Anda di halaman 1dari 38

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
The Origin of Species merupakan teori evolusi manusia yang dikemukakan
Darwin pada tahun 1859. Namun teori tersebut berhasil dipatahkan Harun Yahya
merupakan ilmuwan muslim dari Turki. Teori Darwin mengatakan bahwa manusia
sebenarnya termasuk jenis hewan yang telah mencapai tingkat perkembangan yang lebih
tinggi dari jenis-jenis hewan lainnya. Proses perkembangan manusia ini memakan waktu
ribuan tahun, dari amoeba sampai menjadi kera. Kemudian dari kera ada yang berevolusi
menjadi manusia sempurna, meskipun sebagian masih ada yang tetap menjadi kera. Hal
ini sudah ditanamkan kepada kita sejak kecil dan menjadi bagian ilmu yang kita kaji di
bangku pendidikan. Di sisi lain muncul keraguan terhadap konsep teori asal-usul manusia
dari kera. Jika manusia merupakan hasil evolusi dari kera, tentunya selama masa evolusi
tersebut adalah masa transisi, sehingga memungkinkan ada kera setengah manusia,
ataupun ada kera hampir jadi manusia, sebagai bentuk peralihan menuju manusia
sempurna sampai sekarang. Kemudian jika manusia berasal dari kera, bagaimanakah
kisah Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah.

Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dari tanah kering yang hina namun
Allah memberikan potensi kepada manusia yaitu potensi akal, pendengaran, penglihatan,
dan hati. Hal itulah yang membedakan manusia dengan binatang. Akal digunakan
manusia untuk berpikir mengenai yang benar dan yang bathil (salah), sedangkan
hati diciptakan untuk merasakan cinta dan kasih sayang yang telah Allah Swt berikan
kepada setiap manusia. Pendengaran dan Penglihatan merupakan alat yang dibutuhkan
oleh manusia untuk mengetahui tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Manusia dalam bahasa
arab adalah Insan. Dalam kajian kali ini mari kita mengenal lebih dalam tentang manusia
yang disebut dengan Marifatul Insan.

Ma'rifat secara bahasa berasal dari bahasa Arab 'arafa - ya'rifu yang artinya kenal atau
mengenal. Sedangkan insan adalah manusia. Secara terminologi ma'rifatul insan adalah
bagamana cara kita mengetahui dan mengenal apa yang menjadi karakteristik dan
kebutuhan bagi manusia. Atau dengan kata lain kita bisa mengenal siapa diri kita melalui
ma'rifatul insan.
Manusia mampu memikirkan alam raya mulai dari mikrobiologi hingga yang sifatnya
makro, misalnya benda-benda angkasa. Sebagian rahasia alam telah dapat disingkap
manusia untuk memenuhi keperluan hidupnya di dunia ini. Meskipun sanggup
menyingkap berbagai rahasia alam yang begitu mengagumkan, namun sesungguhnya
manusia belum mampu menguak misteri terbesar bagi dirinya yakni mengenal dirinya
sendiri.
Pemahaman mengenai jatidiri menjadi sangat penting, makalah ini sedikit banyak
mengungkap hal tersebut, yakni berkaitan dengan proses penciptaan manusia dari
perspektif ayat-ayat al Quran dan hadist, hubungan antara Khaliq (Pencipta) dan
makhluk (yang diciptakan), dan konsekuensi manusia sebagai makhluk. Mengenai tugas
ataupun fungsi manusia di bumi ini, hal ini berkaitan dengan pertanyaan untuk apa ia
diciptakan. Pemahaman ini menjadi dasar perawat untuk menjalankan perannya sebagai
pemberi asuhan keperawatan, edukator, advokat, pembaharu/ peneliti, dan kolaborator.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Untuk mengenal manusia sesuai dengan Al Quran dan Al Hadist
1.2.2 Tujuan khusus
1. Untuk mengenal segala sesuatu tentang manusia mulai dari penciptaan manusia
hingga tugas seorang manusia di bumi
2. Untuk mengenal diri kita sendiri sebagai seorang manusia dan pemanfaatannya
dalam kehidupan terutama dalam bidang keperawatan
3. Untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan kita sebagai tenaga medis dalam bidang
keperawatan

1.3 Manfaat
1. Agar kita dapat lebih mengenal segala sesuatu tentang manusia mulai dari
penciptaan manusia hingga tugas seorang manusia di bumi
2. Agar kita dapat mengenal diri kita sendiri lebih dalam sebagai seorang manusia
dan dapat memanfaatkannya dalam kehidupan, terutama dalam bidang
keperawatan
3. Agar kita dapat meningkatkan iman dan ketaqwaan kita sebagai tenaga medis
dalam bidang keperawatan
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Manusia


Konsep manusia dalam AI-Qur'an dipahami dengan memperhatikan kata-kata yang
saling menunjuk pada makna manusia yaitu kata basyar, insan, dan al-nas.
1. Basyar
Disebutkan dalam Al-Mufradat Fi Gharibil Quran, bahwa istilah ini berasal dari
kata dasar basyarah, artinya bagian permukaan kulit, sedangkan adamah adalah bagian
dalamnya. Manusia disebut dengan basyar karena kulit mereka lebih banyak terlihat di
permukaan tubuhnya dibanding rambut, berbeda dengan hewan yang umumnya lebih
banyak ditutupi bulu, rambut, dan wool. Dari kata dasar yang bermakna kulit ini pula
muncul istilah mubasyarah, artinya persentuhan kulit dengan kulit secara langsung, dan
bangsa Arab memakainya sebagai kiasan dari hubungan suami istri. Kabar gembira
juga disebut dengan bisyarah dan busyra, karena ketika seseorang bergembira maka
darah menyebar ke seluruh kulitnya sehingga tampak nyata perubahannya, terutama
pada wajah. Dengan demikian, ketika manusia disebut basyar dalam bahasa Arab, yang
dimaksud adalah entitas fisik yang makan, minum, berjalan di pasar, beranak-pinak,
berubah dari kecil menjadi dewasa, dan akhirnya mati. Basyar adalah manusia secara
biologis dan fisiologis sebagai materi di alam raya ini. Ini pula inti gugatan kaum kafir
kepada para Nabi yang dikirim kepada mereka, karena secara fisik mereka adalah
basyar, makhluk berbadan wadak seperti umatnya. Hanya saja, mereka mendapatkan
wahyu dari Allah, dan inilah yang membuat mereka berbeda dari manusia lainnya.
Allah memakai konsep basyar dalam AI-Qur'an sebanyak 37 kali, salah satunya
al-Kahfi: 110, yaitu : Innama anaa basayarun mitslukum (Sesungguhnya aku ini hanya
seorang manusia seperti kamu). Konsep basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat
biologis manusia, seperti asalnya dari tanah liat atau lempung kering (al-Hijr. 33; ar-
Rum: 20), serta manusia makan dan minum (al-Mu'minuun: 33). Basyar adalah
makhluk yang sekedar berada (being) yang statis seperti hewan.
2. Insan
Dalam Al-Quran, kata insan selalu bermakna kenaikan menuju tingkatan yang
membuatnya cakap menjadi khalifah di muka bumi, serta sanggup memikul
konsekuensi taklif dan amanah kemanusiaan. Sebab, ia telah diistimewakan dengan
ilmu, bayan, akal, dan tamyiz (kemampuan memilah).
Kenyataan ini disertai dengan aneka rintangan yang pasti menghadangnya berupa
ujian baik maupun buruk, fitnah lalai karena merasa kuat dan mampu, ditambah
perasaan sebagai makhluk yang menempati posisi tertinggi di alam semesta sehingga
bisa menyeretnya menuju kesombongan dan ujub. Perasaan inilah yang seringkali
menjerumuskan manusia (insan) dan membuatnya lupa bahwa ia pada dasarnya
makhluk yang lemah, yang sedang menempuh kehidupan dunia dari alam tak dikenal
menuju alam gaib. Dengan kata lain, ketika disebut sebagai insan, maka yang dimaksud
adalah kualitas-kualitas spesifik dan istimewa dalam diri manusia yang membuatnya
layak menerima kekhilafahan, taklif, dan dilebihkan diatas malaikat.
Kata insan disebutkan dalam AI-Qur'an sebanyak 70 kali, di antaranya (al-Alaq:
5), yaitu: Allamal insaana maa lam ya'lam (Dia, mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya).Konsep insan selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual
manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dan memikul amanah (al-Ahzab:
72).
Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah
kesempurnaan. Kata ini terulang dalam Al-Quran sebanyak 70 kali dengan berbagai
konteksnya, yaitu :
a. Menjelaskan tentang manusia:
1) Asal kejadian manusia dari tanah terdapat dalam: Q.S. Al-Hijr [15]: 26, Al-
Muminn [23]: 12, As-Sajadah [32]: 7, Al-Rahmn [55]: 14. 2).
2) Kejadian manusia dari setetes mani (nutfah), terdapat dalam: Q.S. An-Nahl [16]:
4, Yasin [36]: 77, Al-Qiymah [75]: 36, Al-Insn [76]: 1-2, Abasa [80]: 17, dan
At-Triq [86]: 5. 3).
3) Kejadian manusia dari segumpal darah, terdapat dalam Q.S. Al-Alaq [96]: 2. 4).
4) Kejadian manusia dalam susah payah, terdapat dalam Q.S. Al-Balad [90] : 4. 5).
5) Kejadian manusia dalam sebaik-baiknya bentuk terdapat dalam Q.S. At-Tin
[95]:4.
b. Menjelaskan sifat-sifat negatif manusia:
1) Tidak pandai bersyukur dan putus asa atas nikmat Allah, seperti terdapat dakan
surat: az-Zumar [39]:49, Hd [11]: 34, al-Isra [17]:67,83, al-Hajj 22]:66,
Fushshilat [41]:49,51, as-Syura [42]:48, az-Zukhruf [43]:15, dan al-diyt
[100]:6.
2) Pragmatis terhadap Allah (ingat ketika kesulitan dan lupa ketika kelapangan),
seperti dalam surat Ynus [10]:12, az-Zumar [39]:8,49 dan Fushshilat [41]:51.
3) Kikir dan suka keluh kesah dan tergesa-gesa, seperti dalam surat: al-
Isra[17]:11,100 dan Maarij [70]:19 dan al-Anbiya [21]:37.
4) Suka membantah, zalim dan melampaui batas, seperti terdapat dalam surat: al-
Kahfi [18]:54, al-Ahzab [33]:72, al-Qiyamah [75]:5 dan al-alaq [96]:6.
3. Naas
Penggunaan kata An Nas dalam Al Quran dihubungkan dengan fungsi manusia
sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang
berawal dari lakilaki dan perempuan, kemudian berkembang menjadi suku bangsa
untuk saling mengenal, tersurat dalam Firman Allah surat Al-Hujurat/49:13.
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan danmenjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnyaorang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah swt ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah swt
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Sejalan dengan konteks kehidupan sosial, maka peran manusia dititikberatkan
pada upaya untuk menciptakan keharmonisan hidup bermasyarakat. Masyarakat dalam
ruang lingkup yang paling sederhana, yaitu keluarga, masyarakat, bangsa hingga antar
bangsa. Yang dalam aplikasina sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti (az-Zummar. 27), yaitu :
Walaqaddlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (Sesungguhnya telah
Kami buatkan bagimanusia dalam al-Qur'an ini setiap macam perumpamaan). Konsep
al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk sosial atau secara kolektif.
Dengan demikian, Al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis,
psikologis, dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan
makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan llahi atau
ruh Allah, memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menantang takdir
Allah.

2.2 Hakikat Penciptaan Manusia


Manusia dan makhluk lain dialam semesta ini diciptakan Allah SWT dengan tujuan
tertentu dan bukanlah tanpa maksud. Manusia tidak begitu saja dibuat tanpa memiliki
hakikat dan substansi. Untuk mengetahui hakikat penciptaan manusia maka kita perlu
mengetahui asal penciptaan manusia terlebih dahulu. Seperti yang kita ketahui bahwa
Allah menciptakan Adam As sebagai manusia pertama dan memberinya tugas di muka
bumi. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut ini
a. Asal Penciptaan Manusia
Menurut ulama Abdurrahman an-Nahlawy, ada dua hakikat penciptaan manusia dilihat
dari sumbernya. Yang pertama adalah asal atau sumber yang jauh yakni menyangkut
proses penciptaan manusia dari tanah dan disempurnakannya manusia dari tanah
tersebut dengan ditiupkannya ruh. Asal yang kedua adalah penciptaan manusia dari
sumber yang dekat yakni penciptaan manusia dari nutfah yakni sel telur dan sel sperma.
Di dalam Alquran disebutan tentang asal penciptaan manusia, diantaranya sebagai
berikut :
1) Penciptaan manusia dari tanah
Berikut ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan kejadian penciptaan manusia dari
tanah.
Yang membuat segala sesuatu yang memciptakan sebaik-baiknya dan memulai
penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunan dari saripati
air yang hina kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya
ruh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan
hati (tetapi) sedikit sekali tidak bersyukur.(QS As sajadah 7).
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya
dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur
dengan bersujud kepadanya (QS Shad : 71-72).
2) Penciptaan manusia dari nutfah
Adapun penciptaan manusia dari nutfah atau mani disebutkan dalam ayat-ayat
berikut ini.
Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal)
dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu
kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging.
Kemudian kami jadikan dia makhluk yang(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah
Allah, Pencipta yang paling baik. (QS Al-Mukminun 12-14)
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah
itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak,
Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa),
Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang
diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal
yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dia-lah yang menghidupkan
dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata
kepadanya: Jadilah, Maka jadilah ia. (QS Al Mukmin 67)
Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan seluruh manusiadari
tanah, kemudian Allah juga menciptakan manusia dari mani dan menyimpannya
dalam rahim kemudian mengeluarkannya dari rahim sang ibu sebagai bayi yang
kemudian tumbuh dan beranjak dewasa. Sebagaimana yang diterangkan dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Muslim berikut ini.
Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya
(kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian
selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu
pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa
malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat
kalimat (macam): rezekinya, ajal (umurnya),amalnya, dan buruk baik (nasibnya).
(HR. Muslim)
b. Hakikat Penciptaan Manusia
Allah menciptakan manusia dengan dua unsur yakni jasmani dan rohani. Unsur
jasmani Adalah tubuh atau jasad manusia yang tersusun atas organ dan sistem organ.
Unsur yang kedua yakni unsur ruh atau jiwa. Kedua unsur ini berkaitan satu sama lain
dan apabila kedua unsur tersebut berpisah maka manusia disebut mati sehingga tidak
lagi dapat disebut sebagai manusia. Adapun hakikat manusia menurut islam
berdasarkan substansi penciptaan adalah sebagai berikut mengenai hakikat penciptaan
manusia :
1) Makhluk Allah yang paling sempurna
Allah menciptakan manusia dengan kesempurnaan dan keunikan . hal ini
dilihat dari segala hal yang menyangkut fisik dan jiwa seorang manusia. Ia berbeda
dengan makhluk lainnya dan bahkan Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud
kepada Adam AS karena akal dan pengetahuan yang dianugerahkan kepadanya.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At Tin berikut ini.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya (QS At tin : 4)
2) Manusia sebagai bukti kekuasaan Allah SWT
Sejak awal penciptaannya, manusia pertama yakni Adam As telah mengakui
Allah sebagai Tuhannya dan hal tersebut mendorong manusia untuk senantiasa
beriman kepada Allah SWT. Penciptaan manusia juga memiliki hakikat bahwa Allah
menciptakan agama islam sebagai pedoman hidup yang harus dijalani oleh manusia
selama hidupnya. Seluruh ajaran islam adalah diperuntukkan untuk manusia dan
oleh karena itu manusia wajib beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa
yakni Allah SWT.
3) Manusia diciptakan sebagai hamba Allah
Adapun Allah menciptakan manusia untuk mengabdi dan menjadi hamba yang
senantiasa beribadah dan menyembah Allah SWT sebagaimana yang disebutkan
dalam ayat berikut
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.(QS Adz zariyat : 56)
Ibadah yang semestinya dilakukan manusia terdiri dari dua golongan yakni
ibadah yang bersifat khusus dan ibadah yang bersifat umum. Ibadah yang sifatnya
khusus antara lain ibadah sholat wajib, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Sedangkan
ibadah yang bersifat umum adalah seperti melakukan amal saleh yang tidak hanya
bermanfaat bagi dirinya akan tetapi bermanfaat juga untuk orang lain dan dilandasi
niat yang ikhlas dan bertujuan hanya mencari keridhaan Allah semata seperti
bersedekah, menyambung tali silaturahmi, menikah dan sebagainya.
4) Manusia diciptakan Allah sebagai Khalifah
Kata Khalifah berasal dari bahasa arab yakni khalafa atau khalifatan yang
artinya meneruskan, sehingga kata khalifah yang dimaksud adalah penerus agama
islam dan ajaran dari Allah SWT. Sebagai manusia yang berperan sebagai khalifah
maka manusia wajib menjalankan tugasnya untuk senantiasa menjaga bumi dan
makhluk lainnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang
diperbuatnya kelak di hari akhir. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT Surat
Albaqarah ayat 30 yang bunyinya
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanyas dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman:
Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.(QS Al Baqarah :
30)
Dengan demikian, hakikat penciptaan manusia selayaknya membuat kita sadar
bahwa sebagai manusia kita diciptakan untuk menyembah dan melakukan kewajiban
kita di dunia sebagai khalifah.
2.3 Proses Penciptaan Manusia
Al-Qur'an dan telah menjelaskan secara periodik dan sistematik tentang tahap-tahap
perkembangan embrio dalam rahim, Allah Ta`ala berfirman : Dan sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami
jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik . (QS. Al
Mu'minun 12-14).
Setelah Allah Ta`ala menyebutkan dalam Al Qur'an tentang embriologi, Rasulullah
SAW juga menegaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah
bin Mas'ud RA. Bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang selalu benar dan dibenarkan
"Sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya 40 hari berupa
nuthfah. Kemudian menjadi 'alaqah selama itu juga, kemudian menjadi mudghah selama
itu juga, kemudian diutus kepadanya Malaikat, maka ia meniupkan ruh padanya dan
ditetapkan empat perkara : ditentukan rizkinya, ajalnya, amalnya dan ia celaka atau bahagia
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Al Qur'an dan Al Hadits di atas menunujukkan bahwa Allah Ta`ala menciptakan
manusia melalui fase-fase berikut :
1. Nutfah
Nuthfatun adalah sperma laki-laki dan sel telur perempuan yang telah bertemu dan
terjadi pembuahan kemudian terjadi perubahan dari keadaan yang satu kepada yang lain
dan dari bentuk yang satu kepada bentuk yang lain. Sebelum proses pembuahan terjadi,
250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu dan menuju sel telur yang
jumlahnya hanya satu setiap siklusnya. Sperma-sperma melakukan perjalanan yang
sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur karena saluran reproduksi wanita yang
berbelok2, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan sperma, gerakan menyapu dari
dalam saluran reproduksi wanita, dan juga gaya gravitasi yang berlawanan. Sel telur
hanya akan membolehkan masuk satu sperma saja.
Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil
darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Quran :
Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani
yang dipancarkan? (QS Al Qiyamah:36-37)
Riset para ahli embriologi menyebutkan bahwa selain mengandung spermatozoa
(sperma) air mani juga tersusun dari berbagai campuran yang berlainan yang
mempunyai fungsi masing-masing, misalnya mengandung gula yang diperlukan untuk
menyediakan energi bagi spermatozoa, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan
melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma. Air mani yang tersusun
dari berbagai campuran tersebut telah disebutkan dalam Al- Qur'an. "Yang membuat
segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan
manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina
(mani)" (QS. As Sajdah : 7-8). Kata-kata sulalah (saripati) pada ayat tersebut
merupakan bagian yang mendasar atau "bagian dari satu kesatuan".
2. Alaqah
Peringkat pembentukan alaqah ialah pada hujung minggu pertama / hari ketujuh .
Pada hari yang ketujuh telor yang sudah disenyawakan itu akan tertanam di dinding
rahim (qarar makin). Selepas itu Kami mengubah nutfah menjadi alaqah.
"Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah" (AlAlaq/96:2).
Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, terbentuk sebuah
sel tunggal yang dikenal sebagai zigot , zigot ini akan segera berkembang biak dengan
membelah diri hingga akhirnya menjadi segumpal daging. Tentu saja hal ini hanya
dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.
Tapi, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia
melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan
carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting
dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. Pada bagian ini, satu keajaiban penting dari
Al Quran terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu,
Allah menggunakan kata alaq dalam Al Quran. Arti kata alaq dalam bahasa Arab
adalah sesuatu yang menempel pada suatu tempat. Kata ini secara harfiah digunakan
untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.
3. Mudghah
Pembentukan mudghah dikatakan berlaku pada minggu keempat. Perkataan
mudghah disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran iaitu surah al-Hajj ayat 5 dan
surah al-Mukminun ayat 14.
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka
(ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan
Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan
berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang
diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun,
supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan
kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya,
hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan
yang indah. (QS. al-Hajj ayat 5)
"...lalu segumpal darah itu Kami jadikan daging,..." ( QS. Al Mukminun : 14)
Mudghah yang mempunyai arti segumpal daging ini merupakan fase yang mana
berbentuk lengkung, dengan penampakan gelembung-gelembung serta alur-alur.
Embrio yang tumbuh berumur 40-42 hari tidak lagi mirip dengan embrio hewan
karena sudah dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang
sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW dari Hudzaifah ibnu Asid :
"Ketika nuthfah telah lewat 42 malam dari penciptaan, Allah Ta`ala mengirim
malaikat untuk membentuknya dan menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, otot
dan tulang. Kemudian malaikat bertanya : Ya Allah, ini akan dijadikan laki-laki atau
perempuan ? Dan Allah memutuskan apa yang dikehendakiNya, .." (HR. Muslim)
Diperingkat ini sudah berlaku pembentukan otak, saraf tunjang, telinga dan
anggota-anggota yang lain. Selain itu sistem pernafasan bayi sudah terbentuk.Vilus
yang tertanam di dalam otot-otot ibu kini mempunyai saluran darahnya sendiri. Jantung
bayi pula mula berdengup. Untuk perkembangan seterusnya, darah mula mengalir
dengan lebih banyak lagi kesitu bagi membekalkan oksigen dan pemakanan yang
secukupnya. Menjelang tujuh minggu sistem pernafasan bayi mula berfungsi sendiri.
4. Izam dan Lahm
Pada peringkat ini iaitu minggu kelima, keenam dan ketujuh ialah peringkat
pembentukan tulang yang mendahului pembentukan oto-otot. Apabila tulang belulang
telah dibentuk, otot-otot akan membungkus rangka tersebut.
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang- belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta
Yang Paling Baik (QS Al Muminun:14).
Para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk
secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat
ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan
mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah
mengungkap bahwa pernyataan Al-Quran adalah benar.
Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam
rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut.
Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang
terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang
ini.
Kemudian pada minggu ketujuh terbentuk pula satu sistem yang kompleks. Pada
tahap ini perut dan usus , seluruh saraf, otak dan tulang belakang mula terbentuk.
Serentak dengan itu sistem pernafasan dan saluran pernafasan dari mulut ke hidung dan
juga ke pau-paru mula kelihatan. Begitu juga dengan organ pembiakan, kalenjar, hati,
buah penggang, pundi air kencing dan lain-lain terbentuk dengan lebih sempurna lagi.
Kaki dan tangan juga mula tumbuh. Begitu juga mata, telinga dan mulut semakin
sempurna. Pada minggu kelapan semuanya telah sempurna dan lengkap.
5. Peniupan Ruh
Yaitu peringkat peniupan roh. Para ulamak Islam menyatakan bilakah roh
ditiupkan ke dalam jasad yang sedang berkembang? Mereka hanya sepakat mengatakan
peniupan roh ini berlaku selepas empat puluh hari dan selepas terbentuknya organ-
organ tubuh termasuklah organ seks. Nilai kehidupan mereka telah pun bermula sejak
di alam rahim lagi. Ketika di alam rahim perkembangan mereka bukanlah proses
perkembangan fizikal semata-mata tetapi telahpun mempunyai hubungan dengan Allah
s.w.t melalui ikatan kesaksian sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam al-
Quran surah al-A'raf : 172.
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami
menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)", (al-A'raf : 172.)
Dengan ini entiti roh dan jasad saling bantu membantu untuk meningkatkan
martabat dan kejadian insan disisi Allah s.w.t
Ruh merupakan penggerak dan pertanda dari kehidupan seorang hamba, tanpa
adanya ruh maka jasad yang telah terbentuk tidak akan sempurna. Tentang ruh ini Allah
Ta`ala berfirman : "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah "Ruh itu
termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
(QS. Al Isra' : 85)
Para ahli ilmu mendefinisikan ruh sebagai organ lembut yang berada pada badan.
Proses peniupan ruh oleh malaikat tersebut diiringi dengan proses penentuan rizkinya,
ajalnya, amalnya dan ia celaka atau bahagia. Proses peniupan ruh pada embrio tersebut
ketika berumur 120 hari sebagaimana disebutkan pada hadits dari Abi Abdirrahman
Abdillah bin Mas'ud RA. yang sudah tersebut di atas.
Hal lain yang disebutkan dalam Al Qur'an adalah bahwa embrio terselubungi oleh
tiga kegelapan "dzulumatin tsalats". Para pakar embriologi menyebutkan bahwa
maksud dari tiga tabir kegelapan itu adalah ; 1. Dinding bagian dalam perut ibu, 2.
Dinding uterus, dan 3. Membran amniokorionik. Maha benar Allah Ta`ala dengan
firmanNya : "Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian
dalam tiga kegelapan"(QS. Az Zumar : 6)

2.4 Potensi Manusia


Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak
yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR.
Bukhari)
Kata fitrah sebenarnya ada beberapa pengertian, tidak selamanya diartikan seperti
kertas putih yang tidak ada noda. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Hasan Langgulung
(Allahyarham), bahwa Allah menyertakan kepada anak yang baru lahir itu fitrah, yang
diartikannya sebagai potensi. Jadi menurutnya, bahwa anak manusia tidak lahir dalam
keadaan kosong, melainkan membawa potensi-potensi. Potensi-potensi tersebut adalah
99% kemungkinan Asmaul Husna. Misalnya, Ar-Rahman (Maha Pengasih). Kalau yang
dikembangkan bersama-sama dengan keluarga dan masyarakatnya adalah Ar-Rahman,
maka Ar-Rahman itulah yang kemudian tampil dalam kehidupannya. Tetapi jika yang
dikembangkan adalah Al-Qahhar (Maha Perkasa), maka kemungkinan anak tersebut akan
menjadi orang yang keras.
Sejak kita berada di dalam rahim, Allah telah menanamkan ketauhidan kepada kita.
Allah juga merekam semua apa yang kita kerjakan di dalam hidup ini. Suatu saat nanti,
semua yang telah kita lakukan itu akan diperlihatkan kepada kita.
Di dalam Surah Al-Israa disebutkan:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan), (Q.S. Al-Araaf: 172)
Ketika berada di dalam rahim itu 120 hari, maka ditiupkan ruh. Terjadi konsepsi
kehidupan manusia. Pada saat itu ruh itu ditanya: Bukankah Aku ini Tuhanmu?
Kita memang tidak sadar ketika itu, dan memang dibuat kita tidak merasa, karena
kalau kita sadar, maka yang kasihan adalah si ibu. Allah menjadikan kita tidak sadar di
dalam rahim agar tidak menyengsarakan si ibu. Tetapi terjadi dialog itu.
Kemudian kita dibekali berbagai potensi. Ketika kita lahir, yang pertama diberikan
oleh Allah adalah al-gharizah (insting). Insting tersebut yaitu berupa tangisan. Tangisan
merupakan hidayah Allah yang pertama kali diberikan kepada kita. Ketika ada seorang
anak manusia yang terlahir tidak ada suaranya, maka itu merupakan tidak adanya tanda-
tanda kehidupan. Tangisan pada bayi menunjukkan adanya kehidupan.Tetapi, insting ini
sangat terbatas. Insting adalah sesuatu yang bisa dikerjakan tanpa dipelajari.
Dalam tafsirnya, Prof. Dr. Ahmad Mustafa Al-Maraghi menyatakan, bahwa Allah
memberikan kepada manusia lima hidayah sebagai modal hidup, yaitu:
1. Gharizah (insting)
Dibandingkan dengan manusia, ternyata ada hewan yang instingnya lebih hebat
daripada manusia. Misalkan, bebek ketika lahir langsung bisa berenang. Jadi, kalau kita
mengandalkan insting, maka kita kalah dengan hewan. Jadi, kita tidak bisa hanya
mengandalkan insting.
2. Indera
Di dalam psikologi, ternyata indera itu tidak hanya sebanyak lima, melainkan
banyak. Antara lain ada indera keseimbangan yang berada di lorong telinga, dan juga
indera kinestetik yang berada di persendian. Karena itulah, kita bisa duduk dan bisa
berdiri karena indera kinestetik kita bekerja. Kalau indera kinestetik ini tidak bekerja,
maka kita tidak bisa berdiri, tidak bisa berjalan, dan sebagainya. Karena itulah, orang
yang sedang pingsan, maka ia akan terjatuh, karena indera kinestetisnya tidak bekerja.
Dan masih banyak lagi.
Indera diperlukan. Tapi kalau hanya indera saja yang diandalkan, maka kita kalah
dengan binatang. Indera penglihatan tikus dan elang lebih hebat dari kita. Indera
penciuman anjing juga lebih hebat dari manusia. Jadi, kita tidak bisa mengandalkan
indera saja.
3. Akal
Akalpun ternyata tidak bisa diandalkan. Manusia diberikan akal oleh Allah, dan
dikatakan juga bahwa hewan tidak diberikan akal oleh Allah. Tetapi di dalam ilmu
psikologi disebutkan, bahwa inteligensi hewan itu ada, namun sangat kecil dan sangat
rendah dibandingkan dengan manusia. Yang paling tinggi dan mendekati manusia
tingkat inteligensinya adalah simpanse. Di Ragunan, satu-satunya hewan yang
mempunyai meja makan, ada piringnya, dan juga ada kursinya adalah simpanse. Di
Jerman ada seorang dokter yang mempekerjakan simpanse untuk memberi kartu kepada
pasien-pasiennya yang datang. Di Perancis ada simpanse yang dipekerjakan untuk
memunguti telur-telur ayam pada suatu peternakan. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh
simpanse itu tidaklah seperti apa yang bisa dilakukan oleh manusia. Tapi dalam hal ini,
simpanse lebih tinggi inteligensinya dibandingkan dengan hewan yang lain.
Kalau kita mengandalkan akal pikiran, ternyata tidak semuanya bisa dijawab.
Misalkan ditanyakan, angka berapa yang paling kecil? Ada yang mengatakan 1, ada
juga yang mengatakan bahwa 0 lebih kecil dari 1. Kalau ditanyakan, lebih kecil mana
dibandingkan dengan -1, maka akan ada yang mengatakan bahwa -1 lebih kecil dari 0.
Jadi, minus berapakah yang paling kecil? Tenyata tidak terbatas. Akal kita tidak mampu
menjawab ini. Artinya, bahwa tidak segala-galanya akal manusia itu mampu
menyelesaikan masalah. Karena itulah, Allah memberikan kita hidayah yang keempat,
yaitu hati (qalb).
4. Hati (qalb)
Hati (qalb) yaitu sebuah institusi yang ada dalam diri manusia, namun kita tidak
tahu tempatnya di mana. Qalb inilah yang tak pernah membohongi manusia. Karena
itulah, orang beriman harus dengan hati, karena indera sering membohongi manusia.
Kalau seseorang melakukan suatu keburukan ataupun kejahatan, mungkin bisa
disembunyikan dengan tingkah laku, tapi hati tak bisa dibohongi. Hati kita pasti
berkata, Aku berbohong. Hanya qalb yang merupakan institusi yang tak pernah
membohongi manusia. Di dalam hadis Rasulullah dikatakan:
Indikator suatu dosa itu dapat dilihat dari dua faktor: pertama, membuat suatu
rasa yang lain di dalam hati. Setelah melakukan suatu dosa, kita pasti ada rasa yang
lain, yaitu rasa bersalah di hati, karena hati tak pernah membohongi manusia. Karena
itulah, Allah senantiasa melihat qalb manusia, bukanlah pada penampilannya.
Rasulullah menyatakan:
Allah tidak melihat mukamu, bukan melihat bentuk tubuhmu, tetapi yang dilihat
adalah hatimu.
Tidak ada yang tahu hati kita, meskipun sebenarnya pada kehidupan kita biasanya
kalau ada pohon yang rindang, maka akarnya itu kuat. Kalau ada orang yang amal
ibadahnya bagus, istiqamah, konsisten, maka pasti di dalamnya juga bagus. Kalau kita
konsisten melakukan amal ibadah, insya Allah iman yang bersemi di dalam hati kita ini
memang kuat. Di dalam Alquran disebutkan, bahwa qalb itu adalah sesuatu yang
bergerak. Disebut qalb yang itu adalah sesuatu yang bergerak, karena qalb itu biasanya
bolak-balik. Tetapi bagaimana caranya agar qalb itu tidak bolak balik? Bagaimanakah
caranya agar seperti kompas, di mana saja selalu menunjuk ke utara? Bagaimanakah
caranya agar hati itu terus mu-allafun bil masajid? Bagaimanakah caranya agar hati itu
selalu menghadap ke kiblat? Bagaimanakah caranya agar hati itu selalu terpaut (terikat)
dengan masjid?
Qalb hanya dimiliki oleh manusia. Di dalam ilmu psikologi, perbedaan antara
manusia dengan hewan itu bukan hanya pada akalnya, tetapi juga pada beberapa hal.
Pertama, bahwa manusia mempunyai kepekaan sosial, sedangkan hewan tidak
mempunyai kepekaan sosial. Munculnya kepekaan sosial itu karena ada hati (perasaan)
kita. Kalau ada orang yang tidak mempunyai kepekaan sosial terhadap sesama manusia,
berarti orang tersebut tidak mempunyai hati.
Kedua, manusia mempunyai usaha dan perjuangan, yang ini juga merupakan hal
yang membdakan manusia dengan hewan. Dari dulu, sarang yang dibuat oleh hewan itu
selalu sama seperti itu saja bentuknya. Sedangkan manusia selalu terjadi
perkembangan. Dahulunya manusia mungkin bertempat tinggal di gua, kemudian
berkembang dengan membuat rumah di pohon, kemudian berkembang lagi dengan
membuat rumah ataupun tempat tinggal yang nyaman lagi hingga seperti sekarang.
Bahkan mungkin suatu saat nanti mungkin saja manusia akan tinggal di bulan ataupun
ruang angkasa.
5. Agama (ad-din)
Kalau hanya hati saja, maka keatika dia merasa kasihan terhadap orang lain, bisa
jadi semua hartanya diberikan kepada orang tersebut. Tetapi agama mengatakan, bahwa
memberi sumbangan itu ada batas-batasnya, tidak boleh terlalu boros, juga tidak boleh
terlalu kikir, melainkan berada di tengah-tengahnya. Agama lah yang mengatur
demikian. Maka manusia diberi hidayah yang ke lima, yaitu hidayatul adyan (hidayah
agama). Agama lah yang menjadi wasit (hakim).
Dalam hal ini, Alquran merupakan pedoman bagi umat manusia. Kalau Alquran
tidak difungsikan, maka dia tidak berbicara dan tidak bermakna apa-apa.
Sama halnya dengan alat-alat elektronik yang terdapat buku panduan (manual)
nya, yang jika kita mengikuti aturan di dalam buku panduannya, maka insya Allah
barang-barang elektronik kita akan awet. Yang paling tahu mengenai alat-alat
elektronik tersebut adalah pabriknya. Begitu juga dengan manusia, lahir mengarungi
kehidupan di dunia ini menjaid khalifah disertakan dengan manual (buku petunjuk).
Buku petunjuknya adalah Alquran. Sepanjang kita mengikuti aturan-aturan di
dalamnya, maka kehidupan kita takkan tersesat. Yang paling mengetahui bahwa
kehidupan manusia takkan tersesat adalah penciptanya, yaitu Allah.
Persoalannya, kita tidak mungkin memahami semua makna Alquran. Karena
itulah, ada usaha yang bisa kita lakukan seperti dengan mengikuti pengajian. Kalau kita
mau belajar sendiri, kadang-kadang kita tidak bisa sepenuhnya untuk memahami isi
Alquran.
Alquran menjadi wasit (hakim), pedoman hidup, sehingga bisa membahagiakan
kehidupan dunia dan akhirat.

2.5 Jiwa Manusia


Inilah dunia sebagai tempat mihnah (ujian) dan cobaan. Dan sungguh Allah Subhanahu
wataala telah menyifati jiwa manusia dalam al-Quran dengan tiga sifat:
1. Al-Muthmainnah (jiwa yang tenang)
Maka apabila jiwa merasa tentram kepada Allah Taala, tenang dengan mengingat-Nya,
dan bertaubat kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, dan menghibur diri
dengan dekat kepada-Nya, maka itulah nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang). Itulah
jiwa yang dikatakan kepadanya tatkala wafat (meninggal dunia),
Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam surga-Ku. (al-Fajr: 27-30)

Adapun hakikat jiwa yang tenang yaitu as-Sukuun wa al-Istiqraar (diam dan
menetap). Yakni jiwa itu benar-benar tenang kepada Rabbnya dengan mentaati
perintah-perintah-Nya dan mengingat-Nya, dan tidak tenang kepada selain-Nya. Maka
sungguh jiwa itu tenang dengan mencintai-Nya, menjalankan ibadah-beribadah, dan
berdzikir kepada-Nya. Jiwa itu tenang dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan
menjauhi larangan-larangan-Nya. Jiwa itu tenang kepada perjumpaan dengan-Nya dan
janji-janji-Nya. Jiwa itu tenang dengan membenarkan dengan sebenar-benarnya akan
nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Jiwa itu tenang dengan ridha bahwasanya Allah adalah
Rabb, Islam adalah diin, dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Jiwa itu tenang dengan
qadha dan qadar (takdir baik dan takdir buruk). Maka jiwa itu tenang dengan Allah
bahwasanya Dia adalah satu-satunya Rabbnya, Ilahnya, sesembahannya, rajanya, dan
penguasa seluruh perintah, dan kepada-Nya ia akan dikembalikan, dan bahwasanya
tiada kecukupan baginya selain dari-Nya walaupun sekejap mata.

2. Al-Ammaarah bi as-suu (jiwa yang suka menyuruh kepada perkara buruk)


Adapun kebalikan daripada itu maka ia adalah nafsu ammarah bis suu (jiwa yang suka
menyuruh kepada perkara buruk). Ia memerintah pemiliknya dengan apa-apa yang
sesuai dengan hawa nafsunya berupa syahwat-syahwat yang menyesatkan (maksiat)
dan mengikuti kebathilan (paham yang menyimpang). Dan itulah tempat segala
keburukan. Jika dia mentaatinya (mengikuti keinginan hawa nafsunya), maka jiwa itu
akan menuntunnya pada setiap keburukan dan setiap suatu yang dibenci. Allah
Subhanahu wataala mengkabarkan jiwa itu sebagai nafsu ammarah (banyak
memerintah) bis suu, Dia tidak mengatakan amirah (yang memerintah), karena begitu
banyaknya keburukan yang diperintahkan. Dan itulah kebiasaan dan adatnya, kecuali
jika Allah Suhanahu wataala merahmati dan menjadikannya bersih, sehingga
memerintahkan pemiliknya pada kebaikan. Yang demikian itu dari rahmat Allah, bukan
dari jiwa itu, karena sesungguhnya jiwa itu secara dzatnya banyak memerintah pada
keburukan. Manusia diciptakan pada asalnya dalam keadaan bodoh dan zhalim, kecuali
orang yang dirahmati Allah Azza wajalla. Sedangkan ilmu dan keadilan (lawan dari
bodoh dan zhalim) merupakan perkara yang muncul belakangan atas jiwa tersebut
disebabkan oleh ilham Rabb dan Pencipta-nya. Maka jika Allah Subhanahu wataala
tidak memberi ilham berupa jalan petunjuk, niscaya dia akan tetap berada dalam
kezhaliman dan kebodohannya. Karena tidaklah banyak memerintah pada keburukan
kecuali akibat dari kebodohan dan kezhalimannya. Kalaulah bukan karena karunia dan
rahmat Allah Azza wajalla atas orang-orang beriman, niscaya tak seorang pun yang
memiliki jiwa yang bersih. Apabila Allah Subhanahu wataala menghendaki kebaikan
pada suatu jiwa maka Dia menjadikan di dalamnya sesuatu yang membersihkan dan
memperbaikinya berupa keinginan-keinginan yang baik dan daya tangkap (terhadap al-
haq). Namun jika Allah Subhanahu wataala tidak menghendaki yang demikian maka
Dia membiarkan jiwa itu seperti keadaan ketika diciptakannya, dengan kebodohan dan
kezhalimannya. Kezhaliman disebabkan bisa karena (al-jahl) kebodohan atau karena
hajat (keinginan). Dan pada asalnya jiwa manusia itu bodoh dan tidak bisa lepas dari
keinginan. Oleh karena itu perintah jiwanya yang mengajak kepada keburukan tentu
saja suatu hal yang pasti terjadi, jika ia tidak mendapatkan rahmat dan karunia Allah
Azza wajalla (dengan ilmu dan keadilan). Dari sini kita mengetahui, bahwasanya
teramat butuhnya seorang hamba kepada Rabbnya di atas segala kepentingan, dan tidak
ada suatu kepentingan pun yang bisa diukur dengannya. Maka, jika Allah Subhanahu
wataala menahan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sekejap saja, niscaya ia akan merugi
dan binasa.
3. Al-Lawwaamah (jiwa yang suka mencela)
Adapun kata lawwaamah, ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) tentang akar katanya.
Apakah ia dari kata talawwum (berubah-ubah sikap dan bimbang) atau dari kata al-
laum (tercela)? Dan ungkapan-ungkapan ulama salaf di antara dua makna tersebut.
(Lihat ad-Durrul Mantsur 8/343). Adapun mereka yang berpendapat bahwa al-
lawwamah berasal dari talawwum dikarenakan jiwa itu selalu bimbang dan sering
berubah-ubah, dan bahwa ia tidak tetap dalam satu keadaan. Namun pendapat pertama
nampaknya lebih jelas. Karena kalau makna kedua yang dimaksud, niscaya menjadi al-
mutalawwimah. Seperti kata al-mutalawwinah wal mutaraddidah (yang berubah-ubah
dan selalu bimbang). Hanya saja ia selalu menyertai makna sebagaimana disebutkan
dalam pendapat pertama. Karena begitu seringnya ia berubah-ubah dan tidak tetap pada
satu keadaan menjadikan dirinya melakukan sesuatu yang kemudian ia mencela
atasnya. Jadi, at-talawwum (selalu berubah dan bimbang) merupakan bagian dari al-
laum (mencela). Dan sungguh jiwa itu terkadang bersifat ammaarah (banyak
memerintah), lawwaamah (banyak mencela), dan muthmainnah (tenang). Bahkan
dalam sehari atau dalam sesaat jiwa manusia mengalami yang ini dan ini (saling
bergantian). Dan hukum itu bagi yang lebih menguasai atas jiwanya. Maka keberadaan
jiwa itu sebagai nafsul muthmainnah merupakan sifat terpuji baginya. Sedangkan
keberadaan jiwa itu sebagai nafsul ammarah bis suu merupakan sifat tercela baginya.
Dan keberadaan jiwa itu sebagai nafsul lawwamah maka ia terbagi menjadi sifat terpuji
dan sifat tercela tergantung pada apa yang dicelanya.
2.6 Sifat Manusia
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan beraneka rupa dan sifatnya masing-
masing. Segalanya tentang penciptaan manusia oleh-Nya dituangkan dalam Alquran.
Allah SWT menanamkan kepada manusia dengan sifat yang berbeda, yaitu sebagai bahan
untuk membantu kita (sebagai makhluk-Nya) agar lebih introspeksi diri, sehingga kelak
akan menjadikan kita sebagai manusia yang dicintai oleh Allah SWT.
Berikut ini penjelasan menganai berbagai sifat manusia yang tertulis dalam Alquran:
1. Manusia itu lemah
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat
lemah (QS. Annisa: 28)
Ayat ini mengandung sebuah makna, bahwasanya Allah hendak memberikan
keringanan dalam hal syariat dan ketentuan-ketentuan yang mudah dan ringan. Allah
menciptakan manusia dalam keadaan lemah, lemah menghadapi segala bentuk
kecenderungan batin.
Maka itulah segala beban-beban yang diberikan kepada manusia mengandung
unsur kemudahan dan keluasan. Itulah sebuah karunia Allah.SWT yang diberikan
kepada hamba-Nya.

2. Mudah terperdaya
Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap
Tuhanmu Yang Maha Pemurah (QS. Al-Infithar: 6)
3. Manusia itu lalai
Bermegah-megahan telah melalaikanmu (QS. At-Takasur: 1)
4. Memiliki sifat penakut
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-: 155)
5. Sifat manusia bersedih hati
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan
orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka benar-benar beriman kepada Allah,
hari kemudian dan beramal soleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka,
tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS.
Al-Baqarah: 62)
6. Suka tergesa-gesa
Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan
adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. Al-Isra: 11)
7. Manusia itu suka membantah
Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang
nyata.
(QS. An-Nahl: 4)
8. Suka berlebih-lebihan
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan
berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya,
dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada
Kami untuk (menghilangkan bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang
yang melampui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS.
Yunus: 12)
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampui batas (QS. Al-Alaq: 6)
9. Manusia itu pelupa
Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon pertolongan kepada
Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-
Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada
Allah.SWT) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-
sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:
Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu, sementara waktu; sesungguhnya kamu
termasuk penghuni neraka. (QS. Az-Zumar: 8)
10. Manusia suka mengeluh
Manusia itu suka mengeluh atau berkeluh kesah Apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh kesah (QS. Al-Maarij: 20)
Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia
menjadi putus asa lagi putus harapan. (QS. Al-Fushilat: 20)
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan
membelakang dengan sikap yang sombong; dan appabila dia ditimpa kesusahan niscaya
dia berputus asa. (Al-Isra: 83)
11. Sifat manusia itu kikir
Katakanlah: Klau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan
rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut
membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir. (QS. Al-Isra: 100)
12. Sifat manusia suka kufur nikmat
Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian
daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkat yang nyata (terhadap
rahmat Allah). (QS. Az-Zukhruf: 15)
13. Manusia itu zalim dan bodoh
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-
gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianati, dan dipikullah amanata itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu
amat zalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab: 72)
14. Suka menuruti prasangka diri sendiri
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya
persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Yunus: 36)
15. Manusia itu suka berangan-angan
Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata:
Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu? Mereka menjawab: Benar,
tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu
ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;
dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. (QS. Al-Hadid:
72)
Sungguh indah Islam ini, segalanya telah tertuang dalam kitab suci Al-Quran. Dan
itulah 15 sifat manusia yang dituliskan dalam Al-Quran. Islam juga memberikan solusi
dalam segala sifat buruk manusia. Sungguh kenikmatan iman dalam Islam ini kita
dapatkan dengan mudah.
Lalu bagaimanakan solusi untuk menangkal sifat buruk pada manusia? Berikut ini
adalah 4 solusi untuk menangkal sifat buruk manusia
1. Tetap berpegang teguh kepada dasar agama dan petunjuk Allah SWT
2. Tetap menjaga ketaatan dalam kondisi sesulit apapun
3. Menjaga keteguhan iman
4. Selalu berjamaah
Keberadaan manusia di muka bumi ini bukanlah untuk main-main, senda gurau, hidup
tanpa arah atau tidak tahu dari mana datangnya dan mau kemana tujuannya. Manusia
yang merupakan bagian dari alam semesta inipun diciptakan untuk suatu tujuan. Allah
menegaskan bahwa penciptaan manusia dalam firman-Nya surat adz-Dzariyat : 56 yang
Artinya Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengababdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat : 56)
Dari ayat tersebut dapat diambil pemahaman bahwa, kedudukan manusia dalam
sistem penciptaannya adalah sebagai hamba Allah. Kedudukan ini berhubungan dengan
hak dan kewajiban manusia di hadapan Allah sebagai penciptanya. Dan tujuan penciptaan
manusia adalah untuk menyembah kepada Allah SWT. Penyembahan manusia kepada
Allah lebih mencerminkan kebutuhan manusia terhadap terhadap terwujudnya sesuatu
kehidupan dengan tatanan yang baik dan adil. Karena manusia yang diciptakan Allah
sebagai makhluk yang paling canggih, mampu menggunakan potensi yang dimilikinya
dengan baik, yaitu mengaktualisasikan potensi iman kepada Allah, menguasai ilmu
pengetahuan, dan melakukan aktivitas amal saleh, maka manusia akan menjadi makhluk
yang paling mulia dan makhluk yang berkualitas di muka bumi ini sesuai dengan
fitrahnya masing-masing.
Secara rinci, sebab-sebab kemulian manusia itu adalah:
1. Bahwa manusia tidak berasal dari jenis hewan sebagaimana dikatakan dalam
teorievolusi, melainkan berasal dari Adam yang diciptakan dari tanah.
2. Dibandingkan dengan makhluk lain, manusia memiliki bentuk fisik yang lebih
baik, sekalipun ini bukan perbedaan yang fundamental (Q.S at-Tin:4).
3. Manusia mempunyai jiwa dan rohani, yang didalamnya terdapat rasio, emosi dan
konasi. Dengan akal, manusia berfikir dan berilmu, dan dengan ilmu manusia
menjadi maju. Bahkan dengan ilmu manusia menjadi lebih mulia daripada jin dan
malaikat, sehingga mereka diminta oleh Allah untuk sujud, menghormati kepada
manusia, yakni Adam a.s (Q.S al-Baqarah: 31-34).
4. Untuk mencapai kemulian martabat manusia tersebut, manusia perlu berusaha
sepanjang hidupnya melawan hawa nafsunya sendiri yang mendorong pada
kejahatan. Hal ini berbeda dengan binatang yang hanya hidup hanya menuruti
insting nafsunya karena tidak mempunyai akal, dan malaikat yang selalu berbuat
baik secara otomatis karena tidak memiliki hawa nafsu.
5. Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi dengan tugas menjadi
penguasa yang mengelola dan memakmurkan bumi beserta isinya dengan sebaik-
baiknya (Q. S al-Baqarah : 30)
6. Diciptakannya segala sesuatu di muka bumi ini oleh Allah adalah untuk
kepentingan manusia itu sendiri (Q.S al-Baqarah: 29)
7. Manusia diberi beban untuk beragama (Islam) sebagai pedoman dalam
melaksanakan tugas kekhalifaannya. Karenanya, manusia akan diminta
pertanggung jawaban atas pelaksanaan tugasnya tersebut (Q.S al-Qiyamah: 36).

2.7 Tugas Manusia terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan
1. Tugas manusia terhadap diri sendiri
Setiap manusia mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan kepada dirinya
sendiri, agar diri kita tak selamanya menuntut hak dari kewajiban orang lain saja,
tetapi tuntut lah kewajiban yang belum kita tunaikan kepada diri kita sendiri.
a. Memelihara kesucian diri
Kita sebagaimanusia yang merupakan makhluq yang diciptakan Allah untuk
selalu membersihkan diri dari berbagai macam hal yang bias membuat diri kita
menjadi kotor. Baik itu kesucian jasmani maupun rohani, haruslah senantiasa kita
menjaganya, karena Allah pun menyukai orang-orang yang senantiasa
membersihkan diri.
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya.
Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari
pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.Di dalamnya mesjid itu ada
orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bersih (Q.S At-Taubah : 108).
b. Memelihara Kerapihandiri
Selain menjaga kesucian diri, baik itu jasmani maupun rohani, kita juga
diperintahkan untuk selalu memelihara kerapihan diri kita, agar ketika dipandang
dapat menyenangkan hati orang yang memandang. Dalamfirman-Nya, Allah SWT
juga memerintahkan kita untuk selalu memelihara kerapihan kita.
Hai anak Adam!Pakailah perhiasan kalian setiap waktu shalat (Q.S Al-
Arof : 31)
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk selalu tampil rapih dan indah,
bahkan ketika waktu shalat pun Allah memerintahkannya, karena sesungguhnya
Allah melihat kita, jika kita tampil indah dihadapan Allah, Allah pasti akan
menyukai dan senang terhadap kita. Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai
keindahan.
Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan (H.R Muslim)
c. Berlaku Tenang (Tidak Terburu-buru)
Ketenangan dalam sikap merupakan sebagian dari rangkaian akhlaqul karimah,
sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran.
Dan para hamba Allah yang berjalan diatas bumi dengan tenang, dan bila
ditegur oleh orang yang bodoh, mereka berkata selamat. (Q.S Al-Furqon : 63)
Sementara itu juga dijelaskan pula oleh baginda Rosulullah SAW dalam sebuah
hadis :
Sikap terburu-buru itu termasuk dari (gangguan) Syaithan (H.R Tirmidzi)

d. Menambah Pengetahuan
Kita sebagai umat islam, diwajibkan untuk menuntut ilmu guna menambah
pengetahuan kita, agar kita bias mendapatkan pahala beberapa derajat dimata Allah.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-
orang yang diberiilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)
Selain itu, menuntut ilmu guna menambah ilmu pengetahuan merupakan
kewajiban kita yang harus kita tunaikan kepada diri sendiri.
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim ( H.R Ibnu Abdil Barr)
e. Membina disiplin pribadi
Disiplin pribadi dibutuhkan sebagai sifat dan sikap yang terpuji yang senantiasa
menyertai kesabaran, ketekunan, kerajinan, kesetiaan, dan lain sebagainya sifat bagi
pembinaan pribadi. Orang yang tidak memiliki disiplin pribadi, maka ia tidak akan
bias meraih ridho Allah SWT, sehingga disiplin diri merupakan hal yang harus kita
penuhi terhadap diri kita sendiri.
2. Tugas manusia terhadap orang lain
Pada hakekatnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sesuai
dengan kedudukanyasebagai makhluk sosial. Karena membutuhkan manusia
lain, maka ia harus berkomunikasi denganmanusia lain tersebut. Sehingga dengan
demikian manusia di sini merupakan anggota masyarakatyang tentunya mempunyai
tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapatmelangsunggkan
hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila semua tingkah laku
danperbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.
3. Tugas manusia terhadap lingkungan
a. Memakmurkan bumi dengan mengelola pemanfaatan lingkungan alam.
b. Memelihara dan menjaga bumi dari upaya upaya perusakan yang datang dari
pihak manapun.
c. Menjaga kebersihan agar lingkungan tidak menjadi terkontaminasi dari penyakit.

2.8 Hakikat Ibadah


1. Makna Ibadah
Para ulama tauhid dan ulama ushul fiqh meberikan definisi ibadah, bahwa
ibadah adalah sebuah nama atau sebutan untuk segala sesuatu, baik ucapan ataupun
perbuatan, yang dicintai dan diridloi oleh Allah SWT baik yang nampak ataupun
tidak. Ibadah adalah suatu cara untuk mensucikan jiwa dan amal perbuatan manusia,
dan ia merupakan prilaku atau tata cara kehidupan seseorang berdasarkan keikhlasan
hati sambil mengharap rahmat dan keridlaan Allah Taala.
Mereka mengklasipikasikan ibadah menjadi dua bagian, yaitu ibadah mahdlah
dan ghair mahdlah. Ibadah mahdlah adalah ibadah yang dikerjakan secara langsung
berhubungan dengan Allah, seperti shalat, shaum dan haji. Sedangkan ibadah ghair
mahdlah adalah ibadah yang tidak berhubungan langsung dengan Allah SWT, namun
ada hubungannya dengan manusia terlebih dahulu, seperti zakat, infaq dan shadaqah.
Pada dasarnya, ibadah dalam pandangan Islam memiliki pengertian yang
sangat luas, sehingga ia bukan hanya shalat, shaum, zakat atau haji, akan tetapi segala
aktifitas kehidupan yang akan menghantarkan manusia kepada kecintaan dan
keridlaan Allah SWT diluar rukun Islam yang disebutkan tadi seperti tolong-
menolong, berdakwah, mengajarkan Al-Quran, melakukan pembinaan terhadap
generasi muda dan lain sebagainya, itu semua dikatagorikan ibadah.
2. Rukun rukun ibadah
Pertama, kecintaan yang utuh terhadap al-Mabud (Allah SWT). Allah SWT
berfirman,
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-
orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-
orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari
Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat
siksa-Nya (niscaya mereka menyesal) (QS. Al-Baqarah (2) :165).
Kedua, pengharapan yang sempurna terhadap al-Mabud (rahmat-Nya). Allah
SWTberfirman,
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb
mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu
yang (harus) ditakuti (QS. Al-Israa` (17) : 57).
Ketiga, rasa takut yang sangat terhadap al-Mabud (dari adzab-Nya). Allah
berfirman,
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb
mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu
yang (harus) ditakuti. (QS. Al-Israa` (17) : 57).
3. Syarat diterimanya ibadah
Ibadah tidak akan diterima, kecuali memenuhi dua syarat, yaitu :
Pertama, Ikhlas dalam melakukan ibadah semata-mata mengharap ridha Allah
SWT.Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menerima ibadah seorang hamba, kecuali
ibadah tersebut dilakukan dengan penuh keikhlasan, hanya untuk mendapatkan
keridlaan-Nya. Ketika seorang hamba melakukan suatu ibadah, tetapi niat yang ada di
dalam hatinya adalah riya (ingin dilihat orang lain), atau sumah (ingin didengar), atau
ingin dikatakan pahlawan, sehingga banyak disebut-sebut orang dan lain sebagainya,
itus semua merupakan indikasi ketidak-ikhlasan dalam melakukan suatu ibadah. Oleh
karena itu, Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, agar kita tidak melakukan
ibadah, kecuali semata-mata mengharap keridlaan-Nya.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama (QS. Al-Bayyinah (98) : 5)

Kedua, mengikuti sunnah Rasulullah SAW.


Syarat yang ke dua untuk diterimanya suatu ibadah adalah, bahwa ibadah
tersebut harus sesuai dengan apa yang dicontohkan dan diperintahkan Rasulullah
SAW; karena Allah SWT tidak akan pernah menerima suatu ibadah kecuali sesuai
dengan contoh Rasulullah SAW. Setiap ibadah yang dilakukan oleh seorang
hamba tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, karena hal itu tidak dapat
dibenarkan menurut syariat. Ketika kita melaksanakan shalat-shaum, zakat dan
haji harus senantiasa berdasarkan contoh Rasulullah SAW; jika tidak maka kita
hanya akan mendapatkan capeknya saja. Hal itu pernah digambarkan oleh
Baginda Rasulullah SAW, ada di antara umat Islam yang shalatnya hanya
membuahkan capeknya saja dan ketika mereka shaum, hanya mendapatkan lapar
dan dahaganya saja.
Dalam realita kehidupan beribadah di tengah-tengah masyarakat, bahkan di
kalangan para santri dan santriwati, terkadang muncul sebuah pernyataan, aku
melakukan ibadah seperti ini karena guruku juga melakukannya, atau karena
ustadz fulan juga membolehkannya, atau keluargaku sudah turun-temurun
melakukan ibadah dengan cara seperti ini. Prinsip melakukan ibadah seperti itu,
tentunya tidak sesuai dengan apa yang telah Allah SWT tetapkan, bahwasannya,
bahwa ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba harus sesuai dengan apa yang
telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, karena beliau sebagai
utusan Allah, memiliki tugas menyampaikan sekaligus menjelaskan risalah Allah
SWT, termasuk juga menjelasakan permasalahn ibadah, oleh karena itu, ibadah
yang dilakukan oleh seseorang tanpa berdasarkan kepada contoh Rasulullah SAW,
walaupun berargumentasi dengan menyebut, unstadznya, orang tuanya, ataupun
siapa saja, sebenarnya itu semuanya merupakan bentuk taklid buta dengan tanpa
mengetahui dasar dasar yang sesungguhnya dari Rasulullah SAW.

2.9 Tujuan Ibadah


Ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba, pada dasarnya memiliki tujuan :
Pertama, untuk memperlihatkan perasaan hina di hadapan Allah SWT, sehingga
diharapkan muncul dalam dirinya sebuah prinsip, bahwa Allah lah satu-satunya Dzat
Yang Maha Mulia. Dan seorang hamba tidak dibenarkan untuk bersikap sombong;
karena pada dasrnya, tidak ada seorang hambapun yang paling mulia dihadapan Allah
SWT, apapun bangsanya, warna kulitnya, ataupun kedudukannya, semuanya tidak
akan menjadikannya mulia di hadapan Allah SWT, kecuali dibarengi dengan kualitas
ketakwaan yang sesungguhnya (melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi
segala larangan-Nya). Allah SWT berfirman,

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujuraat (49) :13)
Kedua, memperlihatkan rasa cinta yang sesungguhnya kepada Allah SWT.
Rasa cinta merupakan anugerah dari Allah SWT, oleh karenanya, harus senantiasa
disyukuri dan diarahkan atau diporsikan sesuai dengan kehendak Dzat Yang
Memberikannya.
Doktor Aid Al-Qarni mengatakan,Cinta itu secara umum dibagi kepada dua
katagori, yaitu, cinta yang bersifat fitrah, seperti cinta kepada harta, anak, orang tua,
lawan jenis dan lain sebagainya. Semua itu tidak membutuhkan upaya untuk
memunculkan rasa cinta kepadanya. Dan yang ke dua adalah cinta yang harus
diusahakan (mahabbah muktasabah), yaitu kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-
Nya. Kecintaan tersebut, adalah kecintaan yang paling tinggi derajatnya; karena
kecintaan yang seperti ini membutuhkan perjuagan atau pengirbanan dalam
mewujudkannya, bahkan kecintaan yang sifatnya fitrah, walaupun secara syariat
tidak dilarang, akan tetapi tidak boleh menghalangi kecintaan seorang hamba kepada
Allah SWT dan Rasul-Nya.
Kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya harus senantiasa dinomor-
satukan; sebab sikap seperti adalah ciri has daripada orang-orang yang beriman.
Ketika seorang hamba lebih mengedepan kecintaan fitrahnya daripada kecintaan
kepada Allah dan Rasul-Nya, seperti lebih mencitai harta, kedudukan, pekerjaannya
dan lain sebagainya.maka itu semua merupakan fenomena kelemahan iman. Allah
SWTberfirman,

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-


tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika
seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat
siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa
Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal) (QS. Al-Baqarah (2) :165).
Ketiga, memperlihatkan rasa takut kepada Allah SWT (dari adzab-Nya), dan
memperlihatkan pengharapan yang seutuhnya kepada rahmat-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, hamba Allah SWT selalu dibarengi dengan dua
perasaan, yaitu perasaan takut dan berharap. Namun demikian, bagi seorang hamba
yang selalu istiqamah untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT, tentunya rasa takut
tersebut akan dapat dihindarkan, ia akan selalu memiliki keyakinan bahwa tidak ada
yang perlu ditakuti dalam hidup ini, kecuali terjerembabnya diri ke dalam
kemaksiatan; karena ketika itu terjadi, berarti adzab Allah lah yang akan menimpa
dirinya.
Bagi seorang yang beriman, tidak ada lagi yang ditakuti dalam hidunya,
kecuali adzab Allah SWT, dan adzab itu akan menimpa disebabkan oleh perbuatan
maksiat kepada-Nya. Maka ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba, pada
dasarnya merupakan implementasi dari rasa takut akan adzab Allah SWT, dan
sekaligus akan menghantarkan hamba kepada rahmat Allah SWT yang selalu
diharapkan sepanjang hidupnya.
Sesungguhnya, tidak ada kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki, kecuali
ketika seorang hamba selalu berada dalam rahmat dan maghfirah Allah SWT yang
diraih dengan sikap istikomah dalam keimanan, perubahan ke a rah yang lebih positip
dan selalu memohon ampun ketika lalai, juga berupaya keras untuk tetap berada
dijalan Allah SWT. Allah SWT berfirman,
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan
berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Baqarah (2) :218)
Keempat, memperlihatkan rasa syukur yang mendalam terhadap semua nimat
Allah SWT yang telah diberikan.Pengakuan dan kesadaran akan nimat Allah SWT
dalam kehidupan, akan mendorong seorang hamba untuk mengakui kelemahan dan
kebutuhannya kepada Allah SWT yang telah memberikan semua nimat-Nya, karena
seorang hamba tidak akan bisa terlepas dari nimat tersebut. Ini berarti bahwa seorang
hamba akan selalu membutuhkan Allah SWT, karena Dialah yang maha pemberi
nimat. Dengan demikian diharapkan hambapun akan selalu berupaya untuk
melaksanakan apa yang dikehendaki oleh pemberi nimat itu.
Allah SWT Dzat yang telah memberikan nimat menuntut dari hamba-Nya agar selalu
bersyukur atas nimat tersebut. Para ulama menjelaskan bahwa bersyukur yang
sesungguhnya atas nimat adalah menggunakan nimat tersebut sesuai dengan yang
dikehendaki oleh Allah SWT, dan untuk membuktikannya tidak ada cara lain kecuali
dengan beribadah kepada-Nya, sehingga segala sesuatu yang telah Allah anugrahkan
harus digunakan dalam rangka meraih keridloan dan kecintaan Allah SWT untuk
mendapatkan kebahagiaan hidup diakhirat.Allah SWT berfirman.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
(QS. Al-Qashshash (28) : 77

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Aplikasi Makrifatul Insan dalam Keperawatan


Makrifatul insan dalam dunia keperawatan berhubungan dengan hak manusia kepada
manusia lain. Hak manusia terhadap orang lain adalah hukum agama yang
memerintahkan anusia memenuhi keinginan pribadinya dengan tidak melampaui batas,
dan tidak merusak hak orang lain. Menurut Kusnanto (2004), beberapa peran perawat
terdiri dari :

a. Pemberi Asuhan Keperawatan dan Edukator


Hukum agama memerintahkan agar manusia berbuat baik dan bermanfaat bagi orang
lain yang dalam dunia keperawatan dimanifestasikan dalam pemberian asuhan
keperawatan. Asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan
memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui
pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan
sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan
dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia,
kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan
ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. Sedangkan peran
edukator dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi
perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. Dalam al-
Quran surat al-Qashash ayat 77 disebutkan:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu


(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana
Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di
(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.

b. Advokat Klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi
lain khusunya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi
hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menntukan nasibnya
sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian. Seluruh informasi
dan keadaan klinis pasien bersifat rahasia. Sebagai perawat, kita harus menjaga
privasi pasien dengan tidak membicarakan hal-hal yang dialami pasien dengan
orang lain kecuali dalam hal yang menunjang kesembuhan pasien, misalnya
mendiskusikan tentang perubahan terapi untuk pasien dan perencanaan perawatan
pasien selama di rumah serta hal-hal yang berhubungan dengan penegakan
hukum. Sebagaimana firman Allah taala :
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-
cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing
sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang.(Q.S. Al-Hujurat [49] :12).

c. Konsultan
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan
keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan
klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.
Allah melarang manusia berbuat dusta. Menipu orang adalah suatu kesalahan
dimana dusta dapat menjadi sumber bahaya bagi orang lain. Layaknya sebagai
perawat, kita harus memberikan informasi yang benar, dengan tidak ditambah-
tambahi dan tidak dikurang-kurangi serta bisa dipertanggungjawabkan. Segala hal
mengenai keadaan klinis, perjalanan penyakit, prognosis penyakit, pengobatan,
biaya, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pasien harus disampaikan
dengan jujur. Sebagaimana firman Allah taala :

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang


tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang
pendusta.(QS. An-Nahl: 105)
Dalil Hadits:
Yang artinya : dari Abdullah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam beliau bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada
kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika
seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang
jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan
sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika
seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang
pendusta." (HR. Bukhari)
Yang artinya : dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan
membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga.
Tidaklah seorang bersikap jujur dan selalu berbuat jujur hingga ia ditulis di sisi
Allah sebagai orang yang jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi sikap dusta,
karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan
membawa kepada neraka. Dan tidaklah seorang berbuat dusta dan selalu berdusta
hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR. Tirmidzi)

d. Peneliti / Pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan,
kerjasama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode
pemberian pelayanan keperawatan. Perawat sebagai manusia yang memiliki akal
pikiran dapat menemukan ilmu pengetahuan atau terobosan terbaru dalam dunia
keperawatan yang bermanfaat untuk meningkatkan pelayanan keperawatan dan
kualitas perawat di masa yang akan datang. Ilmu-ilmu tersebut didapat dari
fenomena-fenomena terjadi dan pengalaman-pengalaman yang dialami perawat di
lingkungan kerja. Untuk menemukan ilmu-ilmu tersebut, perawat akan
menggunakan akal pikirannya yang memang hal ini telah menjadi Qudrat dan
Irodat Allah bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Adapun ayat Al-Quran yang menyuruh manusia untuk berpikir, diantaranya :

Katakanlah : perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah


bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul yang memberi peringatan bagi
orang-orang yang tidak beriman (Yunus [10] : 101)

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka/


Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya
melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan
sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan
pertemuan dengan Tuhannya. (Ar-Rum [30] : 8)

e. Kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja dengan tim kesehatan yang terdiri dari
dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi
pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat
dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya. Sehingga perawat tidak bisa
menjalankan peranan ini bila tidak bekerjasama dengan tenaga kesehatan yang
terkait. Adapun ayat alquran yang mengutus manusia untuk bekerjasama dalam
kebaikan adalah sebagai berikut :
Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah
kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya. (Al-Maidah:2)

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Allah SWT sebagai pencipta manusia, tentu saja mempunyai kekuatan besar untuk
mematikan (mengambil kembali) makhluk ciptaan-Nya. Jadi kematian adalah hukum
Allah yang pasti. Ruh yang tiada itu tentu saja akan kembali pada Allah dengan proses
yang tak terjangkau akal kita. Kita harus ingat bahwa manusia sebagai makhluk tentu tidak
akan sama dengan penciptanya (Allah), karena itu akal kita tidak bisa menjangkau ke
wilayah yang disana hanya ada kekuasaan Allah. Manusia dengan segala potensi yang
diberikan oleh Allah haruslah disyukuri dengan melaksanakan segala ketetapan Allah yang
berkaitan dengan penciptaan manusia ini. Mulai bagaimana mendidik fisik dan psikisnya
semua demi kemanusiaan itu sendiri sesuai misi Allah menciptakan manusia.
Sebagai insan yang beriman, tentunya tidak diragukan lagi keyakinan dalam diri kita,
bahwa manusia adalah ciptaan Allah, dilahirkan ke dunia pertama kali dalam bentuk
manusia, kemudian menjalani masa kehidupan di dunia, sampai akhirnya saat yang
ditentukan tiba, yaitu kembali kepada pencipta, Allah Maha Kuasa. Hal tersebut dapat
menjadi dasar perawat untuk memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dalam
perannya sebagai care giver, edukator, advokat, pembaharu/ peneliti, dan kolaborator.

DAFTAR PUSTAKA

Husnan, Djaelan, dkk. 2009. Islam Integral Membangun Kepribadian Islami. Jakarta:
Universitas Negeri Jakarta.
Rachmat, Noor. 2009. Islam dan Pembentukan Akhlak Mulia. Depok: Ulinnuha press.
Husnan, Djaelan, dkk. 2009. Islam Integral Membangun Kepribadian Islami. Jakarta:
Universitas Negeri Jakarta.
Yaqub, Dr. H Hamzah. 1983. Etika Islam; Pembinaan Akhlaqul Karimah. Bandung : CV.
Diponegoro
https://islamedia.web.id/sifat-manusia-menurut-islam/
https://www.academia.edu/5094626/MANUSIA_MENURUT_AJARAN_ISLAM
http://www.dakwatuna.com/2008/04/07/482/taawun-menghadirkan-kebaikan-dan-
takwa/#ixzz4rmJg0HxH
https://sunniy.wordpress.com/2013/06/05/inilah-tiga-sifat-jiwa-manusia-yang-disebutkan-
dalam-al-quran/
https://www.academia.edu/5094626/MANUSIA_MENURUT_AJARAN_ISLAM
https://aristasefree.wordpress.com/tag/pengertian-manusia-menurut-agama-islam/
https://islamedia.web.id/sifat-manusia-menurut-islam/
https://www.lyceum.id/inilah-4-potensi-manusia-menurut-al-quran/
https://www.facebook.com/notes/majelis-dzikir-sholawat-nurul-hidayah/potensi-potensi-
manusia-yang-diberikan-kepada-allah-swt/404593064437/

TUGAS MATA KULIAH AGAMA ISLAM 2


MARIFATUL INSAN
(MENGENAL MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK ALLAH SWT)
Disusun oleh:
KELOMPOK V B19/AJ2

Avianita Agiswi 131611123070

Ramona Irfan Kadji 131611123072

Yoga Trilintang Pamungkas 131611123073

Clara Agustina 131611123076

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2017