Anda di halaman 1dari 10

NAMA : SASKIA SCARLET FRANS

NIM : 1510010045

KEBIJAKAN TARIFF BARRIER


Kebijakan tariff barrier adalah suatu kebijakan proteksionis terhadap barang-barang produksi
dalam negeri dari ancaman membanjirnya barang-barang sejenis yang diimpor dari luar
negeri, dengan cara menarik/mengenakan pungutan bea masuk kepada setiap barang impor
yang masuk untuk dipakai/dikonsumsi habis di dalam negeri.

Tarif

Tarif adalah pembebanan pajak atau custom duties terhadap barang-barang yang melewati
batas suatu Negara. Jadi tarif atau bea masuk adalah salah satu cara untuk memberikan
proteksi terhadap industri dalam negeri. Proteksi tidak selalu merupakan tujuan utama dari
pengenaan tarif. Ada kemungkinan bahwa karena kebutuhan APBN, tarif dikenakan untuk
memperoleh pendapatan Negara. Tetapi tidak jarang pula bahwa tujuan utama dari pengenaan
tarif adalah jelas-jelas memberikan proteksi pada suatu industri dalam negeri.

Apapun tujuan utamanya, tarif selalu mempunyai konsekuensi proteksi bagi industri
dalam negeri yang memproduksikan barang yang sama/serupa dengan barang impor yang
terkena tarif.

Macam-Macam Penentuan Tarif atau Bea Masuk

Dalam pelaksanaan kegiatan ekspor impor, pembebanan tarif dapat dikelompokkan


menjadi beberapa jenis antara lain:

Bea ekspor (export duties) adalah pajak/bea yang dikenakan terhadap barang yang
diangkut menuju kenegara lain. Jadi pajak untuk barang-barang yang keluar dari
custom area suatu Negara yang memungut pajak. Custom Area adalah daerah dimana
barang-barang bebas bergerak dengan tidak dikenai bea pabean. Batas custom area ini
biasanya sama dengan batas wilayah sesuatu Negara, tetapi kesamaan ini bukanlah
merupakan keharusan. Custom area disini lebih luas daripada wilayah suatu Negara.
Tetapi dengan adanya free trade area maka custom area lebih sempit daripada batas
wilayah suatu Negara.
Bea Transito (transit duties) adalah pajak/bea yang dikenakan terhadap barang-barang
yang melalui wilayah suatu Negara dengan ketentuan bahwa barang tersebut sebagai
tujuan akhirnya adalah Negara lain.
Bea Impor (impor duties) adalah pajak/bea yang dikenakan terhadap barang-barang
yang masuk dalam custom area suatu Negara dengan ketentuan bahwa Negara
tersebut sebagai tujuan terakhir.

Aplikasi atau penerapan dari pengenaan tarif terutama dalam bentuk bea masuk adalah
sebagai berikut:

1. Pembebasan bea masuk/tarif rendah adalah antara 0% s.d. 5%: dikenakan untuk bahan
kebutuhan pokok dan vital, seperti beras, mesin-mesin vital, alat-alat
militer/pertahanan/keamanan, dan lain-lain.
2. Tarif sedang antara > 5% s.d. 20%: dikenakan untuk barang setengah jadi dan barang-
barang lain yang belum cukup diproduksi di dalam negeri.
3. Tarif tinggi di atas 20%: dikenakan untuk barang-barang mewah dan barang-barang
lain yang sudah cukup diproduksi di dalam negeri dan bukan barang kebutuhan
pokok.

Pembedaan Tarif Menurut Jenisnya

Ad Valorem Duties, Besarnya pungutan bea masuk atas barang impor ditentukan oleh
tingkat persentase tarif dikalikan harga OF dari barang tersebut (BM = % tarif x
Harga CIF). Misalnya, harga CIF suatu barang X = $100 dan tarif bea masuknya 10%,
sedangkan kurs atau nilai tukar = Rp 5.000,00/USD. Maka pungutan bea masuknya =
10% x $100 x Rp 5.000,00 = Rp 50.000,00.
Specific Duties, Pungutan bea masuk ini didasarkan pada ukuran atau satuan tertentu
dari barang impor. Di Indonesia, sistem tarif ini digunakan sebelum tahun 1991.
Misalnya bea masuk untuk:
1. Semen: Rp 3.000,00 per ton
2. Sepatu: Rp 14.500,00 per pasang
3. Piring: Rp 5.000,00 per lusin
4. Jeruk: Rp 500,00 per kg
5. VCR: Rp 250.000,00 per unit
Spesific Ad Valorem atau Compound Duties, yakni bea yang merupakan kombinasi
antara specific dan ad valorem. Misalnya suatu barang tertentu dikenakan 10% tariff
ad valorem ditambah Rp 20,00 untuk setiap unit.

Tujuan dan Fungsi Tarif Bea Masuk

1. Menurut tujuannya, kebijakan tarif bea masuk dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Tarif proteksi, yaitu pengenaan tarif bea masuk yang tinggi untuk
mencegah/membatasi impor barang tertentu.
b. Tarif revenue, yaitu pengenaan tarif bea masuk yang bertujuan untuk
meningkatkan penerimaan negara.
2. Berdasarkan tujuan tersebut maka fungsi tarif bea masuk adalah sebagai berikut.
a. Fungsi mengatur (regulerend), yaitu untuk mengatur perlindungan kepentingan
ekonomi/industri dalam negeri.
b. Fungsi budgeter, yaitu sebagai salah satu sumber penerimaan negara
c. Fungsi demokrasi, yaitu penetapan besarnya tarif bea masuk melalui persetujuan
DPR.
d. Fungsi pemerataan, yaitu untuk pemerataan distribusi pendapatan nasional,
misalnya dengan pengenaan tarif bea masuk yang tinggi untuk barang mewah.

Sistem Tarif

Single-Column Tariffs: sistem dimana untuk masing-masing barang hanya


mempunyai satu macam tarif. Bersifat autonomous, artinya tarif yang tingginya
ditentukan sendiri oleh sesuatu Negara tanpa persetujuan dengan Negara lain). Kalau
tingginya tarif ditentukan dengan perjanjian dengan Negara lain disebut conventional
tariffs.
Double-Column Tariffs: sistem dimana untuk setiap barang mempunyai 2 (dua) tarif.
Apabila kedua tarif tersebut ditentukan sendiri dengan undang-undang, maka
namanya: bentuk maksimum dan minimum. Dalam bentuk ini jika tarif maksimum
sebagai normal duties maka tarif minimumnya digunakan untuk barang dari negara-
negara tertentu yang mengadakan perjanjian tarif dengan negara tersebut; tetapi
apabila tarif minimum sebagai normal duties maka tarif maksimum digunakan untuk
membalas tindakan negara lain yang membebankan tarif barang yang lebih tinggi.
Jika tarif maksimum sebagai normal duties sedang tarif yang lebih rendah ditentukan
berdasarkan perjanjian dengan negara lain, (jadi sebagian autonomous dan sebagian
conventional) maka bentuk ini dinamakan general and conventional form.
Triple-Column Tariffs: biasanya sistem ini digunakan oleh negara penjajah.
Sebenarnya sistem ini hanya perluasan daripada double-column tariffs, yakni dengan
menambah satu macam tariff preference untuk Negara-negara bekas jajahan afiliasi
politiknya. Sistem ini sering disebut dengan nama preferential system.

Efek tarif

Pembebanan tarif terhadap sesuatu barang dapat mempunyai efek terhadap


perekonomian suatu Negara, khususnya terhadap pasar barang tersebut. Beberapa macam
efek tarif tersebut adalah:

efek terhadap harga (price effect,


efek terhadap konsumsi (consumption effect),
efek terhadap produk (protective/import substitution effect),
efek terhadap redistribusi pendapatan (redistribution effect).
Effective rate of protection

Tarif terhadap bahan mentah akan menaikkan ongkos produksi. Pembebanan tarif
terhadap bahan mentah menyebabkan naiknya ongkos produksi sehingga kurva penawaran
naik ke atas. Hubungan antara tarif terhadap barang jadi dan tarif terhadap bahan mentah
dapat dinyatakan dengan adanya effective rate of protection yang dinikmati oleh produsen
yang memproses barang jadi tersebut. Apabila barang jadi dan juga bahan mentah impor itu
dikenakan tarif, maka effective rate of protection bagi produsen barang tersebut makin tinggi.

Alasan pembebanan tarif

Ada beberapa alasan pembebanan tarif baik yang secara ekonomis bisa
dipertanggungjawabkan, misalnya untuk mencapai kenaikan penghasilan riil maupun yang
secara ekonomis tidak bisa dipertanggungjawabkan.

3. Yang secara ekonomis dapat dipertanggungjawabkan.


a. Memperbaiki dasar tukar (terms of trade)

Suatu Negara dapat mempengaruhi dasar pertukaran antara ekspor dan impornya
melalui pembebanan tarif. Tarif dapat mengurangi keinginan untuk mengimpor, ini berarti
bahwa untuk sejumlah tertentu ekspor menghendaki jumlah impor yang lebih besar,
sebagian daripadanya diserahkan kepada pemerintah sebagai pembayaran tarif.

Pembebanan tarif ini akan berhasil memperbaiki terms of trade apabila Negara itu
mempunyai kedudukan monopoli dalam perdagangan. Dengan kata lain, kalau permintaan
Negara lain terhadap barangnya bersifat inelastis; makin inelastis permintaan terhadap
barangnya berarti semakin besar posisi monopoli sehingga pembebanan tarif dapat lebih
effective.

b. Infant-industry
Pada umumnya industri-industri yang sedang tumbuh ini efisiensinya belum tinggi serta
belum dapat menikmati adanya economies of scale. Oleh karena itu pembebanan tarif
terhadap barang dari luar negeri dapat memberi perlindungan terhadap industri dalam
negeri yang sedang tumbuh ini. Tarif hanya bersifat sementara sampai industri-industri
dalam negeri sudah kuat, tarif dihapuskan. Hal ini untuk menjaga industri ini jangan
sampai bekerja kurang efisien dibawah perlindungan tarif.
c. Diversifikasi
Suatu Negara yang hanya menghasilkan satu atau beberapa macam barang saja akan
mengalami kesulitan apabila harga barang-barang hasil produksinya di pasaran dunia
goncang. Dengan pembebanan tarif, industri dalam negeri dapat berkembang, sehingga
dapat memperbanyak jumlah serta jenis barang yang dihasilkan. Makin banyak jenis
barang yang dihasilkan, ekonomi Negara itu akan semakin stabil karena penurunan harga
satu jenis produk mungkin dapat diimbangi dengan kenaikan harga barang lain.
d. Employment

Pembebanan tarif akan mengakibatkan turunnya impor dan menaikkan produksi dalam
negeri. Kenaikan produksi ini berarti pula kenaikan kesempatan kerja. Dalam hal ini
pembebanan tarif dapat digunakan untuk memperluas kesempatan kerja.

e. Anti dumping
Dumping berarti menjual barang diluar negeri jauh lebih murah daripada di dalam
negeri. Ini tidak berarti bahwa harga yang murah tersebut di bawah harga pokok. Negara
yang menjalankan politik dumping pada umumnya bermaksud untuk menguasai pasar.
Untuk mencegah politik yang demikian ini suatu negara dapat membebankan tarif
terhadap barang yang berasal dari negara yang menjalankan politik dumping supaya tidak
terkena akibat jelek daripada politik tersebut.
4. Yang secara ekonomis tidak dapat dipertanggungjawabkan
a. To Keep Money at Home
Alasan ini mengemukakan bahwa apabila penduduk suatu Negara itu membeli barang
dari luar negeri maka Negara tersebut memperoleh barang dan Negara lain memperoleh
uang. Tetapi apabila membeli barang produksi dalam negeri maka uang tersebut tidak lari
ke luar negeri. Jadi dengan pembebanan tarif impor, maka impor akan berkurang sehingga
akan mencegah larinya uang ke luar negeri.
b. The Low-wage
Negara yang tingkat upahnya tidak dapat mengadakan hubungan dengan Negara yang
tingkat upahnya rendah tanpa menanggung risiko akan turunnya tingkat upah. Turunnya
tingkat upah berarti pula turunnya standar hidup. Oleh karena itu untuk melindungi para
pekerja yang upahnya tinggi dari persaingan para pekerja yang upahnya rendah maka
Negara yang tingkat upahnya tinggi tersebut perlu membebankan tarif bagi barang yang
berasal dari Negara yang tingkat upahnya rendah.
Produsen dalam negeri mempunyai hak terhadap pasar dalam negeri. Tarif akan
mengakibatkan turunnya atau hilangnya impor akan diganti dengan produksi dalam negeri.
Kenaikan produksi ini berarti bertambahnya kesempatan kerja yang akhirnya berarti pula
kenaikan kegiatan ekonomi.

c. Home market
Alasan ini menyatakan bahwa produsen dalam negeri mempunyai hak terhadap pasar
dalam negeri. Tarif akan mengakibatkan turunnya atau hilangnya impor dan diganti
dengan produksi dalam negeri. Kenaikan produksi berarti tambahnya kesempatan kerja
yang akhirnya berarti pula kenaikan kegiatan ekonomi.
Pertanyaan:

1. Jelaskan perbedaan sifat dari jenis tarif Ad Valorem Duties dan Specific Duties.
2. Sebutkan keuntungan dan kelemahan dari jenis tarif Ad Valorem Duties dan Specific
Duties.
3. Apa tujuan suatu negara menerapkan kebijakan tarif dalam penjualan
internasionalnya.
4. Kewajiban pabean apa saja yang harus dilakukan importir terhadap barang impor
yang diberikan pembebasan bea masuk.
5. Kewajiban pabean apa saja yang harus dilakukan importir tehadap barang impor yang
diberikan keringanan bea masuk.

Jawaban:

1. Ad Valorem Duties bersifat proporsional, yaitu besarnya tarif berubah-ubah secara


proporsional mengikuti perubahan harga impor. Sedangkan, Spesific Duties bersifat
regresif, yaitu makin tinggi harga dari barang impor tersebut tarifnya terasa semakin
ringan.
2. Ad Valorem Duties
Keuntungannya:
Dapat mengikuti perkembangan tingkat harga/inflasi.
Terdapat diferensiasi harga produk sesuai kualitasnya.

Kerugiannya:

Memberikan beban yang cukup berat bagi administrasi pemerintahan,


khususnya bea cukai karena memerlukan data dan perincian harga barang
yang lengkap.
Sering menimbulkan perselisihan dalam penetapan harga untuk perhitungan
bea masuk antara importir dan bea cukai, sehingga dapat menimbulkan
stagnasi/kemacetan arus barang di pelabuhan.

Specific Duties

Keuntungannya:

Mudah dilaksanakan karena tidak memerlukan perincian harga barang sesuai


kualitasnya.
Dapat digunakan sebagai alat kontrol proteksi industri dalam negeri.
Kerugiannya:

Pengenaan tarif dirasakan kurang/tidak adil karena tidak membedakan


harga/kualitas barang.
Hanya dapat digunakan sebagai alat kontrol proteksi yang bersifat statis.
3. Dengan pengenaan tarif ini harga barang impor menjadi mahal, sehingga barang
sejenis yang diproduksi di dalam negeri akan memiliki daya saing dan dibeli
konsumen. Dan untuk melindungi produk dalam negeri terutama yang belum siap
bersaing secara global, terutama pada produk-produk inti yang dihasilkan negara,
seperti pada contoh filipina pada produk pertanian dan peternakan.
4. Importir menyerahkan jaminan kepada Kepala Kantor Pabean, sebesar Bea Masuk
dan Pajak impor yang seharusnya dikenakan.
5. 1. Membayar BM sebesar 2% per bulan selama jangka waktu izin impor sementara
dikalikan jumlah BM yang seharusnya dikenakan.
2. Membayar PPN atau PPN dan PPnBM.
3. Menyerahkan jaminan sebesar selisih antara BM yang seharusnya dibayar dengan
yg telah dibayar ditambah dengan PPh Pasal 22.
DAFTAR PUSTAKA
Hady, Hamdy. 2001. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan Perdagangan
Internasional. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nopirin, Ph.D. 1995. Ekonomi Internasional Edisi 3.Yogyakarta: BPFE.

Tambunan, Tulus. 2000. Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran. Jakarta:


LP3ES.