Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

BAB III
DASAR TEORI POMPA

3.1 Pengertian Pompa


Pompa adalah salah satu jenis mesin fluida yang berfungsi untuk memindahkan
zat cair dari suatu tempat ke tempat yang diinginkan. Zat cair tersebut contohnya adalah
air, oli atau minyak pelumas, serta fluida lainnya yang tak mampu mampat. Industri-
industri banyak menggunakan pompa sebagai salah satu peralatan bantu yang penting
untuk proses produksi. Sebagai contoh pada pembangkit listrik tenaga uap, pompa
digunakan untuk menyuplai air umpan ke boiler atau membantu sirkulasi air yang akan
diuapkan di boiler. Adapun gambaran umum instalasi pompa dapat dilihat pada gambar
3.1

Gambar 3.1 Instalasi Pompa

Pompa bekerja dengan mengkonversikan energi mekanik dari suatu penggerak


menjadi energi aliran pada fluida yang melaluinya. Dengan demikian pompa menaikkan
energi dari fluida tersebut yang kemudian dapat digunakan untuk mengalirkan ke suatu
tempat yang lebih tinggi dan mengatasi tahanan hidrolik dari pipa isap dan tekan serta
mempercepat aliran. Dari sudut pandang energi, pompa merupakan kebalikan dari
motor/mesin hidrolik dimana energi fluida diubah menjadi kerja mekanis.
14
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

3.2 Klasifikasi Pompa


Pengklasifikasian jenis pompa dapat dibagi menjadi :

3.2.1 Berdasarkan perubahan bentuk energi


Berdasarkan cara pemindahan dan pemberian energi (perubahan bentuk energi)
pada cairan pompa dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu :
a. Pompa Pemindah Positif (Positive displacement pump)
Adalah pompa dengan ruang kerja yang secara periodik berubah-ubah dari besar ke
kecil atau sebaliknya selama pompa bekerja. Energi yang diberikan kepada cairan yang
dipompakan ialah energi potensial, sehingga cairan berpindah secara volume per
volume.
Yang termasuk Positive displacement pump adalah:
1. Pompa gerak translasi bolak-balik (reciprocating pump)
Misalnya: pompa torak, pompa plunger, dan pompa membran / diafragma.

Gambar 3.2 Pompa torak


2. Pompa gerak berputar (rotary pump)
Misalnya: pompa roda gigi, pompa lube, pompa ulir dan pompa vane.

Gambar 3.3 Pompa roda gigi dan pompa ulir

15
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

b. Pompa Pemindah Non Positif (non positive displacement pump)


Adalah pompa dengan ruang kerja yang tidak berubah-ubah saat pompa bekerja.
Energi yang diberikan pada cairan yang dipompakan adalah energi kecepatan, sehingga
cairan yang berpindah karena adanya perubahan energi kecepatan yang kemudian
diubah lagi menjadi energi mekanis dalam rumah itu sendiri.
Yang termasuk pompa pemindah non positif adalah:
1. Pompa sentrifugal
Jenisnya : Radial flow, mixed flow, dan axial flow
2. Pompa Jet
Jenisnya : Turbin-impeler

3.2.2 Berdasarkan jenis impeller


Menurut jenis impeller pompa dapat dikategorikan menjadi tiga jenis yaitu:

a. Pompa aliran radial b. Pompa aliran aksial c. Pompa aliran campur


Gambar 3.4 Klasifikasi pompa berdasar jenis impeller

a. Pompa aliran radial / sentrifugal


Pada pompa ini impeller dipasang pada salah satu ujung poros dan pada ujung
yang lain dipasang kopling untuk meneruskan daya dari penggerak. Impeller jenis ini
dipakai pada pompa yang memerlukan head yang besar dengan kapasitas rendah.
Bentuk impeller yang dipasang menyebabkan aliran fluida yang melaluinya akan
membentuk aliran yang tegak lurus dengan poros pompa. Aliran yang keluar dari sudu-
sudu impeller ditampung dalam rumah pompa yang selanjutnya akan mengalir keluar
melalui nozel. Untuk mencegah kebocoran fluida keluar atau udara masuk ke dalam

16
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

pompa maka pada bagian rumah pompa yang ditembus oleh poros dipasang mechanical
seal.

Gambar 3.5 Pompa aliran radial/sentrifugal

b. Pompa aliran aksial


Impeller jenis ini dipakai pada pompa yang memerlukan kapasitas besar dengan
head yang rendah. Bentuk impeller yang sedemikian rupa menyebabkan aliran fluida
yang melewati impeller tersebut bergerak sejajar dengan sumbu poros. Untuk mengubah
head kecepatan menjadi head tekanan dipakai sudu antar yang berfungsi sebagai
diffuser.

Gambar 3.6 Pompa aliran aksial

c. Pompa aliran campur


Pada pompa ini dipasang impeller yang dapat menghasilkan head dan kapasitas
yang berada diantara aksial dan radial. Pompa aliran campur mempunyai kontruksi
menyebabkan aliran fluida yang melaluinya akan berbentuk kerucut mengikuti bentuk
impelernya. Impeller dipasang pada salah satu ujung poros dengan ditumpu oleh
bantalan dalam, sedangkan pada ujung yang satu dipasang kopling dengan bantalan luar
di dekatnya, biasanya yang digunakan adalah bantalan gelinding. Untuk bantalan dalam
dipakai jenis bantalan luncur yang dilumasi gemuk.
17
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.7 Pompa aliran campur

3.2.3 Berdasarkan bentuk rumah


Berdasarkan bentuk rumah pompa dibagi menjadi tiga jenis yaitu:

a. Pompa Volut b. Pompa Difuser


Gambar 3.8 Klasifikasi Pompa berdasarkan Bentuk Rumah Pompa

a. Pompa volut
Adalah sebuah pompa sentrifugal dimana fluida yang melalui impeller secara
langsung dibawa ke rumah volut.

Gambar 3.9 Pompa volut

18
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

b. Pompa difuser
Adalah sebuah pompa sentrifugal yang dilengkapi dengan sudu difuser
disekeliling luar impellernya. Konstruksi bagian-bagian lain pada pompa ini sama
dengan pompa volut. Pada pompa difuser, dengan pemasangan sudu-sudu difuser pada
sekeliling luar impelernya akan memperbaiki efesiensi pompa dan menambah kokoh
rumah pompa. Dengan alasan itu, pompa jenis ini banyak dipakai pada pompa besar
dengan head tinggi. Pompa ini juga sering dipakai sebagai pompa bertingkat banyak
karena aliran fluida dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya dapat dilakukan tanpa rumah
volut.

Gambar 3.10 Pompa difuser

c. Pompa aliran campur jenis volut


Adalah pompa yang memiliki impeller jenis aliran campur dan sebuah rumah
volut, disini tidak dipergunakan sudu-sudu difuser melainkan dipakai saluran yang lebar
untuk mengalirkan fluida. Adapun impeller yang digunakan adalah jenis impeller
setengah terbuka yaitu yang tidak memiliki tutup depan. Dengan demikian pompa
dengan impeller setengah terbuka tidak mudah tersumbat oleh benda asing yang terisap
dibanding pompa dengan impeller tertutup. Berbeda dengan pompa jenis tersebut,
pompa aliran campuran sering tidak menggunakan difuser, tetapi rumah volut sehingga
zat cair lebih mudah mengalir dan tidak tersumbat, pompa jenis ini banyak dipakai pada
pengolahan limbah.

19
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.11 Pompa aliran campur jenis volut

3.2.4 Berdasarkan jumlah tingkat


Berdasarkan jumlah tingkat, pompa dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a. Pompa satu tingkat
Pompa ini hanya memiliki satu impeller dan head total yang ditimbulkan hanya
berasal dari satu impeller tersebut relatif rendah.

Gambar 3.12 Pompa satu tingkat

b. Pompa bertingkat banyak


Pompa ini menggunakan beberapa impeller yang dipasang secara berderet (seri)
pada satu poros. Fluida yang keluar dari impeller pertama masuk ke impeller berikutnya
dan seterusnya hingga impeller terakhir. Head total pompa ini merupakan jumlah dari
head yang dihasilkan oleh masing-masing impeller sehingga relatif tinggi. Kontruksi
impeler biasanya menghadap satu arah tetapi untuk menghindari gaya aksial yang
timbul dibuat saling membelakangi. Pada rumah pompa banyak tingkat, bisanya
dipasang diffuser, tetapi ada juga yang menggunakan volut. Pemasangan diffuser pada
rumah pompa banyak tingkat lebih menguntungkan dari pada dengan rumah volut,
karena aliran dari satu tingkat ketingkat berikutnya lebih mudah dilakukan.
20
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.13 Pompa Bertingkat banyak

3.2.5 Berdasarkan Letak Poros


Ditinjau dari letak poros, pompa dikategorikan menjadi dua yaitu:
a. Pompa jenis poros mendatar/horizontal
Pompa ini mempunyai poros dengan posisi mendatar.

Gambar 3.14 Pompa jenis poros mendatar

b. Pompa jenis poros tegak


Pompa poros tegak mempunyai poros dengan posisi tegak. Pompa aliran aksial
dan campuran banyak dibuat dengan poros tegak. Rumah pompa dipasang dengan
ditopang pada lantai oleh pipa yang menyalurkan zat cair keluar pompa. Posisi poros
pompa adalah tegak dan dipasang sepanjang sumbu pipa air keluar dan disambungkan
dengan motor penggerak pada lantai. Poros dipegangi dengan beberapa bantalan,
sehingga kokoh dan biasanya diselubungi pipa selubung yang berfungsi untuk saluran
minyak pelumas. Pompa poros tegak berdasar dari posisi pompanya ada dua macam
yaitu pompa sumuran kering dan sumuran basah. Sumuran kering pompa dipasang di
luar tadah hisap gambar, sedangkan sumuran basah sebaliknya.
21
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.15 Pompa poros tegak

3.2.6 Berdasarkan belahan rumah


Dilihat dari belahan rumah, pompa dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Pompa jenis belahan mendatar
Pompa jenis ini mempunyai rumah yang dapat dibelah menjadi dua bagian yaitu
bagian bawah dan bagian atas oleh bidang mendatar yang melalui sumbu poros. Jadi
bagian yang berputar dapat diangkat setelah rumah belahan atas dibuka.
b. Pompa jenis belahan radial
Rumah pompa jenis ini terbagi oleh sebuah bidang yang tegak lurus poros. Pompa
ini mempunyai konstruksi yang relatif sederhana serta menguntungkan sebagai bejana
bertekanan karena bidang belahan tidak mudah bocor.
c. Pompa jenis berderet
Jenis pompa ini terdapat pada pompa bertingkat banyak dimana rumah pompa
terbagi oleh bidang-bidang tegak lurus poros sesuai dengan jumlah tingkat yang ada.
Tiap bagian rumah ini berbentuk cincin.

22
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

3.2.7 Berdasarkan sisi isap impeller


Untuk gambaran sisi isap impeller pada pompa dapat dilihat pada gambar 3.16

Gambar 3.16 Klasifikasi Pompa Berdasarkan sisi isap impeller

Dilihat dari belahan rumah, pompa dibagi menjadi dua yaitu:


a. Pompa isapan tunggal
Pada pompa ini fluida masuk dari satu sisi impeller. Pompa isapan tunggal banyak
dipakai karena kontruksinya sederhana. Permasalahan pada pompa ini yaitu tekanan
yang bekerja pada masing-masing sisi impeller tidak sama sehingga akan timbul gaya
aksial ke arah sisi isap. Hal ini dapat diatasi dengan menambah ruang pengimbang,
sehingga tidak perlu lagi menggunakan bantalan aksial yang besar.

Gambar 3.17 Pompa isapan tunggal

b. Pompa isapan ganda


Pompa ini memasukkan fluida dari kedua sisi impeller, disini poros yang
menggerakkan impeller dipasang menembus kedua sisi rumah dan impeller dengan
ditumpu oleh bantalan diluar rumah. Karena itu poros menjadi lebih panjang
dibanding pompa jenis lain. Untuk pompa dua aliran masuk banyak dipakai pada
pompa berukuran besar atau sedang. Kontruksi pompa ini terdiri dua impeler saling
23
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

membelakangi dan zat cair masuk dari kedua sisi tersebut, dengan kontruksi tersebut
permasalahan gaya aksial tidak muncul karena saling mengimbangi. Debit zat cair
keluar dua kali dari debit zat cair yang masuk lewat dua sisi impeler. Pompa ini juga
bisa beropersi pada putaran yang tinggi. Untuk aliran masuk yang lebih dari dua
prinsipnya sama dengan yang dua aliran masuk.

Gambar 3.18 Pompa isapan ganda

3.2.8 Pompa jenis tumpuan sumbu


Pompa jenis ini mempunyai kaki yang diperpanjang sampai setinggi sumbu poros
untuk menumpu rumah. Maksudnya adalah apabila terjadi pemuaian pada rumah karena
kenaikan temperatur, tinggi sumbu poros tidak berubah. Dengan demikian sumbu poros
pompa akan tetap segaris dengan sumbu poros motor penggerak, dengan kata lain tidak
terjadi misalignment.

Gambar 3.19 Pompa dengan tumpuan disumbu

3.2.9 Pompa jenis khusus


Pompa jenis ini antara lain :
a. Pompa dengan motor benam
b. Pompa motor berselubung

24
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

c. Pompa sesumbu
d. Pompa memancing sendiri
e. Pompa proses
f. Pompa pasir
g. Pompa bebas sumbatan

3.3 Komponen-komponen Utama Pompa


Komponen utama pada pompa dapat terlihat pada gambar 3.20 :

Gambar 3.20 Komponen-komponen utama pompa


Pada komponen utama pompa dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

3.3.1 Bagian yang tidak bergerak


Komponen yang tidak bergerak merupakan bagian pompa yang berfungsi sebagai
dudukan atau bagian yang mendukung komponen bergerak dalam pompa. Bagian
tersebut antara lain :

25
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

3.3.1.1 Base Plate & frame :


Berfungsi untuk mendukung seluruh bagian pompa terhadap fondasi. Untuk
pompa yang dihubungkan langsung dengan penggerak maka unit penggerak dan pompa
diletakan di atas satu unit base plate. Base plate harus tegar/rigid dan kuat menahan
beban.

3.3.1.2 Casing
Adalah bagian pompa yang berfungsi sebagai :
a. Pelindung kedudukan elemen yang berputar
b. Tempat kedudukan quide vane atau deffusor, inlet dan outlet nozzle.
c. Tempat yang memberikan arah aliran dari impeler dan mengkonversikan energi
kecepatan cairan menjadi energi dinamis (single stage).
Adapun jenis casing antara lain:
1. Tipe casing pompa single stage
a. Single volute casing
Tekanan bekerja di sekeliling impeller akan balance jika beroperasi pada
kapasitas desain. Pada kapasitas yang lain, tekanan sekeliling impeller tidak balance
dan mengakibatkan timbulnya gaya radial pada impeler

Gambar 3.21 Single-volute casing

b. Double volute casing


Cocok untuk pompa yang beroperasi pada range kapasitas dengan variasi yang
besar, terutama pada pompa dengan ukuran impeller besar dan head yang tinggi.
Meniadakan gaya radial yang bekerja pada sekeliling impeller.

26
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.22 Double-volute casing

2. Tipe casing pompa multi stage


a. Radial/Vertical Split casing

Gambar 3.23 Vertical Split casing

b. Horizontal Split casing

Gambar 3.24 Horizontal Split casing

c. Modular Split casing

Gambar 3.25 Modular Split casing

27
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

3.3.1.3 Difuser
Fungsi Utama :
a. Mengarahkan aliran cairan menuju ruang volute, (untuk single stage), atau menuju
stage berikutnya
b. Merubah energi kinetik menjadi energi tekanan

Gambar 3.26 Difuser

3.3.1.4 Stuffing Box


Fungsi utama stuffing Box adalah untuk mencegah terjadinya kebocoran cairan
pada daerah dimana poros pompa menembus casing
Jenis konstruksi stuffing Box:
a. Stuffing box dengan latern-ring

Gambar 3.27 Stuffing box

b. Stuffing box dengan pendingin (cooled stuffing box)

Gambar 3.28 Stuffing box dengan pendingin air

28
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

3.3.1.5 Wearing-Rings
Adalah Ring yang dipasang pada casing (tidak berputar) sebagai wearing-ring
casing dan dipasang pada impeller (berputar) sebagai wearing-ring impeller. Fungsi
utama wearing adalah memperkecil kebocoran cairan yang melewati bagian depan
impeller maupun bagian belakang impeller, yaitu dengan cara memperkecil celah antara
casing impeller.

Gambar 3.29 Konstruksi wearing-ring

3.3.2 Bagian yang bergerak


Bagian yang bergerak merupakan bagian komponen pompa yang bergerak saat
pompa melakukan kerja. Bagian bergerak pada pompa dibagi menjadi :

3.3.2.1 Shaft (Poros transmisi)


Fungsi utama Shaft:
a. Meneruskan momen puntir dari penggerak selama pompa beroperasi
b. Tempat kedudukan (sebagai pendukung) impeler dan bagian yang beputar lainya

Bentuk Shaft umumnya :


a. Straight diameter shaft
Straight diameter shaft mempunyai fungsi :
1. Untuk double admision impeller
2. Untuk back to back impeller

29
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.30 Straight shaft

b. Step diameter shaft


Step diameter shaft mempunyai fungsi :
1. Untuk multi stage impeller dengan single admision

Gambar 3.31 Step shaft

3.3.2.2 Mechanical seal


Komponen pompa ini berfungsi untuk mencegah bocoran yang berlebihan dari
fluida service yang terjadi antara casing dan poros, baik ketika pompa tersebut sedang
beroperasi maupun saat stanby. Mechanical seal banyak digunakan pada chemical dan
petroleum processing industry sebagai pengganti compression packing. Jenis-jenis
mechanical seal antara lain:
a. Single seal
Single seal merupakan salah satu tipe dari mechanical seal yang paling banyak
digunakan. Material untuk tipe ini harus tahan terhadap korosi dari liquid didalam
stuffing box. Single seal digunakan untuk fluida yang:
1. Bekerja dengan pelumasan dari dalam (internal flushing)
2. Tekanan dan temperatur yang tidak terlalu tinggi
3. Mempunyai gaya aksial yang rendah
30
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.32 Single seal

b. Double seal
Double seal banyak digunakan untuk fluida yang banyak mengandung abrasive
material maupun corrosive material yang dapat merusak seal face dengan cepat. Double
seal digunakan untuk fluida yang:
1. Mudah terbakar
2. Bekerja dengan pelumasan dari luar (external flushing)
3. Mempunyai gaya aksial yang tinggi
Prinsip kerjanya, yaitu:
1. Suatu fluida diinjeksikan kedalam stuffing box dengan tekanan yang lebih
rendah dari tekanan product liquid.
2. Injeksi liquid berfungsi sebagai flushing oil.
3. Differential pressure pada inner seal adalah differential pressure antara sealing
liquid dengan product liquid yang dipompa.
4. Karena sealing pressure lebih rendah dari product pressure maka dapat
dihindari adanya abrasive liquid atau corrosive liquid sehingga tidak diperlukan
material khusus.

Gambar 3.33 Double Seal

c. Tandem seal
Prinsip kerja dari tandem seal yaitu:
1. Pada inner seal, sebagai flushing oil adalah liquid product pompa itu sendiri.

31
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

2. Pada outer seal, sebagai external flushing yang biasanya merupakan closed system
(menggunakan fluida dari luar sesuai dengan kebutuhan pada flushing system
tersebut)
Tandem seal digunakan pada fluida yang:
1. Bekerja dengan external flushing.
2. Bertekanan terlalu tinggi untuk single seal.

Gambar 3.34 Tandem seal

3.3.2.3 Bantalan/bearing
Secara praktis semua jenis bantalan digunakan pada pompa sentrifugal, seperti:
bantalan gesek, selongsong dan selimut. Bantalan (bearing) sangat penting fungsinya
dalam operasional pompa, dimana bearing dapat berfungsi sebagai penyangga poros
yang dapat menahan vibrasi dari putaran dan gaya aksial.

Gambar 3.35 Bearing

3.3.2.4 Shaft-sleeve
Shaft-sleeve berguna untuk :
a. Melindungi shaft erosi, korosi, keausan pada stuffing box
b. Sebagai leakage joint, internal bearing dan interstage atau distonce sleever (untuk
multi stage pump)

32
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.36 Konstruksi Shaft-sleeve


3.3.2.5 Impeller
Adalah suatu empelling element yang berputar, yang memberikan tambahan
energi kepada cairan dalam bentuk energi kinetik.
Bagian-bagian dari impeler

Gambar 3.37 Bagian-bagian single suction impeler


Impeller ada beberapa jenis dan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Berdasarkan tipe suction:
1. Double suction
Cairan masuk dari kedua sudu impeller
2. Single suction
Cairan masuk dari salah satu sudu impeller

Gambar 3.38 tipe suction impeler

33
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

b. Berdasarkan arah aliran keluar impeller


1. Centrifugal/radial flow
Untuk Head yang tinggi dan kapasitas yang relatif kecil
2._Mixed flow
Untuk Head yang cukup tinggi dan kapasitas sedang
3. Axial flow
Untuk Head yang rendah kapasitas besar

Gambar 3.39 Tipe impeler berdasarkan arah aliranya

c. Berdasarkan Konstruksi
1. Enclosed Impeller
a. Kedua sisi impeller tertutup
b. Cocok untuk cairan yang bersih atau mengandung partikel yang lembut
2. Semi Enclosed Impeller
a. Satu sisi terbuka
b. Cocok untuk cairan yang mengandung solid partikel yang sedikit kasar
3. Open Impeller
a. Kedua sisi impeller terbuka
b. Ccocok untuk abraisve liquid
Untuk gambar pompa berdasarkan kontruksi dapat dilihat pada gambar 3.40

34
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.40 Tipe impeler berdasarkan Konstruksi

d. Berdasrkan arah Lengkungan Sudu


1. Radial Vane ( = 900)
Untuk head konstan dan kapasitas berubah-ubah
2. Forward Curved vane ( > 900)
Head semakin tinggi bila kapasitas bertambah
3. Back ward curved vane ( > 900)
a. Head akan bervariasi dengan kapasitas
b. Banyak digunakan karena mudah pengaturan antara head dan kapasitas

a. Radial Vane b.Ford Ward curved phasa

c.Ward curved phasa


Gambar 3.41 Tipe impeler Berdasrkan arah Lengkungan Sudu

3.4 Prinsip Kerja Pompa Sentrifugal


Pada pompa terdapat sudu-sudu impeler yang berfungsi mengangkat zat cair dari
tempat yang lebih rendah ketempat yang lebih tinggi. Impeler dipasang pada poros

35
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

pompa yang berhubungan dengan motor pengerak, biasanya motor listrik atau motor
bakar.
Poros pompa akan berputar apabila pengeraknya berputar. Karena poros pompa
berputar impeler dengan sudu-sudu impeler berputar zat cair yang ada didalamnya akan
ikut berputar sehingga tekanan dan kecepatanya naik dan terlempar dari tengah pompa
ke saluran yang berbentuk volut atau spiral dan disalurkan keluar melalui nosel.

Gambar 3.42 Proses pemompaan


Jadi fungsi impeler pompa adalah merubah energi mekanik yaitu putaran impeler
menjadi energi fluida (zat cair). Jadi, zat cair yang masuk pompa akan mengalami
pertambahan energi Pertambahan energi pada zat cair mengakibatkan pertambahan head
tekan, head kecepatan dan head potensial. Jumlah dari ketiga bentuk head tersebut
dinamakan head total. Head total pompa juga bisa didefinisikan sebagai selisih head
total (energi persatuan berat ) pada sisi isap pompa dengan sisi keluar pompa. Pada
gambar di bawah aliran air didalam pompa akan ikut berputar karena gaya sentrifugal
dari impeler yang berputar.[1]

Gambar 3.43 Penampang Impeler Gambar 3.44 Perubahan energi Pompa

3.5 Aliran Fluida Dalam Pipa Dan Saluran


Adapun beberapa persamaan yang digunakan untuk menghitung aliran fluida
antara lain :
36
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

3.5.1 Persamaan dasar Bernoulli


Fluida cair ( tak mampu mampat) yang mengalir melalui suatu penampang sebuah
pipa dan saluran apabila diabaikan faktor viskositi ( fluida non viskositas) akan
memenui hukum yang dirumuskan oleh Bernoulli. Perumusan tersebut dapat dijabarkan
dengan menggunakan persamaan energi pada aliran fluida melalui sebuah penampang
pipa silinder yang dapat dilihat pada gambar 3.45

Gambar 3.45 Perubahan energi pada saluran

Energimasuk + Energiberubah = Energikeluar (1)


Energiberubah = Energiditambahkan - Energihilang - Energiterekstrasi (2)
Apabila Energiterekstrasi = 0
Maka persamaan energi bisa disederhanakan menjadi
Energimasuk + Energihilang = Energikeluar (3)
Energimasuk = (EK + EP +EA)1 (4)
2
Energimasuk = ( + + )1 (5)
2

Energikeluar= (EK + EP +EA)2


2
Energikeluar = ( + + )2
2

Energihilang = Elos
Energiditambahkan = Ead
Persamaan Bernoulli dijabarkan sebagai berikut :
2 2
( + + )1+ Ead Elos= ( + + )2
2 2
2 2
( + + )1+ Ead = ( + + )2 + Elos (6)
2 2

37
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Apabila penampang saluran pipa dianggap permukaan sempurna sehingga tidak


ada gesekan antara aliran fluida cair dengan permukaan pipa dan tidak ada energi yang
ditambahkan maka persamaan Bernoulli dapat disederhanakan menjadi
Energi masuk = Energi keluar
(EK + EP +EA)1 = (EK + EP +EA)2
2 2
( + + )1 = ( + + )2 (7)
2 2

Gambar 3.46 Profil saluran Bernouli

dibagi dengan m (Nm)


2 2
( + + ) = ( + + )
2 1 2 2
2 2
( + + )1 = ( + + )2 = (8)
2 2

dibagi dengan g menjadi bentuk persamaan "head" (m)


2 2
( + 2 + )1 = ( + 2 + )2 = (9)

dikalikan dengan gZ menjadi bentuk tekanan N/m2


2 2
( + + )1 = ( + + )2 (10)
2 2

3.5.2 Energi "Head"


Pada persamaan bernoulli diatas sering dalam bentuk persamaan energi "Head".
Head adalah bentuk energi yang dinyatakan dalam satuan panjang "m" (SI). Head pada
persamaan diatas terdiri dari head ketinggian "Z", head kecepatan v2/2g, dan Head

tekanan . Head ketinggian menyatakan energi potensial yang dibutuhkan untuk

mengangkat air setinggi "m" kolom air. Head kecepatan menyatakan energi kinetik
38
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

yang dibutuhkan untuk mengalirkan air setinggi "m" kolom air. Yang terakhir, head
tekanan adalah energi aliran dari "m" kolom air yang mempunyai berat sama dengan
tekanan dari kolom "m" air tersebut.

3.5.3 Modifikasi Persamaan dasar Bernoulli


Apabila penampang pipa diatas bukan permukaan sempurna sehingga terjadi
gesekan antara aliran fluida dengan permukaan pipa maka persamaan energi menjadi
2 2
( + + )1 = ( + + )2 + Elos
2 2

Dalam bentuk head


2 2
( + 2 + )1 = ( + 2 + )2 + Hlos (11)

Hlos = kerugian aliran karena gesekan (friction)


Apabila pada penampang saluran ditambahkan energi seperti dapat dilihat pada
gambar.

Gambar 3.47 Perubahan energi pada pompa

Pompa akan memberikan energi tambahan pada aliran fluida sebesar Zad, sehingga
persamaan menjadi :
2 2
( + + )1 + Had = ( + + )2 + Hlos
2 2
2 2
( + 2 + )1 + Hpompa = ( + 2 + )2 + Hlos Hpompa = Had (12)

39
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

3.5.4 Persamaan kontinuitas


Fluida yang mengalir melalui suatu penampang akan selalu memenuhi hukum
kontinuitas yaitu laju massa fluida yang masuk akan selalu sama dengan laju
massa fluida yang keluar persamaan kontinuitasnya adalah sebagai berikut:
=
() = ()

Gambar 3.48 Penampang saluran silinder


untuk fluida cair (takmampumampat) 1 = 2
() = () (13)

3.5.5 Bilangan Reynolds


Kondisi aliran fluida akan sangat tergantung dari kecepatan aliran fluida, semakin
tinggi kecepatan akan mempengarui pola aliran, kondisi aliran akan berubah dari
laminar menjadi turbulen. Besaran yang bisa menghubungkan antara kecepatan aliran
(v), kondisi fluida (,), dan kondisi penampang diameter pipa (D) adalah Bilangan
Reynold (Re).
Sesuai dengan [Ref.1] maka perumusannya sebagai berikut :

= (14)

3.6 Persamaan Perhitungan dalam Analisis unjuk kerja Pompa Sentrifugal


Dalam Menganalisis unjuk kerja dari pompa Sentrifugal terdapat beberapa
parameter, yaitu: Kapasitas, Head Suction, Head Discharge, Total Head Pompa, Daya
Pompa, Daya Fluida, Efisiensi Pompa, NPSHa.

3.6.1 Kapasitas
Kapasitas pompa adalah sejumlah volume cairan yang dihasilkan pompa secara
kontinyu dalam satuan waktu. Kapasitas yang dihasilkan pompa biasanya direncanakan
40
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

sesuai kebutuhan operasi atau dapat dihitung berdasarkan instalasi perpipaan pada sisi
hisap (suction) atau sisi tekan (discharge), sebagai berikut :

= 4 2 . = 4 2 . (15)

Dimana,
3
= Kapasitas pompa ( )
= Garis Tengah bagian dalam pipa suction (m)
= Kecepatan cairan pipa suction (m/s)
= Garis Tengah bagian dalam pipa discharge (m)
= Kecepatan cairan pipa discharge (m/s)

3.6.1.1 Head
Head adalah energi setiap satuan berat dengan unit satuan panjang. Sedang yang
dimaksud dengan head sistem pemompaan adalah head total yaitu selisih head pada sisi
discharge dan sisi suction yang terdiri dari :

a. Head tekanan ()

2
b. Head kecepatan (2)

c. Head potensial ()
d. Head rugi-rugi akibat gesekan cairan dengan media sepanjang pengaliran

3.6.1.2 Head Suction (Hs)


2
= = (16)
2

Keterangan:
= Head suction
= tekanan manometer suction 2
= tekanan atmosfer di atas permukaan cairan 2
(+) = untuk level cairan di atas pompa
( ) = untuk level cairan di bawah pompa
= jarak permukaan cairan dengan nozzle suction pompa
= jarak permukaan cairan dengan nozzle suction pompa (level
41
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

air di bawah pompa)


= jarak permukaan cairan dengan nozzle suction pompa (level
air di atas pompa)
= kerugian head sepanjang pipa hisap
= kecepatan cairan pada pipa suction /
= massa jenis cairan /3

3.6.1.3 Head Discharge (Hd)


2
= = (16)
2

Keterangan:
= Head discharge
= tekanan manometer discharge 2
= tekanan atmosfer, bila bejana tertutup diganti adalah tekanan vapor/gas
diatas permukaan cairan 2
= jarak permukaan cairan tertinggi dengan nozzle discharge pompa
= kerugian head sepanjang pipa hisap
= pada pipa discharge /
= massa jenis cairan /3

42
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.49 Instalasi Sistem Perpompaan

3.6.1.4 Head Total sistem perpompaan (H)


2 2
= ( ) + + ( ), atau
2

2 2
=( )++( ) (17)
2

3.6.1.5 Kerugian Head (Head Loss)


Kerugian Head pada sistem perpipaan (hl) terdiri dari :
hl = hlp + hlf (18)
Keterangan :
hl = kerugian head sepanjang sistem perpipaan
hlp = kerugian head pada pipa
hlp = kerugian head pada fiting dan valve

a. Kerugian Head pada pipa (hlp)


Kerugian Head pada pipa dapat dihitung dengan rumus
2
= 2 (19)

Keterangan :
= panjang pipa
= garis tengah pipa bagian dalam
= /
= faktor gesekan (lampiran 2)

Menentukan faktor gesekan pipa (f)


Faktor gesekan (f) sebagai fungsi dari bilangan Reynold (Re) dan kekasaran relatif
pipa bagian dalam () :
64
1. Bilangan Reynold (Re) dihitung dengan rumus : f =

(untuk Re < 4000 maka faktor gesekan)


2. Kekasaran relatif ()

43
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Kekasaran relatif pipa dapat ditentukan melalui lampiran 1 berdasarkan garis


tengah nominal pipa (d) dan bahan pipa. Berdasarkan bilangan Reynol (Re) dan
kekasaran relatif () maka faktor gesekan pipa (f) dapat ditentukan melalui
lampiran 2 sehingga kerugian head pada pipa (hlp) dapat dihitung.

b. Kerugian head pada fiting dan valve (hlf)


Kerugian head pada fiting dan valve (hlf) dapat dihitung sesuai dengan rumus :
2
= . 2 (20)

Keterangan :
n = jumlah fiting valve sejenis
k = faktor gesekan pada fiting, valve untuk ukuran dan jenis yang sama
v = /

3.6.2 Daya pompa


Daya pompa adalah daya yang harus disediakan oleh mesin penggerak pompa (
motor / turbin ) untuk memindahkan fluida. Adapun beberapa daya pompa yaitu :

3.6.2.1 Daya Pompa Motor


Daya pompa adalah daya yang harus disediakan oleh mesin penggerak pompa (
motor / turbin ) untuk memindahkan fluida. Dalam hal motor penggerak pompa 3 fasa,
untuk sistem yang setimbang, daya total yang dikonsumsikan ke beban sesuai dengan
[Ref.7] dinyatakan :
= (21)
Di mana:
P = Daya Pompa
V = Voltage
I = Kuat Arus
cos =

44
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

3.6.2.2 Daya Pompa Turbin


Turbin adalah suatu peralatan dimana kerja dibangkitkan sebagai hasil dari
lewatnya gas atau cairan melalui satu set barisan sudu-sudu yang terpasang pada poros
yang dapat bebas berputar. Dalam hal ini kerja yang dihasilkan turbin diterima semua
oleh pompa sehingga dapat dikatakan sebagai daya turbin.
Dalam turbin untuk mengetahui kerja yang dihasilkan turbin dapat dilakukan
analisis volume atur / control volume yang berlaku persamaan :


= + [( ) + ( ) + ( )] (22)

Dalam hal ini diasumsikan


a. Pompa beroperasi dalam keadaan Steady
= 0
b. Pada pompa tidak terjadi perpindahan kalor
= 0
c. Efek energi potensial kecil sekali, sehingga tidak dimasukan dalam perhitungan
(1 2 ) = 0
d. Efek energi kinetik kecil, sehingga tidak diperhitungkan

=0

e. Kerja yang dihasilkan turbin secara keseluruhan digunakan sebagai kerja yang
diberikan pada pompa (daya pompa)
= Pt
f. Ketinggian air dalam penampungan cooling tower dari pipa suction ( ) konstan
g. Fluida yang masuk maupun yang keluar merupakan steam superheated
Maka persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi:
= ( ) = (23)
Di mana :
= =
=
=

3.6.3 Daya Fluida


45
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Daya fluida adalah daya pompa yang bisa digunakan dan dipindahkan ke fluida.
Sesuai dengan [Ref.2] maka persamaanya sebagai berikut :
Pv = . g. H. Q (24)
Dimana :
Pv = Daya fluida ( kW )
Q = Kapasitas yang dihasilkan pompa ( m3/s )
H = Head total ( m )
= Massa jenis fluida ( kg/m3 )
g = Percepatan grvitasi ( m/s2 )

3.6.4 Efisiensi Pompa


Efisiensi adalah perbandingan antara daya fluida dengan daya pompa. Maka
sesuai dengan [Ref.2] dapat dinyatakan sebagai berikut:

= 100% (25)

3.6.5 NPSH (Net Positive Suction Head)


NPSH adalah head netto pada suction flange suatu pompa setelah head positive
yang menyebabkkan cairan masuk ke dalam pompa dikurangi semua head negative
yang menghalangi masuknya cairan tersebut. Pengaruh yang terbesar adalah tekanan
penguapan cairan (Pv), yang dapat ditentukan dari grafik atau hasil periksaan
laboratorium. NPSH ada 2 jenis :

3.6.5.1 NPSHa (available)


NPSH available adalah NPSH yang didapat dari perhitungan instalasi di lapangan.
NPSHa dapat dihitung sesuai dengan [Ref.5] dengan persamaan sebagai berikut:


NPSHa = , (26)

Dimana :

46
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

= Tekanan Penguapan cairan 2 (lampiran 4)

3.6.5.2 NPSHr (requirement)


NPSH requirement adalah NPSH yang diperoleh dari hasil test yang dilaksanakan
oleh pabrik pembuat., sebagai acuan dalam memilih pompa. Agar pompa dapat
beroperasi dengan baik, maka dalam pemilihan pompa dipersyaratkan : NPSHr <
NPSHa.

3.7 Performansi Pompa


Bentuk pompa pada umumnya tergantung pada kecepatan spesifik (ns). Jadi dapat
dimengerti bila karakteristiknya juga akan tergantung pada ns.
Karakteristik sebuah pompa dapat digambarkan dalam kurva-kurva karakteristik,
yang menyatakan besarnya head total pompa, daya poros dan efisiensi pompa, terhadap
kapasitas. Kurva performansi tersebut, pada umumnya digambarkan pada putaran yang
tetap.

Gambar 3.50 Kurva karakteristik pompa volut

47
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gambar 3.51 Kurva karakteristik pompa aliran campuran

Gambar 3.52 Kurva karakteristik pompa aliran aksial

Gambar di atas menunjukan memperlihatkan contoh kurva performasi untuk tiga


jenis pompa dengan harga ns yang jauh berbeda-beda. Disini semua besaran kurva
karakteristik dinyatakan dalam persen. Titik 100% untuk harga kapasitas, head total
pompa, dan daya pompa diambil pada keadaan efisiensi maksimum.
Dari gambar terlihat bahwa kurva head-kapasitas menjadi semakin curam pada
pompa dengan harga ns yang semakin besar. Di sini head pada kapasitas nol (shut-off
head) semakin tinggi pada ns yang semakin besar.
Kurva daya terhadap kapasitas mempunyai harga minimum bila kapasitas aliran
sama dengan nol pada pompa sentrifugal dengan ns kecil. Sebaliknya, pada pompa
aliran campur dan pompa aliran aksial dengan ns besar, harga daya mencapai
maksimum pada kapasitas aliran sama dengan nol.
Kurva efisiensi terhadap kapasitas dari pompa sentrifugal umumnya berbentuk
mendekati busur lingkaran. Harga efisiensinya hanya sedikit menurun bila kapasitas
berubah menjauhi harga optimumnya.

3.8 Trouble Shooting Operasi Pompa


Trouble Shooting Operasi Pompa yang umum sering terjadi pada pompa dapat
diuraikan sebagai berikut :
Tabel 3.1 Trouble Shooting Operasi Pompa
No Trouble Shooting Penyebab Tindakan yang dilakukan
1 Pompa gagal untuk 1. Motor tidak berputar 1. Periksa system
48
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

start 2. Beban Berat kelistrikan dan


3. Pengencangan gland perbaiki
packing berlebihan 2. Lepas kopling dan
4. Bearing rusak putar pompa dengan
5. Poros/shaft bengkok tangan
terjadi kontak pada 3. Periksa set ulang
bagian yang berputar 4. Periksa dang anti
6. Terdapat 5. Periksa dan bersihkan
benda/kotoran pada
pompa
2 Pompa tidak 1. Arah putaran motor 1. Periksa system
menghasilkan kapasitas terbalik kelistrikan dan
dan tekanan yang 2. Putaran motor rendah perbaiki
sesuai 3. Strainer banyak 2. Periksa kelistrikan
kotoran/tersumbat dan tukar phasa
4. Discharge valve 3. Periksa tekanan
tertutup sebagian suction dan bersihkan
5. Level cairan sisi 4. Periksa tekanan
suction terlalu rendah discharge dan set
6. Terjadi kavitasi ulang
5. Periksa dan set ulang
(suhu cairan)
3 Kebocoran cairan lewat 1. Penekanan gland 1. Periksa dan set ulang
gland packing packing kendor 2. Periksa dan
berlebihan 2. Shaft sleeve aus perbaiki/ganti
3. Tekanan stuffing box 3. Periksa tekanan
sangat tinggi discharge dan set
4. Packing aus/rusak ulang
4 Kebocoran cairan lewat 1. Tekanan stuffing box 1. Periksa tekanan
mechanical seal sangat tinggi discharge dan set
2. Mechanical seal rusak ulang
2. Periksa keausan
permukaan kontak
dang anti
3. Periksa rubber seal
dang anti
5 Temperatur bearing 1. Pelumas kurang/out of 1. Periksa, tambah atau
tinggi spec ganti
2. Miss aligment 2. Periksa dan set ulang
3. Impeler Unbalance 3. Periksa tekanan
4. Beban Trust berlebihan discharge dan set
5. Bearing rusak ulang
4. Periksa dang anti
sesuai nomer seri
6 Vibrasi cenderung 1. Miss aligment 1. Periksa kopling dan
tinggi 2. Impeler Unbalance set ulang
49
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

3. Bearing aus/rusak 2. Periksa suhu cairan


4. Baut fondasi kendor dan set ulang
5. Kavitasi 3. Periksa tekanan
6. Stress berlebihan pada suctiondan level
perpipaan cairan
4. Periksa dan set ulang
7 Arus motor berlebihan 1. Arah putaran motor 1. Periksa system
terbalik kelistrikan dan
2. Kapasitas pompa perbaiki
berlebihan 2. Periksa tekanan
3. Bearing aus/rusak discharge dan flow
4. Setting arus terlalu meter sertya set ulang
tinggi pada rotating operasi
3. Periksa dang anti
4. Periksa dan set ulang

3.9 Gangguan Operasi Pompa


Pada instalasi pompa sering dijumpai berbagai kerusakan peralatan, misalnya
katup- katup, pipa-pipa, sambungan, dan komponenkomponen dalam pompa sendiri.
Kerusakan-kerusakan tersebut diakibatkan oleh gangguan-gangguan yang terjadi selama
pompa beroperasi. Gangguan-gangguan yang sering terjadi adalah benturan air,surging
dan fluktuasi tekanan.

3.9.1 Benturan Air (Water Hammer)


Gejala benturan air sering terjadi pada operasi pompa dan pada kondisi ini banyak
menimbulkan kerusakan pada peralatan instalasi. Benturan air terjadi karena pada aliran
terjadi kenaikan dan penurunan tekanan secara tiba-tiba. Benturan air dapat terjadi
karena dua sebab yaitu:
1. Penutupan katup secara tiba-tiba
2. Pompa mendadak berhenti bekerja
Sebab pertama banyak terjadi pada waktu pengaturan kapasitas aliran, jika
pengaturannya tidak benar, maka katup menutup penuh secara tiba-tiba, aliran akan
terhenti dan seolah-olah zat cair membentur katup. Karena kondisi tersebut, timbul
50
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

tekanan yang melonjak dan diikuti fluktuasi tekanan di sepanjang pipa untuk beberapa
saat.
Selama pompa beroperasi, poros pompa menggunakan penggerak dari luar, yang
biasa digunakan yaitu motor listrik atau motor bakar. Khusus untuk pompa yang
meggunakan motor listrik sebagai penggeraknya, masalah akan timbul apabila listrik
tiba-tiba mati yaitu motor listrik tidak bekerja, akibatnya pompa akan berhenti
mendadak. Aliran air akan terhalang impeler sehingga mengalami perlambatan yang
mendadak, hal tersebut menyebabkan lonjakan tekanan pada pompa dan pipa.
Dari dua sebab tersebut di atas, terlihat apabila terjadi gangguan operasi pompa,
masalah yang akan timbul adalah terjadi lonjakan tekanan yang tiba-tiba karena aliran
terhalang dan berhenti, kemudian terjadi benturan air pada peralatan. Kerusakan yang
timbul disamping karena lonjakan tekanan, jatuhnya tekanan juga dapat menyebabkan
kerusakan.
Di bawah ini diuraikan beberapa kemungkinan yang terjadi pada operasi pompa
yang berhenti bekerja apabila listrik mati :
a. Pompa tidak dilengkapi katup pada sisi ke luar.
Pada waktu listrik padam, pompa tiba-tiba berhenti, tetapi impeler masih berputar
karena gaya kelembaman bagian yang berputar. Putaran ini akan segera berhenti
karena energi kinetiknya terserap air. Karena aliran terhenti sehingga head dan
kapasitas menjadi hilang. Head pompa tidak lagi mengatasi head dari sistem
mengakibatkan tekanan pada sisi ke luar pompa menjadi negatif, kondisi ini
menyebabkan aliran balik dari pipa sisi ke luar menuju pompa. Tekanan yang tadinya
negatif menjadi positif pada pipa sisi kel uar pompa. Aliran balik dengan tekan
positif akan membentur impeler pompa dan akan memutar impeler dengan putaran
yang berlawanan dengan kerja pompa normal, dengan kata lain pompa bekerja
sebagai turbin
b. Pompa yang dilengkapi dengan katup pada sisi ke luar pompa.
Pemasangan katup ini akan mencegah aliran balik dari sisi ke luar pompa menuju
pompa. Katup ini akan merespon aliran balik dengan langsung menutup aliran. Di
dalam pompa, impeller setelah listrik mati tetap berputar tetapi akan segera berhenti
secara berangsur angsur.
51
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

c. Pompa dilengkapi dengan katup yang dapat diatur.


Pemasangan katup pada sisi ke luar pompa untuk mencegah aliran balik akan
lebih efektif apabila katup tersebut dapat diatur sehingga penutupannya tidak tiba-
tiba sehingga alirannya tidak berhenti mendadak dan lonjakan tekanan dapat
dihindari.

3.9.1.1 Kerusakan akibat benturan air


Kerusakan yang ditimbulkan dari benturan air seperti yang telah disebutkan di atas
adalah sebagai berkut :
1. Peralatan instalasi pompa seperti katup, perpipaan dan pompa dapat
pecah karena lonjakan tekanan.
2. Pada waktu terjadi tekanan negatif pada aliran sisi ke luar pompa,pipa dapat
mengempis dan pecah.
3. Tekanan negatif yang timbul dapat menyebabkan penguapan zat cair apabila
tekanan tersebut di bawah tekanan uap zat cair. Penguapan zat cair akan
menghasilkan banyak gelembung-gelembung uap air yang dapat pecah dan
menghantam dinding pipa atau pompa sehingga menimbulkan kerusakan.
4. Apabila instalasi pompa tidak diberi pengaman sehingga terjadi aliran balik yang
akan memutar impeler pompa, putaran ini berkebalikan dari putaran normal
pompa, kondisi ini mengakibatkan kerusakan pada motor penggeraknya.

3.9.1.2 Pencegahan benturan air


Proses terjadinya benturan air yaitu karena head pompa tidak dapat mengatasi
head sistem sehingga terjadi tekanan negatif pada sisi ke luar pompa, kondisi ini
menyebabkan aliran balik dari sisi ke luar pompa menuju pompa. Selanjutnya terjadi
kenaikan tekanan yang drastis yang menuju impeler pompa. Berdasarkan kondisi
tersebut, untuk mencegah terjadinya benturan air, tekanan negatif dan lonjakan tekanan
harus dicegah.
a. Pecegahan timbulnya tekanan negatif

52
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

1. Katup laluan udara, katup ini dipasang ditempat dimana terjadi tekanan negatif
sehingga udara dari atmosfer masuk ke dalam pipa untuk menyeimbangkan
tekanan di dalam pipa dan di luar pipa.
2. Kamar udara, kamar udara ini berbentuk bejana tertutup yang terisi air sampai
ketinggian tertentu, bagian atas bejana terisi udara bertekanan. Apabila terjadi
tekanan negatif, udara bertekanan akan langsung mengisi sehingga tekanan tidak
terlalu jatuh.
3. Roda gaya pada poros pompa, roda gaya tersebut dapat menyimpan energi,
sehingga pada waktu pompa mati impeller dapat terus berputar dan berhenti
perlahan-lahan. Hal ini dapat mencegah penurunan tekanan yang berlebihan.
4. Memperbesar ukuran pipa, dengan memperbesar ukuran pipa kecepatan aliran
akan berkurang sehingga gaya yang ditimbulkan karena benturan akan berkurang.
5. Bentuk pipa pada sisi ke luar harus menjamin tidak terjadi pemisahan kolom zat
cair.

b. Pecegahan timbulnya lonjakan tekanan


1. Penggunaan katup kontrol (penutupam lambat). Pada pemasangan katup pada sisi
ke luar pompa untuk menahan aliran balik menuju pompa, katup tersebut harus
mampu mengontrol aliran agar tidak berhenti mendadak. Pada permulaan bekerja
katup tersebut harus mampu mencegah lairan yang menuju impeller, kemudian
selanjutnya menutup perlahan lahan sehingga aliran tidak berhenti mendadak dan
lonjakan tekanan tidak terjadi. Jenis katup yang biasa dipakai adalah jenis katup
jarum, katup putar dan katup kupu-kupu.
2. Penggunaan katup pelepas tekanan. Katup pelepas tekanan dipasang pada jalur
pipa untuk mengurangi lonjakan tekanan dengan cara melepaskan tekanan.
3. Penggunaan katup cegah (penutupan cepat). Katup ini harus menutup sesaat
sebelum aliran balik terjadi, sehingga dihindari aliran balik yang besar, dengan
demikian lonjakan tekanan dihindari.

3.9.2 Gejala Surjing

53
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

Gejala surjing sering terjadi pada operasi pompa, laju aliran berubah-ubah secara
periodik dan pada aliran terjadi fluktuasi tekanan. Gejala ini timbul karena pompa
beroperasi dengan head yang semakin menurun dan head sistem yang naik. Atau, head
pompa tidak mampu mengatasi head dari sistem secara normal. Untuk mecegah surjing
harus dipilih pompa dengan head yang cukup tinggi, sehingga pada waktu pompa head
nya menurun tidak sampai terjadi surjing.

3.9.3 Tekanan Berubah-ubah


Gejala tekanan yang berubah-ubah atau berfluktuasi sepanjang aliran banyak
terjadi pada pompa sentrifugal, khususnya pada pompa volut. Di dalam pompa ada
daerah antara sisi luar impeler dan ujung dari volut (cut water), yang apabila setiap kali
impeler berputar dan melewati daerah ini, tekanan zat cair akan berdenyut. Denyut yang
terus-menerus akan dirasakan sebagai fluktuasi tekanan yang merambat pada zat cair di
dalam pipa ke luar. Apabila denyut tekanan zat cair beresonansi dengan kolom air
menyebabkan getaran dan bunyi.
Untuk mencegah fluktuasi tekanan antara pompa dan jalur pipa ke luar, pada jalur
ke luar pompa dipasang peredam bunyi yaitu kamar ekspansi. Kamar ekspansi akan
memotong rambatan gelombang dari fluktuasi tekanan sehingga tidak sampai
beresonansi dengan kolom air.

3.10 Kavitasi
Kavitasi merupakan gejala menguapnya zat cair yang sedang mengalir, karena
tekanannya berkurang sampai dibawah tekanan uap jenuh. Adapun beberapa hal yang
mempengaruhi yaitu :

3.10.1 Tekanan uap zat cair


Tekanan uap dari zat cair adalah tekanan mutlak pada temperatur tertentu dimana
pada kondisi tersebut zat cair akan menguap atau berubah fase dari cairan menjadi gas.
Tekanan uap zat cair naik demikian juga dengan temperatur zat cair tersebut. Pada
tekanan atmosfer temperatur pendidihan air pada suhu 100 , akan tetapi apabila
kondisi tekanan zat cair tersebut diturunkan tekanannya di bawah 1 atm proses
54
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

pendidihan memerlukan temperatur kurang dari 1000C. Kondisi sebaliknya apabila


kondisi tekanan zat cair naik labih dari 1 atm maka akan dibutuhkan temperatur yang
lebih tinggi dari 1000C.
Pada instalasi pompa penurunan tekanan terjadi di sepanjang perpipaan terutama
bagian pipa hisap, di dalam pompa sendiri penurunan tekanan pompa terjadi pada
bagian nosel hisap, karena dibagian tersebut terjadi penyempitan saluran yang
mengakibatkan kenaikan kecepatan dan penurunan tekanan.

3.10.2 Proses Kavitasi


Dalam pembahasan mesin-mesin hidrolik termasuk pompa ada suatu gejala pada
proses aliran zat cair yang cenderung mengurangi unjuk kerja atau efisiensi dari pompa,
gejala tersebut adalah kavitasi. Gejala kavitasi terjadi karena menguapnya zat cair yang
sedang mengalir di dalam pompa atau di luar pompa, karena tekanannya berkurang
sampai di bawah tekanan uap jenuhnya. Air pada kondisi biasa akan menguap pada
tekanan 1 atm pada suhu 1000C. apabila tekanan berkurang sampai cukup rendah, maka
titik penguapan akan menurun dan air akan mudah menguap. Penguapan akan
menghasilkan gelembung-gelembung uap. Tempat-tempat bertekanan rendah atau
berkecepatan tinggi mudah terjadi kavitasi, terutama pada sisi hisap pompa (gambar di
bawah). Kavitasi akan timbul apabila tekanannya terlalu rendah.

Gambar 3.53 Proses kavitasi

Gejala kavitasi yang timbul pada pompa biasanya ada suara berisik dan getaran,
unjuk kerjanya mejadi turun, kalau dioperasikan dalam jangka waktu lama akan terjadi
kerusakan pada permukaan dinding saluran dan bagian pompa yang lainnya terutama
impeller (gambar di bawah) Permukaan dinding saluran akan berlubang-lubang karena

55
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

erosi kavitasi sebagai akibat tumbukan gelembung gelembung yang pecah pada dinding
secara terus menerus.

Gambar 3.54 Abrasi pada impeller Gambar 3.55 Kerusakan impeller karena
kavitasi

Hal-hal berikut yang harus diperhatikan untuk menghindari kavitasi yaitu:


1. Ketinggian letak pompa terhadap permukaan zat cair yang diisap harus dibuat
serendah mungkin agar head isap statis menjadi rendah pula.
2. Pipa isap harus dibuat sependek mungkin. Jika terpaksa dipakai pipa isap yang
panjang, sebaiknya diambil pipa yang berdiameter satu nomor lebih besar untuk
mengurangi kerugian gesek.
3. Sama sekali tidak dibenarkan untuk memperkecil laju aliran dengan
menghambat aliran di sisi isap.
4. Jika pompa memiliki head total yang berlebihan, maka pompa akan bekerja
dengan kapasitas aliran yang berlebihan pula, sehingga kemungkinan terjadinya
kavitasi menjadi lebih besar. Karena itu head total pompa harus ditentukan
sesuai dengan yang diperlukan.
5. Bila head total pompa sangat berfluktuasi, maka pada keadaan head terendah
harus diadakan pengamanan penuh terhadap terjadinya kavitasi. Dalam hal ini
perlu dipilih bahan impeller yang tahan erosi karena kavitasi.

56
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG