Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

IMUNISASI PADA ANAK

A. Pengertian
Imununisasi adalah sesuatu usaha untuk mmberikan kekebalan kepada
tubuh denga kuman, virus, bakteri yang sudah dimatikan sehingga tubuh bisa
membentuk antibody. (Ranuh I.G.N 2001)
Imunisasi adalah s uatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen-
antigen serupa tidak terjadi penyakit (Nakita, 2006). Imunisasi dasar adalah
suatu cara atau usaha memberikan kekebalan pada bayi dan akan kebal
terhadap penyakit tertentu (Stephanie, 2003).
B. Macam-Macam Imunisasi

Imunitas atau kekebalan, berdasarkan asal-muasalnya dibagi dalam 2 (dua)


hal, yaitu aktif dan pasif. Aktif adalah bila tubuh anak ikut menyelenggarakan
terbentuknya imunitas, sedangkan pasif adalah bila tubuh anak tidak bekerja
membentuk kekebalan, tetapi hanya menerimanya saja.
Maka berdasarkan hal tersebut di atas, maka imunisasi dibagi menjadi 2
(dua) macam, yaitu:
1. Imunisasi Aktif
Menurut Anik Maryunani (2007) mengemukakan bahwa kekebalan tubuh
dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan

a. Pengertian Imunisasi Aktif:


Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah
dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi
antibody sendiri. Contohnya : imunisasi polio atau campak.
Imunisasi aktif adalah zat anti yang dibentuk tubuh itu sendiri dan akan
bertahan selama bertahun-tahun.
Imunisasi aktif adalah pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan
akan terjadi suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi
imunologi spesifik yang akan menghasilkan respon seluler dan humoral serta
dihasilkannya set memori, sehingga apabila benarbenar terjadi infeksi maka tubuh
secara cepat dapat merespon.
Imunisasi aktif diberikan untuk pencegahan penyakit yang dilakukan
dengan memberikan vaksin terhadap beberapa penyakit infeksi.
Imunisasi aktif ini dilakukan dengan vaksin yang mengandung:
Kumankuman mati (misalnya: vaksin cholera-typhoid/typhus
abdominalis - paratyphus ABC, vaksin pertusis batuk rejan).
Kuman kuman hidup diperlemah (misalnya: vaksin BCG terhadap
tuberkulosis)
Virus virus hidup diperlemah (misalnya: bibit cacar, vaksin
poliomyelitis).
Toxoid (= to'ksin = racun daripada kuman yang dinetralisasi: toxoid
difteri, toxoid tetanus).
Vaksin diberikan dengan cara disuntikkan atau per oral/ melalui mulut.
Terhadap pemberian vaksin tersebut, maka tubuh membuat zat-zat anti terhadap
penyakit bersangkutan (oleh karena itu dinamakan imunisasi aktif, kadar zat-zat
dapat diukur dengan pemeril saan darah) dan oleh sebab itu menjadi imun (kebal)
terhadap penyakit tersebut.

Pemberian vaksin dengan cara menyuntikkan kuman atau antigen murni akan
menyebabkan benar-benar menjadi sakit. Oleh karena itu, dibutuhkan dalam bentuk
vaksin, yaitu kuman yang telah dilemahkan. Pemberian vaksin akan merangsang tubuh
untuk membentuk antibodi.
Untuk itu, dalam imunisasi aktif terdapat empat macam kandungan yang terdapat
dalam setiap vaksinnya, antara lain:
Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau mikroba
guna terjadinya semacam infeksi buatan, yang dapat berupa poli sakarida, toxoid,
atau virus yang dilemahkan atau bakteri yang dimatikan.
Pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur jaringan.
Preservuatif, stabiliser, dan antibiotika yang berguna untuk rnenghindari
tumbuhnya mikroba dan sekaligus untuk stabilisasi antigen.
Adjuvan yang terdiri dari garam aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan
imunogenitas antigen.

Untuk keperluan imunisasi aktif tersedia, antara lain:


a) Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin ur,tuk tuberkulosis)
b) Vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus)
c) Vaksin poliomielitis
d) Vaksin campak
e) Vaksin typa (types abdominalis)
f) Toxoid tetanus, dll
Namun, pemerintah tidak mewajibkan berbagai jenis imunisasi tersebut
harus dilakukan semua. Hanya 5 (lima) jenis imunisasi pada anak di bawah 5
(lima) tahun yang harus dilakukan, yaitu:
a) BCG (Bacillus Calmette-Guerin)
b) DPT(difteri, pertusis, tetanus)
c) Polio
d) Campak
e) Hepatitis B

2. Imunisasi Pasif
Beberapa Pengertian dari Imunisasi Pasif, adalah sebagai berikut:
Imunisasi pasif adalah zat anti yang didapat dari luar tubuh, misalnya dengan
suntikan bahan atau serum yang mengandung zat anti atau zat anti dari ibunya
selama dalam kandungan. Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak
bertahan lama.
Imunisasi pasif adalah pemberian zat (imunoglobulin) yaitu suatu zat yang
dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia
tau binatang yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk
dalam tubuh yang terinfeksi.
Imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi
dalam tubuh meningkat.
Imunisasi pasif adalah pemberian antibodi dengan tujuan untuk memberikan
pencegahan atau pengobatan terhadap infeksi. Transfer imun yang dibentuk
bersifat sementara selama antribodi masih aktif. Transfer imun juga dapat terjadi
pada bayi baru lahir, misalnya imunoglobulin G yang disalurkan dari ibu ke bayi
secara transplasental.

Imunisasi pasif terdiri dari dua macam, yaitu:


a. Imunisasi Pasif Bawaan:
Imunisasi pasif bawaan merupakan imunisasi pasif dimana zat antinya
berasal dari ibunya selama dalam kandungan. Misalnya terdapat pada neonatus
(bayi baru lahir) sampai bayi berumur 5 (lima) bulan. Neonates mendapatkan
imunitas tersebut dari ibu sewaktu dalam kandungan, yaitu berupa zat anti
(antibodi) yang melalui jalan darah menembus plasenta. Zat anti tersebut beruba
globulin gama yang mengandung imunitas, seperti yang juga dimiliki oleh ibu.
Namun, zat anti tersebut lambat laun akan menghilang/lenyap dari tubuh -bayi.
Dengan demikian, sampai umur 5 bulan, bayi dapat terhindar dari beberapa
penyakit infeksi, seperti campak, difteri, dan lain-lain.
b. Imunisasi Pasif Didapat:
Imunisasi pasif didapat merupakan imunisasi pasif dimana zat antinya
didapat dari luar tubuh, misalnya dengan suntik bahan atau serum yang
mengandung zat anti. Zat anti ini didapat oleh anak dari luar dan hanya
berlangsung pendek, yaitu 2-3 minggu karena zat anti seperti ini akan
dikeluarkan kembali dari tubuh anak. Misalnya pemberian serum anti
tetanus terhadap penyakit tetanus. Dengan mendapat luka terutama yang
dalam dan kotor, atau karena jatuh di tanah atau tertusuk oleh bambu
atau paku yang berkarat yang sudah lama berada di tanah, dan
sebagainya. Maka untuk mencegah terjadinya tetanus, dapat diberikan
profilaksis dengan serum anti-tetanus. Serum anti-tetanus ini biasanya
dibuat dari darah seekor kuda yang lebih dulu diimunisasi terhadap
tetanus dan oleh karena itu mengandung zat-zat anti terhadap tetanus.
Dengan penyuntikan serum anti-tetanus, maka anak menerima zat-zat
anti secara pasif untuk menghadapi penyakit tetanus. Tubuhnya tidak
membuat zat-zat anti tersebut seperti dalam hal penyuntikan toxoid
tetanus.

C. Tujuan
Tujuan dalam pemberian imunisasi, antara lain:
a. Tujuan/manfaat imunisasi adalah untuk mencegah teriadinya penyakit
tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu di dunia.
b. Tujuan dan kegunaan imunisasi adalah untuk melindungi dan mencegah
penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak.
c. Tujuan diberikan imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal
terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan
mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu.
d. Tujuan atau manfaat imunisasi adalah untuk menurunkan morbiditas,
mortalitas dan cacat serta bila mungkin didapat eradikasi sesuatu penyakit
dari suatu daerah atau negeri.
e. Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk
mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan
kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya.
Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti
campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, hepatitis B, gondongan, cacar
air, TBC, dan lain sebagainya.
f. Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu
pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok
masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari
dunia seperti pada imunisasi cacar.
Tujuan pemberian imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal
terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan
mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi (Hidayat, 2007).
D. Jenis-Jenis Vaksin
1. BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Bacillus Calmette Guerin adalah vaksin yang hidup dibuat dari
Mycobacterium bovis yang dibiakkan selama 1-3 tahun sehingga didapat
basil yang tidak virulen yang tidak dapat menimbulkan virus penyakit
tetapi masih mempunyai imunogenitas. Vaksinasi BCG menimbulkan
sensitivitas terhada tuberculin (Markum, 2002). Vaksin BCG ini
berisi suspensi Mycobacterium Bovis hidup yang sudah dilemahkan.
Vaksin BCG tidak mencegah infeksi tuberkolosis tetapi mengurangi
resiko tuberkolosis berat seperti meningitis tuberkolosis dan tuberkulosis
millier. Efek proteksi timbul 8-12 minggu setelah penyuntikan. Efek
proteksi bervariasi antara 0-80% (Markum, 2002).

a. Gejala umum yang muncul pada penderita TBC :


1) BB menurun tanpa sebab jelas
2) Nafsu makan berkurang
3) Demam lama atau berkurang
4) Pembesaran kelenjar
5) Batuk lebih dari 3 minggu
6) Kontak erat penderita TBC dewasa
7) BCG 3 2 hari kemerahan.

b. Cara Pemberian Imunisasi BCG


Pemberian imunisasi BCG sebaiknya diberikan ketika bayi baru lahir
sampai berumur 12 bulan, tetapi sebaiknya pada umur 0-2 bulan. Hasil
yang memuaskan terlihat apabila diberikan menjelang umur 2 bulan.
Imunisasi BCG cukup diberikan hanya satu kali saja. Pada anak yang
berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji mantoux
sebelum imunisasi BCG. Gunanya untuk mengetahui apabila ia telah
terjangkit penyakit TBC. Seandainya hasil uji mantoux positif, maka anak
tidak mendapatkan imunisasi BCG. Dosis BCG yang diberikan untuk bayi
kurang dari 1 tahun adalah 0,05 ml. imunisasi diberikan intrakutan di
daerah inserti muskulus deltoideus kanan.
BCG ulang tidak dianjurkan karena manfaatnya diragukan, mengingat:
1) Efektivitas perlindungan rata-rata hanya sekitar 40%.
2) 70% kasus tuberculosisi berat (meningitis) ternyata mempunyai parut
BCG.
3) Kasus dewasa dengan BTA dahak (Basil Tahan Asam) positif di
Indonesia cukup tinggi (25-36%) walaupun telah mendapatkan BCG pada
masa kanak-kanak (Stephanie, 2003).

c. Kekebalan
Jaminan imunisasi tidaklah mutlak 100% bahwa anak anda akan terhindar
sama sekali dari penyakit TBC. Seandainya bayi yang telah mendapatkan
imunisasi terjangkit juga penyakit TBC, maka ia akan menderita penyakit
TBC dalam bentuk yang ringan, dan akan terhindar dari kemungkinan
mendapat TBC yang berat, seperti TBC paru yang parah, TBC tulang atau
TBC selaput otak yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup dan
membahayakan jiwa anak anda (Markum, 2002).

d. Reaksi Imunisasi BCG


Penyuntikan BCG secara intraderma yang benar akan menimbulkan luka
local yang superficial 3 minggu setelah penyuntikan. Luka yang
biasanya tertutup krusta akan sembuh dalam 2-3 bulan dan
meninggalkan parut bulat dalam diameter 4-8 mm. Biasanya setelah
suntikan BCG bayi akan menderita demam. Bila ia demam setelah
imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Untuk hal ini
dianjurkan agar segera berkonsultasi dengan dokter (Nakita, 2006).

e. Efek Samping Pemberian BCG


Umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai efek samping. Mungkin
terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan
biasanya menyembuhkan sendiri walau lambat. Bila suntikan BCG
dilakukan dilengan atas, pembengkakan kelenjar terdapat di ketiak
(Limfadenitis supuratif di aksila) atau di Leher bagian bawah itupun
kadang-kadang dijumpai. Apabila limfadenitis melekat pada kulit atau
timbul luka/nanah maka dapat dibersihkan (dilakukan drainage) dan
diberikan obat anti tuberkulosisi oral. Pemberian obat anti tuberculosis
sistemik tidak efektif. Suntukan dipaha dapat menimbulkan kelenjar ini
biasanya disebabkan karena teknik penyuntikan yang kurang tepat, yaitu
penyuntikan terlalu dalam (Markum, 2002).

d. Kontra Indikasi BCG


Tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak
yang berpenyakit TBC akan menunjukkan uji Mantoux positif, atau
dengan ada reaksi seperti: (Biofarma, 2002).
1) Reaksi uji tuberculosis > 5 mm
2) Menderita infeksi HIV atau dengan resiko tinggi infeksi HIV
3) Anak menderita gizi buruk
4) Sedang menderita demam tinggi
5) Menderita infeksi kulit yang luas
6) Pernah sakit tuberkulosis
7) Kehamilan

2. Hepatitis B
Penyakit hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis
B pada anak sering menimbulkan gejala minimal bahkan sering terjadi
sub-klinik, namun sering menyebabkan hepatitis yang kronik, yang dalam
kurun waktu 10-20 tahun dapat sering menjadi hepatitis akut. Hepatitis B
juga dapat berkembang menjadi bentuk fulminan, dengan angka
kematian tinggi (Stephanie, 2003).

a. Tanda dan gejala orang yang terkena Hepatitis B antara lain :


1) Panas
2) Mual muntah
3) Nafsu makan berkurang
4) Sakit perut
5) Mata kuning
6) Kencing kuning
Imunisasi Hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir.Pemberian
imunisasi berdasarkan status HBsAg ibu pada saat melahirkan sebagai
berikut :
1) HBsAg ibu (+) : HBIG 0,5 ml + HB 0,5 ml
secara i.m 12 jam pertama.
2) HBsAg ibu (tidak diketahui) : HB 0,5 ml secara i.m 12 jam
pertama.
3) HBsAg ibu (-) : HB 0,5 ml secara i.m, saat lahir
sampai 2 bulan

b. Pencegahan
Pencegahan dilakukan dengan mencegah kontak virus, baik terhadap
pengidap, donor darah (skrining), organ tubuh bahan transplantasi, maupun
alat-alatkedokteran. Dapat pula dengan pemberian kekebalan melalui
imunisasi pasif maupun aktif (Markum, 2002).

c. Dosis
Dosis maksimal 0,5 ml, intramuscular, harus diberikan dalam jangka waktu 24
jam, diulang 1 bulan kemudian (Biofarma, 2002).

d. Cara Pemberian Imunisasi Hepatitis B


Pemberian imunisasi hepatitis B yaitu imunisasi dasar 4 kali dengan masa
antara suntikan satu ke suntikan ke dua 1 bulan, suntikan ke dua ke suntikan
ketiga dan ke empat 5 bulan (Biofarma, 2002).

e. Kekebalan
Daya proteksi vaksin hepatitis B cukup tinggi, berkisar antara 94-96%
(Markum, 2002).
f. Reaksi Imunisasi Hepatitis B
Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan,
yaitu mungkin disertai dengan timbulnya rasa panas atau pembengkakan.
Reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari. Reaksi lain yang mungkin
terjadi ialah demam ringan (Markum, 2002).
g. Efek Samping
Efek samping yang terjadi pada umumnya ringan, berupa nyeri, bengkak,
panas mual nyeri sendi maupun otot.

h. Kontra Indikasi Hepatitis B


Sampai saat ini masih belum dipastikan adanya kontra indikasi absolute
terhadap pemberian imunisasi hepatitis B. imunisasi tidak dapat diberikan
kepada anak yang menderita sakit keras (Nakita, 2006).

3. DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus)


Difteri
Difteri adalah suatu penyakit akut yang bersifat toxin mediated diseases dan
disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphateriae. Nama kuman ini
berasal dari Yunani Dipthera yang berarti Leather hide. Penyakit ini
disebutkan pertama kali oleh Hypocrates pada abad ke 5 SM dan epidemic
pertama dikenal pada abad ke 6 oleh Aetius. Bakteri ini ditemukan pertama
kali pada membrane penderita difteri tahun 1883 oleh klebs. Antitoksin
ditemukan pertama kali pada akhir abad ke 19 sedang toksin dibuat sekitar
tahun 1920. Difteri adalah suatu hasil gram positif. Produksi toksin terjadi
hanya bila kuman tersebut mengalami lisogenisasi oleh bakteriofag yang
mengandung informase genetic toksin (Stephanie, 2003).

Pertusis
Partusis atau batuk rejan/ batuk seratus hari adalah suatu penyakit akut yang
disebabakan oleh bakteri Borditella Pertussis. Ledakan kasus pertusis pertama
kali terjadi sekitar abad 16, menurut laporan Guillaume De Bailluo pada tahun
1578 di Paris dan kuman itu sendiri baru dapat diisolasi pada tahun 1906 oleh
Jules Bordet dan Octave Gengoy. Sebelum ditemukannya vaksin pertusis,
penyakit ini merupakan penyakit tersering yang menyerang anak-anak dan
merupakan penyebab utama kematian.

Tetanus
Tetanus adalah suatu penyakit akut yang sering bersifat fatal yang disebabkan
oleh eksotoksin produksi kuman Clostridium tetani (Ranuh, 2002).
a. Cara Pemberian Imunisasi DPT
Pemberian imunisasi DPT yaitu imunisasi dasar 2-11 bulan, dosis 0,5 cc
imunisasi dimulai pada usia 2 bulan, imunisasi dasar harus diberikan sebanyak
3 kali pemberian dengan interval 8 minggu, minimal 4 minggu. Cara
penyuntikan intramuskuler atau subkutan dalam dibagian luar paha (Biofarma,
2002).

b. Kekebalan
Daya proteksi vaksin difteri cukup baik, yaitu sebesar 80-95%, dan daya
proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95%. Sedangkan daya
proteksi vaksin pertusis masih rendah, yaitu 50-60% (Markum, 2002).

c. Reaksi Imunisasi
Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa
nyeri ditempat suntikan selama satu sampai dua hari (Markum, 2002).

d. Efek Samping
Kadang-kadang terdapat akibat efek samping yang lebih berat, seperti demam
tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusis. Bila hanya
diberikan DT (Difteri dan Tetanus) tidak menimbulkan akibat efek samping
demikan (Markum, 2002).

e. Kontra Indikasi
Imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah dan anak
yang menderita kejang, demam komplek. Juga tidak boleh diberikan kepada
anak dengan batuk yang diduga mungkin sedang menderita batuk rejan dalam
tahap awal atau pada penyakit gangguan kekebalan. Bila ada suntikan DPT
pertama terjadi reaksi yang berat maka sebaiknya suntikan berikut jangan
diberikan lagi melainkan DT saja (tanpa P). Sakit batuk, pilek, demam atau
diare yang sifatnya ringan, bukan merupakan kontra indikasi yang mutlak,
sedangkan anak anda sedang menderita sakit ringan (Nakita, 2006).
4. Polio
Kata Polio (abu-abu) dan Myelon (sumsum), berasal dari bahasa latin yang
berarti Medulla Spinalis. Penyakit ini disebabkan oleh virus poliomyelitis
pada medulla spinalis yang secara klasik menimbulkan kelumpuhan.
Poliomyelitis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus polio
(Stephanie, 2003).
Polio adalah penyakit menular yang sifatnya mendadak / cepat disebabkan
oleh virus polio yang menyebabkan kerusakan saraf otak yang mengakibatkan
kelumpuhan ( lumpuh layu) dan mengecilkan otot.

a. Kriteria diagnostik yang memperlihatkan gejala Polio diantaranya :


1) Silent : tidak ada gejala ( 90 95 % )
2) Abortif : Bila ada epidema atau kontak dengan penderita Polio ( 4 8
%)
3) Demam
4) Sakit kepala
5) Lemah
6) Nyeri menelan
7) Mual muntah
8) Batuk pilek
9) Non Paralitik ( 4 8 % )
Adanya tanda tanda diatas, nyeri dan kaku pada otot otot leher
bagian belakang, badan dan anggota badan
10) Paralitik ( 1 2 % )
Kelemahan / paralisys otot leher, abdomen, tubuh, dada dan anggota
badan bagian bawah.
Refleks menurun /menghilang
Bila disertai delirium, kesadaran menurun, tremor dan kejang.
b. Etiologi
Virus polio termasuk dalam kelompok (sub-grup) enteri virus, famili
Picomaviridae. Dikenal 3 macam serotype virus polio yaitu P1, P2 dan P3.
virus ini menjadi tidak aktif apabila terkena panas, formal dehid, klorin dan
sinar ultraviolet (Biofarma, 2002).
c. Cara Pemberian Vaksin Polio
Di Indonesia dipakai vaksin sabin yang diberikan melalui mulut. Imunisasi
dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari, dan
selanjutnya setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan
bersama dengan BCG. Vaksin Hepatitis B, dan DPT. Bagi bayi yang sedang
menetek maka ASI dapat diberikan seperti biasa karena ASI tidak
berpengaruh terhadap vaksin polio. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan
dengan DPT. Dosis 1 diberikan saat anak berusia 0-2 bulan (Biofarma,
2002).

d. Kekebalan
Daya proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 96-100%.

e. Reaksi Imunisasi Polio


Biasanya tidak ada, mungkin pada bayi akan terdapat bercak-bercak ringan.

f. Efek Samping
Pada kasus polio hampir tidak ada efek samping. Bila ada, mungkin berupa
kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya (Markum,
2002).

g. Kontra Indikasi Polio


1) Penyakit akut atau demam (Temp >38 C), imunisasi harus ditunda.
2) Muntah atau diare berat, imunisasi ditunda.
3) Sedang dalam pengobatan kortikosteroid atau suntikan, juga pengobatan
radiasi umum (termasuk kontak pasien).
4) Keganasan (untuk pasien dan kontak) yang berhubungan dengan system
retikuloendotelial (seperti limfoma, leukeumia dan penyakit Hodgkin) dan
anak dengan mekanisme imunologik yang terganggu, misalnya pada hipo-
gamaglobulinemia.
5) Menderita infeksi HIV atau anggota keluarga sebagai kontak.
5. Campak
Istilah asing untuk penyakit campak ialah morbilli (latin) measles (Inggris).
Penyakit ini sangat mudah menular, kuman penyebabnya adalah sejenis virus
yang termasuk kedalam golonggan paramiksovirus. Gejala yang khas pada
campak adalah timbulnya bercak-bercak merah di kulit (eksantem) 3-5 hari
setelah anak menderita demam, batuk atau pilek. Komplikasi campak yang
berbahaya adalah radang otak, (esenfalitis atau ensefalopati), radang paru-paru
radang saluran kemih dan menurunnya keadaan gizi anak (Markum,
2002).

a. Vaksin
Vaksin campak dibagi 2 bagian yaitu:
a. Vaksin yang berasal dari virus campak, yang hidup dan dilemahkan (tipe
Endomonston B).
b. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (Virus campak
yang berbeda dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam
aluminium)

b. Cara Pemberian Imunisasi Campak


Bayi baru lahir biasanya telah mendapatkan kekebalan pasif terhadap penyakit
campak dari ibunya ketika ia dalam kandungan. Makin berlanjut umur bayi,
maka makin berkurang kekebalan pasif. Dengan adanya kekebalan pasif inilah
jarang seorang bayi menderita campak pada umur 6 bulan (Markum, 2002).
Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup dilakukan hanya 1 kali
suntikan setelah bayi berumur 9 bulan, lebih baik lagi setelah ia berumur lebih
dari1 tahun. Karena kekebalan yang diperoleh berlangsung seumur hidup,
maka tidak diperlukan revaksinasi (imunisasi ulang) (Markum, 2002).

Dosis dan cara pemberiannya adalah :

1) Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan


adalah 1000 TCID 50 atau sebanyak 0,5 ml.
2) Untuk vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID 50 saja mungkin sudah
dapat memberikan hasil yang baik.

3) Pemberian yang dianjurkan secara subkutan, walaupun demikian dapat


diberikan secara intra muscular.

Perhatian untuk suntikan subkutan :


1) Arah jarum 45 terhadap kulit
2) Cubit tebal untuk suntikan subkutan
3) Aspirasi spuit sebelum vaksin disuntikan
4) Untuk suntikan multiple diberikan pada bagian ekstremitas yang berbeda.
c. Kekebalan
Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi yaitu 96-99%. Menurut
penelitian, kekebalan yang diperoleh ini berlangsung seumur hidup, sama
langgengnya dengan kekebalan yang diperoleh bila anak terjangkit campak
secara alamiah.

d. Reaksi Imunisasi Campak


Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin terjadi demam lebih
dari 39 C selama + 2 hari dan tampak sedikit bercak merah pada pipi
dibawah telinga pada hari ke-78 setelah penyuntikan. Mungkin pula terdapat
pembengkakan pada tempat suntikan.

e. Efek Samping
Sangat jarang, mungkin terjadi kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada
hari ke 10-12 setelah penyuntikan. Selain itu dapat terjadi radang otak berupa
ensefalopati dalam waktu 30 hari setelah imunisasi (Markum, 2002).

f. Kontra Indikasi Campak


Kontra indikasi hanya berlaku terhadap anak yang sakit parah, yang menderita
TBC tanpa pengobatan, atau yang menderita kurang gizi dalam derajat berat
pada anak yang pernah menderita kejang, anak dengan alergi berat, anak
dengan demam akut dan anak yang mendapat vaksin hidup lain (Keputusan
Menkes RI No 1059/Menkes/SK/IX/2004).
Cara pemberian Imunisasi Dasar (Petunjuk Pelaksanaan Program
Imunisasi di Indonesia, Departemen Kesehatan RI 2000).

Vaksin Dosis Cara Pemberian

BCG 0,05 cc Intracutan tepat di insersio


Muskulus deltoideus kanan

DPT 0,5 cc Intramuskular

Poli 2 tetes Diteteskan ke mulut

Campak 0,5 cc Subcutan,biasanya dilengan kiri atas

Hepatitis B 0,5 cc IM pada paha bagian luar

TT 0,5 cc IM dalam biasa di muskulus deltoideus

Waktu Yang tepat Untuk Pemberian Iminisasi Dasar (Petujnuk Pelaksanaan


Program Imunisasi di Indonesia, DepKes 2000 )

Pemberian Selang waktu Umur


Vaksin keterangan
Imunisasi pemberian pemberian

BCG 1 kali 0-11 bln

DPT 3 Kali 4 minggu 2 11 bln


Polio 4 kali 4 minggu 0 -11 bln

Campak 1 kali 4 minggu 9 11 bln

Hepatitis 3 kali 4 minggu 0 11 bln Untuk by yg di RS,


B puskesmas hepatitis
B BCG,polio dapat
diberikan segera.

1. Vaksin HEPATITIS B
Vaksin Hepatitis B adalah vaksin virus recombinan yang telah di
inactivasikan dan bersifat non infectious berasal dari HBsAg yang
dihasilkan dalam sel ragi ( Hansenula) Polymorpha menggunakan
teknologi DNA recombinan. Imunisasi Hepatitis B perlu diberikan
sedini mungkin setelah lahir.
Depkes RI tahun 2005 memberikan vaksin monovalen (uniject)
saat lahir dilanjutkan dengan vaksin kombinasi DPT HB Combo pada
umur 2,3 dan 4 bulan. Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8C dan jangan
sampai beku.

2. Vaksin DPT/HB
Vaksin mengandung DPT berupa toksoid difteri, tetanus toksoid
yang dimurnikan serta pertusis yang inaktivasi dan vaksin Hepatitis B
yang merupakan subunit vaksin virus yang mengandung HBsAg murni
dan bersifat non infectious.
E. Karakteristik Vaksin Dalam Program Imunisasi

Kemasan/
Jenis Bentuk Dosis
Warna Sifat Vaksin Suhu Ket.
Vaksin Vaksin Vaksin
Kemasan
Mudah rusak bila
Vial/ampulcokla Beku terkena sinar Pelarut NaCl
BCG 2-8C 0,05 ml
t/gelap kering matahari langsung 0,9 % ml
dan panas
rusak terhadap
suhu di bawah 0
DPT Vial bening cairan 2-8C 0,5 ml
dan sinar matahari
langsung
rusak terhadap
suhu di bawah 0
TT Vial bening cairan 2-8C 0,5 ml
dan sinar matahari
langsung
rusak terhadap
suhu di bawah 0
DT Vial bening cairan 2-8C 0,5 ml
dan sinar matahari
langsung
Mudah dan cepat
Dilengkapi
POLIO Vial bening cairan rusak jika kena 2-8C 0,5 ml
pipet tetes
panas
Mudah rusak jika
terkena sinar
Pelarut
beku matahari langsung
CAMPAK Vial bening 2-8C 0,5 ml aquabidest
kering dan pana, tidak
(5 ml)
rusak karena
pembekuan
Rusak terhadap
Vial putih suhu di bawah 0
HB cairan 2-8C 0,5 ml
bening dan sinar matahari
langsung
Rusak terhadap
Uniject putih suhu di bawah < 0
cairan 2-8C 0,5 ml
bening dan sinar matahari
langsung
F. Jadwal Pemberian Imunisasi Pada Bayi Dengan Mengunakan Vaksin
Dpt/Hb Combo

UMUR VAKSIN TEMPAT


Bayi Lahir di Rumah Rumah
0 bulan HB0 Posyandu
1 bulan BCG,Polio 1 Posyandu
2 bulan DPT/HB C 1, Polio 2 Posyandu
3 bulan DPT/HB C 2, Polio 3 Posyandu
4 bulan DPT/HB C 3, Polio 4 Posyandu
9 bulan Campak Posyandu
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan
secara keseluruhan.
Menurut Allen (1994) tujuan dari tahap pengkajian adalah untuk
mengumpulkan informasi dan membuat data dasar klien. Klien dikaji saat
memasuki sistem pemberian perawatan kesehatan.
Adapun yang perlu dikaji pada klien dengan penyakit campak adalah
:
a. Identitas Klien, meliputi :
Biodata pasien penyakit campak meliputi nama lengkap penderita. Karena
pasien pada bayi maka anamnesa dari ibu bapak pasien.
Yang dikaji selanjutnya adalah faktor usia.
Tanggal/jam lahir digunakan untuk mengetahui kapan bayi tersebut
lahir/umur.
Jenis kelamin, untuk mengetahui jenis kelamin tersebut.
Berat badan bayi tersebut.
Panjang badan bayi.
Nama Ibu/Ayah : untuk identifikasi bayi/pasien.
Umur Ibu/Ayah : untuk identifikasi bayi/pasien.
Pendidikan yang perlu dikaji adalah pendidikan ibu dan ayah pasien untuk
mengetahui tingkat pengetahuan pasien, hal ini berhubungan erat dengan
rencana dalam memberikan penjelasan tentang keadaan penyakitnya
sehingga mudah diterima dan dimengerti.
Alamat perlu dikaji untuk mengetahui kondisi tempat tinggal klien.
Agama untuk mengetahui adanya suatu budaya tertentu yang dianut.
Pekerjaan seperti halnya dengan pendidikan, yang perlu dikaji adalah
pekerjaan orang tua dari pasien, untuk mengetahui status social ekonomi
dan pendapatan.

b. Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan suatu keadaan dimana seorang klien
terdorong untuk ke unit pelayanan kesehatan untuk dirawat. Keluhan
utama ini sangat penting untuk menentukan tindakan keperawatan yang
akan dilakukan.
Keluhan utama pada klien campak adalah timbul gejala-gejala panas,
malaise, coryza, konjungtivitis dan batuk.

Riwayat Penyakit Sekarang


Merupakan uraian tentang bagaimana klien sampai masuk rumah
sakit, klien dengan campak mula-mulanya badannya panas tinggi.

Riwayat Penyakit Kehamilan


Untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita selama kehamilan.

Riwayat Sakit dahulu


Untuk mengetahui riwayat sakit yang pernah diderita oleh klien
tersebut.

Riwayat Kesehatan Keluarga


Yang perlu dikaji adalah mengenai keturunan anggota keluarga yang
menderita suatu penyakit kronis atau menular.

c. Pola Aktivitas sehari-hari


Merupakan kebiasaan klien meliputi : pola makan atau minum, pola
eliminasi baik BAK maupun BAB, pola istirahat tidur, personal hygieen
dan kegiatan serta aktivitas lainnya.

d. Pemeriksaan
Merupakan keadaan umum klien, suhu, pernapasan, nadi, berat badan
sekarang dan antropometri.

e. Pemeriksaan fisik secara sistematik


Merupakan pemeriksaan yang kompleks dari kepala sampai ujung
kaki dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

f. Pemeriksaan penunjang
Merupakan pemeriksaan pendukung, seperti : hasil laboratorium, dan
sebagainya.

2. Analisa Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisa data yang
merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan menstabilkan data,
menentukan kesenjangan informasi, melihat pola data, membandingkan
dengan standart, menginterprestasikan dan akhirnya membuat kesimpulan
dalam bentuk diagnosa keperawatan.
3. Diagnosa Keperawatan
Menurut Hidayat (122:2006)
Adapun diagnosa keperawatan pada klien morbili adalah :
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan.
3. Risiko cedera berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh.
4. Terjadinya peningkatan kekebalan tubuh terhadap penyakit campak
5. Resiko terjadinya peningkatan suhu tubuh

4. Rencana Keperawatan / Intervensi


Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi
Tindakan Keperawatan
1. Monitor perubahan suhu tubuh, denyutan nadi.
2. Lakukan tindakan yang dapat menurunkan suhu tubuh seperti lakukan
kompres, berikan pakaian tipis dalam memudahkan proses penguapan.
3. Berikan antipiretik dan antibiotik sesuai dengan ketentuan.
4. Libatkan keluarga dalam perawatan serta ajari cara menurunkan suhu dan
mengevaluasi perubahan suhu tubuh.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan


Tindakan Keperawatan
1. Berikan diet TKTP atau nutrisi yang adekuat.
2. Berikan sari buah yang banyak megandung air.
3. Berikan susu atau makanan dalam keadaan hangat.
4. Berikan makan mulai dari sedikit tetapi sering hingga jumlah asupan
terpenuhi.
5. Berikan nutrisi dalam bentuk makanan lunak untuk membantu nafsu
makan.
6. Monitorlah perubahan berat badan, adanya bising usus dan status gizi.

Risiko Cedera berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh


Tindakan Keperawatan
1. Lakukan perawatan secara aseptik.
2. Lakukan perawatan pada daerah kulit secara aseptik.
3. Atur posisi tempat tidur dengan tinggi daerah kepala.
4. Monitor adanya tanda komplikasi.
5. Berikan posisi yang bergantian miring ke kanan dan ke kiri.
6. Berikan antibiotik sesuai dengan ketentuan.
7. Libatkan keluarga dalam perawatan dan ajari cara melakukan secara
aseptik.
Diagnosa 4 : Terjadinya peningkatan kekebalan tubuh terhadap penyakit campak

Intervensi
1. Berikan informasi tentang pemeriksaan fisik pada ibu
Imformasikan pada ibu bahwa anaknya akan di imunisasi campak
2. Jelaskan efek samping yang akan timbul setelah pemberian imunisasi
campak
3. Siapkan alat dan atur posisi bayi
4. Lakukan pemberian vaksin
5. Suntikan vaksin sesuai prosedur
6. Dokumentasikan hasil imunisasi pada KMS

Diagnosa 5
Resiko terjadinya peningkatan suhu tubuh

Intervensi
1. Observasi suhu sebelum dan sesudah pemberian imunisasi
2. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik
3. Anjurkan ibu untuk memakaiakan pakaian yang tipis jika demam
4. Anjurkan ibu untuk kompres hangat
5. Anjurkan Ibu untuk memberikan asi lebih sering
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer.Arif.2008.Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2.Jakarta: Media Aesculapius

Marimbi, hanum.2010.Tumbuh Kembang Status Gizi dan Imunisai Dasar pada


Balita.Yogyakarta:Nuha Medika

Sudarti.2010.Asuahan Kebidanan Neonatus, Bayi dan Anak


Balita.Yogyakrta:Nuha Medika

M.H, Abdurahman.2005.Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2.Jakarta:infomedika

Modul Pelatihan Tenaga Pelaksanaan Imunisasi Puskesmas Kerjasama Dirjen PP


dan PL serta Pusdiklat SDM Kesehatan Depkes RI Tahun 2006.

Pedoman Teknis Vaksin dan Cold Chain, Direktorat Jenderal PPM dan PL
Departemen Kesehatan RI Tahun 2002.

Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,


Jakarta, 2007.
Stephanie Cave MD & Deborah Mitchell. 2003. Yang Orang Tua Harus Tahu
Tentang Vaksinasi Pada Anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ranuh, I.G.N (2001). Buku Imunisasi di Indonesia Edisi Pertama. Jakarta : Satgas
Imunisasi IDAI

Markum, 2002. Imunisasi Edisi Kedua (Cetak Ulang). Jakarta: FKUI

Nakita. 2006. Panduan Imunisasi. Jakarta: Sarana Kinasih Satya Sejati.