Anda di halaman 1dari 27

FARMAKOTERAPI OBESITAS DAN

HIPERLIPIDEMIA

Diajukan untuk memenuhi tugas farmakoterapi terapan semester


ganjil

Kelas: B
Disusun Oleh:
Winona Madelina 260112170008
Inayah Noviandari 260112170050
Flamboyan Ayu Setya K. 260112170052
Nujaimah Rahmawati S. 260112170054
Sistha Anindita Pinastika H. 260112170056
Amelia Suci Prafitriyani 260112170058

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
1. Definisi
1.1 Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan abnormal dimana terjadi
akumulasi lemak yang berlebihan dalam tubuh sehingga merusak kesehatan
(WHO, 2013). Obesitas atau kegemukan terjadi ketika adanya ketidakseimbangan
antara energi yang masuk (melalui makanan) dengan energi yang dikeluarkan
dimana energi yang masuk lebih banyak dari energi yang dikeluarkan sehingga
menyebabkan peningkatan energi yang disimpan. Penyimpanan energi ini
biasanya dalam bentuk lipid atau lemak, sehingga apabila keadaan ini berlangsung
terus menerus, maka menyebabkan kenaikan jumlah lipid dalam darah yang
dikenal dengan hiperlipidemia atau dislipidemia (DiPiro et al, 2015).
Beberapa penelitian menghubungkan pengaruh obesitas terhadap perubahan
durasi tidur, perubahan metabolisme, resistensi insulin, dan diabetes. Ketika
seseorang telah makan dalam jumlah yang cukup, neurotransmiter atau peptida di
otak memberikan sinyal kenyang pada pusat hipotalamus sehingga keinginan
untuk makan menjadi berkurang. Kurang tidur berhubungan dengan tingkat leptin
yang rendah dan ghrelin yang tinggi. Perubahan hipotalamus yang mengatur nafsu
makan dan pengeluaran energi akibat kurang tidur yang ditandai dengan
ketidakseimbangan adalah salah satu penjelasan yang mungkin menjadi penyebab
terjadinya obesitas (Ballod, 2013).

1.2 Hiperlipidemia
Hiperlipidemia didefinisikan sebagai peningkatan kolesterol total, kolesterol
LDL (low-density lipoprotein), trigliserida, kolesterol HDL (high-density
lipoprotein), atau keseluruhannya yang terjadi secara tidak normal (DiPiro et al,
2015). Hiperlipidemia ditandai dengan terjadinya peningkatan kadar lipid darah
(lemak atau senyawa sejenis lemak), utamanya kolesterol dan trigliserida.
Hiperlipidemia umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik, namun
hiperlipidemia berat dan kronis pada beberapa kasus ditandai dengan munculnya
xanthoma, yaitu deposit lemak berupa benjolan atau nodul berwarna kekuningan
pada kulit, di daerah mata, atau daerah muskuloskeletal (misalnya di siku lengan)
(Gitawati dkk, 2015).

2. Patofisiologi
2.1 Obesitas
Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk
jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor
eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen
(obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik
(meliputi 10%). Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus
melalui 3 proses fisiologis, yaitu: pengendalian rasa lapar dan kenyang,
mempengaruhi laju pengeluaran energi, dan regulasi sekresi hormon
(Cahyaningrum, 2015).
Proses dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal
eferen (yang berpusat di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari
perifer (jaringan adipose, usus dan jaringan otot). Sinyal-sinyal tersebut bersifat
anabolik (meningkatkan rasa lapar serta menurunkan pengeluaran energi) dan
dapat pula bersifat katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan
dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek
mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta berhubungan dengan faktor
distensi lambung dan peptida gastrointestinal yang diperankan oleh kolesistokinin
(CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa lapar. Sinyal panjang
diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur
penyimpanan dan keseimbangan energi (Sherwood, 2012).
Keseimbangan relatif antara jumlah asupan energi dengan jumlah energi yang
dibebaskan setiap individu sepanjang waktu akan mempengaruhi tingkat obesitas
individu tersebut. Simpanan energi dalam tubuh akan bertambah bila terjadi
ketidakseimbangan antara pemasukan dan pelepasan energi. Angka metabolisme
merupakan salah satu ukuran utama yang menentukan seberapa besar pelepasan
energi tiap individu. Penentuan angka metabolisme seseorang di bawah kondisi
standar terbilang sangat penting, hingga dikenal istilah REE (Resting Energy
Expenditure) dan angka metabolisme basal (BMR, yaitu Basal Metabolic Rate).
Resting Energy Expenditure (REE) didefinisikan sebagai jumlah energi yang
dibebaskan oleh seseorang saat berada pada kondisi istirahat dan suhu badan
normal.
Sedangkan BMR (Basal Metabolic Rate) didefinisikan sebagai REE yang
diukur segera setelah bangun tidur di pagi hari, atau setidaknya 12 jam setelah
asupan makanan terakhir. Angka metabolisme akan bertambah setelah makan,
tergantung ukuran dan komposisi makanan yang dikonsumsi. Jumlahnya akan
mencapai level maksimum kira-kira 1 jam setelah makanan dikonsumsi dan
kembali normal 4 jam setelah makan. Bertambahnya angka metabolisme tersebut
dikenal sebagai efek termogenik dari makanan. Nilai REE akan sesuai dengan
efek termogenik akibat makanan sebelumnya atau mungkin akan lebih rendah dari
BMR selama diperoleh waktu tidur yang cukup. Pada kenyataannya, nilai BMR
dan REE hanya berbeda kurang dari 10%. Aktivitas fisik merupakan salah satu
hal utama yang menjadi bagian dari total pelepasan energi. Walaupun kebanyakan
orang melepaskan sebagian energinya setiap hari melalui berbagai aktivitas fisik
namun jumlahnya masih terlalu kecil dibanding energi yang dilepaskan seorang
pelari (Dipiro et. al., 2015).

2.2 Hiperlipidemia
Kolesterol adalah suatu jenis lemak yang ada dalam tubuh dan dibagi menjadi
LDL, HDL, total kolesterol dan trigliserida dari hati, kolesterol di angkut oleh
lipoprotein yang bernama LDL( Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel
tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar
dapat berfungsi sebagaimana mestinya. VLDL (Very Low Density Lipoprotein)
adalah lipoprotein yang dibentuk di hati yang kemudian akan diubah di pembuluh
darah menjadi LDL (Low Density Lipoprotein). Bentuk lipoprotein ini memiliki
kolesterol paling banyak dan akan membawa kolesterol tersebut ke jaringan
seperti dinding pembuluh darah (Jeffry Tenggara, 2008) (DiPiro et al., 2015).
Protein utama yang membentuk HDL Apo-a (Apolipoprotein-A). HDL ini
mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi
sehingga lebih berat. Kelebihan kolesterol akan diangkat kembali oleh lipoprotein
yang disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang
selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kantung empedu sebagai asam
(cairan) empedu. LDL mengandung lebih banyak lemak dari pada HDL sehingga
ia akan mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah
Apo-B (Apolipoprotein-B) (DiPiro et al., 2015).
Kolesterol, trigliserida, dan fosfolipid diangkut dalam aliran darah sebagai
kompleks lipid dan protein yang dikenal sebagai lipoprotein. Total peningkatan
kolesterol LDL dan penurunan kolesterol HDL berkaitan dengan perkembangan
penyakit jantung koroner (PJK). Hipotesis respon terhadap luka menyatakan
bahwa faktor risiko seperti LDL yang teroksidasi, cedera mekanik endotelium,
homosistein yang berlebihan, serangan imunologi, atau infeksi yang menyebabkan
perubahan endotel dan fungsi intima menyebabkan disfungsi endotel dan
serangkaian interaksi seluler yang berujung pada aterosklerosis. Hasil klinis
akhirnya mungkin termasuk angina, infark miokard, aritmia, stroke, penyakit
arteri perifer, aneurisma aorta abdominal, dan kematian mendadak (DiPiro et al.,
2015).
Lesi aterosklerosis diduga timbul dari transportasi dan retensi LDL plasma
melalui lapisan sel endotel ke dalam matriks ekstraselular ruang subendothelial.
Setelah di dinding arteri, LDL dimodifikasi secara kimia melalui oksidasi dan
glikasi nonenzimatik. Sedikit LDL teroksidasi kemudian merekrut monosit ke
dinding arteri. monosit ini kemudian menjadi berubah menjadi makrofag yang
mempercepat oksidasi LDL (DiPiro et al., 2015).
LDL teroksidasi memicu respon inflamasi yang dimediasi oleh sejumlah
chemoattractants dan sitokin (misalnya, monosit colony-stimulating factor,
molekul adhesi antarsel, faktor pertumbuhan platelet diturunkan, mengubah faktor
pertumbuhan, interleukin-1, interleukin-6). Cedera berulang dan perbaikan plak
aterosklerotik akhirnya menyebabkan topi fibrosa melindungi inti dasar lipid,
kolagen, kalsium, dan sel-sel inflamasi seperti limfosit T. Pemeliharaan plak
fibrosa sangat penting untuk mencegah plak pecah dan trombosis koroner
berikutnya (DiPiro et al., 2015).
3. Manifestasi Klinik
Seseorang yang mengalami hiperlipidemia biasanya tidak menunjukkan
tanda-tanda atau gejala tertentu. Pada penderita hiperlipidemia familial, yaitu
hiperlipidemia yang sifatnya diturunkan, dapat terlihat penumpukan lemak
berwarna kekuningan di sekitar mata atau persendian. Hiperlipidemia juga dapat
terdeteksi melalui tes darah rutin atau merujuk pada suatu penyakit
kardiovaskular, seperti serangan jantung atau stroke. Penumpukan lemak dalam
darah seiring berjalannya waktu akan membentuk plak pada dinding arteri dan
pembuluh darah. Hal tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah
dan aliran darah yang masuk menjadi tidak lancar sehingga jantung harus bekerja
lebih keras untuk memompa darah dan tekanan darah meningkat. Penumpukan
tersebut juga dapat menyebabkan pembentukan bekuan darah. Pembekuan darah
pada jantung dapat menyebabkan gagal jantung dan pembekuan darah di otak
dapat menyebabkan stroke (Davis, 2017).
Sebagian besar pasien tidak merasakan gejala hiperlipidemia selama beberapa
tahun hingga penyakit tersebut sudah terbukti secara klinis. Pasien dengan
sindrom metabolik mempunyai tiga atau lebih tanda berikut ini, yaitu tekanan
darah tinggi, resistensi insulin dengan atau tanpa intoleransi glukosa dan perut
membesar. Berikut adalah tanda dan gejala pasien hiperlipidemia:
Tanda:
1. Hiperkolestrolemia yang ditunjukkan dari plasma LDL dan kolestrol LDL
2. Defisiensi lipase lipoprotein
3. Pankreatitis
4. Polineuropati
5. Tekanan darah naik
6. BMI > 30 kg/m2 atau dapat disebut obesitas
Gejala:
1. Nyeri abdominal
2. Nyeri dada
3. Palpitasi
4. Napas pendek
5. Berkeringat
6. Sulit berbicara atau bergerak (Davis, 2017).
Sementara itu, obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapi
pada anak biasanya timbul menjelang remaja dan dalam masa remaja, terutama
anak perempuan. Selain berat badan meningkat dengan pesat, pertumbuhan dan
perkembangannya juga lebih cepat sehingga pada akhirnya remaja yang cepat
tumbuh dan matang itu akan mempunyai tinggi badan yang relatif rendah
dibandingkan dengan anak yang sebayanya (ECO, 2015).
Berikut adalah bentuk tubuh, penampilan dan raut muka penderita obesitas:
a. Paha tampak besar, terutama pada bagian proksimal, tangan relatif kecil
dengan jari-jari yang berbentuk runcing
b. Kelainan emosi raut muka, yaitu hidung dan mulut relatif tampak kecil dengan
dagu yang berbentuk ganda
c. Dada dan payudara membesar
d. Abdomen membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul lonceng
e. Lengan atas membesar (ECO, 2015).
Penimbunan lemak yang berlebihan di bawah diafragma dan di dalam dinding
dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernapasan dan sesak
napas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan
pernapasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernapasan
untuk sementara waktu sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas juga dapat menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri
punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut
dan pergelangan kaki). Terkadang sering pula ditemukan kelainan kulit pada
pasien obesitas. Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh
yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya sehingga panas
tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih
banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah
cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki (ECO, 2015).

4. Diagnosis
4.1 Diagnosis Hiperlipidemia
- Mengukur profil lipoprotein puasa (kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida)
pada dewasa umur 20 tahun atau lebih, setidaknya 5 tahun sekali.
- Mengukur kolesterol darah, trigliserida, dan HDL setelah 12 jam puasa
karena trigliserida mungkin meningkat pada individu yang tidak berpuasa;
kolesterol total hanya dipengaruhi oleh keadaan berpuasa.
- Pemeriksaan dilakukan sebanyak dua kali, 1 sampai 8 minggu secara terpisah,
dianjurkan untuk meminimalkan keseragaman sehingga didapatkan baseline
yang akurat. Jika kolesterol total lebih dari 200 mg/dL (> 5.17 mmol/L),
disarankan penentuan kedua, dan jika kolesterol total lebih dari 30 mg/dL (>
0.78 mmol/L), gunakan rata-rata dari ketiga pengukuran.
- Riwayat hidup dan pemeriksaan fisik harus menggambarkan: (1) ada atau
tidaknya faktor resik penyakit jantung atau menjelaskan penyakit jantung
dalam perseorangan; (2) riwayat penyakit jantung prematur atau gangguan
lipid pada keluarga; (3) ada atau tidaknya faktor sekunder dislipidemia,
termasuk pengobatan bersamaan; dan (4) ada atau tidaknya xantoma, nyeri
abdominal, atau riwayat pankreatitis, penyakit ginjal atau hati, penyakit pada
pembuluh darah perifer, aneurisme artik abdominal, atau penyakit pada
pembuluh darah otak (bruits karotid, stroke atau serangan iskemik transien
(Wells et al., 2015).

4.2 Diagnosis Obesitas


Mengukur IMT (Indeks Massa Tubuh) yang dihitung dengan cara berat badan
(kilogram) dibagi dengan tinggi kuadrat (meter persegi). Di samping itu, diagnosis
obesitas juga dapat dilakukan dengan mengukur lingkar pinggang adalah metode
paling praktis untuk mengkarakterisasi adiposa pusat, yaitu lingkar yang paling
sempit antara tulang rusuk terakhir dan puncak iliaka. Berikut klasifikasi
overweight dan obesitas berdasarkan IMT dan lingkar pinggang (Wells et al.,
2015).
5. Hasil Terapi yang Diinginkan
5.1 Hiperlipidemia
Total kolesterol kurang dari 200 mg/dL (> 5,17 mmol / L), maka pasien
memiliki kadar kolesterol darah yang diinginkan. Jika HDL lebih besar dari 40
mg/dL (> 1,03 mmol / L) dan kadar kolesterol tinggi (200-239 mg / dL; 5,17-6,18
mmol/L), penilaian risiko diperlukan untuk lebih jelas menentukan risiko penyakit
(Dipiro, J.T., et al, 2015)..

5.2 Obesitas
Keberhasilan terapi obesitas dapat dilihat dari asupan kalori yang berkurang,
olahraga, modifikasi perilaku dengan atau tanpa terapi farmakologis dan/atau
pembedahan. Kehilangan berat 5% sampai 10% berat awal adalah tujuan bagi
kebanyakan pasien obesitas. Ukuran keberhasilan tidak hanya mencakup
penurunan berat badan namun juga membaiknya kondisi komorbid, termasuk
tekanan darah, glukosa darah, dan lipid. Ada banyak diet untuk membantu
menurunkan berat badan. Berkenaan dengan program ini, konsumsi energi harus
kurang dari pengeluaran energi. Tujuannya adalah kehilangan 0,5 sampai 1 kg per
minggu dengan diet seimbang dalam asupan lemak, karbohidrat, dan protein
(Dipiro, J.T., et al, 2015).
Peningkatan aktivitas fisik dikombinasikan dengan pengurangan asupan
kalori dan modifikasi perilaku dapat menurunkan berat badan dan faktor risiko
kardiovaskular. Tujuan utama modifikasi perilaku adalah membantu pasien
memilih gaya hidup yang kondusif bagi penurunan berat badan yang aman dan
berkelanjutan. Terapi perilaku didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran
manusia, yang menggunakan kontrol stimulus dan penguatan untuk menggantikan
perilaku yang diinginkan untuk kebiasaan belajar dan tidak diinginkan (Dipiro,
J.T., et al, 2015).
Bedah bariatrik, yang mengurangi volume lambung atau permukaan absorptif
saluran pencernaan, tetap merupakan intervensi paling efektif untuk obesitas.
Operasi harus dicadangkan untuk orang-orang dengan BMI di atas 35 atau 40 kg/
m2 dan komorbiditas yang signifikan karena morbiditas dan mortalitas yang
terkait dengan prosedur bedah (Dipiro, J.T., et al, 2015).

6. Terapi
6.1 Hiperlipidemia
6.1.1 Terapi Non Farmakologi
1. Therapeutic Liestyle Change (TLC) dimulai sejak awal kunjungan ke dokter
dan termasuk terapi diet, pengurangan berat badan, dan penngkatan aktivitas
fisik.
a) Terapi diet: Tujuan untuk mengurangi asupan lemak total, lemak jenuh, dan
kolesterol dan untuk mencapai berat tubuh yang diinginkan.
b) Penurunan berat badan: Penurunan berat badan 10% untuk pasien yang
kelebihan berat badan.
c) Meningkatkan aktivitas fisik: Aktivitas fisik intensitas sedang 30 menit/hari.
d) Berhenti merokok untuk mengontrol hipertensi.
2. Mengurangi asupan kolesterol dan asam lemak jenuh.
3. Peningkatan asupan serat larut dalam bentuk oat bran, pektin, dan produk
psyllium bisa menurunkan asupan lemak total dan kolesterol LDL (5%
sampai 20%), tetapi diet dan suplemen tidak boleh meggantikan pengobatan
aktif karena pengaruhnya pada konsentrasi HDL-C dan trigliserida hanya
sedikit.
4. Meminum 2 sampai 3 g / hari sterol dan stanol akan mengurangi LDL sebesar
6%- 15%, biasanya tersedia dalam margarin.
5. Perbanyak konsumsi miyak ikan air untuk menurunkan risiko PJK. Suplemen
minyak ikan cukup berdampak untuk mengurangi trigliserida dan kolesterol
VLDL, tapi tidak memiliki efek pada kolesterol total dan LDL atau dapat
menyebabkan peningkatan dalam fraksi tersebut. Minyak ikan dapat memberi
efek kardioprotektif.
Jika semua perubahan pola makan yang direkomendasikan dari NCEP
dilaksanakan, diperkirakan rata-rata penurunan LDL berkisar 20%-30%
(Sherwood, 2012).

6.1.2 Terapi Farmakologi


1. Resin Asam Empedu
Obat golongan ini digunakan untuk mengobati hiperkolesterolemia primer,
yakni hiperkolesterolemia familial, familial dikombinasikan hiperlipidemia, dan
hyperlipoproteinemia jenis Iia. Obat golongan ini bekerja dengan cara mengikat
asam empedu dalam lumen usus, dengan gangguan bersamaan sirkulasi
enterohepatik asam empedu, yang menurunkan ukuran asam empedu dan
merangsang sintesis hepatik asam empedu dari kolesterol. Penipisan kantung hati
dari kolesterol dari peningkatan biosintesis kolesterol dan peningkatan jumlah
LDL-R pada membran hepatosit, merangsang tingkat katabolisme disempurnakan
dari plasma dan menurunkan kadar LDL. Peningkatan biosintesis kolesterol hati
dapat disejajarkan dengan peningkatan produksi VLDL hati, dan, akibatnya, bar
dapat memperburuk hipertrigliseridemia pada pasien dengan hiperlipidemia
gabungan. Efek samping dari obat ini adalah keluhan sembelit, kembung, penuh
epigastrium, mual, dan perut kembung. Efek samping ini dapat diatasi dengan
meningkatkan asupan cairan, memodifikasi diet untuk meningkatkan curah, dan
menggunakan pelunak feses. Potensi efek samping lain yang disebabkan obat
golongan ini adalah gangguan penyerapan vitamin A, D, E, dan K yang larut
dalam lemak, hipernatremia dan hyperchloremia, Obstruksi saluran
gastrointestinal, dan mengurangi bioavailabilitas obat asam seperti warfarin, asa
nikotinat, tiroksin, acetaminophen, hidrokortison, hydrochlorothiazide,
loperamide, dan mungkin besi. Interaksi obat dapat dihindari dengan memberi
jarak pemberian selang waktu 6 jam atau lebih antara resin asam empedu dan
obat-obatan lainnya. Contoh obat golonganresin asam empedu adalah
kolestiramin dan kolestipol (Rosenson, 2013)

2. Niasin
Niasin atau asam nikotinat merupakan terapi kombinasi hiperlipidemia atau
pilihan kedua terapi kombinasi untuk hiperkolesterolemia. Niasin merupakan obat
lini pertama atau alternatif pengobatan untuk hipertrigliseridemia dan diabetes
dislipidemia. Niasin mengurangi sintesis VLDL hati, menyebabkan penurunan
sintesis LDL. Niasin juga meningkatkan HDL dengan mengurangi
katabolismenya.
Niasin mempunyai banyak efek samping, sebagian besar gejala dan
ketidaknormalan biokimia engakibatkan terapi dengan obat ini tidak diterskan.
Berbagai efek samping terebut diantaranya kemerahan dan gatal pada kulit,
priuritus dan gangguan gastrointestinal. Pengunaan niasin di kontraindikasikan
terhadap pasien dengan penyakit hati, gout, dan diabetes.. Nicotinamide tidak
boleh digunakan dalam pengobatan hiperlipidemia karena tidak efektif
menurunkan kolesterol atau trigliserida (Rosenson, 2013).

3. Statin (HMG-CoA Reductase Inhibitors)


Penggunaan obat golongan statin sebagai pengobaan monoterapi terbukti
poten, dimana total LDL dan kolesterol berkurang 30% atau lebih tergantung
dosis. Statin bekerja dengan menghambat 3-hidroksi-3-methylglutaryl koenzim A
(HMG-CoA) reduktase, mengganggu konversi HMG-CoA menjadi mevalonate,
fase rate-limiting dalam biosintesis kolesterol de novo. Penurunan sintesis LDL
dan katabolisme disempurnakan LDL dimediasi melalui LDL-R muncul menjadi
mekanisme utama untuk efek penurun lipid. Efek samping penggunaan statin
yakni sembelit, peningkatan serum aminotransferase (terutama SGPT), kadar
kreatin kinase tinggi, miopati, dan kadang rhabdomiolisis.Contoh obat golongan
ini antara lain atorvastatin, simvastatin, fluvastatin dan lovastatin (Rosenson,
2013).

4. Asam Fibrat (Gemfibrozil, Fenofibrate, Clofibrate)


Penggunaan obat golongan ini sebagai monoterapi efektif menurunkan kadar
VLD, namun bisa terjadi kenaikan LDL dan nilai total kolesterol relatif tidak
berubah. Konsentrasi plasma HDL akan naik 10% sampai 15% atau lebih dengan
fibrat. Gemfibrozil menurunkan sintesis VLDL, oleh apolipoprotein B bersamaan
dengan laju eliminasi lipoprotein kaya trigliserid dari plasma.
Efek samping penggunaan obat golongan ini yakni masalah Gastro Intestinal,
ruam, pusing, peningkatan kadar transaminase dan alkali-fosfatase. Gemfibrozil
meningkatkan pembentukan batu empedu. Sindrom myositis dari myalgia,
kelemahan, kekakuan, malaise, dan peningkatan creatine kinase dan aspartat
aminotransferase dapat terjadi pada pasien dengan insufisiensi ginjal. Dapat
meningkatkan efek antikoagulan oral. Fibrat berpotensi memberikan efek terhadap
antikoagulan oral danINR harus dipantau sangat teliti pada kombinasi ini
(Rosenson, 2013).

5. Ezetimib
Ezetimib menganggu absorpsi kolesterol fari membran fili saluran cerna.
Ezetimib dapt digunakan sebagai monoterapi pilihan atau dikombinasi dengan
statin. Dosisnya 10 mg sekali sehari, diberikan dengan atau tanpa makanan. Saat
digunakan sendiri, menghasilkan pengurangan kolesterol LDL sekitar 18%. Bila
ditambah statin, ezetimibe menurunkan LDL 12%-20% (Rosenson, 2013).

6. Suplemen Minyak Ikan


Diet tinggi omega-3 asam lemak tak jenuh ganda (dari minyak ikan),
sebagian besar umumnya asam eicosapentaenoic (EPA), mengurangi kolesterol,
trigliserida, LDL, dan VLDL dan dapat meningkatkan kolesterol HDL (Rosenson,
2013).
Tabel efek terapi obat pada lipid dan lipoprotein

Obat pilihan yang direkomendasikan untuk setiap fenotipe lipoprotein diberikan

6.2 Obesitas
6.2.1 Terapi Non Farmakologi
Kelebihan berat badan atau obesitas terjadi ketika BMI dari seseorang
melebihi 25 kg/m2. Dari hal tersebut penerapan yang dilakukan pada pasien
adalah untuk memelihara kesehatan tubuhnya dengan mulai menurunkan berat
badan dan mengubah gaya hidup. Terapi non farmakologi obesitas yang berhasil
meliputi rencana diet, olahraga, modifikasi gaya hidup dengan atau tanpa terapi
farmakologi dan/atau pembedahan. Tujuan utama dari modifikasi gaya hidup
adalah membantu pasien untuk memilih gaya hidup yang kondusif untuk menjaga
banyaknya penurunan berat badan. Beberapa diet dapat mengurangi berat
badan.Pembedahan dapat mengurangi volume dari perut atau permukaan absorpsi
dari saluran pencernaan yang menghasilkan interfensi yang efektif untuk obesitas
(Dipiro et al, 2015).

6.2.2 Terapi Farmakologi


1. Lipase Inhibitor (orlistat)
Orlistat, menginduksi penurunan berat badan dengan cara menurunkan
absorpsi lemak dan mengembangkan profil lipid, kontrol glukosa dan metabolit
yang lain. penurunan absorbsi lemak dalam usus dengan jalan memblokir lipase
pankreas. Orlistat mengikat lipase secara ireversibel, sehingga lemak (trigliserida)
dari makanan tidak terhidrolisa menjadi asam lemak bebas dan gliserol, yang
dapat diabsorbsi usus. Akibatnya 30% dari lemak tidak dapat diserap oleh usus
dan akan dikeluarkan bersamaan dengan tinja, dimana biasanya lemak yang
dikeluarkan hanya 4-5% saja pada keadaan normal (Sherwood, 2012).
Obat ini harus diberikan bersamaan dengan makanan yang mengandung
lemak agar efeknya terlihat (Dipiro et.al, 2015). Efek samping dari penggunaan
orlistat berupa nyeri perut atau kolik, flatulence, fecal urgency, banyak terjadi
pada 80% individu dari ringan sampai berat dan berkembang setelah 1-2 tahun
terapi. Orlistat berinteraksi dengan absorpsi vitamin larut lemak dan siklosporin.

2. Agen nonadrenergik-serotonergik (Sibutramine)


Sibutramine merupakan suatu serotonin-NA re-uptake blocker, yang berperan
pada terjadinya perangsangan rasa kenyang sesudah makan. Disamping itu juga
meningkatkan penggunaan energi akibat kerja adrenergis perifer. Pengunaan
selama 6 bulan dengan dosis dimulai dari 15mg/hari yang disertai dengan
kombinasi diet dapat mengakibatkan penurunan bobot badan rata-rata 6-8%.
Digunakan pada penderita obesitas dengan BMI > 30 atau diatas 27 dengan faktor
resiko lain Efek samping dari penggunaan sibutramine berupa mulut kering,
anorexia, insomnia, konstipasi, pening, mual timbul 3 kali lebih sering dari pada
placebo. (Sherwood, 2012). Sibutramine tidak digunakan pada pasien dengan
stroke, penyakit arteri koroner, CHF, aritmia, dan yang menggunakan MAOI.

3. Agen Noradrenergik
a. Pentermine (30 mg pada pagi hari atau 8 mg sebelum makan)
Phentermin tersedia dalam dua bentuk: kompleks resin (Duromine dan
lonamin), atau bentuk kapsul hydrochloride. Obat ini secara signifikan berhasil
menurunkan nafsu makan baik pada orang obesitas ataupun orang normal
(Sherwood, 2012). Phentermin merupakan stimulan yang agak kuat dan potensial
penyalahgunaan yang lebih rendah daripada amphetamine dan lebih efektif
daripada placebo-control studies. Efek samping (peningkatan tekanan darah,
palpitasi, aritmia, midriasis, peningkatan kerja insulin hingga terjadi hipoglikemi)
dan ineteraksi dengan MAOI yang memiliki implikasi pada beberapa pasien.
b. Dietilpropion (25 mg sebelum makan atau 75 mg pada sediaan lepas lambat
setiap pagi)
Lebih efektif dari pada placebo dapat mengurangi berat badan dengan cepat.
Dietilpropion adalah salah satu supresan noradrenergik yang aman dan dapat
digunakan pada pasien dengan hipertensi ringan sampai sedang atau angina tapi
tidak dapat digunakan pada pasien dengan hipertensi berat atau penyakit
kardiovaskuler yang signifikan.
c. Amfetamin
Aktivitas farmakologi amfetamin sebagai penekan nafsu maka telah dikenal
sejak tahun1 930. Amfetamin mengaktivasi reseptor sistem noradrenergik pusat
dengan menstimulasi pelepasan neurotransmitter. Berasarkan sisi keamanan dan
potensi sifat adiktifnya, amfetamin tidak digunakan pada terapi obesitas
(Sherwood, 2012).
d. Mazindol
Secara struktur kimiawi, mazindol berbeda dari amfetamin dan phentermine.
Struktur trisikliknya menghasilkan aktivitas supresi nafsu makan sebagaimana
amfetamin. Mekanisme kerja mazindol diperkirakan dengan stimulasi langsung
pada aktivitas hipotalamus dan penghambatan reuptake norepinefrin Efek
samping pengunaan mazindol pada umumnya mulut kering, kesulitan urinasi, dan
stimulasi sistem saraf pusat. Obat ini dikontraindikasikan terhadap phentermine,
MAOI, glaukoma, dan zat stimulan (Sherwood, 2012)

e. Efedrin (20 mg dengan atau tanpa caffeine 200 mg, sampai 3 kali sehari)
Memiliki aktifitas supresif dan termogenik yang lebih baik daripada placebo
dalam percobaan hingga 6 bulan. Efek samping yang umum terjadi adalah tremor,
agitasi, panic, keringat berlebih dan insomnia, palpitasi dan takikardi juga pernah
dilaporkan.

f. Agen Sistem Endocannabinoid (Rimonabant)


Rimonabant bekerja dengan memblokir RC (Reseptor Cannabinoid) d
permkaan sel-sel otak Penggunan obat in dapat mengurangi nafsu makan, juga
menurunkan kadar TG dan glukosa darah serta meningkatkan HDL. Disamping
itu rimonabant juga menurunkan hasrat untuk merokok dan minum alkohol. Obat
ini memiliki efek samping berupa mual, nyeri kepala, pusing dan murung. Obat
anoreksia ini digunakan hanya untuk pada penderita obesitas dengan gangguan
metabolisme, yaitu kolesterol tinggi dan diabetes militus (Sherwood, 2012).

g. Peptida-peptida (seperti leptin, neuropeptida Y(NPY), galanin)


NPY dan galanin adalah dua peptida pada sisem saraf pusat yang memilki
efek stimulasi konsumsi makanan. Ingesti karbohidrat dan pengunaannya terkait
denganaktivitas NPY pada hipotalamus. Aktivitas Galanin sendiri adalah
meningkatkan oksidasi karbohidrat dan lemak, sehingga bersifat termogenik
(dijual sebagi pembakar lemak) (Sherwood, 2012).

4. Evaluasi Hasil Terapi


7.1 Hiperlipidemia
Evaluasi keberhasilan terapi yang dilakukan terhadap pasien yang menderita
hiperlipidemia diantaranya :
a. Evaluasi jangka pendek pada terapi hiperlipidemia didasarkan pada respon
terhadap diet dan terapi obat yang diperoleh dengan melakukan pengukuran
total kolesterol, LDL, HDL, dan trigliserida (Dipiro, J.T., et al, 2015).
b. Banyak pasien yang diterapi akibat hyperlipidemia primer tidak memiliki
gejala atau manifestasi klinik dari gangguan lipid secara genetik (seperti
xanthomas) sehingga pemantauan laboratorium diperlukan (Dipiro, J.T., et al,
2015).
c. Pada pasien yang diterapi untuk intervensi sekunder, gejala penyakit jantung
atherosklerosis, seperti angina dapat membaik dalam waktu bulanan atau
tahunan. Xanthomas atau manifestasi ekternal dari hyperlipidemia dapat
menurun akibat terapi (Dipiro, J.T., et al, 2015).
d. Perhitungan lipid seharusnya dilakukan dalam waktu puasa untuk
meminimalisasi gangguan pengukuran kilomikron. Pemantauan dibutuhkan
selama beberapa bulan pemberian obat. Jika kondisi pasien telah stabil,
pemantauan dalam waktu 6 bulan sampai 1 tahun sudah cukup (Dipiro, J.T.,
et al, 2015).
e. Pasien dengan terapi resin asam empedu sebaiknya melakukan pengecekan
puasa selama 4 sampai 8 minggu sampai dosis stabil tercapai, trigliserida
sebaiknya diperiksa pada dosis stabil tersebut untuk memastikan bahwa tidak
terjadi peningkatan trigliserida (Dipiro, J.T., et al, 2015).
f. Penggunaan Niasin membutuhkan uji awal fungsi hati (SGPT), asam urat,
dan glukosa. Uji ulang sebaiknya dilakukan pada dosis: 1000 1500 mg/hari.
Gejala miopati atau diabetes sebaiknya dicari penyebabnya dan mungkin
memerlukan penetapan kreatinin kinase dan glukosa. Pasien dengan Diabetes
membutuhkan pemantauan lebih sering (Dipiro, J.T., et al, 2015).
g. Pasien yang mengkonsumsi statin sebaiknya melakukan panel puasa 4 hingga
8 minggu setelah dosis awal atau perubahan dosis. Tes fungsi hati seharusnya
didapatkan pada tahap awal dan secara rutin setelahnya berdasarkan paket
informasi yang masuk. Para ahli percaya bahwa pemantauan untuk
hepatotoksik dan miopati dapat dipicu oleh gejala-gejala tersebut (Dipiro,
J.T., et al, 2015).
h. Pasien dengan faktor resiko yang beragam dan penyakit jantung koroner
sebaiknya dipantau dan dievaluasi untuk kemajuan dalam pengaturan faktor
resikonya seperti kontrol tekanan darah, berhenti merokok total, kontrol
terhadap olahraga dan berat badan, dan kontrol glikemik (jika diabetes)
(Dipiro, J.T., et al, 2015).
i. Evaluasi dari terapi diet dengan jadwal diet dan recall server instruments
memberikan informasi tentang makanan untuk dikumpulkan dalam pola
sistematik dan dapat meningkatkan ketaatan pasien terhadap diet yang
direkomendasikan (Dipiro, J.T., et al, 2015).

7.2 Obesitas
Evaluasi keberhasilan terapi yang dilakukan terhadap pasien yang menderita
obesitas diantaranya :
a. Evaluasi hasil terapi yang diperlukan meliputi evaluasi klinik, biokimia, dan
jika diperlukan evaluasi psikologis (Dipiro, J.T., et al, 2015).
b. Evaluasi perkembangan pasien sebaiknya dinilai dalam pengaturan pelayanan
kesehatan satu atau dua kali sebulan pada satu hingga dua bulan pertama,
kemudian tiap bulannya. Tiap pertemuan sebaiknya mendokumentasikan
berat badan, lingkar pinggang, indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah,
rekam medis, dan pengawasan pasien obesitas terhadap toleransi dari terapi
obat (Dipiro, J.T., et al, 2015).
c. Terapi medikasi sebaiknya dihentikan setelah 3 hingga 4 bulan jika pasien
telah gagal menunjukkan penurunan berat badan atau pemeliharaan berat
badan sebelumnya (Dipiro, J.T., et al, 2015).
d. Pasien harus diinformasikan tentang pentingnya kepatuhan terhadap
pengobatan yang diresepkan dan perubahan gaya hidup sehingga dapat
mencapai berat badan optimal (Dipiro, J.T., et al, 2015).
e. Pasien diabetes yang menerima obat penurun berat badan membutuhkan
pemantauan medis yang lebih intens dan pemantauan glukosa darah.
Beberapa agen anoretik memiliki efek langsung yang memperbaiki toleransi
glukosa (Dipiro, J.T., et al, 2015).
f. Terapi insulin perlu disesuaikan dengan dimulainya terapi pengobatan
obesitas (Dipiro, J.T., et al, 2015).
g. Beberapa pasien diabetes memerlukan konsultasi setiap hari dengan penyedia
layanan kesehatan untuk membantu dalam menyesuaikan terapi hipoglikemik
yang dijalankan. Pengukuran HbA1c setiap 4 bulan sekali mungkin sesuai
untuk penderita DM tipe 2 yang sedang menurunkan berat badan untuk
membantu terapi hipoglikemik (Dipiro, J.T., et al, 2015).
h. Profil lipid dapat menjadi normal atau diperbaiki dengan penurunan berat
badan. Status Lipid harus dinilai pertahun pada pasien dengan terapi
hiperlipidemia (Dipiro, J.T., et al, 2015).
i. Penurunan berat badan juga dapat menyebabkan normalisasi tekanan darah
pada pasien hipertensi dengan berat badan berlebih (Dipiro, J.T., et al, 2015).
j. Pasien dengan hyperlipidemia atau hipertensi sebaiknya dimonitor untuk
menilai efek penurunan berat badan pada titik akhir yang sesuai (Dipiro, J.T.,
et al, 2015).

5. Contoh Kasus

Ima Fergusson wanita 56 tahun. Merasa baik-baik saja sejak terakhir kali berobat.
Tidak mengetahui alasan harus check up setiap tahun. Ima Fergusson dipindahkan
ke fasilitas yang berbeda.
Rekam medis :
- BMI 35,6 kg/m2
- Hipertensi selama 24 tahun
- Pra diabetes 1 tahun yang lalu
- Osteoarthritis bilateral pada lutut
- Keram kaki jika berjalan 3 blok
- Rhinitis sejak kecil
- Perimenopause
- Tidak ada alergi obat
Riwayat Keluarga
- Ayah umur 71 tahun diabetes tipe 2, PPOK, dan hipertensi
- Ibu umur 71 tahun mengalami Parkinson dan didiagnosis penyakit jantung
pada usia 66 tahun
- Tidak mengtahui rekam medis 2 adik laki-lakinya
- Anak perempuannya mengalami epilepsy

Riwayat Sosial :
- Janda memiliki 4 anak dewasa tinggal Bersama
- Riwayat Pendidikan lulusan SMP
- Menyediakan jasa penitipan anak
- Tidak mengonsumsi alcohol, rokok, dan oat terlarang

Pengobatan yang dijalani


- enalapril 3 kali sehari 10 mg peroral
- potassium glukonat 595 mg oral prn untuk keram kaki
- difenhidramin 25-50 mg oral prn untuk rhinitis
- ibuprofen 200 mg 4 tablet oral prn untuk sakit kaki dan kepala

Review of System
Pasien merasa sehat, tidak merasa lemah unilateral, mati rasa dan perubahan
akut pada pengelihatan (meskipun sebelumnya resep pengobatan mata telah
diganti sebnayak 2 kali). Tidak merasa mempunyai napas yang pendek, cerebral
palsy, perubahan pada siklus BAB dan pola makan. Menyadari lebih sering keram
setelah berjalan dalam jarak yang dekat dibanding biasanya. Menyadari adanya
pembengkakan pada bagaian bawah kaki terutama pada malam hari dan sakit lutut
semakin parah pada saat tengah malam selama beberapa bulan terakhir. Mengakui
sering menggunakan ibuprofen dalam seminggu terakhir.

Pemeriksaan fisik
Gen: wanita Kaukasian yang obesitas NAD
Tanda Vital: Tekanan darah 147/92 mmHg, P 83, Laju pernafasan 16, Suhu
Tubuh: 37.2, BB: 97 Kg, Tinggi: 55

Pemeriksaan Lab
Natrium 142 mEq/L Total bilirubin 0,5 mg/dL
Kalium 4,9 mEq/L Total protein 7,1 g/dL
Klor 104 mEq/L Sel darah putih 5,3 x 103/mm3
CO2 24 mEq/L Hemoglobin 11,5 g/dL
Kadar nitrogen urea darah 21 mg/dl Hematokrit 34,6 %
Serum kreatinin 1,3 mg/dL Platelet 151 x 103/mm3
Glukosa 121 mg/dL Profil lipid :
Kalsium 8,6 mg/dL Kolesterol total 259 mg/dL
Magnesium 2,1 mEq/L HDL 37 mg/dL
Alanin transaminase 31 U/L LDL 167 mg/dL
Aspartat transaminase 34 U/L Trigliserida 280 mg/dL

Pemantauan SOAP
Subjek
Pasien merasa sehat, tidak merasa lemah unilateral, mati rasa dan perubahan
akut pada pengelihatan (meskipun sebelumnya resep pengobatan mata telah
diganti sebnayak 2 kali). Tidak merasa mempunyai napas yang pendek, cerebral
palsy, perubahan pada siklus BAB dan pola makan. Menyadari lebih sering keram
setelah berjalan dalam jarak yang dekat dibanding biasanya. Menyadari adanya
pembengkakan pada bagaian bawah kaki terutama pada malam hari dan sakit lutut
semakin parah pada saat tengah malam selama beberapa bulan terakhir. Mengakui
sering menggunakan ibuprofen dalam seminggu terakhir.

Objek
Tanda Vital: Tekanan darah 147/92 mmHg, P 83, Laju pernafasan 16, Suhu
Tubuh: 37.2, BB: 97 Kg, Tinggi: 55
Natrium 142 mEq/L Total bilirubin 0,5 mg/dL
Kalium 4,9 mEq/L Total protein 7,1 g/dL
Klor 104 mEq/L Sel darah putih 5,3 x 103/mm3
CO2 24 mEq/L Hemoglobin 11,5 g/dL
Kadar nitrogen urea darah 21 mg/dl Hematokrit 34,6 %
Serum kreatinin 1,3 mg/dL Platelet 151 x 103/mm3
Glukosa 121 mg/dL Profil lipid :
Kalsium 8,6 mg/dL Kolesterol total 259 mg/dL
Magnesium 2,1 mEq/L HDL 37 mg/dL
Alanin transaminase 31 U/L LDL 167 mg/dL
Aspartat transaminase 34 U/L Trigliserida 280 mg/dL

Assesment
1. enalapril 3 kali sehari 10 mg peroral
Indikasi : hipertensi
Kontraindikasi : mempunyai riwayat penyakit angioderma dan ibu hamil
Efek samping : hipotensi, pusing sakit kepala, demam, insomnia, batuk kering,
mual muntah
Interaksi obat : dapat berinteraksi dengan potassium glukonat yang akan
mneyebabkan hiperkalemia

2. potassium glukonat 595 mg oral prn untuk keram kaki


Indikasi : keram kaki
Kontraindikasi : gagal ginjal
Efek samping : hiperkalemia

3. difenhidramin 25-50 mg oral prn untuk rhinitis


Indikasi : rhinitis
Kontraindikasi : asma, glaucoma, bayi dan ibu menyusui
Efek samping : hipotensi, takikardia, palpitasi
4. ibuprofen 200 mg 4 tablet oral prn untuk sakit kaki dan kepala
Indikasi : sakit kepala dan kaki
Kontraindikasi : hipersensitivitas, asma, urtikaria, tukak lambung
Efek samping : mual, konstipasi, diare

DRP :
1. Obat tanpa indikasi : -
2. Indikasi tidak diobati : koleterol total tinggi, tidak diberikan antihiperlipid
3. Obat kurang tepat : potassium glukonat
4. Dosis terlalu tinggi : enalapril untuk dewasa dosis maksimal 10-20 mg
sehari
5. Dosis terlalu rendah : -
6. Reaksi obat yg tidak dikehendaki :
7. Interaksi Obat :
- elanapril dengan potassium glukonat meningkatkan potensi
hyperkalemia dan pada hasil lab kalium pasien mencapai batas akhir
normal
- ibuprofen dan enalapril dapat menurunkan fungsi ginjal, sedangkan
potassium kontraindikasi dengan gagal ginjal
8. Kepatuhan pasien : Tidak mengonsumsi alkohol, rokok, dan oat terlarang.
Rajin check up

Plan
Terapi Farmakologi
- Potassium glukonat tidak digunakan, untuk mengatasi kram kaki dapat
menggunakan ibuprofen
- Pemakaian obat enalapril menajdi 1 kali sehari 10 mg sebelum tidur
- Untuk kolesterol dapat menggunakan simvastatin dengan dosis 5-10 mg
sehari

Terapi non farmakologi


- Olahraga ringan dan mengatur pola makan untuk mengurangi obesitas
- Istirahat dengan cukup
Daftar Pustaka
Cahyaningrum, Aladhiana. 2015. Jurnal Kesehatan Prima: Leptin Sebagai
Indikator Obesitas. 9 : 1364-1371.
Davis, K. 2017. Hyperlipidemia: causes, diagnosis, and treatments. Tersedia
online di http://www.medicalnewstoday.com/articles/295385.php [diakses
pada 30 Agustus 2017].
DiPiro, Cecily V., Barbara G. Wells, Joseph T DiPiro, and Terry L.
Schwinghammer. 2015. Pharmacotherapy Handbook 9th Ed. United States:
McGraw-Hill Education.
ECO. 2015. Obesity Facts. The European Journal of Obesity. 8(1):1-272.
Gitawati, R., Widowati, L., dan Suharyanto, F. 2015. Penggunaan Jamu pada
Pasien Hiperlipidemia Berdasarkan Data Rekam Medik, di Beberapa
Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia. Jurnal Kefarmasian Indonesia;
5(1): 41-48.
Rosenson, R. S. 2015. Patient information: High cholesterol and lipids
(hyperlipidemia) (Beyond the Basics). Available online at
http://www.uptodate.com/contents/high-cholesterol-and-lipids-
hyperlipidemia-beyond-the-basics (diakses pada tanggal 31 agustus 2017)

Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 6. EGC :
Jakarta.
World Health Organization. Obesity. 2017 Available at :
http://www.who.int/topics/obesity. [Dicitasi 29 Agustus 2017].