtipe berdasarkan keterlibatan fungsi

memoris yaitu :

1. Amnestic MCI

Seseorang dapat melupakan informasi penting yang harusnya diingat

dengan mudah, sperti pertemuan, percakapan, dan kejadian yang baru terjadi.

Namun

kapasitas

kognitif

lainnya

seperti

fungsi

eksekutif,

bahasa,

dan

kemampuan

visuospasial

masih

baik,

dan

aktivitas

fungsional

masihnormal.Amnestic MCI bisa meruoakan tanda awal dari alzeimer dimana

penderita amnestic MCI menjadi pendeita Alzeimer dalam kurumn wktu 6

tahun.

2. Non Amnestic MCI

Pada penderita Non Amnestic MCI kemampuan berpikir berdampak pada

saat membuat keputusan dan menyelesaikn tugas yang komplek. Non Amnestic

MCI

relatif

jarang

terjadi

dan

dapat

dihubungkan

dengan

kelainan

serebrovaskuler,

lewy

body

dementia,

degenerasi

lobus

frontal,

penyakit

parkinson, atau penyebab patologi tidak spesifik.

2.2 Epidemiologi

Diperkirakan

prevalensi

MCI

dalam

populasi

berkisar

10-20%

pada

populasi lebih dari 60 tahun. Prevalensi meningkat seiiring usia, yaitu 10%

pada usia 70-79 tahun, dan 25 %pada usia 80-89 tahun, dan dikatakan bahwa

10-15% MCI akan berlanjut berlanjut menjadi demensia. Di Amerika Serikat

Prevalensi MCI sekitar 3-4% dalam dekade ke 8 pada populasi umum dan

19,2% untuk usia65-74 tahun, 27,6 % untuk usia 74-84 tahun, dan 38 % untuk

usai 85 tahun. 6,8

2.3 Etiologi dan Faktor Resiko

Penyebab MCI belum diketahui. Beberapa ahli percaya bahwa pada

sebgian

kasus

ditemukan

perubahan

pada

otak

yang

merupahan

tahapawal

penyakit alzeimer dan dementia. Faktor resio MCI dihubungkan dengan :2,6,9

1. Usia lanjut.

2. Riwayat keluarga menderita demensia

3.

Merokok.

Merokok pada usia pertengahan berhubungan dengan kejadian gangguan

fungsi

kognitif

pada

usia

lanjut,

sedangkan

status

masih

merokok

dihubungkan dengan peningkatan kejadian insiden demensiaa

4. Hipertensi

5. Hiperkolesterolemia

6. Kurang aktivita fisik

Orang yang giat olahraga memiliki kemampuan penalaran, ingatan,

dan waktu reaksi lebih baik daripada mereka ynag kurang atau tidak

pernaholahraga

7. Kurang rangsangan mental atau aktivitas sosial.

8. Diabetes Militus

9. Depresi

2.4 Patofisiologi

Patofisiologi MCI secara anatomi yaitu adanya disfungsi atau atrofi

struktur mikro dan makro di lobus temporal (regio dimana terkait dengan

pembentukan dan konsolidasi memori jangka panjang), area midbrain (

hipokampus dan parakampus), lobus paarietal ( terutama bagian inferior

yang dan medial), serta frontolimbik termauuk frontal, insular, amigdala.

Secra fungsionaal patofisiologi terjadi meliputi : disfungsi dan perubahan

energi (pada proses glikolisis dan proses dlam mitokondria), abnormalitas

disfungsi struktural neuritik, eksitoksisitas, abnormalitaslipid dan disfungsi

kolinergik,

disfungsi

sistem

deteoksifikasi

(antioksidan),

disfungsi

signaling sel, dan adanaya perubahan sintesis protein. 7

2.5

Gambaran Klinis 12

Mudah lupa, merupakan gejala tersering dari MCI

Gangguan dalam bahasa (Kesulitan menemukan kata-kata)

Penurunan atensi ( kesulitan untuk fokus dalam percakapan)

Kemerosotan

dalam

keterampilan

visuospatial

(misalnya,

disorientasi di lingkungan yang tidak dikenal )

2.6 Diagnosis

MCI

adalah

diagnosis

diagnosis MCI meliputi : 6

secar

klinis

dan

diagnosis

defintif.

Kriteria

a. Keluhan kognitif (memori, bahasa, konsentrasi, perhatian,

kemampuan visuospasial)

b. satu

Terdapat

atau

lebih

fungsi

kognitif

abnormal

di

usianya.

Adanya

c. penurunan

dari

satu

atau

lebih

aspek

fungsi

kognitif

d. Aktivitas fungsioanl normal

 

e. Tidak ada dementia

Semua

pasien

yang

diduga

adanya

gangguan

kognitif

harus

dilakukan

penilaian

yang

menyeluruh

tentang

riwayat

penyakit

dan

pemeriksaan fisik yang difokuskan pada fungsi kognitif, status fungsional,

obat-obatan ( pengguanaan antikolinergik, opiat, bendodiazepine, digoksin

antihistamin, anti depresan, muscle relaxan dan antiepilepsi dikatakn

berpengaruh dengan gangguan kognitif), abnormalitas neurologik

dan

psikiatrik dan pemeriksaan laboratorium. 10

Fungsi Kognitif

Riwayat

perubahan

fungsi

kognitif

harus

digali

dengan

menyeluruh. Penilaian fungsi kognitif sukses

untuk menilai demensia di

tingkat layanan primer, tetapi instruemn yang sensitif untuk menilai MCI

sangat rendah dan diagnosis dini untuk MCI perlu ditingkatkan. The

Montreal Cognitive Assesment (MoCA) adalah instrumen yang dipakai

untuk mendeteksi MCI dan hanya diperlukan waktu 10 menit untuk

penilaiannya.

Tingkat

sensitivitas

dari

MoCA

sekita

80-100%

dan

spesifisitanya 50-75% untuk mendeteksi MCI. Intrumen lain yang dapat

digunakan untuk menilai MCI adalah MMSE dengan tingkat sensitivitas

45-60

%

dan

spsifisitas

65-90%.

Sebuah

studi

menyatakan

bahwa

penggunaan MoCA dan MMSE menjadi lebih sensitive dalam mendeteksi

MCI yang dibandingkan dengan tingkat kognitif yang normal. 10

Fungsi kognitif seseorang meliputi : 6

Orientasi : dinilai dari pengacuan pada personal (kemampuan

menyebutkan nama sendiri ketika ditanya), tempat ( diniali dengan

menanyakan negara, provinsi, kota atau lokasi), dan waktu (dinilai

dengan menanyakan tahun,musim, bulan, hari dan tanggal).

Bahasa :

terdapat 4 parameter yang dinilai meliputi kelancaran,

pemahaman, pengulangan, dan naming ( kemampuan seseorang

dalam menamai suatu objek dengan bagian-bagiannya.

Atensi

:

dimana

merujuk

pada

kemampuan

seseorang

untuk

merespon stimulus dengan mengabaikan stimulus yang lain di luar

lingkungannya terdiri dari aspek konsentrasi dan dapat mengingat

segera (<30detik)

Memori : meliputi memeori baru (diperoleh pada beberapa menit

atau hari yang lalu, memeori lama ( yang diperoleh beberapa

minggu

atau

tahun-tahun

yang

lalu),

memori

visula

(

untuk

mengingat kembali informasi berupa gambar).

Fungsi kontruksi : mengacu pada kemampuan seseorang untuk

membangun

dengan

sempurna,

seseorang menyain gambar.

misalnya

dengan

meminta

Kalkulasi : kemampuan seseorang untuk menghitung angka.

Penalaran

:

kemampuan

buruknya suatu hal.

Evaluasi Neurologik dan Psikiatrik

seseorang

untuk

memebedakan

baik

Seorang klinisi harus memfokuskan dalam penemuan gejala neurologik

dan psikiatrik, pemeriksaan nurologik secara menyeluruh, menilai adanya depresi

pada seseorang yang diduga menderita MCI. Gejala dapat berupa gangguan

mendengar, gangguan tidur dan bernapas, perubahan personaliti dan kebiasaan

(bisa

dipikirkan

adanya

depresi,

gangguan

tyroid,

dmentia

frontoremporal),

halusinansi

visual

(

Lewy-body

dementia,

depresi

dengan

gejala

psikotik),

perasaan geli atau mati rasa di ekstremitas (neuropati), pusing saat berdiri (

hipotensi

orthostatik),

perubahan

dalam

berbicara

(

stroke,

parkinson)

dan

perubahan gaya jalan ( stroke, tekanan normal dari hidrosefalus). Penilaian status

neurologi

secara

menyeluruh

termasuk

orthostatik

hipotensi,

extraocular

movement, penglihatan, pendengaran, bicara, kelemahan fokal, keseimabnagn dan

gaya berjalan sangat berguan untuk mengidentifikasi kontribusi yang potensial

yang berhubungan dengan kemunduran kognitif. 10

potensial yang berhubungan dengan kemunduran kognitif. 1 0 Gambar 1. Alur Diagnosis MCI 1 1 Pemeriksaan

Gambar 1. Alur Diagnosis MCI 11

Pemeriksaan Diagnostik

1.

Neuroimaging

Pemeriksaan neuroimaging tidak merupakan pemriksaan rutin yang

direkomendasikan,

tetapi

hal

ini

dilakukan

untuk

mencari

kemungkian penyebab dan menentukan prognosis. MRI digunakan

berguna

untuk

mengidentifikasi

MCI

dan

mementukan

progresifitasnya

akan

berlanjut

ke

demensia.

Pengukuran

volumetrik dari atrofi di hipocampus diduga merupakan MCI dan

terbukti

berkolerasi

dengan

progresifitas

penyakit

menjadi

demensia. MRI untuk melihat struktur otak dapat menyingkirkan

penyebab

potensial

lain

untuk

penurunan

kognitif,

seperti

hematoma subdural, stroke, normal pressure hidrosefalus, atau

tumor,

jadi

harus

dipertimbangkan

jika

pada

anamnesis,

pemeriksaan fisik, atau laboratorium menunjukkan salah satu dari

penyebab ini. 6,11

menunjukkan salah satu dari penyebab ini. 6 , 1 1 Gambar 2. MRI koronal pada pasien

Gambar 2. MRI koronal pada pasien dengan fungsi kognitif

normal, MCI, dan penyakit Alzeimer. 6,10

2. Pemeriksaan Laboratorium

Tidak ada pemeriksaan laboratorium khusus untuk MCI. Pemeriksaan

laboratorium darah lengkap, elektrolit, glukosa, kalsium, fungsi tiroid,

vitamin B 12 berguna untuk mengdentifikasi bentuk reversible dari

MCI termasuk infeksi, gangguan ginjal, hipo atau hipermagnesemia,

hiperglikemia, hipo atau hiporkalemia, hipo atau hipertiroidisme, dan

def vit B12. 6,11

Gambar 3. Progresivitas dari Penuaan Menjadi Penyakit Alzheimer 2.7 Tatalaksana 1. Non farmakologi dan Demensia

Gambar 3. Progresivitas dari Penuaan Menjadi Penyakit Alzheimer

2.7 Tatalaksana

1. Non farmakologi

dan Demensia lainnya. 6

Latihan dan aktivitas fisik duhubungkan dengan rendahnya resiko

demensia. Hal tersebut tiak hanya terkait dengan jumlah kalori dan jumlah

kegiatan tapi juga dikatakan adanya hubungan antara latihan dan stimulasi

kognitif. Dari penelitian didapatkan bahwa latihan fisik (150 menit)

selama

6

bulan

dapat

meningkatkan

fungsi

kognitif.

Konsumsi

diet

mediterania tinggi serat (buah dan sayur) dan rendah lemak juga dikatakan

dapat mengurangi perkembangan dari MCI. 6,9,11,12

2. Farmakologi

Donepazil , 10 mg/ hari dikatakan berhubungan dengan penurunan

progresifitas MCI menjadi alzheimer dalam 2 tahun pertama. 6,11

2.8 Prognosis

MCI yang berubah menjadi demensia terjadi antara <5% -12/20% dalam

penelitian populasi. Progresifitas pasien dengan MCI (40-70%) tidak berkembang

menjadi demesia dalam 10 tahun. Hal yang terpenting, beberapa pasien MCI (15-

20%)

fungsi

kognitif

membaik

dalam

2

tahun

kemudaian.

Penelitian

oleh

Rountree et al menunjukkan 56% amnestic MCI berubah menjadi alzheimer dan

56 % dari non amnestic MCI berubah jadi Alzheimer. Boyle et al mengatakan

bahwa pasien dengan MCI 7 kali lipat dapat terkena alzheimer daripada usia

lanjut tanda adanya riwayat MCI. 10,12

BAB III

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN :

Nama

: Ny. A

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 56 tahun

MR

: 98 76 33

Agama

: Islam

Status

: Menikah

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Suku

: Minang

BB

: 60 kg

TB

: 155 cm

Keadan Gizi

: Overweight

Alamat

: Kuranji, Padang

Tgl masuk

: 21 Agustus 2017

Seorang pasien perempuan usia 56 tahun di b poli Neurologi RS. DR.

M. Djamil Padang tanggal 21 Agustus 2017. Dilakukan anamnesis secara auto

dan alloanamnesis :

Keluhan utama :

Sering lupa

Riwayat Penyakit Sekarang :

Sering lupa sejak 3 bulan terakhir. Pasien merasakan hal ini terjadi

secara perlahan-perlahan. Awalnya pasien lupa tanggal dan hari,

kesulitan mengingat nama orang baik yang baru dikenal maupun

teman

lama.

Pasien

juga

dipegang sebelumnya.

sering

lupa

Pasien

sering mengulang pertanyaan

dilakukan sebelumnya.

meletakkan

barang

yang

dan

pekerjaan

yang telah

Pasien

masih

dapat

melaksanakan

kegiatan

sehari-hari.

Tidak

kesulitan saat menentukan arah jalan.

Sakit kepala tidak ada

Tidak ada pemakaian obat-obatan sebelum pasien mengalami gejala

ini.

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak pernah menderita sakit seperti ini sebelumnya

Riwayat trauma kepala tidak ada

Riwayat hipertensi, riwayat DM, sakit jantung, stroke tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

Tidak

ada

keluarga

yang

menderita

tinggi,jantung dan stroke.

sakit

gula,

Riwayat Pekerjaan dan Sosio Ekonomi

tekanan

darah

Pasien seorang IRT, tinggal dengan keluarga, aktivitas fisik ringan-sedang.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum

: tampak sakit ringan

Kesadaran

: GCS 15 (E4 M6 V5)

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 88x/menit

Napas

: 18x/menit

Suhu

: 36,5 o C

Status Internus

Rambut Kulit dan kuku KGB

: tidak mudah dicabut. : tidak ditemukan sianosis : tidak ditemukan pembesaran

Keadaan regional

Kepala

: tidak ditemukan kelainan

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Hidung

: tak ditemukan kelainan

Telinga

: tidak ditemukan kelainan

Leher

: JVP 5-2 cmH2O

PARU

Inspeksi

: simetris kiri=kanan

Palpasi

: fremitus kanan=kiri

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: vesikuler N, ronkhi(-), wheezing(-)

JANTUNG

Inspeksi

: ictus tidak terlihat

Palpasi

: ictus teraba 1 jari medial LCMS RIC V

Perkusi

: Kiri

: 1 jari medial LMCS RIC V

Kanan

: linea sternalis dextra

Atas

: RIC II

Auskultasi

: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)

ABDOMEN

Inspeksi

: tak tampak membuncit

Palpasi

: supel, hepar dan lien tak teraba

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus (+) Normal

Status Neurologis Kesadaran CMC, GCS 15 (E4 M6 V5)

Status Neurologis

1. Tanda Rangsangan Selaput Otak

Kaku kuduk

: (-)

Brudzinski I

: (-)

Brudzinski II

: (-)

Tanda Kernig

: (-)

2. Tanda Peningkatan Tekanan Intrakranial

Pupil

Muntah proyektil (-) sakit kepala progresif (-)

: Isokor, Ø 3mm/3 mm, Refleks cahaya +/+

3. Pemeriksaan Nervus Kranialis N.I (Olfaktorius)

Penciuman

 

Kanan

 

Kiri

Subjektif

 

Baik

 

Baik

Objektif (dengan bahan)

 

Baik

 

Baik

N.II (Optikus)

Penglihatan

Kanan

 

Kiri

Tajam Penglihatan

Baik

 

Baik

Lapangan Pandang

Baik

 

Baik

Melihat warna

Baik

 

Baik

Funduskopi

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

N.III (Okulomotorius)

 

Kanan

Kiri

Bola Mata

Bulat

Bulat

Ptosis

-

-

Gerakan Bulbus

Bebas ke segala arah

Strabismus

-

-

Nistagmus

 

-

Ekso/Endopthalmus

-

-

Pupil

   

Bentuk

Bulat, isokor

Bulat, isokor

Refleks Cahaya

(+)

(+)

Refleks Akomodasi

(+)

(+)

Refleks Konvergensi

(+)

(+)

N.IV (Troklearis)

 

Kanan

Kiri

Gerakan mata ke bawah

Baik

Baik

Sikap bulbus

Ortho

Ortho

Diplopia

(-)

(-)

N.VI (Abdusens)

 

Kanan

Kiri

Gerakanmata kemedial bawah

Baik

Baik

Sikap bulbus

Ortho

Ortho

Diplopia

(-)

(-)

N.V (Trigeminus)

 

Kanan

Kiri

Motorik

   

Membuka mulut

(+)

(+)

Menggerakan rahang

(+)

(+)

Menggigit

(+)

(+)

Mengunyah

(+)

(+)

Sensorik

   

-Divisi Oftlamika

   

Refleks Kornea

(+)

(+)

Sensibilitas

Baik

Baik

-Divisi Maksila

   

Refleks Masseter

(+)

(+)

Sensibilitas

Baik

Baik

-Divisi Mandibula

   

Sensibilitas

Baik

Baik

N.VII (Fasialis)

 

Kanan

Kiri

Raut wajah

Baik

Baik

Sekresi air mata

(+)

(+)

Fisura palpebra

Baik

Baik

Menggerakan dahi

Baik

Baik

Menutup mata

Baik

Baik

Mencibir/bersiul

 

Baik

Memperlihatkan gigi

Baik

Baik

Sensasi lidah 2/3 belakang

Baik

Baik

Hiperakusis

(-)

(-)

Plika nasolabialis

Baik

Baik

N.VIII (Vestibularis)

 

Kanan

Kiri

Suara berbisik

(+)

(+)

Detik Arloji

(+)

(+)

Rinne test

   

Webber test

 

Scwabach test

   

Memanjang

 

Memendek

   

Nistagmus

   

Pendular

(-)

(-)

Vertical

   

Siklikal

   

Pengaruh posisi kepala

(-)

(-)

N.IX (Glosofaringeus)

 

Kanan

Kiri

Sensasi Lidah 1/3 belakang

Baik

Baik

Refleks muntah (gag refleks)

(+)

(+)

N.X (Vagus)

 

Kanan

Kiri

Arkus faring

 

Simetris

Uvula

 

Di tengah

Menelan

Baik

Baik

Artikulasi

 

Baik

Suara

 

Baik

Nadi

 

Teratur

N.XI (Asesorius)

 

Kanan

Kiri

Menoleh kekanan

Baik

 

Menoleh kekiri

 

Baik

Mengangkat bahu kanan

Baik

 

Mengangkat bahu kiri

 

Baik

N.XII (Hipoglosus)

 

Kanan

Kiri

Kedudukan lidah dalam

Simetris

 

Kedudukan lidah dijulurkan

   

Simetris

Tremor

(-)

 

(-)

Fasikulasi

(-)

(-)

Atropi

(-)

(-)

Pemeriksaan Koordinasi

Cara Berjalan

Baik

Disatria

   

(-)

Romberg test

(-)

Disgrafia

   

(-)

Ataksia

(-)

Supinasi-Pronasi

   

(-)

Rebound Phenomen

 

(-)

Tes Jari Hidung

   

(-)

Tes Tumit Lutut

(-)

Tes Hidung Jari

   

(-)

Pemeriksaan Fungsi Motorik

 

A. Badan

Respirasi

   

Teratur

 
 

Duduk

   

Dapat dilakukan

B.Berdiri dan

Gerakan spontan

(-)

(-)

 

berjalan

 
 

Tremor

 

(-)

(-)

 
 

Atetosis

 

(-)

(-)

 
 

Mioklonik

 

(-)

(-)

 
 

Khorea

 

(-)

(-)

 

C.Ekstermitas

 

Superior

   

Inferior

 

Kanan

Kiri

Kanan

Kiri

Gerakan

 

Aktif

Aktif

Aktif

Aktif

Kekuatan

 

555

555

555

555

Tropi

 

Eutropi

Eutropi

Eutropi

Eutropi

Tonus

Eutonus

Eutonus

Eutonus

Eutonus

Pemeriksaan Sensibilitas

Sensibilitas taktil

Baik

Sensibilitas nyeri

Baik

Sensibilitas termis

Baik

Sensibilitas kortikal

Baik

Stereognosis

Baik

Pengenalan 2 titik

Baik

Pengenalan rabaan

Baik

Sistem Refleks

A. Fisiologis

Kanan

Kiri

 

Kanan

Kiri

Kornea

(+)

(+)

Biseps

(++)

(++)

Berbangkis

   

Triseps

(++)

(++)

Laring

   

KPR

(++)

(++)

Masseter

   

APR

(++)

(++)

Dinding Perut

   

Bulbokavernosa

   

Atas

   

Creamaster

   

Tengah

   

Sfingter

   

Bawah

         

B. Patologis

Kanan

Kiri

 

Kanan

Kiri

Lengan

   

Tungkai

   

Hofmann Tromner

(-)

(-)

Babinski

(-)

(-)

     

Chaddoks

(-)

(-)

     

Oppenheim

(-)

(-)

     

Gordon

(-)

(-)

     

Schaeffer

(-)

(-)

     

Klonus paha

   
     

Klonus kaki

   

Fungsi Otonom

Miksi : baik, aninhibited bladder tidak ada

Defikasi : baik

Keringat : baik

Fungsi Luhur

Kesadaran

 

Tanda Demensia

 

Reaksi bicara

Baik

Refleks glabela

(-)

reaksi intelek

Baik

Refleks Snout

(-)

Reaksi emosi

Baik

Refleks Menghisap

(-)

   

Refleks Memegang

(-)

   

Refleks palmomental

(-)

Mini Mental State Examination :

Orientasi

: 10

Registrasi

: 2

Atensi dan kalkulasi

: 3

Recall

: 0

Bahasa

:5

Jumlah

:20

Kesan : Kemungkinan gangguan kognitif

Moca Ina :

Visuapasial dan fungsi kognitif

: 3/5

Penamaan

: 3/3

Memori

:

-

Atensi

: 3/6

Bahasa

:2/3

Abstraksi

:1/1

Memori tunda

:3/5

Orietasi

:5/6

Jumlah : 20

Kesan : terdapat gangguan kognitif

Diagnosis Klinis

: MCI tipe amnestik

Diagnosis Topik

: korteks serebri

Diagnosis Etiologi

: Degeneratif

Pemeriksaan Anjuran : - Pemeriksaan Laboratorium

Penatalaksanaan :

- CT Scan

1. Manajemen Umum : rehabilitasi kognitif

2. Khusus

Nutrisi

: 10 mg donepezil 1x1

BAB 4

DISKUSI

Telah diperiksa seorang parempuan berumur 56 tahun yang di poli Neurologi RS DR M Djamil Padang dengan diagnosis klinik MCI tipe amnestik

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dari anamnesis diketahui pasien sering lupa sejak 3 bulan terakhir. Pasien merasakan hal ini secara perlahan-perlahan. Awalnya pasien lupa tanggal dan hari, kesulitan mengingat nama orang baik yang baru dikenal maupun teman lama. Pasien juga sering lupa meletakkan barang yang dipegang sebelumnya. Pasien sering mengulang pertanyaan dan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya. Pasien masih dapat melaksanakan

kegiatan sehari-hari. Tidak kesulitan saat menentukan arah jalan. Sakit kepala tidak ada. Tidak ada pemakaian obat-obatan sebelum pasien mengalami gejala ini.

Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan dan dari pengisian kuesioner MMSE dan MOCA INA didapatkan pada hasil MMSE 20 dan MocaIna 20, dari pemeriksaan didapatkan kesan kemungkinan terdapat gangguan kognitif. Pada kasus ini, MCI kemungkinan disebabkan oleh proses degenerasi otak.

Penatalaksanaan pada pasien ini yaitu donepezil yang berguna untuk memperbaiki fungsi kognisi, menurunkan inaktivasi dari neurotransmitter asetilkolin sehingga meningkatkan potensi neurotransmitter kolinergik yang pada gilirannya menimbulkan perbaikan memori dan fungsi kognitif. Pengobatan dengan donepezil juga mampu menjaga airan darah otak sehingga mampu mencegah progresifitas keparahan dari gangguan fungsi kognitif yang diderita pasien.

Penatalaksanaan non farmakologis pada penderita MCI antara lain program aktivitas harian penderita ( kegiatan harian yang teratur dan

sistematis, misalnya aktivitas fisik yang baik, olahraga), serta orientasi realitas ( penderita diingatkan akan waktu dan tempat). Program aktivitas fisik dalam berbagai literatur disebutkan dapt meningkatkan efek neurotropin di otak, yang akan memperbaiki fungsi serebrovaskuuler dan perfusi otak, juga dapat mengurangi respon stres. Aktivitas fisik yang dianjurkan adalah yang bersifat aerobik dalam waktu 30 menit latihan dengan intensitas sedang dengan frekuensi hampir tiap hari.

27

27

28