Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kesehatan sangat penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena
itu,sebagai petugas kesehatan khususnya perawat,memiliki tanggung jawab
untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan guna menunjang dalam
memberikan pelayanan dengan baik. Perkembangan zaman saat ini, juga
mempengaruhi gaya hidup atau kebiasaan sehari-hari. Misalnya kurangnya
mengkonsumsi makan makanan berserat dalam menu sehari-hari. Hal ini dapat
menyebabkan apendiksitis (Lindseth,2005).
Berdasarkan data yang didapatkan menurut Depkes RI (2009), jumlah
pasien yang menderita penyakit apendiksitis di Indonesia berjumlah sekitar 27
% dari jumlah penduduk di Indonesia.
Terjadinya apendiksitis umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun
terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya
obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena
adanya timbunan tinja yang keras (fekalit),hyperplasia jaringan limfoid,penyakit
cacing,parasit,benda asing dalam tubuh,kanker primer dan struktur. Namun
yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit
dan hyperplasia jaringan limfoid (Irga,2007)
Penyebab apendiksitis adalah kurangnya mengkonsumsi serat dan gaya
hidup yang tidak sehat. Hingga tidak dapat dihindari,penyakit apendiksitis
menjadi kasus tersering yang diderita oleh klien dengan nyeri abdomen akut.
Insiden ini lebih tinggi terjadi pada laki-laki dari pada perempuan dan
ditemukan pada setiap umur. Oleh karena itu tetaplah mengangkat diagnosa dini
sangat dibutuhkan. Komplikasi yang mungkin terjadi dapat dicegah engan
penyebab dan perawatan yang optimal (Irga,2007)

1
B. RUMUSAN MASALAH
a. Apakah definisi penyakit apendiksitis ?
b. Apakah klasifikasi dari penyakit apendiksitis ?
c. Apakah etiologi dari penyakit apendiksitis ?
d. Bagaimana manifestasi klinik penyakit apendiksitis?
e. Bagaimana patofisiologis penyakit apendiksitis?
f. Apakah diagnosa keperawatan dari penyakit apendiksitis?
g. Bagaimana penatalaksanaan dari penyakit apendiksitis?

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Memahami konsep dan memberikan asuhan keperwatan pada klien
dengan Apendiksitis.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang definisi Apendiksitis

b. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang klasifikasi Apendiksitis


c. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang etiologi Apendiksitis
d. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang manifestasi klinis
Apendiksitis
e. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang patofisiologis Apendiksitis
f. Mahasisa dapat menjelaskan tentang Diagnosa keperawatan
Apendiksitis
g. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang penatalaksanaan
Apendiksitis

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau
umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mngakibatkan pernanahan. Bila
infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan
saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus
besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan
dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya.
Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa
mengeluarkan lendir.
Apendiksitis merupakan penyakit bedah mayor yang terjadi.
Apendiksitis paling sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda.
Insiden Apendiksitis di Negara maju lebih tinggi dinegara berkembang,
namun pada tigaempat dasawarsa ini menurun secara bermakna.
Kejadian ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan
berserat dalam menu sehari - hari. (Lindseth,2005).

Appendikitis merupakan peradangan pada apendiks vermiformis,


yaitudivertikulum pada caecum yang menyerupai cacing, panjangnya
bervariasi dari 7sampai 15 cm, dan berdiameter sekitar 1 cm
(Dorland, 2000), dan juga merupakan penyebab nyeri abdomen akut
yang paling sering (Arief Mansjoer, 2000), sedangkan batasan
appendicitis akut adalah appendicitis yang terjadi dengan onset
akut yangmemerlukan intervensi bedah ditandai dengan nyeri abdomen
kuadran kanan bawahdengan nyeri tekan lokal dan nyeri alih, nyeri otot
yang ada di atasnya, dan hiperestesia kulit (Dorland, 2000). Bila
dibiarkan dapat menyebabkan komplikasi peritonitis umum,
abses, dan komplikasi pasca operasi seperti fistula dan
infeksiluka operasi. (Bagian Bedah Universitas Gajah Mada, 2008)

3
B. KLASIFIKASI

Klasifikasi apendiksitis terbagi atas :

1. Apendisitis akut fokalis atau segmentalis yaitu setelah sembuh akan


timbul struktur lokal.
2. Apendiksitis purulenta difusi yaitu sudah bertumpuk nanah.

C. ETIOLOGI

Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri.


Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini.
Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi pada lumen
apendiks ini biasanya di sebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras
(fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam
tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan
obstruksi lumen apendiks adalah fekal dan hiperplasia jaringan limfoid.

D. MANIFESTASI KLINIK

Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah
nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigasrium di sekitar umbilikus atau
periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang
muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa
jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc.Burney. Di titik ini
nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya,sehingga merupakan nyeri somatik
setemmpat. Namun terkadang, tidak di rasakan adanya nyeri di daerah
epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan
obat pencahar. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah
terjadinya perofasi. Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat
rendah sekitar 37,5-38,5 derajat celcius.

4
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagian
akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendisitis
ketika meradang. Berikut gejala lain yang timbul :

1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum


(terlindungi oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu
jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah
perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti
berjalan, bernapas dalam batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena
adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis.
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul
gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum. Sehingga peristalsis
meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-
ulang (diare).
3. Bila apendiks terletak di dekt atau menempel pada kandung kemih, dapat
terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya.

5
E. PATOFISOLOGI

Idiopatik Makan tak tentu Kerja fisik yang keras

Massa keras feses

Obstruksi lumen

Suplay aliran darah


menurun mukosa
terkikis

Perforasi, Abses, Peritonis

Peradangan pada apendiks Distensi abdomen

Apendiktomy Nyeri Menekan Gester

Pening Prod. HCL


Insisi bedah Pembatasan intake cairan

Mual muntah

Nyeri Resiko terjadi infeksi Resiko kurang volume cairan

6
F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b/d distensi jaringan intestinal.
2. Ansietas.
3. Resiko kekurangan volume cairan.
4. Resiko terjadinya infeksi b/d tidak adekuatnya pertahanan tubuh.
5. Kerusakan intregitas kulit.

G. PENATALAKSANAAN
Pada appendiksitis akut, pengobatan yang paling baik adalah
operasi appendiks. Dalam waktu 48 jam harus dilakukan. Penderita di
observasi, istirahat dalam posisi fawler, diberikan antibiotik dan diberikan
makanan yang tidak merangsang peristaltik, jika terjadi perofasi diberikan
drain di perut kanan bawah.

7
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajan adalah data dasar utama proses keperawatan yang tujuannya
adalah untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan
kesehatan klien yang memungkinkan perawat asuhan keperawatan kepada klien.
a. Identitas Pasien
yaitu: mencakup nama, umur, agama, alamat, jenis kelamin, pendidikan,
perkerjaan, suku, tanggal masuk, no. MR, identitas keluarga, dll.
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama
Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut
kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin
beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium
dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Nyeri dirasakan terus-menerus.
Keluhan yang menyertai antara lain rasa mual dan muntah, panas.
Riwayat Penyakit Dahulu
Kemungkinan klien pernah menderita atau mengalami gangguan
pencernaan, kebiasaan klien kurang mengkonsumsi makanan yang
berserat, sering mengalami gangguan BAB seperti konstipasi.
Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya klien mengeluh nyeri perut dikuadran kanan bawah, mual,
muantah, anorexia dan demam. Pada klien post operasi ditemukan nyeri
pada luka operasi, klien merasa lemah, Pemulihan kesadaran.
Riwayat Penyakit Keluarga
Appendicitis bukan merupakan penyakit keturunan atau penyakit menular
seperi penyakit lainya.

c. Pemeriksaan Fisik

8
Dilakukan secara head to toe meliputi system dan dikhusus kan pada system
pencernaan :
- Tanda-tanda vital (TD, nadi, suhu, pernafasan) normal/tidak
- Keadaan klien biasanya CMC
1. Rambut : uraikan bentuk rambut seperti hitam, pedek, lurus, alopsia
2. Kulit kepala : kotor/tidak kotor
3. Mata :
Kesimetrisan : biasanya simetris kiri dan kanan
Konjungtiva : anemis/tidak anemis
Sclera : ikterik/ tidak ikterik
4. Mulut dan gigi
Rongga mulut : kotor/tdk
Lidah : kotor/tdk
5 Dada dan thorak
I : simetris kiri dan kanan
P: tidak adanya pembengkakan dan nyeri tekan
P: normal/tdk
A: normal/tdk
6 Abdomen
I : perut tidak membuncit, tanpak bekas luka operasi post apendiktomi
P : nyeri tekan, dan nyeri lepas, dikuadaran kanan bawah
P : n: tympani
A: bising usus (+) n: 5-35x/i
7 Genetalia
Observasi adanya lesi, eritema, fisura, leukoplakia. Inspeksi skrotum untuk
mengetahui ukuran, warna dan bentuk kesimetrisan
Rectum dan anus
I: adanya hemoroid, lesi, kemerahan
P: merasakan adanya massa

8 Kulit/ intagumen

9
I: amati adanya perubhan dan pengurangan pigmentasi, pucat, kemerahan,
sianosis,
lesi kulit, ikterik.

d. Aktivitas sehari-hari
-Makan, minum :
biasanya klien mengalami gangguan pada pemenuhan kebutuhan
makan dan minum karena mual, muntah dan anorexia.

-Eliminasi :
Biasanya terjadi gangguan eliminasi terutama pada awitan awal dengan
gejala konstipasi.

-Istirahat dan tidur


Biasanya klien mengalami gangguan istirahat dan tidur karena rasa nyeri
atau ketidaknyamanan pada daerah abdomen.

-Data psikologis
Biasanya klien dan keluarga akan merasa cemas dan khawatir dengan
keadaannya

e. Data penunjang
a. Laboratorium, terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein
reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit
antara 10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%,
sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
b. Radiologi, terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada
pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat
yang terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-
scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta perluasan
dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum.

10
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan distensi jaringan intestinal.
2. Defisit volume cairan b/d kehilangan aktif volume cairan (evaporasi),
diare.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.

11
C. INTERVENSI

No Diagnosa Keperawatan NOC NIC


1 Nyeri akut berhubungan NOC : Pain Management
dengan distensi jaringan Pain level Lakukan pengkajian
intestinal. Pain control nyeri secara
Comfort level komprehensif
Definisi : Kriteria Hasil termasuk lokasi,
sensori yang tidak Mampu karakteristik, durasi,
menyenangkan dan mengontrol frekuensi, kualitas dan
pengalaman emosional yang nyeri(tahu faktor presipitasi.
muncul secara aktual atau penyebab nyeri, Observasi reaksi
potensial kerusakan njaringan mampu nonverbal dari
atau menggambarkan adanya menggunakan ketidaknyamanan.
kerusakan jaringan atau teknik Gunakan teknik
menggambarkan adanya nonfarmakologi komunikasi terapeutik
kerusakan. untuk untuk mengetahui
(Assosiasi Studi Nyeri mengurangi pengalaman nyeri
Internasional) : nyeri, mencari pasien.
Serangan mendadak atau bantuan) Kaji kultur yang
pelan intensitasnya dari ringan Melaporkan mempengaruhi respon
sampai berat yang dapat bahwa nyeri nyeri
diantisipasi dengan akhir yang berkurang Evaluasi pengalaman
dapat diprediksi dan dengan dengan nyeri masa lampau
durasi kurang dari 6 bulan. menggunakan Evaluasi bersama
manajemen pasien dan tim
Batasan karakteristik : nyeri. kesehatan yang lain
Laporan secara verbal Mampu tentang
atau non verbal mengenali nyeri ketidakefektifan
Fakta dari observasi (skala, kontrol nyeri masa
Posisi antalgic untuk intensitas, lampau.

12
menghindari nyeri. frekuensi, dan Bantu pasien dan
Gerakan melindungi tanda nyeri) keluarga untuk
Tingkah laku berati- Menyatukan mencari dan
hati rasa nyaman menemukan
Muka topeng setelah nyeri dukungan.
Gangguan tidur (mata berkurang Kontrol lingkungan
sayu, tampak capek, yang dapat
sulit atau gerakan mempengaruhi nyeri
kacau, menyeringai) seperti suhu ruangan,
Terfokus pada diri pencahayaan dan
sendiri kebisingan.

Fokus Kurangi faktor


menyempit(penurunan persipitasi nyeri.
persepsi waktu, Pilih dan lakukan
kerusakan proses penanganan nyeri
berfikir, penurunan (farmakologi, non
interaksi dengan orang farmakologi dan
dan lingkungan) interpersonal)
Tingkah laku distraksi, Kaji tipe dan sumber
contoh jalan-jalan, nyeri untuk
menemui orang lain menentukan intervensi
atau aktivitas, Ajarkan tentang teknik
aktivitas berulang- non farmakologi
ulang) Berikan analgetik
Respon autonom untuk mengurangi
(seperti diaphoresis, nyeri
perubahan tekanan Evaluasi keefektifan
darah,perubahan nafas, kontrol nyeri.
nadi dan dilatasi pupil) Tingkatkan istirahat.
Perubahan autonomic Kolaborasikan dengan

13
dalam tonus otot dokter jika ada
(mungkin dalam keluhan dan tindakan
rentang dari lemah ke nyeri tidak berhasil
kaku) Monitor penerimaan
Tingkah laku pasien tentang
ekspresif(contoh : manajemen nyeri
gelisah, merintih, Analgesic administration :
menangis, waspada, Tentukan
iritabel,nafas panjang lokasi,karakteristik,
atau berkeluh kesah) kualitas, dan derajat
nyeri sebelum
Faktor yang berhubungan : pemberian obat.
Agen injuri (bioloogi, kimia, Cek instruksi dari
fisik, psikologis) dokter tentang jenis
obat, dosis, dan
frekuensi.
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
Tentukan analgesik
pilihan, rute
pemberian, dan dosis
optimal.
Pilih rute pemberian
secara IV, IM, untuk
pengobatan nyeri

14
secara teratur.
Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali.
Berikan analgesik
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat.
Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala.

2. Defisit volume cairan b/d NOC : NIC:


kehilangan aktif volume Fluid balance Fluid management
cairan (evaporasi), diare. Hydration Timbang popok/pembalut
Nutritional status : jika diperlukan
Definisi : penurunan cairan food and fluid Pertahankan caian intake
intravaskuler, interstnal, intake dan output yang akurat
dan/atau intrasellular. Ini monitor status hidrasi
mengarah ke dehidrasi, (kelembaban membran
kehilangan cairan saja tanpa Kriteria Hasil : mukasa, nadi adekuat,
perubahan pada natrium Mempertahankan tekanan darah ortostatik),
urine output sesuai jika diperlukan
Batasan Karakteristik : dengan usia dan BB monitor vital sign
Kelemahan , BJ urine normal, monitor masukan
Haus HT normal makanan/cairan dan
Penurunan turgor Tekanan darah, hitung intake kalori harian
kulit/lidah nadi, suhu tubuh kolaborasi pemberian
Membrane mukosa/kulit dalam batas normal cairan IV
Tidak ada tanda
kering monitor status nutrisi

15
Peningkatan denyut nadi, tanda dehidrasi berikan cairan IV pada
penurunan tekanan darah, elastisitas turgor suhu ruangan
penurunan volume/ kulit baik, membran dorong masukan oral
tekanan nadi mukosa lembab berikan penggantian
Pengisian vena menurun tidak ada rasa haus nesogatrik sesuai output
Perubahan status mental yang berlebihan dorong keluarga untuk
Konsentrasi urine membantu pasien makan
meningkat tawarkan snack (jus buah,
Hematokrit meninggi buah segar)
Kehilangan berat badan kolaborasi dengan dokter
seketika (kecuali, pada atur kemungkinan
third spacing) transfuse
persiapan untuk transfuse
Faktor-faktor yang
berhubungan: Hypovolemia Management
Kehilangan volume cairan monitor status cairan
secara aktif termasuk intake dan
Kegagalan mekanisme output cairan
pengaturan pelihara IV line
monitor tingkat Hb dan
Hematokrit
monitor tanda vital
monitor respon pasien
terhadap penambahan
cairan
monitor berat badan
dorong pasien untuk
menambah intake oral
pemberian cairan IV
monitor adanya tanda dan

16
gejala kelebihan volume
cairan
monitor adanya tanda
gagal ginjal
3. Resiko infeksi berhubungan NOC : NIC :
dengan luka operasi immune status infection control (control
knowledge : infeksi )
Definisi : peninngkatan resiko infection control Bersihkan lingkungan
masuknya organism pathogen risk control Pertahankan teknik isolasi
Batasi pengunjung bila
Faktor-faktor resiko : Kriteria Hasil : perlu
prosedur infasif klien bebas dari Intruksikan pada
ketidakcukupan tanda dan gejala pengunjung untuk
pengetahuan untuk infeksi mencuci tangan saat
menghindari paparan mendeskripsikan berkunjung dan setelah
pathogen proses penularan berkunjung meninggalkan
trauma pemyakit, factor pasien
kerusakan jaringan dan yang Gunakan sabun
peningkatan paparan mempengaruhi antimikrobia untuk cuci
lingkungan penularan serta tangan, cuci tangan setiap
reptur membrane amnion penatalaksanaannya sebelum dan sesudah
agen farmasi menunjukkan tindakan keperawatan
(imunosupresan) kemampuan untuk Gunakan baju, sarung
mencegah
malnutrisi tangan sebagai alat
timbulnya infeksi
peningkatan paparan pelindung
jumlah leukosit
lingkungan pathogen Ppertahankan lingkungan
dalam batas normal
imonusupresi aseptic selama
menunjukkan
ketidakadekuatan imun pemasangan alat
perilaku hidup
buatan Ganti letak IV perifer dan
sehat
tidak adekuat pertahanan line central dan dressing

17
sekunder (penurunan Hb, sesuai dengan petunjuk
Leukopenia, penekanan umum
respon inflamasi ) Gunakan kateter
tidak adekuat pertahanan intermiten untuk
tubuh primer (kulit tidak menurunkan infeksi
utuh, trauma jaringan, kandung kencing
penurunan kerja silia, Tingkatkan intake nutrisi
cairan tubuh statis, Berikan terapi antibiotic
perubahan sekresi bila perlu
pH,perubahan peristaltik )
penyakit kronik Infection protection
(proteksi terhadap infeksi) :
Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan local
Monitor hitung
granulosit, WBC
Monitor kerentanan
terhadap infeksi
Batasi pengunjung
Shareing pengunjung
terhadap penyakit menular
Pertahankan teknik
aspesis pada pasien yang
beresiko
Pertahankan tknik aspesis
pada pasien yang beresiko
Pertahankan teknik isolasi
k/p
Berikan perawatan kulit
pada area epidema

18
Inspeksi kulit dan
membrane mukosa
terhadap kemerahan
panas,drainase
Inspeksi kondisi
luka/insisi bedah
Dorong masukan nutrisi
yang cukup, dorong
masukan cairan,dorong
istirahat
Instruksikan pasien untuk
minum antibiotic sesuai
resep, ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi laporan kecurigaan
infeksi, laporkan kultur
positif

19
D. IMPLEMENTASI
Tahap pelaksaanan adalah merupakan perwujudan dari rencana tindakan
yang telah disusun sebelumnya pada tahap perencanaan untuk mengatasi klien
secara optimal.

E. EVALUASI
Evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang
keresahan klien dengan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.

Evaluasi dapat didapat dari metode SOAP, yang berarti :

Subjek : Data yang kita dapat dari pasien.


Objek : data yang kita lihat di pasien
Asisment : rencana tindakan dilanjutkan atau dihentikan
Planing : rencana keperawatan yang akan dihentikan.

20
BAB IV
KESIMPULAN
A. KESIMPULAN
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai
cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mngakibatkan pernanahan. Bila infeksi
bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran
usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau
sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di
perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun,
lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir.

B. SARAN
Apendisitis terjadi karena infeksi bakteri, karena itulah perlu dijaga pola
makan, salah satunya mengurangi makanan- makanan yang pedas.

21
DAFTAR PUSTAKA

Arif, 2000, Karya Tulis Ilmiah Asuhan Keperawatan Pasien Dengan


Apendiksitis http://keperawatan-gun.blogspot.com, Diakses 6 oktober 2014

Burner dan Sudarth , 2002, Keperawatan Meikal Bedah, Edisi, 8 ,Jakarta

Craig Sandy, Lober Williams. Appendicitis, Acute. Diakses dari


www.emedicine.com, diakses . tanggal 6 Oktober 2014.

Departemen Kesehatan RI, 2009, Data Apendiksitis Di Indonesia

Hidayat, A,A, 2007, Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analis


Data, Salemba edika,Jakarta

Igra, 2007, Karya Tulis Ilmiah Asuhan Keperawatan Pasien Dengan


Apendiksitis

http://adydech.blogspot.com, Diakses 8 oktober 2014

Tomayahu, Mansyur, 2011. Persepsi Pasien Apendiksitis Terhadap Perawatan


Apendiktomi Yang Di Rawat Di Ruang Bedah Rsud Toto Kabila Kabupaten Bone
Bolango, Jurnal Politeknik Kesehatan Gorontalo, Gorontalo

22