Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebuah teori dan komponen paradigma dalam keperawatan sangatlah
penting bagi seorang perawat karena menjadi dasar atau acuan untuk
melakukan asuhan keperawatan. Teori keperawatan sendiri terus mengalami
perkembangan dari tahun ke tahun, hal tersebut dibuktikan dengan hadirnya
begitu banyak teori keperawatan dari para ahli. Teori keperawatan sama
halnya dengan teori-teori lain yang terdiri dari kumpulan konsep, definisi,
dan asumsi yang ketiganya menjelaskan fenomena. Perbedaannya hanya
terletak pada fenomena yang diangkat oleh bidang ilmu keperawatan, yaitu
seputar konsep manusia, sehat-sakit, lingkungan, dan keperawatan itu
sendiri. Paradigma atau fenomena keperawatan yang mencakup empat
komponen yang telah dijelaskan sebelumnya mengandung pengertian suatu
cara pandang yang mendasar atau cara kita melihat, memikirkan, memberi
makna, menyikapi dan memilih tindakan terhadap berbagai fenomena yang
ada dalam keperawatan. (Kusnanto, 2004) Dalam hal ini, seorang perawat
profesional harus benar-benar dapat memandang secara utuh, memahami,
dan mengaplikasikan berbagai teori keperawatan yang menjelaskan
paradigma. Salah satu bagian yang penting dalam paradigma keperawatan
adalah manusia yang merupakan titik sentral dalam pelayanan keperawatan.
Manusia yang merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sering
disebut sebagai makhluk yang paling sempurna karena memiliki akal.
Dalam keperawatan, manusia adalah sentral penerima asuhan keperawatan,
karena manusia memiliki kebutuhan yang kompleks, termasuk klien,
keluarga, dan komunitas. (Potter dan Perry, 2009).
Manusia dipandang sebagai individu yang bersifat holistik dan
humanistik yang dalam kehidupannya selalu berinteraksi dengan
lingkungan, baik internal maupun eksternal yang akan berpengaruh terhadap
status kesehatannya, asuhan/pelayanan keperawatan. Asuhan/pelayanan
keperawatan merupakan praktik/tindakan keperawatan mandiri yang

1
diberikan karena adanya ketidak mampuan manusia dalam memenuhi
kebutuhannya. Manusia merupakan makhluk bio-psiko-sosio-spiritual yang
unik dan utuh dalam arti merupakan satu kesatuan utuh dari aspek jasmani
dan rohani dan unik karena mempunyai berbagai macam kebutuhan sesuai
dengan tingkatan perkembangannya. Profesi keperawatan juga mempunyai
konsep tentang manusia yang memandang dan meyakini manusia sebagaI
sebagai sistem, adaptif dan sebagai makhluk yang holistik.
Untuk dapat memberikan pelayanan keperawatan tersebut, perawat
perlu memahami konsep manusia sebagai individu yang holistik, konsep
homeostatis, berbagai pandangan teoritis tentang manusia serta konsep
konsep kebutuhan manusia. Oleh karena itu, kami membuat makalah ini
dengan tujuan agar para pembaca yang bergelut di bidang keperawatan
dapat mengetahui secara lebih mendalam mengenai teori-teori keperawatan
dalam hal ini kami berfokus pada konsep manusia. Setelah mengetahui
dengan baik konsep manusia tersebut, seorang perawat haruslah dapat
mengaplikasikan ilmunya dalam dunia kerja sehingga dapat memberikan
pelayanan kesehatan yang baik kepada klien

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa itu Konsep Manusia ?
2. Apa itu Homeostatis Dan Homeodinamik?
3. Apa itu konsep kebutuhan dasar Manusia?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Tujuan Umum
Setelah proses pembelajaran diharapkan mahasiswa dapat memahami
dan mengetahui tentang Konsep Manusia.
2. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mengetahui dan memahami tentang :
a. Konsep Manusia

2
b. Homeostatis Dan Homeodinamik
c. Konsep Kebutuhan dasar manusia
1.4 Manfaat Penulisan
1. Menambah pengetahuan dan informasi mengenai Konsep manusia.
2. Mengetahui tentang homeostatis dan homeodinamik
3. Mengetahui bagaimana konsep asuhan kebutuhan dasar manusia

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Manusia


Banyak yang mendefinisikan tentang manusia, yang jelas pemasalan
tentang manusia memang multikompleks dan umumnya manusia sendiri
tidak mampu mengetahui hakikat manusia secara utuh. Dalam profesi
keperawatan mempunyai konsep tentang manusia yang memandang dan
meyakini manusia sebagai makhluk yang unik, sebagai sistem, adaptif dan
sebagai makhluk yang holistik.
A. Manusia Sebagai Mahluk Yang Unik
Manusia sebagai makhluk yang unik mengandung pengertian
bahwa manusia sebagai makhluk yang mempunyai sifat dan
karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lain. Contohnya,
ada dua orang yang memiliki sifat yang berbeda, si A memiliki sifat
yang pemalu dan pendiam, sedangkan si B memiliki sifat yang
humoris.
B. Manusia Sebagai Sistem
Manusia ditinjau sebagai sistem, artinya manusia terdiri dari beberapa
unsur/sistem yang membentuk suatutotalitas yakni system adaptif,
sistem personal, system interpersonal, dansistem social.
1. Manusia sebagai sistem adaptif(terbuka)
Manusia sebagai sistem adaptif/terbuka adalah memandang
manusia sebagai sistem terbuka yang dinamis yang memerlukan
berbagai masukan dari subsistem maupun suprasistem.
Subsistem terdiri atas komponen sel, organ, dan sistem
organ (misalnya sistem pernapasan dan sistem kardiovaskuler).
Suprasistem meliputi keluarga, komunitas, masyarakat, dan
sosial budaya didalam mempertahankan suatu keadaan seimbang.

4
2. Manusia sebagai sistem terbuka memiliki tujuan utama yaitu
sebagai berikut:
a. Tahap bertahan serta berusaha untuk mencapai kebahagiaan
lahir/batin.
b. Dapat memilihara/menampilkan dirinya dalam situasi apapun
agar tetap sehat.
c. Derajat kesehatan manusia ditentukan oleh kemampuannya
beradptasi dengan segala pengaruh, baik yang berasal dari
dalam maupun dari luar diri.
3. Manusia sebagai sistem personal (individu)
Disebabkan setiapmanusiamemiliki proses persepsi, pola
kepribadian dan tumbuh kembang yang tidak sama maka seorang
perawat harus mengerti tentang konsep self, persepsi, dan
tumbuh kembang dalam masalah atau tugas kesehatan.
4. Manusia sebagai sistem inter personal(keluarga)
Setiap manusia juga memiliki kemampuan interaksi, peran
dan komunikasi yang berbeda, serta memiliki kemampuan dalam
kehidupan bermasyarakat khususnya dalam pengambilan
keputusan dan otoritas dalam masalah atau tugas kesehatan.
5. Manusia sebagai sistem sosial (masyarakat)
Setiap individu memiliki kekuatan dan wewenang dalam
pengambilan keputusan dalam lingkungannya; keluarga,
masyarakat, dan tempat kerja.
C. Manusia Sebagai Adaptif
Adaptasi adalah proses perubahan yang menyertai individu
dalam berespon terhadap perubahan lingkungan mempengaruhi
integritas atau keutuhan.Lingkunganseluruh kondisi keadaan sekitar
yang mempengaruhi perkembangan organisme atau kelompok
organisme.
Model konsep adaptasi pertama kali dikemukakan oleh Suster
Callista Roy (1969). Konsep inidikembangkan dari konsep individu
dan proses adaptasi seperti diuraikan di bawah ini.

5
Terdapat tingkatan dan respon fisiologik untuk memudahkan
adaptasi:
1. Respon takut (mekanisme bertarung).
2. Respon inflamasi.
3. Respon stress dan
4. Respon sensori
Menurut Roy Prilaku adaptif merupakan perilaku individu
secara utuh. Beradaptasi dan menangani rangsang lingkungan.Asumsi
dasar model adaptasi Roy adalah :
1. Manusia adalah keseluruhan dari biopsikologi dan sosial yang
terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan.
2. Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk mengatasi
perubahan-perubahan biopsikososial.
3. Setiap orang memahami bagaimana individu mempunyai batas
kemampuan untuk beradaptasi. Pada dasarnya manusia
memberikan respon terhadap semua rangsangan baik positif
maupun negatif.
2. Kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya,jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan
perubahan maka ia mempunyai kemampuan untuk menghadapi
rangsangan baik positif maupun negatif.
3. Sehat dan sakit merupakan adalah suatu hal yang tidak dapat
dihindari dari kehidupan manusia.

Dalam asuhan keperawatan, menurut Roy (1984) sebagai


penerima asuhan keperawatan adalah individu, keluarga, kelompok,
masyarakat yang dipandang sebagai Holistic adaptif systemdalam
segala aspek yang merupakan satu kesatuan.
System adalah Suatu kesatuan yang di hubungkan karena fungsinya
sebagai kesatuan untuk beberapa tujuan dan adanya saling
ketergantungan dari setiap bagian-bagiannya. System terdiri dari

6
proses input, output, kontrol dan umpan balik ( Roy, 1991 )Dalam
memahami konsep model ini, Callista Roy mengemukakan konsep
keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa
pandangan atau keyakinan serta nilai yang dimilikinya diantaranya:
1. Manusia sebagai makhluk biologi, psikologi dan social yang selalu
berinteraksi dengan lingkungannya.
2. Untuk mencapai suatu homeostatis atau terintegrasi, seseorang
harus beradaptasi sesuai dengan perubahan yang terjadi.
3. Terdapat tiga tingkatan adaptasi pada manusia yang dikemukakan
oleh roy, diantaranya:
A. Focal stimulasi yaitu stimulus yang langsung beradaptasi
dengan seseorang dan akan mempunyai pengaruh kuat
terhadap seseorang individu.
B. Kontekstual stimulus, merupakan stimulus lain yang dialami
seseorang, dan baik stimulus internal maupun eksternal, yang
dapat mempengaruhi, kemudian dapat dilakukan observasi,
diukur secara subjektif.
C. Residual stimulus, merupakan stimulus lain yang merupakan
ciri tambahan yang ada atau sesuai dengan situasi dalam proses
penyesuaian dengan lingkungan yang sukar dilakukan
observasi.
D. System adaptasi memiliki empat mode adaptasi diantaranya:
a. fungsi fisiologis, komponen system adaptasi ini yang
adaptasi fisiologis diantaranya oksigenasi, nutrisi,
eliminasi, aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera,
cairan dan elektrolit, fungsi neurologis dan fungsi
endokrin.
b. konsep diri yang mempunyai pengertian bagaimana
seseorang mengenal pola-pola interaksi social dalam
berhubungan dengan orang lain.
c. fungsi peran merupakan proses penyesuaian yang
berhubungan dengan bagaimana peran seseorang dalam

7
mengenal pola-pola interaksi social dalam berhubungan
dengan orang lain.
d. interdependent merupakan kemampuan seseorang
mengenal pola-pola tentang kasih sayang, cinta yang
dilakukan melalui hubungan secara interpersonal pada
tingkat individu maupun kelompok.
e. Dalam proses penyesuaian diri individu harus
meningkatkan energi agar mampu melaksanakan tujuan
untuk kelangsungan kehidupan,perkembangan, reproduksi
dan keunggulan sehingga proses ini memiliki tujuan
meningkatkan respon adaptasi.

Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem


adaptif. Sebagai sistem adaptif, manusia dapat digambarkan secara
holistik sebagai satu kesatuan yang mempunyai input, kontrol, out put
dan proses umpan balik. Proses kontrol adalah mekanisme koping
yang dimanifestasikan dengan cara- cara adaptasi. Lebih spesifik
manusia didefenisikan sebagai sebuah sistem adaptif dengan aktivitas
kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat
cara-cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran
dan interdependensi
Dalam model adaptasi keperawatan, manusia dijelaskan
sebagai suatu sistem yang hidup, terbuka dan adaptif yang dapat
mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan. Sebagai
sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik
sistem, jadi manusia dilihat sebagai satu-kesatuan yang saling
berhubungan antara unit fungsional secara keseluruhan atau beberapa
unit fungsional untuk beberapa tujuan. Input pada manusia sebagai
suatu sistem adaptasi adalah dengan menerima masukan dari
lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input
atau stimulus termasuk variabel standar yang berlawanan yang umpan
baliknya dapat dibandingkan. Variabel standar ini adalah stimulus

8
internal yang mempunyai tingkat adaptasi dan mewakili dari rentang
stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan usaha-usaha yang
biasa dilakukan.
Proses kontrol manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah
mekanisme koping. Dua mekanisme koping yang telah diidentifikasi
yaitu : subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan
kognator digambarkan sebagai aksi dalam hubungannya terhadap
empat efektor atau cara-cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep
diri, fungsi peran dan interdependen.

D. Manusia Sebagai Holistik


Manusia sebagai makhluk holistik mengandung pengertian,
manusia makhluk yang terdiridari unsur biologis, psikologis, sosial dan
spritual, atau sering disebut juga sebagai makhluk
biopsikososialspritual. Hal itu berarti bahwa sebagai perawat harus
memperhatikan aspek tersebut dalam memberikan asuhan keperawatan
terhadap klien. Sebagai makhluk holistik, manusia dilihat dari aspek
jasmani dan rohani, unik, serta berusaha untuk memenuhi
kebutuhannya, dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, dan
terus menerus menghadapi perubahan lingkungan serta berusaha untuk
beradaptasi dengan lingkungan. Dimana, keempat unsur ini tidak dapat
terpisahkan, gangguan terhadap salah satu aspek merupakan ancaman
terhadap aspek atau unsur yang lain.

Gambar 1.1

9
1. Manusia sebagai makhluk biologis, disebabkan karena:
a. manusia terdiri dari gabungan sistem-sistem organ tubuh.
b. manusia mempertahankan hidup.
c. manusia tidak terlepas dari hukum alam (khususnya hukum
perkembangan)
2. Manusia sebagai makhluk psikologis, karena:
a. setiap individu memiliki kepribadian yang unik (sanguin,
melankholik,dll).
b. setiap individu memiliki tingkahlaku yang merupakan
manifestasi dari kejiwaan.
c. setiap individu memiliki kecerdasan dan daya pikir.
d. setiap individu memiliki kebutuhan psikologis untuk
mengembangkan
3. Manusia sebagai Makluk sosial, karena:
a. setiap individu hidup bersama dengan orang lain.
b. setiap individu dipengaruhi oleh kebudayaan.
c. setiap individu terikat oleh norma yang berlaku dimasyarakat.
d. setiap individu dipengaruhi dan beradaptasi dengan
lingkungan sosial.
e. setiap individu tidak dapat hidup sendiri perlu bantuam orang
lain.

Gambar 1.2 Manusia makhluk sosial


4. Manusia sebagai makhluk Spritual karena:
a. Setiap individu memiliki keyakinan sendiri tentang adanya
Tuhan.
b. Setiap individu memiliki pandangan hidup, dan dorongan
sejalan dengan keyakinan yang dipegangnya

10
5. Manusia sebagai makhluk cultural
a. Manusia mempunyai nilai dan kebudayaan yang membentuk
jatidirinya.
b. Sebagai pembeda dan pembatas dalam hidup social.
c. Kultur dalam diri manusia bisa diubah dan berubah
tergantung lingkungan manusia hidup.

2.2 Homeostatis Dan Homeodinamik


A. Homeostatis
Homeostatis ialah Pengaturan stabilitas dan adaptasi secara
alamiah terhadap konsisi lingkungan sekitarnya secara terus
menerus. Homeostatis terdiri dari homeostatis fisiologis dan
psikologis.
Homeostatis fisiologis dikendalikan oleh sistem endokrin dan
saraf otonom. Homeostatis fisiologis terjadi melalui proses pengaturan
diri, kompensasi, umpan balik negatif, umpan balik ketidakseimbangan
fisiologis.
o Sisten Pengaturan diri: pengaturan fungsi tubuh secara otomatis
yang terjadi pada orang sehat, contohnya pada sitem pencernaan.
o Sistem kompensasi: reaksi tubuh terhadap ketidaknormalan yang
terjadi didalamnya, misalnya saat lampu tiba-tiba mati maka mata
akan dilatasi atau membesar untuk meningkatkan kemampuan
visual terhadap gelap.
o Sistem umpan balik negatif: makanisme penyimpangan tubuh dari
keadaan normal.
o Sistem umpan balik ketidakseimbangan fisiologis: Misalnya pada
saat kita lari, maka jantung akan memompa / berdenyut lebih cepat
untuk mengimbangi metabolisme yang lebih cepat.
Homeostasis psikologis berperan dalam keseimbangan
emosional dan kesejahteraan mental yang didapat dari pengalaman
hidup sehari-hari dan interaksi dengan orang lain, dan dipengaruhi oleh
norma dan adat istiadat masyarakat. contohnya ialah menangis ketika

11
orang lain kedukaan, tertawa ketika orang lain sedang bercerita sesuatu
yang lucu. Proses homeostatis dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.3

B. Homeodinamik
Homeodinamik ialah proses pertukaran energi secara terus
menerus antara manusia dan tempat tinggalnya. Pada proses ini
manusia berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk
bertahan hidup.Homeodinamik mengikuti prinsip integralitas,
resonansi, dan helicy:
1. Prinsip integralitas, prinsip dasar hubungan antara manusia dan
lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan. Perubahan proses
kehidupan ini terjadi secara kontinu karena adanya interaksi yang
saling mempengaruhi antara manusia dengan lingkungannya.
2. Prinsip resonansi, yaitu prinsip bahwa proses kehidupan manusia
selalu berirama dan frekuensinya bervariasi, mengingat manusia
memiliki pengalaman beradaptasi dengan lingkungan
3. Prinsip helicy, yaitu prinsip bahwa setiap perubahan dalam proses
kehidupan manusia berlangsung bertahap dan terdapat hubungan
antara manusia dan lingkungan.

2.3 Konsep Kebutuhan Dasar Manusia


Kebutuhan dasar manusia ialah unsur-unsur yang dibutuhkan oleh
manusia untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis dan psikologis
untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan.
Menurut Abraham Maslow dalam Teori Hierarki Kebutuhan
menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar:

12
1. kebutuhan flsiologis (makan, minum, pakaian),
2. keamanan,
3. cinta,
4. harga diri, dan
5. aktualisasi diri

A. Ciri kebutuhan dasar manusia


Setiap manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama
namun kebutuhan tersebut dirubah sesuai kultur dan keadaan
Setiap manusia memenuhi kebutuhannya sesuai dengan prioritas/
yang lebih penting
Setiap orang dapat merasakan adanya kebutuhan dan
meresponnya dengan berbagai cara
Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan menghasilkan
ketidakseimbangan
Kebutuhan dapat membuat seseorang berpikir dan bergumul
memenuhi rangsangan internal dan eksternal
Kebutuhan saling berkaitan dengan beberapa kebutuhan yang
tidak terpenuhi akan mempengaruhi kebutuhan lainnya.

B. Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Dasar Manusia


Kebutuhan dasar manusia dipengaruhi oleh:
1. Penyakit.Penyakit menyebabkan perubahan dalam memenuhi
kebutuhan, baik secara fisiologis maupun psikologis, karena fungsi
organ tertentu memerlukan kebutuhan yang lebih besar dari
biasanya.
2. Hubungan keluarga. Hubungan yang baik antara anggota keluarga
dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar karena saling
percaya, dan kebahagiaan.
3. Konsep dir. konsep diri yang positif memberikan makna dan
keutuhan (wholeness) bagi seseorang. Orang yang optimis mudah
berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara

13
hidup yang sehat, sehingga kebutuhan dasarnya terpenuhi dengan
mudah
Tahap Perkembangan. Setiap tahap perkembangan memiliki kebutuhan
dasar yang berbeda-beda karena setiap organ tubuh mengalami
kematangan yang berbeda.
C. Pendapat Beberapa Ahli Tentang Model Kebutuhan Dasar Manusia
a. Virginia Henderson
Virginia Henderson (dalam Potter dan Perry, 1997) membagi
kebutuhan dasar manusia ke dalam 14 komponen berikut:
1. Bernapas secara normal.
2. Makan dan minum yang cukup.
3. Eliminasi (buang air besar dan kecil).
4. Bergerak dan mempertahankan postur yang diinginkan.
5. Tidur dan istirahat.
6. Memilih pakaian yang tepat.
7. Mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal dengan
menycsuaikan pakaian yang dikenakan dan memodifIkasi
lingkungan.
8. Menjaga kebersihan diri dan penampilan.
9. Menghindari bahaya dari lingkungan dan menghindari
membahayakan orang lain.
10. Berkomunikasi dengan orang lain dalam mengekspresikan
emosi, kebutuhan, kekhawatiran, dan opini.
11. Beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan.
12. Bekerja sedemikian rupa sebagai modal untuk membiayai
kebutuhan hidup.
13. Bermain atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi.
Belajar, mencmukan, atau memuaskan rasa ingin tahu yang
mengarah pada perkembangan yang normal, kesehatan, dan
penggunaan fasilitas kesehatan yang tersedia.

14
b. Jean Waston
Jean Waston membagi kebutuhan dasar manusia ke dalam 2
peringkat utama:
1. kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah (lower order needs) dan
2. kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi (higher order needs).

Gambar 1.4
c. Abraham Maslow
Teori hierarki kebutuhan dasar manusia yang dikemukakan
Abraham Maslow (dalam Potter dan Perry, 1997) dapat
dikembangkan untuk menjelaskan kebutuhan dasar manusia
sebagai berikut:
1. Kebutuhan Fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar,
oksigen, cairan (minuman), nutrisi (makanan), keseimbangan
suhu tubuh, eliminasi, tempat tinggal, istirahat dan tidur, serta
kebutuhan seksual.
2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan: perlindungan
fisik dan perlindungan psikologis.
Perlindungan fisik, perlindungan atas ancaman terhadap
tubuh atau hidup: Ancaman tersebut dapat berupa

15
penyakit, kecelakaan, bahaya dan lingkungan, dan
sebagainya.
Perlindungan psikologis, perlindungan atas ancaman
dari pengalaman yang baru dan asing. Misalnya,
kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk
sekolah pertama kali karena merasa terancam oleh
keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan
sebagainya.
3. Kebutuhan rasa cinta serta rasa memiliki dan dimiliki,
antara lain memberi dan menerima kasih sayang,
mendapatkan kehangatan keluarga, memiliki sahabat,
diterima oleh kelompok sosial, dan sebagainya.
4. Kebutuhan akan harga diri maupun perasaan dihargai oleh
orang lain. Kebutuhan ini terkait dengan keinginan untuk
mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa pcrcaya diri,
dan kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan
pengakuan dari orang lain.
5. Kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dalam
hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada
orang lain/lingkungan serta mcncapai potensi diri sepenuhnya

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Membantu perawat untuk memahami dirinya sendiri sehingga mereka bisa
mencapai kebutuhan personal di luar situasi klien.
2. Dengan memahami konsep manusia, perawat dapat memahami perilaku
orang lain dengan lebih baik.
3. Pengetahuan tentang kebutuhan dasar dapat memberikan kerangka kerja
untuk dapat diaplikasikan dallam proses keperawatan pada tingkat individu
dan keluarga.
4. Perawat dapat mengaplikasikan pengetahuan tentang konsep manusia
untuk mengurangi stres.
5. Perawat dapat menggunakan pengetahuan kebutuhan manusia untuk
membantu seseorang untuk tumbuh dan berkembang. Kadang manusia
tidak menyadari tentang kebutuhannya. Perawat dapat membantu klien ke
arah aktualisasi diri dengan ccara membantu mereka menemukan arti
dalam pengalaman sakit mereka.

3.2 Saran
Bagi mahasiswa calon perawat diharapkan dapat memahami konsep
manusia agar bisa mengaplikasikannya pada saat bertemu dengan pasien/klien
yang memiliki karakter berbeda-beda di rumah sakit nanti.

17
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. ( 2008 ), Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta : EGC


Suara, Mahyar. ( 2010 ). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : TM
Mubarak, Wahid Iqbal, et al. (2012). Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar. Jakarta
: Salemba Medika
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Swansburg, A.C. (1996). Management and Leadership for Nurse
Managers. Jones and Bartlett Publishers International, London England

18