Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perdarahan subaraknoid menggambarkan adanya darah didalam ruang
subarachnoid akibat beberapa proses patologis. Penggunaan istilah perdarah
subaraknoid merujuk kepada tipe perdarahan non-traumatik, yang biasanya
berasal dari ruptur aneurisma atau arteriovenous malformation
(AVM)/malformasi arteriovenosa (MAV). Pendarahan subaraknoid
merupakan suatus kasus emergensi dalam bagian neurologi. Walaupun
penyebab terbanyak dari pendarahan subarcnhoid adalah traauma, penyebab
lain bisa disebabkan oleh aneurisma intrakranial dan malformasi dari arteri
dan vena. Aneurisma intrakranial adalah penyebab terbanyak dari perdarahan
subaraknoid (80%).1,2
Pecahnya pembuluh darah bisa terjadi pada usia berapa saja, tetapi paling
sering menyerang usia 25-50 tahun. Perdarahan subaraknoid jarang terjadi
setelah suatu cedera kepala. Pada MAV laki-laki lebih banyak daripada
wanita. Perdarahan subaraknoid setidaknya menyebakan kemtian atau
kecatatan dari 18.000 orang di Amerika utara. Kesulitan untuk mendeteki
anuerisma yang tidak pecah pada pasien yang asimptomatik menyebabkan
langkah pencegahan untuk mengindari peningkatan kejadian perdarahan
subraknoid sulit dilakukan.3,4
Sekitar 10-15% pasien dengan perdarahn subrachnoid meninggal sebelum
akhirnya sampai di rumah sakit. Angka mortalitas meningkat sebesar 40%
dalam minggu pertama. Sekitar setengahnya meninggal dalam 6 bulan
pertama. Angka mortalitas dan morbiditas meningkat seiring usia dan
perburukan keseluruhan kesehatan pasien. Kemajuan dalam manajemen PSA
telah menghasilkan pengurangan relatif pada angka mortalitas yang melebihi
25%. Bagaimanapun, lebih dari 1/3 yang selamat memiliki defisit neurologis
mayor.1

1
Sekitar 6-8 % dari stroke secara keseluruha disebabkan oleh perdarahn sub
arknoid karena pecahnya aneurisma. Pada dekade terakhir kejadian stroke
karena perdarakan subarknoid semakin menurun walaupun kejadian perdarahn
sub arknoid tidak mengalami penurunan. Diagnosis dan tatalaksana secra dini
akan menurunkan angka mortalitas dan morbiditas.2,4,5

1.2 Batasan Masalah


Makalah ini membahas tentang definisi, epidemiologi, etiologi dan
patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi serta pencegahan dari
perdarahan subaraknoid.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui definisi, epidemiologi, etiologi
dan patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi serta pencegahan
dari perdarahan subaraknoid, sekaligus sebagai syarat dalam mengikuti
kepaniteraan klinik di bagian neurologi RSUD Padang Panjang
1.4 Metode Penulisan
Penulisan makalah ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang
merujuk kepada beberapa literatur.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Pendarahan subarachnoid adalah gambaran ekstravasasi darah ke dalam


ruang subaraknoid. Penyebab tersering dari perdarahn subaraknoid adalah trauma
, penyeab lain nontraumatic yaitu pecahnya aneurisma intrakranial dan adanya
malformasi arteri dan vena.2,4,6

2.2 Epidemiologi

Insiden kejadian perdarahan subarknoid antara 9-20 per 100.000 orang per
tahun. Perdarahan subarknoid lebih sering terjadi pada perempuan dengan rata-
rata umur 55 tahun. Di Amerika Serikat kejadian dari perdarahn subarchnoid
sebersar 30.000 per tahun. Di Australia, insiden peerdarahn subarknoid skitar 26,4
kasus per 100.000 populasi tapinanya pada pasien di atas 35 tahun. Di Belanda
dilaporkann 7,8 kasus per 100.000 populasi.2,4,6

2.3 Etiologi dan Faktor Resiko2,7

Perdarahn subarchnoid dapat disebabkan oleh pecahnya aneurisma atau


adanya malformasi dari arteri dan vena yng menyebabkan mudahnya terjadi
perdarahn dan menimbulkan perdarahan subaraknoid.

Fakto resiko dari perdarahn subaraknoid meliputi :

Merokok
perempuan
Hipertensi
Alkohol
Cocain, juga dihubungkan dengan kejadian persarahan subaraknoid
dengan onset kejadian lebih muda dan gejla lebih berat.
Adanya faktor keturunan dengan autosomal dominan seperti polikistic
kidney disease, marfans syndrom, dan Ehlers-Danlos syndrom
dihubungkan dengan peningkatan kejadian perdarahn subaraknoid.

3
2.4 Patofisiologi 1,5,7

Perdarahan subaraknoid biasanya hasil dari cedera kepala. Namun,


perdarahan karena cedera kepala menyebabkan gejala yang berbeda dan tidak
dianggap sebagai stroke. Perdarahan subaraknoid dianggap stroke hanya jika
terjadi secara spontan yaitu, ketika perdarahan tidak hasil dari kekuatan-kekuatan
eksternal, seperti kecelakaan atau jatuh. Sebuah perdarahan spontan biasanya
hasil dari pecahnya aneurisma mendadak di sebuah arteri otak, yaitu pada bagian
aneurisma yang menonjol di daerah yang lemah dari dinding arteri itu.

Aneurisma biasanya terjadi di percabangan arteri. Aneurisma dapat


muncul pada saat kelahiran (bawaan), atau dapat berkembang kemudian, yaitu
setelah bertahun-tahun dimana tekanan darah tinggi melemahkan dinding arteri.
Kebanyakan perdarahan subaraknoid adalah hasil dari aneurisma kongenital.
Pecahnya aneurisma menyebakan masuknya darah ke dalam cairan cerebrospinal,
yang nantinya akan menyebabkan terjadinya peningktakan tekanan intrakranuial.
Aneurisma sering terjadi karena adanya pelebaran pembuluh vena di sirkulus

4
wilisi. Mekanisme lain yang kurang umum adalah perdarahan subaraknoid dari
pecahnya koneksi abnormal antara arteri dan vena (malformasi arteri) di dalam
atau di sekitar otak. Sebuah malformasi arteri dapat muncul pada saat kelahiran,
tetapi biasanya hanya diidentifikasi jika gejala berkembang. Jarang sekali suatu
bentuk bekuan darah pada katup jantung yang terinfeksi, perjalanan (menjadi
emboli) ke arteri yang memasok otak, dan menyebabkan arteri menjadi meradang.
arteri kemudian dapat melemah dan pecah.

2.5 Gambaran Klinis 6,7,8

Sebelum robek, aneurisma yang biasanya tidak menimbulkan gejala


kecuali menekan pada saraf atau kebocoran sejumlah kecil darah, biasanya
sebelum pecah besar (yang menyebabkan sakit kepala), menghasilkan tanda-
tanda peringatan, seperti berikut:

Sakit kepala, yang mungkin luar biasa tiba-tiba dan parah (kadang-kadang
disebut sakit kepala halilintar)
Sakit pada mata atau daerah fasial
Penglihatan ganda

5
Kehilangan penglihatan tepi

Aneurisma yang pecah biasanya menyebabkan sakit kepala, tiba-


tiba parah dan mencapai puncak dalam beberapa detik. Hal ini sering
diikuti dengan kehilangan kesadaran singkat. Hampir setengah dari orang
yang terkena meninggal sebelum mencapai rumah sakit. Beberapa orang
tetap berada dalam koma atau tidak sadar dan sebagian lainnya bangun,
merasa bingung, dan mengantuk. Dalam beberapa jam atau bahkan menit,
penderita mungkin menjadi tidak responsif dan sulit untuk dibangunkan

Gejala perdarahan subarachnoid :

Sakit kepala, gejala yang biasanya dialami oleh pasien, biasanyadi


daerah oksipital dengan intensitas yang berat dan tiba-tiba selama
beberapa detik. Biasa disertai dengan mual, muntah dan fotofobia..
Pusing
Nyeri orbital
Diplopia
Visual loss

Tanda perdarahan subaraknoid :

Gangguan sensorik dan motorik, defisit neurologi dapat terjadi


karena pendarahan dapat meluas ke intraparenkimal dan menekan
saraf kranial atau menyebakan iscemik karena vasospasme yang
cepat. Penurunan kesadaran dapat ditemukan dan setengah dari
pasien datng ke rumah sakit dalam keadaan koma.
Kejang
Ptosis
Bruits
Disphasia
Nuchal rigidity, yang merupalkan tanda iritasi dari meningeal
karena adanya darah di rung subarachnoid. Kadang juga ditemukan
tanda lasegue, kernig dan bruzinski. Tanda meningeal dapat

6
ditemukan dalam on set 3-12 jam atau dapat tidak ditemukan pada
pasien yang datang dengan coma atau ekstravasasi darah yang
minimal ke ruang subarachnoid.
Pendarahan intraokular, karena peningkatan tekanan
intrakranialsecara tia-tiba.
Peruabahan kardiovaskular dapat terjadi, seperti hipertensi dan
takikardi karena pengaruh kontrol adrenergik. Ditemukan pada fase
akut, dan cardiac arrest ditemukan pada 3 % kasus.

2.6 Diagnosis 5,6

Pemeriksaan Barain computed tomography (CT) scan, merupakan


pemeriksaan utama untuk menginvestigasi perdarahan subaraknoid.Pada brain CT
scan dapat ditemukan gambaran hiperdens karena ekstravasasi darah di ruang
subarachnoid. Brain CT scan akan ditemukan postif dengan perdarahan
subaraknoid dalam 12 jam setelah onset dlam 97%kasus, 93% dalam 24 jam
stelah onset, dan 50% 1 minggu setelah onset gejala. Pemeriksaan MRI digunakan
untuk mendeteksi adanya lesi iskemik. CT angiografi dapat mendeteksi ruptur
aneurisma.

Pada kasus dengan suspek perdarahan subaraknoid dan pada pemeriksaan


neuroimaging tidak ditemukan kelaina dapat dilakukan pemeriksaan cairan
serebrospinal. Tindakan akan memberikan hasil yang informatif apabila dilakukan
6-12 jam setelah onset gejala dengan ditemukannya bilirubin, hemoglobin, denga
karakteristik xantokromia.

7
2.7 Tatalaksana 5,6,7

Stabilisasi respirasi dan kardiovaskuler adalah tindakan awal yang


perlu dinilai dan ditatalaksana. Hipertensi dapat ditatalksan dengan
pemberian antihipertensi intravena.
Sakit kepala, pilihan terapi utama adalah paracetamol oral atau
infus. Pemberian NSIAD harus dihindari karena dapat
menyebabkan perdarahan ulang.
Hiperpireksia harus ditatalaksan dengan target suhu 32,7o C dan
hiperglikemi harus dikoreksi dengan remomendasi kadar gula
darah 80-120 mg/dl.
Nimodipne 60 mg secara oral setiap 4 jamselam 21 hari bisa
mengurangi resiko iskemik otak.
Magnesium sulfat dapat mencegah vasospasme, dimana
hipomagnesium ditemukan pada 50 % pasien dengan perdarahn
subaraknoid dan berhubungan dengan delayed cerebralischemic.
Anti fibrinolitik bisa mengurangi perdarah ulang apabila ada resiko
iskemik serebral dan sistemik trombosis. Asam traneksamat
mengurangi kejadian perdarahn ulang.
Antikonvulsan diberikan bila terdapat kejang. Untuk profilaksis
antikonvulsan dapat diberikan secara optional.
Tatalaksan untuk aneurisma dapat dilakukan neurosugical clipping.

2.8 Komplikasi 8

Komplikasi dari perdarahan subaraknoid meliputi :

Hidrosefalus
Perdarahan ulang
Vasospasme
Delayed Ischemia
Kejang
Gangguan fungsi jantung perdrahn intraserebral
Perdarahn intraventrikel

8
Subdural hematom

2.9 Prognosis 4,8

Tingkat mortalitas perdaraham subarknoid tela menurun dalam 3 dekade terakhir.


Diperkirakan 10-15 % dari pasien meninggal sebelum sampai di rumah sakit.
Kira-kira 25 % pasien meniggal dalam 24 jam dengan atau tanpa pengobatan.
Pada pasien yang dirawat di rumah sakit angka kematian40% dalam 1 bulan
pengobatan. Sekitar setengah dari mereka yang terkena perdarahan subarachnoid
meninggal dalam 6 bulan pertama. Perdarahan ulangan, merupakan komplikasi
utama dari perdarahan subarachnoid yang menyebabkan kematian dalam kisaran
51-80%.

9
BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN :
Nama : Ny. A
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 60 tahun
MR : 56 23 51
Agama : Islam
Status : Menikah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Suku : Minang
BB : 70 kg
TB : 155 cm
Keadan Gizi : Overweight
Alamat : Ampang Karang Gantiang, Padang
Tgl masuk : 18 Agustus 2017
Alloanamnesis :
Seorang pasien, Ny. A, perempuan berumur 60 tahun datang ke IGD
RSUD Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 18 Agustus 2017 dengan:
Keluhan Utama :
Penurunan Kesadaran

Riwayat Penyakit Sekarang :


Penurunan kesadaran sejak 2 jam SMRS terasa tiba-tiba saat pasien sedang
beraktivitas dimana pasien tidak menyahut dan membuka mata ketika di
panggil oleh keluarga pasien. Tampak oleh keluarga bahwa anggota gerak kiri
tidak aktif bergerak akibat keluhan tersebut, seluruh aktivitas pasien
bergantung pada keluarga.
Nyeri kepala saat onset (+),riwayat sakit kepala hebat (+)
Mual dan muntah menyemprot (-)
Kejang (-)

10
Wajah mencong (+),
Demam (-), trauma kepala (-)
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu, dengan
tekanan darah sistolik tertinggi 180 mmHg, pasien tidak kontrol teratur.
Riwayat diabetes militus disangkal.
Pasien tidak pernah mengalami penyakit jantung, stroke, sebelumnya
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang menderita hipertensi
Pasien tidak memiliki riwayat DM pada keluarga
Riwayat pribadi dan sosial :
Pasien seorang ibu rumah tangga dengan aktifitas harian ringan sampai
sedang. Pasien tidak merokok dan minum alkohol.

PEMERIKSAAN FISIK
I. Umum (18 Agustus 2017)
Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : Sopor (GCS: E2,, M5, V2)
Nadi/ irama : Nadi kuat angkat, regular, 108 x/menit
Pernafasan : Pola thorakoabdominal, regular, 28x/menit
Tekanan darah : 240/ 140 mmHg
Suhu : 36,7oC
Keadaan gizi : Overweight
BB : 65 kg
TB : 156 cm
Rambut : Tidak mudah dicabut dan tidak rontok
Kulit dan kuku : Sianosi (-)
Turgor kulit : Baik
II. Status internus
Kelenjar getah bening
Leher : tidak teraba pembesaran KGB
Aksila : tidak teraba pembesaran KGB

11
Inguinal : tidak teraba pembesaran KGB

Mata : konjungtiva t idak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, 2


mm/ 2 mm, reflek cahaya +/+, reflek kornea +/+, doll eyes
movement (+)
Torak
Paru
Inspeksi : normochest, simetris kiri dan kanan keadaan statis dan dinamis
Palpasi : sulit dinilai
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara nafas bronkovesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : iktus kordis tak terlihat
Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : irama reguler, teratur, bising jantung (-), murmur (-)
Abdomen
Inspeksi : distensi tidak ada
Palpasi : perabaan supel, hepar dan lien tak teraba
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus dalam batas normal
Korpus vertebrae
Inspeksi : sulit dinilai
Palpasi : sulit dinilai
Alat kelamin : tidak diperiksa
Anus : tidak diperiksa
III. Status neurologikus
1. Tanda rangsangan selaput otak
Kaku kuduk : (-)
Brudzinsky I : (-)
Brudzinsky II : (-)
Tanda Kernig : (-)

12
2. Tanda peningkatan tekanan intracranial (-)
Pupil isokor, 3 mm/ 3 mm, reflek cahaya +/+, reflek kornea +/+
Pemeriksaan nervus kranialis
1. Pemeriksaan nervus kranialis
N. I (Olfaktorius)
Penciuman Kanan Kiri
Subjektif Sulit dinilai Sulit dinilai
Objektif (dengan bahan) Tidak diperiksa Tidak diperiksa

N. II (Optikus)
Penglihatan Kanan Kiri
Tajam penglihatan Sulit dinilai Sulit dinilai
Lapangan pandang Sulit dinilai Sulit dinilai
Melihat warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Funduskopi Tidak diperiksa Tidak diperiksa

N. III (Okulomotorius)
Kanan Kiri
Bola mata Bulat Bulat
Ptosis (-) (-)
Gerakan bulbus Sulit dinilai Sulit dinilai
Strabismus (-) (-)
Nistagmus (-) (-)
Ekso/endotalmus (-) (-)
Pupil
Bentuk Bulat, 3 mm Bulat, 3 mm
Refleks cahaya (+) (+)
Refleks akomodasi (+) (+)

Refleks konvergensi (+) (+)

N. IV (Troklearis)

13
Kanan Kiri
Gerakan mata ke bawah (+) (+)
Sikap bulbus Ortho Ortho
Diplopia - -

N. VI (Abdusen)

Pengliatan Kanan Kiri


Gerakan mata ke lateral Sulit dinilai Sulit dinilai
Sikap bulbus Sulit dinilai Sulit dinilai
Diplopia - -

N. V (Trigeminus)
Kanan Kiri
Motorik
Membuka mulut Sulit dinilai Sulit dinilai
Menggerakkan rahang Sulit dinilai Sulit dinilai
Menggigit Sulit dinilai Sulit dinilai

Mengunyah Sulit dinilai Sulit dinilai

Sensorik
Divisi oftalmika
- Refleks kornea (+) (+)
- Sensibilitas (+) (+)
Divisi maksila
- Refleks masetter Sulit dinilai Sulit dinilai
- Sensibilitas Sulit dinilai Sulit dinilai
Divisi mandibula
- Sensibilitas Sulit dinilai Sulit dinilai

N. VII (Fasialis)

14
Kanan Kiri
Raut wajah Plika nasolabialis mencong ke kanan
Sekresi air mata (+) (+)
Fissura palpebral Kelopak mata dapat Kelopak mata dapat
menutup menutup
Menggerakkan dahi Sulit dinilai Sulit dinilai
Menutup mata Sulit dinilai Sulit dinilai
Mencibir/ bersiul Sulit dinilai Sulit dinilai
Memperlihatkan gigi Sulit dinilai Sulit dinilai
Sensasi lidah 2/3 depan Sulit dinilai Sulit dinilai
Hiperakusis Sulit dinilai Sulit dinilai

N. VIII (Vestibularis)
Kanan Kiri
Suara berisik Sulit dinilai Sulit dinilai
Detik Arloji Sulit dinilai Sulit dinilai
Refleks okuloauditorik Sulit dinilai Sulit dinilai
Rinne tes Tidak diperiksa Tidak diperiksa
Weber tes Tidak diperiksa
Schwabach tes Tidak diperiksa
- Memanjang
- Memendek
Nistagmus Sulit dinilai Sulit dinilai
- Pendular
- Vertikal
- Siklikal
Pengaruh posisi kepala Sulit dinilai Sulit dinilai

N. IX (Glossopharyngeus)
Kanan Kiri

15
Sensasi lidah 1/3 belakang Sulit dinilai
Refleks muntah (Gag Rx) Sulit dinilai

N. X (Vagus)
Kanan Kiri
Arkus faring Simetris
Uvula Di tengah
Menelan Sulit dinilai
Artikulasi Sulit dinilai
Suara Sulit dinilai
Nadi Teratur

N. XI (Asesorius)
Kanan Kiri
Menoleh ke kanan Sulit dinilai
Menoleh ke kiri Sulit dinilai
Mengangkat bahu kanan Sulit dinilai
Mengangkat bahu kiri Sulit dinilai

N. XII (Hipoglosus)
Kanan Kiri
Kedudukan lidah dalam Simetris
Kedudukan lidah dijulurkan Sulit dinilai
Tremor (-)
Fasikulasi (-)
Atrofi (-)

Pemeriksaan koordinasi dan keseimbangan


Keseimbangan Koordinasi
Romberg test Tidak dilakukan Jari-jari Tidak Dilakukan
Romberg test Tidak dilakukan Hidung-jari Tidak Dilakukan

16
dipertajam
Stepping gait Tidak dilakukan Pronasi-supinasi Tidak dilakukan
Tandem gait Tidak dilakukan Tes tumit lutut Tidak dilakukan
Rebound phenomen Tidak dilakukan

Pemeriksaan fungsi motorik


a. Badan Respirasi Spontan
Duduk (-)
b. Berdiri dan Gerakan spontan Sulit dinilai
berjalan Tremor Sulit dinilai
Atetosis Sulit dinilai
Mioklonik Sulit dinilai
Khorea Sulit dinilai
c. Ekstremitas Superior Inferior
Kanan Kiri Kanan Kiri
Gerakan Aktif Kurang Aktif Kurang Aktif
Aktif
Kekuatan Tes jatuh ekstremitas Tes jatuh ekstremitas Inferior
superior kiri lebih kiri lebih duluan jatuh dari
duluan jatuh dari pada pada kiri
kiri
Trofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
Tonus Eutonus Eutonus Eutonus Eutonus

Pemeriksaan sensibilitas
Sensibiltas taktil Sulit dinilai
Sensibilitas nyeri Sulit dinilai
Sensiblitas termis Sulit dinilai
Sensiblitas sendi dan posisi Sulit Dinilai
Sensibilitas getar Sulit dinilai
Sensibilitas kortikal Sulit dinilai

17
Stereognosis Sulit dinilai
Pengenalan 2 titik Sulit dinilai
Pengenalan rabaan Sulit dinilai

Sistem refleks
a. Fisiologis Kanan Kiri Kanan Kiri
Kornea (+) (+) Biseps ++ ++
Berbangkis Triseps ++ ++
Laring KPR ++ ++
Masetter APR ++ ++
Dinding perut Bulbokvernosus
Atas Cremaster
Tengah Sfingter
Bawah
b.Patologis Kanan Kiri Kanan Kiri
Lengan Tungkai
Hoffmann-Tromner (-) (-) Babinski (+) (-)
Chaddocks (-) (-)
Oppenheim (-) (-)
Gordon (-) (-)
Schaeffer (-) (-)
Klonus paha (-) (-)
Klonus kaki (-) (-)

Fungsi otonom
- Miksi : normal
- Defekasi : normal
- Sekresi keringat: normal

18
Fungsi luhur
Kesadaran Tanda Dementia
Reaksi bicara Sulit dinilai Reflek glabela (-)
Fungsi Intelek Sulit dinilai Reflek snout (-)
Reaksi emosi Sulit dinilai Reflek menghisap (-)
Reflek memengang (-)
Reflek palmomental (-)

3.1 Pemeriksaan Laboratorium


Hemoglobin : 15,1 g/dl
Leukosit : 25.430/mm3
Trombosit : 289.000/mm3
Hematokrit : 44 %
GDP : 351 mg%
Ureum : 43 mg%
Kreatinin : 1,1 mg%
Natrium : 140
Kalium :3
Clorida : 100
3.2 Pemeriksaan Tambahan
- Brain CT Scan :

19
Diagnosis :
Diagnosis Klinis : Penurunan Kesadarn (Sopor)+ Tanda peningkatan TIK
Diagnosis Topik : Ruang Sub Archnoid
Diagnosis Etiologi : Ruptur Aneurisma Benign
Diagnosis Sekunder : Hipertensi emergency + DM tipe II baru dikenal
Prognosis :
Quo ad vitam : dubia ad malam
Quo ad sanam : dubia ad malam
Quo ad fungsionam : bdubia ad malam

Terapi :
Umum : Elevasi kepala 300
IVFD Asering 12 jam/kolf
O2 NRM 10 liter/menit
NGT ML 1700 kkal
Kateter : Balance cairan

- Khusus :
Manitol 20% tap off
Nicardipine 10 mg + 40 cc Nacl0,9% sesuai target TD darah
Ceftriaxon 2 x 1 gr
As. Traneksamat 4 x 1 gr
Paracetamol 3 x 750 mg
Inj Ranitidin 2 x 50 mg
Sliding scale / 4 jam

20
BAB IV
DISKUSI

Telah dilaporakn seorang pasien perempuan usai 60 tahun datang ke IGD


RSUP Dr. M. Djamil Padang, pada tanggal 18 Agustus 2017 dengan diagnosis
penurunan kesadaran ec perdarahan sub araknoid.
Pada anamnesis didapatkan Penurunan kesadaran sejak 2 jam SMRS terasa
tiba-tiba saat pasien sedang beraktivitas dimana pasien tidak menyahut dan
membuka mata ketika di panggil oleh keluarga pasien. Tampak oleh keluarga
bahwa anggota gerak kiri tidak aktif bergerak akibat keluhan tersebut, seluruh
aktivitas pasien bergantung pada keluarga. Nyeri kepala saat onset (+),riwayat
sakit kepala hebat (+), Mual dan muntah menyemprot (-), Kejang (-), Wajah
mencong (-)Demam (-), trauma kepala (-). Pada pemeriksaan fisik didapatkan
adanya tekanan darah yang tinggi 240/140 mmHg dan ditemukannya defisit
neurologi yaitu penurunan kesadaran dan kelemahan anggota gerak kiri.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik beberapa gejala dan tanda dari
perdarahan sub araknoid ditemukan pada pasien ini, dimana gejala
padapendarahan subaracnoid dapat berupa sakit kepala, gejala yang biasanya
dialami oleh pasien, biasanyadi daerah oksipital dengan intensitas yang berat dan
tiba-tiba selama beberapa detik. Penurunan kesadaran pada pasien ini terjadi
karena adanya defisit neurologi yang dapat terjadi karena pendarahan dapat
meluas ke intraparenkimal dan menekan saraf kranial atau menyebakan iscemik
karena vasospasme yang cepat. Penekanan saraf kranial pada pasien ini adalah
ditemukannya parese N VII (s) tipe sentral.
Berdasarkan faktor resiko perdarahan sub araknoid yang ditemukan pada
pasien ini adalah adanya tekanan darah tinggi, pasien telah lama menderita
tekanan darah tinggi sejak 10 tahun yang lalu. Dan berdasarkan kepustakaan
pasien yang seorang wanita juga temasuk satu poin dalam faktor resiko perdarahn
sub araknoid.
Pada pasien ini pengakan dignosis dilakukan dengan CT scan yang
merupakan pemeriksaan yang utam dalam menginvestigasi perdarahan
subaraknoid dengan ditemukannya gambaran hiperdens. Pada pasien ini

21
pemeriksaan cairan serebrospinal belum dilakukan karena keadaan umum pasien
yang buruk dan berdasarakan kepustakaan pemeriksaan cairan serebrospinal
dilakukan apabila pada gambaran klinis ditemukan adanya suspek perdarahan
subaracnoid dan pada periksaan Ct scan tidak ditemukan kelaianan.
Pada tatalaksana pasien ini diberikan Manitol 20% tap off, nicardipine 10 mg
+ 40 cc Nacl0,9% sesuai target TD darah, ceftriaxon 2 x 1 gr, As. Traneksamat 4
x 1 gr, Paracetamol 3 x 750 mg, Inj Ranitidin 2 x 50 mg, Sliding scale / 4 jam.
Pasien ini meninggal pada rawatan hari ke 2. Dimana seperti yang diketahui
bahwa prognosis pasien dengan perdrahn sub araknoid adalah buruk. Berdsarkan
studi diperkirakan 10-15 % dari pasien meninggal sebelum sampai di rumah sakit.
Kira-kira 25 % pasien meniggal dalam 24 jam dengan atau tanpa pengobatan.
Pada pasien yang dirawat di rumah sakit angka kematian 40% dalam 1 bulan
pengobatan

22