Anda di halaman 1dari 32

USULAN PENELITIAN SKRIPSI

ANALISIS POLA SPASIAL PENGANGGURAN DI PROVINSI


SULAWESI SELATAN TAHUN 2015

disusun dan diajukan oleh


ANDI SEPTIANA WIDIASTUTI
A111 13 010

kepada

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengangguran merupakan suatu fenomena yang terjadi di semua negara

berkembang, tidak terkecuali di Indonesia. Jumlah penduduk yang bertambah

semakin besar setiap tahun, membawa akibat bertambahnya jumlah angkatan

kerja, dan tentunya akan memberikan makna bahwa jumlah orang yang mencari

pekerjaan akan meningkat, seiring dengan itu pengangguran relatif akan

bertambah. (Soebagiyo, 2005).

Dalam pembangunan ekonomi, masalah pengangguran merupakan

masalah yang sangat rumit, karena jika pengangguran meningkat maka kualitas

sumber daya manusia akan menurun dan jika sumber daya manusia menurun

maka pendapatan perkapita juga akan menurun, sehingga akan mempengaruhi

perekonomian Indonesia itu sendiri.

Masalah pengangguran memang sangat kompleks untuk dibahas dan

merupakan isu penting, karena dapat dikaitkan dengan beberapa indikator-

indikator yang mempengaruhinya. Adapun indikator-indikator ekonomi yang

mempengaruhi tingkat pengangguran seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat

inflasi. (Sopianti & Ayuningsasi, 2010).

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan inflasi

berkaitan erat dengan tingkat pengangguran karena jika pertumbuhan PDRB

atau tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah melebihi tingkat pertumbuhan

output, potensialnya maka akan menimbulkan inflasi. Inflasi yang tinggi akan

memotivasi para produsen untuk terus meningkatkan produksi. Peningkatan


3

jumlah produksi dan output tersebut menyebabkan peningkatan dalam

permintaan tenaga kerja dari biasanya, yang berarti penurunan jumlah

pengangguran.

Gambar 1.1.
Laju pertumbuhan dan Inflasi Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun 2011-2015
10
9 8.87
8 8.13
7.63 7.67
7.36
7
6
5 laju pertumbuhan
4 inflasi
3 2.75
2
1 0.77
0.68 0.58 0.69
0
2011 2012 2013 2014 2015
Sumber: BPS 2016 (Diolah)

Gambar 1.1 menunjukkan cara pertumbuhan ekonomi di Provinsi

Sulawesi Selatan yang menunjukkan trend yang menurun dari tahun 2011-2015,

walaupun pergerakannya sangat lambat. Pertumbuhan ekonomi yang rendah

pada suatu daerah menunjukkan semakin berkurangnya aktivitas perekonomian

baik aktivitas produksi, konsumsi, investasi maupun perdagangan yang

kemudian berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Pada data inflasi, terjadi

trend peningkatan dari tahun 2011-2015, dengan angka inflasi yang tinggi akan

diikuti oleh peningkatan pada jumlah pengangguran.


4

Gambar 1.2
Tingkat Pengangguran Terbuka Pulau Sulawesi
10.00
9.00 9.03
8.00
7.54
7.00
6.00 5.95
5.55
5.00 5.08
4.43 4.65
4.00 4.10 4.18
3.68 3.35 2014
3.00
2.00 2.08 2015
1.00
-

Sumber: BPS, 2016 (diolah)

Di Indonesia, salah satu Provinsi yang masih terbelenggu dengan

permasalahan sosial pengangguran adalah Sulawesi Selatan. Berdasarkan data

dari Badan Pusat Statistik (BPS) (Gambar 1.2), pada tahun 2014, Tingkat

Pengangguran Terbuka (TPT) Sulawesi Selatan adalah kedua tertinggi untuk

pulau Sulawesi, dimana nilai tertinggi yaitu 7,54 persen untuk daerah Sulawesi

Utara, kemudian Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 5,08 persen sedangkan

tingkat pengangguran terendah yaitu 2,08 persen untuk Provinsi Sulawesi Barat.

Pada tahun 2015, posisi tingkat pengangguran Sulawesi Selatan untuk

pulau Sulawesi tetap pada kedua tertinggi dengan nilai 5,95 sedangkan Provinsi

Sulawesi Utara masih tertinggi untuk tingkat pengangguran yaitu 9,03,

sedangkan Provinsi dengan tingkat pengangguran terendah yaitu 3,35 untuk

Provinsi Sulawesi Tenggara.


5

Gambar 1.3

Tingkat Pengangguran Menurut Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Selatan, 2006-2015

100000
90000
80000 2006
70000 2007
60000 2008
50000 2009
40000
2010
30000
2011
20000
10000 2012

0 2013
gowa
maros

luwu
bone
bantaeng

palopo

luwu timur
selayar
bulukumba

takalar

pangkep

barru

luwu utara
wajo

TORAJA UTARA
sinjai
soppeng

sidrap
pinrang
enrekang
jeneponto

pare-pare

tanatoraja
makassar

2014
2015

Sumber: BPS, 2006-2015 (diolah)

Gambar 1.3 menunjukkan trend tingkat pengangguran menurut

kabupaten/kota Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2006-2015. Pada kurun waktu

10 tahun terakhir, trend tingkat pengangguran di Provinsi Sulawesi Selatan

memperlihatkan penurunan. Namun di lihat dari seluruh kabupaten/kota di

Sulawesi Selatan, di Kota Makassar memperlihatkan tren yang meningkat.

Permasalahannya adalah terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi di Provinsi

Sulawesi Selatan seperti pada gambar 1.1 namun terjadi penurunan angka

pengangguran di Sulawesi Selatan. Fenomena ini tidak sesuai dengan konsep

teori hukum Okun (Okuns Law) dan kurva Philips (Philips curve). Perbedaan dan

kesenjangan angka pengangguran terjadi pada kabupaten/kota di Provinsi

Sulawesi Selatan.
6

Ketidakseimbangan antara pertumbuhan angkatan kerja dan penciptaan

kesempatan kerja berdampak terjadinya perpindahan (migrasi) tenaga kerja baik

secara spasial antara desa-kota maupun secara sektoral. Hal ini sejalan dengan

pernyataan Todaro yang menjelaskan bahwa terjadinya perpindahan penduduk

disebabkan oleh tingginya upah atau pendapatan yang dapat diperoleh di daerah

tujuan. (Mariana, 2013).

Jumlah pengangguran di suatu daerah diperkirakan dipengaruhi oleh

jumlah pengangguran di daerah sekitarnya. Hal ini mungkin terjadi karena

adanya faktor kedekatan atau ketetanggaan antar daerah. Oleh karena itu,

diperkirakan terjadi adanya keterkaitan daerah terhadap jumlah pengangguran.

Fenomena pengangguran dengan melihat dari perspektif dimensi spasial dan

regional penting dilakukan untuk mengidentifikasi ada tidaknya kesamaan

karakteristik wilayah-wilayah yang bertetanggaan (neighbors adjacency) serta

melihat konsentrasi spasial di mana pengangguran cenderung mengumpul

membentuk cluster atau cenderung menyebar.

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas,

maka peneliti akan melakukan penelitian mengenai Analisis Pola Spasial

Pengangguran Di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pola spasial pengangguran yang terjadi pada kabupaten/kota

di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015?


7

2. Bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap tingkat

pengangguran pada kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan tahun

2015?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, tujuan

dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pola spasial pengangguran yang terjadi pada

kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015.

2. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap

tingkat pengangguran kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan tahun

2015.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam menanggapi fenomena

spasial yang terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan khususnya di bidang

ekonomi pembangunan yang terkait dengan masalah pengangguran.

2. Sebagai bahan referensi dan informasi tambahan bagi penelitian-

penelitian selanjutnya, khususnya pada bidang penelitian yang sama.


8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teoritis

2.1.1. Pengangguran

Pengangguran (unemployment) didefinisikan sebagai suatu keadaan

dimana seseorang yang tergolong dalam kategori angkatan kerja (labor

force) yang tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif sedang mencari

pekerjaan. (Nanga, 2001 : 253) dalam (Sopianti & Ayuningsasi, 2010).

Pengangguran merupakan salah satu indikator pengukur prestasi

kegiatan ekonomi untuk menentukan tingkat kemakmuran suatu masyarakat

(Sadono Sukirno, 2004) dalam (Pitartono & Hayati, 2012).

Indikator untuk mengukur tingginya angka pengangguran adalah

dengan melihat angka tingkat pengangguran terbuka (TPT). Definisi dari

tingkat pengangguran terbuka ialah persentase penduduk yang mencari

pekerjaan, yang mempersiapkan usaha, yang tidak mencari pekerjaan,

karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, yang sudah

mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja dari sejumlah angkatan

kerja yang ada. (Mariana, 2013).

Menurut BPS (2006) bahwa tingkat pengangguran terbuka adalah

ukuran yang menunjukkan berapa banyak dari jumlah angkatan kerja yang

sedang aktif mencari pekerjaan, dapat dihitung sebagai berikut:


= 100%

2.1.1.1. Jenis Pengangguran


9

Menurut Sadono Sukirno (2004 : 328) dalam (Sopianti &

Ayuningsasi, 2010) pengangguran berdasarkan penyebabnya sebagai

berikut:

1. Pengangguran normal atau friksional

Pengangguran normal atau friksional adalah jenis pengangguran

yang disebabkan penganggur ingin mencari pekerjaan yang lebih baik.

2. Pengangguran siklikal

Pengangguran siklikal adalah jenis pengangguran yang

disebabkan merosotnya kegiatan ekonomi atau karena terlampau kecilnya

permintaan agregat di dalam perekonomian dibanding penawaran

agregatnya.

3. Pengangguran struktural

Pengangguran struktural adalah jenis pengangguran yang

disebabkan adanya perubahan struktur kegiatan ekonomi.

4. Pengangguran teknologi

Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang disebabkan

adanya penggantian tenaga manusia oleh mesin-mesin dan bahan kimia.

Lebih lanjut, menurut Sukirno (2004 : 330) dalam (Sopianti &

Ayuningsasi, 2010) pengangguran berdasarkan cirinya, dibagi menjadi empat

kelompok, yaitu:

1. Pengangguran Terbuka

Pengangguran terbuka yaitu pengangguran ini tercipta sebagai

akaibat pertambahan lowongan pekerjaan yang lebih rendah dari

pertambahan tenaga kerja.

2. Pengangguran Terselubung (Disguessed Unemployment)


10

Pengangguran terselubung yaitu pengangguran ini tercipta

sebagai akibat jumlah pekerja dalam suatu kegiatan ekonomi lebih banyak

dari yang sebenarnya diperlukan.

3. Pengangguran Bermusim

Pengangguran bermusim yaitu pengangguran yang tercipta akibat

musim yang ada, biasanya pengangguran ini terdapat di sektor pertanian

dan perikanan.

4. Setengah Menganggur

Setengah menganggur yaitu pengangguran yang tercipta akibat

tenaga kerja bekerja tidak sepenuh dan jam kerja mereka adalah jauh

lebih rendah dari yang normal.

2.1.1.2. Penyebab Pengangguran

Menurut Sukidjo (2005) dalam (Sopianti & Ayuningsasi, 2010),

ada berbagai penyebab terjadinya pengangguran, di antaranya adalah:

1. Keterbatasan jumlah lapangan kerja, sehingga tidak mampu

menampung seluruh pencari kerja.

2. Keterbatasan kemampuan yang dimiliki pencari kerja, sehingga

pencari kerja tidak mampu mengisi lowongan kerjanm karena tidak

memenuhi persyaratan kemampuan dan keterampilan yang diperlukan.

3. Keterbatasan informasi, yakni tidak memiliki informasi dunia usaha

mana yang memerlukan tenaga kerja serta persyaratan apa yang diperlukan.

4. Tidak meratanya lapangan kerja. Daerah perkotaan banyak

tersedia lapangan pekerjaan sedangkan di pedesaan sangat terbatas.

5. Kebijakan pemerintah yang tidak tepat, yakni pemerintah tidak

mampu mendorong perluasan dan pertumbuhan sektor modern.


11

6. Rendahnya upaya pemerintah untuk melakukan pelatihan kerja

guna meningkatkan skill pencari kerja.

2.1.2. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tolak ukur untuk menilai

perkembangan ekonomi suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi berarti

perkembangan fisikal produksi barang dan jasa yang berlaku di suatu

Negara. (Sukirno, 2008: 423) dalam (Qomariyah, 2011).

Pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam

perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi

meningkat demi kemakmuran masyarakat. (Todaro, 2011) dalam (Panjawa &

Soebagiyo, 2014).

Pertumbuhan ekonomi disini meliputi 3 aspek yaitu :

1. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses (aspek ekonomis) suatu

perekonomian berkembang, berubah dari waktu ke waktu.

2. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan adanya kenaikan output

perkapita, dalam hal ini ada 2 aspek penting yaitu output total dan jumlah

penduduk. Output perkapita adalah output total dibagi jumlah penduduk.

3. Pertumbuhan ekonomi dikaitkan dengan perspektif waktu jangka panjang.

Dikatakan tumbuh bila dalam jangka panjang waktu yang cukup lama (5

tahun) mengalami kenaikan output.

Indikasi keberhasilan pembangunan suatu negara atau wilayah yang

banyak digunakan adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi

diukur dari tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk lingkup

nasional dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk lingkup wilayah.

(Christina, Pratiwi, & Kuncoro, 2016). Selain dipengaruhi faktor internal,


12

pertumbuhan ekonomi suatu negara juga dipengaruhi faktor eksternal,

terutama setelah era ekonomi yang semakin mengglobal. Secara internal,

tiga komponen utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi tersebut

adalah pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

2.1.3. Teori Okuns Law

Arthur Okun adalah salah seorang pembuat kebijakan paling kreatif

pada era sehabis perang. Dia memperhatikan faktor-faktor pembangunan

yang membantu Amerika Serikat menelusuri dan mengatur usahanya. Ia

membuat konsep output potensial dan menunjukkan hubungan antara output

dan penganggur. Penganggur biasanya bergerak bersamaan dengan output

pada siklus bisnis. Pergerakan bersama dari output dan pengangguran yang

luar biasa ini berbarengan dengan hubungan numerikal yang sekarang

dikenal dengan nama Hukum Okun.

Hukum Okun menyatakan bahwa untuk setiap penurunan 2 persen

GDP yang berhubungan dengan GDP potensial, angka pengangguran

meningkat sekitar 1 persen. Hukum Okun menyediakan hubungan yang

sangat penting antara pasar output dan pasar tenaga kerja, yang

menggambarkan asosiasi antara pergerakan jangka pendek pada GDP riil

dan perubahan angka pengangguran. (Samuelson & Nordhaus, 2004).

2.1.4. Inflasi

Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaikkan

secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Kenaikan

harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila

kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikkan) sebagian

besar dari harga barang-barang lain. (Septiatin, Mawardi, & Rizki, 2016).
13

Pengertian inflasi secara umum dapat diartikan sebagai kenaikan

harga-harga umum secara terus menerus selama dalam periode tertentu.

(Prasetyo, 2009: 195- 200) dalam (Prasaja, 2013). Dengan demikian,

beberapa unsur dalam pengertian inflasi perlu diketahui bahwa :

1. Inflasi merupakan proses kecenderungan kenaikan harga-harga

umum barang-barang dan jasa secara terus menerus.

2. Kenaikan hargaharga ini tidak berarti harus naik dengan persentase

yang sama, yang penting terdapat kenaikan harga-harga umum

barang secara terus menerus selama periode tertentu (satu bulan

atau satu tahun).

3. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya sekali saja dan bersifat

sementara atau secara temporer (sekalipun dalam jumlah yang

besar) tetapi tidak berdampak meluas bukanlah merupakan inflasi.

Ada beberapa sebab yang dapat menimbulkan inflasi antara lain:

1. Pemerintah yang terlalu berambisi untuk menyerap sumber sumber

ekonomi lebih besar daripada sumber sumber ekonomi yang dapat

dilepaskan oleh pihak bukan pemerintah pada tingkat harga yang

berlaku.

2. Berbagai golongan ekonomi dalam masyarakat berusaha

memperoleh tambahan pendapatan relatif lebih besar daripada

kenaikan produktivitas mereka.

3. Adanya harapan yang berlebihan dari masyarakat sehingga

permintaan barang barang dan jasa naik lebih cepat daripada

tambahan keluarnya (output) yang mungkin dicapai oleh

perekonomian yang bersangkutan.


14

4. Adanya kebijakan pemerintah baik yang bersifat ekonomi atau non

ekonomi yang mendorong kenaikan harga.

5. Pengaruh alam yang dapat mempengaruhi produksi dan kenaikan

harga.

6. Pengaruh inflasi luar negeri, khususnya bila Negara yang

bersangkutan mempunyai sistem perekonomian terbuka. Pengaruh

inflasi luar negeri ini akan terlihat melalui pengaruh terhadap harga-

harga barang impor.

Untuk mengetahui tingkat atau laju inflasi atau deflasi menggunakan

indeks harga. Indeks harga adalah ukuran statistik yang digunakan untuk

mengukur tingkat harga pada suatu periode tertentu. Di Indonesia beberapa

angka indeks harga disusun dan disajikan oleh BPS (Badan Pusat Statistik)

meliputi Indeks Biaya Hidup (IBH) mencakup sandang pangan, perumahan

dan umum keseluruhan meliputi beberapa puluh kota.

2.1.5. Teori Kurva Philips

Kurva Phillips pertama kali dikemukakan oleh A.W. Phillips, pada

tahun 1958. Phillips menemukan terdapat pengaruh yang tinggi antara tingkat

inflasi dengan tingkat pengangguran, apabila tingkat pengangguran rendah

maka akan diikuti dengan tingginya tingkat inflasi. Kurva Phillips

menggambarkan hubungan terbalik atau negatif antara tingkat inflasi dengan

pengangguran. (Wijayanti & Karmini, 2014)

Gambar 2.1. menganggambarkan persamaan kurva Philips dan

menunjukkan tradeoff jangka pendek antara inflasi dan pengangguran. Ketika

pengangguran berada pada tingkat alamiahnya (u = un), inflasi bergantung

pada inflasi yang diperkirakan dan guncangan penawaran ( = e + v).


15

Parameter menentukan kemiringan dari tradeoff antara inflasi dan

pengangguran. Dalam jangka pendek, untuk suatu tingkat inflasi yang

diprediksikan, pembuat kebijakan dapat memanipulasi permintaan agregat

untuk memilih kombinasi inflasi dan pengangguran pada kurva ini, yang

disebut kurva Philips jangka pendek.

Gambar 2.1.
Kurva Philips

Inflasi,


1
e+ v

unPengangguran, u

Sumber : N. Gregory Mankiw 2007

Ingat bahwa posisi kurva Philips jangka pendek tergantung pada

tingkat inflasi yang diharapkan. Jika inflasi yang diharapkan naik, kurva

tersebut bergeser ke atas, dan tradeoff yang dihadapi pembuat kebijakan

menjadi kurang bernilai: inflasi akan lebih tinggi pada seluruh tingkat

pengangguran. Karena orang-orang menyesuaikan ekspektasinya atas inflasi

sepanjang waktu, maka tradeoff antara inflasi dan pengangguran hanya

bertahan dalam jangka pendek. Pembuat kebijakan tidak bisa

mempertahankan inflasi diatas inflasi yang diharapkan (dan dengan demikian

pengangguran berada pada di bawah tingkat alamiah) selamanya. Secara

berangsur-angsur, ekspektasi akan beradaptasi pada setiap tingkat inflasi


16

yang dipilih pembuat kebijakan tersebut. Dalam jangka panjang, dikotomi

klasik akan berlaku, pengangguran kembali ke tingkat alamiah, serta tidak

ada tradeoff antara inflasi dan pengangguran. (Mankiw, 2007).

2.1.6. Pola Spasial

Pola spasial dapat dilihat dari sebaran geografi. Tujuan dari pola

spasial ini untuk melihat fenomena yang terjadi dalam suatu negara-negara

bagian, propinsi-propinsi, kabupaten/kota dalam suatu Negara. Salah satu

pertanyaan yang sering muncul adalah apakah kemunculan suatu kejadian di

dalam suatu daerah atau area membuat kemunculan kejadian yang serupa

pada area lain yang berdekatan?

Mengutip hukum geografi yang dinyatakan oleh Tobler Segala

sesuatu saling berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi sesuatu yang

dekat lebih mempunyai pengaruh daripada sesuatu yang jauh. (Mariana,

2013). Atas dasar inilah banyak dilakukan penelitian yang dilakukan dalam

menyelidiki suatu kejadian atau fenomena yang terjadi dalam suatu area atau

wilayah yang letaknya berdekatan.

Data spasial adalah data yang berkaitan dengan lokasi, berdasarkan

geografi yang terdiri dari lintang-bujur dan wilayah. Analisis data spasial tidak

dapat dilakukan secara global, artinya setiap lokasi mempunyai karakteristik

sendiri. Sebagian besar pendekatan analisisnya merupakan eksplorasi data

yang disajikan dalam bentuk peta tematik.

Peta tematik juga disebut sebagai peta statistik atau peta tujuan

khusus, menghasilkan gambaran penggunaan ruangan pada tempat tertentu

sesuai dengan tema yang diinginkan. Berbeda dengan peta rujukan yang

memperlihatkan pengkhususan geografi (hutan, jalan, perbatasan


17

administratif), peta-peta tematik lebih menekankan variasi penggunaan

ruangan daripada sebuah jumlah atau lebih dari distribusi geografis.

Distribusi geografis bisa berupa fenomena fisikal seperti iklim atau ciri-ciri

khas manusia seperti kepadatan penduduk atau permasalahan kesehatan.

(Rahmawati, Safitri, & Fairuzdhiya, 2015).

Autokorelasi Spasial adalah suatu ukuran kemiripan dari objek di

dalam suatu ruang (jarak, waktu, dan wilayah). Autokorelasi spasial muncul

ketika unit yang dekat satu sama lain lebih mirip daripada unit yang terpisah

jauh. Autokorelasi Spasial penting digunakan, karena dapat mengukur

kemunculan suatu kejadian pada area yang berdekatan. (Arbia, 2014).

2.1.7. Interaksi Spasial

Interaksi spasial menggambarkan pola hubungan antar wilayah

yang berdekatan karena adanya sifat kontiguitas spasial (spatial contiguity)

dan spatial compactness. Sifat spatial contiguity menggambarkan

kecendrungan dua wilayah yang bersebelahan akan saling mempengaruhi,

sementara spatial compactness menggambarkan bahwa dua wilayah yang

bersebelahan akan saling berinteraksi dan memiliki keterkaitan spasial.

Keterkaitan untuk saling mempengaruhi dan berinteraksi dapat dimanfaatkan

untuk meningkatkan efesiensi dalam proses pembangunan wilayah.

Dalam interaksi spasial, pembangunan dapat diterjemahkan sebagai

alokasi sumber daya menurut ruang (spatial order) dan interaksi spasial

dalam mencapai sasaran pembangunan dan memecahkan permasalahan

sosial ekonomi dengan menekankan pada apa yang menjadi masalah (what)

dan mengapa masalah itu terjadi (why) dalam suatu wilayah.

Menggabungkan aspek geografi dan sosial ekonomi untuk memecahkan


18

permasalahan yang ada dalam suatu wilayah telah dikembangkan dengan

pendekatan spatial econometrics yang didukung perkembangan teknologi

komputer untuk menyajikan informasi spasial seperti Sistem Informasi

Geografis (SIG).

2.1.8. Keadaan Geografis

Gambar 2.2
Peta Sulawesi Selatan

Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di Makassar terletak

antara 0o 12' - 8o Lintang Selatan dan 116o 48' 122o36' Bujur Timur, yang

berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah Utara dan Teluk Bone

serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah Timur. Batas sebelah Barat dan

Timur masing-masing adalah Selat Makassar dan Laut Flores.

Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Selatan tercatat

sekitar 67 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di Kabupaten Luwu,

yakni 25 aliran sungai. Sungai terpanjang tercatat ada satu sungai yakni
19

Sungai Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten Tator, Enrekang dan,

Pinrang. Panjang sungai tersebut masing-masing 150 km.

Di Sulawesi Selatan terdapat empat danau yakni Danau Tempe dan

Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo, serta danau Matana dan Towuti

yang berlokasi di Kabupaten Luwu Timur. Adapun jumlah gunung tercatat

sebanyak 7 gunung, dengan gunung tertinggi adalah Gunung Rantemario

dengan ketinggian 3.470 m diatas permukaan air laut. Gunung ini berdiri

tegak di perbatasan Kabupaten Enrekang dan Luwu.

Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan tercatat 46.083,94 km persegi

yang meliputi 21 Kabupaten dan 3 Kota. Kabupaten Luwu Utara kabupaten

terluas dengan luas 7.365,51 km persegi atau luas kabupaten tersebut

merupakan 15,98 persen dari seluruh wilayah Sulawesi Selatan.

2.2. Hubungan Antar Variabel

2.2.1. Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pengangguran

Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pengangguran dapat

dijelaskan dengan hukum okun (okuns law), diambil dari nama Arthur Okun,

ekonom yang pertama kali mempelajarinya. Yang menyatakan adanya

pengaruh empiris antara pengangguran dengan output dalam siklus bisnis.

Hasil studi empirisnya menunjukkan bahwa penambahan 1 (satu) point

pengangguran akan mengurangi GDP (Gross Domestic Product) sebesar 2

persen. Ini berarti terdapat pengaruh yang negatif antara pertumbuhan

ekonomi dengan pengangguran dan juga sebaliknya pengangguran terhadap

pertumbuhan ekonomi. Penurunan pengangguran memperlihatkan

ketidakmerataan. Hal ini mengakibatkan konsekuensi distribusional.

2.2.2. Hubungan Inflasi Terhadap Pengangguran


20

Kurva Phillips menunjukkan hubungan antara inflasi dengan

pengangguran. Phillips menyimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif

antara pengangguran dan perubahan tingkat upah. Phillips menggunakan

perubahan tingkat upah karena upah akan mempengaruhi harga barang dan

jasa dan pada akhirnya juga mempengaruhi inflasi. Pada perkembangannya,

kurva Phillips yang digunakan oleh para ekonom saat ini berbeda dalam

penjelasan mengenai hubungan yang terdapat dalam kurva tersebut. Phillips

menyatakan bahwa perubahan tingkat upah dapat dijelaskan oleh tingkat

pengangguran dan perubahan tingkat pengangguran.

2.3. Penelitian Terdahulu

Senet (2014) berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah

Pengangguran Di Provinsi Bali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

menguji pengaruh tingkat investasi, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan

pertumbuhan penduduk secara simultan dan parsial terhadap jumlah

pengangguran di Provinsi Bali tahun 1986-2012. Metode yang digunakan

dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis regresi linear

berganda. Berdasarkan analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel

pertumbuhan ekonomi dan inflasi memberikan pengaruh negatif dan

signifikan terhadap jumlah pengangguran di Provinsi Bali. Variabel

pertumbuhan penduduk memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap

jumlah pengangangguran di Provinsi Bali. Sedangkan tingkat investasi

berpengaruh tidak signifikan terhadap jumlah pengangguran di Provinsi Bali.

Hayati (2012) berjudul Analisis Tingkat Pengangguran Di Jawa

Tengah Tahun 1997-2010. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

menganalisis hubungan antara penduduk, inflasi, rata - upah minimum


21

kabupaten / kota, dan tingkat pertumbuhan PDB dengan tingkat

pengangguran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

kuantitatif dengan studi yang diterapkan adalah metode analisis statistik

deskriptif dan analisis korelasi dan menggunakan SPSS untuk mengolah

data. Berdasarkan analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa koefisien

korelasi variabel independen yang memiliki hubungan positif dan signifikan

dengan variabel dependen adalah jumlah penduduk dan upah minimum

kabupaten / kota di Jawa Tengah. variabel jumlah penduduk memiliki

koefisien korelasi sebesar 0,755 sedangkan upah minimum variabel

kabupaten / kota memiliki jumlah koefisien korelasi 0,878 sehingga dapat

disimpulkan bahwa semakin tinggi populasi, semakin besar upah minimum

dan kabupaten / kota secara positif dan signifikan terkait dengan tingkat

pengangguran di Jawa Tengah. variabel tingkat inflasi memiliki koefisien

korelasi -0,173 poin sedangkan tingkat variabel pertumbuhan GDP memiliki

koefisien korelasi -0,179 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel tingkat

inflasi variabel dan PDB tingkat pertumbuhan memiliki hubungan negatif dan

signifikan dengan tingkat pengangguran di Jawa Tengah. koefisien korelasi

tingkat inflasi dan tingkat pertumbuhan GDP yang ditunjukkan oleh tanda

negatif berarti tingkat inflasi dan pertumbuhan PDB tidak memiliki hubungan

yang signifikan dengan pengangguran.

Wijayanti, Karmini (2014) berjudul Pengaruh Tingkat Inflasi, Laju

Pertumbuhan Ekonomi Dan Upah Minimum Terhadap Tingkat Pengangguran

Terbuka Di Provinsi Bali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

bagaimana pengaruh tingkat inflasi, laju pertumbuhan ekonomi dan upah

minimum terhadap tingkat pengangguran terbuka Provinsi Bali secara


22

simultan dan parsial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan metode asosiatif dan teknik analisis regresi data dengan metode

Ordinary Least Square. Berdasarkan analisis yang dilakukan menunjukkan

bahwa tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi dan upah minimum memiliki

pengaruh secara simultan dan signifikan terhadap tingkat pengangguran

terbuka Provinsi Bali, sedangkan hasil uji parsial diperoleh bahwa tingkat

inflasi dan upah minimum memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan

dengan tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Bali, sedangkan tingkat

pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap tingkat pengangguran

terbuka Provinsi Bali.

Prasaja (2013) berjudul Pengaruh Investasi Asing, Jumlah Penduduk

Dan Inflasi Terhadap Pengangguran Terdidik Di Jawa Tengah Periode Tahun

1980-2011. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh

investasi asing terhadap pengangguran terdidik di Jawa Tengah,

menganalisis pengaruh jumlah penduduk terhadap pengangguran terdidik di

Jawa Tengah, menganalisis pengaruh inflasi terhadap pengangguran terdidik

di Jawa Tengah, menganalisis pengaruh investasi asing, jumlah penduduk,

dan inflasi secara bersama-sama terhadap pengangguran terdidik di Jawa

Tengah.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahmetode kuantitatif

dengan data time series. Metode analisis regresi log linier dengan metode

Ordinary Least Square (OLS). Pengujian secara parsial digunakan uji t-

statistik dan pengujian secara serempak digunakan uji F-statistik. Selain itu

dilakukan uji asumsi klasik, dimana semua pengujian tersebut digunakan alat

bantu program Eviews 6.0.Berdasarkan analisis yang dilakukan menunjukkan

bahwavariabel investasi asing berpengaruh negatif dan signifikan terhadap


23

pengangguran terdidik di Jawa Tengah, jumlah penduduk berpengaruh positif

dan signifikan terhadap pengangguran terdidik di Jawa Tengah, inflasi

berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pengangguran terdidik di

Jawa Tengah. Variabel investasi asing, jumlah penduduk dan inflasi

berpengaruh secara nyata terhadap pengangguran terdidik di Jawa Tengah.

Setiyawati (2007) berjudul Analisis Pengaruh Pad, Dau, Dak, Dan

Belanja Pembangunan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan, Dan

Pengangguran: Pendekatan Analisis Jalur. Tujuan dari penelitian ini adalah

untukuntuk menguji secara langsung pengaruh pendapatan asli daerah,

alokasi dana umum, alokasi dana khusus, dan belanja modal terhadap

pertumbuhan ekonomi; Untuk meneliti langsung pengaruh pertumbuhan

ekonomi terhadap kemiskinan dan pengangguran; Dan untuk melihat secara

tidak langsung pengaruh pendapatan asli daerah, alokasi umum, alokasi

dana khusus, dan belanja modal untuk kemiskinan dan

pengangguran.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahstatistik

deskriptif dan regresi linier berganda untuk melaku can analisis jalur terhadap

variabel-variabel penelitian. Berdasarkan analisis yang dilakukan

menunjukkan bahwa pendapatan asli daerah dan alokasi umum berpengaruh

langsung pada tingkat 0,01 terhadap pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan

ekonomi secara langsung. Pengaruh signifikan pada tingkat 0,01 terhadap

kemiskinan, dan tingkat pengangguran, pendapatan asli daerah dan alokasi

dana secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan dan

tingkat pengangguran.

2.4. Kerangka Pikir Penelitian


24

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan, penelitian ini dibangun

atas dasar kerangka pikir bahwa pengangguran merupakan masalah yang

sering terjadi di Indonesia khususnya Provinsi Sulawesi Selatan. Kondisi,

sifat dan konteks pengangguran yang menjadi penyebab terjadinya

pengangguran antara wilayah yang satu dengan wilayah lain akan berbeda.

Maka dari itu, Pentingnya memasukkan analisis spasial didasari pemikiran

bahwa suatu unit spasial, dalam hal ini suatu kabupaten/kota melakukan

interaksi dan dipengaruhi oleh kabupaten-kabupaten/kota-kota yang menjadi

tetangganya (neighbors). Hubungan atau pengaruh antara suatu

kabupaten/kota yang menjadi tetangganya dapat bersifat positif maupun

negatif. Dengan demikian untuk mengetahui faktor-faktor yang

mempengaruhi Pengangguran di suatu wilayah dapat dilihat segi

perekonomian suatu daerah yakni pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Pertumbuhan ekonomi yang berpengaruh menurunkan pengangguran

merupakan modal dalam pembangunan manusia. Dapat dikembangkan

melalui kebijakan investasi. Dengan adanya investor yang masuk ke suatu

wilayah atau daerah maka akan menyebabkan suatu perusahaan atau

lapangan pekerjaan bagi para masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan.

Semakin tingginya investasi di wilayah tersebut makan semakin tinggi

pertumbuhan ekonomi sehingga dapat menurunkan tingkat pengangguran

disuatu wilayah.

Inflasi juga mampu menurunkan tingkat pengangguran. Dalam rangka

menstabilkan inflasi agar harga tidak terjadi kenaikan dengan cara terjadi

keseimbangan antara sisi permintaan dan sisi penawaran. Apabila inflasi

terjaga dengan stabil maka produk domestik akan menigkat atau bertambah
25

sehingga para pengusaha akan membuka lapangan pekerjaan sehingga

pengangguran semakin berkurang.

Dengan demikian, pola pertumbuhan ekonomi dan inflasi bersama-

sama berpengaruh terhadap pola pengangguran di suatu wilayah Provinsi

Sulawesi Selatan. Pola pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang signifikan

berpengaruh terhadap tingkat penurunan pengangguran dapat dijadikan

dasar kebijakan bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan strategi

penanganan pengangguran. Maka dari itu dapat digambarkan kerangka pikir

dari peneltian ini adalah sebagai berikut:

Pola Spasial

(W)

PERTUMBUHAN
INFLASI
EKONOMI
(X2)
(X1)

( PENGANGGURAN

(Y)
Gambar 2.4

Kerangka Pikir

2.5. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap

permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data terkumpul, berdasarkan

landasan teori tersebut, rumusan hipotesis yang akan dikemukakan adalah :


26

1) Di duga terdapat autokorelasi spasial positif nilai pengangguran

yang tinggi atau rendah di Provinsi Sulawesi Selatan.

2) Di duga bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif

terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Sulawesi Selatan, dan

inflasi berpengaruh negatif terhadap tingkat pengangguran di

Provinsi Sulawesi Selatan.


BAB III

METODE PENELITIAN

4.1. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini mengenai pengaruh secara langsung

pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pola spasial Provinsi Sulawesi Selatan

terhadap pengangguran di Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan

periode 2015.

4.2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana

penelitian tersebut akan dilakukan. Adapun penelitian yang dilakukan oleh

penulis mengambil lokasi di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi

Selatan.

4.3. Jenis dan Sumber Data

a. Jenis data yang digunakan adalah cross section tahun 2015 menurut

Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan.

b. Sumber data: Website Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia dan

berbagai situs yang berkaitan dengan penelitian. Selain itu penulis

juga melakukan studi pustaka dengan membaca jurnal, buku, artikel

internet, dan berbagai literatur lainnya.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui studi

pustaka. Studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan informasi melalui

literatur-literatur yang berkaitan dengan objek studi.

28
29

4.5. Pengolahan Data

Dalam penulisan penelitian ini, pengolahan data yang digunakan

adalah R code.

4.6. Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode

Spasial. Analisis spasial adalah analisis data yang mengacu pada posisi,

objek, dan hubungan diantaranya dalam ruang bumi. Pentingnya peranan

posisi lokasi yaitu pengetahuan mengenai lokasi dari suatu aktifitas

memungkinkan hubungannya dengan aktifitas lain atau elemen lain dalam

daerah yang sama atau lokasi yang berdekatan.

4.6.1. Model Linear Regresi

Menurut Arbia (2014), terdapat model linear sebagai berikut:

nY1 = nXkk1+n1 . 3.1

Keterangan :

nY1= variabel dependen

n = lokasi

nXk= matriks dari variabel independen

k = variabel independen

k1= konstanta

n1= vektor parameter dari variabel

4.6.2. Model Regresi Spasial

Menurut Arbia (2014), model regresi spasial adalah sebagai berikut:

Y = W 1 y + X1it 1 + X2it 2 + .. 3.2

= W 2 + 3.3

= N (0, 2I) .. 3.4


30

Keterangan:

Y = vektor variabel respon (n x 1)

X1 = matrik variabel pertumbuhan ekonomi (n X 1)

X2 = Matrik variabel inflasi (n X 1)

1, 2 = Vektor parameter koefisien regresi berukuran (k+1) X 1

= konstanta koefisien lag variabel predictor

= konstanta koefisien spasial pada error

= vektor error pada persamaan (3.2) berukuran n x 1

= vektor error pada persamaan (3.3) berukuran n x 1

Wij = Matriks pembobot berukuran n X n

I = Matriks identitas n X n

4.6.3. Pembobot Spasial

Pembobot spasial pada dasarnya merupakan hubungan yang

menggambarkan antar wilayah. Dimana pembobot dalam bentuk matriks

adalah sebagai berikut :

W11 W12 W13 W1n

W21 W22 W23 W2n


Wij =
Wij

Wn1 Wn2 Wn3 Wnn

Pada kasus ini, matrik pembobot spasial yang dapat digunakan

adalah matriks pembobot spasial Queen. Matrik pembobot spasial Queen

mendefinisikan wij=1 untuk wilayah yang bersebelahan atau titik sudutnya

bertemu dengan wilayah yang menjadi pusat perhatian, sedangkan wij=0


31

untuk wilayah lainnya. Matrik pembobot spasial merupakan matrik yang

bersifat simetris dan mempunyai diagonal utama yang selalu bernilai nol.

4.7. Definisi Operasional

Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Variabel pengangguran (Y) yang digunakan diperoleh dari persentase

jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan di Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015 yang dinyatakan dalam bentuk

persen.

2. Variabel pertumbuhan ekonomi (X1) yang digunakan yaitu perubahan

PDRB atas dasar harga konstan di Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi

Selatan tahun 2015 yang dinyatakan dalam bentuk persen.

3. Inflasi (X2) adalah kenaikan harga umum dan secara terus menerus

pada Kabupaten/kota Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015 yang

dinyatakan dalam bentuk persen.

4. Pola spasial yang digunakan adalah peta tematik Provinsi Sulawesi

Selatan berdasarkan jarak antara daerah yang satu dengan daerah

tetangga.
32

DAFTAR PUSTAKA

Arbia, G. (2014). A Primer for Spatial Econometrics. USA.

Christina, M., Pratiwi, Y., & Kuncoro, M. (2016). Analisis Pusat Pertumbuhan dan

Autokorelasi Spasial di Kalimantan: Studi Empiris di 55 Kabupaten / Kota ,

2000 2012. Jurnal Ekonomi Dan Pembangunan Indonesia, 16(2), 81104.

Mankiw, N. G. (2007). Makroekonomi (Keenam). Jakarta: Erlangga.

Mariana. (2013). Pendekatan Regresi Spasial Dalam Pemodelan Tingkat

Pengangguran Terbuka. Jurnal Matematika Dan Pembelajarannya, Vol.

1(No. 1), 4263.

Panjawa, J. L., & Soebagiyo, D. (2014). Efek Peningkatan Upah Minimum

Terhadap Tingkat Pengangguran. Jurnal Ekonomi Dan Studi Pembangunan,

15(1), 4854.

Pitartono, R., & Hayati, B. (2012). ANALISIS TINGKAT PENGANGGURAN DI

JAWA TENGAH TAHUN 1997-2010. DIPONEGORO JOURNAL OF

ECONOMICS, 1(1), 110.

Prasaja, M. hadi. (2013). Pengaruh Investasi Asing, Jumlah Penduduk Dan

Inflasi Terhadap Pengangguran Terdidik Di Jawa Tengah Periode Tahun

1980-2011. Economics Development Analysis Journal, 2(3), 7284.

Qomariyah, I. (2011). Pengaruh tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi

terhadap tingkat pengangguran di jawa timur. Ekonomi Universitas Negeri

Surabaya.

Rahmawati, R., Safitri, D., & Fairuzdhiya, O. U. (2015). Analisis Spasial


33

Pengaruh Tingkat Pengangguran Terhadap Kemiskinan Di Indonesia (Studi

Kasus Povinsi Jawa Tengah). Media Statistika, 8(1), 2330.

Samuelson, P. A., & Nordhaus, W. D. (2004). Ilmu Makroekonomi (Ketujuhbel).

Jakarta: PT. Media Global Edukasi.

Septiatin, A., Mawardi, & Rizki, M. A. K. (2016). PENGARUH INFLASI DAN

TINGKAT PENGANGGURAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI

INDONESIA. I-Economic, 2(1).

Soebagiyo, D. (2005). Analisis Pengaruh Kesempatan Kerja, Tingkat

Beban/Tanggungan Dan Pendidikan Tinggi Terhadap Pengangguran Di

Propinsi Dati I Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 6(1), 6477.

Sopianti, N. K., & Ayuningsasi, A. . K. (2010). Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi,

Tingkat Inflasi, Dan Upah Minimum Terhadap Jumlah Pengangguran Di

Bali. Jurnal Ekonomi Pembangunan, Universitas Udayana, 2(4), 216225.

Wijayanti, N. N. S. A., & Karmini, N. L. (2014). PENGARUH TINGKAT INFLASI,

LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI DAN UPAH MINIMUM TERHADAP

TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI PROVINSI BALI. Jurnal

Ekonomi Pembangunan, Universitas Udayana, 3(10), 460466.