Anda di halaman 1dari 14

REVISI

KEPEMIMPINAN VISIONER KEPALA SEKOLAH


DALAM PENGIMPLEMENTASIAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI

Erfan1, Imron Arifin2, Ery Tri Djatmika3


Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Pendidikan
Universitas Negeri Malang
Email: curuerfan@yahoo.com

Abstrak: Pendidikan budi pekerti diperlukan bukan hanya sebagai subtansi


tetapi lebih mendasar sebagai interaksi sosial budaya dan edukatif antara
siswa dengan seluruh unsur pendidikan yang ada di sekolah dan di luar
sekolah / masyarakat yang kemungkinkan terwujudnya individu yang
berakhlak mulia. Dalam pengimplementasian pendidikan budi pekerti di
sekolah dibutuhkan kepemimpinan visioner yang berorientasi kepada
pencapaian visi, jauh memandang ke depan dan terbiasa menghadapi
segala tantangan dan resiko. Implementasi pendidikan berbudi pekerti di
sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip yaitu; berfokus
pada visi, misi, dan tujuan sekolah, penciptaan komunikasi formal dan
informal, inovatif dan bersedia mengambil risiko, dan memiliki strategi
yang jelas.
Kata kunci: pendidikan budi pekerti, kepemimpinan visioner,
implementasi pendidikan budi pekerti.

Perilaku serta budi pekerti dari para nilai-nilai budi pekerti sangat penting
pelajar atau remaja saat ini sangatlah karena berfungsi sebagai media
memprihatinkan, tingkah laku dari transformasi manusia Indonesia agar
seorang siswa kini sudah jarang lebih baik, memiliki keunggulan dan
mencerminkan sebagai seorang pelajar. kecerdasan di berbagai bidang; baik
Diantara mereka cenderung bertutur kecerdasan emosional, kecerdasan
kata yang kurang baik, terkadang sosial, kecerdasan spiritual, kecerdasan
mereka bertingkah laku tidak sopan dan kinestika, kecerdasan logis, musikal,
tidak lagi patuh terhadap orang tua lenguistik, kecerdasan spesial.
maupun terhadap gurunya. Hal ini tentu Pendidikan budi pekerti
saja dipengaruhi oleh kondusif tidaknya diperlukan bukan hanya sebagai
pendidikan budi pekerti yang mereka subtansi yang semata-mata diajarkan
dapatkan, baik dari lingkungan sekolah seperti yang selama ini dilaksanakan
maupun lingkungan masyarakat. oleh sekolah, tetapi lebih mendasar
Habibah (2007) mengungkapkan bahwa sebagai interaksi sosial budaya dan
edukatif antara siswa dengan seluruh sekolah sejak hari pertama sekolah
unsur pendidikan yang ada di sekolah hingga masa kelulusan. Tujuan dari
dan di luar sekolah / masyarakat yang implementasi penumbuhan budi pekerti
memungkinkan tumbuh dan adalah menjadikan sekolah sebagai
berkembangnya serta terwujudnya taman belajar untuk menumbuhkan
individu yang berakhlak mulia. karakter-karakter positif peserta didik di
Sebagaimana dijelaskan Sanchez (2006) semua tingkatan sekolah.
Salah satu penyebab kurang Faktor utama dalam
berhasilnya pendidikan nasional yang keberhasilan penumbuhan budi pekerti
telah dilakukan secara formal di sekolah di sekolah adalah guru, sebagai pengajar
adalah karena terlalu menekankan pada dan pendidik dalam membentuk
pendidikan akademis yang fokusnya perilaku peserta didik. Terlepas dari itu
pada kecerdasan intelektual. Oleh peranan kepala sekolah juga sangat
karena itu perlu adanya suatu dibutuhkan, sebagaimana diketahui,
keseimbangan antara pendidikan kepala sekolah merupakan pemimpin di
akademis dan pendidikan budi pekerti. tingkat satuan pendidikan. Seorang
Mengingat betapa pentingnya budi pemimpin memiliki jiwa kepemimpinan
pekerti untuk terjaminnya moral bangsa dalam memimpin di tingkat satuan
yang baik. pendidikan. Danim dan Suparna, (2009)
Perkembangan peserta didik menyatakan kepemimpinan merupakan
dalam kecerdasan berpikir, budi pekerti energi untuk mempengaruhi dan
akhlak dan kesehatan mental adalah memberi arah yang terkandung dalam
tugas dunia pendidikan atau khusus diri pribadi pemimpin. Wibowo, U. B.
ditujukan kepada sekolah. Hal ini telah (2011) juga mengutarakan bahwa
ditegaskan dengan diresmikannya kepemimpinan merupakan perwujudan
Permendiknas No. 23 Tahun 2015 kepribadian individu dalam
Tentang Penumbuhan Budi Pekerti, kedudukannya yang dipandang lebih
Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa dari individu lain. Oleh karena itu
penumbuhan budi pekerti tersebut pemimpin yang mempunyai visi
adalah pembiasaan sikap dan perilaku kedepan diharapkan mampu menjadikan
positif yang diterapkan terhadap siswa sekolah sebagai tempat untuk

2
menumbuhkembangkan kebiasaan yang keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian,
baik sebagai bentuk pendidikan budi
kecerdasan, akhlak mulia,
pekerti. serta keterampilan yang
diperlukan dirinya,
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI masyarakat, bangsa dan
Negara.
Istilah pendidikan berasal dari
kata paedagogi, dalam bahasa Yunani Budi pekerti terdiri dari 2 kata
pae artinya anak dan ego artinya yaitu budi dan pekerti, kata budi
membimbing, berdasarkan hal tersebut mempunyai arti: akhlak yaitu sebagai
pendidikan dapat diartikan sebagai ilmu alat untuk menimbang baik dan buruk,
dan seni membimbing anak. Driyarkara serta tingkah laku dan tutur kata, dan
(Istiqomah, 2003) menyatakan bahwa pekerti adalah tabiat, perangai, akhlak
pendidikan adalah suatu usaha secara (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008).
sadar yang dilakukan oleh pendidik Dalam arti yang lebih hakiki, budi
melalui bimbingan atau pengajaran dan pekerti adalah perilaku. sedangkan
latihan untuk membantu peserta didik Secara etimologis, istilah budi pekerti,
mengalami proses pemanusiaan diri ke atau dalam bahasa Jawa disebut budi
arah tercapainya pribadi dewasa, susila pakerti, dimaknai sebagai budi berarti
dan dinamis. Pendidikan merupakan pikir, dan pakerti berarti perbuatan.
sarana proses mendidik agar peserta Berangkat dari kedua makna kata budi
didik secara aktif dapat dan pakerti tersebut, Ki Sugeng
mengembangkan potensi dirinya. Hal Subagya (2010) mengartikan istilah
ini sejalan dengan UU RI No. 20 tahun budi pakerti sebagai perbuatan yang
2003 tentang Sistem Pendidikan dibimbing oleh pikiran; perbuatan yang
Nasional pasal I adalah : merupakan realisasi dari isi pikiran;
Pendidikan adalah usaha atau perbuatan yang dikendalikan oleh
sadar dan terencana untuk pikiran. Menurut Zubaedi (2011), budi
mewujudkan suasana
belajar dan proses pekerti adalah nilai-nilai luhur yang
pembelajaran agar peserta berakar dari agama, adat istiadat dan
didik secara aktif
mengembangkan potensi budaya bangsa Indonesia dalam rangka
dirinya untuk memiliki mengembangkan kepribadian peserta
kekuatan spiritual

3
didik supaya menjadi manusia yang mengandung nilai-nilai yang berlaku
baik. Sejalan dengan itu, Sedyawati dan dianut dalam bentuk jati diri, nilai
(Suparno, 2002) menyatakan, budi persatuan dan kesatuan, integritas, dan
pekerti merupakan adat istiadat, sopan kesinambungan masa depan dalam
santun dan perilaku. Sedangkan suatu sistem moral, dan yang menjadi
menurut Ki Hajar Dewantara pedoman prilaku manusia Indonesia
(Endraswara, 2003), budi pekerti adalah untuk bermasyarakat, berbangsa dan
perilaku seseorang yang didasarkan bernegara dengan bersumber pada
pada kematangan jiwanya. Kematangan falsafah Pancasila dan diilhami oleh
jiwa akan melahirkan budi pekerti ajaran agama serta budaya Indonesia
luhur, artinya sikap dan perilaku Pendidikan budi pekerti
seseorang disamping didasarkan memiliki makna yang sama dengan
kematangan jiwa juga diselaraskan pendidikan moral, pendidikan karakter,
dengan kaidah sosial yang berlaku di pendidikan akhlak, dan pendidikan
masyarakat sekitarnya. Orang yang nilai. Pendidikan budi pekerti
berbudi pekerti luhur dalam bertindak merupakan pendidikan nilai-nilai luhur
akan menggunakan perasaan, pemikiran yang berakar dari agama, adat
dan dasar pertimbangan yang jelas. istiadat dan budaya bangsa Indonesia
Menurut Ensiklopedia dalam rangka mengembangkan
Pendidikan, budi pekerti diartikan kepribadian peserta didik supaya
sebagai kesusilaan yang mencakup segi- menjadi manusia yang baik (Zubaedi,
segi kejiwaan dan perbuatan manusia; 2005). Sedangkan Haidar (2004)
sedangkan manusia susila adalah mengemukakan bahwa, pendidikan budi
manusia yang sikap lahiriyah dan pekerti adalah usaha sadar yang
batiniyahnya sesuai dengan norma etik dilakukan dalam rangka menanamkan
dan moral. Dalam konteks yang lebih atau menginternalisasikan nilai-nilai
luas, Pusat Pengembangan dan Sarana moral ke dalam sikap dan prilaku
Pendidikan (1997) mengartikan istilah peserta didik agar memiliki sikap dan
budi pekerti sebagai sikap dan prilaku prilaku yang luhur (berakhlakul
sehari-hari, baik individu, keluarga, karimah) dalam kehidupan sehari-hari,
masyarakat, maupun bangsa yang baik dalam berinteraksi dengan Tuhan,

4
dengan sesama manusia maupun dengan berkenaan dengan tindakan, perbuatan,
alam/lingkungan. prilaku, dan seterusnya. Apabila
Berdasarkan ulasan di atas disinkronkan ketiga ranah tersebut dapat
pendidikan budi pekerti dapat diartikan disimpulkan bahwa aspek pendidikan
sebagai usaha sadar melalui kegiatan budi pekerti dicapai mulai dari memiliki
pembiasaan, pengajaran, dan latihan, pengetahuan tentang sesuatu, kemudian
serta keteladanan sebagai suatu upaya memiliki sikap tentang hal tersebut, dan
untuk membentuk peserta didik menjadi selanjutnya berperilaku sesuai dengan
pribadi seutuhnya yang tercermin dalam apa yang diketahuinya dan apa yang
kata, perbuatan, sikap, perasaan, dan disikapinya.
hasil karya berdasarkan nilai-nilai Hal senada disampaikan oleh
agama serta norma dan moral bangsa Lickona (1992), bahwa dalam proses
Indonesia. pendidikan moral/budi pekerti,
Adapun aspek-aspek yang ingin hendaknya guru tidak semata-mata

dicapai dalam pendidikan budi pekerti terfokus pada pemberian materi tentang

menurut Haidar (2004) dapat dibagi ke konsep-konsep pendidikan moral/budi

dalam 3 ranah, yaitu: Pertama ranah pekerti kepada peserta didik, tetapi yang
lebih penting adalah terbentuknya
kognitif, mengisi otak, mengajarinya
karakter yang baik, yaitu pribadi yang
dari tidak tahu menjadi tahu, dan pada
memiliki pengetahuan moral, perasaan
tahap-tahap berikutnya dapat
moral dan tindakan atau perilaku moral.
membudayakan akal pikiran, sehingga
Pernyataan tersebut semakin
dia dapat memfungsikan akalnya
memperkokoh bahwa pendidikan moral
menjadi kecerdasan intelegensia.
hendaknya tidak hanya terfokus pada
Kedua, ranah afektif, yang berkenaan
aspek kognitif saja, tetapi juga harus
dengan perasaan, emosional,
menyentuh pada aspek afektif dan
pembentukan sikap di dalam diri pribadi
psikomotorik.
seseorang dengan terbentuknya sikap, Tujuan pendidikan Budi Pekerti
simpati, antipati, mencintai, membenci, adalah untuk mengembangkan nilai,
dan lain sebagainya. Sikap ini semua sikap dan prilaku siswa yang
dapat digolongkan sebagai kecerdasan memancarkan akhlak mulia/budi pekerti
emosional. Ketiga, psikomotorik, adalah
luhur (Haidar, 2004). Sejalan dengan itu

5
UU RI No 20 tahun 2003 tentang menjadi manusia yang baik, warga
Sistem Pendidikan Nasional, masyarakat dan warga negara yang
menyebutkan tujuan pendidikan budi baik.
pekerti adalah untuk mengembangkan
KEPEMIMPINAN VISIONER
potensi siswa agar menjadi manusia
Ada tiga istilah yaitu pemimpin,
yang beriman dan bertakwa kepada
memimpin, dan kepemimpinan.
Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat,
Pemimpin adalah orang yang dapat
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
mempengaruhi orang lain sehingga
menjadi warga Negara yang demokratis
orang yang dipengaruhi akan
serta bertanggung jawab. Hal ini
mendukung tujuan kelompok.
mengandung arti bahwa dalam
Pengertian memimpin menurut Koontz,
pendidikan Budi Pekerti, nilai-nilai
ODonnell, dan Weihrich (1984) adalah
yang ingin dibentuk adalah nilai-nilai
membimbing, melaksanakan,
akhlak yang mulia, yaitu tertanamnya
mangarahkan, dan mendahului.
nilai-nilai akhlak yang mulia ke dalam
Sedangkan kepemimpinan adalah
diri peserta didik yang kemudian
pengaruh, seni, atau proses
terwujud dalam tingkah lakunya.
mempengaruhi orang-orang sehingga
Pendidikan budi pekerti yang
mereka akan berusaha mencapai tujuan
diintegrasikan bertujuan untuk
kelompok dengan kemauan atau
memfasilitasi siswa agar mampu
antusias. Hal senada diungkapkan oleh
menggunakan pengetahuan, mengkaji,
Makawimbang (2012) yang menyatakan
dan menginternalisasi serta
bahwa kepemimpinan adalah
mempersonalisasi nilai,
kemampuan yang ada dalam diri
mengembangkan keterampilan sosial
seseorang baik secara alamiah atau
yang memungkinkan tumbuh dan
melalui suatu pendidikan untuk
berkembang akhlak mulia dalam
mempengaruhi orang lain baik individu
berbagai konteks sosial budaya yang
maupun kelompok dalam suatu
Bhineka (Depdiknas, 2001). Secara
organisasi dalam situasi tertentu
umum, dapat dikatakan bahwa hakekat
sehingga dengan sukarela anggota
dari tujuan pendidikan budi pekerti
adalah membentuk pribadi anak supaya

6
organisasi melakukan tujuan yang proses (merencanakan, melaksanakan,
hendak dicapai. koordinator, dan evaluasi). Kepala
Kepala sekolah adalah sekolah sebagai seorang pimpinan
pemimpin yang menahkodai sekolah dalam hal membuat rencana strategis
dalam mewujudkan visi misi sekolah. (renstra) sekolah, harus mampu
Menurut Mulyasa (2012) menyatakan membuat atau menetapkan visi, misi,
kepala sekolah merupakan pemimpin dan tujuan organisasi.. Berdasarkan hal
pendidikan tingkat satuan pendidikan tersebut kepemimpinan kepala sekolah
yang harus memiliki dasar haruslah memiliki kemampuan untuk
kepemimpinan yang kuat. Maju mempengaruhi setiap individu di satuan
mundurnya sekolah merupakan pendidikan (sekolah) yang dipimpinnya.
tanggung jawab seutuhnya kepala Pengaruh yang kepala sekolah berikan
sekolah sebagai pemimpin di suatu semata-mata hanyalah untuk
sekolah/satuan pendidikan. mewujudkan visi misi sekolah yang
Peraturan Menteri Pendidikan dipimpinnya. Sutisna (Rohiat, 2008)
Nasional Republik Indonesia Nomor 13 menyatakan kepemimpinan kepala
Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah memerlukan pengetahuan dan
Sekolah/Madrasah menyatakan bahwa keterampilan konseptual, jeli melihat
kepala sekolah/madrasah harus organisasi seutuhnya serta sanggup
mempunyai kualifikasi umum dan mengambil peran dalam pembangunan
kualifikasi khusus. Kepala dimasa kini dan masa datang.
sekolah/madrasah harus mempunyai Wahyudi (2012) kepemimpinan
kompetensi, yaitu kepribadian, visioner (visionary leadership) adalah
manajerial, kewirausahaan, supervisi, kemampuan pemimpin untuk
dan sosial. Kepala sekolah dalam mencetuskan ide atau gagasan suatu
kompetensi manajerial harus mampu visi, selanjutnya melalui dialog yang
memanajemen organisasi yang ada pada kritis dengan unsur pimpinan lainnya
ranah kewenangannya (kurikulum, merumuskan masa depan organisasi
sumber daya, keuangan, sarana yang dicita-citakan yang harus dicapai,
prasarana, kesiswaan, dan hubungan melalui komitmen semua anggota
dengan masyarakat), dan dari segi organisasi, dan juga melalui proses

7
sosialisasi, transformasi, implementasi serangkaian kebijakan dan tindakan
gagasan-gagasan ideal oleh pimpinan yang progressif menapaki tahapan-
organisasi. Sedangkan Kahan tahapan pencapaian tujuannya, adaptif
(Prijosaksono dan Sembel, 2005) terhadap segala perubaahan dan
menyatakan bahwa kepemimpinan tantangan yang dihadapi, serta efisien
visioner melibatkan kesanggupan, dan efektif dalam pengelolaan segala
kemampuan, kepiawaian yang luar sumber daya yang dimilikinya.
biasa untuk menawarkan kesuksesan Robbins dalam Wahyudi (2012)
dan kejayaan di masa depan. Pemimpin menyatakan bahwa keterampilan-
yang visioner adalah pemimpin yang keterampilan yang perlu dimiliki oleh
dapat melihat masa depan, pemimpin pemimpin visioner adalah: (1)
yang memiliki kegesitan, kecepatan kemampuan menjelaskan visi kepada
serta mampu beradaptasi dalam orang lain; (2) mampu mengungkapkan
membawa jalannya organisasi memiliki visi; dan (3) mampu memperluas visi
peran yang penting dalam menghadapi kepada konteks kepemimpinan yang
kondisi organisasi yang senantiasa berbeda. Pemimpin yang visioner
mengalami perubahan sehingga mampu adalah pemimpin yang dapat melihat
mewujudkan apa yang dicita-citakan masa depan dan mampu mewujudkan
oleh organisasi. apa yang dicita-citakan oleh organisasi
Kepemimpinan visioner, adalah sehingga mendapat kesuksesan dan
pola kepemimpinan yang ditujukan kejayaan.
untuk memberi arti pada kerja dan Pemimpin yang visioner akan
usaha yang perlu dilakukan bersama- mampu memahami konsep,
sama oleh para anggota organisasi karakteristik, dan tujuan dari visi.
dengan cara memberi arahan dan makna Kepemimpinan visioner memiliki ciri-
pada kerja dan usaha yang dilakukan ciri yang menggambarkan segala sikap
berdasarkan visi yang jelas dan perilakunya yang menunjukkan
(Kartanegara Diana, 2003). kepemimpinannya yang berorientasi
Kepemimpinan visioner memiliki kepada pencapaian visi, jauh
kemampuan untuk memimpin memandang ke depan dan terbiasa
menjalankan misi organisasinya melalui

8
menghadapi segala tantangan dan visioner. Dalam hal ini Nanus Burt
resiko. (2001), mengungkapkan ada empat
peran pemimpin visioner dalam
KEMIMPINAN VISIONER DALAM
melaksanakan kepemimpinannya,
PENGIMPLEMETASIAN
yaitu: Pertama; peran penentu
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
arah (direction setter). Peran ini
Pengimplementasian pendidikan
merupakan peran di mana seorang
budi pekerti di sekolah setidaknya dapat
pemimpin menyajikan suatu visi,
ditempuh melalui empat alternatif
meyakinkan gambaran atau target untuk
strategi secara terpadu. Strategi pertama
suatu organisasi, guna diraih pada masa
ialah dengan mengintegrasikan konten
depan, dan melibatkan orang-orang dari
kurikulum pendidikan budi pekerti yang
"get-go.". Sebagai penentu arah,
telah dirumuskan ke dalam seluruh mata
seorang pemimpin menyampaikan visi,
pelajaran relevan, terutama mata
mengkomunikasikannya, memotivasi
pelajaran agama, kwarganegaraan, dan
pekerja dan rekan, serta meyakinkan
bahasa (baik bahasa Indonesia maupun
orang bahwa apa yang dilakukan
bahasa daerah). Strategi kedua ialah
merupakan hal yang benar, dan
dengan mengintegrasikan pendidikan
mendukung partisipasi pada seluruh
budi pekerti ke dalam kegiatan sehari-
tingkat dan pada seluruh tahap usaha
hari di sekolah. Strategi ketiga ialah
menuju masa depan. Kedua; agen
dengan mengintegrasikan pendidikan
perubahan (agent of change). Para
budi pekerti ke dalam kegiatan yang
pemimpin yang efektif harus secara
diprogramkan atau direncanakan. Dan
konstan menyesuaikan terhadap
strategi keempat ialah dengan
perubahan ini dan berpikir ke depan
membangun komunikasi dan kerjasama
tentang perubahan potensial dan yang
antara sekolah dengan orang tua peserta
dapat dirubah. Ketiga; juru bicara
didik.
(spokesperson). Pemimpin, sebagai juru
Pelaksanaan strategi
bicara untuk visi, harus
pengimplementasian ini dapat
mengkomunikasikan suatu pesan yang
dilaksanakan dengan mengacu pada
mengikat semua orang agar melibatkan
peran yang dimainkan oleh pemimpin
diri dan menyentuh visi organisasi-

9
secara internal dan secara eksternal. antara kelas yang satu dengan kelas
Visi yang disampaikan harus yang lainya dalam satu lembaga
"bermanfaat, menarik, dan pendidikan belum tentu sama dalam
menumbulkan kegairahan tentang masa melaksanakan kurikulum budi pekerti
depan organisasi." Keempat; pelatih yang sifatnya masih baru.
(coach). Pemimpin visioner yang efektif Ada enam tahapan alur
harus menjadi pelatih yang baik. penerapan program penumbuhan budi
Seorang pemimpin mengoptimalkan pekerti, yakni: (1) tahap pengajaran; (2)
kemampuan seluruh "pemain" untuk pembiasaan; (3) pelatihan untuk bisa
bekerja sama, mengkoordinir aktivitas konsisten; (4) proses pembiasaan; (5)
atau usaha mereka, ke arah "pencapaian pembentukan karakter; dan (6) menjadi
kemenangan," atau menuju pencapaian budaya. Kegiatan penumbuhan budi
suatu visi organisasi. Pemimpin, sebagai pekerti yang diterapkan di sekolah-
pelatih, menjaga pekerja untuk sekolah nantinya terbagi menjadi tujuh
memusatkan pada realisasi visi dengan lingkup. Diantaranya adalah
pengarahan, memberi harapan, dan menumbuhkembangkan nilai moral dan
membangun kepercayaan di antara spiritual, nilai kebangsaan dan
pemain yang penting bagi organisasi kebhinekaan, serta interaksi positif
dan visinya untuk masa depan. antara peserta didik dengan guru dan
Pelaksananan pendidikan budi orang tua. Peserta didik juga nantinya
pekerti bagi siswa akan menemui pro bakal diajak mengembangkan interaksi
dan kontra dari berbagai pihak. positif antarpeserta didik, merawat diri
Termasuk pula guru-guru sebagai dan lingkungan sekolah, serta
pelaksana dari kurikulum budi pekerti. mengembangkan potensi peserta didik
Pelaksanaan pembelajaran budi pekerti secara utuh dengan melibatkan orang
di kelas pada masing-masing lembaga tua dan masyarakat di sekolah.
pendidikan sudah pasti akan menemui Upaya penumbuhan dan
hambatan-hambatan dan tantangan. pengembangan berbudi pekerti di
Berbagai hambatan itu akan diatasi oleh sekolah seyogyanya mengacu kepada
masing-masing lembaga pendidikan beberapa prinsip berikut ini; Pertama,
dengan cara yang tidak sama. Bahkan berfokus pada visi, misi, dan tujuan

10
sekolah. Fungsi visi, misi, dan tujuan pekerti perlu dilakukan evaluasi secara
sekolah mengarah pada pengembangan rutin dan bertahap, yakni jangka
sekolah, yaitu penumbuhan budi pekerti pendek, jangka menengah, dan jangka
di sekolah. Kedua, penciptaan panjang. Oleh karena itu, perlu
komunikasi formal dan informal. dikembangkan sistem evaluasi terutama
Komunikasi merupakan dasar bagi dalam hal kapan evaluasi dilakukan,
koordinasi dalam sekolah, termasuk siapa yang melakukan dan mekanisme
dalam menyampaikan pesan-pesan tindak lanjut yang harus dilakukan,
pentingnya pendidikan budi pekerti, Ketujuh, memiliki komitmen
komunikasi informal sama pentingnya yang kuat. Komitmen dari pimpinan dan
dengan komunikasi formal. Dengan warga sekolah sangat menentukan
demikian kedua jalur komunikasi implementasi program-program
tersebut perlu digunakan dalam pengembangan pendidikan budi pekerti.
menyampaikan pesan secara efektif dan Lemahnya komitmen terutama dari
efisien. Ketiga, inovatif dan bersedia pimpinan akan menyebabkan program-
mengambil risiko. Keempat memiliki program tidak terlaksana dengan baik.
strategi yang jelas. Pengimplementasian Delapan, keputusan berdasarkan
pendidikan budi pekerti di sekolah perlu konsensus. Ciri budaya organisasi yang
ditopang oleh strategi dan program. positif adalah pengambilan keputusan
Strategi mencakup cara-cara yang partisipatif yang berujung pada
ditempuh sedangkan program pengambilan keputusan secara
menyangkut kegiatan operasional yang consensus. Sembilan, sistem imbalan
perlu dilakukan. Kelima, berorientasi yang jelas. Pengimplementasian
kinerja. Pengembangan pendidikan budi pendidikan budi pekerti di sekolah
pekerti perlu diarahkan pada sasaran hendaknya disertai dengan sistem
yang terdapat mungkin dapat diukur. imbalan meskipun tidak selalu dalam
Sasaran yang dapat diukur akan bentuk barang atau uang. Bentuk
mempermudah pengukuran capaian lainnya adalah penghargaan atau kredit
kinerja dari suatu sekolah. Enam, sistem poin terutama bagi siswa yang
evaluasi yang jelas. Untuk mengetaui menunjukkan perilaku positif yang
kinerja pengembangan pendidikan budi sejalan dengan pendidikan budi pekerti.

11
Sepuluh, evaluasi diri merupakan salah sperti ini yang sangat dibutuhkan oleh
satu alat untuk mengetahui masalah- sekolah untuk melaksanakan pendidikan
masalah yang dihadapi disekolah. budi pekerti. Upaya penumbuhan dan
Evaluasi dapat dilakukan dengan pengembangan budaya berbudi pekerti
menggunakan pendekatan curah di sekolah seyogyanya mengacu kepada
pendapat atau menggunakan skala beberapa prinsip berikut ini yaitu;
penilaian diri (Mulyasa, 2012). Berfokus pada visi, misi, dan tujuan
sekolah, penciptaan komunikasi formal
PENUTUP
dan informal, inovatif dan bersedia
Kepala sekolah adalah
mengambil risiko, memiliki strategi
pemimpin yang menahkodai sekolah
yang jelas, berorientasi kinerja, sistem
dalam mewujudkan visi misi sekolah.
evaluasi yang jelas, memiliki komitmen
Pemimpin merupakan orang yang diberi
yang kuat, keputusan berdasarkan
tugas untuk memberikan pengarahan,
konsensus, sistem imbalan yang jelas,
bimbingan, dan motivasi kepada
serta evaluasi diri.
bawahannya. Kepemimpinan visioner
memiliki kemampuan untuk memimpin DAFTAR RUJUKAN
menjalankan misi organisasinya melalui Danim, S. dan Suparna. 2009.
serangkaian kebijakan dan tindakan Manajemen dan
Kepemimpinan
yang progressif menapaki tahapan- Transformasional Kekepala
tahapan pencapaian tujuannya Sekolahan: Visi dan Strategi
Sukeses Era Teknologi, Situasi
organisasi, adaptif terhadap segala Krisis, Dan Internasionalisasi
perubaahan dan tantangan yang Pendidikan. Jakarta: Rineka
Cipta.
dihadapi, serta efisien dan efektif dalam
pengelolaan segala sumber daya yang Depdiknas. 2001. Konsep Pendidikan
Kecakapan Hidup (Life Skill
dimiliki. Education). Buku I. Jakarta:
Pemimpin visioner adalah Depdiknas.

pemimpin yang dapat memandang jauh Endraswara, S. 2003. Budi Pekerti


ke depan merupakan yang sangat Dalam Budaya Jawa.
Yogyakarta: Hanindita Graha
dibutuhkan untuk menjadikan Widya.
organisasi lebih kompetitif, pemimpin

12
Habibah, dkk. 2007. Metode Kepala Sekolah/Madrasah.
Pengembangan Moral Anak (Online), (http://sdm.data.
Pra Sekolah. Yogyakarta: FIP kemdikbud.go.id/SNP/dokume
UNY. n/Permendiknas%20No%2013
%20Tahun%202007.pdf),
Haidar, P. D. 2004. Pendidikkan Islam diakses 18 Agustus 2016.
Dalam System Pendidikan
Nasional Di Indonesia. Jakarta; Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Pranada Media. Republik Indonesia Nomor 23
Tahun 2015 tentang
Istiqomah, U. 2003. Upaya menuju Penumbuhan Budi Pekerti.
generasi tanpa rokok. (Online),
Surakarta: Seti Aji. (http://sdm.data.kemdikbud.
go.id/PBP/dokumen/Permendi
Kartanegara, Di. 2003. Kepemimpinan knas%20No%2015%20Tahun
Visioner. (Online), %202015.pdf), diakses 18
(http://www.lintasberita.com/li Agustus 2016.
festyle/pendidikan/pimpinan-
visioner). Diakses 18 Agustus Prijosaksono, dan Sembel. 2005.
2016. Kepemimpinan dalam
Organisasi. Jakarta: Victory
Kontz, H., Donnel, C., dan Weihrich. Jaya Abadi.
1984. Management. Ohio: Mc-
Graw Hill Book. Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta:
Lickona, T. 1992. Education for Departemen Pendidikan
Character, How Our Schools Nasional.
Teach Reapect and
Responsibility. New York: Pusat Pengembangan Kurikulum dan
Bantam Books. Sarana Pendidikan. 1997.
Pedoman Pengajaran Budi
Makawimbang, J. 2012. Kepemimpinan Pekerti. Jakarta: BP3K,
Pendidikan Yang Bermutu. Departemen Pendidikan dan
Bandung: Alfabeta. Kebudayaan
Mulyasa, H. E. 2012. Manajemen & Rohiat. 2008. Kecerdasan Emosional
Kepimimpinan Kepala Kepemimpinan Kepala
Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. Sekolah. Bandung: Refika
Aditama.
Nanus, Burt. 2001. Kepemimpinan
Visioner. Alih Bahasa oleh Sanchez, T. R. 2006. The man who
Frederick Ruma. Jakarta: could have been king : A
Prenhalindo. storytellers guide for
character education. Journal of
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Social Studies Research,30,
Republik Indonesia Nomor 13 (2), 3-9.
Tahun 2007 tentang Standar

13
Suparno, dkk. 2002.Reformasi
Pendidikan. Yogyakarta:
Kanisius

Undang-Undang Republik Indonesia


No. 20 Tahun 2003. Tentang
Sistem Pendidikan Nasional.
Bandung: CV Nuansa Aulia.

Wahyudi. 2012. Kepemimpinan Kepala


Sekolah dalam Organisasi
Pembelajaran (Learning
Organisasi). Bandung:
Alfabeta.

Wibowo, U. B. 2011. Teori


Kepemimpinan. Makalah
disampaikan pada Pembekalan
Ujian Dinas Tahun 2011 Badan
Kepegawaian Daerah,
Yogyakarta, 14 Juni 2011.
Dalam staff UNY database.
(Online),
(http://staff.uny.ac.id/sites/defa
ult /files/tmp/C%202011-
13%20Teori%20Kepemimpina
n.pdf ), diakses 18 Agustus
2016.

Zubaedi. 2005. Pendidikan Berbasis


Masyarakat. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan


Karakter; Konsep dan
Aplikasinya dalam Lembaga
Pendidikan. Jakarta: Kencana

14